Rasanya otak yunho membeku seketika karena ini semua. "Ehmm..." Yunho mengantungkan kata-katany untuk kedua kalinya. "Maafkan, aku soal meninggalkan itu. Aku tidak bermaksud karena hanya terlalu kesal, aku jadi pergi bergitu saja. Soal kaki yang lecet, aku kan sudah mengobatinya." Yunho mengeratkan dekapannya, rasanya akan selalu seperti ini. Nyaman! "Mulai detik ini aku akan menjadi selimut untukmu. Agar kau selalu hangat."

"Aku tidak pernah bercanda. Aku selalu serius dengan apa yang ku katakan. Kau percaya padaku kan, boo?"

"Ya, bodohnya aku yang akan percaya padamu." Jaejoong mngusap lengan yunho yang melingkar dilehe putih jenjangnya.

"Jadi kita berbaikan?"

"Ya. Tuan jung yang tampan."

"Terima Kasih, boojae."

#ALL NEW

.

.

.

.

Together? Maybe in youre dream...!

Setelah menghilang secara tiba-tiba. Ini hari ke tiganya anak tunggal dari kelurga jung itu hadir mengisi keabsenannya selama beberapa hari. Wajahnya terlihat lebih ceria dari biasanya, bahkan selalu ada senyuman yang terlukis diwajah tampannya.

"Ckleekk..." Pintu ruangan jung yunho terbuka. Menampakkan sosok wanita yang masih begitu cantik diusianya yang dapat dikatakan tidak muda lagi. Kiki jenjangnya melangkah pelan dan duduk diatas sofa yang ada diruangan itu.

"Selama pagi yunnie..."

Yunho masih tetap melanjutkan kegiatannya yang sedari tadi ia lakukan. Tidak bergeming sama sekali. Walaupun Mrs. Jung memanggilnya. "Oh, jadi begitu sekarang sikap anak eomma yang sudah susah payah eomma besarkan hingga seperti ini." Omel Mrs. Jung.

"Eomma mau apa datang kemari?" Tanya yunho to the point, terlalu malas untung memutar-mutar pembicaraan pada akhirnya toh eommanya yang akan selalu menindasnya.

"Eomma ingin mengajakmu dan joongie makan siang. Eomma kangen sekali padanya."

"Aku sibuk eomma. Lihat, tumpukkan berkas yang harus aku periksa ini sudah mulai menjadi gunung."

Mrs. Jung memutar bola matanya malas. Yang benar saja itu hanya ada sekitar 30 file perusahaan yang menumpuk menjadi satu. Bahkan mrs. Jung pernah melihat yang lebih banyak lagi saat ia meminta pada suaminya untuk berbulan madu yang ke sekian kalinya. Pulangnya mr. Jung harus menima pekerjaanya yang menumpuk di dalam ruanganya. "Jangan terlalu berlebih. Appamu bahkan pernah mengalami hal yang lebih saja namun tidak mengeluh."

'Aku kan beda.' Batin yunho. 'Aku bukan 100% appa atau 100% eomma. Aku kombinasi keduanya eomma! Jadi wajar kalau aku berlebih karena eomma juga berlebihan!'

"Jangan berpikir yang aneh-aneh!" Mrs. Jung menatap yunho dengan mata tajamnya.

"Aku tidak berpikir yang aneh-aneh, eomma."

"Sudahlah, eomma malas berbicara denganmu." Mrs. Jung berdiri dari duduknya. "Eomma pinjam joongie satu hari ini." Kata Mrs. Jung lalu meninggalkan yunho yang kembali lagi fokus pada perkerjaanya. Mrs. Jung berjalan pelan keluar dari perusahaan milik suaminya yang sekarang sedang berada di Jepang dalam rangka urusan bisnin. Sejujurnya, wanita pendamping kepala keluarga jung ini sungguh kesepian berada dirumahnya yang megah hanya dengan maid dan suaminya yang sibuk dilaur rumah.

Yunho menghentikan kegiatan memeriksa dokumen kantor, ia meraih smartphonenya, dan menekan benda itu beberapa kali hingga sebuah panggilan tersambung.

"Yeoboseyo, yunnie ada apa?"

"Boo, kau sedang apa?"

"Tidak ada.. Joongie baru selesai membersihkan rumah tadi." Jawab jaejoong sambil menyamankan duduknya. "Oh,ya.. joongie mau pergi dengan eomma boleh? Setelah itu joongie mau bertemu dengan kibummie. Mungkin akan pulang sedikit lebih lama. Yunnie, tidak marah kan?"

