Junmyeon masih meringkuk di depan pintu. Blusnya basah karena keringat dan dicampur air mata. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya penuh dengan air mata. Kepalanya masih terngiang-ngiang akan kejadian dua jam lalu.
Junmyeon berhenti menangis secara mendadak. Ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Di depan meja riasnya ada sebuah pisau. Ia mengambil pisau itu. Ia menatap dirinya di cermin. Ia mengangkat rambutnya yang panjang itu, lalu memotongnya sampai rambut blonde itu kini hanya tinggal sebahu. Junmyeon menggenggam kuat potongan rambut itu.
Pintu kamar masih terbuka. Junmyeon menatap mesin jahit yang berada di dekat televisi. Junmyeon berjalan menuju mesin jahit itu. Menatap mesin jahit yang selama ini menemaninya bekerja. Junmyeon kembali menggenggam potongan rambutnya kuat-kuat.
"Ini adalah bentuk balas dendamku pada mereka yang menghinaku. Aku akan membentuk perusahaan fashion yang lebih dari Lotte Fashion. Lihat saja... Aku adalah Kim Junmyeon. Tak peduli aku perempuan atau laki-laki, aku akan menunjukkan pada mereka semua...bahwa aku bisa melebihi mereka!"
.
.
.
Title: Eyes, Nose, Lips [Chapter 11]
.
Author: Ira Putri
.
Rating: T
.
Disclaimer: SM Entertainment had the cast, but this story is mine.
.
All the cast are in the story.
.
.
.
.
BRAK!
Presdir Wu terkejut setelah pintu ruang kerjanya dibuka secara paksa oleh Kris. Kris tidak datang ke ruangan ibunya sendiri. Tangannya menggandeng paksa seorang perempuan. Dihempaskannya perempuan itu hingga terjatuh tepat di hadapan ibunya. Perempuan itu Sulli.
"Kris... Apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak mengetuk pintu ruang kerjaku," Presdir Wu terheran-heran.
Wajah Kris memerah menahan marah. Kemudian ia menunjuk Sulli. "Perempuan gila ini...telah berani mengeluarkan pegawai terbaikmu!"
Presdir Wu mencerna kata-kata Kris. "Suho?"
"Aku kira ibu sudah tahu nama asli dari Kim Suho, seorang captain desainer yang dibanggakan oleh Lotte Fashion ini. Nona Sulli, pegawaimu ini telah berani mempermalukan Junmyeon, atau nama asli Suho itu di depan semua karyawan!"
Sulli hanya diam menunduk. Ia memijat betisnya yang ia rasa sakit setelah dihempaskan oleh Kris. Presdir Wu menatap Sulli. "Apa benar itu, Choi Sulli?"
Sulli terdiam. Kris yang disulut emosi pun menghampiri Sulli dan menjambak rambut panjang Sulli agar wajah Sulli menatap Presdir Wu. "Jawab pertanyaannya!"
"S-saya...tidak ingin jabatan saya diambil oleh dia..." jawab Sulli. "L-lagipula... Dia transgender! Transgender tidak pantas bekerja disini..."
"Apa katamu..." Kris mendesis. Ia semakin kuat menjambak Sulli. Sulli meringis kesakitan.
"Lepaskan dia, Yifan!" Presdir Wu melerai perbuatan Kris.
Kris mendorong kepala Sulli sampai terbentur ke lantai. Sulli menangis kesakitan. Presdir Wu melanjutkan bicaranya. "Kim Suho mengajukan pengunduran dirinya padaku. Dia punya alasan tersendiri. Jadi Sulli tidak bersalah..."
"Apakah kau pikir itu bukan kesalahan Sulli? Yang membuat Junmyeon mengajukan pengunduran diri itu karena Sulli! Apa kau tidak menyadarinya, Nyonya Presdir? Sulli mempermalukan Junmyeon di depan semua orang dengan membuka rahasia terbesar Junmyeon bahwa dia adalah transgender!" Kris membela dirinya.
Presdir Wu berjalan menuju meja kerjanya. Map pengunduran diri Junmyeon masih ada di sana. Ia mengambilnya, lalu membacanya lagi. "Sekarang aku bertanya padamu, Kris. Apa kau sudah tahu kalau Kim Suho, adalah seorang transgender?"
Kris kini terdiam. Presdir Wu menatap Kris penuh tanda tanya. Kris dengan lantangnya menjawab. "Ya. Aku tahu semua tentang Junmyeon. Bahkan sebelum ia bekerja di Lotte Fashion. Dan dia juga adalah kekasihku!"
Presdir Wu kaget. "Apa? Wu Yifan, kau sadar akan kata-katamu? Dia itu..."
"Aku tahu. Dia laki-laki. Aku tidak normal, itu benar. Aku tidak normal karenanya! Aku bekerja disini sebagai model itu karena Junmyeon!" Kris menyela Presdir Wu.
"Kris Wu Yifan! Apa perempuan di Korea ini tidak lebih cantik darinya? Dia adalah laki-laki yang mengubah semua penampilannya seperti perempuan! Apa kau tidak jijik melihatnya? Jika kau masih mencintai Suho, kau bukan anakku lagi!" Presdir Wu marah.
Kris menggigit bibir bawahnya. "Baik! Lebih baik seperti itu. Urus saja semua karyawan Lotte Fashionmu, termasuk perempuan gila ini..."
Kris berbalik badan dan keluar dari ruangan kerja ibunya. Presdir Wu gagal mencegah Kris pergi. Ia hanya diam di tempat ia berdiri. Ia menahan air mata. Ia menatap Sulli. Sulli juga menatap Presdir Wu.
"Nona Choi... Aku masih memberikanmu kesempatan untuk bekerja disini.." ujarnya.
Sulli membulatkan matanya. Ia menunduk. "T-terima kasih... Presdir.."
"Jangan senang dulu. Kau harus membayar semua kesalahanmu. Kau sudah mengeluarkan karyawan terbaikku..."
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
"Apa? Suho itu sebenarnya laki-laki?" Sehun dan Tao kaget serentak.
