Chapter 10 : ATTACK
Jongin terbangun pukul 3 pagi dua hari kemudian. Terhitung setelah keluar dari makam Arshi dan berakhir dirinya menutup mata dalam gendongan Sehun karena terlalu lelah. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Namun hanya gelap yang ia dapat. Gorden bahkan tak terbuka sama sekali walau hanya sekerdar mempersilahkan cahaya bulan untuk menerangi gulita yang terperangkap dalam kamar.
Namun ia menyadari jika ada orang lain yang berada di ruangan ini. Seseorang yang auranya ia kenal. Ini adalah aura milik Pegasus. Jongin terus menelusuri setiap sudut kamar dengan matanya. Tempat ini adalah tempat yang sama dengan kamar yang Sehun tunjukkan ketika pertama kali datang ke mansion ini. Tapi, kemana Sehun?
Jongin berpikir untuk mencari Sehun. Jadi, ia bermaksud untuk turun dari ranjang. Namun tidak jadi karena ia merasakan pergerakan kecil di tepian tempat tidurnya. Rupanya Pegasus tertidur di tepi ranjang dengan posisi duduk. Kakak kesayangannya sepertinya tidak sengaja tertidur saat menjaganya.
Ia mendesah, selalu seperti ini setiap kali memakai cakra berjumlah besar dalam sekali waktu. Imbasnya adalah pada tubuhnya dan kesadarannya, lemas mendadak hingga berujung pingsan. Karena ketidaksadarannya, ia membuat susah orang lain. Ia membuat orang lain khawatir karenanya. Pertama kali ia pingsan karena kehilangan cakra banyak adalah ketika dirinya berusia 7 tahun. Saat dirinya menggunakan terlalu banyak cakra ketika menyelamatkan Pegasus dari salah satu dewa yang jahat. Ia memang berhasil menolong Pegasus, namun ia berujung pingsan setelah sampai istana. Membuat ibu dan ayahnya khawatir setengah mati karena ia pingsan selama seminggu.
Yang kedua adalah ketika Sello mengamuk. Ia bahkan tidak sadarkan diri selama hampir satu bulan. Ibunya tidak bisa menyembuhkannya seperti biasa karena dia tidak sakit. Tapi kondisinya kala itu seperti orang koma. Membuat ayah dan ibunya berkali lipat lebih khawatir. Ditambah konflik yang sedang melanda Neptunus. Dimana rakyat meminta pada ayahnya agar ia dihukum mati.
Ayahnya berkata, mungkin karena Jongin masih kecil kala itu. Tidak seharusnya menggunakan cakra besar dalam sekali waktu. Tubuhnya yang kecil tidak kuat menahan dan mengendalikan cakra yang digunakan. Jadi seperti itulah. Seperti efek shock. Tubuhnya butuh diistirahatkan untuk meregenerasi cakra. Begitu kata ayahnya dulu.
Mungkin ayah benar tentang itu. Namun, harus sampai umur berapa hingga ia mampu menopang? Nyatanya kebiasaan itu masih saja ada sampai sekarang. Walau dia sudah menguasai cakra alam berkat kemampuan Sello, tapi tetap saja tubuhnya seperti itu. Sudah berulang kali ia melatih tubuhnya namun tetap sama saja. Ia beranggapan bahwa dengan menguasai cakra alam tubuhnya akan mengalami kemajuan pesat dalam mengkonstankan cakra yang beredar ke seleruh tubuhnya. Ternyata butuh latihan keras juga. Pantas saja kakeknya selalu memaksanya berlatih pengendalian. Jongin jadi menyesal karena sering bolos latihan.
Jongin kembali mendesah, kemarin ia menyusahkan Sehun setelah menggunakan cakra besar untuk menyembuhkan luka cambuk api. Sekarang ia tak hanya menyusahkan Sehun, tapi semua orang termasuk kakaknya. Kelemahannya benar-benar membuat khawatir.
"Mianhae," Ucapnya berbisik seraya membelai puncak kepala kakaknya yang masih lelap tertidur. Walau dalam gelap, binarnya tetap terlihat menyesal.
Namun tak berapa lama ia melonjak karena mendengar suara-suara bedebum dan kaca pecah dari luar. Karena penasaran maka ia turun dari ranjangnya melalui sisi yang lain agar kakaknya tidak terganggu. Jongin menyibak gorden dan melihat ke luar.
Matanya melebar sempurna. Ia terkejut kala melihat sosok sunbae culun yang ia kenal tengah melakukan beberapa gerakan jurus dan menembakkan jarum-jarum yang terbuat dari es di sekeliling tubuhnya. Melesat menembus kekkai, menancap pada siluman-siluman yang tengah berusaha membobol kekkai itu. Jongin dibuat terkejut ketika para siluman yang terkena jarum-jarum es itu membeku dalam sekejap lalu pecah seperti kaca dan berubah menjadi butiran-butiran kristal es.
"L-Luar biasa!" Jongin merasa takjup dan kagum di saat yang bersamaan. Rupanya Minseok hyung yang selama ini ditindas bukanlah manusia biasa. W-WOW!
Jongin lantas keluar tanpa sepengetahuan Kris. Ia menghampiri Minseok dengan tatapan terpana. Minseok sungguh nampak berbeda tanpa kaca mata bulatnya. Sunbae yang pernah ia bela dari Kris nampak sangat menawan dan nampak kuat dengan kekuatan es nya.
"Kau sudah bangun?" Minseok bersuara, membuyarkan keterpanaan Jongin.
"K-Kau itu..."
"Maaf membuatmu terkejut," Minseok tersenyum dengan gummy smile yang imut. "Aku tahu kau memiliki banyak pertanyaan tentang aku. Tapi, nanti saja penjelasannya ya," Ujarnya lalu kembali fokus pada siluman-siluman yang kembali datang dan tak berhenti membenturkan diri pada kekkai.
