Naruto © Masashi Kishimoto

Story © KawaiiHanabi

It Started With A Kiss

Sasuke X Sakura

.

.

.

.

.

"Kau benar..." ujarnya. Sakura menggenggam ponselnya lebih kuat seakan ingin menghancurkannya.

"Kami memang tak memiliki hubungan. Naruto, Hinata-chan maaf sudah membohongi kalian semua tentang hubungan ini. Tapi satu hal yang perlu kalian tahu." Emeraldnya memandang Sasuke sungguh-sungguh. Ia tersenyum getir. "...perasaanku bukan sebuah kebohongan. "

Trak

Ponsel yang sedari tadi Sakura genggam terjatuh tepat disamping Sasuke saat ia selesai bicara dan bergegas keluar cafe tadi.

"Sepertinya ucapanku itu memang benar ya?"

Sasuke memungut ponsel itu, terpampang jelas foto dirinya yang menjadi latar ponsel milik Sakura. Ia ingat betul dimana itu. Itu saat dirinya tengah membaca buku diperpustakaan, dan Sakura memotretnya diam-diam.

"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Naruto pada Sasuke. Neji sepertinya berusaha menyusul Sakura yabg sudah lari keluar cafe tanpa menghiraukan keadaan absurd disana.

"Bisa kau jelaskan Uchiha Sasuke!" Seru Naruto dengan nada lantang yang membuat beberapa pengunjung kafe menatap mereka penasaran.

Sasuke masih menggenggam ponsel yang terjatuh tadi. Pikirannya kacau sekarang.

"Bukankah sudah jelas? Sasuke-kun masih mencintaiku. Dia hanya bermain-main dengan Haruno-san. " Saara kembali membuka suara, Naruto geram hendak membalas perkataan Saara namun.

"Cukup.." Sasuke berujar sambil menahan amarahnya yang sudah dipuncak. "Berhenti mencampuri urusanku lagi! " bentaknya.

Sasuke memilih keluar kafe meninggalkan Saara yang masih syok dengan ucapannya barusan dan Naruto yang sedari tadi memandangnya tajam.

.

.

.

.

.

Diluar kafe, sesekali onyx hitam milik Sasuke mencari gadisnya. Namun hasilnya nihil. Sakura sudah tidak ada. Segera ia masuk kemobil dan duduk dibangku kemudi. Ia menstarter mobilnya membelah jalanan kota yang belum cukup ramai ini.

Gadis bersurai merah muda itu memandang kosong jalanan kota. Tak lama kemudian setetes air turun dari matanya yang cantik.

"..." Neji menyodorkan selembar tisu kering pada Sakura. Gadis itu tak mengiraukannya dan masih menatap jalanan dengan pandangan kosong.

Saat Sakura berlari keluar kafe tadi Neji berhasil menyusulnya dan menculiknya ke mobil mendahului Sasuke. Awalnya Sakura menolak tapi karena Neji memaksa Sakura akhirnya mau ikut dengannya. Namun sampai detik ini gadis itu belum membuka suaranya. Ia bahkan lupa jika ponselnya terjaduh dan kini ada pada keka- maksudku pada Uchiha Sasuke.

Ckittt~

Neji memberhentikan mobil miliknya dan menatap Sakura lembut. "Hey? Kau bisa bercerita padaku. Aku kakakmu ingat?" Ujar Neji dengan nada yang sangat lembut. Hanya pada adik-adiknya ia berbicara seperti ini.

Sakura menoleh Iris Emeraladnya menatap Neji dengan mata berkaca-kaca. Air mata itu akan segera tumpah. "Neji Nii..." Ujar Sakura lirih.

"Apa...apa jatuh cinta semenyakitkan ini?" Tanyanya dengan nada bergetar. Neji prihatin melihatnya, sepertinya ia mengerti perasaan gadis yang baru jatuh cinta ohh~

"Kau boleh menceritakannya padaku, semua." Tutur Neji sembari mengusap surai merah muda Sakura sayang. -hanya imajinasiku apa disini Neji memang sangat lembut? Well karakter seseorang memang bisa berurah jika itu menyangkut suatu hal yang ia cintai.

Sakura mengangguk mengiyakan. Ia pun mulai menceritakan pertemuannya dengan Sasuke, hubungan absurd yang mereka jalani, munculnya Saara cinta pertama Sasuke, dan... ah tentu saja ia tidak menceritakan kalau mereka berdua bertemu dan menjalin hubungan aneh karena ciuman mendadak.

