Overdose with love
Main Cast :
Park Chanyeol EXO
Byun Baekhyun EXO
Wu Yi Fan
Other Cast :
Akan bertambah sesuai kebutuhan cerita
Genre :
Romance – Angst – Drama
Rate :
M
Length :
Chaptered
Disclaimer :
Semua pemeran dalam fanfic ini terlahir dari orangtua dan agensi pemeran
Warning :
This is EXO Fanfiction specially ChanBaek pair. GENDERSWITCH.
If you don't like main cast, genre, rate and genderswitch you can leave my fic.
Menerima kritik dan saran. Tidak menerima Bash/ Bullying/ Wars.
Sorry for typo's
.
.
Chapter 11
.
.
.
Recommended Song : BigBang – Let's not fall in love | 40 – Listen to the letter | Alessia Cara - Here
WARN :
Disini saya hanya menyampaikan bahwa chapter kali ini akan lebih panjang .
Jadi dimohon membaca pada saat mood yang bagus dan tidak dalam keadaan mengantuk.
Hehehe.
Preview :
Kris merengkuh Baekhyun dalam pelukannya. Sudah cukup pertengkaran yang tiada ujungnya ini.. mereka harus pisah secara baik-baik..
"Perlu kau ketahui Baekhyun.. aku bahkan sudah berubah.. aku bukanlah diriku yang dulu. Aku mengakui semua itu, tapi.. tidak bisakah aku berubah lebih baik? Denganmu?"
"Berubah? Setelah terungkap semuanya kau baru ingin berubah?"
"Memang harusnya seperti itu bukan.."
"Cih!" Baekhyun meludahi Kris..
'PLAAAK' Tangan itu berayun begitu saja, ketiga kalinya Kris menampar Baekhyun.
"Ma-maaf Baekhyun.. ak-aku.. tidak... bermaksud!"
"AKU PERGI!"
.
.
.
.
Sudah empat hari ini Baekhyun singgah dirumah minimalis Minseok, setelah pembicaraannya dengan Kris itu, dia sudah bertekad memberitahu keluarganya tentang permasalahannya. Awalnya keluarga Byun kecewa dengan kandasnya rumah tangga Baekhyun dan Kris dengan konflik yang di akibatkan campur tangan oranglain, tetapi setelah mendengar bahwa Baekhyun tidak apa-apa keluarga Byun mencoba menerima kenyataan. Dan juga anak yang ada dikandungan Baekhyun, ketika lahir nanti akan dibicarakan bagaimana kepengurusannya.
Baekhyun kini sudah merasa lebih lega meskipun hatinya masih lelah dan juga sakit. Ia tidak menyangka orang yang begitu ia cintai sejak 9tahun lamanya itu ternyata dengan mudah melepaskannya, membuat perasaan cinta itu kini berubah menjadi benci. Banyak nasihat dan juga renungan yang ia terima dari keluarganya tentang dirinya yang harus bisa berlapang dada dan berserah diri pada tuhan. Mungkin Kris memang cinta pertama dan pernah menjadi bagian hidupnya, tetapi Kris bukanlah cinta sejatinya.
Baekhyun menjatuhkan bokongnya diatas kasur empuk yang ia tempati bersama Minseok. Ia lupa bahwa ia masih mempunyai satu urusan dengan lelaki bajingan yang telah membuatnya hancur. Diambilnya dua kotak yang ia letakkan di atas nakas sebelah tempat tidurnya itu. Sebelum membuka kotak pertama, ia tarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Entah mengapa degup jantungnya berpacu sangat cepat. Hal buruk apalagi yang akan ia terima dalam kotak ini.
Kotak itu terbuka, ada begitu banyak barang-barang yang mengingatkannya dimasa lalu. Ia ambil satu persatu barang didalam kotak itu, dan ia membaca catatan disetiap barangnya. Hati Baekhyun berdesir, rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya melihat semua barang yang ada di dalam kotak ini. Dengan rasa yang campur aduk dan pelupuk mata yang penuh airmata siap jatuh Baekhyun membuka kotak berikutnya yang lebih kecil.
Dan sekali lagi, Baekhyun terkejut-kejut melihat foto-foto dan juga beberapa surat yang terdapat disana. Baekhyun membaca surat-surat itu sambil menahan tangisnya yang sudah mulai keluar..
Ya Tuhan.. ini semua diluar dugaanku..
.
.
.
.
Flashback On.
Hongkong, June 14th 2010
.
.
.
Normal POV.
Hari ini hari minggu, tepat dua bulan Baekhyun menjalani waktu libur kuliahnya. Setelah mengikuti seleksi kerja paruh waktu.. Baekhyun memutuskan dirinya untuk pergi ke kedai Ice Cream yang sering ia kunjungi bersama kedua sahabatnya. Kyungsoo dan juga Tao. Ah.. Baekhyun iri pada kedua sahabatnya itu, sudah mendapatkan pekerjaan sejak awal masa libur kuliah. Sedangkan dirinya, baru hari ini saja dia ikut seleksi.
Baekhyun melangkahkan kakinya perlahan, rambut panjangnya ia jepit disebelah kiri, dengan menggunakan outfit kemeja putih polos dan skirt pink pendek dipadukan wedges sneakers putih membuat ia terlihat manis.
'"Hahh.. tidak biasanya sendiri seperti ini.. Kris sibuk, Tao dan Kyungsoo sedang kerja sedangkan aku.. baru saja mendapat panggilan untuk seleksi. Hidup memang susah." Baekhyun menendang kerikil kecil yang ia temui dijalan kota itu.
"Sudah mendung.. sebentar lagi akan hujan.." Baekhyun berujar bersemangat. Terus berjalan menyusuri jalan kota yang sudah mulai lengang. Bersiul-siul kecil untuk mengisi perjalanan yang menurutnya membosankan.
Tak lama hujan turun dengan derasnya, Baekhyun malah teriak kegirangan. "Terimakasih tuhan. Hujan turun disaat aku bosan." Bukannya berteduh Baekhyun malah menengadahkan kepalanya kearah langit dan memutar tubuhnya dengan senyum yang tiada henti.
.
.
Chanyeol POV.
Ini adalah hari kelima belasku berada di Hongkong, menemui Kyungsoo dan Tao demi permintaan nenek ternyata tidak begitu buruk menurutku . Karena aku memang sudah lama tidak ke Hongkong semenjak aku pergi ke London untuk kuliah.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian sambil menunggu Tao dan Kyungsoo selesai bekerja. Ya.. memang keluargaku mendidik seluruh anggota keluarganya untuk mandiri, meskipun kami berada dalam keluarga terpandang, tetapi untuk masalah biaya hidup kuliah.. kami mencari uang sendiri. Itulah yang sekarang Tao dan Kyungsoo lakukan.
Kulihat langit sudah mulai mendung, segera ku ambil payung yang diletakkan Tao dibelakang pintu dapur. Kulihat tampilanku dikaca. Tidak buruk. Celana jeans skinny dan hoodie hitam. Langsung saja aku meninggalkan apartement milik Tao dan memulai acara jalan sore mengelilingi kota ini.
Baru setengah jalan, hujan sudah mulai turun.. deras.. sangat deras.. tapi tidak disertai petir ataupun kilat. Aku meneruskan jalanku. Ketika sampai di tikungan, kulihat seorang gadis, unik..
Dengan pakaian putihnya yang basah, ia begitu menikmati setiap tetesan hujan yang mengenai wajah cantiknya itu. Senyumnya. Rambutnya. Tubuhnya dan juga suara tertawanya yang membuat hatiku berdesir.
"Like an angel." Aku berkata lirih.
Ku putuskan untuk meneduh didepan salah satu cafe dan menatapnya dalam diam. Lama aku pada posisi itu, memperhatikannya dari jarak kurang lebih 100meter.
