Taklukkan Sang Iblis atau ... ?

Story by: Cherry Philein

Naruto disclaimer Kishimoto Masashi

Sakura Haruno

Sasuke Uchiha

Genre: Mystery, Supernatural, Romance, Horror (maybe)

Warning: Minim percakapan.

DLDR

Selamat Membaca

.

.

.


Malam yang dingin tidak membuat sang gadis gentar untuk menemui kekasihnya yang berada di taman belakang kampus mereka, gadis itu mengutuk dirinya karena telah mengingkari janjinya untuk datang sepulang dari kelasnya dan menemui sang pujaan. Melihat pesan yang dikirim Sasuke untuknya, ia pun menjadi membenci dirinya sendiri karena ragu dengan hubungan mereka. Gadis musim semi itu kemudian mendatangi tempat pertemuan mereka, meski hari sudah sangat gelap. Ia tidak ingin melihat kekasihnya terus menunggunya karena dirinya yang tidak kunjung datang.

Merasa sangat lega ketika permata hijau itu menemukan sang pujaan, ia menghela napas bahagia dan berlari dengan cepat ke arah Sasuke. Setelah sampai, ia dikejutkan dengan bola mata semerah darah itu. Belaian tangannya di wajah lelaki itu pun terlepas seketika.

"Kautakut?" Suara dalam itu terdengar.

Lelaki itu tidak memedulikan keterkejutan gadisnya, sebaliknya ia malah membelai wajah sang gadis dan memberikan pelukan kepadanya. Ciuman panas pun Sasuke berikan untuk Sakura. Saat mereka saling menatap, sang gadis lalu mengutarakan apa yang ada di pikirannya, ia benar-benar ingin bertanya sesuatu kepada kekasihnya ini. Begitu juga Sasuke, lelaki itu pun ingin menanyakan sesuatu kepada Sakura.

"Dari dulu, aku sudah menanyakannya kepadamu, kau itu sebenarnya apa? Kau benar-benar tidak normal, dan terlalu misterius. Aku mohon, diantara kita jangan ada rahasia." Sakura bertanya demikian sambil menyentuhkan kedua telapak tangannya di wajah sang kekasih.

Sasuke hanya diam, ia tidak yakin kalau Sakura akan menerima statusnya sebagai setengah iblis.

"Sasu?"

Sasuke sedikit terhenyak karena dirinya yang tengah memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi, malah dikejutkan dengan suara Sakura yang cukup kuat.

"Sakura, ini sudah sangat malam. Sebaiknya kita sudahi dulu. Besok, kita bicarakan lagi di sini, bagaimana?"

Anggukan sang gadis pun menjadi penghenti pembicaraan mereka.


Chapter 10

The Devil: Don't Cry, Sakura!

Read and Review, Minna-san?

.

.

.

Sekarang adalah hari perjanjian mereka, hari di mana ia akan mengetahui kebenaran tentang kekasihnya yang misterius itu. Ia lega akhirnya Sasuke mau berbicara terbuka dengannya, tanpa sadar bibirnya membentuk bengkokan kecil. Walaupun begitu, ia tidak menampik kalau ada perasaan resah dan takut yang bersarang di dirinya yang paling terdalam. Sejujurnya, ia takut tidak siap jika sang kekasih memang memiliki sesuatu yang mengerikan.

Napasnya ia embuskan perlahan, ia ingin berpikir positif kepada sang kekasih. Ya, seharusnya ia berpikir kalau semuanya akan berjalan dengan baik. Tak terasa, matahari sudah mengeluarkan sinar kejinggaan. Awan-awan pun terkena imbas dari riak cahaya sang raja. Kakinya langsung melangkah ke arah taman belakang dan di sana ia sudah mendapati Sasuke yang menatapnya dari kejauhan, lelaki itu memakai kacamatanya dan mengalihkan perhatiannya dari buku yang tengah digenggamnya.

Sakura pun mempercepat langkahnya dengan berlari kecil dan tersenyum kepada kekasihnya.

