Summary : 2 tahun setelah perang dunia shinobi keempat berakhir, Sasuke, Kakashi, Sakura, dan Sai mendapat misi untuk mencari Naruto yang menghilang saat perang berakhir. dengan Mangekyo milik Sasuke, mereka berempat melompati lubang hitam dan sampai di dimensi lain. sebuah Konoha yang sangat berbeda dengan Konoha tempat asal mereka. dimana disini Minato, Kushina, Obito, Rin bahkan Itachi masih hidup. dan Naruto yang mereka temui di dunia itu adalah seorang perempuan. jadi dimana Naruto yang sesungguhnya mereka cari?
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei.
Warning : OOC, OC, Gaje, Typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!
Pairing : SasuFemnaru!
I Don't Own Naruto!
.
.
Langit malam saat itu terlihat pucat dengan gumpalan awan tipis yang berarak, sesekali akan menutupi sinar rembulan dan membuat bayangan hitam bergerak di bumi yang dinaunginya.
Dibawahnya, di tengah desa Konoha yang biasanya damai itu kini dipenuhi para ninja yang bersiaga dan memasang ekspresi cemas. Menatap sebuah kekai segi empat berwarna keungunan yang melingkupi salah satu area tanah pelatihan di desa shinobi tersebut.
Dengan semua kekacauan itu, mereka bahkan tak menyadari kelebatan bayangan hitam yang memasuki area desa dengan melompati dinding tinggi perbatasan. Hampir tanpa suara, mereka berlari cepat melompati atap dan mendekati area kekai yang terlihat bersinar meski dari kejauhan.
Di dalam kekai itu, terlihat jelas para anggota akatsuki yang berdiri berhadapan dengan kumpulan ninja yang salah satunya mengenakan jubah putih Hokage.
Sang Yondaime-Hokage berambut kuning itu terlihat tegang dengan keringat tipis yang membasahi dahinya. Menatap musuh di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.
Minato telah menganalisa keadaan mereka saat ini. 7 orang musuh. 6 orang rekan dengan satu orang cedera. Dan putrinya.
Bukan keadaan yang bagus.
Secara teknis... mereka kalah jumlah. Cara yang tersisa hanyalah satu lawan satu. Tapi menghadapi anggota akatsuki sendirian terlalu beresiko... dia juga harus melindungi Naruto. Itu akan sulit. Meskipun ia menggunakan Hiraishin, anggota Akatsuki bukanlah lawan yang enteng. Melawan satu dari mereka mungkin mudah baginya. Tapi jika satu kelompok seperti ini, ia bahkan akan kesulitan.
Sambil mempertimbangkan strategi lain... Minato sempat bertanya dalam hati alasan anggota Akatsuki menyerang putrinya, apalagi di dalam tembok Konoha. Itu terlihat seperti misi bunuh diri dan kalaupun mereka berhasil, apa yang mereka dapat. Kemungkinan besar adalah mereka akan dicap sebagai kriminal, dan perdamaian yang selama ini mereka jaga akan sia-sia.
Perang.
Kata itu membuat Minato tersentak. Akatsuki ingin mengobarkan perang?
Setelah sekian lama? Kenapa? Bukankah bertahun-tahun ini mereka sudah bersusah payah bekerjasama agar kedamaian terus terjaga dan tak ada lagi perang antar desa ninja?
Ada hal yang aneh. Minato kembali menatap sekumpulan ninja berjubah awan merah itu.
Organisasi khusus itu, Akatsuki. Adalah Organisasi yang terbentuk untuk menjaga perdamaian di lima negara Shinobi. Anggotanya pun bukan orang biasa, mereka kumpulan ninja spesial dari tiap negara. Dan saat kau menjadi anggota Akatsuki, kau bukan lagi menjadi anggota desa Shinobi. Kau menjadi ninja netral yang tak memihak manapun. Hanya melakukan apapun demi perdamaian. Bahkan menghancurkan desa asalmu jika harus. Hal itu disimbolkan dengan menggores ikat kepala dari desa asalmu. Membuat mereka tampak seperti missing-nin. Bedanya adalah anggota Akatsuki selalu mengenakan jubah hitam bersimbol awan merah, dan identitas serta nama mereka akan dijelaskan secara detil dalam Bingo-book.
Kenapa mereka menyerang Konoha tanpa alasan? Apa Konoha telah membuat kesalahan? Kalaupun benar, biasanya mereka akan memberikan peringatan dan mengadakan pertemuan dengan para Kage. Melakukan serangan tanpa alasan seperti ini secara teknis mereka melanggar janji perdamaian yang artinya perang.
Minato menunduk menatap sosok sang putri yang tak sadarkan diri sebelum menatap kedepan penuh konsentrasi.
Apa yang harus dilakukan? Pilihan terbaik apa yang bisa ia ambil?
Minato tersentak saat tiba-tiba barier yang mengelilingi mereka hancur berantakan. Di antara kilauan pecahan kekai itu, beberapa bayangan berkelebat dan mendarat di depan kelompok Yondaime dan Kakashi.
Kibaran jubah hitam dengan motif awan merah mereka terlihat mencolok di tanah lapang yang tandus karena ledakan.
Seluruh ninja Konoha di tempat itu menatap sekelompok ninja yang baru datang itu lalu beralih menatap kelompok lain yang terlihat identik.
"Apa kau merindukanku,Minato?" sapa Orochimaru sambil menyeringai dengan mata emasnya yang berkilau.
Sesaat Minato membeku, menatap sekelompok ninja yang baru datang itu. Sebelum tiba-tiba ia sadar dan tersenyum.
