Title : Tangled

Cast : Kai, Sehun, Others

Warning : This is REMAKE!

Disclaimer : Original story is belong to TANGLED By EMMA CHASE

Yang ku punya hanya nama cast/? XD
GS, buat keperluan dan kenyambungan/? cerita :3

Warning : BANYAK TYPO dan kalimat-kalimat yang susah dimengerti/?

.

.

.

Here it is chapter 11 :D

Happy Reading

.

.

.

Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Kalau aku menyadari bahwa aku jatuh cinta dengan Sehun, dan dia jelas tergila-gila denganku, lalu bagaimana bisa dia kembali dengan Luhan? Pertanyaan yang sangat bagus Tapi aku mau bilang sesuatu. Apa yang kalian tahu tentang katak?Ya, katak. Apa kalian tahu bahwa kalau kalian menaruh seekor katak ke dalam air mendidih, dia akan melompat keluar? Tapi, jika kalian menaruseekor katak di dalam air dingin dan dipanaskan perlahan-lahan, katak itu akan tetap tinggal di dalamnya. Dan direbus sampai mati. Bahkan tidak akan mencoba untuk keluar. Katak itu bahkan tidak akan tahu bahwa dirinya sekarat. Sampai sudah terlambat. Pria sangat mirip seperti katak.

Apakah aku ketakutan oleh pencerahan kecilku? Tentu saja ya. Ini sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang mengubah kehidupan. Tidak ada wanita asing lagi. Tidak ada lagi cerita untuk teman-temanku. Tak ada lagi acara malam Minggu. Tapi semua itu tidak penting lagi. Sejujurnya, karena ini sudah terlambat. Aku sudah direbus sampai mendidih, oleh Sehun.

Sepanjang malam itu aku menyaksikan tidurnya. Dan menyusun rencana...untuk kami. Kegiatan yang akan kami lakukan bersama, tempat yang akan kami kunjungi, besok dan akhir pekan depan dan tahun depan. Aku berlatih kalimat apa yang akan kuucapkan, bagaimana caranya mengatakan perasaanku padanya. Aku membayangkan reaksinya dan bagaimana ia akan mengakui bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Rasanya seperti sebuah film, suatu film chick flick mengerikan yang tidak akan pernah aku tonton. Playboy mempesona bertemu dengan gadis yang-sangat berkemauan- keras impiannya, dan gadis itu merenggut hatinya selamanya. Aku seharusnya tahu saat itu bahwa itu nyaris tidak masuk akal.

.

Kami berjalan menyusuri Fifth Avenue. Daripada membuang-buang waktu berharga menyetir melintasi kota ke apartemen Sehun, kami berhenti di Saks department store dalam perjalanan ke tempat kerja, tempat aku membelikan Sehun setelan baru warna biru tua merek Chanel. Sekarang tidak boleh melihat dia memakai pakaian yang sama saat ke kantor, benar kan? Ketika dia mencoba pakaian untukku, aku bersumpah, aku merasa seperti pemeran utama pria di film romantis. Sehun bahkan membelikan aku dasi. Lihat? Kemudian dia bersikeras mampir ke bagian lingerie untuk mengganti celana dalam yang telah kuhancurkan dengan begitu erotisnya. Aku menolak dengan keras pada ide yang satu itu, tapi aku kalah. Kalian para wanita pasti tahu no panty at all lebih seksi dibanding kulit, renda, cambuk dan rantai semua digabung jadi satu.

Kami mampir di Starbucks dan membeli kafein yang sangat kami butuhkan. Saat kami berjalan kembali ke luar, aku menarik Sehun mendekat. Aku menangkup pipinya dan menciumnya. Rasanya dia seperti kopi, ringan dan manis. Dia mendorong rambut yang menutupi mataku dan tersenyum kearahku. Aku tak akan pernah bosan memandangnya. Atau menciumnya. Pussy whipped -terlalu penurut pada pacar- adalah julukanmu sekarang Jongin. Ya aku tahu. Tidak masalah. Aku tidak keberatan. Karena jika ini adalah Jalan Kegelapan –jalan yang sama dengan yang dilalui Sunwoo yang bertekuk lutut di bawah Yuri- ? Daftarkan aku. Serius. Jangan terkejut jika aku mulai melompat-lompat menyusuri jalan bernyanyi bahagia.

Sehun dan aku berbelok di tikungan. Bergandengan tangan dan saling tersenyum seperti dua idiot yang minum terlalu banyak obat antidepresi. Memuakkan, bukan? Kita harus berhenti di sini sebentar. Kalian harus melihat kami. Bagaimana kami di sini, sekarang, bergandengan tangan. Kalian harus mengingat momen ini. Karena aku mengingatnya. Kami...sempurna.

Kemudian kami masuk ke gedung. Aku membuka pintu bagi Sehun dan berjalan di belakangnya. Dan yang pertama yang kulihat adalah bunga aster. Aster putih besar dengan lembaga kuning cerah. Beberapa terletak di dalam vas di meja keamanan, lainnya dalam tandan yang diikat dengan pita. Beberapa bunga tersebar secara tunggal di seluruh lantai, kelopak bunga secara acak tersebar di sana-sini. Di tengah lobi ada lingkaran bunga aster yang lebih banyak. Di tengah lingkaran itu, berdiri Luhan?!

Dan dia memegang gitarnya. Oh sial!

Kalian pernah melihat orang brengsek bernyanyi? Inilah kesempatanmu.

I was so blind I didn't know

How much it would hurt to let you go

I want to heal us, want to mend

Come back, come back to me again

Jika aku tidak begitu membencinya, aku harus mengakui bahwa suaranya lumayan juga. Aku memperhatikan ekspresi Sehun secara cermat. Setiap emosi yang melintasi wajahnya, setiap perasaan yang menari di matanya. Kalian pasti tahu kapan saat menderita flu perut, bukan? Dan kalian berbaring sepanjang hari dengan ember di sampingmu karena kalian merasa sepertinya akan muntah setiap saat? Tapi kemudian ada saatnya kalian akan tahu kapan itu akan terjadi. Seluruh tubuh menjadi berkeringat dingin. Kepala berdenyut, dan kalian merasa tenggorokanmu melebar untuk memberi jalan empedu yang mengalir naik dari dalam perut. Itulah yang kualami. Sekarang. Aku menaruh kopi dan mencari-cari tempat sampah terdekat hanya untuk memastikan bahwa aku akan sampai di sana tepat waktu.

And I need to say I'm sorry

For all the pain I caused

Please give your heart back to me

I'll keep it safe for eternity

We belong together

We've always known it's true

There will never be another

My soul cries out for you.

Pada waktu lain, dengan gadis yang lain, aku akan mengalahkan Luhan. Bahkan tanpa perlu berusaha. Dia tidak sebanding denganku. Kalau aku Porsche, dia adalah sebuah truk pickup rongsok yang bahkan tidak bisa lolos inspeksi. Tapi ini adalah Sehun. Mereka memiliki riwayat, senilai satu dekade. Dan oleh sebab itu, membuat Luhan menjadi kompetitor kelas berat.

In the dark of night, it's your name I call

I can't believe I almost lost it all

One more chance, one breath, one try

No more reasons to say goodbye

Aku ingin membopong Sehun, layaknya manusia gua, dan membopongnya keluar dari sini. Aku ingin mengunci dia di apartemenku di mana Luhan tidak bisa melihatnya. Tidak bisa menyentuhnya. Tidak bisa menyentuh kami. Sepanjang waktu aku menatapnya, tapi Sehun tidak menoleh ke arahku. Tidak sekali pun.

And I need to say I'm sorry

For all the pain I caused

Please give your heart back to me

I'll keep it safe for eternity

We belong together

We've always known it's true

There will never be another

My soul cries out for you

Kenapa aku tidak belajar memainkan alat musik?

Ketika aku berumur sembilan tahun ibuku ingin aku memainkan terompet. Setelah dua kali pelajaran, tutornya keluar karena aku membiarkan anjingku kencing di mulut terompetnya. Kenapa aku tidak mendengarkan kata-kata ibuku?

You are my beginning, you'll be my end

More than lovers, more than friends

I want you, I want you

Dia tidak bisa memiliki Sehun. Lakukan dan inginkan dia seharian, brengsek. Menyanyi dari atap gedung. Mainkan gitar sampai jarijarimu copot. Ini sudah sangat terlambat. Dia sudah menjadi milikku. Sehun bukan tipe orang yang berhubungan seks dengan sembarang orang. Dan dia bercinta denganku sepanjang akhir pekan seperti dunia akan segera kiamat. Itu pasti sesuatu yang bernilai. Benar, kan?

