Whenever sang my songs,
On the stage, on my own,
I never said my words,
Wishing they would be heard,
I saw you smiling at me,
Was it real? Or just my fantasy?
You'd always be there in the corner,
Of this tiny little bar.

Jangan hiraukan yang di atas sana *nunjuk ke lirik lagu di atas

.

Buat Adek saya tercinta, Roxas Sora Namine Kairi, saya persembahkan chappy ini buat kamu ya~~

Well, here you go ;D

The Possessed

Chapter 11: Survive

"Lakukan sekarang. Bakar dia hidup-hidup."

Suara wanita berdagu lancip itu membuat jantung Sora berdegup aneh dan takut. Dia semakin memberontak hebat walau tangannya dipiting dan berbagai ancaman datang dari segala arah. Roxas memberontak saat dibawa ke sebuah tiang besi di tengah gereja yang sudah dikelilingi setumpuk kayu bakar. Roxas dipaksa menaiki kayu-kayu itu kemudian saat dia sudah mencapai tiang itu, orang-orang di belakangnya mengikatnya kencang. Roxas hanya menunduk, membiarkan butir-butir air matanya jatuh menetes ke kayu di bawah kakinya.

"Demi Tuhan, jangan lakukan itu!" jerit Sora. Wajahnya penuh air mata dan memerah karena kumpulan eritrosit menjalar naik ke pembuluh di wajahnya. Orang-orang itu tidak mendengarkannya barang sedetik pun, terutama wanita bernama Maleficent itu.

Maleficent menerima sebuah kayu berukuran sedang yang ujungnya terbakar. Beberapa rang lainnya, menyiram bensin pada kayu di bawah kaki Roxas dan sedikit ke tubuhnya. Roxas memberontak lemah, berusaha melepas tali yang mengikatnya walau itu mustahil. Sama seperti Roxas, Sora memberontak hebat, penuh kekhawatiran.

Dalam selang beberapa detik, Maleficent berjalan lurus ke arah Roxas dengan kayu berapi di tangannya. Langkahnya pelan namun tegap dan mantap. Suara derap kakinya menyentuh lantai bergema di seluruh ruangan. Beberapa orang menunduk seperti berdoa, beberapa menangis ketakutan melihat Roxas yang mereka anggap sebagai penyihir. Sora terus memberontak hingga tenaganya hampir habis.

"Jangan lakukan itu!"

"Dengan ini," bisik Maleficent pelan namun masi hbisa didengar oleh Sora; dia semakin menggila. "biarlah debu kembali menjadi debu." Bisiknya lagi. Dia sekarang berada tepat di depan Roxas yang terikat, mendekatkan obor itu ke kayu.

"JANGAN!" jerit Sora semakin keras. Air mata bercucuran dari kedua sudut matanya, meluncur di pipinya yang merah panas. Pria di belakang Sora meremas tangan Sora keras sambil berbisik,

"Diam!"

"Sora… selamat tinggal.." bisik Roxas saat Maleficent menempelkan obor itu pada kayu di dekat kakinya. Melihat hal itu, Sora menjerit lagi dan melakukan apapun yang bisa dia lakukan untuk bebas. Roxas memejamkan mata, membiarkan beberapa butir air matanya jatuh ke kayu yang mulai terbakar.

"TIDAK!"

"Roxas," seseorang memanggil Roxas jauh di alam bawah sadarnya.

"Siapa?"

"Ini aku.."

"Ven?"

"Ya, benar. Kau sudah melihatnya, kan?"

"Ibumu?"

"Benar. Aku akan menolongmu tapi sebagai imbalannya…."

Ventus tidak bicara lagi. Kesadaran Roxas kembali pada kenyataan di depannya. Dia merundukan kepala, memejamkan mata. Sebutir air mata jatuh mengenai api yang berkobar 1 inci di depan kakinya. Hal yang aneh terjadi. Saat air mata itu mengenai api, seperti tersiram air yang sangat banyak, api itu padam seketika. Semua yang melihat terkejut, berbisik aneh.

"K-kenapa?" bisik Roxas tak percaya. Sebutir air mata kembali menetes, membuat seluruh bangunan gereja tua itu diselimuti es.