"Kau takkan tahu betapa senang aku melihatmu, Oyaji,"
.
.
.
## Searching for The Sun ##
By : Ayushina
.
.
Chapter 11
.
Dua kelompok ninja yang identik –minus beberapa orang- itu sesaat hanya saling pandang. Mengamati satu sama lain dengan wajah tanpa ekspresi.
Sedetik setelah barier kedua itu hancur, seluruh ninja Konoha yang semula hanya bisa berdiri diam langsung melesat mengepung para ninja asing yang telah dengan berani menyerang Hokage mereka di tengah kota. Sekejap saja dua kelompok ninja –tiga plus kelompok Minato- sudah dikelilingi para ninja Konoha yang seluruhnya memasang posisi siap menyerang. Beberapa Anbu dan ninja kelas tinggi langsung memposisikan diri di depan kelompok Minato. Bersiap melindungi sang Hokage jika dua kelompok ninja asing itu kembali menyerang.
Ketegangan Minato sesaat langsung mencair meski ia tak mengurangi kewaspadaannya. Menatap para anggota Akatsuki –dan kembarannya- dengan mata penuh perhitungan.
Untuk sesaat suasana terasa sangat tegang hingga para anggota Akatsuki yang baru saja datang itu mulai berkomentar.
"Huh... apa-apaan ini? Sekelompok penyamar? Kalian benar-benar ingin mati, heh?" sosok berkulit biru itu menyeringai dengan giginya yang berupa taring.
"Mencoba meniru seniku, Un? Seni adalah ledakan! Kalian akan kujadikan debu, Un!"
"Beraninya... kalian telah menghina Jashin-Sama..."
"Dan kupikir Orochimaru sudah gila..."
"Hm... jika aku memotong kepala kalian lalu kutukarkan... jumlahnya..."
Seluruh anggota Akatsuki itu melirik Kakuzu.
"Jadi selama ini itu yang kau pikirkan, Un? Kuledakkan kau sebelum bisa memotong kepalaku!" teriak Deidara dengan murka.
Mengabaikan anggotanya yang saling berdebat, salah satu sosok berjubah itu berbalik menghadap kelompok Minato.
"Aku senang kami tidak terlambat," ucap sosok berambut orange itu sambil menatap sang Hokage.
"Ya, senang bisa melihatmu lagi, Yahiko-san." Ucap Minato pada ketua Akatsuki sekaligus kakak seperguruannya itu, "Walau aku masih tak mengerti apa yang terjadi," lanjut Minato beralih menatap anggota Akatsuki yang sebelumnya ia lawan.
"Aku tak tahu kau juga membawa anggota Akatsukimu kemari, Kakashi," Bisik Minato tanpa melirik sang murid yang terlihat menganalisa keadaan di depan mereka. Kemungkinan paling tinggi mengapa ada dua anggota Akatsuki adalah salah satu dari kelompok di depannya berasal dari dimensi lain. Dimensi Kakashi lebih tepatnya.
"Itu tak mungkin, Sensei. Di tempat kami mereka semua sudah mati." Jawab Kakashi pelan dengan wajah serius, "Mereka juga terlihat berbeda..." lanjutnya sambil menatap sosok Akatsuki berambut orange di depannya. Tak seperti 'Pein' dari dunia mereka, ketua akatsuki itu tak memiliki tindikan apapun di tubuhnya, dan ia juga tidak memiliki Rinnegan. Seolah itu tubuh asli dan bukan mayat yang dikendalikan oleh cakra. Mereka juga bukan tubuh edotensei... dan Minato memanggilnya Yahiko, bukan Pein atau Nagato.
Kelompok Akatsuki yang menyerang Naruto itu hanya diam menatap anggota Akatsuki yang baru datang dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka seakan tak peduli pada sepasukan ninja yang sudah mengepung mereka dari segala arah.
"Kupikir Orochimaru bisa menjelaskannya," Ucap Yahiko sambil melirik sosok Sannin yang tengah menyeringai menatap 'kembarannya' di ujung lapangan, "Dialah yang memberiku informasi tentang penyerangan ini,"
"Ya, sepertinya hanya dia yang mengetahui apa yang terjadi," jawab Minato sambil memandang sang 'paman'.
"Khu khu khu, tak kusangka kau berhasil melakukannya... harus kuakui aku kagum," kata Orochimaru masih sambil menyeringai.
Sosok Orochimaru yang lain itu hanya menatap tanpa ekspresi sebelum ikut tersenyum.
"Seseorang harus melakukannya jika anda terlalu pengecut untuk mencoba, Orochimaru-sama," jawab sosok itu dengan nada menyindir.
"Aku penasaran... jelas sekali mereka bukan henge... dan aku sempat melihat kemampuan mereka... bagaimana bisa kau membuat klon seperti itu... Kabuto-kun," tanya Orochimaru penuh minat.
Sosok di depannya itu masih tersenyum sebelum dalam sekejap ia menyobek sesuatu dari wajahnya menampakkan wajah lain yang cukup familiar.
"Hanya melakukan ini dan itu..." jawab Kabuto sambil menatap mantan tuannya itu.
"Hm... sepertinya aku terlalu meremehkanmu," kata Orochimaru dengan wajah serius.
"Aku khawatir ini sudah menjadi masalah pribadi Akatsuki, biarkan kami membereskannya sendiri," kata Yahiko sambil melangkah maju. Menghadap kelompok peniru di depannya.
Minato mengangguk, "Kuserahkan padamu, tapi bisakah kalian melakukannya di luar desa?" pinta Minato.
