Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Inspiride by : OreImo
Summary : Punya adik perempuan yang sangat manis dan imut, hebat dan berbakat menjadi ninja, serta menjadi idola banyak orang tentu menjadi kebanggaan buat seorang kakak. Tapi itu tidak berlaku untuk Bolt, apa yang bisa dibanggakan dari adik perempuan yang sombong, egois, suka seenaknya, menyebalkan, pemarah, dan ceroboh seperti Himawari? Tentu saja, TIDAK ADA. Disinilah kesabaran seorang kakak di uji. Simak saja ceritanya. . .
Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family
Rate : T
Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan
Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.
Jum'at, 30 Oktober 2015
Happy reading . . . . .
Sebelumnya . . . . .
"Kalau ini bukan urusanku? Lalu kenapa kalian memberitahuku hal ini. Ayah dan Ibuku dirumah bahkan tidak memberitahuku apa-apa. Baiklah, aku akui aku memang membenci Hima. Tapi hal seperti ini tidak bisa dibiarkan, rasanya aku jadi kesal sendiri dia diperlakukan tidak adil seperti itu. Entah kenapa, aku sepertinya harus melakukan sesuatu" ucap Bolt setelah menghempaskan gelas minumannya kemeja kafe.
Ketiga gadis disana langsung tersenyum dan serentak berkata "Ayo, kita lakukan sama-sama" dengan penuh semangat.
My Cute Sister? Nonsense
By Si Hitam
Chapter 11. Himawari Terjerat Kasus Pidana, Part III.
Perbincangan Bolt, Mirai, Amaru, dan Ryuzetsu pun selesai, dan mereka sepakat bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk Himawari. Himawari memang bersalah dalam kasus ini, tapi tidak perlu di hukum pidana juga kan? Apalagi Himawari adalah seseorang yang sangat berharga bagi mereka berempat.
Hari itu juga, setelah pulang dari kafe mereka berempat segera bersiap untuk melakukan misi pencarian paket vibranium, walaupun tanpa ijin dari hokage. Saat siang hari yang masih panas mereka langsung berangkat menuju pinggiran wilayah Hi no Kuni, kota kecil tempat Himawari kecurian gulungan berharga tersebut. Mereka pun sampai ditempat yang dituju, berhenti di stasiun yang jaraknya 2 jam perjalanan kereta dari Konoha. Lalu segera memulai rencana pencarian gadis kecil pencuri itu. Semoga saja semua barang yang dicurinya masih ada bersama si pencuri, begitulah harapan mereka berempat.
Setelah turun dari stasiun, Bolt langsung berjalan mencari tempat sepi. Ketiga gadis yang bersamanya dibuat bingung, namun tanpa protes mereka mengikuti saja. Ternyata tempat sepi yang didatangi Bolt adalah taman tempat dimana Himawari kecurian kemarin.
Bolt segera duduk, dia memejamkan mata dan berkonsentrasi. Lebih dari 5 menit sudah Bolt hanya duduk saja, membuat ketiga gadis yang mengikutinya bertambah bingung. Apalagi Bolt tidak bersuara sejak turun dari kereta dan sekarang malah duduk dengan tenangnya. Karena tidak tahan akhirnya Amaru bertanya.
"Eemmm, , , Bolt-niisan. Kenapa diam saja? Bu-bukannya kita harus secepatnya bergerak mencari anak kecil pencuri itu yaa." tanya Amaru dengan sedikit tergagap, sedikit takut dengan tingkah Bolt yang diam saja dan terkesan dingin, tidak seperti biasanya.
"Bisakah kalian diam dulu? Aku perlu berkonsentrasi penuh untuk mencari gadis kecil pencuri karena sekarang kemampuan mode sensorku sudah berada di level 3" jawab Bolt
Jawaban Bolt membuat Amaru dan Ryuzetsu tambah bingung. Sedangkan Mirai sendiri, dia terperangah. Bagaimana bisa? Setahu Mirai, mode sensor ninja pada level awal sudah bisa mendeteksi keberadaan ninja musuh pada radius jarak tertentu. Level 2 yang hanya dimiliki Yondaime Hokage, Namikaze Minato menurut cerita mampu mengenali kemampuan musuh seperti seberapa besar kekuatan musuh berdasarkan intensitas chakra yang terpancar serta mengenali batas-batas kemampuan tubuh seperti kekuatan fisik, kecepatan, stamina, hingga memperkirakan seberapa besar daya hancur ninjutsu musuh. Sedangkan ini, sudah level 3. Berarti kemampuan sensor Bolt lebih hebat dari kakeknya.
