TITLE : SLEEP WITH DEVIL

A REMAKE STORY

FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL

DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.

.

.

.

.

Warning : Genderswitch


Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!

Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini


BAB 11

Donghae membaringkan Hyukjae ke atas ranjang. Jemarinya menyusup ke balik rok Hyukjae dan langsung menyentuh pusat kewanitaannya. Sentuhan itu membakar sekaligus menyejukkan dan Hyukjae langsung mengangkat tubuhnya penuh gairah. Donghae menundukkan kepalanya, mengecup leher dan pundak Hyukjae sambil menurunkan kemejanya, menikmati betapa Hyukjae menyerah kepada gairahnya.

"Ah sayangku, kau begitu indah," Donghae menangkup buah payudara Hyukjae di telapaknya, merasakan dan menikmati kelembutan itu. Lalu bibir panasnya turun dan menangkup pucuknya, melumatnya penuh gairah, membuat Hyukjae hampir menjerit karena siksaan kenikmatan yang berbaur menjadi satu.

Lelaki itu menurunkan rok Hyukjae dan mulai menyentuhnya, dimana-mana, meninggalkan gelenyar panas yang membakarnya. Jemari Donghae menyentuh pusat kewanitaannya dan Hyukjae merasakan dorongan yang amat sangat untuk memohon agar Donghae mau memasukinya.

Dan Donghae sudah siap, Lelaki itu terasa begitu keras dan panas di bawah sana. Hyukjae mendesak-desakkan tubuhnya dengan frustrasi, permohonan tanpa kata. "Tenang sayangku," Donghae mulai terengah, menahan pinggul Hyukjae yang bergairah di bawahnya, "Aku akan meuaskanmu sebentar lagi"

Donghae menyentuhkan dirinya, dan langsung menggertakkan giginya, melawan dorongan kuat untuk memasuki Hyukjae dengan kasar. Hyukjae sudah sangat siap menerimanya, tetapi Donghae bertekad memperlakukannya dengan lembut, memberikan tubuhnya untuk kenikmatan Hyukjae.

Ketika kehangatan Donghae merasukinya, tenggelam dalam tubuhnya yang panas dan basah, Hyukjae mengerang dan memejamkan mata. Oh astaga! Rasanya begitu tepat, kenikmatan ini, kedekatan ini yang telah dia sangkal selama ini. Rasanya luar biasa tepatnya!

Mereka bergerak dalam alunan gairah yang keras, berusaha memuaskan gejolaknya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya tubuh Hyukjae terasa melayang, mencapai puncak kenikmatannya didorong oleh rasa klimaks yang begitu dalam. Ketika mendengar erangan, Donghae mengikutinya.

Menyerah dalam orgasme bersamanya.

.

.

.

Ada yang berbeda dalam hubungan mereka. Hyukjae menyadari pagi itu, mengingat senyum lembut Donghae ketika Hyukjae terbirit-birit kembali ke kamarnya ketika hari hampir menjelang pagi. Terutama perasaan Hyukjae ke Donghae, ada yang berubah.

Ternyata selama ini dia juga frustrasi oleh gairah yang tertahan, sama seperti yang dirasakan Donghae. Dan ketika semalaman mereka saling memuaskan gairah masing-masing, pagi ini perasaannya luar biasa bahagia. Hyukjae bahkan merasa ingin bersenandung.

Pagi ini, karena Donghae biasanya sudah berangkat bekerja jam-jam segini. Hyukjae memutuskan untuk mengisi waktunya dengan menjelajah seluruh isi rumah. Dia memutuskan untuk menjelajahi area sayap kanan rumah yang besar itu.

Tanpa di temani siapapun, Hyukjae menyusuri lorong-lorong, ruangan demi ruangan, sampai akhirnya tiba di ujung lorong, dengan dinding yang sepenuhnya terbuat dari kaca, memantulkan cahaya matahari ke seluruh lorong dan pemandangan yang luar biasa indahnya di balik kaca.

