Tittle: Get Down Seasons 2 : AMY (MEANIE FANFICTION)

Author: Hani Hwang

Genre: romance, married life, yaoi

Rated: M

Summarry: Mingyu dan Wonwoo sudah meraih kebahagiaan mereka, tapi, hidup tak selalu berjalan mulus kan?

Disclaimer: Plot ceritanya punya author, Wonwoo juga punya author.

Notice: Sebaiknya baca Get Down terlebih dahulu sebelum baca fict ini.

DON'T LIKE DON'T READ
REVIEW PLEASE

.

.

.

.

Wonwoo terbangun dengan kepala pening. Semalam ia tertidur dengan perut kosong dan wajah sembab. Perutnya sakit terasa melilit dan kepalanya pusing sekali. Tangannya memegangi keningnya. Mencoba menahan pening yang menyerangnya. Dengan tangan bergetar, Wonwoo meraih ponselnya di nakas.

Mendial nomor seseorang.

"Jihoonie? Tolong bawakan obat sakit kepala dan sarapan kekamarku." Lirihnya pelan.

"Cepatlah." Ujarnya, sebelum menutup sambungan telefon. Wonwoo menyandarkan punggungnya kebelakang. Merebahkan kepalanya pada sandaran ranjang. Mencoba meminimalisir peningnya.

Ceklek.

Suara kunci diputar mengalihkan pandangannya. Knop diputar, dan detik berikutnya kepala Jihoon menyembul masuk. Dengan seulas senyum manis selamat pagi.

"Sarapan datang~" Jihoon tersenyum riang. Karena akhirnya, Wonwoo meminta makan juga. Padahal sebelumnya ia menolak.

Dengan langkah cepat ia menghampiri Wonwoo, menyodorkan nampan sarapannya. Dan menaruh segelas susu dimeja.

Wonwoo dengan cepat memakan sarapannya. Sandwich daging asap dengan sup macaroni. Perutnya sangat lapar. Ia tak mau maag nya sampai kambuh lagi. Karena, ia merupakan penderita maag kronis.

"Pelan-pelan saja, Wonu-ya, aku tahu kau lapar." Jihoon mengelap sudut bibir Wonwoo yang belepotan kuah sup dengan tisu. Membuat sosok manis itu agak memelankan kegiatan makannya.

Hening mendominasi ruangan itu. hanya terdengar dentingan sendok yang dipakai Wonwoo menabrak mangkuk supnya. Jihoon sedang membuka gorden-gorden itu. Membiarkan sinar mentari pagi menerobos masuk kedalam. Membuka jendela-jendela dan balkon, sehingga angina segar berhembus masuk. Dan Jihoon mematikan pendingin ruangan.

"Cuacanya bagus, hari ini. Wonu-ya!" Ujarnya semangat. Wonwoo sendiri bingung bagaimana bisa Jihoon sesemangat itu. Pasti ada suatu hal yang terjadi padanya. Fikir Wonwoo. Diam-diam ia mulai curiga.

"Apa Minu dan Kyungie sudah berangkat sekolah?" Tanya Wonwoo, menghabiskan sandwichnya.

Jihoon mengangguk cepat, menyahut dengan semangat berlebih. "Hm! Tadi pagi aku mengantarnya!" Sahutnya, bahkan dengan senyum yang lebar. Wonwoo menyipit, semakin curiga.

"Apa Mingyu juga sudah pergi kekantor?" Tanya Wonwoo lagi. Menyusut sisa-sisa susu vanilla yang membekas disudut bibirnya dengan tisu.

Jihoon kembali mengangguk. "Iya, Tuan Kim berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada pertemuan bisnis dengan kolega asing." Jihoon menghampiri Wonwoo, duduk disampingnya. Mulai membereskan bekas makan Wonwoo.

Sementara sosok manis itu mengamat-ngamati penampilan Jihoon dari ujung rambut sampai kebawahnya. Mencari-cari suatu hal berbeda yang kiranya bisa membuat Jihoon berubah menjadi sangat semangat seperti sekarang. Tapi. . . Wonwoo tak menemukan satupun yang salah atau berbeda. Lalu, kenapa?

Jihoon yang merasa diperhatikan risih ditatapi begitu. Menoleh, hingga bola matanya bertemu pandang dengan milik Wonwoo. Keduanya sama-sama terdiam. Kemudian berpaling canggung.

"A-apa ada yang salah dengan penampilanku, Wonu-ya?" Tanya Jihoon. Pura-pura menyibukkan diri dengan piring kotor dan gelas bekas sarapan Wonwoo tadi.

