pasti kalian heran kenapa apdetnya kilat, panda sendiri juga heran (?)
Hanazawa Yuki : karena Yuuma bukan pencopet #iyain# Mikuo ga kenapa-napa #yha si Ivan dateng tuh...#lari
Shiro Rukami : apakah ini bahagia? #nyesepketanah# semoga drama-nya mulai berasa...
Gery O Donut : dari kamar mandi lah :v wkwkwk
Veria-313 : Mizki masih lurus koq jadi tenang aja #nyengir yosh uda lanjut kilat malah :v/
Jamuan makan malam tertata rapih. Mulai dari menu legenda seperti lasagna hingga makanan sederhana seperti kalkun panggang. Meja beralas delima dengan lilin yang diletakkan dalam wadah emas di atasnya, menopang jilatan api dengan eloknya.
Di sinilah, Yuuma, Kokone, dan orang tua mereka akan membicarakan tentang masa depan yang bersangkutan.
Masa depan Tanaka Yuuma.
Masa depan Shimazaki Kokone.
Tidak biasanya pasangan rival itu diam saat duduk berhadapan. Seringnya ingin mencolok mata lawan sesegera mungkin.
Yuuma merapikan jas serta dasi pita yang sedikit longgar, sedang Kokone menyisir helai cokelatnya dengan jemarinya. Bukan hanya ketenangan ini saja, tapi mereka saling melempar senyum satu sama lain.
Tidak ada yang tahu itu adalah senyum konspirasi yang baru.
Mizki bahagia. Ayah Yuuma swt. Sedang ayahnya Kokone, Shimazaki Kyo menjedukkan kepala ke meja sembari bergumam, "Akhirnya ada orang yang meluluhkan keganasan anakku.." ―kok malah bangga sih pak.
Entah bagaimana caranya mereka bisa demikian. Padahal masing-masing pihak awalnya menolak keras.
Ada yang tidak beres, tapi ya sudahlah. Bukankah lebih baik begini?
"Yuuma."
"Ya, Kokone?"
Mereka saling menginjak kaki satu sama lain di bawah meja.
Oh maaf, salah naskah.
Inilah narasi yang sesungguhnya.
Moshi-moshi! Love Mail Delivery!
―chapter 11―
Mikuo berlari, dan berlari.
Terus berlari, menuju sesuatu yang tak pernah pasti.
Sekretaris ibunya, Suzune Ring baru saja menelpon jika mereka mengalami kecelakaan. Suzune baik-baik saja, tetapi keadaan nyonya besar jauh lebih mengkhawatirkan.
Bukankah Mikuo membencinya? Lantas mengapa ia bergegas menuju rumah sakit?
Ia tak peduli berganti kereta beberapa kali sebelum tiba di Nagoya. Pikirannya sudah tidak jernih dan semrawut. Di stasiun Sakae, beberapa bawahan ibunya menunggunya. Mereka membungkuk singkat pada Mikuo, sebelum salah satu dari mereka mengatakan kondisi terakhir nyonya besar. Mendadak menjadi pusat atensi, Mikuo melangkah makin cepat. Di luar, sebuah limo menunggunya. Seolah tanpa jeda, pemuda itu masuk. Kemudian kendaraan elit itu melaju, membelah jalanan Sakae seketika.
"Jangan khawatir tuan muda, nyonya Hatsune adalah wanita yang kuat."
Mikuo juga tidak tahu apa yang membuat dirinya menjadi sepanik ini. Benarkah ia cemas pada ibunya? Atau ini hanya rasa terkejut yang berdampak terlalu besar baginya?
Begitu, kah?
.
.
"Mikuo tidak bisa dihubungi."
Luka menutup ponselnya, menggeleng pelan. Sementara Yuuma dan Kokone yang tengah menunggu kabar bahagia ―maksudnya mengetahui lokasi Mikuo― harus menelan kecewa. Tadi saja ia pergi tanpa berkata apa-apa berdasar kesaksian Yuuma.
"Kemana sih stalker itu! Tch!" Yuuma bersidekap kesal. Kokone kedip dua kali,
"Stalker itu apa, Yum?"
Klontang klontang.
Abaikan sfx yang entah berasal dari mana itu.
Yuuma nepok jidat, sementara Luka hanya diam. Sedetik kemudian ia memicing tajam pada satu-satunya lelaki di sana. Kokone jadi polos, loe biangnya! ―Luka mengintimidasi melalui telepati. Ternyata keseringan bersaing membuat Kokone tidak tahu bahwa dunia ini kejam.
"Gue salah apa?" Yuuma tak mengerti.
"Jadi, lo pikir rencana ini berhasil? Gak sudi gue jadi pacar lo meski pura-pura, Tanaka Yuuma." Luka mengingatkan.
"Ini situasi kepepet, mbak tuna." Yuuma berusaha tersenyum walau hatinya dongkol.
Kilatan listrik tak kasat mata melalui kontak netra tidak terelakkan.
"Luka-chan, nanti sms Hatsune sekalian beli gorengan ya." Kata Kokone.
'Kukki Yomenai!' Batin Yuuma dan Luka.
(Trans: Gak bisa baca situasi)
.
.
.
"Ganbarimashou, Flower-san!"
"Yossshhh!"
Pagi ini V-Flower memutuskan akan bekerja untuk berkeliling mengumpulkan sampah. Ingat, dia bekerja di Dinas Kebersihan Kota sekarang. Lingkungan bersih akan membuat hidupmu sehat, kan?