Aku tersenyum melihatnya, sungguh.. love at the first sight sepertinya sedang menerpaku. Ingin rasanya berkenalan dan mengajaknya kencan, tapi aku tidak punya keberanian.
Ku ambil ponselku dalam saku celanaku, ku bidik dia sebanyak mungkin.
'Gadis dalam hujan. Aku menaruh hati padamu..' Chanyeol berbisik dalam hati.
Aku beranikan diri menghampirinya, tentu saja dengan menggunakan payung. Walaupun hatiku berdegup kencang ketika jarak kami semakin dekat.
"H-hai.." sapaku dalam kegugupan.
Ia menoleh sambil tersenyum. 'Yatuhaan inikah malaikatmu?'
"Hai.. ada apa? Jika kau menawarkan payungmu, maaf.. aku menolaknya. Hehehe." Gadis itu tertawa dengan suara yang sangat merdu. Aku ikut tersenyum dibuatnya.
"Baiklah.. ak-aku simpan.. niat itu. Ya. Aku simpan.." Aku terus menatap wajahnya yang sudah basah karena air hujan. Sungguh indah.. "K-kau.. tidak.. berniat.. membuat dirimu... sakit nona?" sial! Suara ini masih saja terdengar gugup.
"Aku? Sakit? Tentu saja tidak. Hujan ini adalah sahabatku." Ia merentangkan kedua tangannya di depanku, kemudian memutarkan tubuh mungilnya. Sekali lagi, aku tersenyum dibuatnya.
"Sepertinya.. hujan akan lama, pakailah ini nona. Aku tidak menerima penolakan." Aku menyerahkan payung itu ketangannya langsung. Yatuhan.. tanganku bersentuhan dengan tangan dinginnya.
Aku membalikkan tubuhku sambil memakai penutup kepala. 'jika langkahku terhalang, jadikanlah ia jodohku tuhan..' Aku berucap dalam hati.
"Hey tuan! Siapa namamu?"
Aku menghentikan langkahku dan berbalik. Kulihat ia berjalan menghampiri sambil menggenggam payung yang tadi aku berikan.
"Chanlie Park.." Tuhan.. terimakasih telah menjawab doaku.
"Ku beritahu ya. Aku menghargai payungmu, dan terimakasih atas hal itu. Tetapi maaf.. aku tidak bisa menggunakan ini, kau lebih membutuhkannya. Aku sudah basah.. jadi tidak apa-apa.." Ia menyerahkan kembali payung itu ke tanganku, seketika ia tersenyum manis dan mengulurkan tangannya. Aku menatapnya dalam diam, ia mengangkat sebelah alisnya menatapku yang ditatap seperti itu segera tersadar dan kusambut tangan dingin itu.
"Aku Byun Baekhyun. Senang bertemu denganmu tuan." Ia membungkukkan tubuhnya cepat, kemudian melambai dan pergi.
Aku menatapnya yang sedikit menjauh, tetapi aku lupa menanyakannya satu hal. Segera aku memanggilnya kembali. "H-Hey! Ap-apa.. kau orang Korea?" Aku berteriak melawan hujan.
Kulihat ia membalikkan tubuh kecilnya kembali, kemudian mengangguk dalam samaran hujan.
"Hati-hati! Cepatlah pulang!" Aku berteriak kembali memperingatkannya.
Ia hanya melambaikan tangannya lalu kembali berlari riang dalam hujan itu.
Tanpa beranjak dari tempatku berdiri, aku melihat ia berbelok di persimpangan jalan berikutnya. Sejenak aku terdiam, kemudian tersenyum dan kembali memegangi jantungku yang masih berdegup kencang.
'Gadis dalam hujan.. Byun Baekhyun.. ku harap tuhan mengizinkan kita untuk bertemu kembali.' Aku berdoa dalam hati.
.
.
.
.
Normal POV
Chanyeol memasuki sebuah supermarket yang cukup besar dan terkenal di Seoul. Ia terus tersenyum dalam melangkahkan kakinya. Ia menghampiri dua orang SPG yang sedang berdiri sambil tertawa itu.
"Hey!" Sapanya pada kedua saudaranya itu.
"Eoh? Oppa! Mengapa menyusul? Kami sedang bekerja.." Kyungsoo menatap Chanyeol kesal.
"Aku bosan. Kalian sibuk bekerja sedangkan aku hanya di apartement menunggu.. kalian ada waktu?" Chanyeol berujar sambil tetap tersenyum.
"Wait..wait.. Kau tidak sakit kan? Ada apa dengan wajahmu eoh? Tersenyum seperti itu sungguh menggelikan!" Tao berkata penuh selidik.
Yang ditanya malah melebarkan senyumnya. "Aku baru saja bertemu dengan seorang gadis cantik. Like an angel.." Chanyeol memegang dadanya sambil menerawang jauh. Tidak lupa dengan senyum lima jarinya.
"Pffftt.. Bidadari? Sudah bisa move on dari Minseok noonamu itu?"
"Yak! Tidak usah membahasnya! Ah.. Byun Baekhyun..."
"Mwoya? Byun?"
"Baekhyun?" Tao meneruskan ucapan Kyungsoo.
"Yes! Byun Baekhyun. Love at the first sight.."
"Apakah perempuan dengan rambut hitam panjang, bertubuh kecil, mata kecil seperti puppy?"
"Bagaimana kau tau Kyungsoo-ya?"
"Apakah dia?" Tao mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto dirinya, Kyungsoo dan juga seorang gadis.
Chanyeol melebarkan matanya. Kemudian merebut ponsel itu. Chanyeol me-zoom in foto itu kearah seorang gadis dengan bandoo kelincinya. " IT'S HER!"
"Eoh.. Heol! Oppa jatuh hati pada orang yang tepat. Ia sahabat kami.."
"Sungguh? Kalau begitu.. aku butuh bantuan kalian. Oke?"
.
.
.
.
Chanyeol memasuki sebuah cafe sambil membawa sebuah kotak. Ia tersenyum ketika melihat seorang perempuan sedang kewalahan melayani para konsumennya.
Ia memutuskan untuk duduk di kursi paling ujung dekat dengan dinding kaca besar, seorang waitress menghampirinya. "Selamat datang di Saturday night cafe tuan. Silahkan pilih menu yang ada di daftar ini."
"Aku pesan americano. Oya.. boleh aku minta tolong sesuatu?" Chanyeol tersenyum simpul.
"Jika saya bisa, akan saya bantu tuan." Waitress itu tersenyum kembali.
"Tolong berikan ini pada gadis bernama Baekhyun. Kau mengenalnya kan?" Chanyeol meletakkan kotak itu di atas meja.
"Baekhyun? Maksud anda Baoxian? Orang Korea itu?" Sang waitress menunjuk Baekhyun yang mondar-mandir membawakan pesanan.
"Ya. Tentu saja.. tapi tolong jangan bilang kalau ini dari aku. Katakan saja dari seseorang yang memujamu. Bagaimana? Kau bisa? Aku akan membayar tenagamu."
"Ah.. tidak usah tuan. Saya bisa melakukannya. Ada yang perlu dibantu lagi tuan?"
"Tidak.. terimakasih.. hmm.. Fei.." Chanyeol tersenyum ketika menyebut nama sang waitress. Tentu saja ia tau itu dari nametag yang dipakainya.
Chanyeol memperhatikan Fei yang berlalu di hadapannya. Kemudian menemui Baekhyun di meja bar, dan terlihat Fei menyerahkan kotak itu sambil berbicara pada Baekhyun. Baekhyun menerima kotak itu, matanya memperhatikan sekeliling cafe. Chanyeol menurunkan sedikit topi yang ia pakai, takut-takut ia ketahuan yang mengiriminya.
Tak berselang lama Fei muncul kembali dan membawa segelas americano, ia tersenyum kearah Chanyeol dan meletakkan pesanan itu. "Pesanan anda tuan, americano.. titipan anda sudah saya berikan pada orangnya langsung. Selamat menikmati tuan." Fei membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih banyak.. Fei.." Chanyeol tersenyum.