"Roxas!" seru Sora, masih memberontak.

Melihat es yang yang menutupi seluruh sisi bangunan, para fanatic kebingungan. Maleficent, berusaha menyalakan api namun usahanya sia-sia.

"Mustahil!" serunya berang. Semua orang berbisik ria dan ketakutan.

"Penyihir itu menggunakan kekuatannya!" seru seseorang di belakang Sora. Sora memberontak sekali lagi dan kali ini dia lepas karena pria yang memitingnya sedang lengah. Sora segera berlari ke arah Roxas yang terikat, melepas tali Roxas secepat yang ia bisa.

"Roxas, kau tidak apa-apa?" kata Sora sambil melepas ikatan di perut Roxas.

"Iya. A-ada yang aneh.."

"Jangan pedulikan itu. Aku akan membebaskanmu!" seru Sora, sekarang berpindah ke belakang untuk melepas tali di pergelangan tangan Roxas. Roxas terlepas, dia melompat turun kemudian segera memeluk Sora.

"Terima kasih…"

Salah seorang fanatic yang tadi kebingungan dengan keadaan sekitar, memergoki mereka. "Mereka kabur!"

"Ayo!" seru Sora, meraih tangan Roxas kemudian melesat ke arah pintu di belakang mereka. Walaupun dengan langkah gontai, mereka berusaha menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang sinting itu. Mereka mengejar dengan membawa senjata di tangan mereka; sabit, pitchfork, kayu, dan bahkan gergaji mesin. Api tidak bisa dinyalakan, membuat Maleficent murka kemudian ikut mengejar Sora dan Roxas.

Di luar, langit tiba-tiba berubah menjadi hitam kelam, awan-awan hitam menari-nari di angkasa. Sangat gelap seperti malam hari walaupun mereka ingat saat meninggalkan kawasan wisata itu masih jam 2 siang.

Sora berlari di depan, menggandeng tangan Roxas yang berlari dengan susah payah. Hampir sekujur tubuhnya basah karena bensin dan sayatan-sayatan yang disebabkan oleh ikatan kencang membuat tubuh Roxas sakit. Sesekali dia memanggil Sora untuk memperlambat langkah namun, Sora malah semakin cepat. Roxas merasa kebugaran tubuhnya tiba-tiba menurun hingga tubuhnya lemas dan berkeringat lebih banyak dari biasanya. Namun, Sora merasa semakin kuat. Langkahnya semakin cepat, genggamannya semakin kuat. Dia menerobos semak-semak yang ada dan menyingkirkan jaring-jaring laba-laba yang menggelantung di sekitar mereka.

Para fanatik masih mengejar mereka di belakang. Karena langkah Sora yang begitu cepat, lambat laun, mereka kehilangan jejak. Sora mensyukuri itu setelah berlari sangat jauh dari gereja ataupun jalan keluar. Kemudian ia sadar bahwa di dekat mereka terdapat sebuah pondok kayu tua yang terlihat aneh. Sangat tua sehingga menimbulkan kesan ngeri yang sangat besar.

"Pondok. Kita beruntung." Desah Sora. Tangannya masih menggenggam tangan Roxas. Roxas di belakangnya kelelahan, wajahnya pucat, nafasnya sesak.

"…"

"Roxas?" Sora berbalik dan terkejut dengan keadaan Roxas. "R-Roxas, kau kenapa?" tanyanya panik, menatap wajah Roxas lebih dekat.

"…tidak apa-apa… aku…" belum selesai dia bicara, tiba-tiba Roxas terhuyung dan ambruk ke dada Sora. Sora menangkapnya, menjadi lebih panik dari sebelumnya.

"R-Roxas?" Sora melihat pada pondok itu lagi kemudian membawa Roxas masuk. Pintu pondok yang tua dan jelek berderit saat dibuka.

Di dalam pondok hanya terdapat sebuah meja dan kursi. Lantai kayunya kotor, dinding kayunya agak berlubang dimakan rayap, dan jendela-jendela yang ada bergorden hijau keruh berdebu. Pondok itu hanya berukuran 5x6 dan sangat tidak nyaman untuk ditinggali namun Sora dan Roxas tidak punya pilihan lain.