Neji mengangguk paham "Jadi apa yang akan kau lakukan Sakura?" Tanya Neji kemudian.

Sakura menggeleng dalam Neji. "Sasuke membenciku, ia menyukai orang lain. " Jawab Sakura lirih. Entah kenapa mendengarnya Neji merasa panas dan ingin melayangkan bogem ke wajah tampan Sasuke karena sudah seenaknya mempermainkan -orang yang ia anggap- adiknya. Dan Hey Sasuke kau dan mobilmu membelah jalanan mana? Harusnya kau yang sedang mendekap Sakura dan memperjelas hubungan kalian saat ini. Padahal sepertinya dichapter kemarin kau sudah menunjukan -meski sedikit- rasamu pada Sakura. Atau kami salah? Oke abaikan.

.

.

.

.

.

Kita kembali ke kafe tempat mereka bertemu tadi. Saara tengah berbenah dan mengambil tas jinjing miliknya dan pergi tanpa pamit pada Naruto yang jelas-jelas menatapnya tak suka.

"Mau kemana kau?" Ujarnya kasar. Hinata hanya diam disamping Naruto, ia sebenarnya ingin melerai tapi ia tak tahu permasalahan apa yang terjadi disini. Ia takut malah akan membuat masalahnya tambah kusut. Benar benar gadis yang baik.

"Pulang. " Saara membalas perkataan Naruto malas. Matanya memutar bosan. Hey kemana gadis maanis tadi? Rasanya setelah Sasuke pergi dia jadi agak berbeda maksudku lihatlah iyakan Naruto?.

"Kau mau pulang setelah mengakibatkan kekacauan disini?" Saara mendengus sebal. Cukup sudah ia mempermainkan peran bodoh itu.

" . ya. Aku pulang! Toh aku hanya mengungkap kebenaran." Ujarnya Santai.

"Kebenaran?" Tanya Naruto heran.

"Ya, mungkin kau bisa lihat nanti jika artikelnya muncul. " Saara berbalik setelah berucap meninggalkan Naruto dengan pikirannya sendiri dan Hinata yang masih bingung dengan pembicaraan ini.

"Artikel? Sebenarnya apa mau makhluk itu!" Naruto yang sedang frustasi memikirkannya. Semoga masalah ini tak melebar , tak semelebar yang ia pikirnya .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disinilah Sasuke, terdampar si depan apartemen milik Sasori -yang secara teknis rumah Sakura- dia masih menyender dibangku kemudi sambil sesekali melihat ponsel yang ada di genggamannya. Bibirnya membuat senyuman tipis saat melihat wallpaper ponsel canggih tersebut.

Tak lama kemudia sepasang onyx kelam miliknya memandang sebuah mobil sport putih yang menurunkan seorang gadis yang sama ia yakini adalah pemilik ponsel itu.

"Sakura..." Gumamnya.

Dilihatnya gadis itu tengah berpelukan dengan seorang pria, pelukan perpisahan . Meski jauh dapat melihat raut wajah Sakura yang melukiskan kesedihan. Cepat-cepat hadis itu masuk ke lobby apartemen tanpa menengok ke tempat dimana mobil Sasuke ada. Sasuke mendecih sebal. Heh kau cemburu Sasuke? Marah?

Namun ia sadar, pantas saja Sakura marah. Sedari tadi ah tidak sejak awal hubungan mereka retak pun Sasuke tak pernah memberikan penjelasan apa-apa. Ia bahkan tak pernah menceritakan siapa Saara dan kekasalahpahaman apa yang terjadi tempo hari. Benar-benar ingin ia memaki dirinya dan segera turun mengampiri Sakura. Namun sayang, ia masih kalah dengan ego yang setinggi langit itu.

Tangannya meraih ponsel yang tadi sempat diletakan di samping. Ia menimang-nimang ponsel itu sambil berpikir. Apa yang harus ia lakukan sekarang? . Kenapa perasaan ini membuatnya makin tak nyaman. Ditambah dengan kedatangan Neji disisi Sakura membuatnya semakin resah. Munculah pemikiran-pemikiran aneh diotak jeniusnya.

'Sakura tak membutuhkanku.'

'Hanya Neji yang bisa menghiburnya.'