Xiumin dan Luhan berpandangan sebentar, kemudian Xiumin kembali angkat bicara. "Ceritanya panjang, teman-teman. Apalagi ditambah kejadian tadi. Junmyeon pasti sedang tertekan sekarang..."
Tao menyandarkan punggungnya di sofa. "Aku tidak menyangka... Aku sempat jatuh cinta pada Suho nuna.. Jadi itu rahasia besarnya..."
"Memang tampilannya seperti perempuan asli, namun ia masih menjaga alat vital laki-lakinya. Aku jadi tidak bisa menyebutnya laki-laki, atau perempuan..." Luhan melanjutkan.
"Tapi, kenapa Suho nuna bisa ada di kantor? Kalau dia tidak datang, tidak akan ada kejadian seperti ini..." Tao menyesalkan.
"Kalian yang bilang sendiri, bahwa kalian berdua sedang libur. Tapi kenapa Junmyeon tidak libur?" tanya Luhan.
"Biasanya Suho nuna juga membantu wardrobe pemotretan. Dia dua kali bekerja, tapi gajinya tetap sebagai desainer. Tapi semua model memang sedang libur..." jawab Tao.
"Tao, sudah kubilang itu pasti perbuatan Sulli!" Sehun yang dari tadi diam, langsung angkat bicara. "Bisa kalian ceritakan, asal usul Suho? Kenapa dia bisa tinggal disini? Dan darimana kalian tahu bahwa Suho itu laki-laki?"
Xiumin meminum tehnya sejenak, lalu menjawab pertanyaan Sehun. "Suho sudah dua tahun tinggal di komplek ini. Aku adalah tetangga pertama yang mengenalnya. Dia kabur dari rumah orang tuanya dan tinggal sendiri di komplek ini. Dia datang ke komplek ini, mengaku sebagai perempuan. Awalnya aku mengira dia benar perempuan walau pada saat itu dia masih memakai baju seperti laki-laki..."
"Akhirnya ia cerita pada kami, semua tentangnya. Termasuk operasi kelaminnya. Dia sangat yakin kepada kami bahwa kami akan menjaga rahasia terbesarnya. Xiumin dengan sukarela membantu Junmyeon untuk menjadi perempuan seutuhnya..." lanjut Luhan.
"Maaf menyela penjelasan kalian..." Sehun menyela perkataan Luhan. "Pertanyaanku sekarang adalah... Kenapa? Kenapa Suho, atau yang kalian panggil Junmyeon itu mengubah dirinya menjadi perempuan?"
"Dia cerita padaku, bahwa semasa kecilnya ia terjebak dalam wujud laki-lakinya. Ia suka mainan untuk anak perempuan, bahkan ia pernah cerita pernah mendandani teman perempuannya saat ia duduk di bangku SMA. Dan saat ia kuliah di Amerika, ia semakin merasa yakin bahwa ia adalah perempuan. Itu sebabnya setelah kabur dari rumah, ia melakukan operasi pembesaran dada. Ia tidak mengganti alat vital laki-lakinya..." jawab Xiumin.
Sehun pun menyandarkan punggungnya di sofa. Sedikit syok. "Kenapa dia tidak menceritakannya padaku..."
"Junmyeon masih takut akan dunia luar. Makanya ia mengganti namanya dan mengubah semua hidupnya. Selama ini ia berbohong pada kalian dan semua orang. Dia adalah putra kedua dari pemilik Chung Ang University, juga sekaligus pemegang saham salah satu hotel ternama di Seoul ini," jelas Luhan.
"Junmyeon yang malang. Rahasia besarnya sudah diketahui semua orang dan sekarang ia menderita..." Xiumin menundukkan kepalanya.
Sehun bangkit dari sofa namun dicegah oleh Tao. "Kau mau kemana Sehun?"
"Meminta pertanggungjawaban Sulli! Dia sudah mempermalukan Suho!" jawab Sehun.
"Kau hanya akan menambah masalah, Sehun!" Tao tetap mencegah Sehun.
"Tao! Suho adalah sahabat kita. Aku sekarang tidak peduli akan jenis kelaminnya. Entah dia laki-laki atau perempuan aku tidak peduli. Aku tidak tahan jika sahabat terdekatku dipermalukan seperti itu!" Sehun mencoba menepis tangan Tao.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah bertemu Sulli?" tanya Tao.
Sehun hanya diam.
Tao menenangkan Sehun. "Semua sudah terjadi, Sehun. Kita tidak bisa berbuat apa-apa sekarang..."
Xiumin dan Luhan memandang Sehun dan Tao. Mereka berdiri dan menghampiri mereka berdua. Sehun menangis. Xiumin mengelus pundak Sehun. Tao masih menggenggam tangan Sehun. Luhan hanya diam. Mereka larut dalam keheningan. Xiumin menenangkan Tao dan Sehun dengan mengajak mereka duduk kembali, dan mempersilahkan mereka untuk meminum teh agar perasaan mereka kembali normal.
"Kalian tenangkan diri kalian. Kami tahu, bahwa Junmyeon sekarang sedang dalam keadaan tertekan. Kita bisa rundingkan solusinya bersama..." tutur Xiumin.
"Itu benar. Percuma saja kalian berbuat seperti yang kalian katakan tadi. Itu akan sangat sulit untuk kembali seperti semula.." tambah Luhan.
"Kami harus bagaimana, Luhan hyung?" tanya Tao.
"Apa tidak ada orang lagi yang dekat dengan Junmyeon? Aku rasa ada orang lain yang dekat dengan Junmyeon..." Xiumin menggumam.
Luhan diam sejenak. Kemudian ia menoleh ke arah Xiumin. "Ada..."
Xiumin menoleh ke arah Luhan. Mengisyaratkan tanda tanya.
"Ada dua orang. Junmyeon pernah cerita padaku kalau ada seorang pekerja seks yang menjadi teman keluh kesahnya. Dan satu lagi... Siapa laki-laki yang bertubuh tinggi itu? Bukankah dia juga teman kalian?" Luhan kini mengarahkan pandangannya ke arah Tao dan Sehun.
Sehun dan Tao saling berpandangan. "Kris..."