"Ini tidak mungkin kan?" gumam Mirai tidak percaya.
Gumaman Mirai malah membuat Bolt semakin tidak tenang.
"Baiklah, akan ku beritahu. Mungkin ada yang pernah dengan mode sensor sampai level 2 milik kakekku, kakek Minato. Kemampuan sensor ku sudah kulatih sedemikian rupa bahkan melebihi itu. Aku bisa mendeteksi tidak hanya kemampuan bertarung musuh. Aku bisa mendeteksi seluruh manusia hingga radius 50 km serta mengklasifikasikkannya. Membedakan mereka berdasarkan jenis kelamin, umur, elemen chakra hingga tinggi dan berat badan berdasarkan kriteria pola gelombang chakra yang terpancar dari tubuh mereka. Membedakan dan mendeteksi suku maupun ras manusia juga bisa ku lakukan dengan baik asal aku sudah mengenal pola tiap suku dan ras itu." jelas Bolt. Dia agak kesal karena merasa terganggu, jadi terpaksa menjelaskan kepada ketiga gadis yang bersamanya, berharap tiga gadis itu bisa diam.
"Waaaah, hebaat" decak kagum keluar dari mulut tiga gadis yang ada disana
"Bisa tenang tidak sih! Aku perlu berkonsentasi penuh untuk menggunakan mode sensor ini. Berdasarkan cerita kalian aku akan mencari sesuai kriteria anak kecil perempuan yang kalian maksudkan. Setelah semuanya ku temukan, baru kita periksa mereka satu persatu" Bolt tambah kesal. Niat menjelaskan hal tadi untuk membuat tiga gadis tenang, malah mereka makin tidak bisa diam.
"Kapan kamu belajar semua itu Bolt-kun? Setahuku, kau hanya ninja pemalas yang jarang berlatih."ucap Mirai menusuk hati Bolt, sehingga mau tidak mau Bolt harus menanggapinya.
"Memangnya aku tidur-tiduran seperti para Nara pemalas itu tanpa ada tujuannya? Aku selalu melatih konsentrasi dan meningkatkan kemampuan sensorku sebagai satu-satunya bakat ninja yang kumiliki saat kalian mengira aku sedang tidur disiang hari. Selain itu aku juga mengembangkan kemampuan otak kanan ku dengan memainkan game. Melatih kemampuan otak kanan agar lebih kreatif saat bertarung dan menjalankan misi. Aku melakukan itu karena otak kiri lebih mengarah kepada kemampuan menganalisis dan membuat keputusan, dan kemampuan otak kiri sudah sangat pasaran karena semua ninja-ninja dari klan Nara seperti itu" sungut Bolt kesal.
"Aku tidak menyangka ada ninja unik sepertimu. Tapi apa itu tidak berlebihan Bolt-kun. Walaupun kau mampu melacak semua anak-anak kecil berkelamin perempuan, tapi tetap saja ditempat ini ada banyak anak perempuan seumuran dia. Kita pasti membutuhkan waktu lama untuk memeriksa mereka satu persatu" kata Mirai
"Terus bagaimana? Hanya ini satu-satunya cara melacak keberadaan gadis itu secara cepat. Haaaah, andai saja ditaman ini terpasang CCTV, pasti akan lebih mudah mecari anak itu karena sudah tau wajahnya" kata Bolt semakin kesal karena sedari tadi terus diganggu sehingga tidak bisa berkonsentrasi.
"Aku ada ide, kita bisa mempersempit lingkup pencarian agar lebih efektif" usul Ryuzetsu.
"Bagaimana caranya?" tanya Bolt penasaran.