Jongin baru menyadari jika ada kekkai tebal yang mengelilingi mansion Sehun. "Apa yang terjadi, hyung?" Tanyanya seperti orang linglung.
"Kau pingsan setelah kembali dari makam angel miko bernama Arshi itu. Siluman kembali datang. Aku, Lu Han, dan Kris yang baru kutahu adalah kakakmu, membuat penghalang disekeliling mansion untuk melindungimu dari mereka. Karena kami pikir, akan sangat tidak aman jika kau keluar dari sini. Tapi siluman terus datang dengan jumlah banyak dan berusaha membobol kekkai yang kami buat. Kekkainya lama kelamaan menipis, Jongin. Kau bisa lihat ada beberapa bagian yang mulai pudar. Aku, Sehun, dan Lu Han harus menghentikan mereka agar kau tidak diambil dari kami."
Jongin lalu menatap ke setiap sisi kekkai. Dan ia menemukan memang ada beberapa yang mulai bolong sehingga siluman dapat masuk. Jongin dapat melihat seekor siluman menembus kekkai dan meluncur ke arahnya diikuti geraman yang memekakkan. Falset kalau Jongin bilang. Dan ia benci suara yang sumbang.
Jadi, dia mengangkat ke dua tangannya ke udara. Bersamaan dengan itu, air dari dalam tanah berumput yang ia pijak mencuat keluar dalam jumlah besar. Entah berapa liter. Itu adalah air tanah yang Jongin tarik keluar menggunakan pengendalian air yang ia warisi dari sang ayah. Air itu mengambil bentuk seperti ombak di belakang Jongin. Sebelum akhirnya anak itu melakukan satu kali lompatan seraya berputar, gerakannya seperti meninju udara dan ia memasang kuda-kuda dengan satu kaki di depan, gelombang air itu berubah seperti dua belut tanpa kepala, melayang menuju siluman yang meluncur dengan gigih. Menerjang sang siluman buruk rupa seperti gelombang tsunami dalam skala kecil. Minseok mengakhiri dengan membekukan air Jongin yang membasahi sang siluman hingga terjatuh ke tanah. Jongin lantas melompat dan meninju siluman beku itu dengan tangan kosong.
PYAR!
Siluman itu pecah seperti kaca yang rapuh.
"Wow! Kita sepertinya kombinasi yang cocok! Elementmu air dan aku es!" Minseok memekik takjup.
"Kurasa begitu," Jongin tersenyum kecil. Sebelum ia kembali menyerang siluman yang datang lagi. Kali ini ia menggunakan peluru air yang ia ciptakan dari dalam tanah, ia tembakkan hingga menembus jantung para siluman. Mereka mati dan jatuh ke tanah. Lagi, Minseok membekukan bangkai-bangkai dan menghancurkannya seperti kaca rapuh.
Agar tidak ada jejak dan membuat manusia ketakutan katanya.
"Dimana si Kris brengsek itu? Seharusnya ia menjagamu!" Minseok berujar agak kesal disela-sela pertarungan.
"Dia ketiduran sepertinya,"
"APA?! Bisa-bisanya tidur disaat genting begini!" Minseok mengumpat keras. "Kami bahkan tidak tidur hampir 3 hari,"
Jongin tidak bisa untuk tidak terkejut mendengarnya. Ia menatap Minseok dengan tidak percaya. Jadi, mereka sampai tidak tidur sama sekali demi menjaganya?
Terkutuklah petaka ini!
Jongin mendesis keras. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak berguna. Sampai tidak menyadari jika kekkai semakin lemah dan siluman semakin banyak yang berhasil masuk. Menyerang ke arah Jongin dari berbagai sisi.
Jongin terkejut ketika ia sadar situasi. Ia blank hingga tidak bisa memikirkan jurus apa yang ia gunakan. Tidak mungkin memanggil Osiris. Menggambar triangle arch memakan waktu.
Minseok berteriak panik. Ia ingin menyelamatkan Jongin, namun dia sendiri juga sedang genting. Bagaimana ini?
BLAM! DUAR!
Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan. Para siluman terpental, dalam sekejap hancur menjadi gumpalan-gumpalan daging kecil. Darah muncrat kemana-mana seperti hujan merah. Minseok terkejut mendapati dirinya kotor karena terkena cipratan darah siluman yang menjijikkan. Siluman telah mati tanpa sisa bersamaan dengan kekkai yang pudar sepenuhnya.
Minseok menatap takjup pada Sehun yang berada di belakang Jongin dengan trisula yang masih mengeluarkan listrik yang menjilat-jilat. Dokter tampan berlumuran darah siluman itu nampak pada posisi kuda-kudanya. Sepertinya Sehun muncul dengan teleportasi untuk melindungi Jongin yang terdesak. Dokter muda itu terlihat keren dalam mode demon! Rambutnya gondrong ternyata.
Namun mata Minseok terbelalak saat ia melihat seekor serigala berekor sembilan, berbulu putih dengan cahaya biru berpendar dari seluruh tubuh dan tinggi hampir menyamai Jongin nampak berdiri tegak di depan anak itu. Entah muncul dari mana, tahu-tahu sudah disana dan melindungi Jongin di bagian depan. Seketika itu Minseok merasa familiar namun ia tidak tahu dimana pernah melihat serigala itu. Minseok juga dapat merasakan aura siluman dari serigala itu. Secepat kilat menyambar, Minseok berpikir bahwa Sello adalah bagian dari siluman yang menyerang mereka.
Jadi, tanpa pikir panjang Minseok berlari ke arah Jongin sambil berteriak agar Jongin menyingkir dan ia menyiapkan tombak es untuk menusuk Sello.