"Apa orang yang kau maksud itu Baekhyun, oppa?" tanya Xiumin.
"Kau mengenalnya, Min?" tanya Luhan balik.
"Baekhyun itu sahabat Junmyeon dari SMA. Junmyeon menceritakannya padaku..." jawab Xiumin singkat. "Aku yakin dua orang itu juga mengetahui masalah yang diderita Junmyeon. Tapi... Apa Kris itu tahu bahwa Junmyeon itu laki-laki? Atau dia malah menganggap Junmyeon sebagai perempuan?" tanya Xiumin.
"Coba kita tanya Kris saja!" Sehun menggebu-gebu.
"Aku setuju.." Tao menanggapi.
"Kita bagi tugas. Aku dan adikku akan bertanya pada teman Junmyeon yang pekerja seks itu. Sementara kalian tanya pada Kris. Dengan begini, kita akan mendapatkan beberapa informasi. Mungkin itu akan membantu Junmyeon..." usul Luhan.
"Ide bagus, oppa!" Xiumin menanggapi.
"Baiklah. Semoga saja masalah ini tidak bertambah besar..." tutur Tao.
Sehun menoleh ke arah Tao. "Ini demi Suho..."
Tao tersenyum. Sehun membalas senyuman Tao. Luhan dan Xiumin juga ikut tersenyum.
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
Kris duduk di salah satu kursi bar yang sepi itu. Hari masih sore, bar akan ramai pengunjung saat malam hari. Apalagi menjelang akhir pekan. Kris menuangkan wine lagi ke dalam gelasnya. Entah sudah berapa gelas ia minum.
"Apa ada yang bisa dibantu lagi, Tuan?" tanya waiter.
"Wine satu botol lagi..." jawab Kris.
"Tapi Tuan, ini sudah botol ketiga..."
"Sudahlah, ambilkan saja. Aku sudah bilang aku akan bayar semua, kan?" ujar Kris yang frustasi itu.
Sementara waiter menganbil botol wine nya, ada seseorang yang duduk di sebelah Kris. Pemuda cantik itu menyalakan rokoknya. Kris tidak memperhatikannya. Pemuda cantik itu memandang ke sekitar. Mungkin itu sekedar basa-basi.
"Tidak biasanya... Bar sesepi ini.." ujar pemuda cantik itu.
Kris menoleh sejenak ke arah pemuda cantik itu. Bertepatan dengan dikeluarkannya asap rokok dari mulut pemuda cantik itu. Kemudian ia menuangkan wine ke gelasnya lagi. Tak peduli akan pemuda cantik bereyeliner itu.
"Hey!" Pemuda cantik itu menyenggol lengan Kris. "Kelihatannya kau tertekan sekali.."
Kris yang meneguk habis wine itu, menjawab pertanyaan pemuda cantik itu. "Aku telah dibutakan oleh seorang perempuan... Perempuan itu..telah membohongiku dengan cara yang indah,"
Pemuda cantik itu tampak mendengarkan cerita Kris. Ia terkekeh. "Perempuan memang pandai berbohong. Percayalah padaku. Pada akhirnya kau menyesal juga, bukan?"
Kris tersenyum getir. "Kami suka bermain rahasia sejak kami pertama dekat. Perlahan rahasiaku dan rahasianya terbongkar. Aku anak orang kaya, dia anak yang pekerja keras. Dia berhasil mengejar impiannya menjadi desainer terkenal. Sementara aku mantan atlet basket. Kami bekerja di kantor yang sama. Hanya saja hubungan kami tidak direstui oleh semua orang..."
"Tidak direstui oleh kedua orang tua kalian? Oh, man! Itu sudah biasa. Kenapa kalian tidak berontak saja?"
Kris menoleh ke arah pemuda cantik itu. "Aku bilang semua orang..berarti bukan orang tua saja yang menentangnya. Kau tahu kenapa? Pacarku seorang transgender. Dan sekarang dia sedang terpuruk karena semua orang tahu kalau dia adalah transgender. Transgender adalah salah satu rahasia terbesarnya..."
Mendengar kata transgender, pemuda cantik itu diam sejenak. Ia menoleh ke arah Kris. Kata transgender itu mengingatkan pemuda cantik itu dengan seseorang. Sementara Kris kembali berkutat dengan gelas winenya. Samar-samar Kris menggumamkan nama seseorang yang sangat dikenal oleh pemuda cantik itu.
"Junmyeon... Junmyeon..."
Pemuda cantik itu mematikan rokoknya dan memanggil waiter. "Hey, kau! Berikan aku kunci kamar yang kosong!"
Kris kaget dan menoleh ke arah pemuda cantik itu. Pemuda cantik itu menangkap salah satu kunci kamar dari waiter itu. Kemudian ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menoleh ke arah Kris. "Aku membayar semua minumanmu. Bisa kita bicara sebentar?"
.
?
.
Pemuda cantik itu menutup pintu kamar sewa yang ada di bar itu. Kris yang masih setengah mabuk itu hanya memandang pemuda cantik itu dengan tatapan bingung.
"Aku memang pekerja seks disini. Tapi aku tidak akan melucuti semua pakaianku ataupun pakaianmu. Kita disini untuk bicara.." jelas pemuda cantik itu.
"A-apa?" tanya Kris.
"Namaku Byun Baekhyun. Kau pasti Kris Wu, putra tunggal dari CEO Lotte Fashion.."
Kris terkejut. "D-darimana kau..."
"Kau juga pasti kekasih dari Kim Junmyeon..." tambah Baekhyun.
"Darimana kau tahu itu semua?" tanya Kris.
Baekhyun terkekeh kecil. "Junmyeon itu sahabatku. Mendengar ceritamu, pasti ada apa-apa dengan Junmyeon. Aku tidak akan membiarkan Junmyeon tersakiti olehmu. Ceritakan padaku. Apa yang terjadi dengan Junmyeon?"
Kris diam sejenak. Pekerja seks ini adalah teman Junmyeon juga. "Maafkan aku.. Aku tidak bisa melindungi Junmyeon..."
"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun.