Nah, Sasuke aku akan memberimu saran kenapa tidak kau selesaikan dulu masalahmu dengan Saara lalu kembali menjalin hubungan yang baik dengan Sakura? Jawabannya adalah tak semudah yang kukatakan tadi. Masalahnya dengan Saara sangat rumit. Seperti benang kusut mungkin. tapi kan Saara dulu menolak Sasuke kenapa sekarang ia muncul dengan karakter yang...seperti itu? Yap kalian benar, masalahnya selama menghilang dari keluarga Uchiha diam-diam Saara mengamatinya. Baik Itachi dan Sasuke. Karena melihat perbedaan Sasuke dari wktu kewaktu makin mirip dengan cinta pertamanya dulu membuat gadis bersurai merah itu tertarik dan memiliki ambisi untuk memiliki Sasuke. Sasuke tahu itu semua, ia tidak bodoh ia hanya malas mengurusi dari awal ia sudah tahu bahwa sampai kapanpun Saara tak pernah tulus mencintainya. Perkataannya tempo hari itu adalah sebuah kebohongan.

FLASHBACK.

Sasuke tengah tertidur dengan pose sexy-maksudku kemeja dengan 2 kancing atas yang terbuka. Dan kaki yang mengantung di tepi ranjang oh~ pangeran tampan kita ini tengah kelelahan. Mari kita abaikan itu kawan, lebih baik kini kita perhatikan Saara yang diam masuk tanpa permisi dan seenak jidatnya ia mengelus kepala Sasuke yang tengah tertidur.

Perlahan sentuhan itu beralih menyentuh setiap inci wajah Sasuke. Ia berhenti dan kembali mengelus rahang kokoh milik Sasuke itu. Merasa tak nyaman dielus seperti itu Sasuke bangun, mengerjapkan matanya mengumpulkan nyawa dan membenahi posisinya. Ia Menepis pelan tangan yang sedari tadi menyentuhnya dengan maksud sopan.

"Kau sudah bangun Sasuke?" Tanya Saara sembari tersenyum .

"Ada apa?" Sasuke terheran-heran dengan kedatangan Saara yang bisa dibilang tiba-tiba dan tanpa permisi.

Tangan halus miliknya meraih tangan Sasuke lalu menggenggamnya erat. "Bisakah kita mengulang waktu Sasuke? Kembali kemasa lalu?"

Kini Sasuke tak menepisnya membiarkan sejenak tangan hangat Saara yang mengenggamnya. "Apa maksudmu?"

Saara memeluk Sasuke, namun Sasule diam tak membalas, demi kamisama ia baru bangun tidur dan langsung disuguhi adegan drama seperti ini? Apa dia sedng bermimpi?

"Aku...aku mencintaimu Sasuke. Aku ingin bersamamu." Gumamnya kemudian.

Sasuke teraenyum kecut mendengarnya semudah itukah wanita ini menghempaskannya lalu kembali dengan cinta? Jangan bercanda! . Segera Sasuke menepis lengan yang sedari tadi menyentuhnya.

"Apa benar?" Tanyanya. Saara mengangguk mantap. "Ya benar , aku mencintaimu."

Perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya dengan Saara mengeliminasi jarak yang ada. Saara sempat memalingkan tatapannya dan Sasuke menangkap itu.

"Kau berbohong..." balas Sasuke. "Kau masih menyukai Itachi dan hanya menjadikan ku sebuah ambisi benar kan?" Tanya Sasuke yang sudah menjauhkan wajahnya dan kembali pada posisi normal .

"Aku tidak berbohong Sasuke! Aku mencintaimu sekarang! " Saara masih bersikukuh.

Sasuke terseyum sangat tipis , ia menundukan kepalanya. "Tatapanmu tak sepertinya. Kau tak mencintaiku."

Saara mulai naik pitam ia ping benci jika harus disamakan dengan orang lain. "Jangan samakan aku dengan orang lain! Jangan samakan aku dengan kekasih palsumu itu! "

Sasuke sempat terkejut. Ia ia tak salah dengar kan?

Saara tersenyum meremehkan. "Kau kaget sayang?"

Ini benar-benar gila. Saara tahu semuanya. Jangan ditanya ia tahu darimana kalian pasti mengertikan jika seseorang memiliki tekad dan ambisi yang kuat oa akan menghalkan segala cara untuk mendapatkannya , termasuk Saara. Sasuke memilih tetap bungkam sampai Saara pergi tanpa tahu kalau gadis yang ia bicarakan sempat menguping namun belum beres dan timbulah kesalahpahaman antar mereka.

