Chapter sebelumnya: Eksistensi perkumpulan bisnis kelas atas yang diikuti Granger, Malfoy dan Diggory terancam oleh pihak misterius di luar sana. Selagi setiap anggota perkumpulan berusaha mengidentifikasi dan mencegah pihak tersebut mengusik mereka lebih jauh, masalah internal antar ketiga keluarga kontroversial ini jatuh semakin dalam ke jurang perselisihan tak berdasar. Niat Cedric Diggory meraih kembali Hermione Malfoy untuk menjadi sekutunya gagal total. Kenyataan itu kemudian bermuara pada aksi saling mencelakai di terowongan. Hermione Narcissa Malfoy kehilangan kontrol diri total ketika menemukan fakta bahwa dirinya berbagi hubungan darah dengan pengemudi sewaan Cedric Diggory, yang sempat 'menarik'nya di depan gedung pertemuan sebelumnya. Keterkejutan luar biasa melanda Draco William Granger dalam perjumpaannya dengan sahabat lamanya yang kini nyawanya berada di tangan Hermione. Harry Potter, Ginny Weasley, Ron Weasley, Cho Chang, dan Neville Longbottom berhasil meyakinkan diri mereka untuk setuju terlibat dengan turut menjadi kru atau semacam bagian dari kubu Malfoy-Granger meski taruhannya tidak main-main, yaitu hidup mereka sendiri.

.

.

.

Sekitar tiga detik setelah peluru berdiameter 5.7 mm itu bersarang di tangan kanan Helena Ashlan, Hermione merasa sebentar lagi kepalanya juga ikut meledak sebelum akhirnya kegelapan tanpa aba-aba merampas penglihatannya. Berbagai macam pikiran menyerang benaknya secara membabibuta, tak menyisakan sedikit pun ruang untuknya berpikir lebih jernih... soal ibunya... soal silsilah trah Malfoy yang selama ini... soal Cedric…

"Malfoy!" seru Lara terkejut melihat Hermione yang langsung oleng dan terkulai di kursi pengemudi, tapi dengan cepat mencengkeram kedua tangan gadis itu agar tetap berada di atas kemudi tepat ketika terowongan terbelah menjadi dua jalur. Rombongan Cedric mengambil jalur kiri menuju Liverpool dengan Helena yang kesulitan menyetir menggunakan satu tangan karena luka segar yang menganga dan tak henti memuncratkan darah, sementara Ferrari Four merah Draco meluncur ke jalur kanan menuju Waterloo.

Beberapa kilometer terlewati sejak cabang terowongan terakhir memisahkan dua pihak berkonflik ini. Suasana kota yang gemerlap tapi terasa muram sekaligus dingin menusuk hingga tulang menyambut iring-iringan mobil yang dipimpin Lara dalam kecepatan tinggi. Centro izin pamit pada Arafat, yang memaksanya tetap tinggal–mengikuti mereka– tapi tak berhasil. Katanya tak aman bagi mereka jika ia mengikuti menggunakan mobil Cedric, jadi Centro memisahkan diri di pertigaan Upper Ground.

"Draco? Ke mana kita akan pergi sekarang?" Suara cemas bercampur keingintahuan Harry memecah kesunyian canggung di mobil Draco via telefon, tapi tidak lamunan cowok pirang itu. Dengan tangan yang masih menggenggam senjata, ia menatap nanar ke luar jendela.

"Southbank Tower," Lara menjawab, kemudian melirik Hermione yang pingsan dan Draco yang mematung seperti kena bius total, "dua orang di mobil ini perlu istirahat penuh dan pembicaraan serius sebelum menyusun rencana selanjutnya."

Kepemilikan penthouse di Southbank Tower ini jatuh pada Lara Croft Granger tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 19, beberapa tahun lalu. Seharusnya, di usia itu ia lebih dari bisa menggunakan penthouse ini dengan bebas. Sesuai dengan kebutuhan, dan dalam segala tingkatan. Mengundang teman-teman kuliahnya untuk datang minum-minum dan berpesta sampai pagi. Maka tidak ada teman sepantarannya yang bisa lebih iri lagi menjadi seorang Lara, pemilik salah satu properti termahal ketiga di London yang hanya berjarak dua blok dari sungai Thames. Pasti tidak ada yang bersikap tidak manis kepadanya semasa kuliah.