"Seperti ini. Hima memberitahukan kalau anak perempuan kecil yang datang padanya itu mengenakan pakaian yang agak lusuh. Mungkin gadis kecil itu berumur 8 tahun. Jadi kuperkirakan dia hidup sendiri tanpa orang tua sehingga melakukan pekerjaan seperti itu. Dan biasanya anak-anak seperti itu tinggal diderah gelap dan kumuh yang jarang ada orang, bukan dipemukiman. Jadi Bolt-niisan bisa memfokuskan pecarian dalam mode sensor untuk mencari anak perempuan berumur 8 tahunan yang sedang sendiri tanpa ada seorangpun didekatnya. Lalu, agar lebih mudah menentukan lokasi tempat mana yang terkesan kumuh, Bolt-niisan bisa mencari tempat yang tinggi untuk mengamati seisi kota ini" kata Ryuzetsu panjang lebar.
"Aku mengerti" ucap Bolt.
Bolt lalu melihat-lihat bangunan disekitar tempat mereka dan bingo, menemukan sebuah menara jam yang cukup tinggi, lebih tinggi daripada kebanyakan bangunan dikota itu.
Bolt segera melompat naik kepuncak menara dengan berjalan memanjat dinding menara seperti ninja pada umumnya. Setelah sampai dipuncak, Bolt menyisir titik-titik kumuh di seluruh penjuru kota itu dan menggunakan mode sensornya untuk mencari keberadaan anak kecil pencuri sesuai lingkup pencarian. Mirai, Amaru, dan Ryuzetsu juga ikut naik kepuncak menara.
"Dapat. Ada 26 anak kecil yang masuk kriteria pencarian" ucap Bolt tidak lama setelah berkonsentrasi. "Apa tim ini membawa alat komunikasi radio agar kita bisa saling terhubung?" tanya Bolt pada Mirai. Mirai mengangguk lalu membagikan alat komunikasi itu dan memasang ditelinga masing-masing.
"Baiklah, kita segera periksa semua anak itu satu persatu. Kita pasti akan menemukan anak yang membawa gulungan penyimpanan atau dompet kurama-chan milik Hima. Selama pencarian aku akan terus mengaktifkan mode sensorku dan memakai alat komunikasi ini untuk memantau keberadaan kalian juga posisi anak-anak itu. Mengerti semuanya?" ucap Bolt.
"Ha'i" dengan segera mereka melompat ke arah empat penjuru mata angin.
Setelah hampir satu jam mencari dan memeriksa setiap anak kecil yang Bolt tentukan posisinya, mereka masih belum menemukan keberadaan anak kecil yang mereka cari.
Bolt terus mencari hingga sampai masuk kesebuah gang gelap, bau, dan kotor yang terhimpit diantara dua buah gedung yang cukup tinggi. Bolt masuk kesana dan melihat sebuah kardus besar dimana tertidur seorang anak kecil berambut coklat. Bolt tidak menyangka ada anak kecil yang tahan tidur ditempat kotor seperti ini. Dengan perasaan iba, Bolt mendekati anak kecil itu dengan hati-hati agar tidak terkejut. Bolt dengan jelas dapat melihat anak kecil itu tidur sambil memeluk erat kurama-chan milik Himawari, mungkin dia sudah menganggap benda itu sebagai bonekanya.
Bolt yakin, ini lah anak yang ia cari. Kemudian memberi tahu Mirai, Amaru dan Ryuzetsu kalau dia telah menemukan anak yang mereka cari, serta lokasinya sekarang. Setelah itu, Bolt lalu menepuk pelan pipi anak kecil itu agar terbangun.
"Ayo bangun anak manis" ucap Bolt pelan.
Tiba-tiba anak kecil itu terbangun. Karena terkejut dia segera berdiri dan hendak berlari, namun karena terhalang dinding bangunan, dia hanya bisa meringkuk ketakutan disana sambil memeluk dompet rubah kurama-chan.
"Tenanglah. Tidak apa-apa. Aku tidak akan berbuat jahat padamu anak manis" kata Bolt menenangkan anak itu. Bersyukur karena kelihatannya anak kecil berambut coklat itu dapat tenang dengan cepat.
Bolt perlahan mendekat ke anak itu, memegang pucuk kepalanya dan mengusap rambutnya. Tidak ada reaksi penolakan dari anak tersebut.
"Nama kakak, Bolt. Kalau nama kamu siapa?" tanya Bolt. Berkenalan merupakan cara untuk membuat kesan baik saat pertama kali bertemu.