Setelah berujar seperti itu Saara lekas keluar dan berpapasan dengan Itachi. Lagi-lagi ia diabaikan dan lihat duo Uchiha ini menolak keberadaannya. Bahkan Itachi sekarang tengah menegur Sasuke karena mengabaikan Sakura. Dari situlah rasa bencinya pada Haruno Sakura semakin bertambah. Karena Harubo Sakura berhasil menarik perhatian kucing-kucing peliharaannya.

END OF FLASH BACK

Sasuke menghela nafas sebentar lalu menstarter mobil miliknya guna kembali ke manshion Uchiha. Jika ia menemui Sakura sekarang pasti masalah akan terus bertambah pikirnya bijak. Sayangnya menurutku langkah itu bukan pilihan yang tepat Sasuke.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari selanjutnya depan KIHS , Sakura senantiasa menanti seseorang. Sebenarnya ini bukan hari wajib sekolah, ia tak berniat kesekolah untuk belajar. Ia berniat meluruskan masalahnya dengan Sasuke hanya itu. Namun sang pangeran sekolah yang dipuja oleh ratusan siswi itu masih belum menampakan batang hidungnya semenjak kejadian kemarin.

Sakura mendesah. Diliriknya jam tangan yang sekarang menunjukan pulul 07.20 oh bagus. Dia ada pekerjaan sekarang.

Cepat-cepat dirinya masuk kedalam mobil agensi milik orochimaru dan melesat membelah jalanan untuk menuntaskan pekerjaannya. Ya, ia saat ini tengah dalam proses syuting MV bandnya Sabaku Gaara. Benar-benar gadis yang beruntung.

.

.

.

.

.

Setelah proses syuting berakhir, seperti biasanya Sakura berpamitan pada staff dan tentunya para member band tenar di Konoha itu. Termasuk Gaara.

"Kau sudah mau pulang ?" Tanyanya.

"Hai, Sabaku-san. Orochimaru-sama memanggilku untuk mampir keagensi sebentar." Jelas Sakura di sertai senyumannya.

"Perlu kuantar?" Sakura menggeleng cepat, ia tak mau merepotkan orang lain.

"Iie, Sabaku-san. Kau pasti lelah dan sebaiknya istirahat. Saya yakin jadwalmu sangat padat."

Gaara tersenyum tipis. "Kau yakin? Bukan karena pacarmu yang menjemputkan?" Guraunya.

Pacar? Bahkan artis setenar Gaara tahu skandalnya dulu. Ia tersenyum miris menanggapinya. "Tidak Sabaku-san,malah pihak agensi kok yang menjemputku."

"Baiklah, kau tak perlu seformal itu. Panggil saja Gaara." Putusnya.

"Ahh...baiklah Sa- maksudku Gaara-san. Saya pamit permisi."

Sakura berjalan cepat meninggalkan Gaara, dan segera mencari lift untuk turun ke basement.

Didalam mobil Yamato selaku menager Sakura terlihat sedang menelpon, enggan mengganggu ia duduk diam tanpa bersuara.

"Ah, Sakura-san sudah selesai? Jika sudah kita akan segera ke kantor. O orochimaru-sama sudah menunggu. " Sakura mengangguk sebagai jawaban. Mobil itu pun segera melaju menuju agensi.

Beralih tempat keruangan presdir, Orochimaru menatap tajam Sakura dengan mata ularnya lalu melemparkan beberapa lembar kertas diatas meja. Tepat dihadapan Sakura, tanpa disurih ia mengambil kertas itu lalu membacanya dengan teliti setiap kata yang ada.

Emeraldnya membulat . "Ini..."

Orochimaru mendesah kasar . " Kenapa kau jadi seperti ini? Kemana gadis kecil penurut itu?!"

Sakura hanya menunduk mendengar bentakan kepala agensinya itu.

"Apa kau sudah bosan dengan pekerjaanmu? Jika begitu kau boleh keluar." Desisnya.

"..." Sakura tetap diam tak bergeming.

"Kau boleh keluar." Sakura berdiri lalu membungkuk sopan.

"Orochimaru-sama, maaf mengecewakan anda." Gadis berambut merah muda itu melangkahkan kaki keluar dari agensi.

Ia harus menemui Sasuke. Menyelesaikan semua masalah ini ya semuanya.

.

.

.

.

.

Sesekali gadis itu melirik jam tangan miliknya, sudah waktunya KIHS pulang, banyak siswa yang sudah keluar gerbang. Tak lama kemudian munculah sesosok pria yang sedari tadi ia tunggu. Dan bisa kita bayangkan langkah pria itu seperri terburu-buru.