Kenyataannya, sampai sekarang belum ada satu pesta pun yang pernah menjamah penthouse mewah seluas lapangan sekolah ini.

Dingin, mencekam dan tak nyaman sama sekali. Pemikiran itu muncul begitu saja di kepala Ginny saat bunyi bermelodi dari perangkat pengunci pintu menggema di udara dan menampilkan ruangan superbesar yang lampu downlite-nya menyala satu demi satu seiring berjalannya sepupu satu-satunya Draco William Granger menuju barisan jendela berbingkai hitam tanpa tirai yang memanjang dari lantai hingga ke atap lantai dua. Siapapun pasti terpana disajikan pemandangan malam hari kota London yang bertabur kilau lampu seperti lukisan, seolah jendela-jendela itu adalah kanvasnya. Lara berdiri cukup lama memandang jauh ke luar, ke suatu titik di sungai, sebelum berbalik menatap sekumpulan penyihir dengan kantung mata dan kelelahan luar biasa yang membungkus penampilan mereka.

"Untuk sementara, ini tempat teraman di kota yang terpikirkan olehku," ucap Lara, tapi tampak tidak yakin pada apa yang dia sendiri katakan, "di atas ada 5 kamar tidur, pergunakan dengan bijak dan adil. Demi keamanan, aku tidak menyewa asisten di sini, kemandirian kalian sebaiknya muncul mulai dari sekarang–"

Tring!

Semuanya memusatkan perhatian ke suara yang berasal dari dapur terbuka di pojok kanan penthouse. Wangi teh jahe dan senyum kikuk Arafat adalah dua hal yang mereka dapatkan. "Sorry, aku dan dapur benar-benar sulit dipisahkan, mohon pengertiannya."

Pansy Parkinson menghela napas lega dan menyeletuk, "Kayaknya kau emang nggak perlu menyewa asisten, deh, sepupu Granger."

Ketika setiap orang sudah mendapat teh jahe buatan Arafat, Hermione masih belum juga membuka matanya. Draco menawarkan diri membopong rekan Ketua Murid-nya itu ke kamar di lantai dasar penthouse karena Lara tak mungkin melakukannya dengan luka tembak di lengan–yang kemudian diobatinya sendiri.

Ron asyik berkecimpung di dapur bersama Arafat dan mulai memerintah ini-itu begitu tahu bahan-bahan yang tersedia di lemari penyimpanan lebih dari cukup untuk memuaskan hasrat berlebihnya pada makanan. "Blimey! Ini asparagus hijau Swedia original, mate."

Di meja makan, Harry dan Neville sibuk melahap berita-berita dari seluruh penjuru dunia lewat gawai masing-masing.

"Ini benar-benar candu," gumam Neville dari balik layar biru yang menyinari wajahnya.

"Keadaan di luar dunia sihir memang patut diperhatikan. Lagipula kita juga tinggal di planet yang sama dengan muggle," balas Harry tanpa mengangkat wajahnya dari berita terbaru soal negara mereka yang akan melaksanakan referendum Brexit kedua sebelum resmi keluar di bulan Maret, "ini membuatku berpikir. Apakah tugas tak biasa dari Dumbledore ini murni demi penyatuan asrama? Keadaan memang begitu kacau sekarang, terutama lingkaran kelompok kita. Segala hal tentang perselisihan keluarga Cedric, Draco dan Hermione Malfoy membuatku curiga apakah jauh di sana Dumbledore dan McGonagall sebetulnya mengetahui ini atau tidak."