And I need to say I'm sorry

For all the pain I caused

Please give your heart back to me

I'll keep it safe for eternity

For eternity

You and me

Kerumunan kecil yang berkumpul di lobi bertepuk tangan. Si Brengsek menaruh gitarnya ke bawah dan berjalan mendekati Sehun. Jika dia menyentuh Sehun, Aku akan mematahkan tangan sialan itu. Aku bersumpah demi Tuhan. Dia tidak menganggap kehadiranku sama sekali. Dia terfokus hanya pada Sehun.

"Aku sudah meneleponmu sejak Jumat malam...dan aku juga mampir ke apartemen beberapa kali akhir pekan ini, tapi kau pergi ke luar."

Itu benar. Sehun tidak ada di rumah. Dia sedang sibuk. Sekarang tanyakan pada Sehun apa yang dia lakukan. Dan dengan siapa Sehun melakukannya.

"Aku tahu ini adalah tempat kerja...tapi apa kau pikir kita bisa pergi ke suatu tempat? Untuk bicara? Mungkin kantormu?"

Katakan tidak.

Katakan tidak.

Katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak, katakantidak, katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak...

"Oke."

Brengsek.

Ketika Sehun mulai berjalan pergi, Aku menarik lengannya. "Aku perlu bicara denganmu."

Matanya menanyaiku. "Aku hanya butuh—"

"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Sekarang. Ini penting."

Aku tahu aku terdengar putus asa, tapi aku benar-benar tak peduli. Ia meletakkan tangannya di atas tanganku, yang masih menggenggam lengannya. Dia tenang. berlagak seperti dia sedang bicara dengan seorang anak kecil.

"Baiklah, Jongin. Biar aku bicara dengan Luhan lebih dulu dan aku akan menemuimu di kantormu, oke?"

Aku ingin mengentak kakiku seperti anak umur dua tahun. Tidak, itu tidak bagus. Dia harus tahu di mana aku berdiri. Aku harus memancang klaimku. Melempar topi di atas ring. Membawa mobilku ke balapan. Tapi aku menjatuhkan tanganku.

"Baik. Kalian berdua silahkan mengobrol."

Dan aku memastikan bahwa aku pergi lebih dulu. Aku melangkah menuju kantorku. Tapi aku tidak bisa menahan diri mampir di meja Krystal saat mereka lewat. Ketika Sehun berbalik untuk menutup pintu kantornya, mata kami bertemu. Dan dia tersenyum padaku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, Aku tak tahu apa artinya. Apakah dia meyakinkan aku bahwa tidak ada yang berubah? Bahwa tidak akan ada perubahan? Apakah dia mengatakan terima kasih untuk membawa si brengsek merangkak kembali padanya? Aku tak tahu. Dan itu membuatku gila.

Aku mengatupkan rahang dan bergegas menuju mejaku sendiri, membanting pintu di belakangku. Dan kemudian aku berjalan mondar-mandir. Seperti seorang pria yang segera menjadi ayah di luar ruang bersalin, menunggu untuk melihat apakah sesuatu yang tak ternilai harganya akan keluar dengan selamat. Seharusnya aku mengatakan kepadanya. Tadi malam. Ketika aku punya kesempatan. Aku seharusnya menjelaskan betapa berartinya dia bagiku. Apa yang kurasakan tentangnya. Kukira aku punya waktu. Kupikir aku akan mudah menyatakannya, perlahan-lahan berusaha sampai kesana.

Tolol. Kenapa aku tidak bilang saja padanya? Terkutuk. Mungkin dia sudah tahu. Maksudku, aku membawa dia ke apartemenku, aku tidur meringkuk dengannya. Aku memujanya. Aku bercinta dengannya tanpa pelindung tiga kali. Dia seharusnya tahu.

Krystal diam-diam memasuki ruangan. Aku pasti terlihat begitu kacau, karena wajahnya melunak penuh simpati. "Jadi, Sehun dan Luhan sedang bicara, ya?"

Aku mendengus. "Apa aku terlihat begitu jelas?"

Ia membuka mulutnya, mungkin untuk mengatakan padaku ya, tapi menutupnya dan mulai bicara lagi. "Tidak. Aku sudah tahu kamu, Jongin."

Aku mengangguk. "Kau ingin aku berjalan-jalan? Lihat apa yang bisa kulihat...atau kudengar?"

"Kau pikir itu akan berhasil?"

Dia tersenyum. "CIA akan beruntung memiliki aku."

Aku mengangguk lagi. "Oke. Ya. Lakukanlah, Krystal. Lihat apa yang sedang terjadi."

Dia berjalan keluar. Dan aku kembali ke berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Dan mengacak-acak rambutku sampai berdiri seperti habis disambar petir.

Beberapa menit kemudian, Krystal muncul kembali. "Pintunya tertutup, jadi aku tidak bisa mendengar apapun, tapi aku mengintip kedalam melalui kaca. Mereka duduk di mejanya, saling berhadapan. Tangan Luhan menyangga kepalanya, dan Sehun mendengarkan dia berbicara. Tangan Sehun ada di lutut Luhan."

Oke. Luhan sedang menuangkan isi hatinya. Dan Sehun bersikap simpatik. Aku bisa menerimanya. Karena dengan begitu Sehun akan menghancurkan dia, bukan? Sehun akan mengatakan padanya untuk pergi saja. Bahwa Sehun sudah move on, menemukan seseorang yang lebih baik. Benar, kan? Benar, kan?! Astaga, ayolah setuju saja kalian denganku.

"Jadi...apa yang harus kulakukan?"

Krystal mengangkat bahu. "Semua yang bisa dilakukan hanyalah menunggu. Dan menunggu apa yang akan Sehun katakan ketika mereka selesai."

Aku tidak pernah pintar dalam urusan menunggu. Seperti saat aku tak peduli seberapa keras orangtuaku mencoba, aku tak pernah bisa menunggu sampai pagi di hari Natal untuk mengetahui apa yang kudapat. Aku seperti Indiana Jones kecil—mencari dan menggali sampai aku menemukan setiap hadiahnya. Kesabaran mungkin sebuah keutamaan, tapi itu bukan salah satu sifatku.

Krystal berhenti di ambang pintu. "Kuharap kau berhasil, Jongin."

"Thanks, Krys."

Dan kemudian dia pergi. Dan aku menunggu. Dan berpikir. Aku memikirkan raut wajah Sehun ketika ia menangis di mejanya. Aku memikirkan tentang kepanikannya ketika dia melihat Luhan di bar. Apakah hanya itu artiku baginya? Sebuah selingan? Sebuah sarana untuk mencapai tujuan dia sendiri? Aku mulai mondar-mandir lagi. Dan berdoa. Kepada Tuhan, aku tidak bicara lagi dengan-Nya sejak aku berusia sepuluh tahun. Tapi aku bicara dengan-Nya sekarang. Aku berjanji dan aku bersumpah. Aku membarter dan mengemis—dengan khusyuk. Bagi Sehun agar memilih aku. Sembilan puluh menit terpanjang dalam hidupku, suara Krystal mendesis keluar dari interkom di mejaku.

"Ada yang datang! Ada yang datang! Sehun, arah jam sembilan."

Aku menunduk di balik mejaku, menjatuhkan pena dan penjepit kertas ke lantai. Aku mendorong kursiku keatas, merapikan rambutku, dan mengacak-acak kertas sehingga terlihat seperti aku sedang bekerja. Lalu aku mengambil napas dalam-dalam. Saatnya permainan. Sehun membuka pintu dan berjalan masuk.

Dia terlihat...normal. Benar-benar dirinya sendiri. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada kecemasan. Tidak memedulikan dunia.

Dia berdiri di depan mejaku. "Hai."

"Hei." Aku memaksakan diri untuk tersenyum dengan santai. Meskipun jantungku berdebar di dadaku. Mirip seperti binatang sebelum disembelih.

Aku seharusnya berbasa-basi jadi aku tidak terlihat terlalu bersemangat—terlalu tertarik. Tapi aku tidak bisa mengatasinya.

"Jadi...Bagaimana urusannya dengan Luhan?"

Dia tersenyum lembut. "Kami mengobrol. Kami mengatakan beberapa hal yang kurasa perlu di dengar oleh kami berdua. Dan sekarang kita baikan. Benar-benar baikan, sebenarnya."

Oh Tuhan. Dapatkah kalian melihat pisau menyembul dari dadaku?

Ya—pisau yang baru saja dia puntir. Mereka mengobrol—mereka baikan—benar-benar baikan. Sehun balikan lagi dengannya. Persetan.

"Itu bagus, Sehun. Jadi misi berhasil, ya?" Aku seharusnya menjadi seorang aktor. Aku layak mendapat Academy Award setelah ini.

Alisnya berkerut. "Misi?"

Ponselku berdering, menyelamatkan aku dari mimpi buruk suatu percakapan.