Pemandangan kebun mawar berwarna merah tua yang merambat dan memenuhi taman kecil di sana. Hyukjae terpesona hingga hampir sesak napas. Dia berdiri cukup lama di depan taman itu, lalu kemudian mengerutkan keningnya ketika menyadari, bahwa sayap kanan rumah ini, meskipun tampak bersih dan terawat, tampaknya hampir tidak pernah digunakan.

Hyukjae menoleh ke kiri, dan menemukan sebuah pintu besar berwarna keemasan, dengan penuh rasa ingin tahu dia membuka handle pintu itu. Sepertinya susah dan macet, tetapi kemudian setelah Hyukjae mencoba beberapa kali, pintu itu terbuka dengan mudahnya, dengan suara berderit karena engsel yang sudah lama tak diminyaki.

Ruangan itu temaram, karena jendela kamarnya tertutup rapat oleh gorden, baunya pengap seperti sudah lama tidak dimasuki. Hyukjae meraba-raba dinding dan menemukan saklar di kamar itu, ditekannya saklar kamar itu, dan cahaya kekuningan yang lembut langsung menyinari seluruh ruangan.

Itu sebuah kamar. Kamar yang sangat feminim dengan nuansa merah muda yang lembut, hampir putih. Hyukjae mengitarkan pandangannya ke kamar itu dan mememukan sesuatu yang membuatnya tertegun…. Dan memucat.

Ada sebuah lukisan besar yang digantung di kamar itu. Lukisan yang sangat besar dengan bingkai keemasan yang sangat indah. Tetapi bukan besarnya lukisan itu atau indahnya bingkai itu yang membuat Hyukjae tertegun, tetapi orang dalam lukisan itu.

Di sana terlukis seorang perempuan yang sedang berdiri di tengah taman mawar, dengan gaun merah muda dan rambut cokelat tuanya yang panjang dan berkilau, sedang tertawa bahagia, seolah-olah perempuan itu tidak bisa menahan senyumnya kepada siapapun yang melukisnya. Perempuan itu memeluk perutnya yang sedikit buncit, sedang hamil muda.

Perempuan itu tampak penuh bahagia… penuh cinta, dan yang membuat Hyukjae luar biasa kagetnya, wajah perempuan itu…. Wajah perempuan itu…. Sama persis dengan wajahnya.

Oh ya Tuhan!

Sama persis!

Bagaikan pinang di belah dua. Meskipun perempuan di lukisan itu tampak lebih anggun dan lebih feminim, Hyukjae sangat yakin bahwa selain semua alasan itu, wajah mereka berdua tampak begitu serupa!

Tapi Hyukjae yakin itu bukan lukisan dirinya. Dia tidak pernah mengenakan gaun merah muda, dia tidak pernah dilukis di tengah taman mawar, dan yang pasti, dia tidak pernah hamil sebelumnya!

Jadi siapakah perempuan itu? Siapakah dia…?

"Seharusnya Anda tidak boleh ke area ini"

Suara dingin dan tenang di belakangnya membuat Hyukjae terlonjak kaget. Dia menolehkan kepalanya gugup dan menemukan Hangeng berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin yang biasanya.

"Siapakah perempuan di lukisan itu Hangeng?"

Hangeng melirik sekilas pada lukisan di dinding itu, Hyukjae merasa melihat sepercik kesedihan di sana, meskipun dia tidak yakin, karena ketika menatap Hangeng lagi, lelaki itu sudah kembali memasang ekspresi datar.

"Saya tidak bisa mengatakannya kepada Anda, Tuan Donghae akan sangat marah…."

"Kumohon," Hyukjae menyela dengan cepat, "Jika kau tidak mau mengatakannya kepadaku, aku akan menanyakan langsung kepada Donghae"

Wajah Hangeng mengeras, "Anda tidak boleh melakukannya, saya tidak akan membiarkannya karena itu akan menyakiti Tuan Donghae"

Perkataan Hangeng itu makin membuat Hyukjae penasaran. Ada apa ini sebenarnya? Apakah inilah jawaban kenapa Donghae menyekapnya selama ini?Hyukjae akan mengejar jawaban itu dari Hangeng, apapun yang terjadi, ditatapnya Hangeng dengan keras kepala, "Kalau begitu jelaskan padaku siapa perempuan ini, kenapa wajahnya begitu sama denganku, dan apakah ini penyebab Donghae menyekapku?"