Neville terpana akan kemampuan berpikir kritis sahabatnya itu. "Ada benarnya juga. Bisa dibilang, keputusan Dumbledore soal program 'pengakraban' satu minggu benar-benar prematur. Pengakraban apanya? Seolah-olah Voldemort belum sepenuhnya mati dan gejala kebangkitannya muncul lagi. Kupikir akan lebih bermanfaat jika program yang tak begitu jelas juntrungannya ini diganti dengan magang di Kementerian Sihir ataupun Gringotss, kalau kau tertarik masalah keuangan. Penyihir tanpa tongkat mereka di dunia muggle? Ini sama saja dengan melepaskan sepasukan ular yang kelenjar bisanya sudah diambil. Kalaupun Dumbledore bermaksud menyampaikan pesan tersirat bahwa pekerjaan usai lulus juga bisa didapatkan di luar teritori dunia sihir, bagi mereka yang tak lolos seleksi di Kementerian, menurutku cara ini tetap tidak efektif. Aku yakin ada sesuatu di belakang ini semua."

Tangan Harry berhenti menggulirkan layar iPhone, otak encernya bergemuruh mencerna pendapat Neville. "Maksudmu, ini pasti ada hubungannya dengan kunjungan Menteri Sihir dan beberapa elite Kementerian sehari sebelum Masquerade Party kemarin?"

"Kau melihatnya?"

"Ya. Buatku itu tak terasa seperti pertemuan biasa. Raut wajah mereka jelas penuh beban. Aku bertanya-tanya apakah pengosongan Hogwarts merupakan permintaan mereka."

Alis gelap Neville saling bertaut, ia mulai mencium ketidakberesan pada diri Harry. "Pengosongan?" responnya heran, "Harry, tugas ini hanya melibatkan siswa tingkat tujuh saja, 'kan? Aku tak melihat satupun anak tingkat bawah di pesta kemarin."

Harry membenahi kacamatanya yang melorot dengan tidak nyaman. "Mereka diliburkan."

"Apakah kau baru saja mengatakan kondisi Hogwarts saat ini? Siapa informanmu?" selidik Neville, suaranya mengecil, lalu beringsut lebih dekat ke samping Harry. "... dan fakta kalau tongkat yang kau kumpulkan pada Filch adalah tongkat palsu."

Pandangan Harry melompat cepat ke pintu kamar di mana Draco, Lara dan Hermione menghilang di baliknya beberapa menit lalu, kemudian ke sofa putih gading di pusat ruangan yang diduduki Ginny, Pansy dan Cho secara terpisah, dan aksi memotong kembang kol dengan brutal yang diperagakan Ron–masih di dapur bersama Arafat. "Dennis Creevey," sebut Harry akhirnya. "Setelah pertempuran terberat melawan Voldemort, aku tidak akan pernah bisa meninggalkan tongkatku. Kita tidak tahu pasti apa yang akan planet ini berikan pada kita, man."

"Aku mengerti," ujar Neville. "Tapi, bisakah kita memercayai Malfoy?"

"Kau percaya pada anak buahnya."

"Aku hanya... berusaha percaya. Dia tidak terlalu buruk secara pribadi."

"Nah, begitu pula dengan Ginevra Weasley," ungkap Harry tenang. "Bagaimana kita menyikapi orang lain di luar asrama selama ini tergantung oleh konstruksi nilai sosial yang sudah lama ada, 'kan? Slytherin dan Gryffindor yang dari luar tampak mustahil akur karena stereotipe turun-temurun yang tertanam di kepala kita, alias warisan dari pendahulu kita."

"Mentalitas kawanan," Neville manggut-manggut. "Hanya saja ketidakpercayaanku pada Malfoy lebih beralasan lain. Bagaimana bisa dia berubah sedrastis itu pada Diggory, rekan terdekatnya sendiri selama di Hogwarts? Tak cukup masuk di akal."

"Well, kita bukan benda mati. Setiap orang berubah, Neville," tukas Harry singkat. "Soal cepat atau lambatnya, sebaiknya jawaban itu biar Draco yang berikan. Jelas dia yang paling mungkin tahu. Tunggu–ya, tentu saja, Draco berhutang segudang penjelasan pada kita. Untuk sementara ini, kita cukup berenang mengikuti arus, sambil tetap membuka mata lebar-lebar."

Neville mengangguk, merasa tak punya pilihan lain. Mereka semua sudah terlanjur basah. Sebelum menenggak habis teh jahenya, ia berkata, "Kuharap cewek tadi baik-baik saja."

"Teman lama Draco?"

"Hn. Firasatku bilang, seandainya dia mati, masalah Granger-Malfoy-Cedric mungkin tidak akan selesai."

Dengan sumringah, Ron mendatangi keduanya dengan semangkuk penuh sup panas super harum tepat saat Harry mengucap, "Kukira hanya aku yang berpikir cewek itu seperti Hermione Malfoy versi rambut hitam."

"Hah? Siapa yang mirip siapa?" tanya Ron usai menghempaskan bokongnya di kursi.

"Aku masih heran," bisik Ginny pada Pansy di sebelahnya, "penthouse modern semacam ini harusnya memberiku perasaan kagum dan takjub luar biasa seperti halnya ketika kita memasuki aula besar Hogwarts pertama kali. Tapi bulu kudukku tak turun-turun juga sejak tadi. Tidakkah kau merasa hal yang sama?"

Sebelum menjawab pertanyaan Ginny, Pansy memandang ke arah Cho Chang yang berlagak menyesap teh jahenya, namun tak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada obrolan kecil-kecilan mereka. Cewek Slytherin itu merubah posisi duduknya dari memunggungi menjadi sikap normal menghadap Cho dan Ginny, seakan memberi isyarat kalau cewek Cina itu diizinkan bergabung dengan mereka.

"Please, deh, Gin. Kita 'kan bisa nanya ke murid kesayangan Prof Trelawney ini," saran Pansy enteng, tidak terlalu peduli pada Ginny yang nyengir canggung. "Gimana menurutmu, Chang? Aura nggak wajar macam apa yang mengisi penthouse sepupu Granger ini?"

Dentingan kecil tercipta saat Cho menaruh gelasnya di meja kaca yang dalamnya berisi pasir dan fosil kerang-kerangan. "Kelihatannya pernah ada kematian di sini," begitu kata Cho, yang langsung disambut ekspresi horror dari dua cewek di hadapannya. Aneh rasanya berbicara sedekat ini dengan Ginny dan Pansy, yang notabene adalah musuh-coret-rekan-tak-bersahabat sejak dari tingkat pertama, pikir Cho. Ginny juga merasa ganjil dihadapkan pada situasi semacam ini, tapi berkat percaya diri berlebih Pansy, ketiganya bisa larut dalam perbincangan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya akan terjadi.

"Lalu... maksudmu di sekitar kita masih ada ruh mereka? Seperti apa penampakannya?" korek Ginny penasaran.

"Ya kayak hantu-hantu pada umumnya, lah. Kau mau lihat yang macam apa lagi?" jawab Pansy

"Kau pikir ini Hogwarts," sahut Ginny lagi, agak sewot. "Kabarnya hantu dunia muggle lebih mengerikan. Nick Si Kepala Buntung bahkan tidak ada apa-apanya."

Pansy memeluk lengannya sendiri erat-erat, menunggu jawaban Cho juga. "Wah, entah kenapa aku jadi lebih takut sama hantu yang nggak bisa dilihat mata telanjang begini."

Cho Chang menatap mereka berdua, menahan diri untuk tidak tersenyum geli. "Yang kulihat cuma seorang wanita cantik mirip sepupu Draco di situ," telunjuk Cho mengarah ke balkon.

"Kurasa dia lagi menikmati pemandangan juga, deh," seloroh Pansy sok tahu, meskipun ia tidak melihat apa-apa di luar sana selain teralis hitam setinggi perut yang memanjang dari ujung ke ujung. "Kayak yang sepupu Draco lakukan pertama kali kita masuk ke sini tadi. Omong-omong, kalian nggak ngantuk?"

"Bukan mengantuk lagi," Ginny menguap lebar-lebar, "tapi aku penasaran dengan sosok di balkon itu. Dia sendirian saja, Chang?"

"Sekarang ada orang lain," terang Cho seperti pemandu wisata tempat-tempat supranatural, "mungkin pasangannya. Seorang pria."

"Oh, kalian lihat orang tuaku?" suara Lara Croft Granger entah kenapa terdengar seperti geledek besar yang sukses membuat ketiga cewek di sofa itu nyaris melompat saking terkejutnya.

"Cuma dia yang lihat, sih," kata Pansy, menunjuk Cho dengan dagunya. "Kamu nggak bisa lihat?"

Lara menggeleng sedih, menampilkan senyum pahit.

"Mereka tampak baik-baik saja, kalau kau mau tahu," Cho menepuk punggung tangan Lara, berusaha menenangkan. "Jarang-jarang aku melihat sosok yang setenang dan sehalus mereka."

"Bahagia, 'kan," simpul Lara, senyumannya kini berubah ikhlas saat memandangi balkon. "Ah, ya, kalian. Mandi air hangat dan tidurlah. Besok pagi Hermione pasti sudah bugar dan siap kalian bombardir pertanyaan."

"Yeah, aku pengen klarifikasi banyak hal ke dia," sambung Pansy setuju, "ini drama tergila yang pernah seorang Parkinson masuki."

"Tanganmu bagaimana?" tanya Ginny bersimpati. Mata cewek Weasley itu menyusuri perban yang melingkar di lengan atas Lara, tak bisa menahan diri untuk tidak meringis membayangkan sakitnya.

"It's okay. Lebih baik daripada di sini," Lara menunjukkan luka bekas jahitan di sisi kanan perutnya yang entah bagaimana tetap dihiasi otot-otot kencang yang membuat Pansy dan Ginny menganga cukup lama.

"Tampaknya cewek tangguh sepertimu tak pernah menangis hanya gara-gara cowok–atau setidaknya waras dan kebal terhadap rayuan serta janji manis cowok-cowok tampan, ya," puji Cho asal main tarik kesimpulan, matanya berbinar-binar layaknya kucing liar yang menemukan setumpuk ikan goreng di dapur. "Ajari aku, Master!"

"Well, setidaknya aku punya hak-hak mendasar seperti bernapas sejenak dulu untuk mengisi paru-paruku dan membiarkan otakku berproses demi memungut kembali segalanya yang sempat tercecer, 'kan? Ingat, aku juga manusia, bukan demigod. Kalau kalian menginginkan penjelasan yang lebih detail dan koheren dan oh–punya HATI NURANI sebaiknya ada makanan yang bisa kumakan sekarang juga."

Baru kali ini Draco menyaksikan orang yang baru saja siuman dari pingsan sekaligus tidurnya mampu memproduksi lebih dari sepuluh kata dalam satu tarikan napas. Sebenarnya, heran bukan kata yang tepat untuk itu. Tapi, Draco semakin yakin kalau Hermione Malfoy memang memborong banyak karakter dari putri kerajaan menawan yang ditawan di atas menara hingga troll gunung Skandinavia yang dapat melahap apa saja dalam sekali telan. Cewek itu benar-benar bisa menjadi siapa saja. Manis hingga bar-bar.

"Aku baru tahu ternyata Malfoy mengerti konsep 'hati nurani'," celetuk Harry dengan volume suara terkecilnya pada Neville, yang menjawab, "Atau dia hanya asal sebut. Orang yang habis pingsan, 'kan, suplai oksigen menuju otaknya belum sepenuhnya normal."

"Beruntung ada Arafat di sini," Pansy bersuara di sela-sela kegiatannya mengecat kuku kaki. "Perutku nyaris nggak bisa dimasukin apa-apa lagi habis sarapan tadi."

Ginny menyeret sebagian tirai di kamar bernuansa rose gold yang disesaki semua orang itu pelan-pelan, membiarkan cahaya matahari pagi menerangi Hermione yang tengah makan di tempat tidurnya. Hermione protes keras karena silau, tapi Ginny mengabaikannya dan Draco di ujung yang lain juga tetap menarik tirainya hingga kini semua sudut kamar jadi terang benderang. Cho bisa melihat dengan jelas kalau garpu yang digenggam Hermione itu busur dan anak panahnya, mungkin Draco bakal langsung mati di lemparan anak panah pertama.