"Halo?" Ini dari Sunwoo. Tapi Sehun tidak tahu itu. Aku memaksa suaraku terdengar kuat. Bersemangat. "Hei, Stacey. Ya, sayang, aku senang kau menelepon."

Selalu mencetak skor lebih dulu. Ingat?

"Maaf Aku tidak bisa ketemu denganmu hari Sabtu. Apa yang sedang kulakukan? Tak ada yang penting—sebuah proyek kecilku. Sesuatu yang sudah coba kuselesaikan untuk sementara waktu. Ya, aku sudah selesai sekarang. Ternyata itu tidak sebagus seperti yang kukira."

Ya, ucapanku sudah kuperhitungkan. Ya, Kuharap kata-kataku menyakitinya. Apa yang kalian harap akan kukatakan? Ini aku yang sedang kalian bicarakan di sini. Apakah kalian sungguh berpikir aku akan duduk santai seperti orang tolol sementara Sehun memberiku penolakan? Tidak mungkin.

Aku mengabaikan kebingungan Sunwoo di seberang telepon dan memaksa paru-paruku tertawa. "Malam ini? Tentu saja aku senang bertemu denganmu. Baiklah, aku akan membawa taksi."

Kenapa kalian menatapku seperti aku si bajingan itu? Aku memberikan semua yang kumiliki pada Sehun, semua yang aku sanggup berikan. Dan dia menolakku. Aku membuka jiwaku padanya, dan aku tahu betapa cengeng kedengarannya. Tapi memang benar. Jadi jangan menatapku seperti aku orang jahat, karena untuk sekali ini aku bukan. Aku mencintainya. Demi Tuhan, aku sungguh mencintainya. Dan sekarang, ini membunuhku. Aku merasa seperti salah satu pasien UGD yang dadanya di belah terbuka dengan alat pembentang tulang rusuk.

Dengan ponsel masih di telingaku, akhirnya aku memandang Sehun. Dan sesaat, aku tidak bisa bernapas. Kupikir dia akan marah, mungkin kecewa karena aku mencampakkan dia lebih dulu. Tapi itu bukan bagaimana ekspresinya. Pernahkah kalian melihat ekspresi seseorang yang tertabrak mobil? Aku pernah melihatnya. Moonkyu dan Chanyeol pada masa remaja kami, pada suatu kesempatan tidak cukup cepat bergerak setelah berjalan menuju seorang wanita yang mengemudi terlalu cepat. Ketika mereka tertabrak—muncul ekspresi ini. Ini hanya terlihat beberapa detik. Seluruh wajah mereka menjadi pucat pasi...dan kosong. Kurasa itu syok, seperti mereka tidak percaya apa yang baru saja terjadi ternyata benar-benar terjadi pada mereka.

Seperti itulah ekspresi Sehun saat ini. Seperti aku menampar wajahnya. Kalian pikir aku harus merasa bersalah karena membuatnya jadi seperti itu? Kalian ingin aku menyesal? Well sayang sekali. Aku tidak bisa. Aku tidak akan. Dia yang membuat keputusannya. Dia yang membuat pilihannya. Sekarang dia bisa menelannya.

Aku menutupi gagang telepon. "Maaf, Sehun, aku harus menjawab ini. Sampai ketemu saat makan siang, oke?"

Dia berkedip dua kali. Kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kantorku tanpa bicara.

Setelah Sehun pergi, keadaan menjadi...samar. Bukankah itu cara orang selalu menggambarkannya? Korban suatu bencana kecelakaan kereta api? Bahwa disaat-saat setelah itu, segalanya tidak jelas. Tidak nyata.

Aku memberitahu Krystal kalau aku sakit. Senyumnya sedih dan iba. Sebelum aku masuk lift, aku menoleh ke kantor Sehun, berharap untuk melihatnya lagi. Hanya menyiksa diriku. Tapi pintunya tertutup.

.

Di luar hujan. Hujan di musim dingin. Hujan yang membasahi pakaianmu dan membuatmu menggigil luar dalam. Itu tidak mengangguku. Aku berjalan pulang ke apartemenku, mati rasa dan bingung. Seperti zombie dari suatu film horor beranggaran rendah yang tidak bereaksi, bahkan ketika ia memotong kakinya sendiri dengan gergaji. Tapi ketika aku membuka pintu apartemenku, saat itulah kesadaranku mulai bekerja kembali. Ketika aku mulai bisa merasakan lagi. Dan merasakan Sehun. Di mana-mana. Aku masih bisa melihat matanya, sayu oleh gairah. Aku mendengar bisikannya di telingaku saat aku jatuh di tempat tidurku. Aroma tubuhnya menutupi bantalku. Dan aku tidak bisa melupakan kenyataan bahwa dia berada di sini beberapa jam yang lalu. Dan aku bisa menyentuh, memandang, dan menciumnya. Dan sekarang aku...tidak bisa. Ini seperti ketika seseorang meninggal. Dan kalian tidak percaya mereka benar-benar pergi karena kalian baru bertemu mereka kemarin. Mereka berada di sana denganmu. Masih hidup dan nyata. Dan itu adalah memori yang kalian kenang—momen yang paling membuatmu berduka. Karena itu adalah momen yang terakhir.

.

Kapan terjadinya?

Itulah yang aku sendiri juga tak tahu. Kapan Sehun menjadi begitu penting bagiku dan bahwa aku tidak berfungsi tanpa dirinya? Apakah itu ketika aku melihatnya menangis di kantornya? Atau pertama kalinya aku menciumnya? Mungkin hal itu terjadi ketika Kwon Jaehee menghinanya, dan aku ingin menghajarnya untuk itu. Apakah saat malam pertama di bar? Pertama kali aku menatap mata cokelat tak berujung dan tahu aku harus memilikinya? Atau di sini? Di apartemenku? Dalam salah satu momen dari ratusan kali aku menyentuhnya...

Oh Tuhan, kenapa aku tidak menyadarinya lebih awal? Berminggu-minggu—berbulan-bulan—terbuang. Semua wanita yang aku tiduri. Yang wajahnya sendiri bahkan tidak kuingat. Setiap kali aku membuatnya marah. Ketika aku bisa saja membuatnya tersenyum. Berhari-hari aku bisa saja mencintainya. Dan membuat dia mencintaiku. Hilang. Wanita lebih cepat jatuh cinta daripada pria. Lebih mudah dan lebih sering. Tapi ketika pria jatuh cinta? Kami jatuh lebih keras. Dan ketika keadaan menjadi buruk. Ketika bukan pihak pria yang memutuskannya? Kami tidak bisa berjalan pergi. Kami merangkak.

Aku seharusnya tidak mengucapkan kata-kata itu. Di kantorku. Sehun tidak seharusnya menerima itu. bukan salahnya dia tidak menginginkan apa yang kuinginkan. Bahwa dia tidak merasakan apa yang kurasakan. Oh Tuhan,ini mengerikan. Bunuh saja aku. Dimana peluru nyasar dari pengendara liar yang penembak dari dalam mobil ketika kalian memerlukannya? Pernahkah kalian merasa seperti ini? Apakah kalian pernah memegang sesuatu yang berarti...segalanya untukmu? Mungkin kalian menangkap bola home run ketika bola itu terbang di atas pagar stadion? Atau melihat foto diri sendiri yang berasal dari suatu momen indah tak terlupakan? Mungkin ibumu memberi kalian sebuah cincin warisan milik neneknya nenekmu? Apapun itu, kalian melihatnya dan bersumpah bahwa kalian akan menjaga selamanya. Karena benda itu spesial. Berharga.

Tak tergantikan. Dan kemudian suatu hari kalian tak tahu bagaimana atau kapan terjadinya kalian menyadari benda itu hilang. Lenyap. Dan kalian sedih karenanya. Kalian akan memberikan apa pun untuk menemukannya lagi. Untuk mendapatkannya kembali, di mana seharusnya berada.

Aku meringkuk di sekitar bantal. Aku tak tahu berapa lama aku di sana, tapi waktu berikutnya saat aku membuka mataku dan melihat keluar jendela, di luar sudah gelap. Apa yang kalian pikir mereka lakukan sekarang? Merayakan mungkin. Pergi keluar. Atau mungkin tetap di rumah. Aku menatap langit-langit. Ya, itu adalah air mata. Cairan penyesalan. Silakan panggil aku cengeng. Panggil aku tukang merengek. Aku layak mendapatkannya. Dan aku tidak peduli. Tidak lagi. Apa menurut kalian Luhan tahu betapa beruntungnya dia? Betapa diberkahinya dia? Tentu saja dia tidak tahu. Dia si idiot yang membiarkan Sehun pergi. Dan aku adalah idiot lain yang tidak bisa menjaganya. Mungkin mereka tidak akan bertahan. Mungkin mereka akan putus lagi. Ketika Sehun menyadari dia pantas mendapatkan yang lebih baik. Tapi kurasa itu tidak akan membuat perbedaan bagiku, ya kan? Tidak setelah apa yang kukatakan padanya. Tidak setelah aku mengakibatkan ekspresi itu di wajahnya. Ya Tuhan.