Sejak dulu V-Flower sering diajari sama omnya, bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. V-Flower memang tidak tinggal bersama orang tuanya di Asakusa, dia tinggal menumpang di rumah omnya, Yuzuki Yukashi. Tapi omnya cuma pulang saat lebaran sambil membawa oleh-oleh dari tempat bekerjanya ―yang katanya berada di luar negeri.
Pekerjaannya om Yukashi apa? Hanya beliau dan Tuhan yang tahu.
Intinya V-Flower cuma numpang, titik.
V-Flower melajukan truk pengangkut sampahnya perlahan menyusuri jalan. Dia sempat belajar mengendarai beberapa kendaraan berat saat sekolah di STM dulu ―STM macam apa itu?
Abaikan fakta itu, sekarang V-Flower harus bekerja. Ia membuka kaca jendela di samping bangku kemudinya, lalu mengeluarkan sebelah tangannya untuk melambai-lambai alay bak artis.
Artis jalanan?
V-Flower menghentikan laju kendaraannya ketika tiba di sebuah kompleks perumahan. V-Flower belum pernah ke sini, tapi ia dapat rute ini dari petugas sebelumnya. Btw petugas sebelumnya―yang mengerjakan hal serupa dengan V-Flower―ijin cuti karena istrinya baru melahirkan anak.
Semoga bahagia.
V-Flower lalu turun dan menatap kumpulan sampah di pinggir jalan. Ia sedikit menyingsingkan lengan bajunya dan memulai ritual pembersihan.
"Sampah~kemarilah~"
Ckitttt
Belum sempat mengangkut bungkusan sampah, V-Flower dikejutkan dengan kedatangan satu mobil sedan berwarna biru yang tak jauh berada di depannya. Awalnya V-Flower mau nyuekin, tapi gak jadi begitu tahu siapa yang turun dari sana.
"Bukannya itu Shion, ya?" ―walau gak pernah ketemu langsung, Kokone sempat memberinya foto sang gebetan. Katanya sih, Kokone dapet dari Mikuo.
"Nih, Flower, liat deh..Shion ganteng, ya."
Abang Yohio ninggalin gerobak sebentar karena lupa bawa cuka. V-Flower di samping Kokone mengernyit ketika Kokone menyodorkan selembar foto padanya. Foto seorang pria serba biru menerima paket. Mikuo yang sedang menemani Kokone saat itu hanya diam.
"Iya deh iya. Eh..btw, lu dapet darimana?" V-Flower penasaran.
"Dari Hatsune!"
Ya, agak suram ketika Mikuo mengeluarkan aura angker. Sayangnya, aura itu tak pernah sampai pada Kokone karena di sekeliling gadis itu sedang penuh bunga-bunga cinta.
"Oya, stalker maso itu ke mana, ya?" V-Flower bergumam sendiri. Akhir-akhir ini ia tak pernah bertemu lagi dengan pemuda teal itu. Ia hanya bertemu Mikuo di gerobak bakso abang Yohio―itu pun kalau ada Kokone―saat bulan purnama tiba. Kenapa harus saat bulan purnama? Jangan-jangan, Mikuo itu siluman serigala berekor sembilan? V-Flower mulai ngaco.
Tapi beberapa detik kemudian ia kembali fokus pada Shion yang menurunkan satu dus cokelat dari mobilnya.
"Ng?" V-Flower memiringkan kepala. Dus itu tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. V-Flower memutuskan sedikit mendekat untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Shion dan dus.
"Si kiki si kiki itu kawanku~lalalalilili dia pandai bernyanyi~"
Lagu anak-anak era 90l itu masih eksis sebagai ringtone manusia tamvan bernama Shion Kaito. V-Flower berusaha menahan tawanya. Bagus, informasi yang akurat.
"Moshi-moshi? Aniki? Ah, iya. Apa?! Di mana?! Aku sedang sibuk mengurus kepentinganmu, bodoh! Haaaaaa?! Baik, baik. Jaa."
Aniki? Kuping V-Flower mendadak besar sebelah. Shion lalu masuk ke rumahnya sambil membawa dus itu. Tiba-tiba saja ia sudah menghilang di balik pintu.
Inikah misdirection yang populer itu?!
Namun atensi V-Flower buyar ketika angin datang. Tanpa sengaja ia menoleh ke tempat pembuangan sampah di seberang pagar rumah Shion. Sepertinya Shion belum keluar, V-Flower berlari kecil. Sekalian sampahnya diberesin.
"Sampahnya Shion sedikit, ya. Hm, pemuda yang baik." V-Flower mengangguk pelan. Hanya ada dua bungkusan hitam di sana. Tapi lagi-lagi ia melihat benda mencurigakan. Seperti dirobek.
V-Flower memungut benda itu. Ada bagian yang terpisah. V-Flower lalu mengejar benda tipis yang melayang.
"HOI, KAMPRET! AKU TIDAK TAU KAU APA TAPI AKU AKAN MENANGKAPMU!"
V-Flower lalu melompat untuk menangkapnya. Dengan bertumpu pada kaki kiri, ia melompat tinggi dengan mengulurkan tangannya ke depan untuk meraih benda itu.
Berhasil! Berhasil! Hore!
V-Flower lalu melakukan rolling dan sukses mendarat bak ninja. Segera V-Flower kembali berdiri, lalu menggabungkan kedua benda―kertas― yang terpisah itu, dan alhasil ia terkejut setengah mati.
"I-ini, kan.."