"Jadi, siapa yang mau kujawab duluan?"

"Jelas aku," sambar semuanya hampir bersamaan.

Hermione berdecak singkat, iris cokelatnya mendarat di satu titik. "Drac–Granger," mulainya. Draco mengangkat sebelah alisnya sebagai respon. "Sial, aku merasa ditelanjangi sekarang."

"Semua di sini berhak tahu," balas Draco, "tidak ada yang bisa mundur lagi."

"Aku bisa saja pulang," Ron angkat bicara. "Bukannya tidak ingin membantumu, mate. Perang Besar merenggut beberapa anggota keluargaku. Membahayakan diriku lebih jauh lagi, apalagi di permainan Malfoy dan Diggory ini, tidak bisa aku teruskan. Mulai sekarang pilihan ada di depan mataku, kesempatan untuk membenahi hidup dan menjalaninya seperti keinginanku. Sederhana saja, aku tidak mau menambah dan terlibat dalam kekacauan lagi."

Neville menyikut Harry di perut, semacam kode yang membuktikan kalau ramalan Neville semalam soal Ron dan segala kegelisahannya benar.

"Pilihan itu... tak ada, Ron," kata Harry dengan nada final. Draco memandang sobat luka petirnya itu bingung, apalagi?

Great, sekarang semuanya bermasalah, gerutu Hermione dalam hati.

"Woah, aku nggak kepikiran sampai situ," komentar Pansy begitu Harry dan Neville selesai mempresentasikan asumsi dan spekulasi mereka tentang Hogwarts dan Kementerian Sihir yang kemungkinan besar berkaitan dengan permasalahan di dunia muggle saat ini.

"Kau pernah bilang padaku, 'kan, Ron, sebelum portkey dari pesta membawamu ke The Burrow, kau sempat terdampar di gedung tempat Cedric Diggory membicarakan sesuatu tentang portal portkey-nya," ucap Harry sambil mengedarkan pandangannya ke semua orang, "analisisku, dia berusaha mengatur portkey menuju Malfoy Manor begitu tahu yang ia tarik bukan Malfoy–"

Di detik itu Ginny menangkap raut wajah Cho yang langsung berubah dingin. Ginny juga tidak lupa momen di mana Harry bilang kalau dia suka Cho, walaupun tahu cewek indigo itu masih punya rasa pada mantan pacarnya. Semua hal jadi serumit sarang laba-laba.

"–dan pengaturan portkey tidak sembarangan! Departemen Transporstasi Sihir bagian otoritas Kantor Urusan Portkey mengawasi setiap rute dengan cermat khsususnya di wilayah padat muggle seperti kediaman Diggory, Malfoy atau Draco yang terletak di tengah keramaian kota. Itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya saksi mata muggle di sekitar titik portkey. Entah bagaimana ada sesuatu yang membuat portkey Diggory tidak berfungsi..."

Draco menyela, "Karena kubuang ke luar jendela manor, mungkin?"

Hermione mendelik marah. "Seriously, Granger?! Merak-merakku bisa saja terluka kena lemparan itu!"

"Setiap lemparanmu, 'kan, seperti tengah bermain baseball, bro," tukas Lara yang berdiri menyandar di pintu, "jadi pasti alat itu melambung jauh sampai jalanan. Dan di sekitarnya banyak muggle. Ta-da, twas out of reach."

"Masuk akal," Harry mengangguk setuju. "Jadi, rencana macam apa yang sedang dieksekusi Diggory, Malfoy?"

Hermione menegakkan sandaran bantalnya sebelum memulai, "Dia sedang memburu sebuah chip, yang belum pernah kulihat sama sekali, dan sebelumnya tidak pernah dipikirkan sama sekali."

"Sebelumnya nggak pernah kepikiran... berarti waktu hubungan kalian masih baik-baik aja kayak di Hogwarts?" tanya Pansy. Lalu Ginny menambahkan, "Kau mulai memikirkan chip ini setelah upaya mencurigakannya memaksamu ke rumahnya lewat insiden taksi yang hampir merenggut nyawa Granger itu?"