Lu Han datang di saat yang tepat. Ia muncul dengan telepostasi di depan Minseok. Menangkap tangan pemuda imut itu dan merebut tombak es Minseok. Ia memberikan gestur memeluk tubuh kecil Minseok agar pemuda berpipi gembil itu berhenti. Lu Han melempar tombak es ke arah lain. Sementara jeveline rough miliknya dibiarkan menancap disampingnya.
"Tenanglah, Ghe,"
"L-Lu Han?" Minseok kembali terpana. Ia merasa asing dengan Lu Han. Ketua Osis yang ia taksir berpenampilan berbeda sekarang.
Bagaimana tidak? Lu Han yang biasanya berambut pendek dengan rambut halus sepanjang dagu yang menghiasi lingkar wajahnya, kini justru nampak berbeda dengan rambut abu-abu sepanjang pantat dan tergerai. Ia memakai jubah berwarna abu-abu juga dengan sedikit warna hitam sebagai aksen. Kedua mata hitam Lu Han memiliki riak berwarna kuning yang berbentuk gerigi dan tiga diamond. Minseok merasa asing.
Namun ia segera ingat penjelasan ayahnya belum lama ini mengenai sosok Lu Han. Ayahnya bilang, Lu Han adalah lord saint demon dari Edelwais. Putra pertama dari keluarga kerajaan Silvestre. Kakak dari Dokter Oh dan memiliki julukan The Grey. Saint demon yang memiliki warna rambut sedikit berbeda dari demon biasanya. Si sulung yang ditunjuk untuk menggantikan sang ayah memimpin bangsa demon. Lu Han saat ini sedang dalam mode demon ciri khasnya.
"Siluman serigala yang disana bukan musuh kok," Kata Lu Han dengan senyum kecil yang menawan. "Namanya Sello. Dia tidak jahat, tenang saja."
"T-Tapi..."
"Jika kau membunuh Sello maka Jongin ikut mati. Kau mau Jongin mati?"
"B-Bagaimana bisa?"
"Karena jiwa mereka terikat menjadi satu. Jika yang satunya mati, maka yang lain juga ikut mati. Kau tidak bisa melakukannya. Nanti aku ceritakan secara detail. Oke?"
Belum sempat Minseok menjawab, Sello menggeram dalam posisi siaga karena ratusan siluman kembali muncul dari langit. Entah darimana pemikiran ini, tapi Jongin seperti melihat portal hitam di langit seperti menjadi sumber semua siluman itu muncul. Jongin berkesimpulan bahwa para siluman ini datang dari dimensi lain melalui portal ruang dan waktu. Tapi, yang ia tahu portal seperti itu tidak bisa muncul begitu saja tanpa ada yang membukanya. Apakah para siluman menggabungkan kekuatan untuk menciptakan portal? Tapi biasanya, para dewa tidak akan mengijinkan siluman turun ke bumi, mengganggu ketentraman manusia. Lantas, bagaimana bisa para dewa tidak melakukan tindakan atas portal siluman yang terbuka? Dimana penjaga langit?
Ngomong-ngomong soal manusia, benar juga! Jongin jadi kepikiran sekarang! Apakah sungguh mansion ini sangat jauh dari pemukiman? Bagaimana jika para manusia melihat segerombol siluman ini? Reaksi seperti apa yang tengah mereka lukis pada wajah masing-masing?
Semoga tidak ada manusia yang mendekat. Itu adalah doanya. Sementara para manusia yang masih terjaga di bawah bukit sana tengah menatap dengan penuh rasa penasaran. Pada jaman modern seperti ini, siluman adalah hal mustahil ada namun mereka mempercayai adanya hantu yang bahkan tak bisa mereka lihat dengan mata. Lalu, apakah julukan Jongin sebagai anak siluman hanya julukan biasa? Maka sebenarnya mereka mempercayai yang mana?
Tidak. Walau julukan yang telah menjelma menjadi identitas tak kasat mata itu melekat pada diri Jongin. Itu murni karena mereka mempercayai jika Jongin adalah pembunuh dari beberapa siswi dan Wonshik mengaku melihat perubahan wujudnya. Walau mereka tidak mempercayai adanya siluman, namun mereka percaya bahwa Kim Jongin adalah pembunuh. Maka pantas disebut siluman.
Iya, mereka hanya tidak tahu bahwa siluman itu memang ada dalam tubuh Jongin. Berbentuk seekor serigala berekor sembilan. Bahkan sekarang ada banyak siluman yang kini berada disekitar mansion.
Jongin tidak paham. Ia sama sekali tak mengerti mengapa mereka datang kemari untuk kristal kecil yang memiliki bercak kelopak anggrek bulan. Mereka datang untuk merebut benda kecil itu. Kenapa? Mengapa mereka menginginkan kekuatan kristal ini? Lalu, jika orchideta sudah berhasil di dapat, permohonan apa yang akan mereka minta? Untuk apa kristal ini ada? Dan untuk tujuan apa?
Jongin tidak mengerti. Menurutnya orchideta tidak membawa kedamaian. Namun justru membawa petaka.
Permusuhan dan perseteruaan, adalah para siluman yang berlomba-berlomba mendapatkan orchideta. Mereka pasti ingin menjadi yang terkuat dan berkuasa. Itu yang ia pikirkan. Lalu perpisahan yang Jongin maksud adalah antara Arshi dan Sehun. Kemudian kutukan yang dibawa orchideta adalah Arshi yang menanggung beban melawan para siluman tanpa henti seperti kutukan yang tak berakhir. Dan penderitaan yang Jongin pikirkan adalah penderitaan Tao. Kakak tiri yang merupakan putra kedua Medusa itu menginginkan orchideta agar mengabulkan permintaan sepelenya untuk bersama Arshi. Namun, keinginannya justru tak terkabul dan malah memberikan derita. Ekspektasi yang Tao bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan.
Orchideta seperti membawakan kerugian besar pada orang atau makhluk yang menginginkan kekuatannya atau pada orang-orang yang berada di dekatnya.