Matanya tidak lepas dari sosok Baekhyun, yang masih bekerja membawa pesanan kesana-kemari. Sesekali ia tersenyum melihat senyuman Baekhyun yang lelah.
Tak lupa.. niatnya untuk selalu mengabadikan Baekhyun dalam sebuah album foto, harus terlaksana..
.
.
.
.
Cafe sudah tutup beberapa menit yang lalu, Baekhyun beserta karyawan yang lainnya siap untuk berberes-beres.
"Boleh aku izin kali ini untuk tidak membantu kalian beres-beres?" Baekhyun bertanya kepada tiga karyawan yang sama dengannya. Sama-sama pekerja paruh waktu.
"Silahkan saja. Tapi kau harus memegang kunci ya?" Fei memberikan penawaran.
"Baiklah.." Baekhyun berlalu ke belakang meja bar, mengambil kotak yang tadi ia terima.
Ia membuka kotak itu, lalu terkejut mendapati begitu banyak coklat strawberry dan sebuah surat. "Wow.. ini sangat.. menyenangkan! Wow..." Baekhyun berkata girang. Ia mengambil beberapa butir coklat strawberry yang bercetak tokoh kartun kesukaannya. Pororo. Memakannya dengan ekspresi yang bisa dibilang berlebihan. "Waaah.. coklatnya meleleh... eh? Ada surat ternyata. Apa ya tulisannya?" Baekhyun membuka amplop bewarna biru langit itu kemudian membacanya.
-Teruntuk Byun Baekhyun.. Gadis dalam hujan.-
I'm not sure if you know this.
But when we first met, i got so nervous..
I couldn't speak..
In that very moment, i found the one on the rain..
And my life has found it's missing piece..
I will have and hold you..
You look so beautiful in 'white'..
- Yours admirer -
Baekhyun melipat kembali kertas itu, senyumnya tidak lepas. Ia jadi penasaran siapa yang menulis kata-kata seperti ini. Kemudian ia menengok lagi kedalam kotak dan menemukan fotonya ketika menikmati hujan.
'who is he?' Baekhyun bertanya dalam hati.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari sabtu, hari ia libur bekerja. Lumayan.. Baekhyun memanfaatkan waktunya untuk membaca buku di perpustakaan kota. Meskipun sendirian.. tidak masalah bagi Baekhyun karena ia memaklumi kekasih dan sahabatnya yang super sibuk.
Baekhyun memasuki perpustakaan dengan langkahnya yang ceria. "Selamat pagi bibi.." Sapanya pada sang penjaga perpustakaan itu.
"Selamat pagi Baoxian.. selalu ceria dan tersenyum.. ada apa? Kris mengajakmu kencan kah?" Bibi itu bertanya pada Baekhyun yang masih tersenyum.
Baekhyun menggeleng. "Tidak.. tidak.. aku tersenyum karena.. hari ini aku libur bekerja dan.. bibi tau tidak? Aku mempunyai penggemar rahasia.." Baekhyun sedikit berbisik ketika berucap kalimat yang terakhir.
"Benarkah? Bagus itu sayang. Artinya ada yang menjagamu dari kejauhan.." Bibi itu mengusap surai panjang Baekhyun sambil terus tersenyum.
"Hihihi,, bibi.. sudah dulu ya. Aku ingin melihat dan membaca buku disini. Okay?" Baekhyun membungkuk sekilas kemudian berlalu pergi. Menyelinap diantara rak-rak tinggi itu.
Setelah berputar dibeberapa rak, akhirnya Baekhyun memutuskan untuk membaca sebuah novel dan beberapa buku materi kuliahnya yang akan dibahas pada saat masuk kuliah nanti.
Baekhyun memilih duduk dilantai daripada dibangku yang disediakan. Bersandar pada rak buku di pojok sepertinya tidak buruk, pikirnya.
Lama ia membaca buku, sampai tidak terasa jika ia di tempat itu sudah kurang lebih satu setengah jam.
"Hahh.. pegal juga leher ku terus merunduk.." Keluhnya sambil meregangkan lehernya secara memutar. "eoh? Pukul 1? Itu artinya aku sudah cukup lama disini.. assh.. aku keasikan.. aku kan belum mencuci seragam.." Baekhyun membereskan buku-bukunya dan menaruh kembali ke tempatnya. Tetapi ia tetap membawa novel yang belum sempat ia baca untuk dibawa pulang.
"Bibi, aku pinjam novel ini ya? Seperti biasa kan? Maksimal peminjaman tujuh hari? Atau tidak akan kena denda?" Baekhyun mendaftarkan namanya pada buku peminjaman. Setelah itu ia pamit untuk pulang. "Aku pulang ya bibi.." Baekhyun membungkuk sekilas kemudian meninggalkan tempat itu.
Baekhyun sedikit mempercepat langkahnya. Ia memperhatikan sekelilingnya yang cukup ramai. Tatapan matanya terhenti pada seorang pria paruh baya yang menjual bunga di tepi jalan. Baekhyun tersenyum sekilas, kemudian menghampirinya. "Tuan.. setangkai bunga mawar ini berapa?" Baekhyun mengambil bunga mawar putih.
"Untuk pelanggan pertama dan wanita secantik anda 5 dolar nona." Pria itu tersenyum.
Baekhyun ikut tersenyum juga. Kemudian mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Aku beli tiga ya tuan. Terimakasih.." Baekhyun tersenyum.
Sesampainya di depan apartement, langsung saja Baekhyun masuk dan mengunci pintunya rapat-rapat. Tapi belum sempat ia berganti baju, bel apartementnya sudah di bunyikan seseorang.
Baekhyun membuka pintu, yang terlihat hanya pengantar bunga. "Nona Byun Baekhyun?"
"Ya saya sendiri, ada apa tuan?" tanya Baekhyun heran.
"Ini ada kiriman bunga untuk anda, mohon tanda tangannya disebelah sini.." pengantar bunga itu menyerahkan sebuket bunga dan selembar nota.
Baekhyun masih heran, tetapi tangannya menandatangani nota itu. "Dari siapa ya tuan?"
"Dari pemuja hati nona, ia mengatakannya begitu. Mari nona.." Pria itu membungkuk kemudian pergi.
Baekhyun bingung, sebelumnya Kris tidak pernah seromantis ini. Karena penasaran akhirnya ia buka surat yang ada di selipan bunga-bunga cantik itu.
-Gadis dalam Hujan-
"Eoh? Sebutan yang sama dengan kiriman yang kemarin?" Baekhyun berujar.
Hi. Kau menerima kiriman pertamaku tidak? Jika ya. Syukurlah. Aku berterimakasih atas hal itu.
Baekhyun..
Hari ini aku melihat mu membeli sebuah bunga mawar yang indah. Sebagai pelengkapnya aku memberikanmu sebuket bunga yang tidak lebih indah dari yang kau beli tadi.
Tetapi ketahuilah..
Seindah apapun bunga itu, bagiku kau yang terindah.
Semoga harimu semakin baik dengan bunga ini.
-Yours admirer-
Baekhyun tersenyum. Meskipun ia tidak tau siapa pria ini. Tetapi rasanya sangat nyaman ketika membaca tulisan tangan itu. Rapih. Romantis dan membuat jantungnya berdetak.
Ketika Baekhyun mengeluarkan bunga itu dari plastiknya. Ia menemukan amplop yang lain.
"Potret ku lagi? Ini kan di perpustakaan tadi?" Baekhyun memperhatikan foto dirinya yang sedang membaca buku dilantai perpus dengan serius. "Kau bahkan mengikutiku sejak pagi kan, my admirer?" Baekhyun bertanya pada angin. Kembali ia tersenyum memperhatikan foto yang lain. Potret dirinya yang sedang berbincang dengan bibi di perpus, sedang memilih buku, sedang membaca, berjalan keluar, berjalan di trotoar, membeli bunga, dan terakhir memasuki lobby apartement.
"Sepertinya kau fotografer handal, lihat saja.. bahkan diriku terlihat cantik di potretmu ini.. terimakasih.. akan ku simpan semua pemberianmu.." Baekhyun tersenyum sendirian, ia letakkan surat itu dalam dekapan di dadanya.
'siapa dirimu sebenarnya, my admirer?'
.
.
.
.
Sudah seminggu ini Baekhyun terus dikirimi paket oleh sang admirernya. Semua berisi tentang apa yang ia sukai, beserta surat yang selalu romantis, dan juga potret dirinya dihari itu.
Baekhyun akui, selama ini ia merasa bahagia dan juga nyaman ketika mendapatkan paket dari sang admirer. Membuat jantungnya berdesir, bibirnya mengulas senyuman, dan juga rasa lelah ketika ia bekerja selalu sukses lenyap begitu saja hanya karena sebuah paket.
Seperti hari ini. Baru saja kakinya melangkah keluar ia menemukan sosok anak kecil, perempuan dengan baloon dan bubble tea ditangannya.
"Hey.. sudah malam sayang.. kau menunggu siapa disini, hm?" Baekhyun bertanya pada anak kecil yang masih memasang senyuman kearahnya.
"Aku menunggu Baoxian jiejie, benar bukan namamu itu? Ini.. hadiah untukmu." Gadis kecil itu menyerahkan semua yang tadi si gadis kecil pegang ke arah Baekhyun.
Baekhyun tersenyum, sudah tau siapa yang melakukan ini semua. "Kau pasti orang suruhan penggemarku kan?"
Gadis kecil itu menggeleng. "Bukan.. gege di ujung jalan tadi bilang jika ia akan meminang jiejie segera, dan aku disuruh berikan ini semua pada jiejie. Apakah jiejie senang?" Gadis kecil itu bertanya kembali.
Namun Baekhyun tidak menjawab, matanya terarah pada ujung jalan yang sepi. Hanya ada seorang ibu yang berdiri dibawah lampu jalan itu. "Apa itu ibumu sayang?"
"Ya.. itu mommy. Sudah ya jiejie. Aku hanya ingin membantu gege di ujung jalan tadi." Gadis kecil itu melambaikan tangannya sambil berlari kearah sang ibu.
Baekhyun terdiam. Coba saja ia tidak telat keluar, pasti ia tau siapa yang selama ini pria yang ia diam-diam sukai.
"Terimakasih.." Baekhyun berujar lirih.
Sambil berjalan, Baekhyun menyeruput bubble tea kesukaannya, greentea. Sungguh nikmat.
Baekhyun termenung, memikirkan Kris dan juga admirernya itu. Disaat Kris tidak bisa dihubungi, seorang pria tiba-tiba saja mengirimi ia paket yang membuat ia secara tidak langsung jatuh hati.
Andai saja Baekhyun tau siapa pria itu, sudah pasti ia meragukan Kris..
Tak terasa sudah sampai di apartement, baru saja keluar dari lift, Baekhyun kembali menemukan paket di depan pintu apartementnya.
Paket itu berjumlah banyak, ada 4 kotak yang sama besarnya. Segera Baekhyun memperhatikan sekeliling barangkali saja masih nampak sosok penggemarnya itu.
"Nobody in here.." Ucapnya lirih.
Segera Baekhyun membawa kotak-kotak itu masuk. Sebelum ia tutup pintunya. Ia berkata dengan suara sedikit keras. "Terimakasih.."
.
Selesai mandi dan beres-beres, Baekhyun segera membuka kotak-kotak itu.
Ia tercenung melihat isinya. Scraft, Sepatu boots, Jaket tebal dan topi musim dingin.
Surat yang ada di dalam segera ia ambil.
-Gadis dalam Hujan,-
Akhir-akhir ini cuaca begitu buruk, mendadak hujan turun dengan deras.
Aku beberapa terakhir ini melihatmu tidak menggunakan pakaian yang pantas untuk dipakai dimusim dingin ini.
Jadi.. tolong pakai yang aku berikan ketika kau keluar di musim dingin.
Jaga kesehatanmu.. aku tidak ingin kau sakit dan kelelahan.
Maaf, aku lancang memberikan ini semua.
Ku mohon jangan menolaknya.
Aku menyayangimu lebih dari yang kau ketahui.
-Yours admirer-
"Bahkan kau memperhatikan aku sedetail itu, hm?" Baekhyun rasanya ingin menangis.. pria ini benar-benar membuat perasaannya campur aduk.
Selalu seperti ini, setiap kiriman yang ia berikan selalu terselip perhatian kecil yang membuat hatinya menghangat.
Baekhyun mengambil scraft itu, kemudian menghirup wangi parfume yang tertinggal disana. "Bekas kau pakai eoh?" Senyum simpul tercetak dibibirnya.
Baekhyun bahkan tidak main-main menyimpan semua pemberian penggemarnya itu. Sudah ada satu lemari barang-barang yang ia terima, banyak ternyata.
.
.
.
.
Setelah mengintai Baekhyun sampai masuk ke dalam apartementnya Chanyeol tersenyum simpul, terdengar dengan jelas bahwa Baekhyun tadi berterimakasih padanya secara tidak langsung.
Chanyeol memutuskan untuk pergi menjemput Tao dan Kyungsoo yang kebetulan pulang di malam hari, selama perjalanan ia terus memikirkan Baekhyun, entah mengapa rasanya sangat berbeda ketika ia menyukai Minseok. Rasa ini bahkan begitu nyata ia rasakan dan ia lampiaskan pada sebuah surat itu.
Setelah turun dari taxi, Chanyeol memasuki supermarket tempat Tao dan Kyungsoo bekerja, kemudian berjalan menghampiri Kyungsoo yang sedang berdiri dengan tasnya.
"Sudah ingin pulang?" Chanyeol berbisik pada Kyungsoo yang membelakanginya.
"Oh astaga! Hah.. jantungku.." Kyungsoo memejamkan matanya ketika berbalik melihat Chanyeol yang tertawa idiot. "Yak! Mengagetkan aku saja oppa ini!" Kyungsoo memukul pelan bahu Chanyeol.
"Hehehe. Kau saja yang melamun, aku kan hanya berbisik."
"Yayaya.. terserah oppa saja. Sudah mengintai sang pujaan hati eoh?" Kyungsoo berkata sambil memicingkan matanya.
"Sudah.. bahkan ia mengucapkan terimakasih.."
"Huh? Kalian sudah bertatapan? Yak! Tidak seru. Waktunya terlalu cepat.." Kyungsoo berucap kesal.
"Tidak..tidak.. dia berteriak dari depan pintunya, aku sembunyi di lorong berikutnya. Hehehe."
"Huuuhh ku kira.." Kyungsoo menganggukkan kepalanya. "Eoh? Eonni sudah selesai? Kajja!"
"Chanyeol.. hari ini kita makan dimana?" Tao langsung merangkul pundak sempit Kyungsoo.
"Di cafe dekat sini saja, aku menahan lapar sedari tadi." Chanyeol berwajah melas, kemudian memegangi perutnya.
"Dasar bodoh! Jika seperti ini, aku tidak akan membantumu kembali. Pikirkan kesehatanmu bodoh, jangan hanya pujaan hatimu saja." Tao mencibir.
"Yes mom..Kajja!" Chanyeol menarik kedua tangan Tao dan juga Kyungsoo.
Hanya berjalan beberapa puluh meter, mereka sampai disebuah cafe yang sudah tidak ramai pengunjungnya.
Chanyeol setelah memesan pesanan untuk tiga orang, segera membuka ceritanya.
"Hari ini aku mengirim dua kali surprise untuknya."
Tao menolehkan kepalanya lebih dulu. "Apa ia memasang ekspresi yang sama ketika menerimanya?"
"Bisa ya, bisa tidak. Entahlah.. bahkan lensa kameraku tidak berbohong. Wajahnya hari ini menunjukkan keheranan. Tidak seperti biasanya yang ceria." Chanyeol menyalakan camera dlsrnya, kemudian memperlihatkannya pada Tao dan Kyungsoo.
"Mungkin ia sedang banyak pikiran, ku dengar.. kekasihnya itu tidak pernah menghubunginya kembali sejak ia kerja." Tao membersihkan make up nya di depan umum.
"Kekasih seperti itu tidak pantas untuknya. Cih.." Chanyeol berdecih.
Pesanan mereka datang, pembicaraan itu berhenti sejenak.
"Selamat makan.." Ucap mereka secara bersamaan.
"Hm.. Oppa.. ingin sampai kapan bersembunyi dibalik kamera itu?" Kyungsoo bertanya tanpa menghentikan kunyahannya.
"Sampai ia sadar, bahwa orang itu adalah aku.." Ucap Chanyeol, kembali ia menyuapkan mie kedalam mulutnya.
"Ia tidak akan tau, kalau kau hanya memandanginya dari jauh.." Tao angkat bicara.
"Aku sudah mengatur rencana pertemuan ku dengannya nanti. Sekalian aku mengajaknya untuk menjadi kekasihku."
"Bahkan ia masih memiliki kekasih, kau ingat itu kan? Baekhyun bukan tipikal orang yang mudah selingkuh." Tao kembali menimpali omongan Chanyeol.
"Baru jadi kekasih kan? Belum menjadi suami? selama mereka belum mengucap janji, kesempatan selalu ada. Bahkan.. setelah menikahpun selalu ada celah. Benar?" Chanyeol tersenyum miring kearah Tao dan Kyungsoo.
Tao menatapnya jengkel. "Kau ini! Sudah belajar menjadi perusak hubungan orang eoh? Apa ini dampak dari pergaulanmu di London sana?"
"Benar. Oppa tidak boleh seperti itu. Kita orang timur yang punya tatakrama." Kyungsoo membenarkan ucapan Tao.
Chanyeol hanya tersenyum mesem.
.
.
.
.
Hujan dihari itu turun begitu deras. Baekhyun tidak bisa pulang karena ia lupa membawa payung dan juga mantel. Ia cukup sadar diri untuk berhujan-hujanan di malam hari. Di cafe ini hanya tersisa dirinya seorang.
Baekhyun mendial seseorang.
"Halo? Kris? Kau dimana?" Baekhyun berucap sedikit berteriak melawan suara hujan.
"..."
"Bisa jemput aku tidak? Aku sudah ingin pulang, namun hujan turun dengan sangat deras.."
"..."
"Jadi kau tidak bisa menjemputku?"
"..."
"Sepertinya kerjamu begitu banyak ya? Yausdah kututup saja!" Baekhyun berkata sedikit kesal.
Bagaimana tidak, disaat ia benar-benar membutuhkan kekasihnya, nyatanya orang itu tidak bisa menolongnya.
'Menghubungi siapa ya? Tao? Kyungsoo? Ah tidak... mereka ingin menjemputku dengan apa?' Baekhyun bermonolog dalam hati. "Minseok eonni? Ah tidak mungkin.. jaraknya saja dua jam perjalanan.." Baekhyun mengeluh kembali.
Terpaksa. Dirinya harus pulang dengan berhujan-hujanan. Tidak peduli jika esok ia sakit. Ia hembuskan napasnya dengan kencang. Kemudian keluar dari cafe dan menguncinya.
Baru saja Baekhyun merapatkan scraftnya –scraft dari sang admirer- tiba-tiba saja ada taxi yang berhenti tepat di depannya.
Sang supir keluar dengan membawa payung. Dan menghampirinya.
"Nona Baekhyun?" Ucap sang supir itu.
"Y-Ya?" Baekhyun menjawab sedikit takut dan bingung.
"Seseorang menyuruh saya menjemput anda disini. mari masuk nona."
"T-tunggu! Ba-bagaimana kau tau aku Baekhyun?"
"Seseorang yang memesan taxi ini nona, anda tidak perlu takut. Saya bukan orang jahat. Anda bisa memegang kartu nama saya beserta id card saya sebagai supir." Sang supir menyerahkan dua kartu identitas.
"T-tidak... bukan begitu tuan.." Baekhyun menatap sang supir dengan rasa tidak enak. "hhh.. baiklah." Akhirnya Baekhyun menerima payung itu dan memasuki kursi belakang.
Setelah pintu tertutup Baekhyun berucap. "Tolong antarkan saya ke.."
"Saya sudah tau alamat anda nona, orang yang memesan taxi ini sudah menyuruh saya mengantarkan anda sampai apartement anda." Supir itu tersenyum dari kaca spion di dalam mobil.
Baekhyun hanya bisa menunduk malu.
Selama perjalanan Baekhyun sebenernya ingin bertanya sesuatu pada sang supir, tapi ia bingung. Dengan sedikit keberanian akhirnya Baekhyun memberanikan diri.
"Tuan, maaf sebelumnya. Kalau boleh saya tau, siapa yang memesan taxi untuk saya ini tuan?" Baekhyun bertanya dengan nada lembut.
"Seseorang yang tidak ingin diberitahukan identitasnya nona."
"Apakah ia bernama Kris Wu?" Baekhyun bertanya to the point.
"Bukan nona, dia bukan Kris Wu. Nona maaf, tapi saya sudah berkomitmen untuk tidak memberitahu nona siapa orangnya."
Baekhyun langsung terdiam, ia berpikir.. yang tau ia sedang terjebak hujan kan hanya Kris? Kalau bukan Kris lalu siapa?
Namun.. tak lama setelah itu. ia tertunduk malu sambil tersenyum di kulum.
'Terimakasih.. kau kembali membuatku menghangat dan nyaman.' Baekhyun berucap dalam hati. Ia bungkam terus mulutnya dengan tangan agar senyumannya tidak ketahuan oleh sang supir.
Setelah menempuh perjalanan 45menit, Baekhyun tiba di apartementnya. Segera ia mengeluarkan dompet untuk membayar tarif taxinya. "Berapa tuan?"
"Tidak usah dibayar nona. Taxi ini sudah dibayar oleh pemesan untuk anda. Dan ini.. mohon diterima payung dan juga coklat hangat ini. Ia menitipkannya padaku untuk diberikan pada nona." Supir itu menyerahkan payung dan juga sekantung plastik makanan dan minuman. Baekhyun langsung menerimanya dengan hati yang berbunga.
"Jika anda bertemu dengannya tolong ucapkan terimakasih banyak padanya, ya tuan? Dan.. terimakasih juga untuk anda sudah mengantar saya sampai tujuan." Baekhyun tersenyum langsung membungkukkan tubuhnya. Kemudian keluar dengan menggunakan payung itu. dan berjalan cepat memasuki gedung apartementnya.
Tak disadarinya seseorang mengikutinya dengan taxi yang lain. 'Semoga kau baik-baik saja didalam sana Baekhyun..' ia tersenyum sekilas.
"Kita pulang saja tuan.."
.
.
.
.
Hari pertama masuk kuliah kembali. Sungguh menyenangkan bagi Baekhyun, karena ia bisa bertemu sahabat dan juga sepupunya disini. Baekhyun tetap menjalani kerja paruh waktunya dimalam hari, dan ia juga tidak lupa tugasnya sebagai mahasiswi. Tidak terasa sudah semester 4, itu artinya tinggal 4 semester lagi untuk menyabet gelar sarjana. Rasanya sudah tidak sabar untuk wisuda dan kembali ke Korea.
Baekhyun melangkahkan kakinya penuh ceria ke dalam kampusnya. Sudah cukup ramai ternyata. Segera Baekhyun memasuki gedung 004 Fakultas Jurnalistik. Dilihatnya Tao dan Kyungsoo yang sedang duduk di depan kantor dosen. Segera ia berlari sambil membawa sekantung makanan kearah dua sahabatnya itu.
"Hello!" Sapa Baekhyun riang.
Tao dan Kyungsoo menolehkan kepalanya, kemudian tersenyum. "Hai Baek.." Sapa Tao tak kalah cerianya.
"Kalian apa kabar? Lama tidak berjumpa aku rindu...sekali." Baekhyun duduk diantara keduanya. Kemudian merangkul Tao dan Kyungsoo bersamaan.
"Kami juga rindu dengan eonni.. ada apa nih? Senyum saja sedari tadi?" Kyungsoo menimpali.
Baekhyun melepas rangkulan, tangannya memeluk sekantung makanan cepat saji itu tidak lupa senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
Tao dan Kyungsoo saling berpandangan, kemudian melihat kearah Baekhyun yang masih tersenyum.
"Kau kenapa eonni? Tidak sakit kan?" Kyungsoo mencubit gemas lengan Baekhyun.
"Yak! Appo..." Baekhyun mengelus bekas cubitan Kyungsoo.
"Habis kau mencurigakan, aku bertanya ada apa?"
"Kalian lihat ini? Aku mempunyai seorang penggemar rahasia.. dia baiiiik sekali. Setiap hari ia mengirimiku yang aku suka, ia juga orang yang perhatian dan juga... romantis." Baekhyun memperlihatkan bungkusannya dengan bangga.
"Sudah melupakan gegemu itu? penggemar rahasia? Woah.." Tao berkata sambil melihat bungkusan yang di pegang baekhyun.
"Eoh? Ada suratnya!" Kyungsoo yang melihat surat di dalamnya segera membaca surat itu dengan suara keras.
"Gadis dalam hujan- Ouwhh.. panggilan sayang." Kyungsoo menggoda Baekhyun yang menunduk karena malu.
"Eey.. kau terpesona eoh? Teruskan Kyungie.." Tao menimpali, dilihatnya semburat merah di pipi Baekhyun.
"Tak terasa ternyata sudah hampir dua minggu kita seperti ini. Jika ada kesempatan untuk bertemu, datanglah lusa di taman kota. Setelah kau pulang kerja. Bagaimana?- Hey eonni. Dia bertanya padamu. Dia mengajakmu bertemu." Kyungsoo memberitahukan Baekhyun.
"Iya. Aku dengar. Sudahlah Kyung, malu. Jangan membacanya keras-keras.." Baekhyun berdiri dan berusaha merebut surat yang dipegang Kyungsoo, namun Tao memeluknya dari belakang dan berujar. "Teruskan cepat!"
"Eoh? Baiklah. Dengarkan ya? Baekhyun.. jika kau bisa, aku akan senang. Tetapi jika kau tidak bisa. Aku akan menemuimu di cafe, tempatmu bekerja.. Ahya. Aku lupa.. ini ku buatkan khusus untukmu, tolong diterima ya. Maaf kalau rasanya tidak enak. Jangan dinilai dari rasanya, tapi dari perjuangan aku membuatnya hehe. Tetaplah tersenyum, karena senyummu adalah kebahagiaanku. –yours admirer-"
Selesai.. surat itu telah terbaca dengan suara kerasnya Kyungsoo, membuat siapapun yang ada di koridor memusatkan perhatiannya pada mereka bertiga.
"Ouwhhh.. so sweet.." Tao mengatupkan tangannya depan dada.
Baekhyun merebut surat yang Kyungsoo pegang, kemudian terduduk dengan wajah yang ia benamkan di kedua telapak tangannya.
"Kau benar-benar beruntung mempunyai seorang penggemar sepertinya eonni, hampir saja aku menitikkan airmata ketika membaca kalimat terakhir itu. Tetaplah tersenyum, karena senyummu adalah kebahagiaanku. OMG. I'm gonna die." Kyungsoo berkata berlebihan ketika menjatuhkan bokongnya di sebelah Baekhyun.
"Eh tapi.. dia orang Korea juga ya? Ku dengar kau membacanya dengan bahasa Korea Kyung, apa memang dia menulisnya dengan menggunakan hangul?" Tao bertanya pada Kyungsoo.
"Ya.. memang tulisannya menggunakan hangul, untung saja memakai bahasa Korea, kalau tidak.. kita pasti sudah dikerubungi mahasiswa lain. Benar tidak, eonni?" Kyungsoo bertanya pada Baekhyun yang masih menunduk.
"Panggilan sayangnya saja gadis dalam hujan, apa kau pernah bertemu seseorang mungkin ketika hujan turun?" Tao memancing Baekhyun untuk bicara.
Baekhyun langsung menegakkan duduknya, matanya menerawang lurus ke depan. "Hujan? Aku bahkan tidak kepikiran kesitu."
"Yak! Jawab pertanyaanku.." Tao memukul pelan lengan Baekhyun.
"Kejadian itu tepat dua minggu yang lalu, ya.. aku memang bertemu seseorang... tapi.. aku tidak ingat." Matanya memicing, mencoba mengingat sesuatu.
"Hahhh.. kau ini kebiasaan, lupa itu menjadi kendala. Apa dia menyebutkan namanya?"
"Ya.. tapi aku tidak ingat. Seingatku.. dia orang Korea, karena waktu ia bertanya apakah aku orang Korea dan aku menjawab dengan anggukan, dia langsung berbicara Korea."
"Kau ingat ciri-cirinya eonni?" Kyungsoo ikut memancing ingatan Baekhyun.
"Tunggu sebentar.." Baekhyun memejamkan matanya, kemudian berujar "Dia memakai hoodie hitam. Tinggi. Cukup tampan dan mempunyai mata yang bulat."
"Eeyy... kau bahkan memperhatikan bola matanya." Tao kembali menggoda Baekhyun.
"Yak! Memang ketika kita berbicara dengan seseorang harus menatap matanya kan?" Baekhyun mencoba membela diri.
"Apa kau jatuh hati padanya?" Kyungsoo bertanya tiba-tiba.
"Aku tidak tau.. mungkin saja iya, mungkin saja tidak." Baekhyun berucap sedikit pelan.
"Apa jika kau bertemu dengannya kau akan jatuh hati?"
"Ya. Aku jamin aku langsung jatuh hati."
"Bagaimana dengan gege?"
"Gege ya? Ah tidak tau. Akhir-akhir ini dia menjauhiku. Aku tanya apa dia selalu berbohong. Dan juga.. sedikit kasar."
"Kalau begitu terimalah tawarnnya untuk bertemu."
Baekhyun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
.
.
.
.
Jadwal kuliah Baekhyun sedikit lebih lama dibandingkan Tao dan juga Kyungsoo. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan ia baru saja keluar kelas.
Sendirian.. Baekhyun berjalan terburu-buru menuju pintu gerbang kampus, namun belum sampai gerbang, ia melihat sesosok pria yang sangat ia kenal berada di halaman kampusnya.
Segera saja ia berlari dan menghampiri pria itu.
"Kris ge?" Baekhyun menepuk bahu pria dihadapannya.
Pria itu menoleh dan sedikit terkejut. "Baekhyun? Kau.. belum pulang?"
Baekhyun menggeleng, kemudian bertanya.. "Gege kuliah disini juga? Jurusan apa? Kalau begitu kita bisa pulang bareng ya?" katanya dengan suara yang terdengar senang.
Kris mengerutkan keningnya. "Pulang bareng katamu? Baekhyun.. aku disini kuliah dan kemudian pulang dan bekerja. Bukankah kau juga seperti itu? tidak ada waktu untuk mengantarmu pulang. Jarak apartement kita jauh."