"Arraseo, yang penting sebelum aku sampai kau harus sudah ada dirumah boo. Aku tidak suka kau terlalu lama diluar."

"Baiklah! Jam berapa yunnie pulang hari ini?"

"Jam 5 sore." Yunho menjawab sambil terseyum lebar.

"Aish.." Jaejoong mengerutu dalam hati. "Biasa juga jam 7 malam. Kenapa jadi jam 5? Wea? Wea?"

"Kau masih ada janji padaku,boo."

"Aku lupa janji itu."

"Aku tidak perduli! Aku mengingatnya jadi tetap akan ku tagih."

"Kau menyebalkan jung yunho!" Ucap jaejoong kesal. Ia langsung menekan tobol merah di smartphonye dan melempar benda putih itu kesisi lain tempat duduknya. "Aishhh... aku menyesal mengakatan jika aku kesepian dirumah ini." Jaejoong mengacak-acak rambutnya dengan tidak jelas. "Aku akan membunuhmu jung yunho!" Teriknya frustasi.

ooooOOOO...

Keduanya masih saling diam didalam sebuah kamar hotel. Salah satu dari mereka memesan ruangan di hotel ini untuk bertemu. Duduk dalam diam saling berhadapan dan hanya berbatas dengan sebuah meja persegi empat yang kecil. Tidak, ada alasan yang jelas kenapa namja ini mau menyetujui permintaan sang yeoja untuk bertemu kembali. Bukankah dia sudah memiliki pendamping? Bukan ini terasa seperti sebuah perselingkuhan secara tidak langsung? Kau harus punya sebuah alasan yang cukup kuat untuk bertemu dengan seorang yeoja sementara dirimu telah sah memiliki pendamping baik di hadapan tuhan atau hukum.

"Jika kau masih tidak berbicara aku akan pergi saja."

"Yunho oppa..."

"Hmmmm..." Yunho memandang sosok yang dulu pernah sempat ada dihatinya dengan wajah bekunya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"

Ara duduk dengan tidak nyaman. Ia tahu ini salah tapi egonya terlalu besar untuk bisa membuka kedua matanya jika dia memang tidak bisa memiliki pria yang ada dihadapannya kini. "Aku tahu aku salah, oppa. Maafkan aku!" Ia terdiam sejenak. " Tapi bisakah kita bersama kembali seperti dulu? Bukankah selama ini tidak ada kata putus dari kita berdua,oppa."

"Maafkan aku." Yunho menatap ara dengan raut wajah yang sulit diartikan ada rasa sakit, kecewa, penyesalan, dan kebodohan yang melebur menjadi satu. "Kau tahu aku sudah menikah dengan jaejoong. Seorang wanita yang pernah kau lihat bersama denganku di sebuah supermarket saat pertama kali bertemu sejak sekian lama dan aku tidak ingin menyakitinya sedikitpun. Bertemu seperti saja merupakan sebuah kesalahan. Apa lagi harus kembali seperti dulu itu sama saja seperti aku berselingkuh dibelakangnya."

"Kau wannita yang baik ara. Aku tidak akan kembali bersama denganmu lagi setelah apa yang aku lakukan pada jaejoong. Kau tahu kita bukan lagi remaja labil seperti dulu. Sekarang apapun yang aku lakukan aku harus bertanggungjawab terhadapnya."

Tubuh ara terasa lemas seketika. Ia tahu ini salah tapi tetap saja tidak ada yang bisa mengantikan yunho dihatinya. "Aku tidak masalah jika hanya menjadi selingkuhanmu,oppa." Suaranya bergetar menahan sakit didadanya. "Walaupun aku hanya menjadi pelampiasan nafsumu tanpa memiliki hatimu. Aku tidak akan pernah kecewa denganmu."

"Aku tidak bisa ara."

"Katakan alasan kau tidak bisa menerimaku." Susah payah ia menahan air matanya. Bahkan dengan tubuhnya sendiripun yunho tetap tidak ingin menyentuhnya. Harga dirinya benar-benar sudah tidak ada lagi. Dengan sisa tenaganya ara berjalan memutar meja dan berdiri dibelakang yunho.

Yunho masih tetap diam duduk di atas kursinya. Dia bahkan tidak memperdulikan apa yang akan dilakukan ara yang sedang berdiri dibelakangnya. "Tanpa aku sadari tapi sedikit demi sedikit aku mencintainya. Jaejoong dengan caranya sendiri memmbuatku jauh kedalam cintanya. Semua yang ada pada dirinya membuatku menjadi ketergantungan."