Maka Jongin berkesimpulan bahwa sebenarnya orchideta tidak mengabulkan permintaan yang sesungguhkan. Dengan kata lain, kristal ini mengabulkan kebalikannya.
Dalam lubuk hati Jongin menginginkan agar kristal ini musnah dari semesta. Agar tidak ada lagi yang terjebak dalam relikui derita yang dibawa oleh orchideta. Namun ia tidak tahu bagaimana menghancurkannya. Karena Sehun bilang, kristal ini tak bisa hancur. Maka, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Jujur saja, ia merasa terbebani dengan kemunculan kristal legendaris ini. Arshi tidak menjelaskan tentang ini saat mereka bertemu dalam alam bawah sadar. Arshi hanya mewanti dirinya untuk hati-hati ketika darahnya semerbak mewangi. Jongin sungguh tidak menduga bahwa apa yang diwanti Arshi padanya berhubungan dengan kristal ini.
Sejak orchideta memilih dirinya, Jongin sudah menyadari bahwa hari-hari berikutnya ia tidak akan tenang. Iya, siluman terus saja berdatangan dan berusaha menembus kekkai agar bisa merebut orchideta. Jongin masih tidak mengerti mengapa ia harus menjaga orchideta?
Sehun menembakkan kilatnya dari trisula untuk melumpuhkan beberapa siluman yang jaraknya lebih dekat dari mereka berdiri. Sello melompat dan memberikan kekuatan cakaran kukunya untuk membelah para siluman menjadi potongan-potongan daging yang menjijikkan. Minseok menggunakan kekuatan es untuk membekukan para siluman dan menghancurkannya. Sementara Lu Han menggunakan telekinesis untuk menghempaskan para siluman agar mundur. Lu Han seperti berusaha mendorong semua siluman sekaligus agar kembali ke portal dan terhisap masuk kembali.
Melihat semua temannya berusaha keras melawan para siluman, Jongin tidak bisa hanya diam. Dia harus melakukan sesuatu. Mereka memang melindungi dirinya, tapi itu bukan berarti dia tidak harus melakukan apa-apa. Mereka repot karena dirinya. Mereka kesusahan karena dia. Dan mereka ikut terjebak dalam masalah orchideta juga karena dia. Akan sangat kurang ajar jika Jongin hanya diam dan mengandalkan mereka.
Maka dengan cepat Jongin melompat. Seperti ninja dalam serial anime kesukaannya, ia melompat ke balkon salah satu kamar di lantai dua, menjadikan selusur pagar untuk pijakan lompatannya agar ia sampai di atap mansion.
Jongin berdiri tegak menantang. Menatap ke atas dimana para siluman muncul dan menyerang. Ia berkonsentrasi pada kekuatan triangle arch di punggung tangannya dan ia berhasil memunculkan busur archarisis dalam genggamannya.
Tanpa rasa takut ia memasang kuda-kuda. Ia menarik tali busur dengan posisi siap membidik, maka muncullah sebuah anak panah berwarna silver dan bercahaya. Jongin baru memperhatikan ini sekarang, anak panahnya nampak indah. Seperti bergemerlap karena gliter. Jongin barulah menyadari jika anak panah yang dihasilkan oleh archarisis terbuat dari perak.
Para siluman memekik memekakan telinga. Seekor siluman berbentuk ular nampak memimpin di garis depan. Bau anggrek bulan dan madu semakin tercium kuat dari tubuh Jongin, membuat para siluman seketika memutar haluan menuju Jongin. Sello, Sehun, Minseok, dan Lu Han memekik karena para siluman memilih mengabaikan mereka untuk menyerang satu orang, yaitu Jongin. Minseok merasa ngeri melihat pemandangan mencekam di depannya. Para siluman nampak seperti koloni lebah yang jumlahnya ratusan. Bagaimana Jongin menghadapi ini?
Maka dengan instingnya, Minseok berlari. Berniat pergi ke tempat Jongin untuk membantu anak itu melawan para siluman. Namun ia segera di cegah oleh Sello yang berdiri di depannya. "Percayalah pada kekuatannya," Ucap Sello dengan suara beratnya.
Minseok terpaku menatap Sello dari samping. Ia baru menyadari jika siluman yang memiliki sembilan ekor ini nampak mengagumkan. Binar mata biru vertikal nampak menatap Jongin dengan kebanggaan dan kepercayaan yang besar. Minseok jadi bertanya-tanya, seberapa besar kekuatan Jongin hingga semua yang ada di sini tidak melakukan apapun ketika semua siluman meluncur ke arah Jongin? Mereka seperti yakin jika anak yang baru saja menginjak 17 tahun itu mampu mengalahkan siluman sebanyak ini!
SLAP!
Minseok terperanjat, Jongin melesatkan anak panahnya ke arah para siluman dengan sebuah keyakinan besar yang terlukis pada wajahnya. Sebuah keyakinan bahwa dirinya mampu mengalahkan para siluman. Mata Minseok melebar, ia dapat melihat anak panah yang Jongin lepaskan meluncur seperti bintang jatuh. Berputar-putar membentuk kawalan energi yang penuh dengan jiwa. Menyelubungi anak panak seperti komet. Lalu, membelah para siluman menjadi dua bagian sebelum kawalan energi jiwa pada anak panah menyebar keseluruh penjuru seperti sinar matahari terbit dan menelan seluruh siluman. Menjadikan para siluman debu cahaya yang hilang di udara.
"Dia sungguh kuat," Ujar Minseok penuh kekaguman. Baru sekali ini ia melihat kekuatan miko sekuat ini. Jongin nampak luar biasa sekarang.
Lu Han dan Sello tersenyum puas. Mereka sama-sama berpikir bahwa kekuatan Jongin lebih kuat dari Arshi. Jongin dapat menggunakan archarisis lebih efisien dari Arshi. Anak 17 tahun itu mengagumkan!