Anggukan Hermione menunjukkan kedua asumsi sahabatnya benar.

"Terus, apa masalahmu dengan chip ini sampai dia kepingin membunuhmu, sih, Drake?" giliran Ron bertanya, "sudah dasarnya hubungan kita di sekolah dengan dia buruk, lalu muncul pula chip sialan ini."

"Dan persaingan binis keluarga," tambah Lara, "puncaknya, chip ini disimpan oleh pembuatnya di suatu tempat di areal tambang Granger Mining di Mesir."

Neville mengacung. "Siapa pembuatnya?"

"Ada beberapa orang. Salah duanya orang tuaku," Lara mengaku, "mereka meninggal di penthouse ini di tangan oknum yang menyamar jadi asisten kami selama setahun. Siapa yang tahu?"

"Penthouse dengan sistem keamanan tingkat tinggi ini...? Semua pintu di sini bahkan terenkripsi, bukan?" cerocos Cho tak percaya. Begitu mendapat tatapan tak kalah bingung dari Lara, cewek itu buru-buru menambahkan, "Ah, aku sempat belajar sedikit-sedikit dari adikku di Shanghai. Dia ahli IT. Aku jadi tahu pengamanan jenis apa yang terpasang di sini."

"Kayaknya 'sedikit-sedikit'-mu itu bermakna 'banyak', deh. Chang," imbuh Pansy tanpa beban. Kalau saja ada perlombaan mulut terlancang pasti dia juaranya. "Aku nggak bakal kaget kalau kau bisa ngerampok bank tanpa ketahuan."

"Sebentar..." Harry kembali menengahi, "apa kata polisi soal pelakunya, Lara?"

"Mantan asistenku tidak bekerja sendirian, tapi berkelompok. Sayangnya bukti yang kupunya itu tak terlalu kuat ditambah lagi kamera pengawas penthouse dibajak selama operasi berlangsung. Setelah itu, dia bunuh diri. Mata rantainya putus di situ. Polisi tak bisa melakukan pencarian lebih lanjut."

"Dan Narcissa," suara Hermione mengagetkan semuanya. "Kupikir wanita yang mesti disebut ibu–yang bahkan sekarang tak kuketahui keberadaannya– termasuk salah satu pembuatnya juga. Satu dua kali dia sebut-sebut satu proyek di Mesir bernilai tinggi."

"Kau tak berusaha mencarinya, Malfoy?" Cho terheran-heran dibuatnya.

"Yah, aku sudah melakukan apapun yang kubisa untuk menjangkaunya. Sampai cewek itu muncul..."

Draco tahu mulai menjurus ke mana pembicaraan ini. Sebelum bertambah parah, ia perlu segera menguasai topik tersebut. "Serena adalah salah satu sahabatku, dan aku pernah bertemu ibunya. Ia sama sekali bukan Narcissa, seperti yang kau lihat lewat Legillimens, Malfoy."

Hermione menggeleng, wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. "Dia dibuang, Granger. Itu pasti ibu asuhnya. AKU JELAS-JELAS LIHAT SOSOK NARCISSA–"

"Mione, mione, calm down," Ginny menghambur ke tempat tidur, diikuti Pansy yang gelagapan meraih gelas air putih untuk disodorkannya pada Hermione.

"Ibumu anak tunggal?" pertanyaan Cho terdengar ganjil, tapi Hermione tetap menjawab, "Kau ingin bilang ibuku punya kembaran? Ini bukan lelucon, Chang. Seburuk apapun hubunganku dengannya, aku masih tahu JELAS susunan pohon keluargaku, just so you know."

"Kecuali ada yang menghapusnya, Malfoy," Harry menambahkan dengan yakin.

"Diggory... bagaimana perannya, dan keluarganya? Jangan bilang ayahnya yang pejabat Departemen Misteri itu juga salah satu pembuat entah apa yang ada di dalam chip itu?" tebak Pansy, awalnya berniat menyelamatkan Hermione dengan mengalihkan pembicaraan soal Narcissa. Tanpa tahu perkataan yang meluncur dari bibir tebalnya itu memicu perdebatan lebih, lebih besar dari sebelumnya.

