FANFICTION

MY LOVE, MY STEPMOTHER

CAST:

KIM JAEJOONG

JUNG YUNHO

SHIM CHANGMIN

VICTORIA SONG

RATE M/TYPOS/GS

DLDR!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

CHAP 11

.

.

.

.

"Changmin ah…"

"Ya sayang?" changmin menatap wajah bingung jaejoong.

"Kau yakin kita akan pulang bersama? Maksud ku. Aku….. aku belum siap bertemu dengan yunho oppa."

"Percaya padaku sayang. Kita hanya perlu berakting sebentar dan semua akan selesai."

"Tapi chang….." ucapan jaejoong terpotong karena kecupan manis changmin pada bibirnya.

"Percaya pada ku saja. Arraseo?" changmin menangkup pipi jaejoong jaejoong yang memerah. Neomu kyeopta~

"….." jaejoong hanya menganggukkan kepalanya menandakan dia menyetujui rencana changmin.

"kajja… kita harus membelikan perlengkapan untuk chaerin bertemu dengan appa." Changmin menggenggam tangan mungil jaejoong yang terasa sangat pas didalam genggamannya.

'aku tahu ini salah Tuhan. Tapi kumohon jangan pisahkan kami.' Doa jaejoong dalam hati.

.

.

.

.

Sudah hampir dua minggu changmin menginap di jeju, saat nya kembali ke seoul dan memboyong jaejoong serta chaerin untuk pulang kemana semestinya mereka berada. Dengan berat hati jaejoong berpamitan kepada nenek pemilik penginapan ini. Changmin pun tidak lupa untuk memberikan sedikit ucapan terima kasih berupa uang dan beberapa barang untuk kenang – kenangan dari dari jaejoong.

"Aku sudah menganggap jaejoong seperti anak ku sendiri tuan jung. Anda tidak perlu repot seperti ini." Sang nenek menolak amplop dan barang yang changmin berikan.

"Aniyo halmonie, jaejoong kabur dari rumah dengan membawa anak kami. Itu kesalahan terbesar yang pernah ku perbuat. Anggaplah ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau menerima dan merawat orang asing ditempat anda."

"dasar anak muda pemaksa. Aku doakan agar kalian terus bersama dan kembali lah kemari dengan membawa chaerin beserta adiknya." Sang nenek pun akhirnya harus menerima pemberian dari changmin.

"halmonie yang keras kepala saja bisa kau lobby begitu baik min."

"Itulah salah satu kehebatan ku sayang. Kau yang jual mahal pun bisa aku dapatkan. Yah dengan sangat amat susah. Bernegoisasi dengan mu membuat ku harus memutar otak agar kau jatuh kepelukan ku." Changmin mendekap tubuh jaejoong sambil mengecup rambut halusnya.

"permisi tuan, mobil yang akan mengantarkan anda ke bandara sudah siap. Barang – barang anda pun sudah masuk ke bagasi. Ada lagi yang anda perlukan?" supir taxi yang akan mengantarkan changmin dan jaejoong sudah menghampiri mereka.

"Baiklah halmonie ini saatnya kami pamit. Kami berjanji akan kembali kesini dengan membawa adik chaerin." Changmin berbicara sambil menggoda jaejoong

"Yaa! Chaerin saja belum berumur satu tahun, kau sudah minta anak lagi. Dasar pervert!" jaejoong mempoutkan bibir mungilnya. Mereka benar – benar seperti pasangan suami istri yang saling mencintai. Ya, saling mencintai memang benar, tetapi suami istri? Suami istri orang mungkin.

"Sudah sana cepat kalian pergi. Nanti kalian bisa tertinggal pesawat."

"baiklah halmonie. Jaga kesehatan halmonie. Gomawo buat selama ini. Aku akan selalu mengingat kebaikan halmonie." Jaejoong melepaskan diri dari dekapan changmin kemudian memeluk tubuh ringkih halmonie yang sudah menjaga nya hampir 6 bulan belakang ini. Jaejoong menangis sambil memeluk halmonie baik hati ini.