Aku berguling dari tempat tidur dan jatuh ke arah tempat sampah. hampir tidak berhasil sampai di sana sebelum aku muntah dan tersengal. Dan apapun yang ada dalam perutku. Dan pada saat itu aku di sana sedang berlutut. Saat itulah aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku terkena flu. Karena...manusia kacau ini tidak mungkin diriku yang sesungguhnya. Selamanya tidak mungkin. Jika aku sekedar sakit, maka aku dapat minum aspirin, tidur sebentar, dan aku akan merasa lebih baik. Aku akan menjadi diriku lagi. Pada akhirnya. Tapi kalau aku mengakui bahwa aku sudah remuk. Jika aku mengakui bahwa hatiku telah hancur menjadi jadi ribuan keping…maka aku tak tahu kapan aku pernah akan sembuh lagi. Mungkin tidak pernah. Jadi aku kembali ke tempat tidur. Untuk menunggu saja. Sampai aku sembuh dari flu.

.

Jadi begitulah. Itu kisahku. Kebangkitan. Kejatuhan. Akhir. Dan sekarang, di sinilah aku, Yuri dan Moonkyu menyeretku ke restoran jelek ini, di mana aku baru saja selesai menceritakan kepada mereka kisah yang hampir sama seperti yang sudah kuceritakan pada kalian.

(An : Nah cerita Jongin berakhir ya, soal kenapa dia bisa sekarat di chap 1 xD panjang ya kkkk)

Ketika aku berumur enam tahun, aku belajar naik sepeda. Sama seperti semua anak-anak ketika mereka pertama kali belajar naik sepeda, aku jatuh. Sering. Setiap kali itu terjadi, Yuri adalah orang yang ada di sana. Dia membersihkan debuku, mencium lecetku dan meyakinkanku untuk naik lagi. Jadi wajar saja kalau aku berharap kakakku akan bersikap penuh kasih tentang patah hatiku. Lemah lembut. Simpatik.

Tapi apa yang aku peroleh adalah, "Kau sungguh-sungguh idiot, kau tahu itu, Jongin?"

Aku yakin kalian mulai bertanya-tanya kenapa kami memanggilnya Si Menyebalkan.

"Menyedihkan?"

"Ya, menyedihkan adalah persis dirimu sekarang. Apakah kau tahu kekacauan apa yang sudah kau buat? Aku selalu tahu kau manja dan egois. Malah, aku adalah salah satu dari orang-orang yang membuatmu jadi seperti itu. Tapi aku tidak pernah berpikir kau orang bodoh."

Hah?

"Dan aku berani bersumpah kau lahir dengan testis! Kenapa kau banci sekali?!"

Aku tersedak oleh minumanku. Dan Moonkyu tertawa.

"Aku serius. Aku ingat dengan jelas saat mengganti popokmu waktu bayi dan melihat organ kecil yang lucu tergantung di sana. Apa yang terjadi dengan organ itu? Apakah menyusut? Menghilang? Karena itulah satu-satunya alasan yang bisa kupikirkan untuk menjelaskan kenapa kau berperilaku seperti pengecut menyedihkan tak punya nyali."

"Demi Tuhan, Yuri!"

"Tidak, kurasa bahkan Tuhan tidak bisa memperbaiki ini."

Kemarahan meresap ke dalam dadaku. "Aku benar-benar tidak butuh ini sekarang. Bukan darimu. Semangatku sedang jatuh, kenapa kau malah mengomeliku?"

Dia mencemooh, "Karena tendangan cepat di pantat adalah apa yang kau butuhkan untuk bangkit lagi. Apa kau pernah mempertimbangkan ketika Sehun mengatakan bahwa mereka 'benarbenar baikan,' mungkin maksud dia mereka tidak bermusuhan? Bahwa mereka telah memutuskan untuk menjadi teman? Berpisah secara damai? Jika kau tahu setengah saja tentang wanita seperti yang kau pikir kau tahu, kau akan memahami bahwa tidak ada wanita yang ingin mengakhiri hubungan sepuluh tahun dengan saling membenci."

Itu bahkan tidak masuk akal. Mengapa ada orang yang ingin berteman dengan seseorang yang biasanya dapat di ajak bercinta tapi tidak bisa lagi? Apa gunanya?

"Tidak. Kau benar-benar salah."

Dia menggeleng. "Tetap saja, kalau kau bertindak seperti seorang laki-laki bukannya seorang anak kecil yang terluka, kau akan mengatakan kepadanya bagaimana perasaanmu."

Sekarang dia membuatku jengkel. "Apa aku terlihat seperti bajingan untukmu? Karena aku bukan. Dan tidak mungkin aku akan pergi ke sana dan mengejar seseorang yang ingin bersama dengan orang lain."

Sebuah ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya menyapu wajah Yuri. Setidaknya belum pernah ditujukan padaku. Ekspresi kekecewaan.

"Tentu saja tidak, Jongin. Kenapa kau harus mengejar seseorang, ketika kau begitu puas membiarkan semua orang mengejarmu?"

"Apa artinya itu?"

"Itu berarti segalanya selalu mudah bagimu. Kau tampan, cerdas, kau punya keluarga yang mencintaimu dan wanita yang berbaring untukmu seperti seekor domba yang siap disembelih. Dan satu saat ketika kau harus memperjuangkan sesuatu yang kau inginkan, sekali saja kau harus mempertaruhkan hatimu untuk seseorang yang akhirnya berharga bagimu, apa yang kau lakukan? Kau menyerah. Kau bertindak tanpa lebih dulu memastikan apakah itu tindakan yang tepat. Kau bergelung dan berkubang dalam rasa iba pada diri sendiri."

Dia menggelengkan kepalanya, dan suaranya melunak. "Kau bahkan tidak mencobanya, Jongin. Setelah itu. Kau hanya...membuang dia pergi."

Aku menunduk menatap minumanku. Suaraku tenang. Penuh penyesalan. "Aku tahu."

Jangan dikira aku tidak memikirkan hal itu. Jangan dikira aku tidak menyesali perkataanku atau ketiadaan kata-kata penyesalanku. Karena aku menyesalinya. Dengan pahit. "Kuharap...tapi itu sudah terlambat."

Moonkyu akhirnya bicara juga. "Tidak pernah terlalu terlambat, sobat. Pertandingan belum berakhir, hanya saja hujan yang menundanya."

Aku menatapnya. "Apakah Jessi mengatakan sesuatu padamu? Tentang Sehun dan Luhan?"

Dia menggeleng. "Bukan tentang mereka...tapi dia punya banyak hal untuk dikatakan tentangmu."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku Jessi sangat membencimu. Menurutnya, kau seorang bajingan. Serius, bung, jika kau terbakar di jalanan, kupikir dia tidak akan meludahimu."

Aku mengolah informasi ini sesaat. "Mungkin dia membenciku karena aku bercinta dengan tunangan dari sepupunya?"

"Mungkin dia membencimu karena kau menghancurkan hati sahabatnya?"

Ya. Ini mungkin saja terjadi. Aku tidak bisa mencegahnya.

"Apa kau jatuh cinta dengan Sehun, Jongin?"

Mataku bertemu pandang dengan mata Yuri.

"Ya."

"Apa ada kemungkinan bahwa dia merasakan hal yang sama?"

"Kurasa begitu."

Semakin aku memikirkan kata-kata dan tindakan Sehun akhir pekan itu, aku semakin yakin bahwa Sehun merasakan sesuatu padaku. Sesuatu yang nyata dan mendalam. Setidaknya dia merasakan itu sebelum aku menghancurkannya.

"Apa kau ingin bersama dengannya?"

"Oh Tuhan, ya."

"Lalu apakah dia balikan lagi dengan mantannya atau tidak itu tidak relevan. Pertanyaan yang perlu kau tanyakan pada dirimu sendiri adalah apakah kau bersedia melakukannya, bersedia mengambil risiko dan memperbaiki keadaan? Untuk mendapatkan dia kembali."

Dan jawabanku dalam urusan ini sederhana: Ya, apa pun. Segalanya.

Tenggorokanku tercekat saat aku mengakuinya, "Aku akan memberikan apa saja agar Sehun kembali."

"Maka, demi Tuhan, berjuanglah demi dia! Katakan padanya."

Ketika kata-katanya meresap, Moonkyu menggenggam bahuku. "Pada saat seperti ini, aku selalu bertanya pada diri sendiri, 'Apa yang akan dilakukan William Wallace?'"

