Title : To Be With You
Main Cast : Byun Baekhyun ㅡ Park Chanyeol
Other Cast : EXO's Members and other
Main Pair : ChanBaek
Genre : School Life, Romance, Family, Brothership, YAOI (BOY X BOY!)
Rating : T
Length & Type : Chapter
.
.
.
WARNING! BOY X BOY! YAOI! TYPO!
.
.
.
DON'T BASH
DON'T PLAGIAT
.
.
.
Summary
Menjadi satu-satunya lelaki paling cantik dan 'tidak manly' diantara saudara-saudaranya adalah malapetaka bagi Baekhyun. Karena apa? Karena meski dirinya selalu menyebut "aku manly!" tetap saja ia selalu diperlakukan seakan ia yang paling bungsu, bahkan oleh adik bungsunya sendiri yang preman nya minta ampun. Lalu apa kabar dengan si pemimpin preman sekolah yang selalu bersikap aneh padanya? Siapa namanya? Park.. Park apa? ah sudahlah, Baekhyun tidak mau mengingatnya.
.
.
.
CHAPTER 8
.
.
.
"Yeol!" Baekhyun mengejar Chanyeol yang berjalan di tempat parkir dengan langkah lebar-lebar. Ia berhasil mencengkeram tangan Chanyeol yang membuat langkah pria jangkung itu terhenti.
"Yeol, tunggu" cicit Baekhyun pelan. Dapat dilihatnya Chanyeol menghela nafas kasar dari punggungnya yang tersentak pelan. Lantas pria itu berbalik dan menghadapnya, menatap Baekhyun dengan pandangan lelahnya.
"Baek, aku sedang tidak mood bicara" Chanyeol menatap Baekhyun datar lalu melepaskan jemari lentik tangan Baekhyun yang melingkar di pergelangan tangannya dengan lembut.
"Tapiㅡ"
Baekhyun belum sempat bicara lebih lanjut saat Chanyeol berbalik memunggunginya dan berjalan menjauh hingga punggung tegapnya mengecil dalam pandangan Baekhyun. Sementara itu Baekhyun hanya bisa menatap Chanyeol sedih. Tiba-tiba ia merasa pipinya basah dan secepat itu pula ia menghapus lelehan air mata yang mengalir di wajahnya.
"Maafkan aku, Yeol. Hikss.."
.
.
.
"Baek, kau tidak apa-apa?"
"Baek? Kau kenapa sih? Ayolah, bicara. Kau membuat kami takut"
"Hyung kau sakit? Perlu kita antar ke UKS? Atau hyung lapar?"
Baekhyun sejak tadi hanya diam, tak menghiraukan Xiumin, Jongdae maupun Sehun yang duduk mengelilinginya di kelas. Intinya, moodnya sedang buruk saat ini. Sikap dingin Chanyeol tadi pagi membuatnya berasa jatuh ke dasar jurang. Menyakitkan.
Tak terasa air matanya kembali turun begitu saja saat merasakan sesak dan takut dalam hatinya. Hal itu tentu saja membuat ketiga temannya kalang kabut melihat Baekhyun menangis dengan tatapan kosongnya.
"YAAA! SESEORANG PANGGILKAN AMBULANCE!" Jongdae berteriak heboh membuat seisi kelas menatap aneh ke arah mereka. Dan itu berhasil menuai toyoran 'sayang' dari Xiumin di kepalanya.
"Bodoh! Jangan memperburuk keadaan" omelnya, namun Baekhyun bukannya berhenti menangis justru malah semakin menjadi-jadi. Ia bahkan sudah terisak di bangkunya dengan kepala yang tenggelam di antara lipatan tangannya di atas meja.
"Hyung, jebal jangan seperti ini. Kau bisa cerita pada kami" Sehun yang tak tahu malu karena berada di wilayah kakak kelas tak menghiraukan apapun. Yang ia pikirkan sekarang hanya Baekhyun. Ia sangat khawatir jika Baekhyun seperti ini karena ia belum pernah melihat Baekhyun menangis sebelumnya.
"Huweee! Hikss. Kak Changmin jahat"
Samar-samar mereka mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Baekhyun yang masih menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangan.
"Kak Changmin itu siapa?" Tanya Jongdae pelan, nyaris berbisik.
"Kakaknya, bodoh!" Xiumin menjawab dengan nada kesal lalu menggeplak kepala Jongdae tak berperikemanusiaan.