Kris menjawab. "Rahasia yang selama ini Junmyeon simpan, telah terbongkar. Sekarang ia kehilangan semua impiannya. Dan dia mungkin juga sedang tertekan sekarang. Apa kau tahu semua tentang Junmyeon?"
"Aku tahu semua. Aku sahabatnya sejak kami duduk di bangku SMA. Jujur, aku masih tidak mengerti apa yang kau katakan. Kau bilang... Rahasia Junmyeon tentang transgender itu terbongkar?"
Kris menunduk. "Benar. Rahasia itu terbongkar setelah ada seorang karyawan membocorkan aib besar itu.."
Pandangan Baekhyun mulai kosong. "Myeon..."
"Aku tidak tahu sekarang dia dimana... Yang jelas dia pasti tertekan.." Kris makin menunduk, kemudian ia duduk di salah satu sofa.
"Kalau ia sudah tertekan.. Kemungkinan besar ia akan balas dendam dan menyiksa dirinya sendiri..."
Kris terkejut dan menoleh ke arah Baekhyun. "A-apa kau bilang?"
Baekhyun menoleh kearah Kris. "Balas dendam dan menyiksa diri sendiri..."
"Apa maksudmu?"
"Saat ia berada di situasi seperti yang terjadi sekarang, maka ia akan menyiksa dirinya untuk menjadi yang lebih baik dari apa yang orang lain pikirkan. Kejadian ini hampir mirip dengan waktu SMA dulu. Ia belajar memasak mati-matian karena teman-temannya meragukan kemampuannya memasak," jawab Baekhyun. "Mungkin sekarang ia sudah tertusuk jarum jahit berkali-kali, membuang kertas percuma, dan merobek semua baju-bajunya..."
"Aku bisa apa... Baekhyun-ssi? Aku bukan pendampingnya yang baik..." ujar Kris seakan menyesal.
"Sebenarnya aku tidak menyalahkanmu, tapi apapun yang kau perbuat sudah tidak berguna lagi. Kalau aku menjadi dirimu, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa..." jawab Baekhyun sambil menyalakan rokoknya.
Kris menggaruk kepalanya frustasi. Kemudian ia berdiri. Berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu. Baekhyun sedikit terkejut. "Kau mau kemana?"
Kris menoleh ke arah Baekhyun. "Aku pergi. Terima kasih telah berbagi cerita padaku..."
Kris menutup pintu kamar sewa tersebut. Baekhyun masih terduduk di tepi tempat tidur. Menghembuskan asap rokok yang ia sulut tadi.
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
Seorang pemuda berkacamata sedang duduk di kursi taman dengan santai. Ia memasang headphone di telinganya. Menikmati hembus angin dan menyelesaikan tugas kantornya. Taman pada sore hari itu sangat sepi, hanya ada dirinya dan mungkin saja ada petugas kebersihan taman yang menyapu daun-daun kekuningan yang berserakan di tanah. Pemuda itu mendengarkan lagu Eyes Nose Lips milik Taeyang.
"Neoui nun ko ipnal manjideon ne son gil
Jageun sondobggaji da
Yeojeonhi neol neu ggil su itjiman
Ggeojim bulggul cheoreom tadeureo gabeorin
Uri sarang moduda
Neomu apeujiman ijen neol..."
Pemuda itu menghentikan sejenak lagu yang diputar, ia hendak menggantinya dengan lagu lain, namun ia samar-samar mendengar suara keluhan dari dua orang yang ada di depannya.
"Kita tidak bisa menemukan pemuda pekerja seks itu. Katanya, ia suka berpindah tempat kerja..."
"Tapi masih di Seoul, kan?"
"Iya. Sehun dan Tao juga tidak menemukan Kris..."
"Kenapa di saat seperti ini mereka tidak ada..."
"Bagaimana dengan nasib Junmyeon? Aku kasihan padanya. Dia mengurung dirinya di rumah sekarang.."
"Aku tidak bisa menenangkannya. Aku ini tetangga macam apa?"
"Tenanglah, pasti ada jalan keluar. Ini demi Junmyeon. Kita semua peduli dengannya,"
"Semua orang tahu kalau dia seorang transgender. Apa salahnya dengan transgender?"
"Sst! Kecilkan suaramu! Kalau ada orang lain yang mendengar bagaimana?"
"Taman ini kan sepi..."
"Iya, tapi kan..."
"Ehm, permisi?"
Dua orang yang sedang berbincang tadi terkejut dan menoleh ke suara orang yang menginterupsi pembicaraan mereka. Pemuda tadi sekarang tepat berada di depan dua orang itu. Dua orang itu adalah Luhan dan Xiumin.
"Maaf mendengar pembicaraan kalian tadi. Sebenarnya aku tak sengaja mendengarnya. Dan kalian berbicara tentang Junmyeon.." ujar pemuda tadi dengan gamblang.
Xiumin menjawab. "Ya. Kami membicarakan tentang Junmyeon. Apa kau teman Junmyeon?"
"Kami sangat memerlukan bantuan teman dari Junmyeon. Lebih tepatnya, teman yang dekat sekali dengan Junmyeon. Junmyeon sedang tertekan. Kau salah satu temannya bukan?" sela Luhan.
"Aku bukan temannya..." Pemuda itu menjawab. ".. Aku adalah kakak tertuanya,"
.
?
.
"Ini sudah malam. Sampai sekarang kita masih belum menemukan Kris..." Tao bersandar di pohon.
"Anak itu... Suka sekali berkeliaran..." Sehun meminum es lemon miliknya.
Tao menoleh ke arah Sehun. "Darimana kau dapatkan minuman itu?"
Sehun melirik sebentar ke arah Tao. "Aku kan sudah bilang padamu, kalau aku mau beli es..."
Tao mendengus. "Huh..ini efek kelelahan. Kau tidak berniat untuk membagikannya padaku? Tega sekali, kau.."
Dengan sedikit tidak ikhlas Sehun memberikannya pada Tao. Sehun bersandar di pohon. Mereka sedang berada di salah satu gang besar. Seperti perumahan, namun banyak bangunan yang tak terpakai. "Di kantor tidak ada... Aku juga sungkan bertanya pada Presdir Wu. Presdir Wu pasti stres memikirkan akan desainer baru..."