"Baby," Suara Sehun menginterupsi, Jongin dapat melihat gurat khawatir pada wajah porselen saint demon yang memegang trisula di tangan kanannya. Jongin tahu apa yang Sehun khawatirkan. Bungsu Silvestre itu mengkhawatirkan dirinya. Karena ia baru saja bangun setelah dua hari tak sadarkan diri. Terhitung setelah keluar dari makam Arshi. Dalam hati Jongin menyesal telah membuat kekasihnya khawatir untuk kedua kalinya dalam hal yang sama. Sehun seperti sudah tahu bagaimana kelemahannya. Tapi Jongin tidak mau Sehun terus khawatir seperti itu.
"Bidik sekali lagi untuk menutup portal!" Teriak Sehun. Sukses membuat Jongin di atap terkejut, karena Sehun juga menunjukkan bahwa dirinya juga percaya pada kekuatan Jongin dan percaya ia akan baik-baik saja.
Jongin tidak menyahut. Tanpa kata ia menuruti instruksi Sehun. Ia kembali menarik tali busur dan membidik pusaran portal yang berputar-putar. Apakah panahnya ini dapat menutupnya?
Jika Sehun sampai menyuruhnya begitu, artinya panahnya memang sanggup menutupnya.
SLAP!
Panah perak Jongin melesat masuk portal. Lalu terdengar bunyi dengungan seperti benda elektronik yang eror. Lama kelamaan pusaran hitam itu mengecil, seperti terserap pada satu titik ditengah. Dan mereka dapat melihat jika portal dihisap oleh panah perak Jongin sebelum ikut menghilang menjadi debu cahaya.
"Kerja bagus, anak pintar!" Pekik Sello bangga. Membuat Jongin tersenyum tipis dan ia melompat turun dari atap. Sello bergerak cepat menjadi bantalan Jongin, hingga anak itu jatuh di punggungnya, duduk seperti seorang koboi yang menunggang kuda. Archarisis lalu menghilang dari genggaman Jongin dan masuk ke triangle arch.
"Yang tadi itu menakjupkan!" Minseok berujar kagum seraya menghampiri Jongin yang masih duduk di punggung Sello.
Anak reinkarnasi saint angel itu terkikik seraya turun dari punggung Sello ketika siluman serigala itu merundukkan tubuhnya. "Aku menggunakan kekuatan spiritualku bersamaan ketika menarik tali busur,"
"Pantas jika panahnya mengandung energi jiwa yang sangat kuat!" Lu Han berujar dengan pose berpikir, "Itu adalah jiwamu,"
"Ngg... anu, aku melewatkan apa ya?" Seseorang tiba-tiba nimbrung pembicaraan. Kris nampak berjalan linglung ke arah mereka. Dengan muka mengantuk yang mengundang orang ingin menonjoknya.
Dan itulah yang Sehun lakukan baru saja. Menonjok wajah tampan Kris dengan sekuat tenaga sampai terpental dan punggungnya membentur dinding mansion.
Jongin dan yang lain terkejut bukan main. Ia memekik spontan melihat kakaknya tengah merintih kesakitan. Dindingnya sampai roboh karena pukulan Sehun cukup kuat. Sudut bibir Kris berdarah dan pipinya memar. Kekuatan bungsu Silvestre itu kuat juga. Waduh!
"Kenapa kau memukulnya?!" Jongin berteriak tidak terima. Ia lantas menghampiri kakaknya dengan khawatir. Sementara Sehun hanya menatap tajam pada Kris yang masih baik-baik saja. "Kuharap kau punya alasan yang tepat!"
Sehun hanya diam menatap sinis pada Kris. Ia telah kembali dalam mode manusia.
Lu Han menghela nafas jengah. Ia menggerakkan tangan kanannya diudara. "WAA LU HAN HYUNG APA YANG KAU LAKUKAN!" Jongin memekik panik ketika tubuhnya tiba-tiba melayang di udara menjauhkan Jongin dari Kris dan berpindah ke dekat Sehun. Lu Han melepas telekinesisnya tanpa aba-aba, membuat Jongin jatuh tapi Sehun menangkapnya dengan mudah dalam pelukannya.
"Ya! Lepaskan aku!" Jongin meronta dengan tenaganya. Namun sia-sia karena Sehun rupanya masih memiliki kekuatan besar setelah bertarung dengan para youkai dan sekarang berubah menjadi mode manusia. Ketika Sehun memberikan death glare amat dingin padanya, tubuh Jongin berhenti meronta seketika. Ia memilih menundukkan kepala dalam pelukan Sehun.
"Kau enak tidur sedangkan kami bertarung! Kau pantas mendapat pukulan Sehun!" Hardik Lu Han pada Kris dengan nada kesal yang kentara. "Bagaimana kau bisa tidak tahu Jongin terbangun?!"
Sementara Minseok mengangguk-angguk setuju dengan apa yang dikatakan Lu Han, ia bahkan menimpali, "Benar-benar tidak bertanggung jawab!" Dan ikut menghardik Kris.
"Hei, maafkan aku, oke? Itu kan hal wajar jika aku mengantuk," Kris berusaha membela dirinya seraya bangkit dari tersungkurnya. Lu Han dan Minseok berdecak kesal mendapati Kris merespon enteng seolah yang tadi itu tidak berbahaya.
Jadi, sebelum Kris melangkah Minseok sudah terlebih dulu membekukan kedua kakinya hingga Kris limbung. Mau jatuh tidak jadi karena kakinya seperti tertahan tanah dan menempel kuat. "SAKIT TAHU!" Ia mengumpat tidak terima.
"Itu adalah balasan karena kau sudah memukuli aku di sekolah dan sok berkuasa!" Minseok berujar sambil berkacak pinggang. Membuat Lu Han bertepuk tangan dengan raut girang.