"Hyung? Kau bisa cerita pada kami" Sehun melirih. Tangannya terangkat mengelus bahu Baekhyun yang bergetar hebat.
"Hikss.. hiks.. Yeolie maaf" gumamnya ditengah suara isak tangisnya membuat ketiga makhluk yang menemani Baekhyun disana langsung terdiam. Yang Baekhyun maksud pasti Chanyeol. Apa mereka tengah bertengkar? Ketiga saling bertatapan, mengangkat bahu lalu menggeleng serempak.
.
.
.
BUGH
Seluruh isi kelas XI-4 menatap ngeri pada Chanyeol yang baru saja memukul dinding belakang kelas mereka. Ini bukan yang pertama, Chanyeol sudah memukul dinding itu berkali-kali, mengabaikan tangannya yang sudah lecet-lecet dan berlumuran darah.
"Bro, kau kenapa? Santailah sedikit." Meskipun sedikit takut, Zelo tetap berusaha menenangkan Chanyeol. Nafas Chanyeol kini terburu. Wajahnya merah menahan emosi. Yang tak diperhatikan orang lain adalah fakta bahwa mata Chanyeol berair. Ia sudah hampir menangis jika tak sadar dimana sekarang ia berada.
Damn! Kenapa mendapatkan Baekhyun bisa sesulit ini!
"Kau bisa cerita pada kami, ketua" Leo menyahut santai pada Chanyeol yang berdiri menghadap dinding dengan bahu naik turun, membelakanginya.
"Kau ada masalah dengan Baekhyun?"
Sial. Kenapa ucapan Kyungsoo tepat sekali. Hah, menyebalkan. Ia kan jadi galau kembali ketika mengingat kekasih mungilnya yang ia mati-matian coba hindari pagi tadi. Padahal tadi ia sangat ingin mendekap Baekhyun, tapi ia tak ingin kelepasan memaki kakak Baekhyun didepan kekasihnya itu maka dari itu ia mencoba menghindar untuk sementara. Tak tahu saja ia bahwa yang sudah ia lakukan tadi betul-betul membuat Baekhyun terluka dan berakhir dengan terus menangis karena merasa bersalah.
Dan apakah ada yang ingin tahu kenapa Kyungsoo bisa ada disini? Kyungsoo sebenarnya sedang ada jam kosong. Dan karena kelasnya tak jauh dari kelas Chanyeol maka ia pun berada disini sekarang. Memperhatikan Chanyeol yang sedang meluapkan emosinya pada benda mati. Sesekali menguap tak penting dengan apa yang dilakukan sahabat bodohnya itu.
"Cinta itu butuh perjuangan asal kau tahu" ujar Kyungsoo datar, serius dan tajam.
"Yuhuu! Guru-guru rapat jadi kita dipulangkan!" Teriak salah satu anak kelas Chanyeol yang langsung mendapat pekikan senang dari seisi kelas kecuali Chanyeol dan Kyungsoo.
Tanpa membuang waktu, Chanyeol pun menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju kelas Baekhyun tanpa menghiraukan wilayah kakak kelas. Memangnya siapa dia sampai harus takut dengan kakak kelas? Yang ada juga kakak kelas yang takut padanya.
Ia berdiri di depan kelas Baekhyun dengan punggung yang menempel pada pilar. Kepalanya mendongak ke atas menatap langit cerah yang masih bisa ia lihat dari koridor. Samar-samar ia dapat mendengar beberapa orang mengobrol didalam kelas sedangkan yang lain sudah berhamburan keluar untuk segera pulang.
"Baekhyunie. Berhentilah menangis. Aku jadi sedih tahu!"
"Xiumin hyung benar, berhentilah menangis hyung" rengekan itu pastilah dari Sehun, ia dapat mengenal suaranya dengan betul. Jadi, Baekhyun-nya menangis? Apa ini karenanya?
Tanpa basa basi lagi, Chanyeol pun menerobos masuk kedalam kelas Baekhyun tanpa permisi membuat beberapa pekikan kecil dari orang-orang yang masih tersisa didalam kelas, termasuk Sehun. Sedangkan kekasih mungilnya tengah menenggelamkan kepalanya di atas meja dengan bahu bergetar.
"Ini dia pembuat masalahnya!" Sehun menuding Chanyeol dengan jari telunjuknya tetapi Chanyeol mengabaikan itu. Keadaan Baekhyun jauh lebih penting daripada meladeni ucapan Sehun.