Matanya serius. Penuh perasaan. Kemudian suaranya meniru aksen Skotlandia yang tidak dimilikinya. "Aye...maju, dan kau tidak akan ditolak...tapi bertahun-tahun dari sekarang, apakah kau bersedia untuk menukar seluruh harimu dari sekarang untuk mendapatkan kesempatan itu, hanya satu kesempatan, untuk kembali dan mengatakan kepada Sehun bahwa dia boleh mengambil testismu dan menggantungnya di kaca spion mobilnya, tapi dia tidak akan pernah bisa mengambil...kebebasanmu!"

Yuri memutar matanya pada kutipan film Braveheartyang dimainkan Moonkyu, dan aku benar-benar tertawa. Awan hitam yang sudah ada di bahuku sepanjang minggu akhirnya mulai terangkat. Sebagai gantinya adalah...harapan. Keyakinan. Tekad. Segala hal yang membuatku...menjadi diriku. Segala hal yang telah hilang sejak melihat Luhan menyanyi pagi itu.

Moonkyu menepuk punggungku. "Pergi dapatkan dia, kawan. Maksudku, lihat dirimu, apa ruginya bagimu?"

Dia benar. Siapa yang butuh martabat? Harga diri? Itu berlebihan. Bila kalian tidak punya apa pun, kalian tidak akan kehilangan apa pun.

"Aku harus pergi menemui Sehun. Sekarang juga."

Dan jika aku gagal? Setidaknya aku berjuang untuk tidak menyerah. Jika aku akhirnya jatuh dan terbakar dan dia menginjak-injak abuku di tanah dengan tumitnya? Biarkan saja. Tapi aku harus mencoba. Karena... karena dia berharga.

.

Ketika Yuri berumur enam belas tahun, orangtuaku menyewa taman wisata Six Flags Great Adventure untuk sehari. Berlebihan? Ya. Tapi itu salah satu manfaat dididik secara istimewa. Itu mengagumkan. Tidak ada antrian, tidak ada kerumunan. Hanya keluarga kami, beberapa rekan bisnis, dan seratus lima puluh teman terdekat kami. Dan lagi, ada satu rollercoaster—the Mind Bender. Benar-benar fantastis. Ingat ketika aku bilang bahwa aku tidak pernah naik roller coaster yang sama dua kali? Ini adalah pengecualian. Moonkyu, Sunwoo dan aku naik roller coaster itu sampai kami muntah. Kemudian kami naik lagi dan lagi. Bukit pertama mengerikan. Sebuah tanjakan panjang dan menyiksa yang berakhir pada turunan vertikal setinggi 120 meter, langsung menukik. Tak peduli berapa kali kami menaikinya, setiap kali kami naik bukit pertama itu rasanya sama. Telapak tanganku menjadi berkeringat, perutku bergolak. Itu kombinasi sempurna dari kegembiraan dan ketakutan.

Dan itulah yang kurasakan sekarang. Disinilah aku, berlari melewati Times Square. Hanya membayangkan akan melihat Sehun lagi...Aku bergairah karenanya, aku tidak akan bohong. Tapi aku juga gelisah. Karena aku tak tahu apa yang ada di sisi lain dari bukit ini, seberapa dalam turunan ini bagiku. Tidak ada yang bersimpati, hah? Dasar kalian sulit terpuaskan. Kalian pikir aku layak menerimanya? Mungkin aku pantas mendapatkan yang lebih buruk? Ini argumen yang menarik. Aku mengacaukannya. Tidak diragukan lagi. Itu adalah keterpurukan, semua orang besar pernah mengalaminya. Namun hari-hari itu sudah berakhir sekarang. Aku turun dari bangku cadangan dan kembali masuk ke dalam pertandingan. Aku hanya berharap Sehun akan memberiku kesempatan lagi untuk memukul bola.

Terengah-engah karena lari cepat sejauh tujuh blok, aku mengangguk sebagai tanda salam pada petugas keamanan dan berjalan melalui lobi kosong. Aku menggunakan waktu singkat selama naik lift untuk mengatur napas dan berlatih apa yang akan aku katakan. Lalu aku melangkah keluar ke lantai empat puluh. Hanya ada satu tempat di mana Oh Sehun berada jam setengah sebelas pada Senin malam. Dan tepatnya di sini, di mana semuanya berawal. Kantor-kantor yang lain gelap. Sangat tenang, kecuali musik yang berasal dari kantornya. Aku berjalan menyusuri lorong dan berhenti di luar pintu kantornya yang tertutup.

Lalu aku melihatnya. Melalui kaca.

Ya Tuhan.

Dia duduk di mejanya, menatap layar komputer. Dia menggigit bibirnya dengan cara yang membuatku bertekuk lutut. Rambutnya diikat ke belakang, memperlihatkan setiap lekuk sempurna di wajahnya. Aku rindu menatap dirinya. Kalian pasti tak tahu. Rasanya seperti...seperti aku berada di bawah air, menahan napas. Dan sekarang akhirnya aku bisa bernapas lagi. Dia mendongak. Dan matanya menatapku. Lihat bagaimana ia menatap selama beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan? Bagaimana kepalanya miring ke samping, dan dia menyipitkan matanya? Seperti tidak begitu percaya apa yang dia lihat.

Dia terkejut. Kemudian keterkejutan berubah menjadi jijik. Seperti dia baru saja makan sesuatu yang busuk. Dan saat itulah aku tahu. Ketika aku yakin apa yang mungkin sudah kalian tahu. Bahwa aku sungguh-sungguh seorang idiot. Dia tidak menerima Luhan kembali. Tidak mungkin. Jika Sehun menerimanya? Jika akhir pekan kami tidak ada artinya bagi dia? Jika aku tidak ada artinya? Dia tidak akan menatapku seolah aku iblis terkutuk. Dia tidak akan terpengaruh sama sekali. Ini logika sederhana kaum pria: Jika seorang wanita marah? Ini berarti dia peduli. Jika pacar kalian bahkan tidak mau repot-repot mengomelimu? Kalian kacau. Sikap acuh tak acuh adalah ciuman kematian dari seorang wanita. Itu sama saja seorang pria tidak tertarik pada seks. Dalam kedua kasus ini, semuanya berakhir. Kalian sudah selesai.

Jadi, jika Sehun marah, itu karena aku menyakitinya. Dan satu-satunya alasan aku membuatnya marah karena ia ingin bersamaku. Itu mungkin seperti cara berpikir yang salah, tapi begitulah adanya. Percayalah, aku tahu. Aku telah menghabiskan hidupku bercinta dengan wanita yang aku tak punya perasaan apa pun terhadap mereka. Jika mereka tidur dengan pria lain setelah bersamaku? Bagus untuk mereka. Jika mereka bilang padaku mereka tidak ingin melihatku lagi? Bahkan lebih bagus lagi. Kalian tidak bisa mengambil darah dari sebuah batu. Kalian tidak bisa mendapatkan reaksi dari seseorang yang tidak peduli.

Sehun, di sisi lain, dipenuhi oleh emosi. Marah, curiga, dikhianati, membara di matanya dan terpancar di wajahnya. Kenyataan bahwa ia masih merasakan sesuatu untukku, bahkan meski itu kebencian memberiku harapan. Karena aku dapat memperbaikinya. Aku membuka pintu kantornya dan berjalan masuk. Sehun menatap kembali ke laptopnya dan menekan beberapa tombol.

"Apa maumu, Jongin?"

"Aku perlu bicara denganmu."

Dia tidak mendongak. "Aku sedang bekerja. Aku tidak punya waktu untukmu."

Aku melangkah maju dan menutup laptopnya. "Sisihkan waktumu."

Dia mengalihkan pandangannya ke arahku. Matanya keras. Beku, seperti es hitam.

"Pergilah ke neraka!"

Aku menyeringai, meskipun tidak ada yang lucu tentang hal ini. "Aku sudah ada di sana. Sepanjang minggu."

Dia bersandar di kursinya, menatapku dari atas ke bawah. "Itu benar. Krystal memberitahu kami tentang penyakit misteriusmu."

"Aku tinggal di rumah karena..."

"Naik taksi menyedot banyak energimu? Butuh beberapa hari untuk pulih?"

Aku menggeleng. "Apa yang kukatakan hari itu adalah suatu kesalahan."

Dia berdiri. "Tidak. Satu-satunya kesalahan di sini adalah kesalahanku. Bahwa aku pernah berpikir ada sesuatu yang lebih tentangmu. Bahwa aku benar-benar membiarkan diriku percaya ada suatu...keindahan dibalik pesona sombong dan sikap percaya dirimu. Aku salah. Kau kosong di dalam. Hampa."