"Aku tak bisa berjanji, tapi kusarankan kalian menyingkir," kata Nagato.
Minato mengangguk, dia memberi isyarat agar para ninja yang berada disana menyingkir namun tetap berada dalam jarak pandang jika saja pertempuran itu di luar kontrol.
Untung saja mereka berada di area latihan yang jarang terdapat bangunan.
"Hokage-sama, mohon ijin untuk tetap berada di sini," pinta Itachi sambil berdiri. Setelah melihat Minato mengangguk, Itachi melangkah maju hingga berdampingan dengan para anggota Akatsuki. Beberapa tahun yang lalu, sang Uchiha itu sebenarnya adalah anggota Akatsuki, sebelum akhirnya memilih keluar dari organisasi itu dengan alasan, ia terlalu mencintai desa Konoha dan tak yakin bisa menjaga prinsip Akatsuki yang 'netral'.
"Sepertinya aku harus membunuhmu nanti, Un. Setelah aku membereskan parasit ini," kata Deidara sambil menunjukkan mulut di tangannya.
"Dengan senang hati, Dei-kun," jawab Itachi sambil tersenyum, yang langsung membuat tiga garis siku-siku muncul di kepala sang gila ledakan.
"Aku berubah pikiran, Kubunuh kau sekarang,Un!"
Sementara itu kelompok Minato hanya memandang situasi dalam diam.
"Aku akan membawa Naruto ke tempat yang lebih aman," kata Minato sambil bersiap menggunakan Hiraishin. Sekejap kemudian ia sudah menghilang dalam kilatan kuning.
Kabuto menatap kepergian Minato sambil berdecih. Ia memandang sekeliling dimana seluruh ninja Konoha yang menyingkir meski masih memasang posisi siaga di kejauhan lalu kembali menatap kedepan dimana sosok Orochimaru menatapnya dengan senyuman.
"Sayang sekali rencanaku kali ini gagal... aku tak mengira kalian akan mengetahuinya secepat ini," kata Kabuto sebelum melanjutkan, "Nah... sampai jumpa lagi Orochimaru-sama,"
Bersamaan dengan itu sosok Kabuto mulai menghilang dan melebur ke dalam tanah.
Secepat kilat para anggota Akatsuki yg baru datang itu melesat dan menyerang para penyamar yang mulai menghilang.
'BUM!'
Tanah terasa bergetar sesaat diikuti asap debu yang mengepul.
"Lain kali, Orochimaru-sama," suara Kabuto menggema.
Saat asap debu mulai menghilang para anggota akatsuki itu terlihat berdiri di kawah ledakan.
"Mereka kabur," Kata Kisame sambil meletakkan Samehada miliknya diatas bahu. Para anggota akatsuki itu menatap sang Ketua, hingga beberapa dari mereka terlihat menghilang dalam sekejap.
Orochimaru menatap tempat Kabuto sebelumnya berada dengan ekspresi berpikir.
"Sekarang setelah para pengecut itu pergi... ayo kita selesaikan duel kita, Un," kata Deidara sambil melayangkan kunainya ke arah Itachi.
Itachi dengan cepat melompat mundur dan menangkis kunai itu sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau kita minum teh dulu, Dei-kun?" kata Itachi dengan senyum prince charming-nya.
"Kali ini aku akan membunuhmu, Keriput!" teriak Deidara dengan otot-otot yang menyembul di dahinya. Ia sudah bersiap mengambil peledak di kantongnya sebelum suara sang ketua akatsuki menghentikannya.
"Hentikan, Deidara. Kita kesini bukan untuk berkelahi," kata ketua Akatsuki berambut oren itu dengan wajah serius.
"Cih!" desis Deidara sambil memalingkan muka. Disampingnya Itachi berjalan mendekat dengan wajah yang masih tersenyum. Tanpa bisa ditahan sosok blonde itu melayangkan tinjunya ke wajah Itachi yang dengan mudah menangkisnya, keduanya saling bertukar tendangan dan pukulan tanpa menghiraukan perintah sang ketua ataupun ninja di sekelilingnya.
Yahiko hanya menghela nafas dan berbalik menghadap Minato yang telah kembali dengan Hiraishin.
"Mereka kabur?" tanya Minato sambil memandang sekeliling.
"Ya, untuk sementara," kata Yahiko.
"Ini membuatku khawatir, kita bicara di kantorku," kata Minato sebelum berbalik menatap tim tujuh,"Kalian baik-baik saja?"
"Ya, Hokage-sama," jawab Kakashi diikuti anggukan seluruh ninja dari dimensi lain kecuali Sasuke yang memalingkan wajahnya.
"Sasuke-san, aku memerintahkanmu untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit." Kata Minato dengan wajah serius, "Ini perintah."
"Baik, Hokage-sama,"
###
Minato berdiri sambil menatap seluruh desa Konoha dari jendela lebar di kantornya. Dibelakangnya Sang ketua Akatsuki terlihat duduk sambil memasang wajah berpikir. Sosok Orochimaru juga berada di ruangan itu. Berdiri bersandar di dinding dengan mata emasnya yang mengawasi tiap ekspresi sang Hokage.
"Ini akan jadi masalah besar bila kita tak segera bertindak," Kata Yahiko memecah keheningan.
Minato menghela nafas pelan dan berbalik menatap dua anggota Akatsuki yang berada di ruangan itu.
"Aku masih tak mengerti tujuan mereka menyerang putriku," kata Minato sambil duduk di kursi kerjanya.