"Tidak. . ." Wonwoo menggigiti bibir bawahnya. ". . .hanya saja kau semangat sekali hari ini. . . Jihoonie~ apa terjadi sesuatu?" Tanya Wonwoo akhirnya, menatap Jihoon dengan pandangan menuntut jawaban.

Jihoon salah tingkah. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Err. . . sebenarnya. . ." JIhoon mengetuk-ngetukkan jarinya didagu. Haruskah ia bilang kalau sekarang ia dan Dokter Hong Jisoo memiliki hubungan special? Secepat ini? Tapi. . . taka da salahnya kan?

Jihoon berkutat dengan fikirannya sendiri. Tak sadar Wonwoo yang sudah mengerutkan kening menunggu jawabannya.

"Sebenarnya kenapa?" Kejar Wonwoo.

"Sebenarnya. . . eum. . . kemarin. . " Jihoon merasakan pipinya bersemu mengingat kejadian kemarin.

"Kemarin Dokter Hong Jisoo menyatakan perasannya padaku. . . dan dia memberiku cincin ini." Jihoon menunjukkan jarinya.

Blush!

Wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Dia memang agak pemalu. Wonwoo menatap intens cincin yang melingkar dijari Jihoon.

"Whoah! Berlian biru!" Serunya kagum. Jisoo hyung benar-benar serius, fikirnya.

Jihoon semakin bersemu.

"Selamat, Jihoonie! Akhirnya kau tidak single lagi!" Ujarnya dengan senyum lebar. Dan Jihoon mengangguk senang.

"Sudah ya, Wonu-ya. Aku harus kembali bekerja." Jihoon pamit sambil membawa nampan bekas sarapan itu keluar. Meninggalkan Wonwoo yang masih terduduk diranjangnya.

Wonwoo meraih obat sakit kepalanya. Meminumnya dengan segelas air. Dan kemudian kembali merebahkan tubuhnya disandaran ranjang.

"Hm. . .Jihoon sangat beruntung. Kuharap kalian segera menikah." Gumamnya.

.

.

.

.

.

Mingyu terduduk diantara para koleganya. Mengikuti rapat bisnis dengan serius. Pria tampan itu memakukan pandangannya pada layar proyektor yang terpampang dihadapannya. Tapi fikirannya tidak disana. Konsentrasinya terbagi. Semua ini karena e-mail sialan yang diterimanya tadi pagi.

Mingyu mendengus pelan. Sebisa mungkin terlihat wajar didepan para koleganya.

"Jadi, apa ada yang ditanyakan?" Hwang Chaeyeon, sekertaris Mingyu yang setia. Saat ini tengah berdiri didepan memaparkan proposalnya. Dan beberapa orang yang ada diruangan itu mengangkat tangannya, bertanya.

Rapat berjalan kondusif seperti biasanya. Dalam proyek kali ini, Mingyu akan membangun beberapa pavilliun dan Villa untuk penginapan didaerah pegunungan. Ia juga sedang membangun komplek perumahan di distrik sebelah.

"Baiklah, pembahasan kali ini kita akhiri di sana, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya." Chaeyeon membungkuk Sembilan puluh derajat memberi hormat, dan tepuk tangan riuh mengakhiri rapat itu.

Mingyu masih terpaku, tak sadar kalau rapat itu sudah selesai. Ia hanya memasang senyum hambar saat para koleganya menyalaminya sebelum keluar ruangan.

Chaeyeon membereskan kembali berkas-berkasnya kedalam map. Dan kemudian menghampiri Mingyu saat pria itu memanggilnya.

"Ada apa, Tuan?" Tanyanya, mendudukkan diri dikursi yang berada dekat Mingyu.

"Hm. . . aku akan bertanya, tapi pertanyaan ini, bukanlah masalah bisnis. Jangan terlalu dianggap serius." Ujar Mingyu.

"Oh begitu, tak apa. kalau saya bisa menjawab, saya akan jawab." Sahut Chaeyeon, dengan senyum ramahnya seperti biasanya.

Mingyu bergerak gusar. Salah tidak ya dia bertanya tentang hal yang membuatnya gusar ini pada Chaeyeon? Hm, dicoba tak masalah kan, lagipula Chaeyeon adalah pegawainya yang sangat setia. Sudah bekerja padanya lebih dari tujuh tahun.

"Ini hanya perumpamaan saja ya. . ." Mingyu menarik napas. Chaeyeon menatapnya, sedikit penasaran. Tak biasanya bosnya bersikap begitu. Mingyu dikenal tegas dan dingin selama ini.

