CERITA CINTA ROSE WEASLEY

Thank you... Thank you so much untuk semuanya yang dah baca fanfic aku. Ch sblumx, Rose mmg agak aneh... aku nggak tahu kok jadi kayak gitu,ya? Hehehe Maafkan! Mudah-mudahan ch ini memuaskan :p . Winey, Rempong: Thanks dah review!

Disclaimer: JK Rowling

Pesta Dansa

Rose dan Francy sedang duduk bersantai di toko es krim Florean Fortescue yang berada di pojokan Diagon Alley. Di musim dingin Fortescue menyediakan capucino dan coklat panas. Rose yang beberapa menit lalu telah menghabiskan coklat panasnya memandang Francy yang menikmati capucino-nya perlahan.

"Apa yang ingin kamu bicarakan, Francy? Harusnya hari ini aku ke dunia Muggle, belanja untuk natal bersama Aunt Ginny dan Lily."

"Bagaimana kabarmu?"

"Hah? Kamu baru bertemu aku dua hari yang lalu di Hogwarts Express, Francy! Jadi belum ada sesuatu yang penting terjadi denganku."

Mereka baru dua hari yang lalu memulai liburan natal, tapi pagi tadi Francy telah menulis surat pada Rose dan memaksanya bertemu di Diagon Alley. Maka Rose dengan cemberut, karena menurutnya Francy telah merusak rencana berbelanjanya bersama Aunt Ginny dan Lily, menemui Francy.

"Bagaimana kabar Malfoy?" tanya Francy tiba-tiba.

"Scorpius? Aku nggak tahu... Aku kan bukan ibunya." Kata Rose kesal. Selama sisa hari sebelum liburan natal, sejak pertemuan mereka di koridor Mantra Rose menghindari Scorpius. Rose menghabiskan waktunya di Perpustakaan dan ruang rekreasi. Ketika Scorpius memojokkannya di setia kelas yang mereka ikuti Rose selalu berhasil menghindar dengan membiarkannya dirinya dikerumuni anak-anak lain. Scorpius kan tak akan membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi dibicarakan depan anak-anak lain. Rose juga selalu mempersiapkan tongkatnya, tak mau tertipu Scorpius untuk ke tiga kalinya.

"Rose, aku mendapat surat dari Therius." Kata Francy, yang langsung mengagetkan Rose.

"Krum! Oh, Francy, maafkan aku... Apa?... Apa katanya?" tanya Rose menyesal karena sudah menganggap Francy merusak belanja natalnya.

"Dia ingin aku mengunjunginya ke Bulgaria." jawab Francy, menatap cangkir capucino-nya.

"Apa? Brengsek! Setelah menyakitimu dia ingin kamu kembali? Benar-benar menyebalkan!... Apa? Apa yang kamu katakan? Padanya?"

"Aku belum menjawab suratnya... aku ingin bertanya padamu apa yang harus ku lakukan?"

"Oh, Francy, menurutku kamu nggak boleh kesana... Cowok itu benar-benar brengsek, sama brengseknya dengan Scorpius Malfoy..."

"Rose?" seru sebuah suara menghentikan ocehan Rose. Rose berbalik dan melihat Mrs. Malfoy dan Mr. Malfoy sedang berdiri sambil memegang tas plastik di masing-masing tangan mereka.

"Oh... Mrs. Malfoy... Mr. Malfoy! Aku..." Rose bertanya-tanya dalam hati apakah Mrs. Malfoy mendengar apa yang dikatakan Rose tentang anak mereka.

"Aku melihatmu dari luar dan aku masuk untuk manyapamu." Kata Mrs. Malfoy sambil tersenyum.

"Oh..." Rose tak tahu harus berkata apa.

"Aku ingin mengundangmu ke acara dansa natal kami tanggal 25, kamu harus datang, ya!" kata Mrs. Malfoy, kemudian memandang Francy sambil tersenyum. "Kamu boleh mengajak temanmu."

"Eh... eh, aku..." Rose ingin mengatakan bahwa dia tidak ingin hadir.