"Aku jadi ngefans sama kamu, Ghe!" Dan ia mengacungkan jempol pada Minseok.
"Jika kau bukan kakaknya Jongin, aku pasti sudah meremukkan kakimu!"
Kris dengan identitas asli Pegasus itu berdecak sebal.
Sedangkan Sello terkikik geli sambil mengubah ukuran tubuhnya menjadi sekecil puppy dan ia meringkuk lucu di atas kepala Jongin yang kini menatap cengo adegan pembalasan dendam yang menurutnya lucu. Jadi, mereka menghakimi kakaknya karena telah lalai? Dia kira mereka terlibat perseteruan serius tadi. Hahaha...
"Lapar~" Sello tiba-tiba merengek di atas kepala Jongin sambil menatap Sehun yang tepat di depannya dengan tatapan memelas. Membuat saint demon muda itu bergidik jijik. Kalau Jongin yang merengek sih jatuhnya imut. Kalau Sello? Yaik!
"Hentikan! Jangan merengek padaku, Sello! Kau sungguh tidak cocok!" Sehun menghardik. Sello langsung berdumel tidak jelas sambil merebahkan tubuh kecilnya dirambut Jongin yang halus.
"Iya, aku juga lapar~" Sekarang giliran Jongin yang merengek dengan tatapan anjing terbuang. Nah kalau ini sih Sehun jadi gemas. Ia sampai tidak bisa menahan hasrat untuk mencubit dua pipi gembil kekasihnya.
"Tunggu sebentar," Minseok menginterupsi. Mendengar rengekan kelaparan dari temannya tahu-tahu dia sudah merogoh kantung celana Kris yang kedua kakinya masih beku.
"Ya! Ya! Geli!" Kris meronta.
"Nah, ayo kita makan~" Seru Minseok girang sambil menggoyang-goyangkan dompet yang baru saja ia copet dari Kris.
"Oi~ dompetku~" Kris merengek melas.
"HOREEE~~~" Pekik Jongin kegirangan. Ia melonjak-lonjak sambil bertepuk tangan, sampai Sello yang ada di atas kepalanya hampir saja jatuh. Hingga makhluk kecil itu harus memeluk kepala Jongin dengan keempat kaki mungilnya. "Aku mau daging! Aku mau daging!" Jongin berlari-lari kecil menghampiri Minseok yang tengah menggeledah isi dompet Kris.
"Waa.. uangnya banyak sekali. Benar-benar putra tunggal keluarga Wu yang kaya raya! Ayo, Jongin kita cari restaurant mahal dan habiskan uangnya!" Minseok menarik semua uang cash Kris keluar, lalu melemparkan dompetnya dengan sembarangan ke arah sang empunya.
Jongin mengangguk antusias dan Sello memekik setuju. Mereka lantas berlari semangat untuk keluar mansion. Meninggalkan Kris yang meratapi dompetnya di tempat.
Tapi, sebelum benar-benar keluar, tubuh mereka sudah melayang mundur seperti di tarik benang. Mereka sama-sama jatuh ke pelukan Lu Han.
"Ya! Lu Han hyung~" Jongin dan Minseok meronta. Tapi kekuatan telekinesis Lu Han membuat mereka kembali tertarik seperti magnet dalam pelukan Lu Han.
Lu Han terkekeh, "Mandi dulu anak-anak. Kalian sungguh bau! Masa mau ke restaurant dengan tubuh penuh darah siluman?" Lalu sulung saint demon itu menggiring Jongin, Minseok dan Sello masuk mansion. Minseok menurut sedangkan Jongin berdumel tidak jelas dan Sello melontarkan sumpah serapah. Perut mereka sudah keroncongan karena 3 hari 2 malam tidak makan. Damn!
Sementara Sehun hanya bersedekap dan menggelengkan kepala melihat kelakuan absurd ketiga orang plus Sello itu. Ia lantas berjalan masuk mengikuti mereka.
"Ya! Jangan tinggalkan aku sendiri~ Ya!"
Tanpa mempedulikan Kris yang masih tidak bisa bergerak karena beku dikedua kakinya.
"Sepertinya es itu akan mencair sampai tengah hari," Sehun berujar santai tanpa menghentikan langkahnya.
"Ya! Kalian benar-benar tega! Ya~!"
Biarkan Pegasus meratapi nasibnya! Hahaha...
Ngomong-ngomong soal keluarga Wu. Apakah Kris sungguh anak mereka?
Jawabannya adalah... tidak. Kris diangkat anak oleh keluarga Wu yang waktu itu tengah dirundung duka karena putra kandung mereka meninggal dalam kecelakaan di luar negeri. Tidak banyak yang tahu tentang ini sebenarnya. Jadi tidak perlu cerita panjang lebar oke?
.
.
.
.
Bukan mengantri makanan, tapi Jongin justru duduk lesu sendirian di salah satu bangku disudut kantin. Bukannya tidak lapar, dia ingin makan. Tapi ia menahan hasratnya kala melihat berbagai tatapan bergidik dan ngeri yang para murid tujukan padanya.
Setelah insiden panah aneh yang ia lesatkan dan menancap di jasad Wonshik, ia semakin dipandang sebelah mata. Mereka semakin meyakini bahwa Jongin memang jelmaan siluman karena melihat Jongin menembakkan anak panah tanpa busur. Dimata mereka, Jongin adalah anak yang aneh. Ia tidak diterima di club manapun bahkan itu club panahan dan dance yang ia sukai. Sedangkan mengikuti kegiatan club menjadi nilai penyeimbang dalam rapor akhir tahun. Bagaimana ia bisa membiarkan rapornya merah? Para guru bahkan sudah mempertanyakan kegiatan clubnya. Namun ketua dari masing-masing club sudah menolak sebelum menjajal kemampuannya.