"Ne, jaejoongie..." halmonie pun tidak kuasa untuk menahan laju air matanya.

"Kajja sayang. Dimana chaerin?" changmin baru sadar jika chaerin tidak bersama mereka.

"chaerin disini tuan." Salah satu pelayan menggendong chaerin dan memberikannya pada changmin.

"Nona harus sering – sering bermain kesini ne. kami pasti akan merindukan mu dan chaerin."

"aku pasti akan bermain lagi kesini." Tanpa ragu jaejoong memeluk pelayan yang sebenarnya sudah dianggap jaejoong seperti adiknya sendiri.

"Kajja jae. Kami permisi. Jaga kesehatan kalian. Kami pasti akan kembali kemari untuk berlibur." Changmin menggandeng tangan jaejoong. Changmin tahu bahwa berat bagi jaejoong untuk meninggalkan tempat ini. Tapi jaejoong pun harus kembali mau tidak mau.

Changmin akhirnya berhasil menuntun jaejoong untuk masuk kedalam taxi. Digenggamnya erat tangan jaejoong. Changmin sangat tahu bagaimana perasaan jaejoong saat ini. Bukan hanya berat untuk meninggalkan tempat selama ini dia menenangkan diri namun jaejoong pasti gugup dan gelisah karena harus kembali ke Mansion jung dan bertemu yunho. Changmin berjanji untuk selalu berada disamping jaejoong.

"Saranghae Jung Jaejoong." Changmin mengecup lembut telapak tangan jaejoong. Tidak banyak yang bisa dilakukan changmin untuk menghilangkan kegugupan dan ketakutan jaejoong. Hanya dengan kecupan sayang, pelukan mesra dan kata cinta lah yang bisa changmin lakukan saat ini agar jaejoong sedikit tenang.

"Aku lebih mencintai mu jung changmin" jaejoong berusaha untuk tetap tersenyum walaupun hatinya gundah gulana.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah hampir tiga jam berada didalam pesawat, mereka kini sudah tiba dibandara Incheon. Dengan penuh cinta changmin merangkul bahu jaejoong dengan tangan kirinya yang menyeret koper jaejoong dan tas ranselnya.

"kau lelah sayang?" changmin bertanya kepada jaejoong setelah melihat wajah jaejoong yang sedikit memucat.

"Aniya, aku hanya gugup. Aku benar – benar takut changmin ah. Aku takut yunho oppa..."

"Shhhh... diamlah sayang. Kalau kau memang belum siap, kau bisa tinggal di apartment ku dulu. Baru setelah itu..."

"Aniya! Aku tidak ingin kembali ke apartment mu lagi. Tidak!" jawab jaejoog tegas. Rupanya jaejoong sedikit trauma kembali ke apartment changmin. Dia takut kejadian dulu terulang lagi. Ketika changmin meninggalkannya sendiri seperti pelacur.

"Arraseo. Kajja, kita cari apartment baru untuk sementara. Atau kau ingin aku membeli rumah sederhana..."

"Aniya, menyewa apartment saja. Tapi aku ingin yang sederhana. Jangan yang mewah."

"Jae tapi..."

"Turuti permintaan ku atau lebih baik aku kembali ke jeju lagi." Ancam jaejoong

"Ne ne ne! kau menang Jung Jaejoong. Kajja! Kau dan chaerin harus istirahat. Tiga jam di pesawat seperti nya membuat dirimu menjadi galak sekali. Apa jangan – jangan kau hamil lagi sayang?"

"Shikeuro!"

"Arra arra. Kajja..." buru – buru changmin memotong perkataan jaejoong. Sebisa mungkin tidak membuat jaejoong marah. Jaejoong mau ikut kembali ke seoul saja harusnya changmin bersyukur.