"Aku menunggumu tanggal 25 jam tujuh malam. OK?... Aku pergi dulu..." kata Mrs. Malfoy mencium pipi Rose, melambai pada Francy dan berjalan keluar. Mr. Malfoy mengikutinya dengan bersungut.

"Itu Mr. Dan Mrs. Malfoy?" tanya Francy, memandang keluar jendela ke arah Mr. dan Mrs. Malfoy yang hendak memasuki sebuah toko.

"Aku pikir kamu mengenal mereka... Keluarga berdarah murni bukannya selalu bersahabat?"

"Memang sih. Kadang-kadang ayah pergi ke Manor, tapi aku belum pernah diajak. Kalau diajakpun aku nggak mau, aku nggak suka melihat Malfoy... Tapi Rose, pesta itu... pesta dansa itu, kamu pergi? "

"Aku nggak tahu."

"Ayolah Rose, kamu harus pergi. Itu pesta dansa yang hebat... banyak orang-orang terkenal akan berkumpul. Kamu juga bisa bertemu penulis favoritmu, yang nulis Perjalan Penyihir Buta ke Dunia Muggle, siapa namanya Julia... Julia Mckenzie."

"Julia Christie... Siapa Julia Mckenzie?"

"Julia Christie, yah dia. Kamu bisa bertemu dia dan makanan-makanannya juga enak Rose... Pokoknya kamu nggak akan nyesal deh!"

"Ngomong-ngomong, tadi kita bicara tentang Krum kan?"

"Oh,..." wajah Francy berubah dari antusias menjadi sedih. Rose merasa bersalah.

"Jadi, kamu mau ke Bulgaria?" tanya Rose.

"Aku memang ingin bertemu Therius lagi."

"Apa?"

"Kami pacaran selama dua tahun, Rose. Terlalu banyak kenangan indah. Aku tidak akan bisa melupakannya dengan mudah."

"Tapi kamu kan sama Al sekarang?"

"Aku nggak punya hubungan apa-apa dengan Al, Rose."

"Oh, ku pikir... ku pikir setelah Collins, Al dan kamu..."

"Nggak, Rose, kami bersahabat."

"Oh, jadi kamu akan ke Bulgaria?"

"Yeah, liburan ini aku nggak ngapa-ngapain. Jadi, aku ke Bulgaria aja..."

"Gini aja, Francy, aku akan mengajakmu ke pesta keluarga Malfoy, tapi kamu nggak boleh ke Bulgaria."

"Apa? Kamu... kamu mau ke sana?"

"Yeah, Gimana kalau aku mengajakmu ke sana, tapi kamu nggak boleh ke Bulgaria."

"Aku..."

"Disana kamu bisa mencari cowok baru dan melupakan Krum. Gimana?"

"Baik! Tapi kamu juga harus mencari cowok di pesta itu. Dan saat pesta berakhir kita sudah memiliki cowok. OK!"

"Baik!" Rose tahu Francy sedang bersemangat, karena itu dia mengiyakan Francy. Saat ini Rose tak ingin menjalin hubungan, tapi demi Francy dia rela menghabiskan malam natal berburu cowok.


Rose berdiri di ballroom Malfoy Manor dengan mengenakan gaun hitam sebatas lulut dengan punggung dan lengan terbuka. Meskipun cuaca di luar dingin, di dalam ruangan terasa hanyat. Pasti mereka menggunakan Mantra Penghangat Ruangan, pikir Rose, dalam ruangan sebesar ini pasti perlu beberapa orang yang mendaraskan mantra yang sama.