"Itu sudah jelas," kata Orochimaru, "Mereka ingin memecah belah kita dengan memanfaatkan Naruto. Siapapun di dunia Shinobi tahu bagaimana protektifnya dirimu, dan menyerangnya di tengah desa dengan seluruh ninja sebagai saksinya pasti akan menghancurkan perjanjian kita. Jika tak melihat dengan mata kepala sendiri, aku juga takkan percaya kalau mereka palsu,".
"Ya, aku pun hampir tertipu. Kita harus memberitahukan kejadian ini pada seluruh Kage. Dan memperingatkan mereka agar tidak tertipu. Ini akan sulit mengingat sangat sulit membedakan kalian. Bagaimana mungkin dia bisa membuat klon seperti itu?" Renung Minato dengan wajah serius.
"Aku punya dugaan bagaimana ia bisa membuat klon seperti itu," kata Orochimaru.
"Dan jika dugaanku benar, kita dalam masalah serius,"
###
Di salah satu ruangan di rumah sakit Konoha, sosok Uchiha dari dimensi lain terlihat tengah berbaring di sebuah ranjang sementara sosok lain berambut pink tengah duduk disampingnya sembari menyelimuti bagian mata Sasuke dengan cakra hijau. Sesekali Sakura mengerutkan alisnya sembari menatap penuh konsentrasi ke arah Sasuke. Setelah beberapa lama cakra hijau itu menghilang diikuti sang kunoichi yang menghela nafas lega.
"Lihat, tak terlalu sulitkan?" kata Sakura agak kesal. Ia menyeka keringat yang mengalir di dahinya sementara sosok yang tengah berbaring itu hanya memalingkan wajah.
"Bagaimana, Sakura?" tanya Kakashi yang sejak tadi hanya memandang dari ujung ruangan sambil bersandar di dinding. Sai berdiri tak jauh darinya.
"Seperti yang kuduga, dia membuat otot-otot di sekitar matanya terlalu tegang karena kelelahan. Beberapa syaraf matanya kembali pecah namun sudah tak apa sekarang. Syaraf penglihatannya juga menegang karena stress yang menumpuk. Jika hal itu tak segera diobati bisa berdampak serius pada matanya. Untung saja 'Kapten Anbu yang Hebat' ini dengan senang hati membiarkan dirinya diobati," kata Sakura dengan nada menyindir di kalimat akhir.
"Aku senang tak ada hal serius yang terjadi," kata Kakashi sambil tersenyum.
"Ya, tapi tetap saja dia tak boleh menggunakan mangekyou untuk sementara waktu. Terutama jutsu dimensi yang membawa kita kemari. Kita tak akan bisa kembali setidaknya sampai kondisi Sasuke benar-benar membaik," lanjut Sakura.
"Aku tak akan kembali sebelum menemukannya," kata Sasuke sambil berbalik dan menatap mereka tajam.
"Sasuke...,"
"Aku tak peduli apapun yang kau katakan, Kakashi!" bentak Sasuke. Tak ingin mendengar apa yang ia tahu akan dikatakan mantan gurunya itu.
Suasana terasa hening saat keempat ninja dari dimensi lain itu hanya diam sebelum memalingkan wajah mereka dari sosok raven yang tengah berbaring di ranjang.
Sebuah ketukan di pintu membuat mereka semua menoleh dan mendapati Obito berdiri di balik pintu dengan raut wajah serius. Sangat berbeda dengan ekspresi konyol yang biasa mereka lihat beberapa minggu ini.
"Kakashi, kita harus bicara," kata Obito sambil mengedikkan kepalanya ke samping. Tanpa menjawab, Kakashi berjalan keluar dari kamar rumah sakit itu diikuti Obito di belakangnya. Saat kedua sosok itu menghilang dari pandangan, sosok Itachi menggantikannya di depan pintu. Sakura dan Sai berpandangan sesaat sebelum melangkah pergi.
Meninggalkan Sasuke sendiri di dalam kamar, hingga Itachi melangkah masuk dan menutup pintu.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Itachi sambil duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Sakura.
"Hn," jawab Sasuke tanpa memandang sosok disampingnya.
Keduanya hanya diam sementara korden putih di samping jendela berayun pelan.
Mata hitam milik sang kapten ANBU itu menelusuri dengan seksama sosok pucat yang lebih muda darinya itu dalam diam. Seakan mematri sosok dari dimensi lain itu dalam ingatan.
"Aku senang kau baik-baik saja," kata Itachi akhirnya, dengan senyum tipis di bibirnya.
Sasuke masih diam dan tak mau memandang sosok yang mirip sang kakak.
"Boleh aku meminta sebuah permohonan?" tanya Itachi lagi.
Sasuke tak menjawab, dan selama beberapa saat yang lama keduanya tetap diam. Hingga Sasuke menggumam pelan.
"Hn,"
"Boleh aku memelukmu?" pinta Itachi cepat.
Tubuh Sasuke sekejap membeku, sebelum ia bisa bereaksi, Itachi sudah bangkit dan melingkarkan lengannya di tubuh Sasuke.
"Aku bersyukur kau baik-baik saja." Bisik Itachi pelan.
" Maaf, aku tak bisa melindungimu di dunia ini. Aku memang kakak yang tak berguna." Bisiknya lagi sambil mengusap lembut rambut Sasuke.
"Aku tahu kalian berdua berbeda, dan kau mungkin tak akan pernah menganggapku sebagai kakak. Aku di dunia sana pasti seorang yang sangat berbeda denganku. Tapi aku hanya ingin berterima kasih. Terima kasih telah menunjukkan padaku. Sosok adikku yang telah dewasa."