" . . . . . . " tidak ada suara yang keluar dari mulut si anak kecil. Dia malah menundukkan kepalanya.
Bolt tidak menyerah, "Kamu mau tidak, ikut bersama kakak?"
Ajakan Bolt membuat anak itu yang sedari tadi menunduk, langsung mendongakkan kepalanya menatap Bolt. Dia kelihatan ragu.
"Kalau kamu mau ikut bersama kakak, kamu bisa dapat tempat tinggal, terus dapat tempat tidur yang nyaman dan pastinya kamu akan memiliki banyak teman"
Anak kecil itu masih menatap lurus pada Bolt.
"Ditempat kakak juga banyak makanan-makanan yang enak" lanjut Bolt lagi dengan tawaran manisnya.
Anak itu kembali menunduk, tampak dia seperti sedang memikirkan tawaran Bolt.
"Bagaimana, kau mau ikut kakak tidak?" tanya Bolt sekali lagi.
Anak itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Bolt senang karena anak kecil ini kooperatif, namun dia heran kenapa anak kecil ini tidak bersuara sejak tadi.
"Eengg, , , kamu bisa bicara tidak, anak manis?" tanya Bolt pelan takut membuat perasaan anak itu terluka.
Anak itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Jawaban ini membuat Bolt semakin iba melihatnya.
"Yosh, ya sudah. Sekarang kamu bersiap ikut kakak. Oh ya, dimana barang-barang milikmu? ucap Bolt semangat. Si anak kecil lalu menunjuk kearah tempat dia tidur tadi.
Bolt berjalan ketempat itu diikuti si anak kecil. Dia menatap miris, ditempat si anak kecil tidur tadi hanya ada selembar kain tipis yang sepertinya digunakan sebagai selimut untuk tidur. Alas tidurnya hanya selembar kertas koran. Juga ada beberapa plastik makanan, plastik yang tampak seperti makanan sisa yang diambil dari ditempat sampah. Bolt juga melihat sebuah gulungan. Bolt mengambil gulungan itu dan memasukkan kesaku jaketnya.
"Um, sepertinya tidak ada barang disini yang perlu kita bawa. Tapi tenang saja, nanti ditempat kakak ada banyak barang yang jauh lebih bagus. Pasti kamu suka"
Anak kecil itu mengangguk saja dengan perkataan Bolt.
"Naah, ayo. Kau mau kugendong?"
Anak kecil itu tidak menjawab, dia berdiri disamping Bolt lalu satu tangan kirinya memegang erat tangan kanan Bolt yang dapat dia raih dan satu tangannya lagi memegang erat kurama-chan.
"Ya sudah, ayo kita pergi dari tempat ini sekarang" kata Bolt. Mereka berdua pun berjalan keluar dari gang sempit itu.
Saat keluar dari gang itu, ternyata tiga gadis dari tim 7 telah menunggunya. Mereka melihat ada anak gadis kecil yang bersama Bolt, menjadi bingung dengan apa yang terjadi.
"Aku sudah mendapatkan gulungannya. Sekarang kita pulang ke Konoha, nanti akan kuceritakan diperjalanan pulang" kata Bolt segera agar para gadis itu tidak bertanya.
Mereka bertiga mengangguk dan segera pulang ke Konoha.
.
.
.
Pagi yang sama dengan pagi pada hari-hari sebelumnya. Matahari sudah muncul dan mungkin cuaca akan cerah seharian ini, walapun begitu udara masih terasa begitu dingin karena sudah memasuki awal musim dingin. Pagi ini, sebentar lagi akan diadakan sidang dadakan kedua untuk kasus yang menimpa Himawari.
Kemarin malam setelah tiba dikonoha, Bolt mengantar anak kecil yang dibawanya ke panti asuhan Konoha yang dikepalai oleh paman Kabuto. Dia tidak mungkin membawa anak kecil pulang bersama kerumahnya, karena pasti akan membuat ayah dan ibunya terkejut. Lagipula di panti asuhan lebih baik karena ada banyak teman yang pasti membuatnya tidak kesepian.