Gadis itu menelan ludah, kelu. Tak mampu berkata apa-apa saat melihat sebuah nama.
Shimazaki Kokone.
.
.
.
"Ka-kaasan?"
"Hm?"
"Kenapa kau baik-baik saja?"
Miku menengadah dari posisi berbaring di ranjang rumah sakit.
"Tadi tulangku geser, lalu dokter membenarkannya kembali, sayang."
Hah, untuk apa Mikuo jadi sepanik dan sekhawatir ini jika ibunya baik-baik saja?!
Sialan.
Untung ia telah memerintahkan Suzune mengambil barangnya yang tertinggal ―sekalian mantau gebetan.
"Mikuo."
Ibunya memanggilnya sekali, dengan penuh detensi.
"Apa, kaasan?"
Miku masih terdiam. Mengalah, Mikuo mengambil kursi lipat dan duduk di atasnya. Bagaimanapun, Miku ibunya. Ia belum siap dikutuk jadi batu sebelum meminang pujaan hatinya.
"Kau mau kan, menemani ibu di sana?"
"Tempat lahir beta?" Sambung Mikuo.
"Ke Amerika."
Mikuo bangkit kembali dan bergegas hendak pergi, tapi Miku menahan pergelangan tangan putranya tersebut.
"Jangan lagi, Mikuo."
".."
"Aku..merindukanmu.."
"..."
"Rasanya menyedihkan hidup sendiri, bukankah begitu?"
"Lalu kenapa kaasan sampai meminta kepala kantor pos memberhentikanku? Kenapa kaasan suka sekali bertindak seenaknya?"
Perlahan, terlepas. Mikuo memantapkan hatinya untuk memilih.
Antara apa yang ia cinta dan yang mencintainya.
"Mikuo..sampai kapan kau akan bekerja di sana? Gajinya kecil, sementara kau memiliki lebih. Apa yang kurang, Mikuo?! Aku memberikanmu semuanya!"
Benar. Ibunya telah memberikan segalanya untuk Mikuo. Tidak seharusnya Mikuo mengkhianati kebaikan yang telah diberi ibunya semenjak lahir hingga saat ini. Tapi..
"Bahagiaku, kaasan."
―entah sejak kapan hidupnya tidak lagi bahagia. Tidak, sebelum ia bertemu Kokone. Kokone yang kini membuatnya tersenyum setiap hari.
Mikuo mulai melangkah menjauh dari ibunya. Setelah ini ia harus memblokir semua rekeningnya dan membuktikan ia bisa hidup tanpa pasokan dari ibunya. Akan ia buktikan bahwa ia telah dewasa.
"Mikuo, jangan pergi nak!" Miku mencabut selang infus dengan tergesa, lalu turun dari ranjang. Niat mengejar Mikuo justru terhalang jatuhnya raga janda itu ke lantai.
Mikuo sedikit menoleh ketika ia merasa kakinya digerayangi sesuatu. Ibunya menahannya dengan posisi memalukan begitu.
"Kaasan, bisa tolong lepaskan?"
Miku menggeleng, terisak dalam diam.
"Jangan tinggalkan aku, Mikuo. Aku tidak punya apa-apa selain dirimu."
"Oh, begitukah? Lalu bagaimana dengan pundi-pundi uangmu? Kau bahagia kan, kaasan?"
Sraakk!
Mikuo melepas kakinya kasar, meninggalkan Miku yang menangis seorang diri di sana.
Mikuo takkan berbalik, sekalipun ia ingin.
Ia akan memperjuangkan cintanya, pasti.
.
.
"Bosen.."
"Lu kira gue gak?"
Yuuma dan Kokone menyelesaikan amanat pengiriman dengan baik hari ini. Sampai jam pulang kerja, Mikuo tak kunjung kembali. Untung Luka mau menggantikan jadwal kiriman ke Ginza. Geez, dimana sih, si Mikuo?
"Barangnya belum diberesin lagi, ck." Decak Yuuma, teringat barang-barang Mikuo di kamarnya masih tertinggal. Nanti harus ia bereskan, terutama foto-foto Kokone yang telah mengotori dinding kamarnya.
"Yum, lalu kita mulai rencana kapan?"
"Nunggu Mikuo balik."
Sepi.
Sepanjang jalan pulang tidak banyak yang terjadi. Burung-burung masih menghiasi senja. Berlalu lalang bersama orang-orang. Angin yang berhembus kencang sedikit menerbangkan helai Kokone.
"Hatsune kapan balik?"
"Gue gak tahu. Ditelpon aja gak bisa."
Lagi, mereka terdiam karena membahas topik yang sama sedari tadi; dimanakah Mikuo saat ini?
Kokone berhenti di pinggir sungai. Yuuma yang menyadari Kokone tertinggal di belakang, menoleh.
"Ada apa, Kokone?"
"..ne.."
"Hah?"
Kokone menunjuk ke arah seberang, membuat Yuuma mau tak mau ikut melihat objek yang ditunjuk Kokone.
Seseorang berdiri di sana.
"Oi, ayo jalan, Kokone!" Yuuma segera menarik lengan kiri rivalnya, mengajaknya segera pergi dari sana.
"Tapi Yum, itu kan Suzu―"
"Diem."
Kokone lalu menuruti perkataan Yuuma. Mereka menjauh dari sana.
Sementara seseorang di sisi seberang hanya berkomunikasi melalui ponselnya.
"Target berhasil ditemukan. Apakah saya perlu membawanya ke sana, tuan muda?"