"Adik yang sudah tak kumiliki lagi,"
"Terima kasih, Sasuke,"
Sasuke masih tak bergerak, tak mengucapkan sepatah katapun.
Di depan pintu ruangan itu, Fugaku Uchiha berdiri dalam diam. Sedetik kemudian, ia melangkah pergi tanpa suara.
###
Langit masih gelap saat dua ninja itu berjalan beriringan menyusuri jalanan desa Konoha. Beberapa ninja –dan ANBU jika kau bisa melihat- masih berjaga di beberapa titik desa, bersiaga penuh jika saja musuh kembali menyerang. Kenyataan bahwa mereka bisa menyusup melewati kekai pelindung desa tanpa terdeteksi membuat para ninja itu was-was. Meski anggota akatsuki yang asli dan sang Hokage berada di desa, mau tak mau mereka harus memikirkan kemungkinan terburuk.
Obito hanya terdiam saat mengikuti Kakashi yang berjalan di depannya dengan santai. Mata kelamnya terus mengawasi punggung sang Hatake dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Tapi sang Uchiha tak mengatakan apapun, membiarkan sosok yang sama dengan teman satu timnya yang telah mati itu menuntun jalan.
Tak berapa lama, mereka keluar dari kompleks perumahan dan memasuki kawasan lapangan latihan. Melewati bekas pertempuran mereka dengan Akatsuki gadungan –yang masih diperiksa oleh beberapa ninja- dan memasuki lapangan latihan lain yang terlihat lama tak pernah digunakan. Terlihat dari rerumputan yang tumbuh lebih tinggi di sana-sini.
Sosok berambut putih itu terus berjalan membelah padang rumput kecil itu dengan Obito mengekor di belakang. Hingga ia berhenti di depan tugu batu di ujung lapangan.
Memorial Stone – Batu Peringatan.
Rasa nyeri yang familiar terasa di dada sang Uchiha saat matanya menatap nama 'Hatake Kakashi' yang terukir di permukaan batu. Secara refleks Obito menurunkan google yang terpasang di kepalanya dan menunduk.
Ia selalu membenci tempat ini.
Tempat yang akan mengingatkannya tentang kegagalan. Kegagalannya menyelamatkan teman yang berharga.
Meski bertahun-tahun berlalu. Meski kini ia telah menyandang gelar Jonin. Airmatanya akan selalu turun saat memandang deretan nama itu.
Ia masih bisa membayangkan bagaimana Kakashi akan mengolok-oloknya karena menangis. Dan menceramahinya panjang lebar tentang shinobi yang tak boleh menunjukkan emosi , tentang peraturan ninja–bla-bla-bla. Yang pasti akan sangat menyebalkan.
Ia ingin mengingat bagaimana wajah yang selalu tertutup masker dengan tatapan mata yang serius itu mengoloknya, mengejeknya . Tapi ia tak bisa.
Yang bisa ia ingat hanyalah bagaimana tubuh berlumuran darah itu tertimbun reruntuhan.
Ia masih ingat setelah menyelamatkan Rin dan memanggil sang sensei dengan kunai berujung tiga yang diberikan Kakashi. Setelah membantai ninja Iwa yang tersisa di tempat itu, ia harus menggali reruntuhan –dia tak akan meninggalkan Kakashi walau harus mati sekalipun- hanya untuk menemukan bagaimana tubuh itu terdiam dan tak bergerak lagi.
Itu salahnya kan?
Kalau saja Kakashi tak terluka untuk menyelamatkannya. Ia pasti bisa menghindari batu itu. Ia pasti masih hidup saat ini. Menjadi ninja hebat yang melebihi orang idiot seperti dirinya.
Setiap ia berada di tempat ini, pikiran 'kalau saja' akan selalu berputar di otaknya. Membuat berbagai kemungkinan yang akan terjadi 'kalau saja' ia membuat keputusan yang tepat. Kakashi pasti membencinya. Kakashi pasti tak akan pernah memaafkannya. Kakashi-
"Kau tahu Obito, aku senang aku yang mati di dunia ini,"
Suara yang amat dikenalnya itu membuat sang Uchiha tersentak dan langsung menoleh dan teringat. Bahwa 'Kakashi' ada di sampingnya. Berdiri berdampingan dengannya tanpa satupun luka, dan hidup. Ia memandangi samping wajah ninja berambut putih itu, yang sama sekali tak terlihat dengan masker dan ikat kepala yang menutup sisi matanya. Bukan, dia bukan 'Kakashi'.
"Jaga kata-katamu, brengsek! Apa yang kau tahu? Jangan bicara seenaknya seolah kau tahu rasanya. Kau hanya seseorang dengan wajah yang mirip dengannya. Yang dengan mudahnya tersenyum. Membaca buku porno di tempat umum. Kau sama sekali bukan dia! Kau bukan Kakashiku. Kakashiku tak akan pernah melakukan hal semacam itu! Jadi jaga mulutmu dan jangan bicara seolah kau adalah dia! Aku tahu dia tak akan pernah memaafkanku. Aku tahu dia pasti membenciku di alam sana!"
Obito memandang tajam sosok berambut putih yang sama sekali tak bergerak di sampingnya.
"Kau tak akan tahu bagaimana rasanya tiap orang memandangmu dan melihat kekecewaan di mata mereka. Berharap ninja jenius yang menjadi harapan desa itu masih hidup dan bukannya seorang idiot badut kelas sepertiku yang selamat. Kau tak tahu bagaimana sensei memandangmu kecewa tanpa mengatakan apapun! Kau tak akan tahu bagaimana gadis yang kau cintai menangis setiap kali mendengar nama itu! Nah, jadi katakan padaku, orang asing. Apa yang kau tahu tentang tempat ini. Tentang apa yang dia rasakan?"