Wangi kuat yang menguar dari tubuhnya menjadi alasan lain mengapa ia semakin dicap aneh oleh warga sekolah. Mereka menganggap bau yang Jongin miliki seperti bau dupa atau kemenyan. Jiyeon sampai pernah menyiramnya dengan air pel yang bau. Tidak suka dengan bau Jongin katanya. Tapi dibalik itu, sebenarnya gadis yang pernah berkomplot dengan Kris itu merasa iri karena Jongin seperti memiliki aura memikat secara mendadak. Terbukti jika beberapa orang mulai terbius oleh wanginya dan terpikat. Tapi beberapa orang juga menyebarkan gosip bahwa wangi Jongin menjebak. Mereka menganggap jika Jongin menggunakan guna-guna.
Dibuktikan dengan perubahan Kris sang kingka sekolah yang semula membenci bahkan sampai menghajar berbalik begitu perhatian dan nampak menyukai Jongin. Entah sejak kapan kingka sekolah yang mereka puja menjadi baik pada si anak terkutuk. Lalu Lu Han sang ketua osis juga tambah dekat dengan Jongin. Kerap kali mereka mendapati Lu Han berdampingan dengan Jongin dan si nerd Minseok. Dan yang lebih membuat tercengang adalah, kedekatan antara Jongin dan Dokter Oh yang selama ini menjadi obsesi para wanita dan lelaki bottom. Dokter Oh selalu memandang penuh cinta dan teduh pada Jongin. Dokter Oh juga terang-terangan menggandeng sang anak siluman.
Bagi mereka, semua itu aneh. Bagaimana bisa si anak terkutuk dikelilingi pria-pria tampan? Bagaimana bisa si anak siluman diperlakukan baik oleh para pria tampan yang dicap memiliki kepedulian yang minim? Aneh! Pasti Jongin menggunakan guna-guna! Jika tidak, tidak mungkin para pangeran tampan berbalik 180 derajat menjadi suka padanya!
Yah, mereka hanya tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Mereka hanya tidak tahu Kris adalah kakak Jongin beda ibu. Mereka juga tidak tahu bahwa Sehun adalah kekasih Jongin dikehidupan 350 tahun lalu. Mereka tidak tahu jika Lu Han adalah kakak kandung Sehun. Dan mereka tidak tahu jika Minseok adalah setengah dewa dan Lu Han menggendong Minseok saat bayi.
Mereka tidak tahu tentang itu semua dan Jongin tidak mengharapkan mereka untuk mengetahui semua itu. Karena dia tahu bahwa itu akan sia-sia. Manusia dengan segala logika tidak akan semudah itu percaya pada hal-hal di luar nalar. Dan Jongin menyadari jika semua yang terjadi tidak akan diterima apapun keadaannya. Jadi ia lebih memilih untuk membiarkannya. Biarkan para manusia tetap pada pemikiran yang menurut mereka masuk logika.
"Hei," Jongin terlonjak kaget dari lamunannya akibat Kris yang datang tiba-tiba dengan gebrakan meja.
"Ya! Kau mengagetkanku!" Jongin berdumel sambil mengelus dadanya. Sementara Kris nampak tertawa puas. Yang mengundang perhatian seisi kantin termasuk ibu kantin. Sial, jadi pusat perhatian lagi. Dumel Jongin dalam hati. Ia berjengit sambil melindungi kepalanya seolah akan ada seseorang yang melemparinya dengan gelas atau nampan makan siang mereka. Jongin hanya sedang menahan malu. Kris tertawanya out of character sekali.
PLOK!
Tapi tawa terbahak itu tidak berlangsung lama ketika seseorang melempar buah jeruk utuh dan menancap pada gigi Kris. Yang membuat tawa jahat Kris terbungkam dan mulutnya dipenuhi buah jeruk yang masih utuh. Sekarang giliran Jongin yang terbahak sambil menghardik kakaknya dengan 'rasakan! rasakan'. Karena demi Tuhan, dendamnya seperti terbalaskan dan keadaan menjadi berbalik.
"Pahit!" Kris menggerutu sambil membuang ludah setelah melepas jeruk di mulutnya. Demi apa, kulit jeruk kan pahit walau baunya enak!
"Sehun?" Rupanya sang pelaku pelemparan jeruk adalah sang dokter tampan yang digilai banyak orang. Sehun datang membawa satu nampan makan siang berisi menu yang lengkap. Mata Jongin berbinar-binar senang ketika Sehun menyodorkan nampan itu pada Jongin.
"Makanlah," Kata Sehun seraya duduk di samping Jongin.
Jongin jadi terharu melihat nampan yang disodorkan Sehun untuknya. Karena demi Tuhan, menu yang disuguhkan Sehun lebih baik daripada menu yang biasanya ia dapatkan. Selama bersekolah di Earthlings, Jongin selalu mendapat diskriminasi bahkan itu soal makanan. Ibu kantin tidak pernah mau memberikan menu yang lengkap pada nampan makannya. Ia selalu hanya mendapat nasi sedikit dan satu macam sayur serta susu kotak. Tidak ada lauk. Setiap Jongin meminta daging, ibu kantin tak pernah mau memberikannya. Padahal, uang yang dibayar Jongin setara dengan murid lain.
Walau tidak adil, tapi Jongin tidak memprotesnya. Ia menerima seadanya yang ia dapat. Toh juga akan percuma jikapun argumen yang ia lontarkan adalah benar. Karena mereka yang menaruh benci tidak akan mau tahu dan tidak mau tahu. Sudah dikatakan bahwa Jongin tidak suka hal-hal meropatkan seperti beradu argumen, walau dia bisa saja menang, tapi buat apa jika itu sama sekali tidak dianggap? Jadi, biarlah! Jongin tidak mau memusingkannya.