"Tidak Suzune-san. Maaf merepotkan padahal kau habis kecelakaan."
Suzune yang mendapati bahunya masih terbalut perban hanya menanggapi,
"Fasilitas helikopter mudah didapat. Apapun untuk tuan muda. Lalu, apalagi yang harus saya lakukan, tuan muda?"
"Tolong pergi ke tempat Yuuma. Barangku masih di sana."
"Dimengerti."
Pip.
.
.
.
.
Luka menyalakan lampu ruang begitu tiba di rumah. Ia sangat lelah hari ini karena terpaksa menggantikan Mikuo. Besok kalau Mikuo masuk, giliran Luka yang leha-leha, dong.
Luka berhenti melangkah. Ia seperti melupakan sesuatu. Tapi hal itu ditepisnya segera.
"Ah, bukan hal yang penting."
Ia lupa perihal surat undangan pernikahan temannya dengan seorang pria bermarga Shion.
.
.
Yuuma pulang dengan perasaan yang tak mampu dijelaskan. Oh ayolah! Baru saja mendapat setitik jalan keluar, Mikuo malah menghilang di saat-saat penting begini. Ah, tidak apa. Luka saja sudah cukup untuk rencana ini sebenarnya. Tapi Yuuma ingin memberi Mikuo sebuah kesempatan menaklukkan hati rivalnya. Gini deh, gak kasihan apa kalo temen lu gak dinotis gebetan?
Yuuma merasa sakit, entah di bagian apa.
Mungkin terlalu banyak berfikir membuatnya sakit kepala. Namun..tidak. Ini bukan di kepala, lalu di mana?
Ting Tong!
Yuuma yang baru menutup pintu terpaksa membuka kembali untuk menyambut tamu.
"Selamat sore."
Yuuma mundur lima langkah. Bukankah itu orang tadi? Mengapa ia kemari? Maaf, Yuuma sudah bertobat adu ketapel. Tidak melayani tawuran dalam bentuk apapun, kecuali itu Kokone yang nyari ribut.
Kerahnya dirapikan, membuat Yuuma menaikkan satu alis,
"Mau apa kau kemari, Suzune-san?"
Wanita itu berbalut jas hitam dengan rok di atas lutut, disertai belah pinggir di sisi kiri.
"Oh, ayolah, Tanaka. Apa dirimu lebih penting daripada tuan mudaku?"
Krik.
"Hah? Kau bicara apa?" Tanya Yuuma.
"Aku ingin mengambil koper tuanku. Bisakah kau menunjukkan jalannya?" Helai birunya masih tetap sama, seperti dulu.
Yuuma berkedut kesal. Tamu tak diundang memang merepotkan. Apalagi itu mantan gebetan. Yuuma mencak-mencak gak jelas, mau memaki dan mengusirnya segera. Hari ini sudah runyam, ia mau istirahat saja.
"Siapa tuanmu?! Kalau tidak ada kepentingan, silahkan―"
"Hatsune Mikuo."
Yuuma bungkam.
Wanita yang dulu pernah jadi pujaan hati Yuuma itu menyingkirkan Yuuma dari hadapannya.
"Biar ku cari sendiri."
"Oi." Yuuma menahan bahunya. Membuat pihak tertuju menoleh.
Sudah lama sekali rasanya Yuuma tak melihat Suzune Ring sedekat ini. Bagaimanapun, tetap saja sekeping rasa itu ada. Yuuma tidak tahu mengapa dunia mendadak sempit. Jadi Ring punya hubungan dengan Mikuo? Che.
"Akan kutunjukkan. Ikuti aku, Suzune-san."
.
.
.
.
Mikuo kembali berada di dalam transportasi umum yang disebut kereta. Namun kereta kali ini langsung menuju Tokyo. Ia ingin segera kembali ke sana, takkan lagi ia menghindar dan beralasan belum siap. Ia sudah mendapatkan tujuan hidupnya. Yang perlu ia lakukan kini hanya berjuang.
Sepanjang perjalanan ia tak mengalihkan pandangan dari suasana kota yang dilewati. Kelap-kelip cahaya yang menghiasi hari beranjak malam membuatnya melamun.
'Bisakah aku mendapatkanmu, Kokone?'
Ketika benda yang dinaikinya akan tiba lima belas menit lagi ke Tokyo, ia bernafas lega. Sebentar lagi..ia harus mengakui perasaannya pada Kokone. Lalu, akan mengajaknya menikah di sebuah gereja sederhana. Kemudian, mereka akan mempunyai anak-anak yang lucu, hidup bahagia selamanya.
Biarkan ia bahagia dalam fantasinya dulu.
Ia teringat sesuatu. Ia menghubungi Ring dengan terburu.
"Tuan muda, misi berhasil. Saya akan segera ke tempat tuan." Justru Ring yang berbicara terlebih dulu.
"Maaf Suzune-san.."
"Tuan muda? Apa yang terjadi?"
"Tinggalkan barang-barangku di sana. Aku tidak jadi menemani kaasan."
"Tuan mu―"
Pip.
.
.
"Abang Yohio, baksonya satu!"
Kokone muncul pakai piyama oranye dengan gambar pelangi. Membuat abang Yohio yang sibuk ngaduk-ngaduk kuah bakso berganti haluan atensi.
"Siap, neng Shimazaki!" Tak lupa Yohio memberi hormat.
"Aku akan menunggu, kapten!" Kokone balas hormat.
Sungguh relasi antara penjual dan pembeli yang aneh.