Mereka berjalan seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia. Tidak tahu saja bahwa status mereka merupakan anak dan ibu tiri. Untung saja changmin memakai snapback dan sunglasses hitam. Sedikit menyamarkan siapa dirinya. Jaejoong punya terlihat berbeda dengan penampilan baru nya. Mereka benar – benar terlihat seperti pasangan muda MBA mungkin. Karena gaya mereka terlalu anak muda sekali.

Sesampainya didalam taxi, changmin buru – buru untuk mencari agen properti agar mereka segera mendapatkan apartment yang sederhana versi jaejoong, tapi entahlah jika sederhana versi changmin, apartment itu akan seperti apa. We'll see...

.

.

.

.

.

.

Perjalanan hampir satu jam agar bisa sampai di apartment yang dicari changmin melalui agen properti kenalannya. Dan ini lah apartment sederhana versi changmin. Taxi mereka berhenti dikawasan samsung do dan dihadapan mereka kini berdiri sebuah apartment mewah atau apartment sederhana versi changmin.

"Jung Changmin. Kenapa kita kesini eoh? Aku bilang kan apartment yang sederhana, bukan yang mewah seperti ini. Aish jinjja!" lagi – lagi jaejoong menggerutu. Mungkin benar dugaan changmin bahwa jaejoong sedang hamil lagi. Kkkkkkk~

"Ani. Ada beberapa lantai yang apartmentnya standart. Seperti kamar hotel yang murah."

"tapi sama saja. Semurah murahnya kamar hotel bintang lima, tetap saja mahal. Apalagi ini sebuah apartment."

"Chu~ kau terlalu banyak bicara hari ini. Aku tahu kau gugup dan gelisah. Tapi jangan seperti ini. Kau terus marah dan protes. Kau ini seorang Jung sekarang, jadi nikmatilah."

"Changmin ah..."

"Diam dan ikuti saja aku. Jika kau masih protes lagi. Akan ku telanjangi kau di Lobby. Arraseo?" kini changmin berbicara dengan wajah yang serius. Dan mau tidak mau jaejoong hanya bisa menganggukkan kepala nya tanda ia menyetujui perkataan changmin.

.

.

.

.

Dengan langkah pasti changmin berjalan menggandeng jaejoong menuju lobby untuk bertemu dengan manager apartment ini.

"Annyeonghaseyo Tuan Jung Changmin. Selamat datang di Apartment kami. Mari saya tunjukan apartment yang tadi anda minta melalui agen kami Tuan Kim." Sang manager menyapa changmin dengan ramah. Siapa yang tidak kenal dengan Changmin, pewaris tunggal tahta kerajaan bisnis Keluarga Jung.

"Ne. tolong bawa kami ke unit itu. Karena yeoja ini dan anak nya harus segera beristirahat. Semuanya sudah tersedia dan lengkap kan?"

"Ne tuan. Semua sudah ada. Nyonya ini dan anaknya bisa langsung menempati nya. Dan untuk koper anda, biar nanti Bell Boy kami yang akan membawakannya. Mari silahkan ikuti saya."

Manager apartment pun berjalan mendahului changmin dan jaejoong menuju lift. Changmin tetap saja menggandeng tangan jaejoong walaupun jaejoong ingin melepaskan genggaman changmin. Jaejoong hanya tidak ingin ada orang yang melihat. Orang lain tahu nya status mereka adalah Ibu dan anak tiri.

"jangan pernah berpikir apalagi mencoba untuk melepaskan tangan mu dari genggaman ku, jae!" changmin berbisik ditelinga jaejoong. Lagi – lagi jaejoong hanya mengangguk pasrah.

Mereka pun memasuki lift dan sang manager menekan tombol 7 pada panel lift.

.

.

.

.

.

.

"Otte? Cukup nyaman kah?" kini mereka saling berpelukan diatas tempat tidur, dengan chaerin yang sudah tidur dengan nyenyak di Box bayi nya. Rupanya manager tersebut benar – benar sudah menyiapkan apartment ini dengan sangat baik dalam waktu satu jam.