Hangeng menghela nafas panjang, "Baik akan saya jelaskan, tetapi jangan di sini, ayo ikut saya,"

Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar dari kamar, seolah-olah berada di dalam kamar itu terasa menyesakkannya. Tiba-tiba Hyukjae juga merasa sesak sehingga dia langsung mengikuti langkah Hangeng keluar dari kamar itu.

.

.

.

"Perempuan itu adalah Nyonya Lee Eunhyuk," Hangeng bergumam datar, menatap mata Hyukjae dalam-dalam.

Mereka sekarang duduk di ruang duduk di bagian belakang rumah yang berakses langsung ke taman belakang dan dilengkapi dengan sofa-sofa cantik yang nyaman dan meja kopi yang saat ini menyediakan kopi hangat yang mengepul di meja.

Hyukjae mengernyit mendengar informasi itu, Lee Eunhyuk?

Apakah dia ibu Donghae? Tetapi setahunya, ibu Donghae bernama Lee Minhyuk.

"Bukan ibu tuan Donghae," Hangeng sepertinya bisa membaca pikiran Hyukjae, "Nyonya Lee Eunhyuk adalah almarhum isteri Tuan Donghae"

Hyukjae terperangah dan tiba-tiba merasa sesak napas, dadanya seperti dihantam oleh ribuan ton batu sehingga terasa nyeri. Isteri? Donghae pernah punya isteri sebelumnya? Dan kenapa wajah perempuan itu sama persis dengannya?

"Tuan Donghae menikahi Nyonya Eunhyuk ketika masih sangat muda, di Jepang ketika Tuan Donghae lulus dari kuliahnya, pada usia 20 tahun. Mereka pasangan muda yang saling mencintai. Setahu saya, Tuan Donghae sangat mencintai isterinya," Hangeng berdehem, "Saya sudah mulai bekerja kepada Tuan Donghae ketika itu… Dulu, beliau adalah orang yang baik, sangat mudah tertawa dan ramah….tetapi….Nyonya Eunhyuk memang berbadan lemah sejak awal, dia mempunyai penyakit jantung dengan katup yang tidak sempurna…..,"

Hangeng menghela nafas panjang, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bercerita, "Kemudian Nyonya Eunhyuk hamil… mereka sangat bahagia sekaligus cemas… bahagia karena itu adalah anak pertama mereka, dan cemas karena itu adalah kehamilan yang sangat beresiko…. Nyonya Eunhyuk seharusnya tidak boleh hamil karena kondisi penyakitnya, tetapi dia perempuan yang keras kepala di balik tubuhnya yang lemah…,"

Hangeng tanpa sadar tersenyum, melembutkan garis-garis datar di wajahnya, "Dia bertekad untuk hamil dan melahirkan anak Tuan Donghae, meskipun semua orang menentangnya, bahkan Tuan Donghae sendiri"

"Donghae menentangnya?," Hyukjae membayangkan seorang perempuan dengan tubuh lemah, tetapi mampu menantang seluruh dunia demi calon anak yang dikandungnya, sungguh perempuan yang luar biasa.

"Ya, sudah pasti Tuan Donghae menentangnya, kehamilan itu berbahaya, nyawa Nyonya Eunhyuk taruhannya," Hangeng menundukkan kepalanya sedih, "Kemudian Nyonya Eunhyuk keguguran".

Hyukjae tertegun.

Keguguran, jadi bayi mereka tak pernah lahir?

Tiba-tiba Hyukjae merasa sedih mengingat senyuman Eunhyuk di lukisan itu, senyuman seorang calon ibu yang sangat bahagia, dengan tangan memeluk perutnya seperti melindungi sang buah hati yang sedang terlelap di sana.