Segera setelah Sasuke leaat didepannya Sakura yang tengah menggunakan topi dan masker menarik lengannya.

"Sasuke ada yang perlu kita bi..." Sakura terkejut karena Sasuke menepis kencang lengannya. Topinya terjatuh dan menampakan helain merah mudanya.

Tanpa Sakura sadari pemuda itu nampak terkejut sejenak karena yang ia tepis adalah lengan Sakura.

"Apa yang...Sakura!" Serunya.

Sakura membenahi penampilannya. "Kita perlu bicara Sasuke. " pintanya namun bukannya menyahut ucaoan Sakura ia lebih memilih sibuk dengan ponsel miliknya.

"..."

"Sasuke?" Tegur Sakura kemudian.

Sasuke menatap Sakura sejenak lalu segera melangkah membelakanginya. "Maaf tapi aku ada urusan."

Sakura menahan lengan Sasuke. Pria itu menoleh. "Hanya sebentar Sasuke ini tentang hubungan..." sebelum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya Sasuke menyingkirkan lengannya pelan. Dan mencoba pergi "Urusanku lebih penting. " Dan ucapannya itu benar-benar membuat hati kecil Sakura terluka. Benar-benar sakit rasanya jika seseorang yang Sakura cintai berkata kalau dia itu tidak penting. Meski Sakura tahu Sasuke tak mencintainya tapi. Setidak berarti itukah dirinya dimata Sasuke ah tidak mungkin setidak penting itukah hubungan absurd mereka selama ini?

Gadis itu menaiki mobil dengan mata yang berkaca-kaca sontak menimbulkan pertanyaan di benak sanga manager yang setia menemani itu. "Sakura-san apa..."

Segera Sakura menghapus air mata itu kasar.

"Yamato-san, tolong hubungi Nona Hong , ada yang ingin ku sampaikan padanya dan ini penting. Untuk malam ini. Kumohon." Pintanya

"Tapi..."

"Ini keputusan yang kuambil setelah bicara dengannya tadi." Ujar gadis itu disertai senyum. -kenapa kau masih bisa tersenyum Sakura?

Yamato hanya bisa menghela nafas dan mengiyakan permintaan Sakura, meskipun itu adalah jalan yang salah menurutnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke masuk kedalam mansion Uchiha bersama Saara, Mikoto yang saat itu melintas nampak asing dengan hal ini. Sejak kapan putranya ah tidak makaudmu Saara nempel-nempel dengan Sasuke ? Dan kemana Sakura?. Andai tante Mikoto tau inilah hal yang Sasuke sebut urusan penting. Cih.

"Lho Sasuke-kun, Baru pulang sekolah? Bersama Saara juga ya." Tanya Mikoto ramah seperti biasanya .

Sasuke hanya bergumam hn seperti biasa sedangkan Saara tersenyum.

"oh ya Sasuke-kun, kenapa Sakura-chan sudah jarang main kesini. Padahal sudah jadi mau bikin kue bersama. " Cicit Mikoto. Sepertinya nyonya Uchiha ini sudah teramat sangat menyukai Sakura sampai-sampai sedih menanti Sakura yang tak kunjung datang-eh?

"Ano, Ba-san aku dan Sasuke masih ada urusan ayo. " Saara menarik lengan Sasuke menuju kamarnya menghiraukan ucapan Mikoto barusan.

Sasuke berjalan ogah-ogahan mengikuti Saara. Ia terpaksa. Sebenarnya apa yang terjadi disini?

Sesampainya dikamar Sasuke, sesegera mungkin ia menghempaskan tangan Saara yang mengandengnya tadi. Saara hanya menyeringai menanggapinya.

"Jangan menyentuhku. " Desis Sasuke.

Saara hanya tersenyum meremehkan. "Jangan kasar padaku Sasuke-kun atau..." Ia meraih flashdisk ditas miliknya .

"Apa maumu sekarang?" Sasuke bebicara dengan nada datar pasalanya kelakuan Saara membuatnya geram. Ia seorang Uchiha yang paling benci di perintah. Terpaska kini ia harus menyampingkan harga dirinya untuk orang yang ia sayanginya.

Jadi yang sebenarnya terjadi... fakta yang kita lewatkan adalah Saara yang sedang mengacam Sasuke! Saara sudah tahu kalau Sakura itu hanya pura-pura berkencan dengan Sasuke dan ia juga tahu latar belakang Sakura yang sebenarnya, bahkan lebih parahnya lagi ia mengarang cerita yang apabila disebar luaskan ke publik karir Sakura terancam hancur.