"Kalau semisal. . . kau tahu suamimu diam-diam berselingkuh dan menikah dengan yang lain, apa yang akan kau lakukan. . .?" Tanya Mingyu ragu.

Chaeyeon agak terkejut mendengarnya. "Eh? Maksud Tuan suami saya berselingkuh?"

Mingyu gelagapan. "Ini hanya perumpamaan, jangan salah paham. Suamimu tidak selingkuh." Erang Mingyu frustasi. Chaeyeon terdiam dengan wajah kosong sejenak, tapi kemudian dia tersenyum.

"Saya pasti merasa sangat kacau kalau begitu, mungkin saya akan minta cerai dan pergi dengan anak-anak saya." Sahut Chaeyeon akhirnya.

Mingyu terhenyak. Kakinya serasa lemas mendengarnya.

"Seorang istri itu hatinya rapuh, Tuan. Dia pasti sangat kecewa saat tau suaminya yang selama ini dicintainya dengan tulus mengkhianatinya. Pengkhianatan itu adalah pengajuan dosa yang paling sulit diampuni dalam suatu hubungan." Jelas Chaeyeon panjang lebar.

Selesai sudah. Mingyu merasa dirinya tercebur kedalam ambang keputus asaan.

"Apa masih ada yang harus saya jawab?" Tanya Chaeyeon, saat ia merasa kalimatnya tak direspon.

"Ti-tidak, kembalilah keruanganmu." Sahut Mingyu akhirnya. Chaeyeon tersenyum, lalu membungkuk sebelum keluar dari ruangan itu.

Meninggalkan Mingyu yang terlarut dalam fikiran-fikirannya. Mingyu mendengus lagi. Yang ditanyakan nya pada Chaeyeon tadi adalah perumpaan untuk dirinya sendiri. Ia ingin tahu reaksi Wonwoo kalau semisal sosok manis itu tahu ia memiliki anak dengan orang lain-walaupun demi Tuhan dia membenci Chou Tzuyu- tanpa sepengetahuan Wonwoo suatu saat nanti.

Dan, dia merasa hancur saat mendengar kemungkinan besar Wonwoo akan meminta cerai dan meninggalkannya, bersama Minwoo dan Kyungwon. Itu artinya, ia akan hidup sendirian. Dan, ia takkan membiarkannya.

Diraihnya ponselnya, mengirim pesan.

Tak sampai lima menit, pesan balasannya datang.

From: Chou Tzuyu

-Yasudah, kalau kau tak mau menikahiku besok, maka akan kukirim foto dan buki kehamilanku pada istrimu detik ini juga-

"Argh!" Mingyu mengusak rambutnya frustasi. Menggeram kesal.

"CHOU TZUYU SIALAN!"

.

.

.

.

.

Jika orang selalu berkata, terjebak dalam labirin tak berujung adalah hal yang mengerikan, makan Wonwoo tahu bagaimana rasanya. Tapi dia tak terjebak dalam labirin, ia terjebak dalam keobsesifan seorang Kim Mingyu, lagi.

Tempat dimana ia tak bisa berpaling barang sejenakpun. Tak bisa pergi barang selangkahpun. Dan itu dalam arti yang sebenarnya.

Mingyu sudah menyuruh seluruh butler dan maid untuk mengawasinya, tak membiarkannya keluar dari gerbang rumah barang selangkahpun. Tidak, bahkan untuk mengantar Minwoo dan Kyungwon ketempat les.

Wonwoo menghembuskan napas panjang. Menyandarkan tubuhnya disofa. Menatap hampa tayangan tv didepannya. Tangannya menggenggam ponselnya.

Tangannya mengganti saluran tvnya, mencari-cari acara yang layak ditonton. Jam segini biasanya hanya ada acara kuliner dan traveler dan sejujurnya, Wonwoo sedang tidak mood menontonya. Sehingga ia mengganti channelnya lagi. Dan berhenti pada tayangan kartun Pororo. Kartun kesukaan Kyungwon.

Ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan masuk.

-Wonu-ya, mau temani aku keluar lagi, hari ini?- Dari Jeonghan. Wonwoo menarik napas panjang. Kemudian mengetikkan balasannya.

-Eh? Kenapa begitu? Yasudahlah, aku pergi dengan Seunghyub saja- Dan Wonwoo tidak membalas lagi. Ia mengusap wajahnya kasar. Jam segini ia hanya dirumah sendirian bersama para butler dan maid. Jihoon sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga Wonwoo benar-benar kesepian.