"Tubuh nyonya Eunhyuk ternyata terlalu lemah untuk menumbuhkan seorang bayi dalam rahimnya, dia tidak mungkin mengandung sampai anak itu lahir….kenyataan itu menghancurkan perasaan Nyonya Eunhyuk dan membuat kondisi fisiknya makin lemah….,"

Hangeng menghela nafas, "Nyonya Eunhyuk semakin hari semakin sakit, hingga akhirnya sudah tak mampu bangun dari ranjangnya. Di suatu pagi, Tuan Donghae menemukannya sudah meninggal dalam tidurnya"

Air mata Hyukjae menetes, meninggal karena patah hati. Hyukjae teringat kepada ibunya. Mereka berdua meninggal karena patah hati…. Tidakkah mereka menyadari bahwa mereka egois? Meninggalkan semua beban di dunia ini dengan lepasnya, tanpa memikirkan bahwa mereka juga meninggalkan patah hati bagi siapapun yang mereka tinggalkan?

"Sejak kematian Nyonya Eunhyuk, sepuluh tahun yang lalu… Tuan Donghae berubah, dia menutup hatinya. Dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia tidak pernah sama lagi sejak saat itu."

Hyukjae mengusap air matanya dan menatap Hangeng tajam. "Jadi, karena itukah Donghae menyekapku di sini? Karena wajahku sama persis dengan almarhumah isterinya?"

Hangeng menatap Hyukjae dalam-dalam, "Anda seharusnya tahu bahwa….."

"Hangeng"

Suara dingin Donghae dari arah pintu membuat mereka berdua menoleh. Wajah Hangeng memucat menemukan Donghae sedang berdiri di sana, berdiri bersandar di pintu dengan wajah tidak terbaca.

"Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu kau yang sedang asyik bergosip dengan Hyukjae," Mata Donghae menajam, "Tetapi aku membutuhkanmu sekarang. Ada sesuatu yang perlu kita bahas"

Secepat kilat Hangeng berdiri, meskipun ada kekhawatiran yang terpancar di wajahnya, dia telah melangkahi wewenangnya dengan menceritakan tentang Nyonya Eunhyuk kepada Hyukjae. Entah apa yang akan dilakukan Tuannya ini kepadanya.

Donghae bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Hyukjae, dia membalikkan badan dan membiarkan Hangeng mengikutinya.

.

.

.

Hyukjae termenung di kamarnya, seluruh kata-kata Hangeng terngiang di telinganya, berulang-ulang. Kisah tentang Lee Eunhyuk yang cantik dan sempurna dan betapa Donghae mencintainya.

Jadi, selama ini dia hanya dipakai sebagai pengganti dari Eunhyuk. Entah kenapa perasaan sedih yang samar menyeruak di dada Hyukjae, terasa begitu menyakitkan. Donghae menyekap dan mempertahankan dirinya di sini karena wajahnya mirip dengan Eunhyuk.

Bahkan Donghae bercinta dengannya mungkin juga sambil membayangkan Eunhyuk.

Kemiripan wajahnya dengan almarhumah isteri Donghae-lah yang menyelamatkannya, mungkin. Kalau tidak dia sudah dibunuh dan dihancurkan oleh Donghae atas percobaannya melukai lelaki itu.

Ternyata bahkan gairah Donghae yang meluap-luap itu bukan ditujukan kepadanya. Dia hanyalah sosok pengganti dari perempuan yang benar-benar diinginkan oleh Donghae.

"Aku berani bertaruh bahwa pikiran-pikiran yang buruk sedang berkecamuk di kepalamu yang mungil itu"

Karena sibuk dengan pikirannya, Hyukjae tidak menyadari kedatangan Donghae. Hyukjae mengamati Donghae, lelaki itu tampak lelah, "Aku ingin segera keluar dari sini, setelah aku mengetahui semuanya, kau tidak berhak lagi memanfaatkanku dan menahanku di sini," Hyukjae mendongakkan dagunya dengan angkuh.

Donghae melangkah mendekat, berdiri di sofa di depan Hyukjae duduk, dan menatap tajam, "Kupikir semalam kita sudah mencapai kesepakatan"

"Semalam terjadi karena kau mengancamku!," Napas Hyukjae terengah menahan emosi, "Sekarang aku sudah kembali ke pikiran warasku"

"Tidakkah kau ingin bersamaku Hyukjae? Kita begitu cocok di ranjang, kau dan aku. Kita bisa menjalin hubungan yang saling menguntungkan"

"Aku menolak untuk dimanfaatkan untuk menjadi pengganti siapapun"

"Kau bukan pengganti siapapun!," Donghae menyela tampak marah.