Seolah mengerti keadaan, ketiga orang yang masih setia menemani Baekhyun pun akhirnya memberi jarak untuk mereka berdua.
Chanyeol mendekat dengan tatapan bersalah lalu menepuk bahu Baekhyun seraya berbisik lembut, "Bee, sayang"
Dapat dirasakannya bahu Baekhyun menegang kaku saat mendengar suaranya. Lantas pria mungil itu mendongak cepat menatap ke arah Chanyeol dengan tidak percaya. Jangan lupakan wajahnya yang berurai air mata.
"Yeol" Baekhyun bergumam lirih lalu secepat kilat ia langsung menerjang Chanyeol dengan pelukan rindunya. Di abaikan Chanyeol pagi tadi membuatnya melemah, rasanya sudah berbulan-bulan ia tak bertemu Chanyeol, padahal satu hari saja belum.
"Jangan menangis karenaku lagi, baby" bisik Chanyeol lembut seraya membalas pelukan Baekhyun sama eratnya. Ia merasa kemeja sekolah bagian dadanya basah dan pastilah Baekhyun menangis lagi disana.
"Maafkan aku Yeol hiks"
"Akulah yang harusnya minta maaf. Maaf sudah membuatmu menangis. Aku kekasih yang tak becus"
Demi apapun Chanyeol sangat merasa bersalah telah membuat pujaan hatinya dalam keadaan sekacau ini. Apa sebesar itu pengaruhnya terhadap Baekhyun? Ia tak tahu Baekhyun akan sekacau ini hanya karena ia yang menolak bicara pagi tadi di tempat parkir. Sungguh, ia menyesal. Ia memaki dirinya sendiri dalam hati karena sudah membuat Baekhyun menangis. Betapa bodohnya dia.
"Kau boleh memukulku, Baek. Aku memang bodoh karena sudah membuatmu menangis"
Baekhyun menggeleng tegas dalam pelukannya lalu semakin mengeratkan dekapannya pada pinggang Chanyeol hingga rasanya Chanyeol merasa sesak. Tapi tak apa, ini tidak seberapa dengan rasa sakit Baekhyun yang di akibatkan olehnya.
"Maaf, maaf, maaf. Maafkan aku sayang. Jangan menangis lagi" Chanyeol melepas pelukannya dengan sedikit memaksa karena Baekhyun memeluknya begitu erat. Lantas ia menatap Baekhyun dalam lalu menghapus jejak air mata di wajah cantik kekasihnya itu. Mengecup kelopak mata Baekhyun bergantian dan berakhir dengan kecupan lama di dahi Baekhyun dengan penuh sayang.
"Ayo pulang."
Dan Baekhyun hanya menurut begitu saja saat Chanyeol menarik tangannya lembut menuju ke arah tempat parkir. Chanyeol mendorong pelan bahu sempit Baekhyun untuk memasuki mobilnya lalu ia sendiri masuk ke belakang kemudi.
"Yeol" Baekhyun memegang tangan Chanyeol yang hendak memindahkan rem tangan mobilnya hingga kekasih jangkungnya itu menoleh pada alunan suara lembut nan lemah itu.
"Ya, sayang?"
"Aku takut" cicit Baekhyun dengan bibir bawah yang ia gigit.
"Kenapa?"
"Aku takut. Aku takut... kau... pergi" suara Baekhyun terdengar sangat pelan. Namun Chanyeol dapat mendengarnya dengan jelas. Ia sempat kaget dengan ucapan Baekhyun namun ia hanya tersenyum tipis seraya memindahkan tangannya menuju ke kepala Baekhyun lalu mengelus kepala Baekhyun penuh sayang.
"Aku tidak akan kemana-mana, Baek"
"Aku takut sekali, Yeol. Mereka memperlakukanmu seenaknya. Dan aku takut kau menyerah.. lalu.. lalu..."
"Jangan diteruskan" Chanyeol pun menarik Baekhyun dalam pelukannya dan Baekhyun kembali menangis disana. Ia tahu siapa yang Baekhyun maksud dengan 'mereka' dan kemana arah pembicaraan Baekhyun. "Kau tahu? Memilikimu saja rasanya sudah merupakan keberuntungan bagiku. Mempertahankanmu adalah kewajibanku. Tak akan semudah itu aku menyerah dan meninggalkanmu, Baekhyun. Semakin sulit aku mendapatkanmu, semakin sadar aku bahwa kau begitu berharga. Sesuatu yang berharga akan sangat sulit didapatkan. Dan aku tak akan menyia-nyiakanmu, Baekhyun. Tidak akan pernah."