Kokone duduk di kursi. Tadi pas dia berangkat kemari jam menunjukkan setengah tujuh malam. Masih ada sisa waktu sebelum jam sembilan; jam tidurnya.
"Oya bang, liat Flower gak?" Kokone celingak-celinguk, tak biasanya tetangganya itu raib seharian. Minimal ketemu sekali dalam sehari, apalagi V-Flower itu tetangganya.
"Neng Flower? Gatau neng. Tapi tadi pagi dia bilang udah dapet kerja."
"Gitu ya, bang? Bang Yohio, liat Hatsune gak?"
Yohio menggeleng, "Mas Hatsune belum ke sini lagi semenjak bulan purnama lalu."
Kokone manyun. Kenapa sih semua orang suka ngilang seenak jidatnya? Biasanya kan temen curhat dan gosip terbaru si V-Flower.
"Bang, baksonya satu."
Itu bukan suara Kokone, tapi seorang lagi. Kokone yang asik melamun mikir utangan gorengan sama bokapnya Yuuma, dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya.
"Maaf mbak, bisa geser?"
Kokone langsung geser, memberi spasi lebih. Mbak-mbak berhelai cokelat pendek dan memakai baju merah ala kapten power rangers itu lalu duduk di sebelah Kokone.
Eh?!
Cokelat pendek?!
Kokone langsung memutar kepala dengan sudut sembilan puluh derajat.
Mbak-mbak itu kan...seperti yang ada di dokumentasi foto Mikuo...
"Nih baksonya, neng. Mbak tunggu bentar, ya?" Yohio meletakkan semangkuk bakso di hadapan Kokone, sebelum membuatkan bakso lagi untuk si mbak merah itu.
"Iya bang. Tapi cepet ya, laper banget habis mengurus persiapan resepsi, hahaha!" Mbaknya kipas-kipas pake tangan.
Kokone melotot, sampai-sampai bola matanya tampak seperti mau copot dari tempatnya.
Itu kan mempelai wanitanya Shion!
Kokone kicep, badan mendadak pegal, linu-linu dan nyeri sendi. Benarkah yang ia lihat ini?! Tunggu, kenapa mbak-mbak itu bisa ada di sini?!
"Oi, Meiko, aku boleh ikut makan, gak?" Seorang lagi datang. Kokone melotot season dua.
Shion?!
Tunggu, mirip sih ama Shion gebetannya, tapi rambutnya merah. Dicat, ya?
"Boleh tapi kau bayari aku, Akaito."
"Tentu saja ,sayang."
'Akaito?'
Kokone menenggelamkan muka dalam lautan bakso.
"Are? Yohio?"
"Akaito?"
Lalu terjadilah adegan klise berupa peluk-pelukan antara dua pria itu.
"Wah, kau sekarang jualan bakso di sini ya, Yohio?"
"Aku keliling kok. Tapi kalo pagi dan malem di sini sampai jam sembilan." Yohio bercerita. Kedua pria itu sibuk bernostalgia.
"Inget gak, waktu ulang tahun adikmu?" Tanya Yohio.
"Ya, aku tidak menyangka kau mau susah-susah menghabiskan tabunganmu untuk Kaito."
Kokone bangkit dari mangkuk yang kini telah kandas isinya.
Kaito? Nama gebetannya? Ada apa sama Kaito?
Memang apa bedanya Akaito sama Kaito? Yang satu merah yang satu biru. Pelangi-pelangi alangkah indahmu, Kokone ngelantur.
Mbak-mbak yang dipanggil Meiko itu terlihat kesal karena dikacangin. Lalu ia mengambil sesuatu dari tasnya, untuk dilemparkan ke kepala Akaito.
Kokone memandang horror, yang dipegang mbak-mbak itu―
Prang!
―botol sake ukuran gede.
"Meiko, jangan kasar-kasar dong! Aku kan calonmu!"
"Calon apaan, hah?! Oi, mana baksoku, abang pirang?!" Gertaknya.
Yohio kembali ke posisi semula. Segera membuatkan bakso untuk pelanggan dadakannya.
"Si-silahkan, nyonya Shion!"
"Kami belum menikah! Baru tunangan!" Seru Meiko.
Akaito yang menjadi korban pelemparan botol sake jumbo hanya bisa bersimpuh di kaki tunangannya itu.
"Meiko! Maafkan aku! Aku berjanji takkan mengulanginya!"
"Cih."
"Tolong jangan ludahi aku, sayang."
Kokone swt. Sungguh pasangan yang aneh.
Dan jika duo cabe-cabean itu adalah pasangan yang sudah tunangan, maka...
..tunggu. Ada satu masalah. Lalu siapa cewek unyu berhelai kelabu itu?
(Piko bersin di suatu tempat)
"Oiya, neng Shimazaki bisa nganter duit ini gak ke tempatnya mas Yuuma? Ini uang kembalian kemarin belum abang kasih." Kata abang Yohio sembari mengeluarkan beberapa lembar nominal sekalian recehannya.
"Hah?! Ogah, bang!" Penolakan langsung diucapkan.
"Bakso kali ini gratis, gimana?"
Cring!
"Oke, setuju!"
Kokone langsung melesat membawa uang kembalian Yuuma.
.
.
.
Yuuma hanya diam membiarkan Ring menjelajahi ruangan pribadinya. Ring membereskannya serapi mungkin, bahkan ia melepas foto-foto Kokone di dinding dengan hati-hati.
"Dia benar-benar menyukai gadis itu, ya?"