Sasuke yang tahu semua rencana jahat itu tidak tinggal diam, karena Sasuke tahu Sakura itu menyukai pekerjaannya sebagai model.-ano yang dimaksud menyukai itu Sasuke yang menyukai Sakura atau Sakura menyukai pekerjaannya.. oke abaikan-

Akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi keinginan Saara, tunggu kalian pasti bertanya kenapa Sasuke selemah itu? Kenapa ia tak memilih cara lain yang tidak menyakiti Sakura. Ah kalian tahu ia tidak lemah, ia bahkan benci diperintah ia hanya sedang menyusun rencana.

Namun rasanya rencana itu akan sia-sia karena...

.

.

.

.

.

"Kau ada dimana Sakura? Kenapa apartemen kosong? " Tanya orang disebrang sana. Sakura mengaduk coffe miliknya dan tersenyum.

"Aku ke kafe sebentar Nii-san sebentar lagi aku pulang. Sekarang Nii-san tidur saja." Ujarnya dengan nada lembut.

"Tidur apa maksudmu? Bagaimana aku bisa tidur jika adikku belum pulang apa kau fikir..." Sakura terkekeh geli mendengar ocehan Sasori di telpon. Ah ocehan seperti ini pasti akan ia rindukan.

"Permisi Sakura-san?" Suara wanita usia 30 menginterupsi ocehan Sasori ditelpon Sakura menoleh dan mempersilahkannya duduk.

"Maaf Nii-san nanti akan ku telpon lagi. " Ia mematikan sambungannya dengan Sasori lalu meletakan ponsel itu terbalik diatas meja.

Pandangannya kini beralih pada wanita yang tadi menegurnya. "Maaf, Nyonya Hong, apakah anda ingin memesan dulu?" Tawar Sakura ramah.

Wanita yang disebut Nona Hong itu menggeleng. "Ah, tidak. Baikalah bisa kita lanjutkan wawancaranya Sakura-san?"

"Ya, kita mulai." Ujar Sakura mantap.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian. Dimansion Uchiha Sasuke nampak marah namum tetap dengan wajah tadar mengge rak pintu kamar Saara. Terlihatlah Saara yang sedang berleha-leha disana, Sasuke melemparkan sebuah majalah, hal itu membuat Saara kaget.

"Apa yang kau..." Ucapannya tertahan saat onyx Sasuke menatapnya tajam.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentaknya.

Saara meraih majalah itu dan membaca artikelnya kata demi kata. "I-ini..." ia nampak terkejut.

"Sasuke... ini tidak seperti yang kau pikir..." Jelasnya. Namun belum sempat Saara melanjutkan Saauke menatapnya sinis.

"Selamat, kau berhasil. Sekarang enyah dari hidupku." Ujar Sasuke sembari meninggalkan kamar Saara.

Sepertinya pengorbanan Sasuke itu sia-sia. Ia menjauhi Sakura karena tak ingin rahasia mereka terbongkar ke publik . Tapi ia tak menyadari kalau Sakura lah yang membongkar rahasia itu ke publik karena Sasuke yang terus menjauhinya.

Hari itu juga Sasuke terus berusaha menghubungi Sakura, namun sayang tak ada jawaban. Bahkan saat ia mengunjungi apartemen Sasori ia mendapati kalau gadisnya telah pergi ke tempat asalnya tanpa pamit. Sasori juga menyampikan kalau Sakura tidak mau bertemu dengan Sasuke . Entah ini bohong atau tidak Sasuke tidak berniat mempercayainya.

.

.

.

.

.

Di hari yang sama Mansion keluarga Haruno di Fukouka. Gadis berambut pink tengah menarik koper putihnya melewati ruang keluarga. Langkahnya terhenti saat melihat sang ibu yang menatapnya kaget.

"Okaa-sama tadaima." Ucapnya.

"Sakura bagaimana kau..." Ujar Mebuki yang kaget karena kedatangan Sakura yang sangat terkesan mendadak.

Dirinya membawa Sakura duduk diruang keluarga dan mulai bertanya.

"Kenapa kau pulang tiba-tiba nak? Bahkan kau belum lulus sekolah?" Tanya Mebuki lembut.

Sakura hanya tertawa menanggapinya, Ia tertawa sambil menutup matanya. Bukannnya terlihat bahagia Sakura nampaknya...

"Anoo...Oka-sama cotto nee..." tawanya luntur saat air mata yang turun dari emerald indah miliknya. Cepat-cepat dirinya memeluk Mebuki. Ibunya tahu pasti ada hal yang tidak beres.

Sakura menyerah merahasia semuanya. Ia akhirnya mulai terbuka dan menceritakan bahkan minta maaf jika nanti Haruno corp akan masuk majalah mingguan.

Mebuki tertawa mendengarnya. Ia mengusap surai merah muda Sakura lembut. "Ano nee Sakura. Kaa-san tidak keberatan jika kau mengaku k au kau putri tunggal dari pemilik Haruno corp karena kau memang putri kami. Tapi Kaa-san tidak bilang caramu seluruhnya benar , Kau lari lagi dari masalah sayang dan itu sudah paati salah." Ujar Mebuki bijak.

Ibunya memang benar, dulu ia kabur dari rumah karena lari dari masalah. Dan saat ia kembali kerumahnya pun ia tengah lari dari masalah.

"Kaa-sama, boleh aku melihat Tou-sama?" Ujar Sakura dalam pelukan Mebuki, Sakura saat ini enggan membahas masalahnya lagi, ia merindukan ayahnya. Mebuki tersenyum ia melepas pelukannya dan menuntun Sakura ke tempat ayahnya.

Sakura masuk kedalam ruangan yang nampak asing. Ia bahkan tidak ingat jika di Mansionnya ada ruangan -mirip- ICU seperti ini. Tak lama emeraldnya menangkap seseorang yang sangat ia kasihi tengah duduk lemah, dengan tangan kanannya yang di infus dan hidungnya yang tersumbat alat bantu pernafasan.

"Sakura kau pulang.." Ujar lelaki itu dengan nada halus. Suara yang sudah lama tak Sakura dengar.

Segera mungkin Sakura berlari dan menghambur ke pelukan ayahnya Kizashi. "Tou-sama... Maafkan aku..." lirihnya.

Kizashi tersenyum mendengarnya. Ia mengusap surai merah muda anaknya sayang. "Tidak, aku yang salalah karena menutupi semuanya nak."

Kizashi selama ini memiliki jantung yang lemah, ia harus bulak-balik rumah sakit karena kondisi jantungnya yang kian memburuk. Dan saat itu mucullah ide konyol dipikirannya, Ia berencana menikahkan Sakura supaya nanti jika ia dan Mebuki pergi ada orang lain yang bertanggung jawab dan selalu ada disisi Sakura. Namun sayangnya idenya itu ditolak keras oleh Sakura, hingga menyebabkan putri semata wayangnya hijrah ke apartemen Sasori. Saat Sakura pergi keadaannya semakin memburuk, sesegera mungkin ia harus operasi, karena tahu Sakura aman bersama Sasori Kizahi tak menjelaskan, ia berencana meminta Sakura kembali saat ia sudah sehat dan Mebuki setuju. Untungnya Sakura mengetahui hal ini saat Kizashi sudah dalam proses pemulihan, seperti yang kita lihat sekarang mereka baik-baik saja.

Mereka bertiga masih bercengkrama diruang rawat Kizashi -entah sekaya apa keluarga Haruno sampai sampai mereka memiliki ruang ICU di mansion hahaha - tiba-tiba suasana menjadi serius. Dan itu karena ulah putri tunggal mereke.

"Ano, Tou-sama, Kaa-sama akhir minggu ini aku akan pergi ke Paris."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

OMAKE

Hari-hari menjelang kelulusan Sakura tak pernah datang. Sasuke berpikir gadis itu masih betah tinggal di Fukouka . Ia mengabaikan fakta dari Sasori –Yang belum pasti- kalau Sakura enggan menemuinya.

.

.

Di hari kelulusan Sakura tak datang, bahkan orang tuanya pun tak ada . Naruto bertanya-tanya pada semua orang. Bahkan ia kaget saat Sasuke mengakui kalau yang tertulis di artikel majalah itu benar. Fakta bahwa Sakura pewaris tunggal Haruno Corp. Fakta bahwa Sakura hanya pura-pura mengencaninya . Tapi ia tak pernah menjawab jika ditanya 1 hal .

"Sasuke kukira memang benar Sakura-chan mencintaimu. Lalu bagaimana denganmu apa kau mencintainya dan apa kau akan membiarkannya pergi?"

.

.