"Orang Amerika mayoritas begitu, ya? Hidup terlalu bebas. Kalau aku pergi dari rumah lewat dari batas waktu, ibuku akan memotong uang jajanku dan selalu mengawasiku..." celetuk Tao.
Sehun mengambil kembali gelas plastik minumannya. "Pantas saja. Kau terlalu banyak diawasi oleh ibumu. Sekarang kau jadi cowok penakut," Sehun menyedot minumannya. Namun minuman itu habis. Sehun mengocok-ngocok minumannya. "Hei! Kau habiskan minumanku?"
Tao nyengir. "Hehehehe..."
"Dasar!" Sehun hendak menjitak Tao, namun ada satu bola basket yang tiba-tiba menggelinding ke arah kaki mereka. Sehun menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap bola basket itu heran.
"Hei, ada bola basket!" Tao mengambil bola basket itu. Ia memutar bola basket itu dengan telunjuknya.
Sehun terus menatap bola basket itu. Ia teringat akan sesuatu. "Bola basket!"
Tao terkejut dan menoleh ke arah Sehun. "Kau baru sadar kalau ini bola basket? Ternyata kau lebih bodoh dari yang kukira..."
"Bukan begitu, bodoh! Ini bola basket!"
"Memang ini bola basket, bukan bola voli..."
"Aish! Bukan! Kris!"
"Ah, kau malah membahas Kris. Memangnya apa hubungannya dengan pria Amerika itu?"
"Jelas ada, bodoh!" Sehun menjitak kepala Tao. "Sulli pernah bilang padaku kalau Kris suka sekali bermain basket,"
Tao memicingkan matanya. "Sulli menceritakannya padamu atau kau sengaja mendengar pembicaraan Sulli dengan orang lain?"
Sehun nyengir. "Hehehehe... Tidak usah dibahas. Ngomong-ngomong, darimana datangnya bola basket ini?"
Tao menoleh ke kanan dan kirinya. Kemudian matanya menatap ke bangkai gedung satu lantai di seberang jalan. "Kurasa dari sana..."
"Kau mau menguji nyalimu sendiri?" Sehun melirik Tao dengan sinis.
"Soalnya aku lihat ada bola basket lain dari sana," ujar Tao menunjuk ke sesuatu berwarna jingga di depan pagar gedung.
"Ayo kita kesana..." Sehun menarik tangan Tao.
Mereka sampai ke pintu gedung yang ternyata bekas pusat olahraga itu. Tao sudah merinding. Tao memegang erat ujung jaket Sehun. "K-kau yakin Kris ada disini, Hun?"
"Insting Oh Sehun tidak pernah salah. Tenanglah! Tidak akan ada apa-apa! Ini hanya gedung tak terpakai!" Sehun berusaha menyingkirkan tangan Tao dari jaketnya, namun Tao tak mau melepasnya. Tao bersembunyi di punggung perempuan berambut pendek itu.
Mata Sehun menangkap sosok laki-laki berpakaian serba hitam tengah berdiri di lapangan basket. Bola basket berdebu berserakan di lapangan basket kecil itu. Sehun kenal dengan postur tubuh itu. "Hei! Itu Kris!"
Tao berusaha melihat objek yang dilihat Sehun. Kemudian ia berteriak. "Huaaaaa hantu berbaju hitaaaaaammmm...!"
"Diamlah kau penakut! Ayo kita hampiri Kris!" Sehun menarik badan Tao untuk kembali berjalan.
"K-kau yakin itu Kris?"
"Ah, kau ini! Apa kau tidak lihat postur tubuhnya? Kau bersahabat dengan Kris berapa lama, sih?" umpat Sehun. Bahunya ia guncangkan karena risih dengan tangan Tao yang sedari tadi ada di bahunya.
Mereka menuruni tangga menuju lapangan basket. Tangga yang mereka pijak adalah tangga keramik. Keramiknya sudah banyak yang pecah, menampakkan semen-semennya. Tao semakin ketakutan, Sehun malah semakin penasaran. Ada bola basket lagi yang menggelinding di dekat kaki Sehun. Sehun tak sengaja menginjak bola itu hingga ia hampir jatuh. Tao yang ketakutan itu menahan tubuh Sehun dan berteriak ketakutan.
Mereka berlari begitu sampai ke lapangan basket. "Kriiiss! Ah! Akhirnya aku menemukanmu!" teriak Sehun.
Tao yang tadinya takut, kemudian memberanikan diri mendekati Kris. "Kris? Kenapa kau ada disini?"
Tak ada jawaban dari Kris. Sehun dan Tao berpandangan. Kemudian mereka kembali memandang Kris.
"Hei, Kris!" Sehun mengguncang tubuh Kris.
Tiba-tiba Kris ambruk ke lantai. Sehun dan Tao terdiam. Mereka terdiam selama tiga detik. Setelah itu... "HIIIIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEEEEE?!"
Mereka panik setengah mati. Tidak tahu harus berbuat apa, selain kejadiannya tiba-tiba, itu juga berada di tempat yang menurut mereka 'tidak tepat'. Mereka berusaha membangunkan Kris. Nafas Kris terengah-engah. Ia seperti lupa cara bernafas.
"Kris? Kris! Kris!"
"Tao! Cepat telepon 112!" ujar Sehun panik.
"Aduh, Sehun! Itu nomor kantor polisii!" Tao menggaruk-garuk kepalanya karena panik.
"Telepon seseorang! Siapa saja! Lihat! Nafasnya terputus-putus! Kris jangan matiii!"
Tao memencet tombol kontak dan menekan kontak siapa saja yang bisa dihubungi. "Halo? Halo? Toloooongggg~~!"
.
?
.
TOK! TOK!
Untuk sekian kalinya, tidak ada jawaban.
Pemuda yang bernama Wonyoung itu mendengus kecewa. Luhan dan Xiumin di belakangnya pun juga ikut mendesah kecewa. Sudah setengah jam mereka berada di depan pintu rumah Junmyeon. Dan Junmyeon tak membuka pintu rumahnya.