Ring tidak menjawab, meneruskan pekerjaannya. Yuuma mencari topik lain, benci dikacangin.
"Suzune-sen..maksudku Suzune-san, apa kau masih jalan dengan Hibiki-san?" Tanya Yuuma akhirnya. Sedikit penasaran mereka masih awet atau tidak.
"Hmph, tentu saja. Apa kau mau mencoba mendapatkanku lagi?"
"Maaf, tidak kok. Dimana dia sekarang?" Yuuma tertawa kecil.
"Ada pekerjaan di London selama dua minggu. Ia diminta mendesain sebuah gedung milik perusahaan besar."
Kriteria pria seorang Suzune Ring saat luar biasa. Pantas saja Ring menolaknya saat itu. Tentu saja Lui punya masa depan yang lebih menjanjikan daripada ia yang kini hanya berprofesi sebagai tukang pos.
Ring tidak pernah main-main dengan pilihan hidupnya.
"Lalu, sejak kapan kalian menjalin hubungan?"
"Itu tidak penting." Sahut Ring.
"Aku hanya bertanya, Suzune-san. Kalau begitu, sejak kapan kau bekerja untuk tuanmu?"
"Sejak lulus SMA."
Wow, serius tuh? Enak banget jadi orang tajir seperti Mikuo.
"―aku tidak mau merepotkan Lui selamanya. Aku berhutang banyak padanya karena Lui bersedia membayar biaya pengobatan adikku."
Tunggu, Ring punya adik? Yuuma baru tahu.
"Adik? Adikmu kenapa?"
"Leukimia."
Yuuma merasa ia seakan berada di dalam kisah sebuah sinetron. Ring tidak pernah mengatakannya dulu ―mungkin ia merasa tidak perlu.
"Tapi..aku mencintainya bukan karena uang."
Satu lagi fakta yang mengejutkan. Bukankah waktu itu Ring berkata jika ingin mendapatkan hatinya, ia harus lebih kaya dari Hibiki Lui, pacarnya? Yuuma pikir selama ini Ring menganggap segalanya adalah uang. Jadi, alasan Ring menolaknya waktu itu..
"Tanaka? Aku sudah selesai."
..karena ia benar-benar mencintai Lui.
Yuuma merasa bodoh. Baru kali ini ia menyebut dirinya sendiri bodoh.
"Sudah semuanya kan, Suzune-san?"
"Tenang. Semua yang disebutkan tuanku telah aman."
"Se-semua?" Yuuma swt.
Mereka menuruni tangga. Ring membawa koper perlengkapan Mikuo, juga foto-foto pujaan hati yang diletakkan di tas jinjing yang ia bawa. Tidak apalah bercampur dokumen untuk sementara, yang penting amanat terlaksana.
"Ara, ara? Yuuma, siapa gadis itu?! Kau selingkuh dari Kokone-chan, ya?!" Ibunya mengintip dari balik pintu dapur sembari menatap tajam, matanya jadi merah dan bersinar bagai mencari mangsa. Yuuma jedukin kepala ke tembok terdekat. Ibunya lalu menghilang, melanjutkan memasak makan malam di dapur.
Selingkuh dari hongkong. Pacaran aja enggak sama Kokone. Dasar orang tua mereka saja yang kelewat greget udah ngejodohin sejak dalam kandungan! Bleh bleh bleh!
"Tanaka-san?" Panggil Ring. Yuuma langsung berdehem.
"Mau ku antar, Suzune-san?"
Mereka lalu berjalan menuju pintu depan. Sepanjang langkah, hanya diam menghantui. Tidak ada satu kata pun yang terlontar dari keduanya.
Ring melirik arlojinya, menyalakan ponselnya ketika mengetahui ada panggilan dari tuan muda.
"Tuan muda, misi berhasil. Saya akan segera ke tempat tuan."
"Maaf Suzune-san.."
"Tuan muda? Apa yang terjadi?"
"Tinggalkan barang-barangku di sana. Aku tidak jadi menemani kaasan."
"Tuan mu―"
―pip―
Ring ganti menatap tajam ke arah Yuuma.
"Apa?" Yuuma tak pernah mengerti apa yang sedang terjadi.
"Apa yang kau lakukan pada tuan muda?" Koper dan tas jinjing dijatuhkan, dua pistol terangkat ke arahnya. Satu tarikan dan melayanglah nyawa Yuuma.
"Oi, aku tidak pernah melakukan apa-apa pada Mikuo." Sungguh Yuuma tak tahu mengapa harus dia yang selalu salah padahal dia bukan fans geisya.
"Beraninya kau! Panggil dia dengan suffiks -sama! Dasar!"
Tch.
Inilah yang paling menyebalkan dari Suzune Ring. Paras boleh menang, tapi pikirannya tak akan jauh-jauh dari uang walau sebenarnya uang bukan tujuan utamanya.
Bukankah kalian tahu, mengapa Yuuma ditolak Ring dahulu kala?
Yah, tapi Yuuma percaya ketamvanannya masih plus-plus di kalangan wanita. Hanya saja ia tak pernah memikirkan masalah serius seperti pernikahan. Hidupnya masih panjang, kan? Itu nanti saja.
"Maa, Suzune-san? Kita bicarakan ini lain waktu. Aku mau tidur." Yuuma tersenyum. Ring lengah sesaat ketika Yuuma berhasil menyingkirkan kedua senjata api laras pendek itu dari tangan Ring. Tapi tubuh Yuuma oleng karena tak bisa menahan keseimbangan, hingga berakhir jatuh menimpa Ring.