Awalnya, Sakura merasa canggung ingin bertanya dan memulainya dari yang mana. Jujur saja, ia sedikit khawatir dengan jawaban Sasuke. Lelaki itu telah membuka kacamatanya sekarang. Buku di tangannya pun telah ia tutup dan di letakkan kembali di dalam tas yang dibawanya. Lelaki itu sekarang terfokus kepada gadis merah muda di sampingnya. Ia kemudian berdehem pelan sebelum berbicara.

"Apa yang ingin kautahu dariku?" Ucap lelaki itu.

Hening sebentar, Sakura masih mengumpulkan kesiapan mentalnya. Dengan helaan napas yang kuat dan tentu saja terdengar oleh lelaki di sampingnya itu, ia pun memulai pertanyaannya.

"Sebenarnya, banyak yang ingin kutahu darimu, Sasuke-kun." Ia menatap sang lelaki yang memiliki mata seindah batu oniks, "Misalnya, lagu kesukaanmu, makanan kegemaran, tempat wisata? Bahkan, hal sepele seperti itu saja aku tidak tahu. Aku ini sepertinya adalah kekasih yang buruk, bukan begitu?" Sakura sekarang malah bersedih karena menyadari banyak sekali hal yang tidak diketahuinya dari sang kekasih.

Sasuke tersenyum kecil saat melihat wajah Sakura yang sedih dan mengerucutkan bibirnya. Ia pun berinisiatif mengetuk pelan kepala unik itu.

"Kenapa kau memikirkan hal itu? Baiklah, aku menyukai lagu-lagu Yui. Makanan kegemaranku adalah buah tomat. Tempat yang selalu kusuka adalah pegunungan. Ada lagi?" Sakura pun membulatkan bibirnya, ia sempat tertawa saat Sasuke mengatakan kalau lelaki itu suka buah tomat. Apa tidak ada makanan lebih spesial selain tomat?

"Hmm ... lalu, ceritakan aku tentang keluargamu. Dan aku ingin ke rumahmu lagi, kita akan membersihkan rumah hantu itu bersama-sama. Sebaiknya kau memakai jasa pelayan rumah tangga, Sasuke-kun!" Sakura bertanya banyak hal dengan sekali tarikan napas. Gadis itu bahkan sekarang terengah-engah.

"Aa, ayahku adalah Fugaku dan ibuku adalah Mikoto, aku punya kakak lelaki dan namanya adalah Itachi. Kami hidup bahagia sampai setelah usiaku sekitar sembilan tahun, kedua orangtuaku meninggal. Lalu, tiga tahun lalu kakakku Itachi juga meninggal. Mereka berdua sama-sama meninggal karena kecelakaan. Kedua orangtuaku kecelakaan pesawat dan kakakku kecelakaan karena tabrak lari." Sasuke menutup matanya saat menceritakan semua hal menyakitkan itu. Sakura yang melihat lelaki itu seperti memendam emosinya pun bergerak dan mengelus lengan kekasihnya. Ia merasa ikut bersedih karena mendengar kejadian itu dari Sasuke.

Belaian-belaian tangan kecil itu disambut oleh tangan besar Sasuke. Ia pun menatap tepat di manik emerald Sakura. Mereka dalam beberapa saat hanya melakukan kontak mata tanpa pembicaraan yang terdengar. Seperti saling mengerti dengan hanya menyalurkan isi hati lewat saling menatap.

"Jika kausedih, sebaiknya keluarkan saja emosimu, Sasuke-kun. Itu akan membuatmu lega di sini." Sambil berbicara, Sakura menunjuk hati sang kekasih.

Di bawah pohon saat senja tengah menjadi latar mereka, gadis merah muda yang bernama Sakura itu pun menggerakkan tangannya untuk membawa kepala Sasuke ke dalam rengkuhan dirinya. Kepala raven itu ia elus-elus di dekapan dadanya. Beberapa kali terdengar ucapan menenangkan untuk kekasihnya.

"Arigatou, Sakura." Bisik Sasuke pelan dan terus menikmati belaian Sakura pada kepala dan punggungnya.

Sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih itu pun menghentikan aktivitas mereka, ketika sang gadis menyadari adanya panggilan yang masuk di ponselnya. Begitu pun dengan Sasuke, lelaki raven itu mendengar dengan jelas ponsel kekasihnya yang terus berbunyi.