Ingat ketika aku mengatakan Sehun dan aku memiliki banyak kesamaan? Itu benar. Dan maksudku bukan berarti hanya di ranjang atau di kantor. Kami berdua memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatakan hal yang tepat. Untuk melukai. Untuk menemukan titik lemah masing-masing dari kami, dan menyerangnya dengan sebuah granat kata-kata.

"Sehun, aku—"

Dia memotongku. Dan suaranya tegang. Tercekat. "Asal kau tahu, Jongin, aku tidak bodoh. Aku tidak mengharapkan lamaran pernikahan. Aku tahu apa yang kau suka. Tapi kau terlihat begitu...Dan malam itu di bar? Caramu menatapku. Kupikir..."

Suaranya tersendat, dan aku seakan ingin bunuh diri saja. "...Kupikir aku berarti sesuatu untukmu."

Aku melangkah lebih dekat, ingin menyentuhnya. Untuk menghiburnya. Untuk mengambil kembali semuanya. Membuat semuanya lebih baik.

"Memang. Kau berarti untukku."

Dia mengangguk kaku. "Benar. Itulah kenapa kau—"

"Aku tidak melakukan apa pun! Tidak ada kencan. Tidak ada naik taksi terkutuk. Itu semua bohong, Sehun. Sunwoo yang meneleponku hari itu, tidak ada Stacey atau siapapun. Aku hanya mengatakan semua itu agar kau berpikir itu adalah dia."

Wajahnya berubah pucat, dan aku tahu dia percaya padaku. "Kenapa...kenapa kau lakukan itu?"

Aku menghembuskan napas. Suaraku pelan dan tegang. Memohon padanya agar mengerti. "Karena...Aku jatuh cinta padamu. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama. Aku tidak menyadarinya sampai hari Minggu malam. Dan kemudian ketika Luhan muncul di sini...Kupikir kau menerima dia kembali. Dan itu menghancurkanku. Begitu menyakitkan hingga aku ingin membuatmu merasa...sakit yang sama seperti yang kurasakan."

Bukan momen terbaikku, bukan? Ya, aku tahu, aku seorang bajingan. Percayalah, aku tahu.

"Jadi aku mengatakan semua itu dengan sengaja, agar kau berpikir bahwa kau tidak berarti apa pun bagiku. Bahwa kau seperti wanita yang lain. Tapi kau bukan, Sehun. Kau tidak seperti siapa pun yang pernah kukenal. Aku ingin bersamamu...benar-benar bersamamu. Hanya kamu. Aku belum pernah merasakan seperti ini pada siapa pun. Dan aku tak pernah menginginkan segala hal yang ingin kumiliki ketika bersamamu."

Dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menatapku. Dan aku tidak bisa tahan lagi. Aku memegang bahunya, lengannya. Hanya ingin merasakannya. Dia menegang, tapi tidak menarik diri. Aku mengangkat tanganku ke wajahnya. Jempolku mengelus pipi dan bibirnya. Oh Tuhan. Matanya tertutup oleh sentuhanku, dan gumpalan di tenggorokanku terasa seperti mencekikku.

"Kumohon, Sehun, bisakah kita...kembali? Semuanya begitu indah sebelumnya. Itu sempurna. Aku ingin kita seperti itu lagi. Aku sangat menginginkannya."

Aku tidak pernah percaya pada penyesalan. Pada rasa bersalah. Dulu aku berpikir itu hanya ada di kepala seseorang. Seperti takut akan ketinggian. Tidak ada yang tidak bisa dilewati jika kalian memiliki tekad. Kekuatan. Tapi aku tidak pernah memiliki seseorang, melukai seseorang yang berarti lebih bagiku dibanding diriku sendiri. Dan tahu bahwa aku mengacaukan ini karena ketakutanku, kebodohanku semata, ini sungguh...tak tertahankan.

Dia menepis tanganku. Dan melangkah mundur. "Tidak."

Sehun mengambil tasnya dari lantai.

"Kenapa?" Aku berdehem. "Kenapa tidak?"

"Apa kau ingat ketika pertama kali aku mulai bekerja di sini? Dan kau bilang ayahmu ingin aku menyusun 'latihan' presentasi?"

Aku mengangguk.

"Kau mengatakan itu karena kau tidak ingin aku mendapatkan klien itu. Benar kan?"

"Benar."

"Dan kemudian malam itu ketika kita bertemu dengan Kwon Jaehee, kau bilang bahwa aku menyodorkan payudaraku ke wajahnya karena...bagaimana kau mengatakannya? Kau ingin 'membuatku marah.' Ya atau tidak?"

Kemana arah pembicaraan ini?

"Ya."

"Dan kemudian minggu lalu setelah semuanya, kau membuatku percaya bahwa kau bicara dengan wanita itu karena kau ingin menyakitiku?"

"Memang, tapi—"

"Dan sekarang, sekarang kau bilang kau jatuh cinta padaku?"

"Ya."

Dia menggeleng pelan. "Jadi kenapa aku harus percaya padamu, Jongin?"

Aku berdiri di sana. Terdiam. Karena aku tak punya apa pun untuk diucapkan. Tidak ada pertahanan. Tidak ada alasan yang akan membuat perbedaan nyata. Tidak untuk Sehun. Dia berbalik untuk pergi. Dan aku panik.

"Sehun, tunggu..."

Aku melangkah di depannya. Dia berhenti namun pandangannya melewatiku. Seperti aku bahkan tidak di sini.

"Aku tahu aku mengacaukannya. Parah. Cerita tentang gadis taksi itu bodoh dan kejam. Dan aku minta maaf. Lebih menyesal daripada yang pernah kau pahami. Tapi...kau tidak bisa membiarkan itu merusak apa yang telah kita miliki."

Dia tertawa mengejek. "Apa yang bisa kita miliki? Apa yang kita miliki, Jongin? Semua yang pernah kita miliki adalah argumen dan persaingan dan nafsu..."

"Tidak. Ini lebih dari itu. Aku merasanya akhir pekan itu, dan aku tahu kau merasakannya juga. Apa yang kita miliki bisa menjadi...sangat menyenangkan. Jika kau memberinya kesempatan. Beri kita—aku satu kesempatan lagi. Kumohon."

Bibirnya tertekuk satu sama lain. Lalu dia bergerak mengelilingiku. Tapi aku meraih lengannya.

"Lepaskan aku, Jongin."

"Aku tidak bisa."

Dan maksudku bukan hanya lengannya. Dia menyentakkan tangannya. "Cobalah lebih keras. Kau pernah melakukannya sekali. Aku yakin kau bisa melakukannya lagi."

Lalu ia berjalan keluar pintu. Dan aku tidak mengikutinya.

.

Oke. Jadi itu tidak berjalan dengan baik.

Kalian benar, itu adalah bencana. Kalian pikir aku seharusnya mengejar dia? Well, kalian keliru. Apakah kalian pernah membaca The Art of War karya Sun Tzu? Aku pernah. Ini adalah buku tentang strategi militer. Seorang jenderal yang baik tahu kapan harus menyerang. Seorang jenderal yang hebat tahu kapan harus mundur. Untuk menggalang kekuatan. Aku sudah memberitahu Sehun apa yang perlu kukatakan. Kini aku harus menunjukkan kepadanya. Aksi untuk memenangkan perang. Aksi untuk menyembuhkan luka. Bukan kata-kata. Kata-kata itu murah. Milkku, terutama, saat ini kata-kataku setara dengan nilai gabungan dari seluruh kotoran yang ada di saku.

Jadi...Aku punya rencana. Dan kegagalan bukanlah pilihan. Karena ini bukan hanya tentang aku, tentang apa yang kuinginkan. Tidak lagi. Ini juga tentang apa yang Sehun inginkan. Dan dia menginginkanku. Tentu, dia melawannya, tapi keinginan itu ada di sana. Seperti yang selalu terjadi. Tidak akan pernah ada seorang pun yang bisa memahami Sehun seperti diriku. Dan sebelum kalian benar-benar marah padaku, aku tidak mengatakan ini karena rasa percaya diri yang berlebihan. Aku mengatakan ini karena di balik kemarahan, di bawah lukanya...Sehun sama jatuh cintanya denganku seperti aku jatuh cinta kepadanya. Melihat Sehun seperti melihat diriku sendiri ke dalam cermin. Jadi aku tak akan berhenti. Aku tak akan menyerah. Tidak sampai kami berdua mendapatkan apa yang kami inginkan. Memiliki satu sama lain.

Hei, kalian tahu apa lagi yang jenderal besar akan lakukan? Panggilan pasukan cadangan.

.

Berikut ini adalah fakta untuk kalian, bahwa kebanyakan pria tidak bisa melakukan multitasking. Itu benar. Itulah kenapa kalian tidak bisa mendapati banyak pria yang mencoba membuat masakan lengkap untuk makan malam Thanksgiving. Itulah alasan ibu-ibu di seluruh dunia pulang ke lokasi bencana ketika mereka meninggalkan anak-anak mereka bersama suami selama beberapa jam. Sebagian besar kaum pria hanya bisa benar-benar fokus pada satu hal pada suatu waktu. Sebagian besar kaum pria, tapi tidak untukku.