Kata-kata itu dengan mudah meluncur di mulut Obito. Mengeluarkan semua perasaan yang tertimbun di hatinya selama ini. Ia tak peduli dengan airmata yang mengalir deras di wajahnya. Memburamkan pandangannya dengan gogle yang masih terpasang di wajahnya.
Awalnya dia benar-benar senang saat melihat Kakashi. Mengira teman lamanya itu benar-benar kembali. Menjalankan misi bersama seolah tak terjadi apapun. Tapi ia salah. Orang ini bukanlah Kakashinya. Tak akan pernah menjadi Kakashinya.
"Ya, aku tahu," sosok di sampingnya itu menoleh. Menatapnya dengan mata yang sama dengan penuh kesedihan. Dan membuatnya membeku.
"Di tempatku, 20 tahun yang lalu. Kau menyelamatkanku hingga kau yang harus tertimbun reruntuhan. Kau juga memberikan sebelah matamu sebagai hadiah kelulusanku sebagai Jonin. Kau hanya tersenyum seperti orang idiot saat matamu diambil dengan sebelah tubuh yang remuk tertimbun reruntuhan. Dan kau hanya meminta agar aku menjaga Rin."
"Kau tahu apa yang kulakukan setelahnya? Aku pergi meninggalkanmu. Aku bahkan tak punya waktu untuk menggali reruntuhan dan membawa tubuhmu pulang. Aku hanya lari seperti seorang pengecut."
Obito masih menatap sosok berambut putih itu tak percaya.
"6 bulan setelahnya, Rin mati di tanganku,"
Kata terakhir itu membuat mata kelam Obito melebar.
Apa?
Apa yang terjadi?
"2 tahun kemudian Sensei dan Kushina-nee juga meninggal,"
Apa-apaan itu? Minato-sensei adalah ninja terkuat dan juga hokage. Siapa yang bisa mengalahkan ninja yang dijuluki 'Kilat Kuning Konoha'? Dan Kushina juga?
"Selama 12 tahun aku tak menampakkan diriku di depan Naruto,"
Apa dia sudah gila?
"Nah Obito, kau bisa lihat kan, perbedaan besar diantara kita. Semuanya akan lebih baik, jika saja di duniaku kaulah yang selamat." Kata Kakashi sambil menyipitkan mata tanda ia tersenyum sebelum sebuah pukulan mendarat cepat di wajahnya. Membuat ninja berambut putih itu tersungkur di tanah berumput.
"KAU! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN? K-kau... KAU MEMBUNUH RIN?" teriak Obito sambil mencengkeram rompi jonin Kakashi.
"KENAPA? KENAPA KAU LAKUKAN ITU?" bentak sang Uchiha lagi.
Kakashi hanya terdiam sambil menatap wajah Obito yang penuh amarah.
"JELASKAN PADAKU, BRENGSEK!" bentak Obito lagi.
"Itu tak penting,"
"ITU PENTING BUATKU!"
Sebelah mata abu-abu itu menatap sosok Obito yang tanpa sadar mengaktifkan sharingan miliknya, dan Kakashi menahan diri untuk tidak memperlihatkan Sharingan miliknya yang kini terasa berkedut nyeri. Seolah terhubung dengan emosi sosok sahabat di depannya.
"Obito... Rin baik-baik saja." Kata Kakashi pelan, mencoba menenangkan.
"Dia akan tetap baik-baik saja. Apa yang terjadi di duniaku, tak akan terjadi disini. bukankah ada kau yang akan melindunginya? Aku juga akan melindunginya." Lanjut sang Hatake.
"Berhentilah menangis, dasar cengeng," kata Kakashi.
Memandang wajah sang sahabat yang penuh air mata, dengan airmata yang juga mengalir di sebelah wajah yang tertutup ikat kepala.
###
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Minato. Memandang cemas Rin yang dengan segera memeriksa kondisi sang putri, segera setelah ia membawanya ke rumah sakit. Rin tak menjawab, ia masih diam dengan tangan berselimut chakra hijau memeriksa kondisi Naruto yang tak sadarkan diri.
"MINATO!" teriak Kushina yang segera berlari memasuki ruangan menuju sisi sang putri, "Bagaimana kondisinya?"
"Bagaimana, Rin?" tanya Minato lagi. Ia mendekati Kushina dan memeluknya.
"Secara fisik, dia baik-baik saja. Tak ada tulang yang patah ataupun luka yang fatal." Kata Rin sambil tetap berkonsentrasi memeriksa, "Tapi, Sensei..."
Minato sudah menghela nafas lega sebelum Rin akhirnya melanjutkan.
"Aku tak bisa membangunkannya," kata Rin sambil menatap pasangan Namikaze itu. Cakra hijau di tangannya menghilang.
"Apa maksudmu?" tanya Minato gusar.
"Karena tak ada luka yang fatal, aku bermaksud membangunkannya. Karena kemungkinan besar dia hanya pingsan karena syok dan ketakutan. Dia akan lebih tenang jika bangun dan menyadari ia aman. Tapi, walau aku mencoba membangunkannya dengan cakraku, Naruto sama sekali tidak merespon." Kata Rin dengan wajah cemas.
"Ada yang tidak beres dengan chakra Naruto, chakranya tak merespon chakraku sama sekali. Aku bahkan tak bisa menyembuhkan lukanya meski hanya luka lecet. Ini tidak normal Sensei," jelas Rin.