BRUKK
Cklek.
Krieeett.
.
"Nanti aku ambil persenan ah dari kembaliannya Yuuma! Hehe.." Kokone cengar-cengir. Mata duitannya bekerja cepat jika masalah fulus begini.
"Yuuma juga gak bakal tahu kalau uangnya kuambil."
Anak baik, jangan ditiru ya.
Kokone tiba di pelataran kediaman Tanaka. Dengan segera, ia melompat-lompat kecil dan langsung membuka pintu depan rumah Yuuma.
Cklek.
Krieeett
Kokone termangu. Netranya menangkap sesuatu yang tak biasa.
Timing yang sangat buruk.
Kokone memang tak pernah menekan bel jika berkunjung kemari. Toh nanti ibunya Yuuma akan ditemuinya. Jadi bukan masalah. Sebenarnya Yuuma pernah marah soal ini, tapi kedua orang tua Yuuma it's oke wae.
Uang kembalian Yuuma jatuh berserakan beserta recehannya.
"Ko..Kokone?" Yuuma noleh. Berikut Ring yang turut memandang ke arahnya.
"Se-selamat malam." Kokone bingung menyusun kata. Apa ini? Kenapa Ring bisa berada di rumah Yuuma? Bukankah rencananya tidak seperti ini? Memang sejak kapan dan apa kepentingan seorang Suzune Ring hingga kemari?
Terlalu banyak pertanyaan di otak Kokone. Membuat kepalanya kesakitan sendiri.
"Kokone! Ini tidak seperti yang kau lihat!"
Apalagi sekarang?
Kepala Yuuma ditarik turun. Ring semakin memperkeruh suasana dengan mempertemukan celah ranum mereka. Selayaknya dua insan yang tengah dimabuk asmara.
Tunggu, kenapa jadi begini? Apa ini perubahan rencana? Menggunakan Suzune Ring?
Tidak tahu apa yang dirasakan hatinya. Rasanya berdebar tidak karuan. Tubuhnya ikut gemetar perlahan menyaksikan adegan barusan.
Kenapa?
Mengapa seperti ini?
Apa yang sebenarnya ia rasakan?
Kokone melangkah mundur, sebelum berlari menjauh. Semakin jauh dan menghilang di balik pagar.
Yuuma berhasil menguasai dirinya kembali, melepas diri dari Ring lalu mengejar Kokone. Ring tertawa puas. Menertawai dirinya sendiri yang masih tergeletak di atas lantai.
Tanaka Yuuma adalah pria yang disia-siakannya dulu.
"Ini akan jadi menarik! Hahahaha! Tuan muda, maafkan saya..hahahahaha!"
Tanpa ia sadari, likuid perlahan turun dari sudut matanya.
"Sialan kau, Shimazaki Kokone."
( Sementara itu, Mizki lagi nyumpel headset ke telinga saat memasak. Menyanyikan lagu favoritnya, Heavy Rotation. )
.
.
"Kokonee! Woy! Lu dimanaa?!"
Kokone yang sembunyi di balik tembok lalu mencari jalan lain agar bisa kabur dari Yuuma. Pikirannya mendadak bingung. Apa? Kenapa dia harus lari dari Yuuma? Kokone gak salah apa-apa, kan?
Tapi tubuhnya gemetar hebat.
Ia berlari, dan terus berlari. Yang penting saat ini ia harus menghindari Yuuma dan menenangkan hatinya. Ia harus mencari tahu sendiri apa yang membuatnya begini.
Cukup lama Kokone berlari, sekitar sepuluh menit. Itu pun kebanyakan muter-muternya. Yuuma sudah tak terlihat, tapi tetap saja Kokone melirik awas.
Tanpa sadar, ia menabrak seseorang yang baru keluar dari minimarket dekat stasiun.
BRUKK
Kokone yang tidak mau jatuh menahan diri dengan melingkarkan tangannya pada objek yang ditabraknya.
"M-maaf.." Kata Kokone sambil membuka matanya. Ia terbelalak. Rasanya ia mendadak menjadi putri dalam dongeng yang bertemu dengan pangerannya.
Pangerannya..seorang pemuda bersurai biru yang selalu ia kirimi dengan surat cinta.
"Shi-Shion-san?"
"Shi-Shimazaki-san..?" Pihak tertabrak pun hanya mampu berkedip heran.
Mereka larut dalam suasana. Tanpa kata maupun isyarat, keduanya saling mendekatkan diri. Kokone berjinjit untuk meraihnya. Ia memeluk pujaan hatinya makin erat. Begitu pula Kaito yang selama ini menahan perasaannya. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Direndahkan kepala menangkap asanya selama ini. Ia hanya tidak mau menyesal di kemudian hari.
Seseorang yang baru tiba tanpa sengaja memperhatikan kedua insan itu yang saling memagut mesra. Ia mengepal tangannya erat. Berusaha mati-matian, menahan amarah.
Tapi, ia tidak berhak. Siapa sangka, ia malah kecolongan start di sini.
Ia tetap berusaha melihat mereka meski menyakitkan. Memastikan keadaan pujaan hatinya ―yang justru tampak menikmatinya.
"Salahkah jika aku ingin memperjuangkanmu, Shimazaki?"
Ia berkata lirih. Berharap ini hanya mimpi buruknya. Namun ketika ia mengiris urat nadi di pergelangan tangan dengan cutter yang selalu ia bawa, rasanya sakit.