Sebelum aku keluar pintu kantor, aku menghubungi Krystal melalui ponselku. Tidak, aku bukan atasan yang rewel. Jika kalian seorang asisten dari salah satu bankir investasi paling sukses, panggilan larut malam merupakan bagian dari deskripsi kerja. Sekarang setelah seminggu aku mengacuhkan segala masalah di sekitarmu, aku perlu tahu apakah aku masih punya klien untuk ditangani. Untungnya bagiku, aku masih punya klien.

"Kuharap kau dapat menumbuhkan ginjal ketiga, Jongin," kata Krystal.

"Karena kalau Moonkyu, Chanyeol, dan Sunwoo membutuhkannya pada saat bersamaan, kau harus menyerahkannya pada mereka."

Rupanya, mereka orang-orang yang sudah menggantikan pekerjaanku ketika aku sedang membuat lekukan permanen pada sofaku.

"Pesankan Chanyeol satu meja di Scores akhir pekan ini. Aku yang bayar."

Tidak ada yang lebih baik untuk urusan mengucapkan terima kasih seperti penari telanjang prabayar. Adapun Moonkyu dan Sunwoo—aku perlu berpikir tentang urusan yang satu ini. Aku punya perasaan bar striptease terlarang untuk mereka yang sudah masuk ke dalam Jalan Kegelapan.

Setelah Krystal memberikan info terbaru tentang pekerjaanku, aku katakan padanya untuk mengosongkan jadwalku dan memberinya daftar hal-hal yang kuperlukan untuk besok. Aku punya hari yang panjang untuk membuat perencanaan, tapi itu tidak ada hubungannya dengan investasi perbankan. Setelah kami menutup telepon, aku berjalan melewati pintu apartemenku. Oh Tuhan. Aku menutup hidung dengan tanganku. Bagaimana aku bisa hidup dengan bau ini selama tujuh hari lamanya?

Oh, benar—Aku sedang mati otak.

Aku memperhatikan sekeliling ruangan. Kantong sampah berjajar di salah satu dinding. Botol kosong ditumpuk di atas meja. Piring kotor memenuhi bak cuci, dan bau udara di apartemenku seperti aroma pengap yang merembes melalui ventilasi mobilmu ketika kalian terjebak kemacetan lalu lintas di belakang truk sampah. Yuri berusaha sebaik mungkin untuk membersihkannya, tapi kondisinya masih saja kacau. Mirip seperti hidupku pada saat itu, bukan? Ini adalah contoh yang sangat bagus dari simbolisme. Aku berjalan ke kamar tidur di mana aku benar-benar bisa bernapas melalui hidungku. Aku duduk di tepi ranjang dan menatap telepon. Ingat pasukan cadangan yang tadi kusebutkan? Saatnya untuk memanggil mereka.

Aku mengangkat telepon dan menghubungi. Suara menenangkan menyapaku setelah deringan kedua. Kombinasi sempurna dari kekuatan dan kenyamanan, dan aku menjawab.

"Hai, Mom."

Kalian pikir aku akan menghubungi orang lain, benar, kan? Jauh di lubuk hati, aku adalah anak mama. Aku cukup jantan untuk mengakuinya. Dan percayalah, aku bukan satu-satunya. Cukup banyak menjelaskan, bukan? Itulah alasan kenapa pacarmu tidak mampu menaruh dengan tepat kaus kaki atau celana dalam ke dalam keranjang cucian, karena dia dibesarkan dengan mamanya melakukan hal itu untuknya. Itulah kenapa saus pastamu lumayan, tapi tidak, seleranya sudah terpaku pada saus buatan mamanya di hari Minggu. Ditambah lagi, kalian tahu istilah "Ibu tahu yang terbaik"? Ya, itu menjengkelkan. Tapi apakah itu akurat? Sangat-sangat akurat. Aku belum pernah tahu ibuku melakukan kesalahan. Dalam hal apa pun. Jadi pada saat ini, pendapatnya adalah sumber yang paling berharga bagiku. Aku tahu apa yang menurutku harus kulakukan untuk memperbaiki keadaan dengan Sehun, tapi aku ingin mengkonfirmasi bahwa itu memang tindakan yang benar untuk dilakukan. Ini adalah wilayah baru bagiku. Dan aku tidak boleh mengacaukannya. Lagi.

Ibuku mulai bicara tentang sup ayam dan kompres dingin. Tapi aku memotong kata-katanya. "Mom—aku sebenarnya tidak sakit. Maksudku bukan seperti yang Mom pikirkan."

Sambil mendesah, aku mulai menceritakan kisah kotorku. Mirip seperti suatu pengakuan. Setelah aku menguraikan kejadian pagi di kantorku di mana aku mengacaukan keadaan dengan Sehun. Oke, kalian benar, di mana aku mengacaukan segalanya, dan ibuku menghembuskan napas penuh kesedihan.

"Oh, Jongin."

Perutku terbalik oleh rasa penyesalan dan kekecewaan. Apa yang tidak akan kuberikan pada mesin waktu. Aku selesai menceritakan tentang keterpurukanku dan mulai menjelaskan rencanaku untuk memperbaiki keadaanku besok. Setelah aku selesai, dia terdiam selama beberapa saat. Dan dia melakukan sesuatu yang tak pernah kukira akan dilakukan oleh ibuku yang sopan dan menahan diri. Dia tertawa.

"Kau sangat mirip ayahmu. Terkadang aku bertanya-tanya apakah kau punya sedikit saja DNA dariku."

Aku sungguh tak pernah bisa melihat adanya kesamaan antara aku dan ayahku. Kecuali kecintaan kami akan bisnis, dorongan kami untuk sukses. Kami selalu seimbang dalam bidang itu. Sebaliknya, ayahku sangat ketat dalam berperilaku. seorang pria yang berdedikasi, yang setia pada keluarga sepenuhnya. Bertolak belakang denganku dalam segala hal.

"Benarkah?"

Dia masih terkekeh. "Suatu hari akan kuceritakan padamu bagaimana ayahmu dan aku akhirnya bersama di universitas Columbia. Dan aku akan memasukkan semua rincian kecil dan jorok yang ayahmu sendiri tak pernah ingin kau mengetahuinya."

Bila ceritanya melibatkan seks dalam bentuk apa pun, aku tidak ingin mendengarnya. Sekali pun. Menurut pendapatku, orangtuaku melakukan hubungan seks dua kali sepanjang hidupnya. Sekali untuk mendapatkan Yuri dan sekali untuk mendapatkanku. Itu saja. Pada tingkat tertentu aku sadar bahwa aku menipu diri sendiri, tapi ini adalah salah satu topik di mana aku lebih suka hidup dalam penyangkalan.

"Sedangkan untukmu dan Sehun, aku membayangkan dia akan jadi cukup...terkesan dengan apa yang telah kau rencanakan. Nantinya. Pada awalnya, aku menebak dia akan marah besar. Kau harus bersiap untuk itu, Jongin."

Aku juga memperkirakan akan hal itu. Ingat garis tipis yang Moonkyu bicarakan?

"Bagaimanapun aku harus bertanya padamu, sayang. Apa kau yakin? Apa kau sungguh-sungguh yakin bahwa Oh Sehun adalah wanita yang tepat untukmu? Bukan hanya sebagai kekasih tapi sebagai teman, sahabat, mitra? Kau harus yakin, Jongin. Sangat keliru mempermainkan perasaan seseorang, tak perlu aku memberitahumu soal itu."

Sekarang ada nada celaan dalam suaranya, nada yang sama seperti yang ia gunakan waktu aku berumur delapan tahun dan tertangkap basah membaca buku harian Yuri.

"Aku seratus persen yakin. Ini Sehun atau...tidak sama sekali."

Aku masih terkejut betapa tepatnya ini. Dan, terus terang, aku ketakutan setengah mati. Maksudku, bahkan sebelum aku bercinta dengan Sehun, ketertarikanku untuk bercinta dengan wanita lain sudah mulai memudar. Drastis. Dan itu bukan karena mereka pasangan seks yang buruk. Itu karena mereka bukan Sehun. Jika, karena suatu malapetaka, Sehun tidak akan menerimaku kembali, aku mungkin akan mencukur kepalaku dan pindah ke Tibet. Aku dengar para biksu sedang dibutuhkan di sana.