Saat dirinya sudah mendaftar disalah satu Universitas ternama di Jepang, Sakura tetap tak ada disampingnya. Ia bahkan tak pernah tau bagaimana kabar gadis merah muda itu. Saat Haruno Corp mengadakan jamuan makan malam bisnis Sasuke ikut hadir , ia berpikir Sakura akan datang namun dugaannya salah besar. Ia bahkan menemukan kenyataan lain disana, tapi tentu bukan dia yang bertanya melainkan kakaknya.

" Hei, Sasori. Aku tak melihat Sakura dia ada dimana sekarang?" Tanya Itachi pada Sasori, Sesekali ia melirik Sasuke yang tengan memutar gelas berisi wine disebelahnya.

Sasori tertawa. "Sakura kan pergi ke Paris , apa dia tak berpamitan padamu Sasuke?" Tanya Sasori tiba-tiba . Sasuke menghiraukannya . Itachi melirik Sasuke sekilas lalu mulai mencari topik pembicaraan lain, sepertinya Sasuke sedang tak ingin membicarakan Sakura.

"Lalu bagaimana dengan Neji? Apa dia tak datang? Aku tak melihatnya sejak pertemuan kita..." Sasori memotong perkataan Itachi cepat.

"Kau tak tahu ya? Sakura kan di Paris bersama Neji karena itu orang tuanya mengijinkan." Ini bahkan lebih parah. Niatnya menjaga perasaan Sasuke kok malah... semakin memperburuk semuanya.

"Ohh.. begitu?" Balas Itachi kikuk .

Pernyataan Sasori tak membuat gentar. Entah kenapa ia masih mempercayai kalau Sakura masih mencintainya. –PD mode on!-

.

.

Puncaknya setelah setahun, Itachi akan menikah, tentu keluarga Haruno diundang. Namun nyatanya sama Sakura tak pernah datang.

"Itachi-san maaf Sakura tak bisa datang, ia sedang menjaga Neji yang kecelakaan pekan lalu." Ujar Mebuki menyesal.

Reaksi Sasuke ? Sebenarnya ia sebal tapi karena sudah dianugrahi wajah stoic seperti itu ia tetap tak menunjukan ekspresi yang berarti. Ia terlalu mengandalkan takdir dibanding usahanya. Sebenarnya ia bisa menemui Sakura kapan saja dengan mudah di Paris. Tapi ia lebih mengandalkan takdir, seperti awal pertemuannya dengan Sakura.

.

.

Dan sekarang 5 tahun telah berlalu, nampaknya takdir kembali mempertemukannya dengan Sakura . Sakura tampak lebih dewasa, dan tentunya sangat cantik . Ia masih menjadi model di Paris. Kini ia berkunjung ke Jepang , namun kini ia tak sendiri Ia menggandeng seorang anak laki-laki manis berusia 3 tahun.

"Sasuke...-kun?

Entah harus bagaimana Sasuke mengekspresikan perasaannya kini, Sakura mengendeng anak kecil apa itu anaknya apa itu keponakannya? Dan kenapa baru sekarang Sasuke merasa menyesal tak menyusul Sakura sejak awal? Kenapa kenapa ia belum mengungkapkan perasaannya saat ini? Apa ia takut kembali ditolak? Ayolah Sasuke kau tahu kan Sakura mencintaimu?

Tapi jika Sasuke memikirkannya lagi, setelah hampir 5 tahun berlalu ia semakin ragu.

Apa Sakura masih mencintainya?

Sasuke sempat berpikir . Dulu cintanya pergi tepat setelah ia mengungkapkan perasaannya , apa sekarang cintanya telah pergi sebelum ia mengungkapkan perasaannya?

Temukan Jawabannya di Chapter depan Jaa nee*

.

.

.

.

.

A/N

Konbanwa minna...

Udah masuk chapter 11 ini, gimana kesannya? Maafin ya Hanabi harus buat Sakura jadi kaya giniL . Semoga aja Sasuke belum menyerah ya. Oh ya, untuk chapter depan usia mereka udah 23 tahunan , dan ada tokoh baru disana OC karangan Hanabi sendiri.

Mohon maaf Hanabi telat update, sebenernya chap ini udah selesai dari hari sabtu tapi hanabi sengaja rombak dari pertengahan, semoga chap kali ini memuaskan ya, dan untuk kedepannya Hanabi akan berusaha lebih keras lagi.

Terimakasih banyak untuk para Readers,Reviewers, Yang sudah Fav dan Follow ISWAK . Mata nee...