"Kupikir ini bukan saat yang tepat, Wonyoung-ssi. Dia baru saja tertimpa musibah," tutur Xiumin.
"Aku yakin, jika aku yang menghiburnya, dia akan kembali seperti semula," Wonyoung masih menggebu-gebu.
"Maaf, tapi ini bukan masalah sepele. Dia sekarang benar-benar tertekan..." lanjut Luhan. "Sebenarnya kami tidak berusaha memintamu untuk menenangkan Junmyeon hari ini juga..."
"Hah.. Junmyeon..." Wonyoung bersandar di pintu rumah Junmyeon. Ia berpikir sejenak.
Dari dalam sana, ada suara mesin jahit yang tengah bekerja. Mereka bertiga mendengarnya secara jelas. Luhan dan Xiumin masih bertanya-tanya, sedang apa Junmyeon di dalam sana? Wonyoung tiba-tiba tersenyum. Ia berjalan meninggalkan Luhan dan Xiumin.
"K-kau mau kemana, Wonyoung-ssi?" cegah Luhan.
"Ah, maaf. Aku harus pamit. Aku punya cara untuk menenangkan Junmyeon. Mungkin beberapa hari lagi aku akan kembali kesini..." jawab Wonyoung. Ia membungkuk pamit pada Luhan dan Xiumin kemudian pergi dari rumah Junmyeon.
Luhan dan Xiumin berpandangan. Sedetik kemudian mereka berlari menuju pintu rumah Junmyeon dan menempelkan telinga mereka masing-masing untuk menguping. Apa yang dilakukan oleh Junmyeon di dalam sana?
"Junmyeon sedang apa?" tanya Luhan pada Xiumin.
"Aku tidak tahu," jawab Xiumin. Ditempelkannya telinga kanannya, memfokuskan pendengarannya. Suara mesin jahit tadi tidak terdengar lagi.
Tiba-tiba dering handphone Luhan berbunyi. Nyaring sekali. Mereka kaget lalu cepat-cepat ambil langkah seribu dari pintu rumah Junmyeon. Setelah keluar pagar dan berlari beberapa langkah menjauh dari rumah Junmyeon. Luhan mengambil handphonenya. Tertera nama Tao di sana.
"Halo? Ya, Luhan disini..."
"Halo? Halo? Toloooongggg~~!"
Luhan menjauhkan telinganya dari handphonenya. Keras sekali suara Tao. "A-ada apa? Kenapa teriak-teriak?"
"Kris.. Kris.. Kris!"
"Kenapa kau panik? Ada apa dengan Kris?"
"..."
Luhan terkejut. "Apa? Lalu kalian kenapa menelepon kami? Baiklah...begini saja! Dimana kalian?"
"..."
"Baiklah! Akan kutelepon!" Luhan menutup teleponnya, kemudian menarik tangan Xiumin. "Ayo kita pulang! Kau ambil kunci mobil di kamarku, lalu kita pergi ke rumah sakit. Aku akan menelepon ambulans,"
Xiumin yang tidak tahu apa-apa itu hanya menuruti kakaknya dan berjalan mengikuti kemana kakaknya pergi.
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
Dua perawat mendorong katil pasien menuju ruang UGD. Pasien yang mereka bawa adalah Kris. Kris tak berdaya dengan masker oksigen di wajahnya. Sementara Luhan, Tao, Sehun dan Xiumin mengikuti dua perawat itu. Setelah sampai di depan pintu UGD, mereka dihadang salah satu perawat.
"Maaf, kalian tunggu di luar. Selain dokter, perawat dan pasien dilarang masuk!" ujar perawat itu.
Tanpa protes keempat orang itu hanya bisa pasrah menunggu Kris di luar ruang UGD rumah sakit itu. Mereka duduk di kursi tepat di sebelah pintu ruang UGD.
"Bagaimana dia bisa sampai seperti ini?" tanya Xiumin pada Tao.
"Saat kami sampai di tempat itu, keadaannya sudah seperti itu," jawab Tao.
"Mungkin dia juga tertekan..." gumam Sehun.
"Tertekan kenapa? Disini yang jadi korbannya kan Junmyeon?" tanya Luhan.
"Aku hanya berpendapat bahwa Kris sedang patah hati. Entah karena tahu siapa Suho sebenarnya atau tertekan dengan hal lain. Dia pasti sudah tahu apa yang terjadi di kantor," jawab Sehun.
"Bagaimana dia bisa tahu?" tanya Luhan lagi.
"Dia kan putra tunggal CEO Lotte Fashion," ujar Tao.
"Berarti dia juga tahu apa yang terjadi dengan Junmyeon?" Kali ini Xiumin yang bertanya.
"Kemungkinan besar... Iya," jawab Sehun.
Tak lama, dokter pun keluar dari ruang UGD. Dokter itu memandang keempat orang itu. "Apa salah satu dari kalian keluarga pasien bernama Kris Wu?"
Sehun menoleh ke dokter itu, lalu bangkit dari duduknya. "Maaf dokter, kami teman-temannya. Kami yang mengantar Kris kesini,"
"Bisa kita bicara di ruanganku?" tanya dokter itu pada Sehun.
Sehun menoleh ke arah Tao, Luhan dan Xiumin. Kemudian Sehun tersenyum pada mereka. "Aku akan segera kembali, setelah tahu apa yang terjadi pada Kris aku akan beritahu kalian dan pihak keluarga,"
Luhan, Xiumin dan Tao tersenyum dan mempersilahkan Sehun pergi ke ruang dokter. Sehun pun mengikuti dokter itu ke ruangan dokter tak jauh disana. Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya Tao melihat sosok Sehun berjalan dengan menggenggam map coklat dan menelepon seseorang.
"... Ya. Sekali lagi, maaf mengganggu. Saya akan temui anda di ruang UGD..." Kemudian Sehun menutup teleponnya.
Luhan, Tao dan Xiumin pun menghampiri Sehun. "Bagaimana kata dokter?" tanya mereka bertiga hampir bersamaan.