Seketika raut wajah Baekhyun berubah. "Kau.. apa? Bahkan sebelum kau kerja dan kuliahpun kau sering mengantarku pulang. Kenapa sekarang kau berubah? Aku selalu memperhatikanmu Kris. Aku rasa kau berubah semenjak aku pulang ke Korea empat bulan yang lalu!" Baekhyun berkata dengan nada sedikit keras.
Kris menatap Baekhyun kesal. Alisnya ia tautkan. "Berubah? Itu hanya perasaanmu saja! Sudahlah jangan seperti anak kecil! Kau bersikap seperti ini hanya akan menyulitkan ku dalam berkarir." Kris berucap sambil membalikkan tubuhnya.
Baekhyun tercekat. Tiba-tiba saja airmatanya ingin keluar. "Aku? Hanya menyulitkanmu? Kalau begitu kenapa tidak kau sudahi saja hubungan ini?" akhirnya airmata itu jatuh juga.
"Karena aku tidak bisa." Kris membalikkan tubuhnya, kemudian memeluk Baekhyun sekilas. "Pulanglah. Aku sibuk."
Kris berjalan meninggalkan Baekhyun yang menatapnya dengan pedih. Sungguh rasanya sangat sakit untuk Baekhyun. Baru bertemu dengan kekasihnya tetapi keadaannya malah seperti ini.
Baekhyun berlari sekencang-kencangnya berlawanan arah dengan kepergian Kris tadi. Airmata yang sedari keluar tidak ia seka. Orang-orang yang berpas-pasan dengannya hanya menatapnya heran.
Baekhyun duduk di kursi taman sendirian, taman sudah sepi. Karena memang ini sudah sore ditambah cuaca yang mendung. Baekhyun melampiaskan segala keluh kesahnya dengan tangisan. Ia tutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tanpa ia sadari, seseorang menaruh kotak tepat di sampingnya.
Sekitar lima belas menit, tangis Baekhyun tidak se-emosional tadi. Kini hanya isakan kecil saja yang ia keluarkan. Baekhyun menghapus airmatanya dengan tissue yang ia ambil dari dalam tasnya. Ketika ia membenarkan tasnya ke samping, kotak yang tadi di sampingnya terjatuh. Segera pandangan matanya menuju kotak itu, dan mengambilnya.
Dilihatnya sekeliling taman itu dan berteriak.. "Apakah ada yang tertinggal sebuah kotak?"
Namun sepi, tidak ada yang menyahut teriakannya tadi. Segera saja ia buka kotak itu.
Sebuah danboo yang terbuat dari kayu dan sebuah amplop. Feelingnya menyuruh ia membuka amplop itu, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat foto dirinya yang sedang tersenyum.
Baekhyun seketika tersenyum simpul karena sudah menduga dari siapa kotak ini.
-Gadis dalam hujanku-
Hari ini kau menangis, ini pertama kalinya aku melihatmu menangis.
Meskipun aku tidak tau mengapa kau menangis, ketahuilah hatiku sakit melihatmu seperti itu.
Kalau kau menangis karena seseorang, ingatlah jika kau masih mempunyai orang-orang yang menyayangimu.
Kau harus selalu tersenyum Baekhyun..
Satu fakta yang harus kau ketahui..
Kau selalu bisa membuat seseorang bahagia karena dirimu bahagia..
Maka dari itu, tersenyum dan berbahagialah..
Untuk dirimu, untuk semua orang yang senang kau bahagia, termasuk aku..
Kau lihat? Boneka itu?
Dia bahkan mencebikkan bibirnya, karena ia juga tidak suka kau bersedih.
Jadi.. tersenyumlah..
Jika kau sudah bisa tersenyum, ubahlah bentuk bibirnya. Oke?
Anggap saja, boneka ini sebagai pencerminan diriku. Hehehe..
-Yours admirer-
Baekhyun mengusap airmatanya, kemudian ia tersenyum sangat tulus.
"Kau selalu bisa membuatku bahagia, terimakasih.. karenamu aku juga bahagia.." Baekhyun berkata sendirian, tidak peduli dirinya yang sendirian disini. karena ia tau pasti seseorang sedang mengawasinya di kejauhan, entah disudut mana orang itu. kemudian tangannya mengubah bentuk bibir danboo itu melengkung ke atas, membentuk senyuman. Seperti dirinya yang kini tersenyum.
.
.
.
.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Baekhyun sedari tadi tidak fokus bekerja, hatinya terus berdegup kencang. Ya.. hari ini adalah pertemuan ia dengan sang penggemar rahasianya. Baekhyun beberapa kali salah membawa pesanan ke meja pelanggan. Dan karena itu juga ia di tegur oleh sang atasan.
"Aku tidak tau apa yang ada di kepala mungilmu itu Baoxian, tapi tolong hari ini kau jangan membawa masalah pribadimu ke tempat kerja. Aku tidak ingin membayar tenaga yang sia-sia." Sang atasan menasihati Baekhyun yang menunduk.
"Baik nyonya, saya akan bekerja lebih baik lagi.."
"Sekarang kau teruskan pekerjaanmu, ingat. Jangan sampai salah meja. Kalau tidak kau aku kurangi gajinya."
"Baik nyonya, saya permisi.." Baekhyun membungkukkan tubuhnya tanda hormat. Kemudian berlalu keluar.
Namun, dirinya disambut oleh Fei yang berdiri tepat di sampingnya. "Baoxian.. titipan untukmu lagi. Dari orang yang sama dengan yang dulu itu." Fei menyerahkan kotak itu kepada Baekhyun.
"Aku tidak bisa membukanya sekarang, aku harus bekerja."
"Bukalah dulu. Izin saja ke toilet. Aku akan bilang pada orang yang bertanya tentangmu. Okay?" Fei menepuk pundak Baekhyun kemudian berlalu pergi.
Langsung saja Baekhyun melangkahkan kakinya menuju toilet. Setelah ia menutup pintu toilet langsung ia buka kotak itu.
Baekhyun tersenyum ketika dirinya mendapati sebotol yogurt dan permen karet serta sebuah surat.
-Gadis dalam hujan-
Fokuslah bekerja, tidak usah memikirkan pertemuan kita nanti ;p
Semangat terus, jangan pernah berhenti bekerja.
Aku mendukungmu!
PS : temui aku ditaman kota selesai kau bekerja, aku memakai hoodie abu-abu, okay?
-Yours admirer-
"Fighting!" Baekhyun menyemangati dirinya sendiri, ia tersenyum kearah foto tadi pagi. Saat ia berjalan keluar apartement menuju kampusnya.
.
Sudah 5 menit Baekhyun menunggu ditaman ini. Tetapi ia tidak melihat siapapun disini, apalagi seorang pria dengan hoodie abu-abunya.
Baekhyun menghembuskan napasnya dengan kasar, sungguh ia sangat gugup.
Namun tak berapa lama, seseorang memasuki taman dengan hoodie abu-abu.
Baekhyun sungguh dibuat tegang, bahkan ia sudah berdiri menanti sang misterius menampakkan wajahnya.
"Baekhyun?"
Baekhyun terkejut bukan main ketika melihat sosok pria dibalik hoodie abu-abu itu. "K-Kris?"
"Baekhyun.. aku minta maaf atas kejadian tadi sore di kampus. Sungguh, aku..."
"Apakah kau orangnya?" Baekhyun bertanya sedikit tidak percaya, karena ia tau selama ini Kris tidak pernah seromantis itu.
"Maksudmu?"
"Kaukah orang yang selama ini menjadi penggemarku? Orang dibalik surat-surat ini?" Baekhyun menunjukkan surat terakhir itu ke hadapan Kris, Kris menerima itu dan kemudian membacanya.
Satu senyuman miring tercetak dibibir Kris. "menurutmu?"