Dan untuk masalah mereka yang menjadi pusat perhatian para penghuni kantin, Jongin tahu mereka menatap aneh dan tidak suka padanya. Bahkan mungkin ada yang menyumpah serapah dalam hati karena saat ini ia berada di antara dua pangeran sekolah yang mereka puja. Sekali lagi Jongin memilih mengabaikannya. Karena, tidak mungkin Jongin menyuruh Sehun dan Kris untuk menjauhinya di sekolah. Toh juga bukan kemauannya jika dua pangeran ini memperlakukannya begini. Lagipula, ia juga tidak ingin berpura-pura memainkan sandiwara dengan memusuhi dua pria yang menyandang status sebagai kakak dan kekasihnya ini hanya demi membuat mereka senang dan memperbaiki kebencian menjadi respect. Untuk apa menyenangkan hati yang sudah menghardiknya dengan berbagai kata kotor? Untuk apa ia peduli pada pandangan mereka?
Kali ini saja biarkan dia egois. Biarkan dia mengikat pria-pria tampan ini agar selalu disisinya. Biarkan dia menjadi tuli atas semua umpatan. Biarkan dia senang walau hanya beberapa yang berada dipihaknya. Dan biarkan dia sombong karena dapat mencuri perhatian dari pria-pria tampan yang tak bisa mereka jangkau. Dia boleh berbangga diri karena bisa memiliki apa yang tak bisa mereka miliki kan?
Lu Han datang bersama Minseok sambil membawa nampan masing-masing. Ikut nimbrung meja mereka. Dan entah sejak kapan mereka jadi terlihat seperti geng sekarang. Hahaha...
"Kudengar kau ditolak oleh semua club," Minseok membuka pembicaraan. "Jadi bagaimana?"
"Iya, aku jadi bingung," Kata Jongin sambil menyuapkan sup dalam mulutnya. Ia membiarkan jari-jari Sehun yang bermain pada helaian rambut pada puncak kepalanya. Sehun memang suka melakukan itu seperti orang yang memiliki fetish. Jadi bagi Jongin itu sudah biasa, dia malah suka dengan apapun yang kekasihnya lakukan. Kadang Sehun memeluk pinggang atau merangkul bahunya atau mencubiti pipi gembilnya kecil-kecil. Menurut Jongin itu lucu.
"Kenapa kau tidak masuk ke club basket? Aku kan ketuanya, jadi sudah pasti aku akan menerimamu," Kris nyeletuk. "Jika para anggota tidak menyukaimu, aku akan memaksa mereka!"
"Tapi aku tidak bisa main basket," Jawab Jongin jujur.
"Kau kan punya dua hyung yang ahli dalam bermain basket. Jadi kenapa kau bingung?" Lu Han menyahut.
"Dua hyung?" Jongin membeo dengan dahi mengernyit tanda ia tak mengerti. Dia kan hanya punya Kris sebagai kakaknya disini.
"Loh, kau tidak menganggap aku sebagai kakakmu juga?" Lalu Lu Han mengubah ekspresinya menjadi sedih yang dibuat-buat. "Ah, hatiku jadi sakit," Dan memegang dadanya seolah patah hati. Membuat yang lain terkekeh geli karena tingkah tidak jelas Lu Han.
"Kau punya 3 hyung dan satu pacar yang dapat diandalkan, baby," Sehun menyahut seraya mencubit pipi Jongin gemas. Mengundang tawa bahagia Jongin yang secerah sinar matahari.
"4 hyung dan satu pacar," Jongin nyeletuk ditengah tawa bahagianya. "Jangan lupakan Sello. Dia sudah berdumel di dalam pikiranku karena tidak dianggap,"
Lalu mereka tertawa karena melupakan siluman yang tersegel dalam tubuh Jongin.
Apakah Jongin boleh egois juga dalam hal ini? Ia boleh egois untuk bahagia bersama mereka. Jongin sungguh menyayangi mereka dari lubuk hati yang terdalam. Ia berdoa agar mereka tetap seperti ini nantinya. Dan ia dapat mempercayai mereka. Semoga tidak ada perpecahan diantara mereka.
Yah, semoga saja tidak.
Benar? Iya kan?
Lalu, makhluk apa yang muncul dari langit diatas Earthlings? Bentuknya seperti laba-laba dan sangat besar. Apakah seseorang yang berada di samping makhluk itu adalah Tao alias Chrysaor?
Sepertinya, pertarungan akan segera dimulai kembali setelah beberapa minggu siluman tidak muncul untuk menyerang. Huang Zitao kembali muncul. Ia membawa seekor siluman laba-laba di depan para manusia yang tabu akan hal tak masuk akal. Siluman yang berbeda dari yang pernah muncul untuk menyerang.
Maka, reaksi seperti apa selanjutnya?
.
.
.
Ampuni aku kalau kalian merasa 'ewh' dengan chapter ini TT
Sekali lagi aku cuma nulis yang ada di otak aku.
Chapter depan, kemungkinan Tao muncul dan nyerang terang-terangan di hadapan para manusia dengan Earthlings yang jadi latar. So, apa yang harus aku lakukan dengan para manusia itu yak? Adakah saran? Karena otomatis mereka bakal liat siluman!
Sedikit spoiler, laba-laba yang dibawa tao itu bukan siluman biasa. Tao udah mempersiapkan sesuatu. Wkwkwk...
And maybe, aku bikin penghianatan kecil dari Kris ata Minseok. Siapa yang lebih cocok jadi penghianat dalam geng pahlawan ini? Wkwk... Sehun sama Lu Han jelas gak jadi kandidat. Maybe Kris atau Minseok? Wkwk...
Oh iya, HAPPY BIRTHDAY BUAT SEMENYA JONGIN a.k.a Oh Sehun. Hehehe... Langgeng sama kakak aku ya. Semoga makin sayang sama Jongin. Amin! (Ini Sehun yang ultah kenapa doanya buat Jongin yak?) wkwk.. #HappySehunDay
Oke bye!
Regards,
Winter AL Yuurama