"Angkatlah, Sakura!"

Anggukan kepala itu pun terlihat, Sasuke bersegera untuk keluar dari dekapan hangat dan menenangkan dari sang gadis.

"Halo." Suara gadis itu pun akhirnya terdengar.

Sakura selama beberapa saat masih mendengarkan suara di seberang sana, wajah gadis itu kelihatan serius. Mungkin ia tengah mendapat telepon dari keluarga atau salah satu dari dosennya, pikir Sasuke.

"Ba-baiklah, aku akan segera ke sana."

Hanya itu kalimat yang terdengar sebelum sang gadis menutup panggilan itu dengan sepihak, manik itu lalu menatap kekasihnya dengan pandangan serius. Dan Sasuke pun menyadari ada sesuatu yang berubah dari raut wajah Sakura.

"Ada apa?" Sasuke langsung bertanya saat menatap mata gadis itu yang berkaca-kaca dan bibirnya yang gemetar.

"Sa-sasu! Ino dan K-karin, kecelakaan." Suara itu terdengar tersendat karena menahan tangis.

"Keadaan mereka?" Sakura hanya menggelengkan kepala sambil berucap tidak tahu, lalu gadis itu pun memutuskan untuk melihat kondisi kedua sahabatnya yang saat ini sedang berada di rumah sakit Konoha.

Bunyi hentakan sepatu menandakan bahwa ia sedang berlari secepat mungkin untuk melihat keadaan kedua sahabatnya itu, saat maniknya menangkap beberapa orang yang dikenalinya, hentakan sepatu itu pun sudah tak terdengar lagi.

"Shika, bagaimana keadaan mereka?" Tanpa ba-bi-bu, Sakura langsung menghampiri Shikamaru dan menanyakan keadaan kedua orang yang masih di tangani dokter.

Wajah lusuh kedua pacar sahabatnya itu masih menjadi pemandangan bagi Sakura dan Sasuke, ia hanya menghela napas saat gelengan kepala terlihat olehnya.

"Entahlah, dokter belum keluar sedari tadi." Sai berbicara karena Shikamaru sama sekali tidak membuka bibirnya.

"Selamatkanlah mereka, Kami." Sakura hanya bisa berdoa agar Tuhan menyelamatkan sahabatnya. Sasuke yang melihat hal itu pun langsung mengusap pelan punggung kekasihnya, dirinya sedang menenangkan perasaan sang gadis yang sedang kalut saat ini.

Entah sudah berapa lama mereka menunggu kabar dari dokter yang menangani Ino dan Karin. Sakura sekarang sedang duduk di kursi dan bersandar di bahu Sasuke. Sementara kedua lelaki lainnya yang masing-masing merupakan pacar dari sahabat Sakura hanya berdiam diri sambil bersandar di dinding. Shikamaru yang biasanya selalu berwajah bosan dan tertidur pun sekarang sama sekali tidak memperlihatkan wajah mengantuk, lelaki itu malah berjalan-jalan mondar-mandir di depan pintu ruangan yang di dalamnya sedang menangani Karin dan Ino.

Semua mata langsung memandang ke arah pintu saat dokter yang menangani pun keluar, wajah dokter itu terlalu jelas dilihat gurat kelelahannya.

"Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi yang Maha Kuasa berkehendak lain." Salah satu dokter pun berucap dan membuat semua orang terkejut karena mendengar kabar duka itu.

.

.

.

Sebuah mobil raven berhenti di rumah yang kelihatan sangat menyeramkan, orang mana pun pasti tidak akan percaya bahwa di rumah yang mirip tempat hantu itu ditinggali oleh seorang pria tampan. Setelah keluar dari mobilnya, Sasuke pun berjalan untuk membuka pintu satunya lagi yang di sana sedang ada seorang gadis yang tidak sadarkan diri. Ya, Sakura pingsan karena mendengar kabar duka cita bahwa kedua sahabat yang sangat dicintainya itu sudah tiada.

Mengangkat tubuh kecil kekasihnya, ia pun membawanya masuk dan menuju kamar tidurnya. Ia rebahkan sang pujaan, lalu ia selimuti tubuh tak berdaya itu.