Minato terdiam sesaat.
'Apa Akatsuki palsu itu melakukan sesuatu pada Naruto?' batin Minato dengan aura membunuh yang langsung menguar dari tubuhnya. Dengan tangan yang terkepal erat ia mencoba mengingat apa yang telah dilakukan para peniru itu saat berada di dalam kekai.
Saat itu ia sudah dalam perjalanan mencoba membujuk Naruto pulang saat ia melihat sinyal bahaya itu. Dan ia refleks segera menggunakan Hiraishin untuk sampai ke sisi sang putri sebelum kekai itu menolaknya. Dan di balik kekai, ia hanya bisa melihat Yahiko yang mencengkeram tubuh Naruto dan berusaha menikamnya. Tak ada tanda mereka melakukan ritual atau sesuatu yang aneh pada sang putri. Lalu kenapa?
Saat kekalutan Minato mulai memuncak, ia merasakan genggaman lembut di tangannya yang terkepal.
"Tenanglah, Minato. Semua tak akan baik jika kau berpikir dengan amarah," kata Kushina pelan sambil memandang sang Namikaze. Minato memandang sang Istri sebelum memejamkan mata dan menghela nafas panjang.
"Aku akan mencoba memeriksanya," kata Minato sambil berjalan mendekat dan duduk di samping ranjang sang putri. Jika benar para peniru itu melakukan sesuatu, ia berjanji akan membalasnya dengan neraka.
Awalnya Minato hanya mengusap dahi Naruto lembut. Menatap wajah berkulit madu sang putri yang seolah tengah tertidur pulas. Beberapa luka lecet dan lumpur yang mengering menghiasi wajah berhias tiga goresan itu. Ia berlahan membelai pipi sang putri, mencoba menghapus noda lumpur itu sebelum perlahan menyalurkan sedikit chakranya untuk memeriksa adanya segel ataupun energi asing yang membuat kondisi sang putri menjadi seperti ini. Dan kekhawatirannya kembali muncul saat merasakan keadaan chakra Naruto yang sangat tipis. Chakra Naruto memang tak banyak, tapi ia tak pernah merasakan tubuh seseorang memiliki chakra sesedikit ini.
Minato kembali berkonsentrasi hingga sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah chakra asing namun terasa familiar. Ia baru sadar setelah memeriksanya lebih teliti, chakra asing itu membungkus cakra sang putri, menjaga dan membantu menstabilkan aliran chakra putrinya yang kacau. Minato berusaha menekan chakra asing itu dengan chakranya perlahan, mencoba mengenali namun seperti yang Rin katakan. Chakra Naruto maupun chakra asing itu tak merespon. Rin mungkin tak bisa merasakan perbedaan keduanya mengingat chakra itu sangat tipis dan membaur sempurna dengan chakra Naruto, namun ia sebagai ahli segel dengan mudah bisa membedakannya.
Minato mengerutkan alisnya penuh konsentrasi. Kembali menyalurkan chakranya mencoba membuat chakra itu merespon. Awalnya tak terjadi apapun hingga tiba-tiba chakra asing itu menerima chakra Minato dan membuat sang Hokage itu tersentak kaget saat chakranya terhisap cepat. Ia segera melepaskan kontak dengan sang putri dan melangkah mundur saat perlahan sebuah cakra berwarna kuning orange menyelubungi seluruh tubuh Naruto. Mata biru itu melebar merasakan aura kuat yang memancar dari chakra asing itu.
Hanya sesaat, dan tiba-tiba ia merasakan beberapa chakra melaju cepat menuju ke arahnya. Refleks Minato membuat Kagebunshin, dan bersiap dengan posisi bertahan saat pintu ruangan itu menjeplak terbuka diikuti sosok Sasuke yang memasuki ruangan dengan sharingan aktif, dibelakangnya Itachi mengikuti sebelum meraih bahu ninja dari dimensi lain itu dan menahannya melangkah lebih dekat.
"Sasuke! kau pikir apa yang kau lakukan?" tanya Itachi dengan suara serius. Bersamaan itu sekelebat bayangan muncul dari sisi jendela dan terhenti saat Minato melayangkan sebuah tendangan, menahan sosok yang ternyata adalah Kakashi, yang mencoba mendekati sosok sang putri. Sekejap yang lain, klon Minato sudah menahan sosok Sakura dan Sai dengan kunai diantara leher mereka.
Suasana terasa sangat tegang hingga sosok Obito ikut masuk melewati jendela yang sama sekali tak dihiraukan oleh Minato maupun penghuni ruangan itu yang membeku kaku dengan posisi masing-masing.
"Apa-apaan ini? apa yang terjadi?" tanya Obito.
"Jangan meninggalkanku di saat seperti tu, brengsek!" bentak Obito sambil menatap Kakashi yang kini beradu kunai dengan Minato.
Para sosok Minato itu memandang tajam setiap ninja dari dimensi lain yang menjadi lawannya.
"Katakan tujuan kalian atau kubunuh kalian detik ini juga." Desis Minato tajam. Namun para ninja dari dimensi lain itu bahkan sama sekali tak melihatnya. Pandangan mereka semua tertuju pada sosok sang putri yang masih berselimut chakra orange kekuningan. Minato memandang setiap ekspresi mereka sebelum melirik sosok sang putri .
Sebuah kilatan kuning, dan sosok lain Minato muncul di dalam ruangan. Ia menatap seisi ruangan sekilas sebelum berbalik memeriksa sang putri yang perlahan menggerakkan tubuhnya.