Tanpa diduga, si anak kecil yang mencuri gulungan misi tim 7 kemarin tidak mau melepaskan pegangan tangannya pada Bolt saat Bolt hendak pulang bersama tim 7 malam itu. Merasa bertanggung jawab pada anak yang ditolongnya, Bolt memutuskan untuk menginap dipanti asuhan setelah mendapat ijin dari Kabuto. Menemani anak itu agar bisa beradaptasi ditempat barunya. Bolt meminta Mirai meberitahu ayahnya bahwa gulungannya telah ditemukan dan membuat jadwal sidang kedua untuk Himawari secepatnya.
Sepertinya anak yang ditolong Bolt adalah anak yang minder dan pendiam karena kecacatan yang dideritanya. Anak kecil itu tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali, lebih parah dari orang bisu yang walau tidak bisa berbicara tapi masih bisa mengeluarkan suara. Dia pun hanya bisa mengangguk dan menggeleng sebagai isyarat, atau menunjuk sesuatu yang menjadi perhatiannya. Membawa anak kecil ini kepanti asuhan adalah keputusan yang tepat karena ditempat itu akan diajarkan bagaimana cara bersosialisasi bagi anak yang mengalami keterbelakangan seperti dia.
Bolt menemani anak itu. Menemaninya makan, menunggunya mandi, lalu mengajaknya berkenalan dengan beberapa anak penghuni panti lainnya. Perlahan anak itu sudah mulai terbiasa, namun karena dia belum melepaskan pegangan tangannya dari Bolt, jadi terpaksa malam itu Bolt menemaninya tidur. Bahkan sekarang pun, Bolt terpaksa membawa anak itu hadir kepersidangan.
Sekarang semua yang hadir sudah lengkap, yaitu orang-orang yang sama dengan orang yang hadir pada sidang sebelumnya, ditambah keikut sertaan Bolt dan Hinata sebagai keluarga dari Himawari. Hinata tentu mencemaskan keadaan putrinya itu setelah mendengar detail kejadiannya dari Naruto. Namun Himawari tidak hadir pada sidang kedua kasusnya ini.
Alasan Himawari tidak hadir ialah karena sedang sakit setelah mendekam dipenjara semalaman. Seperti alasan klasik para tersangka korupsi yang mangkir dari sidang, namun mau bagaimana lagi karena seperti itulah kondisi Himawari adanya. Naruto dan Hiashi tentu bersikeras tidak akan membiarkan Himawari ikut sidang, mereka tidak ingin kondisi Himawari sakit lebih parah dari sekarang jika ikut menjalani sidang yang kedua kalinya. Oleh karena itulah, sidang kedua ini hanya sebatas pernyataan kesaksian dari para saksi yang dihadirkan.
"Semua hadirin harap duduk dengan tenang. Sidang kedua kasus hilangnya vibranium segera dimulai" kata hakim ketua yang sudah duduk tegap dikursi kebesarannya.
Tok…
Ketukan palu sekali menandakan sidang kedua kasus hilangnya vibranium secara resmi dimulai.
.
.
.
To be Continued. . . .
Note : Hahaaa, tanggung banget ya? Segini aja nih, soalnya ditempatku beberapa malam ini listrik padam jadi ga bisa buka laptop. Untuk Naruto, sebagai pemimpin negara dia sudah kompeten kok. Tapi kalau sudah melibatkan Himawari, baru tuh sifat idiotnya keluar ga ketulungan. Inilah manifestasi dari seorang ayah yang mengidap daughter-complex akut stadium empat. Kira-kira begitu.
Oh iya. Kemarin ada beberapa kata yang hilang, ini diakibatkan penggunaan tanda tidak tepat. Total kerugian pihak Soui Inc., kemarin angkanya hilang kan? Sekarang udah aku perbaiki kok. Lihat aja lagi berapa total sebenarnya angka kerugian tersebut, jangan terkejut ya karena harga itu kurasa cukup sepadan dengan betapa mahalnya mineral aktif langka seperti vibranium. Bahkan Tony Stark si Iron Man perlu usaha keras agar mendapatkan vibranium itu.
Sekali lagi, ini daftar umur pemeran cerita di fic ini.
Uzumaki Himawari – 14 tahun
Uzumaki Buroto/Bolt – 17 tahun
Uchiha Sarada – 17 Tahun
Naruto – 37 tahun
Sarutobi Mirai – 20 tahun
Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.
Saya Newbie, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.