Sasuke menghela napas saat melihat jejak air mata masih ada di pipi kekasihnya. Ia dengan perlahan merapikan rambut Sakura yang berada di sekitar matanya, ia takut sang gadis akan terganggu dalam tidurnya. Biarlah dulu selama beberapa saat Sakura tertidur dan melupakan kejadian tidak mengenakkan itu.

Selama menunggu gadis merah jambu itu sadar, Sasuke pun bergerak untuk membuat teh hangat untuk kekasihnya. Ia tidak perlu keluar kamar, karena di dalam kamarnya ini sudah lengkap semua kebutuhan yang diinginkannya.

Suara gumaman pelan menandakan kalau Sakura sudah mulai siuman dari pingsannya. Ia hanya menatap gadis itu sambil menunggu sang kekasih membuka manik emerald-nya yang masih tertutup.

Saat mata Sakura terbuka, hal yang pertama kali dilihatnya adalah situasi yang berbeda dan wajah tampan Sasuke. Alis gadis itu pun berkerut dan dengan pelan ia mencoba mendudukkan dirinya, ia masih heran mengapa bisa berada di tempat yang berbeda seperti saat ini.

Sasuke yang sudah melihat kondisi Sakura lebih baik, lalu memberikan teh hangat kepada gadis itu.

Saat situasi lebih tenang, Sakura pun mulai mengingat apa yang baru saja terjadi kepada dirinya. Mengenai telepon mendadak di taman belakang kampus dan keadaan kedua sahabatnya yang sekarang sudah tiada. Tiba-tiba Sakura merasakan matanya memanas dan tubuhnya gemetar karena mengingat kejadian di rumah sakit tadi. Ia hanya bisa menangis dengan isakan yang sangat terdengar di telinga Sasuke.

"Sa-sasuke-kun ... hikss. Ino dan ... dan Karin ... ke-kecelakaan ... hiks," Sakura memeluk dirinya karena merasakan kesedihan yang mendalam, "mereka sudah tiada."

"Sttt ... tenangkan dirimu dulu, Sakura!" Sasuke memeluk Sakura dan membiarkannya menangis di sisi pria itu. Mencoba menenangkan kekasihnya dengan belaian sayang dan hangatnya rengkuhan yang ia berikan kepada gadis rapuh ini.

"Mereka meninggalkanku selamanya ... Sasu ... hiks."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


A/N:

Hai haiiiiii.

Untuk umat muslim di seluruh dunia: Marhaban Ya Romandhon! :D Semoga di bulan suci ini kita semua mendapatkan berkah dan syafaatnya. Daku minta maaf lahir dan batin juga kepada kalian semua, ya. :')

Aku sangat bersyukur karena masih bisa ikut berpuasa di tahun ini. Ahamdulillah, Allah masih memberikan kita nikmat kehidupan dan umur yang pajang. :D

.

.

.

Ok, aku minta maaf karena review chap semalem gak bisa kubalas. Soalnya leptop aku rada rusak sihhh ... dan aku juga masih belum bisa bales review kalian sekarang. Tapi, aku tetep baca review kalian kok dan aku seneng baca keantusiasan kalian untuk mengunggu fic ini. Makasih ya hehe. :D

Oh, ya. Aku lagi belajar buat fic Humor, kalau gak keberatan kalian juga baca ya fic humor buatanku. :D

Judulnya:

Kenapa Hanya Suigetsu yang Cocok? (Pair: Suigetsu-Karin)

Siapa yang Cocok? (Slight SasuSaku dan NaruHina)

Kambing Betina (NaruHina)

Dan nanti rencananya mau buat fic 'Kambing Betina' dengan pair SasuSaku juga hehe. :D

Ok, tinggal satu chap lagi ya. Sebenarnya mau ditamatin chap 10 ini sih, tapi daku gak ada waktu nulisnya, dan kalau ngetik siang2 gini ... itu panas banget bawaannya. Gerahlah pokoknya. :'v

Dan kalau ngetik malem gak sempat.

Pokoknya makasih deh sama kalian.

Salam sayang dari istri Itachikoi,

zhaErza