"Aku bahkan lebih baik darinya oppa." Ara mendekap yunho dari belakang, melingkarkan kedua lengannya pada leher yunho. Menyesap aroma maskulin yang ada disana. "Aku akan memberikan semua yang aku punya hanya untukmu." Ara melepas kaitan gaun tali pastanya hinga menapakkan tubuh polosnya. Jika ini cara satu-satunya ia akan melakukan sekotor apapun itu.

Yunho bisa merasakan bagian belakang kepalanya yang berada pada kedua dada ara. Darahnya berdesir hangat. Ayolah, ia pria normal dan sudah dewasa semua bisa saja berubah. "Dia sudah duluan memberikan semua yang ia punya untuku ara. Bahkan aku yang merampasnya dan dia tidak pernah sedikitpun marah padaku." Yunho berusaha tetap tenang melepaskan lingkaran lengan ara dari lehernya dan berdiri dari duduknya. "Maafkan aku!" Katanya sambil menjaga jarak dari ara. Ia tidak ingin ada hal-hal yang iya iya terjadi disini. Cukup matanya yang melihat jangan sampai ia merasakan tubuh itu. Walaupun nalurinya menuntunnya untuk tetap disana namun hatinya terluka melihatnya.

"Oppa.." Panggil ara dengan wajah memelas. Air matanya bahkan sudah tidak dapat terbendung lagi.

"Mianhae.." Yunho melangkah pergi meninggalkan ara dengan nafsu yang mengerogoti otaknya.

ooooOOOO...

"Eomma..." Jaejoong melingkarkan tangannya pada lengan Mrs. Jung keduanya sedang berjalan di dalam sebuah mall. Mrs jung dan jaejoong berencana untuk mendekorasi salah satu kamar yang ada dirumah keluarga jung. Kamar yunho sebenarnya yang akan mereka dekorasi ulang. Alasan utamanya adalah Mrs. Jung kesepian dan dia ingin setiap akhir pekan yunho dan jaejoong menginap dirumah nan megahnya. "Joongie ingin dindingnya berwarna putih."

"Hanya itu?" Tanya Mrs. Jung bingung setelah begitu banyak hal yang mereka lakukan termasuk memesan bebapa properti baru untuk kamar yunho. "Tidak butuh yang lain lagi?"

Jaejoong tampak berpikir sebentar. "Yunnie, kelihatannya akan tidak suka jika joongie menganti seluruh dekorasi kamarnya seperti milik joongie di jepang."'

"Siapa yang mengatakan yunnie tidak suka? Dia pasti akan menyukainya. Jika dia tidak menyukainya eomma akan menyuruhnya untuk tidur dikamar yang lain."

"Eomma mana bisa seperti itu." Jaejoong ingin membantah namun ia tidak berani.

Mrs jung hanya tersenyum simpul. Mereka sudah selesai berkeliling sejak tadi demi mendekor ulang kamar anak sematawanyangnya. "Gwenchana, kau hanya terlalu mencintainya joongie."

"Mungkin." Jawab jaejoong tak pasti.

"Apakah kalian belum berencana untuk memiliki anak?" Tanya Mrs. Jung tiba-tiba. Wajar saja diumurnya yang sudah tidak muda lagi ini. Ia sangat menginginkan menimang cucu. Penerus garis keturunan keluarga jung.

Wajah jaejoong memerah seketika. Aegya.. Dia bahkan sangat menginginkan bayi kecil, berpipi bulat, dan hangat berada didekapannya. Hanya membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan baginya. "Eomma bisa membicarak hal lain. Ini sangat memalukan."

"Baiklah..." Mrs. Jung tidak akan menggoda menantunya untuk saat ini. "Sudah, mulai gelap bukankah joongie berjanji untuk tidak pulang lewat dari jam 5."

"Joongie lupa." Jaejoong seperti ingin mengutuk dirinya yang mudah lupa waktu jika sudah berbelanja. "Eomma selalu membuat joongie lupa waktu jika berbelanja."

"Sebaiknya, kita membeli makanan untuk yunnie. Kau tidak mungkin sempat memasak lagi dirumah joongie. Kasihan yunnie kelaparan."

"Baiklah, eomma. Joongie akan belikan sekalian joongie berjalan pulang."