Sehun menghela nafasnya. "Berita buruk. Kris sakit parah. Dan penyakit itu diderita Kris sudah lama,"
"Penyakit apa?" tanya Xiumin.
"Myocardithis. Radang otot jantung. Ia tidak bisa terlalu lelah. Bukan hanya ototnya saja yang meradang, tapi jantungnya ikut membengkak karena radang itu. Kalau membengkak, akan berdampak buruk pada Kris. Bisa-bisa berakhir dengan kematian," jelas Sehun.
"Kenapa mengerikan sekali..." gumam Xiumin.
"Lalu, siapa yang kau telepon tadi?" tanya Tao.
Sehun pun menjawab. "Presdir Wu. Kuberanikan diri menelepon dan ceritakan kejadian ini. Dia panik dan langsung menuju kesini. Menemuiku dan memberikan map ini untuknya. Xiumin unnie, bisa kau temani aku disini?"
"Tentu saja," Xiumin mengiyakan.
"Oh, ya! Katanya Kris sudah dipindahkan ke ruang rawat. Luhan oppa dan Tao menemani Kris saja sampai Presdir Wu datang," ujar Sehun lagi.
"Baiklah,"
Luhan dan Tao langsung pergi ke ruang rawat. Sementara Sehun dan Xiumin menunggu Presdir Wu di tempat tadi. Sehun dan Xiumin berbincang-bincang di ruang tunggu itu. 30 menit kemudian, seorang wanita setengah baya menghampiri Sehun dan Xiumin.
"Dimana Kris? Dimana anakku?" ujar wanita itu.
Sehun terkejut. Wanita itu adalah Presdir Wu. Sehun berdiri lalu membungkuk hormat padanya. "Presdir Wu.."
"Cepat katakan dimana dia sekarang?!" Presdir Wu tampak panik.
"T-tenangkan diri anda dulu. Kris sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat..." Xiumin menenangkan Presdir Wu.
"Tapi sebelumnya, saya ingin memberikan anda ini..." Sehun menyodorkan map coklat dari dokter tadi.
Presdir Wu menerimanya. Membuka isinya. Itu surat diagnosa penyakit Kris. Ada dua kertas. Satu kertas adalah surat diagnosa dua tahun lalu. Satu kertas lagi adalah kertas diagnosa baru. Diketahui Kris pernah berobat di dokter yang sama. Presdir Wu langsung lemas. Air matanya sudah turun ke pipinya.
"Antar aku ke sana! Antar aku ke ruang rawat Kris!"
.
.
.
Eyes, Nose, Lips
.
.
.
Dua bulan kemudian
.
TOK TOK TOK
.
Tak ada jawaban.
.
TOK TOK TOK
.
Untuk kedua kalinya tak ada jawaban.
.
TOK TOK TOK
CKLEK! Pintu rumah itu akhirnya terbuka. Tampak Junmyeon dengan keadaan kusut. Mata merah, rambut pendek yang terurai bebas dan blus dua bulan kemarin yang masih ia kenakan. Belum sempat mengatakan sesuatu Junmyeon sudah dipeluk erat oleh wanita setengah baya. Wanita itu menangis. Mata Junmyeon membulat. Bola matanya menangkap seseorang di belakang wanita yang memeluknya.
"Wonyoung hyung..."
Wonyoung hanya tersenyum. Lalu Junmyeon melepas pelukan wanita itu. Setelah terlepas, terlihat wajah wanita yang sangat ia kenal. Junmyeon terkejut.
"Mama?"
"Ternyata kau masih mengingatku, Nak.." Wanita itu membelai rambut blonde Junmyeon. "Putriku yang cantik..."
"Tapi..." Junmyeon mengelak. "A-aku laki-laki..."
"Itu bukan masalah lagi bagi Mama. Yang penting Mama senang bisa bertemu denganmu lagi, Junmyeon.." ujar wanita itu.
"B-bagaimana Mama tahu kalau aku ada disini?" tanya Junmyeon.
"Aku yang membawa Mama kesini," sela Wonyoung. "Sudah kubilang, aku tahu alamat rumahmu. Oh, dan satu lagi! Selama ini aku yang mengirimkan uang untukmu, bukan Mama,"
"Tidak apa-apa. Bukan masalah. Tapi... Sekarang aku kehilangan pekerjaanku..." ujar Junmyeon sedih.
"Aku tahu.." sela Wonyoung lagi.
"Apa?" Junmyeon terkejut.
"Kakak-beradik yang menjadi tetanggamu itu sudah menceritakan semuanya padaku. Dua bulan ini aku sudah sepuluh kali mencoba membuatmu keluar, tapi tidak bisa.." jawab Wonyoung. "Dan ternyata kau menyeramkan saat stres,"
Junmyeon hanya meringis pilu. Wonyoung masuk ke dalam rumah Junmyeon. Kain-kain aneka jenis dan warna berserakan di lantai. Begitu pula dengan kertas-kertas sobek dan penuh dengan coretan. "Berantakan sekali," gumam Wonyoung.
Baru selangkah Junmyeon ingin menyusul kakaknya, ia ambruk tak sadarkan diri ke lantai. Wonyoung dan wanita setengah baya itu kaget dan mencoba membangunkan Junmyeon.
"Junmyeon? Junmyeon!" Wanita setengah baya itu panik.
"Myeon? Myeon?" Wonyoung menepuk-nepuk pipi Junmyeon. "Dia kelelahan, Ma. Sebaiknya kita bawa Junmyeon ke kamarnya,"
Wanita itu mengiyakan. Bersama Wonyoung, wanita itu mencoba membopong Junmyeon ke kamarnya.
.
?
.
"Hari Jumat, jam 6 petang. Sudah dua bulan ini kita di rumah sakit, untung saja Kris sadar dari komanya tadi," ucap Tao.