"Humm... cukup nyaman. Aku bahkan kaget ketika ada box untuk chaerin disini. Gomawo changmin ah~" jaejoong memeluk tubuh hangat milik changmin begitu erat. Jaejoong takut jika besok ketika dia terbangun, tidak ada changmin disisinya.

"Aku yang harusnya berterima kasih sayang." Dikecupnya kening jaejoong dengan sayang.

"Tidurlah sejenak, masih ada waktu sekitar empat jam sebelum waktu makan malam. Saat akan makan malam, aku akan membangunkan mu hm.." changmin mengusap rambut jaejoong lembut.

"kau juga harus istriharat. Berbaringlah sejenak." Jaejoong mendongakkan kepalanya menatap changmin.

"Arraseo. Chu~" lagi – lagi changmin menunjukkan rasa cintanya lewat kecupan lembut dibibir merah jaejoong. Tersenyum... jaejoong hanya bisa tersenyum. Banyak kebahagiaan yang jaejoong dapat dari changmin. Bersama changmin, jaejoong bisa bersikap biasa tanpa harus merasa canggung ketika bersama yunho. Mungkin karena yunho adalah mantan atasannya dulu, jadi rasa canggung itu masih ada. Apalagi ketika banyak gosip yang beredar bahwa dia menikahi Jung Yunho hanya karena mengejar Harta. Banyak yang bilang juga bahwa jaejoong lah yang membuka lebar paha nya untuk yunho.

Akan tetapi apa yang akan masyarakat katakan lagi jika mereka tahu jaejoong kini tidur dalam pelukan Anak dari Yunho? Pasti akan lebih menyakitkan lagi gunjingan yang akan beredar. Tapi biarlah, sebelum semua nya itu terjadi. Biarkan mereka berbagi pelukan dan ciuman selama mereka masih bisa. Karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi besok atau bahkan beberapa jam berikut nya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Selamat Pagi Tuan Jung. Pagi ini Tuan Muda changmin terlihat baru saja mendarat di Bandara Kedatangan Domestik. Tuan muda tiba bersama dengan wanita dan bayi dalam gendongan wanita itu" seseorang dengan pakaian serba hitam duduk didalam mobil yang menepi di pinggir jalan.

"Benarkah? Ini mungkin jaejoong dan anak kami." Sahut orang yang ditelepon.

"Mianhamida Tuan, tapi tuan wajah wanita itu berbeda dari foto istri anda Tuan."

"Benarkah? Siapa wanita asing itu? Apakah ini alasan mengapa changmin sering berpergian? Karena wanita itu? Tapi mana mungkin….. lebih baik kau terus ikuti changmin. Sekarang dia ada dimana?" orang yang sedari tadi panggil tuan Jung tidak lain adalah Jung Yunho. Dia terus bertanya pada sang detektif yang disewanya untuk mencari changmin sekaligus jaejoong.

"Jeongmal Mianhanda. Saya kehilangan jejak tuan muda. Karena tadi terjadi kemacetan sehingga saya tertinggal jejak tuan muda."

"Mworago? Kau bisa kehilangan jejak mereka?" yunho menaikkan nada bicaranya.

"Mianhamida Tuan Jung." Sang detektif berbicara dengan nada bersalah.

"Arra arra. Gwaenchana, biarkan saja untuk hari ini. Kau harus segera melacak keberadaan mereka besok." Ucap yunho final

"Ne Tuan. Saya akan berusaha lagi melacak Tuan muda."

"Baiklah." Yunho langsung mematikan sambungan teleponnya.

'Siapa wanita dan anak itu, changmin ah? Jika bukan jaejoong, lalu siapa?' ucap yunho dalam hati sambil memandangi foto pernikahan changmin yang dia pajang di meja kerjanya berdampingan dengan foto pernikahannya dengan jaejoong.

.

.

.

.

.

.

.

Untuk menghilanghkan rasa penasarannya Yunho pun menekan angka dua pada layar ponselnya untuk menghubungi changmin.