Wonwoo merebahkan tubuhnya disofa. Mematikan tv, dan mulai memejamkan matanya.

.

.

.

.

.

"Eomma, apa kita jadi pergi ke Baskin Robins?" Tanya Seunghyub, pada Jeonghan yang sedang sibuk dengan catatan pekerjaannya. Jeonghan melirik sekilas bocah lucu yang tadi didudukannya di kursi dekat jendela dengan stoples plastic besar camilan.

"Sebentar lagi, Seunghyubie sayang, Eomma masih sibuk sekarang." Sahut Jeonghan lembut, kemudian kembali sibuk dengan lembaran-lembaran didepannya.

Seunghyub mengayun-ngayunkan kakinya. Jeonghan mendudukkannya di kursi yang cukup tinggi. Dan itu membuat Seunghyub tak bisa turun sendirian. Mungkin, Jeonghan memang sengaja, agar Seunghyub tak merecokinya dulu saat bekerja di toko bunganya itu.

Seunghyub mengamati sekelilingnya. Toko bunga Jeonghan yang sekarang sangat luas, hampir empat kali lipat dari pada miliknya di Changwon. Dan meskipun baru buka, ia sudah mendapat banyak pesanan. Mungkin Seungcheol memasang iklan di media cetak dan media social.

Seunghyub diam-diam mengulurkan tangannya, meraih bunga aster yang terdapat dalam sebuah wadah yang besar tak jauh darinya. Memetiknya satu. Kemudian kembali memakan camilannya. Jeonghan masih berkutat dengan berkas-berkas pesanan dan bon tagihan di meja kasir. Hingga mengabaikan Seunghyub begitu saja. Untungnya, Seunghyub adalah tipe anak yang sebelas dua belas dengan Kyungwon. Pendiam dan cuek.

Seunghyub merogoh lagi bunga aster biru muda yang disembunyikannya di kantong celananya. Tersenyum lucu.

"Bunga ini cocok untuk Minu~" Ujarnya pelan, dengan kikikan kecil.

.

.

.

.

.

.

Mingyu dengan serampangan merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Menekan-nekan layarnya dengan cepat dan gelisah. Tak sampai semenit, dia sudah selesai mengirim pesan pada seseorang diujung sana.

"Lihat saja, kalau aku tak bisa menggunakan jalur damai, maka kita gunakan jalur gila-ku." Mingyu menyeringai, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.

Mingyu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk dan mewah. Kemudian menatap sekelilingnya dengan wajah yang tak dapat diartikan. Sesekali ia menyeringai, sesekai mngernyit. Dan kemudian menggeleng pelan. Tampak serius memikirkan sesuatu.

Matanya menatap satu persatu barang diruang kerja kantornya yang mewah dan elegan itu. lemari berkas yang terbuat dari baja berlapis silver, bingkai-bingkai foto keemasan yang berisi foto dirinya bersama kolega bisnis, lalu meja yang terdapat ditengah sofa merah maroonnya yang angkuh. Menatap dalam bunga mawar dan bunga matahari yang dipadukan bersama daffodil biru di mejanya. Ia mengernyit.

Siapa coba yang menyusun bunga macam begitu? Jelek sekali fikirnya. Merah, kuning dan biru disatukan dalam vas keramik berwarna gading. Cih, jangan bilang kalau Chaeyeon yang menyusunnya lagi. Mingyu tahu betul sekertarisnya itu punya selera yang payah dalam menyusun bunga.

Tapi Mingyu tak peduli lagi, ia mengalihkan pandangannya pada gambar-gambar klasik yang terbingkai rapih eboni hitam mengkilat di dinding depannya. Lukisan-lukisan kuno yang entah zaman kapan dibuatnya.

Pintu diketuk, membuyarkan lamunan Mingyu dari aktifitasnya mengamati isi ruangannya sendiri.

"Masuk!" Suruhnya dengan suara yang tegas.

Seorang pria muda dan tampan masuk. Wajahnya terlihat berseri-seri. Dan pakaiannya rapih. Mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan celana biru muda tanpa jas. Begitu sesuai dengan usianya yang memang lebih muda dari Mingyu beberapa tahun.

"Ada keperluan apa, Tuan Kim?" Tanya pemuda itu, Lee Chan namanya.

Mingyu berdehem. Dan menyuruh Lee Chan duduk di kursi seberang Mingyu. Dan pemuda itu menurut. Keduanya duduk berhadapan dan terdiam beberapa saat.