Tanpa banyak bicara lagi, Baekhyun memeluk Kris sangat erat. "Terimakasih Kris.. aku benar-benar menyayangimu.."
Kris membalas pelukan Baekhyun. "Aku juga menyayangimu Baoxian.." entah siapa yang memulai, namun bibir mereka berdua bertemu.
Tiga orang dibalik pagar taman itulah menjadi saksi penyatuan bibir itu.
.
.
.
.
Chanyeol POV.
.
Kulihat Baekhyun sudah memasuki taman, sungguh cantik. Ia mengenakan dress putih. Dengan rambut yang ia biarkan tergerai.
Oh tuhan! Aku sungguh jatuh hati padanya.
Aku hanya menunggu Kyungsoo dan Tao untuk menjadi saksi atas pernyataan cintaku nanti.
Ya mereka adalah orang yang selama ini membantuku dalam mengejar hati seorang Byun Baekhyun, dan mereka adalah orang paling antusias atas pertemuan ini.
Kulihat Baekhyun menduduki bangku yang membelakangiku.
Ku lihat Tao dan Kyungsoo berlarian dibelakangku, aku menolehkan kepalaku ke arah mereka berdua.
"Maaf kami telat oppa.."
"Cepatlah.. mana bunga yang aku pesan?"
Tao segera menyerahkan bunga itu kepada ku, dan mendoron ku agar keluar dari persembunyian secepatnya. "Cepatlah.."
Namun, baru beberapa langkah aku berjalan, mataku menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi.
"K-KRIS?" Ku dengar Tao memekik tertahan, namun aku tetap menatapnya fokus.
Samar-samar ku dengar percakapan mereka berdua. 'apa hubungannya dengan Baekhyun?' pertanyaan itu yang sedari tadi aku tanyakan pada hatiku sendiri.
"Maksudmu?" Ku lihat Kris bertanya pada Baekhyun.
"Kaukah orang yang selama ini menjadi penggemarku? Orang dibalik surat-surat ini?" aku melihat Baekhyun menyerahkan suratku ke hadapan Kris. Sial!
"menurutmu?" 'Apa maksud jawabannya itu?' aku bermonolog sendiri dalam hati.
"Terimakasih Kris.. aku benar-benar menyayangimu.." kulihat Baekhyun memeluk Kris dengan erat.
"Aku juga menyayangimu Baoxian.."
Cukup sudah! Aku membalikkan tubuhku, ku injak bunga mawar putih itu. tanpa ku perdulikan Tao dan Kyungsoo di belakang.
Aku sungguh membenci orang itu! lagi-lagi ia merebut apa yang menjadi takdirku! Aku harus bergerak cepat!
"Chanyeol!" Aku memberhentikan langkahku ketika mendengar teriakan Tao, segera aku membalikkan tubuhku.
Kulihat ia berceceran airmata. "Ada apa? Kenapa?"
"K-Kris..."
"Kris adalah kekasih Tao eonni, oppa!"
"APA?"
Astaga! Aku mengumpat dalam hati. Apalagi kali ini yatuhan?
"Ak-aku tidak tau.. hiks.. sungguh.. aku.. hiks.. tidak tau.. siapa.. yang.. menjadi.. hiks selingkuhannya." Ku dengar Tao berkata dengar suara gemetarnya.
"Kau tenang.. akan ku cari tau siapa dia sebenarnya. Sebelum aku pulang ke London." Segera ku rengkuh tubuh dua sepupu ku itu. aku sungguh menyayangi mereka semua.
.
.
.
.
Normal POV.
.
Chanyeol tiba di depan pintu apartement Baekhyun. Ini adalah hari terakhir ia berada di London. Setelah ini ia tidak akan menginjakkan kaki di negara ini lagi sampai ia benar-benar lulus kuliah.
Dan itu artinya, ini adalah hari terakhirnya untuk bertemu dengan Baekhyun.
Namun ia berada di depan pintu apartement bukan untuk menemui Baekhyun, melainkan menaruh kotak yang akan menjadi kado terakhirnya untuk Baekhyun.
"Selamat tinggal Baekhyun. Aku akan merebutmu kembali. Tunggu aku, sayang.." Chanyeol berbisik, ia berusaha menahan airmata yang akan keluar.
Kemudian berlalu pergi.
.
Kris baru saja tiba di lobby apartement Baekhyun, segera ia langkahkan kakinya menuju lantai tiga, tempat Baekhyun berada.
Ketika keluar dari lift. Ia segera melangkahkan kakinya menuju apartement 164. Namun matanya terfokus pada kotak biru yang ditaruh tepat di depan pintu apartement kekasihnya itu.
Segera ia buka. Ada surat di dalamnya. Tanpa sepengetahuan Baekhyun.. ia membacanya.
- Gadis dalam hujan-
Apa kabarmu Baekhyun?
Tidak perlu berbasa-basi lagi, aku ingin memberitahumu satu fakta.
Aku bukanlah orang yang kau temui ditaman seminggu yang lalu.
Kau penasaran bukan? Temui aku di bandara internasional, terminal E.
Karena hari ini, hari terakhirku berada di Hongkong.
Aku akan kembali ke London.
Itu juga jika kau ingin, aku tidak memaksa.
Aku take off pukul 1.30 p.m . jadi sebelum jam 1, aku akan menunggumu di kantin.
PS : Cincin itu dipakai ketika bertemu.
Sampai bertemu Baekhyun.
-Yours admirer-
"Cih.." Kris tersenyum miring. Ia membuang surat itu ke tempat sampah depan lift dan juga kotak beserta boneka di dalamnya.
Namun ia mengantongi cincin yang tadi terselip disana.
Kemudian memencet apartement Baekhyun.
"Hai sayang.."
"Hei Kris.."
.
.
.
.
TBC
A/N :
CHAPTER 11.
Chapter terpanjang yang selama ini aku buat.
Sumpah demi apapun, ini ngalir begitu aja. Mohon dimaklumi kalau kurang ngefeel.
Hadiahnya sudah ya. Sudah kelihatan watak asli Chanyeol kan?
Apa masalalu Chanyeol sama Baekhyun? Iya gitu. Chanyeol si most wanted people ternyata secrets admirernya Byun Baekhyun.
Chapter ini juga terinspirasi dari FMV MYOWNFAN11 yang judulnya Beautiful in White Thanks for Ka JV yang sudah ngerecommended FMV ini. Dan juga.. dibuat karena hasil jejeritan akibat ngelive di V Live.
Asli... mereka cubang! Amatiran banget megang kameranya. Miring sana-miring sini. Hahaha
Dan lagi.. dimana ada Chanbaek, terselip Chenmin. Ckckck.
Oya Chapter ini juga menjelaskan awal mula Tao tau perselingkuhannya Kris.
Next chapter, Baekhyun bakal bereaksi gimana ya? Setelah tau fakta sebenarnya? Akankah ia menaruh hati kembali pada Chanyeol?
Next chapter akan menjelaskan semuanya.
Hahahaha.
Capek ah. Lelah hayati.
ANYWAYS..
CONGRATULATIONS FOR EXO AND EXO-L!
4 Nominates EXO can bring for us.
So proud of u guys.
Tetap kayak gini terus ya, jangan cepat puas dan jangan sombong.
Stay humble and keep beloving ur fans.
Lagi-lagi MAMA 2015 banyak juga ChanBaek momentnya, haha.
BIG THANKS TO :
ALL REVIEWERS ON REVIEW BOX, Yang ga bisa aku sebutin satu per satu, tapi aku baca semuanya. Jangan berhenti untuk review lagi ya. Ditunggu reviewnya. Ingat! Review kalian moodboosternya aku.
AND ALL READERS ON MODERATE VIEW.
Jangan lupa review lagi yaa. Kan kasian kolom reviewnya diliat gak di usik.
Thank u~
-Cause CB are my Flashlight-
- Bap3arls -