"Ta-tapi aku takut, Yeol hiks"
"Kau tak perlu takut. Aku selalu disini untukmu. Apapun yang terjadi"
Chanyeol lagi-lagi yang pertama melepas pelukan mereka. Mata bulatnya menatap dalam pada mata sipit Baekhyun yang berkilauan seperti mutiara di dasar laut gelap. Perlahan tapi pasti, ia mendekatkan bibirnya pada bibir Baekhyun dan mengecupnya penuh makna. Lalu dilanjutkan dengan lumatan-lumatan kecil yang dibalas oleh Baekhyun secara amatiran. Ia menyudahi aktivitas itu saat dirasanya Baekhyun butuh udara untuk bernafas. Ia tersenyum manis pada yang lebih mungil, sangat manis, sampai-sampai pipi Baekhyun yang masih berlinang air mata merona dibuatnya.
"Ayo pulang"
.
.
.
Setelah sampai di kediamannya, Baekhyun menarik tangan Chanyeol untuk masuk ke rumahnya. Dia bilang ketiga kakaknya sedang sibuk dengan urusan masing-masing berhubung ini masih tengah hari. Baekhyun membawa Chanyeol ke kamarnya dan Chanyeol tertegun saat melihat kamar Baekhyun yang begitu rapi dan berbau manis. Strawberry mungkin? Ah, seharusnya dia tidak aneh lagi dengan kesukaan kekasih mungilnya itu.
Matanya menyapu ke sekeliling ruangan saat Baekhyun mengatakan ia pergi sebentar untuk berganti baju dan tubuh mungilnya itu menghilang dibalik closet. Langkah kaki lebarnya membawa ia menuju dinding dimana rentetan foto berbingkai dipajang acak disana.
Kekehan geli langsung keluar dari bibir kissable nya saat melihat foto Baekhyun dengan kedua temannya yang mengenakan pakaian heboh seperti seorang superstar. Itu sangat lucu dan menggemaskan. Bagaimana ketiga orang yang duduk di bangku kelas XII itu bisa terlihat lugu seperti anak SMP.
Disana ia juga melihat foto masa kecil Baekhyun yang sangat menggemaskan, apalagi saat balita. Menurutnya wajah Baekhyun tak mengalami banyak perubahan sejak kecil. Tetap baby face. Dan matanya berhenti pada sebuah bingkai foto yang lebih besar dari yang lainnya, berisi foto Baekhyun dan Jongin yang terlihat sangat dekat dan akrab, berbeda dengan realita yang ia lihat. Kira-kira kapan Baekhyun mengambil foto itu? Ia tak dapat menebak karena wajah kedua saudara itu terlihat sama seperti dengan yang sekarang.
Perhatiannya teralihkan saat mendengar suara pintu dibuka dan menampilkan Baekhyun yang baru saja keluar dari closet dengan mengenakan pakaian santai ala rumahannya.
"Kau bilang mau belajar berenang. Kapan itu?"
Seketika Baekhyun menepuk dahinya, ia melupakan hal itu. Kenapa Chanyeol bisa lebih ingat darinya padahal kan pihak yang membutuhkan bantuan disini adalah dirinya. "Tidak mungkin sekarang, kau kan tidak bawa bajuㅡ"
"Aku membawa celana renangku. Kita bisa mulai dari hari ini. Dibawah ada kolam berenang kan?" Chanyeol mengangkat bahunya santai dan melepas sebelah tali gendong tas nya hingga kini ia menggendong tasnya dengan sebelah bahu, bahu kanannya. Terlihat sangat tampan dan gayanya Chanyeol sekali. Arogan dan penuh gaya.
"Kau tidak keberatan?" Baekhyun bertanya ragu-ragu dan ekspresinya terlihat begitu tidak meyakinkan. Dan itu menuai senyum manis Chanyeol yang terlihat sangat tampan menghiasi wajahnya yang memang sudah tampan. Menyebut-nyebut ketampanan Chanyeol memang tidak akan pernah ada habisnya. Lelaki itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi tampan.