Sora mencari tempat yang agak bersih. Setelah menemukan lantai yang terlihat lebih berdih dari yang lain, dia membaringkan Roxas yang sudah setengah sadar dan menatap wajah pucat itu.

"Roxas…."

"…ugh… Sora….." dia merintih. Sora tersenyum, mengelus pipinya yang basah karena keringat. Tangannya meraba dahi Roxas.

"Kau demam." Katanya singkat.

"Maaf.."

"Tidak apa-apa." Sora tersenyum lagi, mengusap keringat di dahi Roxas. Roxas berusaha tersenyum kemudian menutup matanya, tertidur. Melihat adiknya tidur, Sora menghilangkan senyum di bibirnya. "Roxas, aku akan melindungimu.. aku sudah janji. Aku pasti akan melindungimu apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu." Tambahnya, kemudian berdiri perlahan.

Sora melihat sekeliling ruangan di pondok itu. Tidak ada yang menarik di tempat itu; sebuah meja dan kursi tua. Sora heran, siapa yang pernah tinggal di tempat mengerikan itu. Dia berjalan ke arah meja kemudian memperhatikan permukaan meja yang kasar dan berdebu.

"Aneh." Bisiknya. Matanya beralih pada laci di meja itu. Sora membukanya dan terkejut saat melihat sebuah buku tulis di dalam laci. "Buku?" Sora mengambilnya, membuka kover depannya kemudian membaca.

15 Maret 1995

Mereka melakukan itu.. sangat kejam… di depan mataku…. Ibu… tubuhnya dilahap api kejam yang mereka anggap api suci. Kami tidak mengerti kesalahan apa yang telah kami perbuat. Yang aku tahu, kami hanya tinggal di desa ini dan menjalani hidup sebagaimana keluarga selayaknya. Mereka bilang, ibu adalah penyihir dan aku adalah anak haram. Aku memang tidak punya ayah. Bukan karena ibuku tidak menikah lalu melahirkanku tapi melainkan karena ayahku sudah meninggal. Entah dari mana mereka mendengar berita bejat itu…

Setelah menyaksikan hal yang sangat menyiksa itu – sebenarnya aku tidak ingin melihatnya – aku kabur ke dalam hutan. Para penduduk desa mengejarku tanpa ampun. Aku lelah… dan aku juga takut… mereka akan membunuhku… aku tidak mau mati!

Aku menemukan pondok tak berpenghuni ini dan memutuskan untuk tinggal di sini sampai situasi terlihat aman. Kuharap, tidak ada yang akan menemukanku di sini… tapi, mungkin Saix bisa menemukanku. Dia sahabatku, dia pasti akan menyusulku ke sini.

Mata Sora terbelalak setelah selesai membaca buku itu. Dia menggeleng tidak percaya. Ventus pernah tinggal di pondok itu dan lagi tentang Saix yang ternyata merupakan sahabat lama Ventus Mungkin Saix tahu sesuatu tentang Ventus. Sora ingin menanyakan hal itu namun yang terpenting sekarang adalah, dia harus pergi bersama Roxas jika tidak, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.

Sora mengembalikan buku itu ke laci tadi, menutup laci kemudian membalikan badan untuk melihat Roxas yang terbangun.

"Sora? Sedang apa?" suaranya lemah. Dia duduk sambil mengusap matanya. Sora melangkah mendekat.

"Tidak. Tidak sedang apa-apa." Sora memegang dahi Roxas. Panas. Demamnya semakin parah. Sora tersenyum kecut. Dia tadinya ingin pergi dari pondok itu segera namun, mengetahui keadaan Roxas yang sedang tidak baik, Sora mengurungkan niatnya. Dia memeluk Roxas. "Tidurlah. Kau harus banyak istirahat supaya lekas sembuh…"

"Iya…"

TBC..

Tralalalalalalaaaa

Father can you hear me?

How have I let you down..

I curse the day that I was born..

And all the sorrow in this world..

*di atas adalah lirik Sorrow yang dinyanyikan oleh Bad Religion*

Terima kasih sudah membaca, saya harap, para pembaca sekalian berkenan memberikan sebuah review..

Terima kasih sekali lagi ;D

Salam SUPER