"Naruto, sayang... kau bisa dengar aku?" tanya Minato sambil perlahan mencoba menyentuh tubuh sang putri yang berselimut chakra. Kekhawatirannya sedikit mereda saat ia bisa menyentuh tubuh itu dan merasakan hangat chakra yang menyelimutinya. Syukurlah itu bukan jebakan, chakra asing itu membantu menyembuhkan luka-luka lecet di tubuh sang putri. Hingga tak ada satupun luka yang masih tersisa.
Di sampingnya Kushina ikut menyentuh wajah Naruto tanpa ragu.
"Naru-chan..." panggil Kushina pelan.
Semua orang di ruangan itu seakan menahan nafas saat perlahan iris safir itu terbuka. Kelopak sewarna madu itu setengah terbuka dengan biru yang bergerak menatap sekeliling sebelum terfokus pada dua sosok di depannya.
"Tou-chan... Kaa-chan..." pinggil suara itu lirih sebelum perlahan memejamkan mata dan menggenggam tangan sang Ibu yang ada di pipinya. Perlahan pula, chakra kuning yang menyelimuti tubuh yang masih memakai piama kotor itu menghilang.
"Ya, Naru-chan... semua baik-baik saja. Kau bisa tenang sekarang," kata Kushina sambil membelai wajah sang putri.
"Hm... " gumam gadis Namikaze itu sambil kembali membuka mata dan menatap kedua orang tuanya dengan senyuman.
"Aku sudah mati ya?" Tanya Naruto masih sambil tersenyum , "Payah... tapi tak apa, setidaknya aku bisa bersama kalian,".
Safir itu perlahan memandang sekeliling. Pandangannya terhenti pada wajah-wajah familiar di dalam ruangan itu.
"Sakura-chan... Kakashi-sensei... Sai... kenapa kalian juga? Kupikir aku berhasil melindungi kalian..." tanyanya dengan sepasang alis pirang yang berkerut. Hingga matanya tertuju pada sosok raven yang masih membeku dengan sosok Itachi di depannya. Ia menatap wajah dengan sharingan aktif itu selama beberapa saat. Hingga mata biru itu terbuka lebar dan segera bangkit duduk sambil menunjuk Sasuke.
"Sasuke... brengsek! Kenapa kau ikut mati juga?" bentak gadis itu tiba-tiba.
Minato mengerutkan alis, ia saling pandang dengan Kushina sebelum kembali memandang sang putri.
"Kau masih hidup, Naruto. Kau selamat. Kau berada di rumah sakit sekarang," kata Minato. Ia mengusap bahu Naruto mencoba menenangkan. Wajahnya berkerut melihat reaksi sang putri yang tak wajar.
"Aku belum mati?" tanya Naruto pelan. Kembali memandang wajah Minato dan Kushina.
"Belum, bodoh. Jangan seenaknya bilang kau sudah mati, aku tak akan membiarkan kau mati mendahuluiku, mengerti?" kata Kushina sambil mencubit pipi berhias tiga goresan itu pelan.
Hal itu seakan membuat sang putri sadar. Kedua safir itu melebar sebelum kembali menatap sekeliling. Melihat seksama setiap wajah yang ada diruangan itu. Ia memandang wajah Rin dan Obito lama.
"KAU!" bentak Naruto tiba-tiba. Ia berusaha bangun sambil menunjuk Obito. Mata birunya kembali memandang sekeliling penuh waspada.
"Eh... apa?" tanya Obito sambil menunjuk diri sendiri.
"BERANINYA MENJEBAKKU DENGAN GENJUTSU INI LAGI!" bentak sang putri penuh amarah. Membuat seluruh penghuni ruangan itu membeku.
Sekejap saja, sosok berpiama orange itu sudah melompat berdiri dikelilingi beberapa klon yang identik. Dengan sebuah bola chakra biru yang perlahan terbentuk di telapak tangannya. Tanpa peringatan ia melompat dan menyerang Obito dengan Rasengan sempurna.
Refleks, sang Uchiha itu melompat menghindar. Membuat serangan itu mengenai dinding dibelakangnya.
Sebuah ledakan terdengar diikuti percikan reruntuhan dinding.
"JANGAN KIRA, AKU TAKKAN MENGENALIMU DENGAN SOSOK ITU! TOBI!" teriakan Naruto kembali terdengar.
Saat asap ledakan menghilang, mereka bisa melihat sosok Naruto yang menatap tajam mereka dengan nafas terengah. Rambut pirang panjangnya melambai-lambai saat angin bertiup dari lubang dinding yang menganga di belakangnya. Tubuh itu terlihat gemetar, sebelah tangannya memegang dahi dengan wajah mengerut menahan sakit.
"Naru-chan! Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa menggunakan jurus itu?" tanya Kushina sambil perlahan mendekat.
"JANGAN MENYENTUHKU!" bentak Naruto sambil berjengit menjauh dari sosok sang Ibu. Ia melangkah mundur dengan panik seolah sedang terpojok.
Safir itu memandang sekeliling penuh konsentrasi sebelum kemudian menyilangkan kedua tangannya.
"Tajuu Kagebunshin no Jutsu!"
Sebuah ledakan kembali terdengar diikuti ratusan klon yang muncul sebelum sosok-sosok yang identik dengan sang putri Namikaze itu melompat keluar dari lubang dinding di kamar rumah sakit yang berada di lantai tiga. Dan menyebar keluar.
Meninggalkan sosok sosok ninja di dalam ruangan yang masih berdiri mematung memandang lubang dinding tempat Naruto sebelumnya berada.
.
.
.
To be Continue...
.
.