"Tentu saja tidak. Sudah kubilang apapun untukmu, baby"
Setelah melewati pase menggoda-digoda, keduanya sepakat untuk mulai berlatih berenang siang ini. Lantas mereka berdua kini sudah berada didalam air dengan Chanyeol yang lengkap dengan peralatan berenangnya dan Baekhyun yang juga begitu. Hanya saja Chanyeol toples dengan celana renang berwarna hitamnya yang sexy serta Baekhyun yang mengenakan pakaian renang yang disertai baju. Tentunya ia malu untuk bertelanjang dada di hadapan Chanyeol. Tapi ia jadi salah tingkah sendiri saat melihat pemandangan erotis yang tersaji di hadapannya, Chanyeol dan tubuh atletisnya. Pria nya itu begitu jantan dengan bentuk tubuhnya yang sempurna. Tinggi, berotot, berbau khas pejantan, dan jangan lewatkan perut kotak-kotaknya. Wajah Baekhyun merona malu saat melihat itu. Untung kini mereka sudah berada di dalam air.
Baekhyun sebenarnya tidak terlalu buta dalam masalah berenang. Hanya saja teknik yang ia gunakan masih salah, jadi ia membutuhkan seorang ahli seperti Chanyeol untuk mengajarinya. Chanyeol ini memang tipe pacar yang sangat sempurna bagi Baekhyun. Sangat mendominasi dan seorang penuntun yang handal. Jantan, ya begitulah. Sebut saja ia boyfriend material.
"Kau bilang gaya dada kan?"
Baekhyun hanya mengangguk kikuk atas pertanyaan Chanyeol. Ia sangat sangat canggung untuk saat ini.
Dulu ia dan Chanyeol adalah sepasang Tom & Jerry sebelum mereka saling jatuh dalam pesona lawan masing-masing namun begitu meninggikan gengsi. Dan sekarang mereka berakhir dalam kisah romansa khas anak muda. Jadi intinya, Baekhyun tak terbiasaㅡ atau mungkin belum terbiasa dengan adanya Chanyeol di sampingnya dengan segala perlakuan manisnya yang tak disangka-sangka.
"Kau pernah lihat katak berenang?" Baekhyun mengangguk, "pernah kau perhatikan bagaimana kaki dan tangannya bergerak untuk bisa berenang?"
"Ya, kurasa" jawabnya ragu.
"Kau hanya tinggal menggerakan tanganmu seperti ini" Chanyeol mempraktekan gerakan tangannya di atas permukaan air yang hanya setinggi dadanya sedangkan pada Baekhyun nyaris menyentuh hidung jika saja lelaki mungil itu tak berjinjit. "Lalu disaat yang bersamaan kau gerakan kakimu seperti katak. Kau tahu? Seperti... meraup air dengan kakimu kedalam. Dan disaat tangan serta kakimu bergerak kedalam, maka otomatis kau akan mudah menyembulkan kepalamu ke permukaan untuk mengambil nafas. Coba kau perhatikan ini"
Chanyeol mulai mengambil posisi merapat ke dinding kolam lalu ia bergerak melesat kedepan dengan gaya meluncur yang sangat indah, Chanyeol meluncur cukup jauh dan tubuhnya menyelam hampir kedasar kolam. Setelah dirasa gerakan meluncurnya melambat, Chanyeol segera melakukan gaya dada untuk menunjukkan pada Baekhyun dan Baekhyun begitu takjub akan kelihaian Chanyeol dalam berenang. Tubuhnya bergerak sinkron selayaknya apa yang diharapkan dari seorang atlet renang. Ia takjub bukan main, bahkan sampai tak sadar saat tubuh Chanyeol mendekat lagi ke arahnya dan kini berdiri di hadapannya dengan rambut basah serta air yang terus mengalir dari rambut ke wajah serta dadanya. Sangat sexy. Dan sangat panas. Membuat pipi Baekhyun tak bisa untuk tak merona.
"Bagaimana? Mau mencoba?" Kekeh Chanyeol saat melihat ekspresi gugup Baekhyun dan disambut anggukan kaku dari yang ditanya. "Aku yakin kau sudah bisa dengan gerakan tangannya. Asal kau ingat poin pentingnya; jangan merentangkan tangan terlalu lebar dan rapatkan jari-jari tanganmu agar bisa membawa air. Jadi sekarang kau akan belajar cara menggerakan kakimu"
Chanyeol mengulurkan kedua telapak tangan besarnya di hadapan Baekhyun dan disambut uluran tangan lainnya dari Baekhyun dengan gaya malu-malu yang sangat menggemaskan. Chanyeol tersenyum selayaknya pria jantan lalu memposisikan dirinya didepan menghadap pada Baekhyun. Ia mulai menarik tangan Baekhyun dan memberinya aba-aba untuk ikut menggerakan kaki serta tubuhnya saat ia berjalan mundur untuk menarik Baekhyun.