Yang berdarah hanya pergelangan tangan, tapi seluruh tubuhnya mendadak tertular sakit yang sama. Hingga akhirnya ia tak mampu menahan air mata, walau telah berusaha menggigit bibirnya agar tak bersuara.
Jadi, ini bukan mimpi, ya?
Hatsune Mikuo benar-benar dibuat patah hati.
Kakinya lemas, tak mampu lagi menopang tubuh. Derai air mata tak kunjung berhenti meski diusap berkali-kali. Dadanya terasa sesak, respirasinya tersendat.
Ia berteriak kesakitan. Tak peduli tatapan khalayak menjadi tertuju kepadanya akibat darah yang tercecer. Semua terasa sakit; fisik dan hati. Terlampau besar cinta yang ia beri pada Kokone. Terlalu banyak hingga rasanya ia ingin segera mati saat ini.
Di saat Kokone menoleh ke arahnya, Mikuo hendak mengiris nadinya lagi lebih dalam. Namun tangannya gemetar, dan ia justru menjatuhkan cutter tanpa sengaja. Pandangannya meremang dan berkabut makin tebal, dunia perlahan sirna dari netranya.
Lalu ia jatuh, terperangkap gelap seketika.
.
.
.
Tsuzuku
Mohon dibaca seksama hingga selesai a/n di bawah. Panda maksa kalian kudu baca a/n ini sampai kelar walau panjang. Terima kasih. #dibacok
(Too long ) A/N : hola minna-san? Masih ada yang inget cerita ini? Btw kok mendadak surem #hening
YUHUUUU―!
Hampir setahun serialisasi(?) ! Terimakasih semuanya! Ternyata jiwa panda masih membara untuk mengetik kisah tak jelas ini #ditabok
Karena itu untuk dua chapter depan, silahkan menikmati kilas balik Yuuma dan Kokone saat masih di sekolah menengah atas! Akan ada chara-chara lain yang bergabung seperti Big Al, Suzune Ring, serta kemunculan Yokune bersaudara! Bahkan yang tidak pernah muncul sebelumnya akan dimunculkan!
(Kalau ada tambahan chara, nanti liat aja kalo udah jadi chapternya.)
Ya kali, kalian ntar bosen gaada humornya. Di chappie ini malah gak ada humornya, hiks aku merasa gagal #mojok
Fyi, ada pertanyaan dari Shiro Rukami mengenai tema cerita ini. Maka akan Panda jelaskan. Memang sih ada sebagian dari teori "dunia itu sempit."
Namun sebenernya tema dari fik ini bukanlah dunia tak selebar daun kelor(?), tapi pekerjaan apapun jika dilakukan dengan senang hati akan terasa sangat menyenangkan. Ada yang sudah pernah ke kantor pos belum? Sudah pernah mengirim lewat pos belum? Atau, sama sekali gak pernah tahu nama tukang pos yang kadang mengantar kiriman ke rumahmu? Bagaimana wajahnya? Kusut atau berseri-seri? Apapun itu, berusahalah menghargai kerja keras beliau yang telah susah-susah mengantar hingga ke tempat kalian. Tanpa mereka, semua juga susah, bukan?
Mungkin ada yang nganggep ini ketinggalan jaman(terutama sejak maraknya sosmed) dan rendah gaji, apalagi sekarang apa-apa butuh uang. Uang memang segalanya, tapi segalanya bukan uang. Uang tidak akan pernah bisa membeli kebahagiaan sesederhana apapun itu. Etdah bahasa gue.
Menulis surat itu romantis menurut panda. Ada yang pernah punya sapen (sahabat pena)? Dulu panda punya, tapi sekarang udah gak surat-suratan lagi karena ada suatu hal yang tak diprediksi terjadi.
Menulis surat itu menunjukkan perjuanganmu agar bisa terus berkomunikasi, tak peduli sejauh apapun, atau tidak dibalas sekalipun, kita hanya berharap surat itu diterima oleh orang yang kita tuju.
Romantis, kan? Hah? Enggak? Ya udeh bodo amat. Anak jaman sekarang yang bisanya cuma main sosmed mana tau hal-hal simple romantique kaya gini? Puh #kibasponi
Gak, bukannya ngehina siapapun atau gimana, tapi memang begitu faktanya #samaajagoblok
Yang lahir pada era sebelum tahun 2000 pasti tahu apa yang panda maksud di sini. #udahtuasipanda
Selain itu, Yuuma, Mikuo, dan Kaito adalah representasi orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang kita sukai (Kaito), ada orang yang selalu menemani hari-hari kita (Yuuma) dan ada orang yang mencintai kita meski dalam diam (Mikuo). Sepanjang waktu, akan tetap ada orang-orang seperti itu yang hadir dalam hidup kita.
Yoshh..terima kasih telah mendukung fanfik ini, kukira akan berakhir dengan cepat tapi ternyata enggak #krai.
Para #team masing-masing kubu harap tenang dulu wahahahaha sendok semakin panasss #goyangdombret
Btw, ada yang baper baca chappie ini gak, sih? Cuma nanya kok. Kalo panda baper di bagian Mikuo yang scene terakhir tadi, rasanya kokoro-ku taq quat menulis nasib tragis stalker tajir ini #susutingus
Apakah ada perubahan pendukung #team ? Masih atau beralih dari/ke; #TeamYuuma #TeamMikuo , atau #TeamKaito (mungkin). Untuk #TimNetral silahkan menikmati konfliknya saja mwahahahaha.
Terima kasih banyak, semuanya!
Penuh cinta,
siluman panda