"Sialan... dia ayah dari cewek itu."

AUTHOR'S NOTE

Hola! Wow... aneh rasanya, kembali merajut fic yang ditelantarkan kurang lebih 5 tahun (Sejak sibuk persiapan masuk kuliah dan mengalami insiden keracunan abon yang berbuntut pada tingginya asam lambung plus maag akut, mendadak mengubahku jadi orang terboyo yang nggak bisa kelamaan di depan laptop). Kalau dianalogikan, sama dengan melanjutkan menjahit sweater wol, udah pasti benang barunya punya warna, ketebalan dan kekuatan yang berbeda dari benang sebelumnya–tapi nggak berlaku untuk motifnya, kalau iya, bisa gawat. Lol

Semesta mungkin nggak mengizinkan fic ini mangkrak, jadi, aku diingetin-coret-ditampar-keras lewat... berita baru dari Emma Watson dan Tom Felton! Iya, that day they went skateboarding together and made all Dramione shippers around the world faints simultaneously. Gila, bener-bener sulit dipercaya. Pertama, aku nyasar di dunia fanfiction sekitar tahun 2013 karena 'ulah' mereka dan akhirnya kembali menceburkan diri setelah sekian lama vakum juga karena mereka lagi! Nggak kebayang sih, kekuatan doa yg dipanjatkan setiap shipper di seantero Bumi buat pasangan ini sedahsyat apa. Putusnya Tom sama Jade bahkan dulunya merupakan salah satu doaku sewaktu masih jadi remaja labil yang sama sekali nggak sadar kalo itu jahat abis karena aku nggak kenal mereka in person tapi asal menghakimi. Meski begitu aku tetep percaya diri dan yakin nggak cuma aku yang punya doa semacam itu #liriksemuashippers. Well, that's the power of HP books and movies. Siapa pula yang nggak geregetan sama fakta Emma yang naksir Tom sejak dini tapi sayangnya cuma dianggap Tom gak lebih sebagai adik perempuannya? Oke, aku kayaknya memang susah sembuh dari sindrom mencampuri perkara kisah cinta orang lain, jadi, kuputuskan untuk kembali membahas ceritaku.

Sebelumnya, aku pernah bilang kalau fic ini nggak bakal lebih dari 10 chapter, tapi ternyata ludahku terjilat sendiri. Makanya, ini momen tepat buat mohon maaf sebesar-sebesarnya! Gaya penulisanku sepertinya ikut bertransformasi seiring arus globalisasi, jadi kalian pasti merasa transisi antara chapter 10 dan 11 bener-bener setajam itu. Selain lewat deksripsi dalam cerita, aku mencoba lebih menonjolkan karakter tiap tokoh dengan mendiversifikasi gaya bicara mereka masing-masing yang kelihatan jelas di chapter ini. Misalnya, Pansy yang ceria, penuh percaya diri dan ceplas-ceplos selalu punya dialog dengan kalimat semi baku, sementara dialog formal Harry secara langsung membentuk karakternya yang lugas, kritis dan tangguh. Terus, entah kenapa semakin tambah umur aku semakin payah dalam menganalogikan berbagai hal atau situasi bernuansa komedi yang bisa saja kutuang tiap menulis tanpa banyak berpikir di masa-masa SMP dan SMA. Nah, buat kalian yang peka pasti juga sadar chapter 11 terasa lebih serius dibanding pendahulu-pendahulunya. Paradoksnya, tingkat kerecehanku malah meluap-luap nggak terkendali cuma gara-gara postingan Awreceh dan 9GAG yang nggak pernah absen di temlen LINE.

Ah, cukup segini saja cuap-cuapnya. Aku bakal jejingkrakan bahagia kalau ternyata masih ada review yang datang dari pembaca 5 tahun silam. Semacam reuni online, atau reuni virtual, sebentar–reuni apanya kalau nggak pernah bertatap muka sebelumnya?!

Sampai jumpa lagi, pembaca budiman yang tak mungkin lupa meninggalkan jejak sepatah dua patah kata di kolom review!

Jakarta, 2019.