Sehun mendesah. Luhan dan Xiumin tampak kelelahan. Dua hari pertama setelah kejadian, mereka bolak-balik rumah sakit karena Kris. Presdir Wu mencoba meminta klarifikasi sejelas-jelasnya tentang Junmyeon. Membuat Luhan dan Xiumin ikut buka suara, walaupun Sehun dan Tao adalah orang pertama yang 'diinterogasi' oleh Presdir Wu. Bukan hanya mengenai Junmyeon, namun juga Kris. Dan hari itu, mereka seharian menjenguk Kris dan berbincang dengan Presdir Wu.
"Aku masih tidak berani ke rumah Junmyeon," celetuk Xiumin.
"Apakah dia masih tertekan? Apa kita juga harus menceritakan keadaan Kris?" pikir Luhan.
"Oppa, bukan saatnya kita menceritakan keadaan Kris pada Junmyeon. Walaupun ia sudah membuka pintu rumahnya untuk kita, apa kita setega itu menceritakan keadaan pacarnya padanya?" Xiumin memarahi Luhan.
"Tapi jangan terlalu lama kita diam saja akan keadaan Kris. Junmyeon juga berhak tahu..." Sehun menengahi.
Tao sekilas melihat pagar rumah Junmyeon terbuka lebar. "Teman-teman... Kenapa pagar rumah Suho nuna terbuka?"
"Benarkah?" tanya Xiumin. Lalu ia mendekat ke arah Tao dan melihat rumah Junmyeon. "Benar! Apakah kita perlu kesana?"
Sehun dan Luhan mendekat ke arah Xiumin dan Tao. Mereka berempat berpandangan, lalu mereka mengangguk tanda sepakat. Mereka berempat berjalan menuju rumah Junmyeon. Saat mereka hampir sampai, tampak Wonyoung dan wanita setengah baya keluar dari rumah Junmyeon. Mereka pun berpapasan.
"Hai kalian! Kalian ingin bertemu Junmyeon?" tanya Wonyoung.
"Bagaimana dengan Junmyeon?" tanya Luhan.
"Junmyeon sudah tidak apa-apa sekarang. Terima kasih sudah memberitahu kami," ujar wanita itu.
"Kami senang bisa membantu," tanggap Xiumin.
"Tolong jaga dia!" Wonyoung menepuk pundak Sehun.
"Akan kuusahakan..." Sehun tersenyum.
Wonyoung dan ibunya itu pergi meninggalkan mereka berempat. Sehun mengambil langkah cepat untuk menemui Junmyeon. Sehun menatap Junmyeon hendak menutup pintu rumahnya, setelah itu ia berteriak. "Suhoo!"
Junmyeon kaget saat 'nama palsunya' terpanggil. Ia menatap ke sumber suara. "Sehun-ah?"
Sehun membuka lebar-lebar pintu pagar dan berlari ke arah Junmyeon. Ia lompat dan memeluk Junmyeon erat. "Suhooo~! Suho! Aku merindukanmu~!"
Junmyeon yang masih kaget itu tergagap. "I-iya maafkan aku..."
Luhan, Xiumin dan Tao menyusul Sehun. Ikut memeluk Junmyeon. Junmyeon masih kaget akan perlakuan teman-temannya itu. "Teman-teman..."
"Hey, Myeon! Kau memotong rambutmu? Kapan kau pergi ke salon?" celetuk Luhan.
"Hahaha..." Junmyeon tertawa kecil.
"Aku heran, kenapa kau terlihat cantik dengan rambut panjang atau pendek? Atau jangan-jangan kau memang perempuan?" Xiumin juga ikut-ikutan.
Mereka tertawa sampai akhirnya Junmyeon melepas pelukan. Menatap Sehun dan Tao. "Maafkan aku. Aku...selama ini berbohong pada kalian..."
"Kau tidak perlu minta maaf. Kami sudah tahu semuanya," Sehun menyela.
"K-kalian tahu?"
"Ceritanya panjang, Suho nuna. Aku malas menceritakannya lagi," Tao meletakkan tangannya di saku celana.
"Tao... Kalau kau sudah tahu semuanya, lalu kenapa kau masih memanggilku nuna?" tanya Junmyeon.
"Haruskah aku memanggilmu hyung saat kau berpakaian seperti itu? Orang-orang akan menganggap kita tidak waras, Nuna..."
Junmyeon tertawa. Ia menatap Sehun. "Sehun..."
"Aku tahu apa yang ada dipikiranmu," Sehun menangkup pipi Junmyeon. "Suho, Junmyeon atau siapapun namamu aku tak peduli. Jenis kelaminmu pun aku tidak peduli. Kau sahabatku. Aku juga sahabatmu..."
"Hun..." Junmyeon terpaku.
"Hey! Asal jangan lupakan kami! Kami yang membantumu dari wujud laki-laki sampai perempuan!" Xiumin berkacak pinggang. Begitu pula dengan Luhan.
Junmyeon tertawa. Ia merangkul empat kawannya itu. "Kalian adalah keluargaku. Kakak dan adikku. Aku bersyukur punya kalian. Oh, iya. Aku juga menambahkan Kris disini..."
Mendengar nama Kris, empat orang itu langsung terdiam dan memasang ekspresi sedih dan bingung. Junmyeon bingung akan perubahan ekspresi keempat kawannya itu.
"Ada apa dengan kalian? Oh, iya! Mana Kris? Apa kalian bersamanya?" tanya Junmyeon.
"Kenapa...kau menanyakan Kris?" Sehun bertanya kembali.
"Aku hanya ingin meminta maaf padanya, karena sebelum aku ke rumah aku sempat berpapasan dengannya. Aku meminta dia menjauh dariku. Saat itu aku sedang tertekan. Apa kalian melihatnya?" jelas Junmyeon.
Luhan, Tao, Sehun dan Xiumin bertatapan. Lalu Tao membuka suara. "Kris... Sedang ada di rumah sakit.."
Mata Junmyeon membulat.
"Kejadiannya tepat saat kau mengurung dirimu di rumah..." lanjut Xiumin.
"Penyakitnya parah. Radang jantung..." tambah Luhan.
Sehun memperhatikan Junmyeon yang shock. "S-suho?"
"A-apa? Kris..."
BRUK!
"Junmyeon? Junmyeon! Junmyeon!"
.
.
.
.
.
To Be Continued