Kedunya menikmati satu hari itu dengan sangat begitu menyenangkan. Berbelanja menghilangkan stress yang ada dengan menghabiskan seluruh uang yang dihasilkan suami masing-masing. Hidup itu indah seketika dan menyedihkan juga seketika. Tidak ada jaminan yang pasti didalamnya.

oooooOOOO...

Jaejoong meelihat yunho yang sedang makan malam. Jaejoong memang pulang terlambat tapi yunho sama sekali tidak marah padanya karena eomma jung yang langsung mengantarkan jaejoong hingga didepan pintu rumahnya.

"Apa yang kau lakukan seharian ini boo?"

"Hanya membatu eomma membeli beberapa keperluan dirumah dan eomma ingin mendekor ulang kamar yunnie dirumah."

"Wea? Apa yang salah dengan kamarku?" Tanya yunho yang sudah menyelesaikan makan malamnya. Ia tidak terlalu berselera untuk makan. Hanya makan untuk tidak membuat jaejoong khawatir.

Jaejoong mengambil sisa piring dan mulai membersihkan meja makan. "Tidak tahu. Tanya pada eomma, yunnie." Jawab jaejoong sambil berjalan meletakkan seluruh peralatan makan yang kotor dan mulai mencucinya satu persatu. "Dan lagi eomma mengatakan jika kita harus menginap dirumah menemani eomma saat akhir pekan."

"Bukankah selalu ada appa saat akhir pekan. Kenapa eomma tidak ikut dengan appa saja."

Jaejoong meletakkan peralatan makan yang sudah dibersihkannya satu persatu. "Terlalu melelahkan dan lagi membosankan,yunnie. Appa pergi untuk berbisnis bukan berliburan."

"Appa terlalu memanja eomma..." Yunho berdiri dari duduknya, berjalan menghamipri jaejoong, dan berdiri dibelakang yeoja itu.

"Eomma hanya kesepian dirumah dan lagi eomma pasti akan sangat lelah jika harus mengikuti appa kemanapun appa pergi." Jawab jaejoong dan mengelap kedua tangannya yang basah dengan kain kering. Jaejoong membalikkan tubuhnya berdiri menghadap yunho.

Yunho melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping jaejoong. Membuat kedua tubuh mereka menempel seperti lem. "Bukankah kita bisa memberikan eomma cucu untuk menemaninya." Bisik yunho pada telinga jaejoong.

"Yunnie..."

"Kau sudah membuatku berjanji untuk memberikanmu seseorangg yang bisa menemanimu dirumah boo..."

Yunho menempelkan bibir hatinya pada bibir cheery jaejoong. Menyesap rasa manis dari sana. Salah satu tangannya melingkar pada pinggang jaejoong dan satu lagi menekan tengkuk jaejoong. Jaejoong merangkulkan kedua lengannya pda leher jenjang yunho. Ciuman itu berlangsung cukup lama, saling menyesap, mengigit, dan memberikan rangsangan yang berbeda. Lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi lebih pansa. Tanga yunho meraba dada sintal jaejoong memberikan rangsangan disana.

"Akkhh..yunn..niee..." Desah jaejoong tertahan.

Ciuman yunho berpindah ke telinga jaejoong, turun keleher jenjangnya, dan memberikan tanda disana. Menyesapnya dengan kuat hingga berbekas kebiruan. Yunho kembali menyatukan bibir hatinya dengan bibir cherry sebentar lalu melepasnya. Hanya menggoda. "Aku menginginkamu.." Tangan yunho sudah meraba seluruh bagian tubuh jaejoong, membuat jaejoong mengeliat tak nyaman.

"Tapi tidak disini... Yunnie, jangan mengodaku!"

Yunho hanya tersenyum menanggapi ucapan jaejoong. Tangannya berhenti meraba-raba, dengan satu kali gerakkan kini jaejoong sudah berpindah kedalam dekapanya. "Kajja, kita lanjutkan dikamar." Yunho masih terus menyesap apa saja yang dapat diraih oleh bibir hatinya sementara kakinya melangkah menuju kamar mereka berdua.

#ALLNEW

SOrry, kalau makin gaje cerintanya.

Tapi karena udah mau deket sidang dan sedang menunggu panggilan sidang jadi diwaktu kosong ini ta usahakan cepet tamat ceritanya ^^ Doakan sidang ta ya :D
Terima Kasih buat semua yang selalu mendukung ta buat ngelanjutin FF ta...