Mereka berdiri berhadap-hadapan saling mengukur kekuatan masing-masing. Akhirnya Hyukjae berkata, "Aku sudah mengetahui semua kebenarannya Donghae. Aku memang bersalah mencoba mencelakaimu. Tetapi itu tidak penting lagi. Kau memang bersalah atas kematian kedua orang tuaku, dan aku berhak merasa benci dan dendam kepadamu. Tetapi kau juga sudah menyelamatkan nyawaku, jadi aku menganggap kita impas. Kalau kau melepaskanku, aku berjanji tidak akan muncul dalam kehidupanmu lagi dan tidak akan pernah berusaha mencelakaimu lagi," Hyukjae menatap Donghae sungguh-sungguh, "Itulah penawaran terbaik yang bisa kuberikan"

"Penawaran katamu?," Donghae mengibaskan tangannya jengkel, "Kau boleh berprasangka dengan semua kebencian tak beralasanmu itu, yang harus kau tahu, semua yang kau pikirkan di dalam kepala cantikmu itu salah"

"Aku tahu mana yang salah dan benar Donghae. Dan kali ini aku sungguh-sungguh," Hyukjae menatap Donghae dengan tatapan mengancam, "Pilihanmu hanya dua, melepaskanku, atau mendapati aku mati"

.

.

.

Hyukjae melaksanakan ancamannya. Dia mogok makan. Di hari pertama Donghae masih menganggap remeh ancaman Hyukjae yang kekanak-kanakan itu, dan menertawakannya.

Tetapi sekarang sudah hampir dua hari, dan Hangeng melapor bahwa Hyukjae sama sekali tidak menyentuh makanan dan minumannya.

"Sama sekali?," Donghae berdiri dari duduknya dan menatap Hangeng frustrasi.

"Dia sama sekali tidak menyentuh makanannya, kami meletakkan makanannya di kamar dan dia hanya tidur di sana. Ketika kami menengok nampannya, dia tidak menyentuhnya sama sekali, bahkan minumannya pun tidak disentuhnya. Anda harus melakukan sesuatu sebelum

perempuan itu membahayakan dirinya sendiri," jawab Hangeng datar, meskipun ada nada khawatir di sana.

"Aku akan menengoknya"

Donghae melangkah memasuki kamar putih itu, dan menemukan Hyukjae terbaring lemah di ranjang. Perempuan ini benar-benar keras kepala.

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?," Donghae mendesis menahan kemarahannya, "Apakah kau ingin membunuh dirimu sendiri?"

Hyukjae membalikkan badan dan menatapnya, membuat Donghae mengernyit, wajah Hyukjae tampak pucat dan bibirnya kering, perempuan itu juga tampak lemah.

"Kau harus memakan makananmu Hyukjae, kalau tidak kau akan sakit dan membahayakan dirimu sendiri"

Hyukjae menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari Donghae. Donghae mengacak rambutnya frustrasi.

"Oke, Kau mau apa?! Kau ingin bebas? Baik! Kau akan dapatkan apa yang kau mau, asalkan kau mau makan!"

Pernyataan itu membuat Hyukjae menolehkan kepalanya lagi menatap Donghae, dia berdehem, tenggorokannya terasa kering membuatnya susah berbicara, perutnya terasa nyeri, dan kepalanya pusing, "Kau… berjanji…?," gumamnya lemah.

Donghae menatap Hyukjae marah, "Kau pikir aku bisa berbuat lain? Aku berjanji, kau bisa pegang janji seorang Lee Donghae. Sekarang, biarkan aku membantumu minum!"

Sambil berdehem kembali karena tenggorokannya sakit, Hyukjae berusaha menantang tatapan marah Donghae dan membaca arti yang tersirat di dalamnya. Ya, Lee Donghae selalu menjunjung harga dirinya, dia tidak akan mengingkari janji. Setelah merasa yakin, Hyukjae menganggukkan kepalanya.

"Astaga Hyukjae," Donghae mendesah lega, meraih gelas air putih yang tak tersentuh, tak jauh dari ranjang, lalu duduk di samping ranjang dan membantu Hyukjae duduk, "Kau bisa minum?" Hyukjae haus sekali, dan keinginannya yang paling besar adalah langsung minum dari gelas itu dengan sekali teguk. Ketika menerima gelas itu, Hyukjae langsung meneguknya dengan rakus, tetapi berhenti di tegukan pertama karena tersedak dan sakit di tenggorokannya.

"Pelan-pelan," bisik Donghae lembut, menjauhkan gelas itu dari Hyukjae, "Gadis keras kepala," gerutunya, lalu meneguk minuman di gelas itu, Selanjutnya yang terjadi sama sekali tidak disangka-sangka oleh Hyukjae. Donghae duduk menerjangnya dan melumat bibirnya, sekaligus mengalirkan air minum itu ke tenggorokannya.

Air minum itu meluncur dengan mulus ke tenggorokan Hyukjae, membasahinya yang kehausan. Sejenak, ketika air itu telah seluruhnya berpindah, Donghae masih bermain-main di bibir Hyukjae, mempermainkannya.

Kemudian, sedikit terengah, Donghae melepaskan bibir Hyukjae, mereka duduk dengan wajah berhadapan, sangat dekat hingga napas panas mereka bersahutan. Lalu dengan gerakan tiba-tiba Donghae menjauhkan tubuhnya dari Hyukjae dan menatapnya tegang, "Besok Ryewook akan membantu mengemasi pakaianmu dan Hangeng akan mengantarkanmu pulang"

"Aku tidak mau membawa apapun dari sini, aku datang kesini tanpa membawa apapun, dan begitupun ketika aku keluar dari sini"

Donghae mendesis tajam, "Aku memaksa, Hyukjae dan jangan bermain-main dengan kesabaranku" Hyukjae terdiam. Donghae membebaskannya, itu sudah cukup. Dan kalau konsekuensinya Hyukjae harus bertoleransi dengan sikap arogan lelaki itu, mungkin itu cukup sepadan.

.

.

.

Pakaian-pakaian yang dibelikan Donghae untuknya sangat banyak hingga membutuhkan 3 koper besar untuk mengepaknya, belum lagi satu koper besar berisi perhiasan dan aksesoris seperti koleksi sepatu dan tas yang bahkan tidak sempat Hyukjae pakai.

Pegawai Donghae sudah mengatur barang-barang itu dengan rapi di bagasi, dan Hangeng sudah berdiri di sisi mobil, mempersilahkan Hyukjae masuk untuk diantar pulang. Hyukjae melirik ke arah rumah besar itu, Donghae tidak ada dari pagi tadi, lelaki itu pergi entah kemana tadi pagi-pagi sekali dan Hyukjae tidak berani bertanya kepada Hangeng.

Seharusnya Hyukjae berbahagia, Dahi Hyukjae berkerut memikirkan perasaannya. Tetapi entah kenapa dia tidak bahagia. Rasanya menyesakkan dada dan menyedihkan entah kenapa. Dan Hyukjae menahan diri kuat-kuat atas dorongan emosi yang membuatnya ingin menangis.

Dengan cepat, tanpa berani menoleh ke arah rumah Donghae, Hyukjae memasuki mobil hitam itu. Hangeng menutup pintu penumpang dan duduk di kursi supir bersama seorang pengawal lain. Pelan, mobil itu meluncur melalui taman besar di halaman Donghae dan melewati gerbang.

Detik itulah Hyukjae memberanikan diri menatap rumah Donghae, mungkin ini akan jadi yang terakhir kalinya. Dia menyerap pemandangan rumah itu dan mengenangnya, sampai kemudian pintu gerbang hitam yang tinggi itu tertutup, menghalangi pandangannya.

Selamat tinggal Lee Donghae . Hyukjae mengusap setitik air mata di sudut matanya. Setelah ini aku tidak akan memikirkanmu lagi.

To Be Continue