Tuttt... tuttt... nada sambung terdengar dua kali baru terdengar suara changmin.

"Yeobseo appa?" changmin menjawab telepon dari yunho.

"Kau dimana Changmin ah? Sudah hampir sebulan kau tidak pulang ke Rumah."

"Waeyo? Appa merindukan ku eoh? Haha..."

"Aish anak nakal ini, sudah sebulan kau tidak pulang tentu saja appa merindukan dirimu."

"Mianhe appa. Aku kan juga punya bisnis di Luar Negeri. Aku juga setiap hari menghubungi Victoria kok. Hanya aku tidak mau mengganggu appa. Karena aku tahu, appa pasti sibuk." Gerutu changmin pada yunho.

"Aigoo... anak appa ngambek eoh? Ya, memang akhir – akhir ini appa sangat sbuk. Semua pikiran appa terpecah."

"Aku sekalian menjemput teman ku dari luar negeri. Dia ingin mencari suaminya di Korea."

"Teman mu yang mana? Teman wanita?" yunho mulai mencecar changmin.

"Ne Teman wanita. Tenang saja, kami tidak lebih dari teman appa."

"Syukurlah. Cepat pulang lah. Appa rasa, victoria pun pasti sangat merindukan mu Min."

"Arraseo appa, nanti aku akan pulang."

"Baiklah. Ajak saja sekalian Victoria untuk makan malam diluar malam ini." Usul yunho.

"Ne appa. Nanti aku akan menghubungi Victoria. Baiklah, appa tutup teleponnya ne. Annyeong~" Telepon pun langsung terputus.

.

.

.

.

Changmin memainkan ponselnya sambil menatap jaejoong yang tertidur.

Aniyo, dia tidak akan meninggalkan jaejoong. Dia ingin berada disisi jaejoong saat ia terbangun nanti. Bisa saja kan kejadian seperti dulu terulang lagi ketika jaejoong pergi meninggalkan dirinya.

Changmin pun kemudian menonaktikan ponselnya dan dimasukkan poselnya itu ke dalam tasnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya disamping jaejoong dan memeluk tubuh jaejoong erat.

"Saranghae Jaejoong ah~" sebelum terlelap, changmin membisikkan kata cinta pada jaejoong.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#Jung's Mansion at Night

"Annyeonghaseyo Aboji" sapa victoria ketika melihat yunho duduk sendirian di Meja makan.

"Eoh? Vict? Kenapa kau disini?" tanya yunho bingung

"? maksud aboji apa? aboji tidak senang aku disini?" victoria mendudukkan dirinya disebelah kanan yunho.

"Eoh? Ani. Bukan itu Vict. Biasanya kau yang memasak makan malam untuk aboji. Dan hari ini tidak biasanya kau tidak membuatkan makanan. Aboji kira, kau pergi makan malam dengan teman- teman mu."

"Ah, seperti itu. Aku kira, aboji sudah bosan melihat ku dirumah ini." Kekeh victoria menimpali pernyatan yunho

"Aniyo. Mana mungkin aboji bosan ditemani menantu cantik seperti dirimu."

" Ah aboji, apakah aboji sudah mendapat kabar tentang jaejoongie eomma?"

"Belum vict. Orang - orang yang aboji suruh belum menemukan jejak jaejoong. Anak kami pasti sudah lahir. Dan aboji tidak tahu mereka sekarang berada dimana."

"apakah jaejoongie eomma memakai nama samaran? Biasanya seperti yang difilm - film, orang yang kabur memakai nama samara." Victoria mengutarakan pemikirannya.

"nama samaran?" Yunho mengeritkan dahinya.

"Ne aboji. Mungkin jaejoongie eomma memakai nama kecilnya atau nama saudaranya. Atau bahkan nama calon anak kalian." Yunho terlihat berpikir mendengar perkataan Victoria tersebut.