Lee Chan adalah anak buah kepercayaan Mingyu. Dia tidak bekerja di perusahaan, tapi lebih seperti pesuruh pribadi Mingyu. Tugasnya mencari atau menyelidiki hal-hal diluar perusahaan. Atau hal yang lebih bersifat mendesak. Seperti saat dulu ia bertugas mencari informasi tentang Wonwoo, lalu tentang Yongguk, dan lain sebagainya.

Mingyu membuka laci kecil didekat kakinya. Merogohkannya tangannya kebagian dalam laci itu. mencari-cari sesuatu. Sampai kemudian, tangannya keluar mangangkat sebuah amplop cokelat yang tipi dengan ujung tertutup rapat dan agak kusam karena terlalu lama ditaruh ditempat tertutup.

Mingyu melempar amplop itu dimeja, persis dihadapan Lee Chan yang sejak tadi memperhatikannya.

"Buka, dan amati." Suruh Mingyu dingkat dan dingin. Ia menaikkan sebelah kakinya pada kaki kanannya, lalu menumpu dagunya dengan kedua tangannya yang saling terkait satu sama lain.

Chan meraih amplop itu. Merabanya sebentar. Mencoba menerka-nerka apa isinya. Tapi kemudian, ia langung membuka ujung amplop yang tidak dilem itu. Mengeluarkan beberapa helai foto dan secarik kertas berisi alamat.

"Namanya Chou Tzuyu, dan sekarang dia sedang hamil." Ucap Mingyu.

Chan memperhatikan sosok dalam foto itu. Seorang wanita muda yang mengenakan strap dress sepaha berwarna merah dengan rambut hitam panjang yang tergerai. Mengamati wajahnya dengan seksama. Cantik, fikirnya kemudian.

"Lalu. . . anda ingin saya menyelidikinya?" Tanya Chan, menarik kesimpulan. Karena biasanya Mingyu akan menyuruhnya begitu.

Mingyu menggeleng. Membuat Chan menaikkan sebelas alisnya.

"Buat dia keguguran. Bagaimanapun caranya." Ujar Mingyu dengan suara yang dalam dan seringai iblis disudut bibirnya.

"Eh?" Chan mendelik. Didunia ini hanya beberapa orang yang tahu Mingyu punya jiwa psycho. Ayah dan Ibunya, Lee Jihoon, Wonwoo, Lee Seokmin, Seungcheol, dan terakhir, Lee Chan.

"Dibunuh juga tak apa. Tapi yang paling penting, kau harus membuat dia keguguran. Tererah kau mau menculiknya kedokter aborsi atau bagaimana, pokoknya bayinya harus gugur." Jelas Mingyu panjang lebar, semakin lama seringaiannya pun itu melebar.

Chan terhenyak. Ini pertama kalinya disuruh Mingyu melakukan criminal seperti itu. ia disurh mengugurkan bayi wanita itu? berarti membunuh kan? Membunuh bayinya? Seketika jantung pemuda itu berdegup keras.

"Ta-tapi Tuan. . ."

"Bunuh bayinya, atau kau yang kubunuh."

Glek!

Chan mereguk paksa ludahnya sendiri. Ia bia mendengar jantungnya berhenti berdegup kencang dan mungkin dia akan mati beberapa detik lagi. Tubuhnya kaku, dan mulutnya membiasu. Dilemma. Ia tahu, Mingyu psycho.

"Cepat, Lee Chan! Aku tak punya banyak waktu!"

Chan bangkit dengan agak sempoyongan. Meraih salah satu lembar foto itu dan menarik secarik kerta berisi alamat itu. Memasukkannya dengan kasar kedalam saku celananya.

"Ba-baiklah, Tuan." Ujarnya tergagap.

Mingyu tersenyum puas. "Jangan kembali sebelum berhasil!" Pesannya sambil melambai.

Chan mengangguk, kemudian berbalik dan melangkah gemetar meninggalkan ruangan itu. Sementara Mingyu tertawa penuh kemenangan.

Ide blirian, tanpa harus turun tangan, ia bisa membuat Tzuyu pergi dari hidupnya. Cerdas kau, Kim Mingyu! Batin pria tampan itu, yakin.

.

.

.

.

.

To be continued OR END/?

REVIEW PLEASE

Note: Maaf ya, sekarangmah updatenya gak bia fast kaya dulu. Soalnya udah mulai aktif sekolah lagi sekarangmah tapi selalu diusahain update secepatnya, mhon dukungannya ^^ konfliknya mulai serius noh :'v

KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW