Disclaimer: Masashi Kishimoto(Naruto)
Ichie Ishibumi(DxD)
Genre: Adventure, Supranatural, a bit of Romance
Pair: Naruto x ...
Warning: Gaje, jelek, non-EYD, dan banyak lageh...
o
~oOo~
o
"T-tidak! Seseorang! Tolong!."
Grayfia berlari dengan nafas memburu. Netranya memandang ngeri sekumpulan mahkluk-mahkluk dengan bentuk aneh dan menakutkan yang terus mengejarnya. Tatapannya bergerak kesegala arah, mengidentifikasi seluk-beluk lingkungan yang ada disekitarnya.
Tak satupun dari objek yang ada ditempat ini mengingatkannya terhadap tempat tertentu. Hanya lorong gelap, lembab dan terasa pengap. Derap kakinya terdengar kabur, padahal dia yakin kesadarannya benar-benar maksimal sekarang.
"Jangan lari! Jangan lari!."
Suara itu makin dekat, memberikan inpulse yang hebat pada syaraf-syarafnya. Kakinya mendadak lemas saat merasakan untaian benda lembab yang melilit sepasang alat gerak itu. Larinya semakin lambat rikala merasakan sesuatu yang berat dibahunya. Kepalanya seolah bergerak sendiri, memaksanya untuk melihat objek yang membuat nafasnya tercekat.
"Kyaaaaaa!."
o
~oOo~
o
"Kyaaaaaa!."
"Kakak!." Naruto segera meraih tubuh sang kakak dalam pelukannya. Dalam dekapan itu, Naruto merasakan bahwa tubuh sang kakak bergetar hebat. Dia menangis tampa suara, menyembunyikan seluruh wajahnya dalam dada bidang sang adik.
"Tak ada yang akan menyakitimu, aku yang akan melindungimu." Bisik lembut pemuda itu. Jemari mengelus lembut helaian perak yang tampak kusut. Pandangan bersalah tak kunjung tanggal dari raut sedih Naruto.
"Aku takut..." Dia bergumam lirih dalam tangis pilunya. Begitupula dengan Naruto yang mencoba sekeras mungkin menahan cairan bening yang mulai berkumpul disudut matanya. Hati pemuda itu seakan tercabik-cabik melihat kondisi menyedihkan ini.
Jemari kekarnya lantas teralih pada sepasang pipi yang dibasahi oleh air mata itu. Pandangan keduanya bertemu dalam suasana teduh.
"Tenanglah, aku akan menemanimu. Sekarang, sebaiknya kau segera tidur." Gadis itu memandang lekat wajah Naruto, mencoba mengukur seberapa serius pemuda ini. Dan, dirinya harus menyerah pada sepasang safir yang nampak begitu lembut dan mendominasi.
"Baiklah." Dia mutuskan merebahkan tubuh lelahnya diranjang berseprarei biru laut itu. Matanya terpejam damai diiringi belaian lembut Naruto dipucuk kepalanya. Detik berlalu, perlakuan halus Naruto berhasil membawa Grayfia menuju alam mimpi.
"Nee~ Naruto, kau ternyata cakap juga 'ya?." Pemuda itu menoleh kearah sumber suara, sebelum tersenyum masam saat mendapati Issei disana. Tubuhnya yang lebih kurus itu tampak menggelikan saat mengenakan kaos oranye milik Naruto. Kebesaran, layaknya anak domba yang tak pernah dicukur.
"Waw, kau kelihatan luar biasa dengan bajuku." Issei mendelik kesal kearah Naruto yang tampak asik dengan kekehannya. Jari tengah dan telunjuk pada kedua tangannya mencubit gemas pakaian itu, mencoba menunjukan seberapa melarnya benda kain Ini.
"Ya! Ya! Ya!, kau dan tubuh gemukmu itu Naruto." Perempatan tercetak jelas didahi seorang Namikaze muda itu. Dia mendelik marah kearah Issei yang tampak tersenyum meremehkam padanya.
"Gemuk? Lihatlah!." Naruto dengan kasar membuka kaos yang dia pakai, mempertontonkan tubuhnya yang atletis dan kekar. Sontak saja, Issei membuang mukanya dengan kesal. Dia merasa cemburu akan proposionalitas tubuh lawan adu mulutnya itu.
Melihat tingkah Issei, Naruto mengembangkan seringaian kemangan miliknya. Kedua tangannya berkacak dipinggang. Kakinya menapak agak keras lantai keramik dirumahnya, mendekati Issei yang masih cemberut dan membuang muka.
"Kau tau, lelaki itu seharunya seperti ini." Dia berucap congkak sembari membuat pose-pose tertentu, pose yang sekiranya dapat membuat tubuhnya makin terlihat berotot.
"N-Naruto-kun? issei-san? K-kalian sedang apa." Keduanya sontak melempar wajah kasar kearah suara gadis yang berceletuk dengan nada kaget. Dua pasang netra berbeda warna itu memandang shock Rias yang juga tengah memandangi mereka dengan pandangan yang, ehmm~ jijik.
"A-aku tak menyangka ternyata..."
"T-tunggu Rias-chan! Ini tak seperti yang kau lihat!." Naruto berucap panik, mencoba meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Otak dangkalnya sudah cukup untuk memahami kalimat pendek yang Rias ucapkan. Sedangkan Issei, saat ini matanya telah berputar kebelakang layaknya orang mati. Tudingan salah paham Rias memberikan hantaman telak bagi otak 'lelaki tulennya'.
"M-menjauh!." Rias berucap panik kala Naruto mulai melangkah cepat kearahnya. Namun, sepertinya gadis itu terlambat. Lengan mulusnya terlebih dahulu telah digenggam oleh Naruto. Gadis malang itu menatap ngeri wajah Naruto yang menurutnya mirip seperti seorang maniac.
"T-tidaaaaa-Mphhh!." Naruto membekap bibir terbuka Rias, membuat gadis itu terdiam seketika. Rona merah muda muncul dipipi Rias saat merasakan seluruh bagian belakang tubuhnya bersentuhan dengan Naruto. Kulit lehernya dengan jelas merasakan hangatnya hebusan nafas Naruto yang agak memburu.
"Gomen Rias-chan. Jika aku lepas, takutnya kau akan ribut dan mengganggu istirahat kakak. Jadi, diamlah." Gadis itu menganggukkan kepalanya gugup mendengar desah bisikan Naruto yang memanasi telingannya. Tubuhnya meremang merasakan sensasi aneh itu, namun lumayan menyenangkan.
"Huft! Kau menyebalkan." Rias membuang mukanya yang merona dengan kesal. Dan sontak, itu membuat Issei yang memang sudah ling-lung, kehilangan kesadaran dan tumbang. Mulutnya komat-kamit menyebutkan kata-kata pujian pada keimutan Rias. Mengabaikan semua, Naruto tersenyum gugup sembari menggaruk tengkuknya.
"M-maaf Rias-chan. Tapi percayalah, aku masih suka dengan gadis. Terutama gadis cantik sepertimu." Ucapannya gagap. Rias membuang nafasnya kasar dengan wajah yang semerah kepiting rebus. Kalimat polos itu memberikan 'inpact' yang hebat. Lantas, jemari lentiknya mendekati wajah rupawan Naruto yang nampak bingung dengan tindakan Rias pada tangannya.
*Tack.*
"Nee~ Naruto-kun, kau sudah pandai menggoda rupanya." Ujarnya gemas.
"Ashhh!." Naruto mengerang pelan akibat telunjuk Rias yang menyentil kuat dahinya, meninggalkan bekas kemerahan yang negitu kontras dengan kulit Tan-nya. Bibir pemuda itu mengerucut rikala mengelus-elus dahinya, mencoba menredakan rasa tak enak itu.
"Haaah, pukul berapa sekarang Rias-chan?." Rias sejenak melirik jam yang ada ditangannya, sebelum menggulirkan tatapannya kembali kepada Naruto yang memandanginya penuh tanya.
"Ini masih pukul tiga pagi. Aku tadi terbangun karna Grayfia-san berteriak. Jadi, aku segera berlari kesini." Naruto mengangguk pelan akan penjelasan itu.
"Maaf ya Rias-chan, itu mengganggu istirahatmu."
"Tak usah dipikirkan." Keheningan terjadi sesaat, sebelum manik indah Rias membola pelan karna teringat sesuatu. Dia menarik nafas pelan "Nee, Naruto-kun. Em, lalu bagaiamana tentang rencana kita sebelumnya? Kebetulan Azazel-san disini, bagaimana jila kita tanyakan padanya nanti?."
"Hmm, ide yang bagus." Jawab Naruto setuju dengan rencana itu. Semua kegiatan tak terduga itu membuat banyak rencana yang mereka susun bersama jadi kacau dan gagal terlaksana.
Abaikan semua pikiran itu, kita fokuskan pada wajah Rias yang masih tetap merona. Rona itu tak kunjung hilang, dan malah semakin parah saat kedua maniknya melirik-lirik kecil kearah tubuh Naruto yang bagi mayoritas wanita, emm, menggairahkan.
Naruto dapat menangkap sempurna 'objektif' dari gerak-geriknya yang mencurigakan. Seringai usil muncul diwajah tampannya. Sebuah rencana yang menurutnya akan menarik hinggap diotaknya. Tangan Naruto terulur pelan kearah lengan Rias yang tersampih disebelah pahanya.
"Ahk!." Rias memekik kecil saat telapak tangan lebar itu menyentuh kulitnya. Memberikan sensasi meremang hebat yang menjalar keseluruh tubuhnya. Gadis itu mendongak, menatap wajah Naruto yang memancarkan senyum aneh.
"Nee, Rias-chan. Apa sebegitu menarikah tubuhku ini? Sampai-sampai kau terus memandanginya begitu?."
"Ah- An-ano, b-bukan..." Rias mendadak gelagapan dan kehilangan kontrol pada suaranya. Bibirnya bergetar hebat mengisyaratkan perasaan gugup yang mengguncang otak dan jantungnya.
"Kau tau, kau boleh melakukan apapun pada tubuh ini."
'Ughhh!.' Bola mata Rias nyaris berputar kebelakang akibat ke'dahsyatan' kata-kata itu. Andai saja bukan karna pengendalian dirinya kuat, gadis itu mungkin sudah tumbang dengan wajah ahegao-nya. Naruto memandang geli ekspresi Rias. Jarang-jarang dirirnya bisa melihat ekspresi langka itu.
Kegilaan itu semakin bertambah tatkala Naruto makin mendekatkan jemari Rias kearah dadanya. Tampak gadis itu gemetar kuat dan menggigit bibirnya dengan kuat.
"Hahahahah! Kau lucu Rias-chan." Kesadaran gadis itu kembali setelah mendengar tertawaan Naruto. Lantas, dia langsung memasang wajah marahnya.
"NA-RU-TO-KUN!..." Naruto menggelinjang gugup akibat kalimat lantang bertekanan tinggi itu. Bahkan, dia merasakan oksigen seakan-akan terusir akibat adanya unsur aneh yang menguar dari tubuh ber-aura gelap gadis itu. Instingnya kembali berteriak akan datangnya bahaya.
*Nyuuuuu!*
"Adududududu!. Sa-sakit Rias-chan." Rias dengan gemas mencubit kedua sisi pipi maskulin Naruto. Membuat jaringan kulit tipis itu melebar, mengantarkan sensasi panas dan nyeri yang menusuk-nusuk. Remaja pirang itu hanya mampu pasrah sembari meraba-raba jemari Rias yang masih nyaman menyiksanya.
"Makanya, jangan kurang ajar pada gadis." Ujarnya jengkel.
"I-iya Rias-chan! Maafkan aku." Pintanya dengan nada memelas. Setelah mendapat kepuasannya, Rias melepaskan cubitan kuatnya dengan kasar. Kepala Naruto terhantuk sesaat, sebelum dengan sigap, jemarinya meraba-raba pipi yang kini memiliki corak kemerahan. Rias memandang puas hasil kerjanya sendiri.
"Hihihi..." Rias nampak begitu senang akan interaksi ringannya dengan Naruto. Begitupula Naruto yang merasa lega karna Rias masih tampak ceria. Manik safir itu lantas melirik jendela, dimana langit masih tampak hitam.
"Hoaaam~ Naruto-kun, sebaiknya kita tidur sekarang." Naruto mengangguk paham sebelum mendekati Issei yang masih terbujur kaku dilantai. Tangannya dengan kasar meraih pergelangan kaki Issei, sebelum menyeretnya tampa perasaan keluar kamar, membiarkan pemuda malang itu terlelap di dekat tangga. Rias sweatdrop melihat tindakan kejam Naruto.
"Baiklah, selamat malam Rias-chan." Ujarnya, gadis merah itu mengangguk pelan sebelum melanggeng pergi menuju kamar yang dia inapi. Begitupula dengan Naruto yang segera masuk, menutup pintu dan merbahkan tubuhnya disebelah Grayfia.
"Haaah, aku harap ini cepat selesai." Gumamnya mengiringi kesadarannya yang mulai memudar. Namun, kelelahan yang dirasakan pemuda itu membuatnya tak sadar akan sesuatu. Sesuatu yang janggal, sesuatu yang berupa sepasang mata nyalang yang terus memperhatikannya dari balik kaca transparan jendela.
o
~oOo~
o
"Waw! Rias-chan, masakanmu enak sekali. Bagaimana menurutmu kakak?" Naruto berseru lantang dengan mata terpejam dan jemari terkepal. Sensasi lezat yang menari dilidahnya membuat mata setengah ngantuknya berpendar terang. Begitupula dengan para hadirin lain, mereka tampak menikmati dengan lahap hidangan yang telah Rias sediakan.
"Ummu, sangat lezat Gremory-san. Lain kali, bagaimana jika kita masak bersama?." Grayfia berucap riang. Sepertinya kondisinya telah membaik, tak ada kagi raut depresi. Yang ada hanyalah wajah ayu yang berseri cerah.
"D-dengan senang hati, Lucifuge-san."
"Hey bocah, bisa tidak makanmu lebih normal? Kau membuat nafsu makanku hilang." Azazel dengan kesal menunjuk wajah Issei dengan telunjuk kanannya. Dia merasa kesal akibat cara makan Issei yang sangat mengganggu baginya. Pasalnya, banyak nasi Issei yang 'meloncat' dari mangkuknya dan menempel manis dikemeja putih milik Azazel.
"Mwaafkwan awku *Gluk!* Azazel-san." Sahutnya dengan cengiran gugupnya. Semua terkikik geli melihat interaksi kedua orang itu, kecuali Vali yang membuang muka, sok tidak peduli. Padahal jika diperhatikan, bahu pemuda bersurai perak itu tampak bergetar pelan.
"Haaah..." Tampa sadar, hembusan nafas laga meluncur dari bibir Naruto. Kepalanya menelenggadah, menatap langit-langit ruang makan itu. Perasaanya berdesir nyaman. Interaksi seperti inilah yang selama ini dia rindukan.
"Azazel-san." Pria itu menoleh kearah Naruto yang menatapnya dengan wajah serius. Keheningan terjadi sesaat. "Ini tentang pelatihan yang sempat anda singgung beberapa waktu lalu, bisa anda jelaskan tentang itu." Lanjutnya.
"Hmm, apa kau sudah tahu tentang kekuatan yang terpendam ditubuhmu?." Naruto tak menjawab, melainkan tetap diam dengan wajah minta penjelasan. Itu membuat Azazel meringis pelan. "Yah itu bukan salahmu, kau pingsan saat itu. Tepatnya, ada semacam energi supranatural yang ada dalam dirimu. Sempat aku menyinggungnya beberapa hari lalu bukan?."
Pemuda itu mengangguk, dirinya masih teringat tentang beberapa percakapan yang terjadi keesokan setelah kejadian serangan pada Issei. Namun, informasi acak itu masih sangat rancu baginya. Dia tak memahami hal itu sama sekali.
"Maksud anda?." Tanya Rias.
"Aku yakin kau melihat Kilat Kuning itu bukan?." Rias memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha mengingat-ingat informasi tentang sesuatu yang Azazel sebut sebagai 'Kilat Kuning'. Dia terangguk sebentar, teringat tentang sesuatu.
"Maksud anda itu, badai aneh beberapa hari lalu?."
"Tepat." Rias mengangkat sebelah alisnya dengan raut wajah ragu. Ayolah, sejauh yang dia alami dengan Naruto, dia tak pernah melihat Naruto bermain-main dengan petir sekalipun.
"Jadi, anda bilang bahwa Naruto-kun lah yang memanggil petir besar itu?." Azazel mengangguk dengan cepat. Rias menggulirkan pandangannya kearah pasang mata lain yang menyaksikan. Dia sedikit terkejut melihat raut wajah mereka yang seolah-olah setuju dengan ucapan pria itu.
"Namikaze-sama memiliki kekuatan luar biasa yang jauh diluar nalar anda, Gremory-san. Sayangnya, dia masih belum mampu menguasainya. Sepertinya energi itu muncul apabila dia berada dalam situasi yang gawat." Vali turut menjelaskan.
Sejujurnya, Rias menolak untuk mempercayai hal gila itu. Tapi, dia harus menghadapi kenyataan dengan lapang dada. Pengalaman buruk yang dia alami dengan mahkluk-mahkluk aneh itu sudah lebih dari cukup untuk memproyeksikan adanya 'Variable' lain yang tak bisa dijelaskan dengan metode ilmiah. Singkat saja, percaya tidak percaya, dia harus percaya. Kembali, semua terfokus pada Azazel yang hendak memberikan beberapa penjelasan.
"Bagaiman kita mulai pelatihannya besok pagi? Oh, dan jangan lupa ajak setiap orang yang mengetahui tentang kemampuan yang Naruto miliki."
"Semua?."
"Itu penting, mereka bukan penjahat kacangan seperti difilm-film. Mereka tak akan segan-segan dengan lawannya. Dalam kasus ini, semua orang yang memiliki hubungan dengan Kinpatsu-sama adalah lawan dari mereka. Aku hanya ingin memperkecil kemungkinan terburuknya, bisa saja mereka menawan kalian, atau bahkan menghabisi kalian untuk melemahkan mental Kinpatsu-sama. Jadi, kalian setidaknya harus bisa melindungi diri sendiri." Tambahnya.
"Baiklah, sejauh ini yang sudah mengetahui tentang masalah ini hanya kami, Hinata Hyuuga dan Rossweise Valk." Tandas Naruto.
"Hmm, mohon kerja samanya." Semuanya mengangguk serempak.
"Oh ya, Azazel-san, kira-kira apa kau tau penyebab arwah seseorang belum mampu beristirahat dengan tenang?." Tanya Naruto kembali. Hampir saja remaja pirang itu lupa dengan rencananya dan Rias.
"Hanya ada dua kemungkinan, mereka masih memiliki dendam, atau karna rasa bersalah yang belum sempat mereka tuntaskan." Naruto tak menjawab itu, melainkan terfokus pada Rias yang tengaj menundukan kepala dalam-dalam. Namun itu tak lama, karna segera setelah itu acara sarapan mereka yang sempat tertunda pun berjalan kembali.
o
~oOo~
o
"Ara, Kamaitachi? Jadi bagaimana? Apa mereka sudah kau bereskan? Atau malah kau yang dipermalukan?." Manusia serigala itu tertunduk lesu sembari menggeretakan gigi. Didepannya, sosok wanita bermata tajam tengah memandanginya amat sinis. Begitupula dengan sosok lain yang tampak menatapnya lekat dari samping wanita tersalib itu.
"Ma-maafkan hamba Yang Mulia, saya tak menyangka, mereka akan diselamatkan oleh sosok aneh itu." Ujarnya dengan penuh penyesalan. Dia menggeram tertahan saat mengingat bagaimana pria bernama Azazel itu mengalahkannya.
"Kau tau, ratusan tahun terkurung ditempat ini membuatku kehilangan sedikit nuraniku. Kau sadar bukan, konsekuensi dari setiap kegagalan yang Youkai lakukan?." Kamaitachi memandang takut wanita itu. Jemari lentiknya yang berkulit pucat terulur kedepan, membentuk gestur hendak mencengkram sesuatu.
"Ughh! Ahk!." Sebuah energi tak kasat mata secara ajaib mengangkat tubuh monster itu keduara, mendekatkan dua wajah berbeda rupa itu. Dapat Youkai serigala itu tangkap, ekspresi keji yang terpatri diwajah sang tuan.
*Brugh!*
Dia menghempaskan tubuh lemas itu dengan kasar, membentur lantai dingin dan keras itu dengan posisi kepala dibawah. Nyeri hebat menjalar disekujur tubuh bagian atas Kamaitachi. Dia hanya mampu mendesis kecil, berusaha menahan erangan sakit yang hendak keluar dari moncongnya.
"Aku masih berbaik hati padamu. Kuberi satu kesempatan lagi, jika kau sampai gagal..." Wanita itu menggantung kalimatnya. Seketika, suhu udara menurun drastis, memberikan tekanan dasyat yang memaksa oksigen terdorong keluar. Kamaitachi terdiam tersengal dengan tubuh bergetar kuat.
"Mati terhormat sebagai Youkai, atau menghilang sebagai pengecut."
Kamaitachi dan sosok lain yang ada diruangan bercahaya kebiruan itu tau, tak ada sedikitpun kebohongan dibalik ancaman itu. Apa yang diucapkan oleh 'Yang Mulia' maka itulah yang akan dilakukannya. Youkai serigala itu lantas mulai bangkit dari posisinya.
"S-saya mengerti Yang Mulia." Ujarnya dengan pasti. Wanita itu menyeringai senang akan respon itu.
"Pergilah!." Tampa menjawab, Kamaitachi bergegas meninggalkan ruangan dengan suasana mencekam itu. Tak lama setelahnya, sosok lain yang berseri tak jauh dari wanita tersalib itu mulai melangkah mendekat. Mendekat kearah sang tuan yang bungkam dengan raut sulit diartikan.
"Apa perlu hamba yang menemaninya?." Sosok bersayap gagak itu berucap dengan nada beratnya, mengalihkan atensi sang tuan yang semula tak tau dimana.
"Tidak, aku sudah pernah membahas ini. Kau cukup fikirkan tugasmu yang akan kau lakukan tak lama lagi." Dia berujar ketus. Tak ada lagi sahutan dari Tengu, Youkai itu hanya diam sembari memikirkan sesuatu.
"Dan Tengu, sudah berapa Youkai yang sudah berhasil lepas?."
"Hanya dua ekor Kappa Yang Mulia. Walau sudah usang, segel itu masih belum bisa ditembus oleh Youkai kelas tinggi kecuali aku dan Kuchisake. Segel milik Namikaze itu memang hanya dikhususkan untuk Youkai kuat." Jelasnya. Wanita itu hanya terdiam sembari mengangguk paham. Percakapan singkat mereka pun usai, tampa ada siapapun yang hendak membuka suara kembali.
o
~oOo~
o
"Hey Issei, ada apa denganmu? Kenapa tampak lesu begitu?." Lelaki botak bernama Matsuda itu mengguncang kasar tubuh Issei yang menempel kuat kepada meja. Matanya terasa begitu berat, sepertinya sarapan enak tadi pagi membuatnya kekenyangan lalu akhirnya mengantuk.
Begitupula hak sama terjadi pada remaja pirang yang duduk disebelahnya. Dia melakukan hal yang sama dengan Issei, dimana Motohama 'lah yang mengguncang tubuhnya. Kedua oemuda yang terkenal mesum itu tampak kebingungan.
Pasalnya, Naruto dan Issei yang dikenal sebagai siswa paling aktif dan enerjik dikelas, kini tiba-tiba terbujur lemas layaknya belut kepanasan.
"Hey, sobat sekalian. Kalian ini kenapa? Apa orang tua kalian menemukan majalah porno kalian lalu membakarnya? Atau mereka menjual CD BF kalian di pasar loak? Woy! Jawab Woy!." Perempatan muncul dikepala dua pemuda berambut beda itu. Mereka secara bersama bangkit, bangkit kayaknya zombie yang kelaparan.
Matsuda dan Motohama terlonjak ngeri akibat respon tak wajar dua orang pemuda itu. Kengerian itu semakin kentara saat Naruto dan Issei mulai mendekati mereka dengan kepalan tinju didepan dada. Layaknya seorang petinju yang hendak menyarangkan sebuah 'Upercut'.
*Daghh!*
Tepat saja, dua pemuda dengan mulut tak terkontrol itu tumbang dengan mulut berbusa akibat pukulan telak dua orang itu. Namun sepertinya itu belum mampu meredakan kekesalan mereka, lihat saja wajah Psycopath yang masih bertengger disana.
"Nee~ Matsuda, Motohama. Bagaimana kalau kita mengadakan pesta BBQ? Bukankah kau punya lumayan banyak kertas dan plastik tak senonoh dirumahmu? Aku yakin, rasa dagingnya pasti akan lezat." Naruto berucap dengan nada yang terdengar menakutkan.
"Saa~ Motohama, eh! J-jangan Naruto! Nanti kami akan nonton apa?."
*Duagh!*
Pemuda itu terjungkal kebelakang dengan sweatdrop-nya. Begitupula pula para penghuni kelas yang turut menyaksikan kejadian absurd itu. Berbagai macam respon mereka beremepat dapatkan. Namun yang pasti, itu semua bukan hal bagus.
"Harusnya aku tau, kau sama menggelikannya dengan mereka berdua." Naruto menatap prihatin Issei yang terbengong.
"Hey! bisa tidak, jangan menggunakan tatapan menyedihkan itu padaku. Mesum itu bukan sesuatu yang buruk kau tau. Bukan begitu Matsuda, Motohama?." Lengan Issei terulur kearah dua temannya yang menatapnya haru. Ketiganya lantas berpelukan dengan amat mesra. Seketika seluruh penghuni kelas mengalami serangan mual, tak ada satupun dari mereka yang sanggup menatap lebih lama adegan berlatar matahari terbenam itu.
"Haaah..." Naruto menghela nafasnya berat. Pandangan safir-nya menerawang kearah langit cerah berawan hari ini. Tangan kanannya memangku dagunya, menikmati hembusan angin yang semakin membuat kelopak matanya berat.
"Naruto-san." Dia menoleh malas kearah kanannya dan mendapati Xenovia yang telah duduk dikursi kosong sebelahnya. Hal ini sedikit menarik perhatian Naruto dari rasa kantuknya.
"Ahh, Xenovia-san. Kau tampak bosan,padahal sekarang adalah jam kosong 'lho." Gadis itu terkekeh manis mendengar suara Naruto yang parau.
"Kau tau, aku tak ingin mendengar itu dari orang yang hendak tidur dikelasnya." Rona malu muncul dipipi pemuda itu.
"Eh-ehehe..." Xenovia memutar matanya bosan melihat Naruto kembali melakukan kebiasaan anehnya, tertawa garing sembari menggaruk tengkuk ataupun belakang kepalanya. Padahal gadis itu yakin, tak satupun dari bagian yang digaruknya merasakan gatal.
"Oh yaa Naruto-san, kau ingat bukan, tentang gadis yang kusebut sebagai Irina itu?." Naruto mengangguk pelan atas pertanyaan Xenovia. Jika tak salah, dia adalah gadis aneh yang bertubrtukan dengannya beberapa waktu lalu.
"Kemarin dia mengirimku pesan, katanya dia ingin bertemu denganku sepulang sekolah." Dia berucap dengan riang.
"Dimana? Dia mengajakmu bertemu dimana?."
"Ditaman Kuoh." Naruto sempat menahan nafasnya mendengar nama tempat itu. Jukur saja, dia tak memiliki perasaan enak terhadap tempat itu. Dia dilanda dilema. Apa dia harus mengizinkan Xenovia kesana? Tapi, apa haknya untuk itu?.
"Hmm, begitu. Bolehkah aku ikut?." Xenovia menggeleng. Sepertinya gadis itu kurang setuju dengan usulan Naruto. Dia takut Irina akan salah paham karna mengajak orang lain untuk nertemu dengannya. Xenovia punya firasat akan adanya hal penting yang hendak Irina katakan.
"Begitu ya. Baiklah, aku harap 'kencan' kalian akan sukses."
"Hihihi, jangan bilang kau cemburu pada Irina." Pemuda itu sedikit mendelik pada Xenovia yang sedang tersenyum usil. Sungguh, dia tak sanggup untuk melihat ekspresi senang yang jarang itu. Tampa sadar, seulas senyum dia sunggingkan.
o
~oOo~
o
*POV*
"Yuuhi-san, bila tubuhmu tidak enak, sebaiknya kau pulang saja. Takutnya kau akan jatuh sakit nantinya." Aku menoleh sejenak sebelum memberikan sebuah senyuman untuknya. Dia tampak terdiam sebentar sebelum menunduk kembali, fokus dengan komputer dihadapannya. Sepertinya yang diucapkan Kotetsu-san ada benarnya.
Sejak beberapa hari lalu, aku kurang tidur. Sialnya, bukan pekerjaan yang jadi alasanku bergadang, melainkan mimpi aneh yang terus saja muncul tiap malamku akhir-akhir ini. Mimpi tentang kejadian yang tak ingin aku ingat.
"Konohamaru-chan, aku merindukanmu." Tampa sadar, aku bergumam lirih. Memanggil pelan nama putraku yang sudah tiada akibat kecelakaan. Sejak dulu, hanya dia satu-satunya keluargaku yang tersisa semenjak kematian Asuma-san.
Aku memijit pelipisku frustasi, pening ini benar-benar mebuatku gila.
"Kau tau, kemarin malam aku mendengar ada seseorang yang melihat penampakan di pertigaan konplek Sakura." Aku samar-samar mendengar percakapan teman kantorku. Penampakan? Apa mereka masih percaya dengan hal seperti itu?.
"B-benarkah? Rumahku ada didekat sana. Memang sih, aku sering merasa diawasi bila melewati tempat itu." Tunggu dulu! Pertigaan konplek Sakura? Itu kan berada didekat rumah lamaku. Dan juga, itu lokasi kecelakaan Konohamaru-chan.
"Iya, dia bilang hantu itu berupa sosok anak kecil berseragam taman kanak-kanak. Dan lagi, dia juga bilang wajah anak itu sudah hancur tak berbentuk." Aku menutup bibirku dengan kuat, memcoba menghalau suara pekikan yang hendak keluar. Semua yang mereka ucapkan entah mengapa mengarah pada Konohamaru-chan.
Kecelakaan yang dia alami membuat luka parah pada wajahnya. Saat itu aku harus masuk rumah sakit saat melihak kondisi jasad anaku sendiri. Aku bahkan tak mampu mengenalinya, kulit wajahnya tak tersisa, membuat organ yang ada dibaliknya terlihat jelas. Andai saja bukan karna surai coklat jabrik dan seragam yang dia kenakan, sudah pasti aku akan terlambat menyadarinya.
Mengesampingkan hal itu, apakah benar ada orang yang melihat penampakan itu?. Tidak-tidak, itu pasti hanya bualan saja. Mana mungkin hantu itu ada. Aku yakin, anakku sudah beristirahat dengan tenang. Dan kini aku harus mampu melanjutkan hidupku dengan baik.
Kembali, aku melanjutkan 'pergulatanku' dengan benda elektronik didepanku, menekan kasar deretan tombol yang ada dimeja. Perkerjaan baru yang sedikit membuatku lupa dengan semua beban-bebanku.
*POV END*
o
~oOo~
o
Remaja pirang itu nampak berjalan mengndap-endap tak jauh dari sosok gadis biru yang tengah berlari kecil sembari bersendandung riang. Dia mengabaikan pandangan aneh orang-orang yang melihat tingkahnya yang tidak biasa.
"Huft! Sabar Naruto, ini demi temanmu." Naruto berkali-kali harus menyemangati dirinya. Begitupula dia harus menahan perasaan tak nyaman pada bahunya, pasalnya hari ini adalah hari dimana semua mapel mempergunakan buku yang tebalnya bukan main. Sehingga dia harus menyiapkan tenaga ekstra untuk membawa buku-bukunya.
Menit pun berlalu, tampa terasa, perjalanan yang menurut Naruto sangat merepotkan itupun berakhir. Tak jauh didepannya, Xenovia tengah berdiri menatap gerbang masuk taman Kuoh. Dengan langkah yang pelan, Naruto terus membuntuti gadis itu.
"Irina?."
Tampak seorang gadis yang mengebakan jaket hitam bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Xenovia. Mereka berdua tampak membicarakan sesuatu, sesuatu yang serius bila menurut Naruto. Karna penasaran, diapun memutuskan untuk mendekat, bersembunyi dibalik sebuah pohon.
"Bu-bukan! Irina, aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ingin kau tak terlibat." Xenovia berucap.
"Tidak terlibat? Aku kira kita sudah berteman." Naruto terheran dengan nada dingin itu. Padahal tadi dia melihat justru Irina yang paling menggebu diawal percakapannya.
"Karna kau temanku, aku tak ingin kau terkena sial karna masalahku Irina!." Naruto meremas dadanya pelan. Hatinya terasa nyeri menyaksikan sendiri Xenovia yang menitihkan air mata disela kalimatnya. Irina nampak terenyuh sebelum menunduk dalam-dalam.
"Jadi begitu. Baiklah, aku tak akan ikut campur lagi dalam masalahmu. Oh ya, lusa aku akan pindah. Aku akan tinggal di Tokyo." Irina lantas berbalik, meninggalkan Xenovia yang masih membisu ditemani air mata. Waktu berlalu, beberapa menit terlewati, namun Xenovia masih terdiam dengan posisinya meskipun dia tau, Irina sudah tak ada.
"Xenovia-san." Gadis itu tersentak sebelum menghapus air matanya dengan kasar. Dia menoleh untuk menatap Naruto yang memberikan senyum lembut padanya. Xenovia menggigit bibir bawahnya.
"Kau melihat semua?."
"Maaf."
Xenovia kembali menundukan kepalanya sembari meremas kuat bagian bawah kemejanya. Tak ada gunanya juga menyembunyikan kesedihannya, toh Naruto juga sudah mendengarnya tadi.
"Menangislah." Pemuda pirang itu menarik tubuh bergetar Xenovia kedalam pelukannya, membiarkan sang gadis menangis pilu dalam kehangatan. Jemarinya mengelus lembut punggung dan pucuk kepala Xenovia, berharap itu akan membuatnya lebih baik.
Posisi itu bertahan cukup lama. Cukup lama untun membuat pasang kaki Naruto merasa pegal. Tangis gadis itu pun berhenti, lalu pelukan itupun berakhir. Tangan Naruto menuntun Xenovia untuk duduk dibangku taman.
"Kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Mungkin aku bisa membantumu."
"Aku ragu untuk menceritakannya padamu. Aku takut, takut kau akan menganggapku orang aneh." Tunggu, percakapan ini begitu familiar dengannya. Dan bila prediksi miliknya benar, maka Xenovia pasti akan mengatakan...
"Apa kau percaya dengan supranatural?." Tepat.
"Tentu saja. Memangnya ada apa dengan itu."
"Sebenarnya aku memiliki kemampuan untuk melihat arwah milik orang yang telah mati." Pemuda itu terhenyak. Dia tidak menyangka, temannya yang satu ini juga adalah seorang Indigo seperti dirinya dan Hinata.
"Maksudmu, kau adalah seorang Indigo?." Xenovia menganggukan kepalannya.
"Namun, kemampuan miliku hanya muncul pada waktu tertentu saja. Dan sayangnya, aku juga belum mengerti kapan dan bagaimana kemampuan miliku akan muncul."
"Begitu. Lalu, kenapa kau bisa berselisih begitu dengan Irina?." Tanya Naruto sembari melipat tangannya didepan dada.
"Itu terjadi sekitar bulan lalu. Aku berkali-kali harus masuk ruang kesehatan akibat shock karna melihat roh-roh itu. Saat itu Irina...
o
~oOo~
o
"Haaaaah, hari yang melelahkan. Aku duluan, Kotetsu-san." Wanita bernama lengkap Kurenai Yuuhi itu bangkit dari tempatnya setelah mematikan komputer. Tangan kanannya meraih tas yang berada diatas meja kerjanya, tepat disamping monitor.
"Ah, iya Yuuhi-san. Hati-hatilah." Wanita itu menjawab dengan senyum dan anggukan pelan. Hari ini dia menyelesaikan tugas lebih awal. Ada sebuah tempat yang ingin dia datangi sekarang. Tempat yang kembali dia ingat setelah mendengar beberapa percakapan rekan kantornya.
Dia melirik jam tangan yang dia kenakan, dimana jarum jam menunjukan pukul delapan malam. Melangkah agak cepat, Kurenai sempat menarik banyak mata untuk meliriknya. Memang, wanita ini dikenal karna kecantikannya.
Jarak dari kantornya dengan lokasi yang dia tuju lumayan jauh. Perlu sekitar duapuluh menit bila berjalan kaki. Maka dari itu, dia memilih taksi sebagai transportasinnya.
"Konplek perumahan Sakura." Jawabnya sesaat memasuki pintu taksi. Sang sopir mengangguk paham sebelum menginjak gas, membawa mobilnya membelah jalanan. Wanita itu menatap pemandangan diluar jendela dengan raut cemas. Berbagai pemikiran menganggu ketenangannya.
Tampa terasa, perjalanan itu berjalan singkat. Pasalnya, jalanan Kuoh yang tak begitu ramai membuat mobil taksi dapat berpacu dengan lenggang. Kendaraan itu pun berhenti pada sebuah halte yang ada. Beberapa orang masih terlihat duduk pada tiap bangkunya.
"Terimakasih nona." Urusan dengan sang sopir telah usai, kini dia hanya perlu berjalan singkat hingga tiba ditempat tujuan. Nafasnya mendadak sesak saat melihat sebuah papan rambu lalu lintas. Rambu yang mengaharapkan para pengemudi untuk berhati-hati karna banyak anak-anak.
Jemari lentiknya mengelus pelan benda dari logam itu. Dia ingat betul, tepat disanalah putra semata wayangnya harus meregang nyawa dengan tragis.
"Ahk!."
Dia memekik kecil saat merasakan sebuah sensasi aneh pada punggungnya, seperti ada sesuatu yang meniupnya dengan sengaja. Wanita itu menahan nafasnya sembari mencoba menoleh kebelakang dengan pelan.
Perasaanya sedikit lega saat mendapati tak seorangpun disana. Dia berusaha tenang dan menganggap itu semua hanya halusinasi akibat terlalu lelah.
*Deg!*
Namun, sensasi aneh itu malah datang lagi dan justru makin jelas. Tiupan itu terasa begitu nyata. Seketika, Kurenai merasakan bulunya meremang. Kini dia tak punya keberanian sama sekali untuk menoleh kebelakang.
"S-siapa?." Dia bertanya dengan suara agak lantang. Nihil, tak ada satupun jawaban disana, melainkan kembali sensasi tiupan pelan itu dia rasakan. Tampa dia sadari, rasa penasarannya mengalahkan instingnya, dia pun menoleh kearah belakang.
"Mama."
Kurenai dengan jelas melihat, melihat sesuatu yang seumur hidupnya tak ingin lagi dia lihat. Sosok anak-anak yang mengenakam seragam taman kanak-kanak. Wajahnya hancur lebur, semua orga yang ada dibalik kulit terlihat dengan jelas. Mulai dari gigi yang jumlahnya tak utuh, hingga sepasang mata yang salah satu bolanya meloncat keluar.
"Mama."
Jemari pendek nan pucat itu berupaya untuk meraih majah Kurenai yang mencoba menjauh. Dadanya mengambang dan mengempis dengan cepat, mengisyaratkan nafas lelah yang memburu. Suara melengking yang sempat terhenti tak lagi sanggup dia tahan.
"Kyaaaaaaaaaa!."
*TBC*
Hallo Reader-san, bagaiamana kabar kalian? Baka-oda kembali dengan fanfic gaje-nya pada kalian. Akhirnya sampai juga di episode sebelas. Maaf bila update-nya agak telat. Banyak kegiatan didunia nyata yang banyak menyita waktu luangku.
Saya ingin bilang terimakasih untuk para pembaca yang mendukung berjalannya fanfic ini. Saya pasti akan melanjutkan fic ini hingga selesai dan rampung. Jadi, saya mohon kritik dan saran dari para sesepuh Fanfiction.
Segitu saja dahulu, sampai jumpa lagi di chapter depan.
Ciaaoo...