"Kalau begitu, inilah saranku, bertindaklah secara tak kenal lelah. Pantang menyerah. Benar-benar gigih dalam mengejar keinginanmu. Jika sedikit saja kepercayaan dirimu goyah, Sehun akan menganggap itu sebagai tanda bahwa kasih sayangmu mungkin juga goyah. Kau sudah memberinya beberapa alasan untuk tidak percaya padamu, jangan biarkan ketidakkukuhanmu memberinya alasan lagi. Bersikaplah yang manis, Jongin. Jujurlah. Bersikaplah seperti pria yang kubesarkan. Pria yang kukenal."

Aku tersenyum. Dan saat itu juga, aku tahu, tanpa pertanyaan, entah kenapa, dengan cara tertentu, aku akan memperbaiki situasinya.

"Terima kasih, Mom."

Saat aku akan mengucapkan selamat tinggal, ia menambahkan, "Dan demi Tuhan, segera setelah kau menjernihkan situasi ini, Aku ingin kalian berdua mampir ke rumah untuk makan malam. Aku ingin bertemu wanita yang membuat putraku bertekuk lutut padanya. Dia pasti luar biasa."

Seratus bidikan gambar tentang Sehun melompat masuk kepalaku sekaligus. Sehun di mejanya, berkacamata. Cemerlang dan penuh tekad. Suatu kekuatan yang harus diperhitungkan. Sehun tertawa pada salah satu komentarku yang tidak pantas. Memperkenalkan Moonkyu ke Jessi. Membantu Sunwoo keluar dari kemacetan. Sehun dalam pelukanku, begitu bergairah dan memberi. Percaya dan terbuka. Dia di bawahku, di atasku, di sekitarku, menyesuaikan gerak demi gerakku, erangan demi erangan.

Senyumku bertambah lebar.

"Dia, Mom. Dia orangnya."

.

Saatnya pelajaran sejarah, nak. Pada jaman dahulu kala, ketika dua klan sedang berperang, mereka akan mengirim bangsawan ke lapangan sebelum pertempuran untuk mencoba dan merundingkan resolusi tanpa kekerasan. Jika para penguasa bisa menemukan kompromi, maka tidak akan ada pertempuran. Namun jika tidak bisa mencapai kesepakatan, maka dimulailah pertempuran. Dan aku bicara tentang kapak perang jaman dulu, panah berapi, peluru meriam yang akan memotong kakimu tepat di lutut. Ya, ini adalah adegan di film Braveheart. Tapi itu masih akurat dilihat dari sudut pandang sejarah. Maksudku adalah, untuk mencapai setiap tujuan, ada dua cara untuk mencapainya: cara yang keras dan cara yang lunak. Orang-orang jaman dulu menyadarinya. Dan begitu juga aku.

Itulah sebabnya aku berdiri di luar gedung kantorku menunggu untuk menjumpai Sehun sebelum dia berjalan masuk ke pintu. Untuk menawarkan rekonsiliasi. Untuk mencari solusi damai. Kita akan menyebutnya "cara lunak" milikku.

Dan dia datang. Lihat dia di seberang blok? Rupanya, aku bukan satu-satunya orang yang hari ini berangkat kerja siap untuk berperang. Sehun pasti memakai baju besinya. Dia mengenakan celana panjang hitam dan sepatu hak yang sangat tinggi sehingga dia akan berdiri sejajar denganku. Rambutnya dipelintir menjadi sanggul yang ketat dengan hanya beberapa lembar membelai wajahnya. Dagunya terangkat, matanya keras, dan dia berjalan dengan langkah terarah penuh semangat.

Luar biasa. Detak jantungku bertambah cepat, dan kejantananku bangkit setengah tegang, tapi aku mengabaikannya. Memang benar, sudah lama sekali aku tidak berhubungan seks, tapi aku akan mendapatkannya nanti. Saat ini, fokusku sepenuhnya hanya pada Sehun dan langkahku selanjutnya. Aku bertolak dari gedung dan bertemu dengannya di tengah perjalanannya.

"Hai, Sehun. Kau terlihat lezat pagi ini."

Aku tersenyum dan mengangsurkan bunga lavender warna ungu. Dia tidak menerimanya. Sebaliknya, dia berjalan melewatiku tanpa kata. Aku berjalan mundur jadi aku masih ada di depannya. "Pagi, Sehun."

Dia mencoba berjalan melingkariku, tapi aku memblokir langkahnya dan aku menyeringai. Tidak bisa menahannya.

"Apa? Kau tidak mau bicara denganku? Kau pikir itu sungguh layak mengingat kita bekerja bersama-sama?"

Suaranya datar dan terlatih, seperti robot. "Tentu saja tidak, Mr. Kim. Jika Anda memiliki urusan bisnis untuk dibicarakan dengan saya, saya akan senang untuk bicara dengan Anda. Tapi jika itu tidak menyangkut pekerjaan, maka saya lebih suka—"

"Mr. Kim?Apa ini semacam permainan peran yang kinky? Aku bos jahat dan kau sekretaris seksi?"

Rahangnya terkatup, dan tangannya mengepal kencang pada tasnya. "Atau kau bisa menjadi bosnya, kalau kau suka. Dan aku bisa menjadi asisten penurut yang membutuhkan hukuman. Aku pasti bisa masuk ke segala hal yang berbau dominatrik."

Dia membuat suara muak. Dan berjalan pergi. Aku dengan mudah mengejarnya.

"Tidak, tunggu, Sehun. Aku bercanda. Itu lelucon. Tolong tunggu. Aku sungguh perlu bicara denganmu."

Suaranya tajam, kesal. "Apa yang kau inginkan?"

Aku tersenyum dan mengangsurkan bunganya lagi. "Makan malam lah denganku pada hari Sabtu."

Alisnya berkerut. "Apa kau minum sejenis obat yang tidak aku tahu?"

"Kenapa kau bertanya?"

"Apa aku tidak cukup jelas tadi malam? Kenapa kau berpikir aku akan mempertimbangkan untuk pergi keluar denganmu lagi?"

Aku mengangkat bahu. "Aku berharap suasana hatimu lebih bagus pagi ini. Bahwa mungkin setelah tidur nyenyak kau akan menyadari bahwa kau masih...menyukaiku."

Dia mendengus. "Itu tidak mungkin terjadi." Dia berjalan selangkah. Kemudian berhenti dan berbalik menghadap kearahku. "Tidak, setelah dipikir-pikir...tidak bisa."

Aku mengimbangi di sampingnya ketika dia berjalan terus menuju gedung. Aku punya waktu dua menit, mungkin kurang. Aku bicara dengan cepat.

"Serius, Sehun, aku sedang berpikir—"

"Sungguh suatu kejutan."

Apakah dia selalu sok pintar?

"Aku ingin memulai dari awal. Melakukan sesuatu dengan benar saat ini. Aku ingin mengajakmu pergi keluar. Mengatakan padamu segala hal yang seharusnya kukatakan sebelumnya. Tentang betapa menakjubkannya kau menurutku. Betapa pentingnya kau bagiku. Oh, dan aku tidak akan bohong lagi padamu."

Tidak sekali pun. Aku sungguh-sungguh. Sepuluh tahun dari sekarang, jika Sehun bertanya apakah celana jins tertentu membuat pantatnya terlihat gemuk dan kalau memang begitu? Aku akan mempertaruhkan hidupku dan menjawab ya. Aku bersumpah.

Dia menatap lurus ke depan saat ia menjawab, "Terima kasih atas tawarannya, tapi tidak. Dibuat merasa bodoh dan dimanfaatkan sungguh tidak masuk dalam daftar tertinggi agendaku minggu ini. Aku sudah pernah mengalaminya. Tidak mencari pengulangan."

Aku menangkap sikunya dengan lembut dan memutar tubuhnya ke arahku. Aku mencoba untuk menangkap matanya, tapi dia menolak bertemu dengan mataku. Suaraku rendah. Dan tulus.

"Sehun...aku panik. Aku takut, dan aku mengacaukannya. Itu takkan pernah terjadi lagi. Aku belajar dari kesalahanku."

"Kebetulan sekali." Dia menatapku dari atas ke bawah penuh arti.

"Aku juga."

Lalu ia berjalan pergi. Dan aku menghembuskan napas pajang. Oke. Kalau begitu pakai cara yang keras. Kenapa aku tidak terkejut?

.

.

.

TBC

.

.

.

AANNYYYEEOOOONGGGG

AAAA IM BACKK! AKHIRNYA BISA APDET LAGI XD

Kkkkk ada yang nungguin ff ini ga? Hehhe maaf ya lama update fic nya, soalnya ada banyak kabar mengejutkan beruntun dari Kim Jongin dari cidera sampai dating :'D

Lebay yahh xD

Tapi selain itu author juga ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan eaaa. Dan setelah lama ga update, ini author kasih chap panjang deh sbg permintaan maaf/? 24 halaman ms word ini xD

Semoga suka ya, dan review plis~

.

.

.

Lovya~

.

.

.