"Mungkin saja Vict. Akan tetapi, kami waktu itu belum menentukan siapa nama anak kami. Ahh, aboji merasa sangat bodoh sekali." Yunho menunduk mengaduk makanannya. Penyesalan dan kekecewaan campur aduk Ia rasakan kini.

"Gwaenchana aboji. Kita bisa mencari mereka bersama - sama. Aku akan meminta seluruh teman - teman ku untuk membantu. Baik yang diberada seoul, luar kota bahkan luar negeri sekalipun."

"Aniyo, jaejoong tidak mungkin ke luar negeri karena passport nya masih ada di lemari dan aboji sudah mengecek data penumpang di penerbangan domestik tidak ada yang bernama jaejoong."

Victoria hanya diam mendengarkan curahan hati sang aboji yang gundah gulana dan kesepian. Sama seperti dirinya yang sudah hampir sebulan ini ditinggal changmin pergi ke luar negeri dan dia hanya mengabari dua hari sekali saja.

"Aboji, apakah changmin menghubungi mu? Karena sudah hampir seminggu ini tidak ada kabar dari nya. Sebegitu sibuk kah dia di Eropa sana? Apakah perusahaan sedang dalam masa krisis?" Tanya victoria begitu penasaran.

"Changmin? Aniyo, dia juga tidak menghubungi aboji. Perusahaan Aboji sedang tidak dalam masa krisis, Perusahaan changmin pun sepertinya baik - baik saja. Mungkin changmin sedang melebarkan perusahaan nya di Eropa. Sehingga dia harus berkeliling Inggris dan Eropa."

"Tapi kan aboji….." ucapan Victoria terputus ketika ponselnya berdering. Dan ternyata changmin yang menelpon.

"Yeobseo Vicky ah. Kau sedang apa eoh?"

"Omo, ini benarkah diri mu yang menelepon changmin ah? Aku sedang menemani aboji makan, aku baru pulang dari butik. Bogoshippoyo yeobo ah~" Victoria mendayukan suaranya. Dia sangat senang sekali akhirnya changmin menelepon.

"Hehe nado bogoshippo. Vicky ah, bisa berikan ponsel mu ke appa? Ada yang ingin ku tanyakan. Karena saat aku menghubunginya tadi, tidak diangkat." Jelas changmin

Victoria langsung memberikan ponselnya pada yunho. Dan yunho menerimanya walaupun dengan raut wajah yang bingung.

"Waeyo changmin ah?"

"Appa, jebal jangan bilang pada Victoria bahwa aku sudah ada di korea. Aku masih ada urusan disini untuk memberikan informasi pada detektif yang akan membantu teman ku. Besok aku akan pulang dan memberikan kejutan untuk Victoria."

"Jinjja? Arraseo, jika menurut mu itu baik, ya lakukan saja. Baik – baiklah disana. Hum, annyeong." Yunho kemudian mengembalikan ponsel tersebut pada Victoria

"Apa yang changmin tanyakan pada aboji?" Tanya Victoria penasaran.

"Aniyo bukan apa – apa vict, changmin hanya minta pendapat dari aboji."

"Tapi kenapa singkat sekali bicaranya?"

"Aboji ingin sekali kali ngambek pada anak nakal itu, karena pergi terlalu lama."

"Hahaha…. Aigoo, aboji ini ada – ada saja. Baiklah, aku akan naik ke kamar dulu ne. selamat malam aboji."

"Baiklah selamat malam." Yunho tersenyum. Victoria berdiri dari kursi nya dan berjalan menuju kamarnya

'changmin ah apa yang kau lakukan eoh? Apa benar dia hanya teman mu? Apa dia selingkuhanmu dan anak kalian?' batin yunho berbicara

.

.

.

.

.

.

.

Setelah menelepon Victoria, Changmin kemudian masuk kedalam kamar dan menghampiri jaejoong yang sedang duduk dipinggir kasur sambil menyusui chaerin. Changmin tersenyum begitu tulus melihat jaejoong.

"Sayang?"

"Hm? Waeyo? Ah kau ingin makan apa eoh? Aku sudah melihat kulkas dan cukup lengkap bahan – bahannya." Tanya jaejoong

"Aku ingin memakan mu saja boleh kah?" changmin menggoda jaejoong.

"Yaa kau ini mesum sekali sih. Nanti chaerin dengar."

"Aniyo, chaerin sedang asik menyedot puting mu. Jadi dia akan focus meminum asi mu saja."

"Aish mulut mu itu benar – benar ya..." gerutu jaejoong

"Kenapa dengan mulut ku ini? Mulut ku ini bisa memuaskan mu sayang. Kau bisa buktikan sendiri." Changmin menaik turunkan alisnya genit.

"Yaa jung changmin aishh..." pipi jaejoong merona mendengar perkataan vulgar changmin.

"Sayang, besok aku harus pulang ke rumah appa." Changmin memeluk tubuh jaejoong erat.

"Gwaenchana, memang seharusnya kau pulang changmin ah." Suara jaejoong terdengar serak

"sayang, jebal jangan menangis eoh? Aku berjanji malam harinya aku akan kembali lagi dan..."

"Geumanhae... nan gwaenchana changmin ah. Pulang saja dan pikirkan Victoria. Dia kan istri mu, aku sangat jahat jika menahan mu disini." Jaejoong berusaha untuk menahan air matanya dan menatap changmin.

"Sayang..." didekapnya kepala jaejoong ke dalam dadanya.

"hiks... hiks.. aku hanya lah ibu tiri mu yang terlalu berharap banyak pada mu. Aku wanita yang... eumphhh..." perkataan jaejoong terhenti ketika changmin langsung mencium bibirnya rakus.

Eumphh... mphhh... eunggg...

Changmin memakan bibir jaejoong. Dia tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat jaejoong. Jaejoong pasti akan merendahkan dirinya lagi. Aniya, changmin tidak mau jaejoong menyalahkan dirinya lagi.

Hampir sepuluh menit changmin menghisap bibir jaejoong.

"berhenti menyalahkan diri mu sayang. Disini tidak ada yang salah. Baiklah, aku tidak akan pulang. Aku akan terus menemani mu disini. Dan aku tidak menerima bantahan Jung Jaejoong!"

"Gomawo changmin ah..." jaejoong membalas pelukan changmin.

Chup chup.. chup.. chup.. chupp... changmin mengecupi seluruh wajah jaejoong hingga ke lehernya.

"aku sangat merindukan mu sayang." Changmin masih terus mengecupi bahkan menggigit leher jaejoong.

"eungg... tunggu hingga chaerin tertidurhh..." jaejoong akhirnya mendesah.

"Dia sudah tidur sayang." Changmin melirik chaerin yang sudah memejamkan matanya. Tangan changmin pun sudah meremas – remas dada jaejoong yang tidak dihisap oleh chaerin.

"Berhenti changmin ah. Aku harus meletakkan chaerin di box nya terlebih dahulu."

Changmin langsung melepaskan jaejoong. Jaejoong pun langsung berdiri dan membawa chaerin ke dalam box nya dan tidak lupa mengecup kening chaerin. Changmin melihat jaejoong penuh dengan senyum tulus. Dia akan terus mempertahankan kebahagian jaejoong dan chaerin apa pun halangannya. Sekali pun dia harus bertentangan dengan ayahnya sendiri.

'Apapun untuk mu jae. Semua akan ku lakukan.' Ucap changmin dalam hati.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Sudah lama banget ya kan? Hehehe...

Cuma bisa begini aja. Maaf kalau ada typo atau makin gak nyambung.

See you next chapter. Keep Read and Review Juseyo.

Gomawo, Annyeong~~

-XOXO-

.

.

.

.

.

Nb: kalau ada yang mau sharing bisa ke BBM aku aja ya 59F7CE75.

Yang mau sharing aja loh, kalau yang mau ngebash atau macem – macem mending gak usah nyampah. Okay~~~