Rose memandang sekeliling mencari Francy. Mereka baru saja tiba dan sedang mangambil minuman, ketika seorang kenalan Francy; cowok tinggi berambut pirang bermata biru, lewat didepan mereka dan mengajak Francy berdansa. Harusnya, Francy menemani Rose mencari Julia Christie. Rose yang belum bertemu siapapun yang dikenalnya atau yang mengajaknya berdansa, berdiri canggung dan merasa bodoh. Harusnya malam ini dia berburu cowok, pikir Rose memperhatikan seluruh ruangan, tapi tidak ada cowok yang single dalam ruangan itu, semuanya memiliki pasangan. Scorpius yang mengenakan jubah hijau, sedang berdansa dengan seorang cewek pirang. Yang tidak memiliki pasangan cuma Rose dan seorang bapak-bapak berumur yang sedang minum di bar. Hah, masa dia menggoda bapak-bapak, pikir Rose, tapi tak apalah dari pada berdiri canggung

Bapak-bapak tersebut berwajah lumayan tampan, mungkin sangat tampan waktu masih muda, dan rasa-rasanya seperti pernah dilihat Rose. Si bapak sedang meneguk gelas berisi cairan berwarna coklat, ketika Rose duduk di sampingnya.

"Aku pesan, seperti yang diminum bapak ini!" kata Rose pada bartender.

Si Bartender mengangkat alis, tapi memberikan apa yang diminta Rose.

"Hallo, Missy, siapa namamu?" tanya si Bapak, meneguk minumannya lagi.

"Rose... Anda sendirian?" tanya Rose.

"Apakah saya terlihat seperti sedang bersama orang lain?"

"Yeah, maksudku bisa saja istri anda lagi ke kamar mandi atau apa."

"Tidak, Missy, saya sendirian... Mana pacar kamu?"

"Tidak ada... sekarang saya sedang mencari pacar..."

"Dan kau berniat menggoda saya, Missy?"

"Saya tidak berniat menggoda anda. Maksud saya anda sendiran saya sendirian, yah bagaimana kalau kita minum bersama." Kata Rose meneguk habis minumannya, merasakan badannya panas dan meminta minuman tambahan pada bartender.

Si bapak memandang Rose dengan heran, ketika bartender meletakkan minuman di depan Rose.

"Mengapa kau tidak mencari pasangan dansa saja sekarang? Di sebelah sana banyak pemuda yang sedang memperhatikanmu."

Rose memalingkan wajah ke arah yang ditunjukkan Si bapak, ternyata di pojokan sana ada beberapa cowok single yang sedang minum-minum.

Rose yang sudah meminta minuman tambahan lagi merasa melayang. "Ku rasa aku lebih suka disini."

"Ayolah, Missy, cewek cantik harus berdansa dengan pemuda tampan... Oh, ini anak saya datang... kamu bisa berdansa dengannya."

"Papa? Papa dengan siapa?... Weasley?"

Rose membalikkan tubuhnya yang berat dan memandang seorang cowok tampan berjubah biru.

"Oh, Zabini..." kata Rose.

"Kalian rupanya sudah saling kenal." Kata si bapak yang ternyata adalah Mr. Blaise Zabini.

"Tentu saja, aku mengenalnya, Pa, dia Weasley. Kok Papa mau bicara dengannya."

"Gadis ini sangat cantik, Alex... Ayo, berdansa dengannya!"

"Nggak mau, aku nggak mau menyentuh darah pengkhi..." Zabini tidak melanjutkan kata-katanya karena Rose yang telah meminum gelas keempatnya, sudah berjalan mendekatinya dan meletakkan tangannya di leher Alex.

"Ayolah, Alex, untuk malam ini lupakan bahwa aku orang yang kamu benci... Ayolah, berdansa denganku."

"Nah, Missy ini ingin berdansa denganmu, Alex, pergilah!"

Alex hanya terpana menatap Rose, "Scorps bisa membunuhku kalau aku menyentuhmu."

"Malfoy? Lupakan dia... dia cowok paling aneh yang pernah ku temui."

Zabini tidak berbicara apa-apa hanya memandang Rose dan Rose yang sudah melayang dan ingin berdansa menyeret Zabini ke lantai dansa.

Rose memeluk leher Zabini dan mulai berdansa mengikuti lagu lembut, yang mengalun dari sekelompok band yang bermain di panggung.

"Harusnya aku nggak boleh penyentuh darah pengkhianat." Kata Zabini.

"Sudahlah Alex, mengapa kamu terlalu memikirkan darah? Bisa-bisa suatu saat nanti kamu jatuh cinta pada orang yang darah pengkhianat."

"Aku nggak akan jatuh cinta pada darah pengkhianat... Dan aku... aku nggak akan menjadi seperti Scorps, jatuh cinta dan bersikap aneh."

"Hah, Malfoy sikapnya memang selalu aneh, jatuh cinta dan nggak jatuh cinta sama aja..." kata Rose.

"Scorps memandang kita sekarang..." kata Zabini memberitahu Rose.

"Biarin aja..."kata Rose, "Kamu kok bisa berteman dengan Malfoy dan Goyle?"

"Kami sudah berteman sejak berumur enam tahun... Orangtua kami bersahabat." Kata Zabini.

"Oh, terus di Hogwarts kalian bersahabat... Kenapa nggak berteman dengan orang lain? Kayak nggak ada anak berdarah murni lain di Hogwarts."

"Memang ada, tapi kami nggak ingin menerima perubahan... Yang berubah Cuma Scorps aja, memang orang jadi aneh kalau jatuh cinta."

"Kenapa kamu nggak berteman dengan Francy, dia berdarah murni?" tanya Rose, menghindari topik tentang Scorpius.

"Oh Nott..." wajah Zabini berubah merah, "Dia nggak bilang padamu,ya? Sebenarnya orangtua kami menjodohkan kami, tapi kami nggak mau."

"Ohya?"

"Dia juga harusnya disebut berdarah pengkhianat karena berteman denganmu." Kata Zabini.

"Lalu siapa pacar kamu?" tanya Rose.

"Aku nggak punya pacar, Goyle juga nggak ada... Cuma Scorpius aja yang memiliki pacar, sebenarnya dia nggak serius pacaran sama mereka, tapi akhir-akhir ini dia bersikap serius dan agak membosankan."

"Kenapa kamu dan Goyle nggak punya pacar... Kan banyak cewek Slytherin yang cantik-cantik."

"Semuanya menyukai Scorps, kami nggak kebagian..." kata Zabini tertawa. Rose ikut tertawa.

"Tapi pasti ada dari antara cewek-cewek itu yang menyukaimu... Aku rasa kamu benar-benar tampan lo!" kata Rose, memandang Zabini dengan genit.

"Jangan coba-coba menggodaku, Weasley, aku tahu kamu mabuk... Sebenarnya, aku menunggu orangtuaku menemukan jodoh untukku."

Rose tertawa, "Zabini... kamu serius? Kamu pikir jaman apa sekarang? Atau kamu menunggu Francy... Kamu diam-diam menyukai Francy kan?"

Wajah Zabini memerah.

"Nggak boleh!" kata Rose, bersamaan dengan berhentinya lagu yang dimainkan pemain musik. "Ayo, kita duduk aku capek."

Rose menyeret Zabini ke bar. "Yang seperti tadi dua!" perintahnya pada Bartender.

Mereka duduk bersamaan dengan bartender menyediakan minuman. Rose langsung meneguknya. Zabini hanya menyesap sedikit dan meletakkan gelasnya.

"Kamu nggak boleh menunggu Francy." Kata Rose setelah menghabiskan minumannya dan meminta tambahan minuman.

"Hei, ini whisky api... keliatannya kamu sudah mabuk, Weasley..." kata Zabini, memandang Rose yang sedang meneguk minumannya lagi.

"Whisky api? Aku nggak tahu kalau Whisky api bisa membuatku melayang bebas, harusnya aku sering-sering meminumnya." Kata Rose, "Kamu dengar apa yang ku katakan tadi?"

"Apa?"

"Kamu nggak boleh mendekati Francy, dia itu milik Al."

"Milik Potter? Bercanda? Aku nggak tahu kalau mereka pacaran?"

"Saat ini belum, tapi nanti mereka bisa pacaran."

"Kamu mau membuat mereka jadian seperti Davis dan Collins?"

"Kamu tahu?"

"Seluruh sekolah membicarakannya, tentu saja aku tahu."

"Yeah... Pokoknya kamu nggak boleh mendekati Francy... Bagaimana kalau? Lily?" Rose memandang wajah tampan Zabini yang setengah kabur. "Kamu benar-benar tampan lo! Ku rasa kamu cocok sama Lily, dia yang tercantik diantara kami."

"Hah? Kamu mau memberikan sepupumu yang pemarah itu padaku?"

"Yeah, kalau dilihat-lihat, si tampan Zabini dan cantik Lily memang cocok. Aku heran aja, mengapa Malfoy yang mendapat banyak cewek padahal kamu lebih tampan... Mungkin karena hartanya kali, ya?"

Zabini tertawa dan Rose ikut tertawa bersamanya.

"Kamu lucu kalau mabuk..." kata Zabini.

"Nah, gimana menurutmu? Lily cantikkan?" kata Rose. Jangan membunuhku, Lil, aku nggak sadar mengatakan ini, pikir Rose dalam hati.

"Dia memang cantik, tapi kamu lebih sexy..." kata Zabini.

"Hei, jangan aku..." kata Rose, tertawa.

"Gimana kalau aku menginginkanmu?"

"Alex?" kata sebuah suara dibelakang mereka.

Scorpius berdiri memandang mereka, matanya menatap Zabini dengan tajam.

"Oh Scorps! Aku sedang berbicara dengan Rose."

"Rose? Rose? Sejak kapan kalian memanggil menggunakan nama depan?"

"Malfoy!" kata Rose sambil berdiri, "Kamu Cuma cemburu karena sekarang aku berteman dengan Alex kan?"

"Apa?"

"Kamu nggak mau Alex memiliki teman lain selain kamu kan?"

"Hah?"

"Eh, Rose, sepertinya bukan itu." Kata Zabini.

"Nah, sekarang menjauhlah, Malfoy, aku masih sedang memperbincangkan beberapa hal dengan Alex."

"Aku tidak akan kemana-mana."

"Ayolah, Malfoy! Alex akan tetap menjadi sahabat kamu selamanya, aku hanya ingin berbincang sebentar."

"Eh, Rose, aku... Mending aku pergi aja!" kata Zabini.

"Jangan Alex, aku senang berbicara denganmu... Tadi kamu bilang aku sexy. Kamu menyukai cewek sexy, ya? Aku bisa membuat Lily..."

"Kamu bilang dia sexy, Alex?"

"Eh,..." Alex jadi salah tingkah.

"Iya, dia bilang aku sexy... Aku senang, Alex, tapi Lily cocok untukmu."

"Apa yang dia bicarakan?" tanya Scorpius memandang bingung Alex dan Rose.

"Dia mabuk... Dia menghabiskan sepuluh gelas Whisky api."

"Apa? Lalu dia berniat menjadikanmu dengan Potter?"

"Yeah, tapi aku..."

"Tapi kamu menginginkan dia... Aku dengar kamu berkata begitu padanya tadi."

"Dengar, Scorps, itu cuma bercanda."

"Kedengarannya nggak seperti itu."

"Oh ayolah, Scorps! Aku nggak akan merebutnya darimu. Percayalah!"

"Yeah, benar Malfoy, aku nggak akan merebut Alex darimu, kami cuma berteman." Kata Rose.

Scorpius dan Alex mengabaikan Rose.

"Baiklah!" kata Scorpius.

"Nah begitu! Aku pergi dulu..." kata Zabini lalu pergi setengah berlari.

"Hei Alex!" kata Rose setengah terhuyung dan jatuh ke dalam tangan Scorpius. "Ini semua, gara-gara kamu... Kami masih berbicara soal Lily dan dia ... dan kamu... kamu menghancurkan ide brilianku."

"Ide konyol!"

"Hei, jangan seperti itu! Alex selamanya tetap sahabat kamu... Huekk!" Rose muntah-muntah di baju Scorpius dan langsung tertidur karena mabuk.


Rose merasakan sinar matahari menyengat kulitnya. Dia ingin membuka matanya, tapi kepalanya yang seperti sedang ditindih dengan batu besar, terasa berat. Rose membuka matanya lagi, tapi cahaya matahari yang menyilaukan membuat matanya menutup matanya lagi. Siapa yang membuka jendela kamarnya pagi-pagi? Pikir Rose. Setelah menyesuaikan diri dengan cahaya matahari, Rose memandang sekeliling.

Ruangan itu adalah kamar yang besar dan luas. Jendela besar-besar terbuka dan memberinya pandangan putih bukit bersalju. Rose tidak merasa kedinginan. Mantra Penghangat Udara...Di mana aku? Ini bukan kamarku? Tanya Rose dalam hati memandang tempat tidur berkanopi dan selimut sehalus sutra yang menutupi tubuhnya.

"Kamu sudah bangun?" kata sebuah suara mengagetkan Rose. Rose menoleh ke samping dan melihat Scorpius keluar dari ruangan, yang tampaknya kamar mandi. Rambut Scorpius basah dan dia mengenakan jubah mandi berwarna abu-abu.

"Apa? Aku..."

"Kamu mabuk semalam. Aku nggak ingin orangtuamu tahu, ku rasa kamu juga nggak mau orangtuamu tahu. Jadi mama menulis pada mereka bahwa kamu menginap di sini."

"Oh, Ok! Terima kasih!" kata Rose bingung. Dia ingin bangun dari tempat tidur, tapi sesuatu menahannya. Dia telanjang. Oh, Merlin, mana pakaianku... pikir Rose.

"Apa yang kamu lakukan padaku? Mana pakaianku?"

"Kamu nggak ingat, Rose?" kata Scorpius, suaranya tiba-tiba lembut. Dia melangkah mendekati Rose dan duduk di sisi tempat tidur.

"Apa?"

"Semalam merupakan saat terindah dalam hidup aku." Kata Scorpius, membelai pipi Rose.

"Apa? Apa... apa kita..."

"Benar!"

"Brengsek!" kata Rose menghantam Scorpius dengan bantal.

"Mengapa kamu seperti ini? Padahal tadi malam kamu berbeda... kamu lebih..."

"Aku nggak mau dengar...! Mana pakaian aku...?"

"Rose, tenanglah!"

"Kamu keterlaluan... Aku mabuk dan kamu memanfaatkan aku!"

"Aku nggak memanfaatkan kamu... semua terjadi begitu saja."

"Aku mabuk dan kamu tidak... Harusnya kamu bisa meninggalkan aku."

"Aku kan dah bilang semua terjadi begitu saja..."

"Kamu memang menginginkan ini kan? Kamu dari awal memang ingin tidur dengan aku kan?... Kamu benar-benar brengsek...Kembalikan pakaianku aku mau pulang!"

"Aku nggak akan membiarkanmu pergi sebelum bicara denganmu."

"Aku nggak ingin bicara... Kembalikan pakaianku... Tongkatku... Mana tongkatku?"

"Aku akan mengembalikannya nanti setelah kita bicara."

"Aku nggak mau bicara denganmu... Ku mohon! Biarkan aku pulang." Dia tidak ingin menangis, tapi air mata telah membanjiri pipinya.

"Dengar, Rose! Aku mencintaimu dan aku akan terus mencintaimu. Aku bukan hanya ingin tidur denganmu lalu meninggalkanmu seperti yang kamu kira selama ini. Buktinya sekarang, kita berdua melakukannya dan aku tetap mencintaimu. Aku nggak akan meninggalkan kamu. Aku berjanji. Apapun yang terjadi aku akan terus bersamamu."

"Biarkan aku pulang..."

Scorpius mengulurkan tangannya dan memeluk Rose, "Rose, percayalah padaku!" katanya di rambut Rose.

Rose melepaskan diri dari Scorpius dan mencoba menyingkir ke sisi lain tempat tidur.

"Aku minta maaf untuk semua yang kulakukan dulu. Aku tahu aku menyakitimu, membuatmu marah dan menangis... Tapi sekarang aku berubah, Rose... Aku... Percayalah padaku!" kata Scorpius, air mata penyesalan memenuhi matanya.

Rose merasa hatinya seperti ditusuk sembilu. Hatinya benar-benar sakit.

"Ku mohon... Jangan menangis!" kata Rose, menghapus air mata Scorpius, sementara airmatanya sendiri mengalir deras di pipinya.

"Aku nggak peduli. Aku memang ingin menangis... karena aku benar-benar ingin kamu melihat diriku... Aku benar-benar mencintaimu!"

Rose memeluk Scorpius dengan airmata berlinang, "Scorpius..."

"Rose..." kata Scorpius, mempererat pelukan mereka.

"Aku membuatmu sedih... aku nggak ingin kamu sedih dan menangis... maafkan aku!... Maafkan aku! Aku... aku mencintaimu... Aku selalu mencintaimu... Jadi, ku mohon jangan tinggalkan aku... Jangan pernah meninggalkan aku!"

"Aku tidak akan meninggalkanmu."

Mereka berdua berpelukan selama beberapa saat. Rose melepaskan diri dari Scorpius dan menghapus airmatanya. Scorpius sedang tersenyum padanya dengan sisa-sisa airmata di matanya.

"Kalau kamu meninggalkan aku, aku akan mengejarmu, meskipun ke neraka" kata Rose.

"Nggak akan, Rose!" kata Scorpius memeluknya lagi, sesaat kemudian melepaskan Rose. "Kita bisa bertunangan sekarang kalau kamu mau."

"Apa? Hah? Jangan!"

"Satu hal yang harus kamu ingat, Rose... Aku tidak akan membiarkanmu merayu Davis, Alex atau Mr. Zabini... Aku akan membunuh mereka kalau kamu melakukannya lagi."

"Aku nggak merayu Mr. Zabini."

"Aku hanya memperingatkanmu... Jangan dekat-dekat dengan cowok lain selain aku."

"Oh, baiklah!"

"Bagus! Dipsy!" kata Scorpius memanggil Peri Rumahnya.

Bunyi tar keras menandakan munculnya Dipsy. "Aku membawa pakaian Miss Rose, Master Scorpius." Kata Dipsy dengan suara melengking nyaring. Dia memegang gaun hitam Rose yang sudah bersih, beserta tongkat sihirnya.

"Terima kasih, Dipsy." Kata Rose mengambil gaun dan tongkatnya. Lalu dengan ditutup selimut dia berjalan ke kamar mandi.

"Master Scorpius dan Miss Rose ditunggu nyonya di bawah... Dipsy telah menyediakan sarapan." Rose mendengar Dipsy berkata sebelum menutup pintu kamar mandi.

Sambil mandi Rose memikirkan status hubungannya dengan Scorpius. Mereka sekarang resmi pacaran. Rose merasakan pipinya memerah. Yang mengherankan Rose adalah, dia sedikitpun tidak mengingat kejadian semalam. Haruskan dia ingat, itu adalah kejadian yang membahagiakan. Lagipula, dia tidak merasa sakit, kata orang kalau melakukannya pertama kali harusnya sakit, tapi Rose tidak merasakan apapun. Tapi biarlah, saat ini dia sangat bahagia.

"Kita ditunggu Mama dan Papa di bawah." Kata Scorpius setelah Rose keluar dari kamar mandi dan berpakaian lengkap. Scorpius juga telah mengganti jubah mandinya.

"Baiklah..." kata Rose.

"Eh, Rose, aku harus mengatakan sesuatu padamu..." kata Scorpius, memandang Rose agak takut.

"Apa?" tanya Rose heran.

"Semalam kamu mabuk berat dan memuntahi pakaian aku dan pakaianmu..."

"Oh maaf! Aku akan mencucinya..."

"Dipsy sudah mencucinya..." kata Scorpius.

"Lalu?"

"Eh kita... Kita nggak melakukan apa-apa?"

"Hah?"

"Yah, semalam kita nggak melakukannya... aku tidur di ruang tamu dan kamu tidur di kamar aku... Lagipula, Mama dan Papa nggak akan membiarkanku tidur bersamamu karena kita belum menikah..."

APA?


Review please!

Akhirnya selesai juga! Terima Kasih sudah setia membaca dan mereview! :p

Riwa Rambu