"Ya, begitu. Lakukan pelan-pelan saja."
"Ini sangat tidak enak, Chan. Rasanya aneh dan kaku" rengek Baekhyun sambil terus berusaha melakukannya sebaik mungkin bersamaan dengan Chanyeol yang menariknya terus ketengah kolam. Baekhyun melakukannya sebisa mungkin dan seperti apa yang Chanyeol katakan tadi; saat kakinya bergerak kedalam, ia mencoba mendorong badannya ke atas air hingga kepalanya menyembul cukup tinggi di atas air, itu efek pegangannya pada Chanyeol.
"Pada awalnya memang terasa aneh, tapi lama kelamaan kau akan terbiasa. Teruslah mencoba" Chanyeol memberikan senyuman terbaiknya untuk Baekhyun dan Baekhyun merasakan ketenangan yang luar biasa saat senyuman itu berhasil menghantarkan berjuta-juta volt listrik padanya hingga kini dadanya berdegup sangat kencang serta wajahnya yang terasa terbakar. Padahal jika diperjelas lagi, itu hanyalah sebuah senyuman. Baekhyun merasa ia bisa-bisa overdosis jika lama-lama menatap wajah Chanyeol.
Kenapa ia begitu merasa sangat jatuh begitu dalam pada pesona Chanyeol? Apa dulu Chanyeol yang lebih awal menyukainya sehingga kini ia merasa jatuh begitu dalam? Rasanya menyenangkan, seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang didalam perutnya. Chanyeol dan pesona nya begitu mengagumkan.
"Bee? Kenapa berhenti sayang?" Chanyeol menghentikan langkah mundurnya ditengah kolam saat Baekhyun menghentikan gerakan kakinya dan malah berdiri kaku di hadapannya.
"Yeol, sejak... sejak kapan kau menyukaiku?" Cicit Baekhyun malu-malu.
Chanyeol mengernyit, "memangnya kapan aku bilang aku menyukaimu?"
Wajah Baekhyun seketika kaku, ia malu. Bahkan wajahnya sudah merah sampai ke telinga dan itu membuat Chanyeol ingin tertawa namun ia menahannya. Chanyeol malah menaikkan satu alisnya dengan ekspresi congkak yang menyebalkan.
"Yeol.." Baekhyun merajuk, ia memajukan bibirnya dengan wajah ditekuk. Dan itu berhasil meluluhkan Chanyeol dengan kepura-puraannya. Lantas Chanyeol pun tertawa lebar dan mengecup pipi Baekhyun cepat membuat Baekhyun semakin malu dan menunduk dalam.
"Jangan menunduk" Chanyeol meraih dagu Baekhyun kemudian mengangkatnya. Ia menangkup sebelah pipi Baekhyun dengan tangannya sementara tangannya yang lain masih memegang erat tangan Baekhyun didalam air. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Hanya ingin tahu"
"Baiklah, jika kau memaksa" Chanyeol terkekeh, "dulu sekali"
"Hah?"
"Maksudku aku menyukaimu sejak kau mengantar seragam olahraga padaku"
Jawaban Chanyeol berhasil membuat Baekhyun menganga tak percaya. Itu artinya Chanyeol lebih dulu menyukainya? Dan itu sudah lama.
"Itu sudah lama. Kenapa kau tidak bicara?"
"Karena aku tahu kau membenciku saat itu. Sangat malah. Seolah jika membunuh itu di legalkan di Korea Selatan maka kau akan membunuhku detik itu juga" Chanyeol terkekeh lagi sedangkan Baekhyun merengut tidak setuju dan dengan cepat memeluk tubuh top less Chanyeol dengan erat.
"Baekkie sayang Chanyeollie" sangat lucu di telinga Chanyeol saat ia mendengar Baekhyun memanggil dirinya sendiri dengan nama. Terdengar seperti gurauan anak kecil. Namun kalimat yang di ucapkan si mungil ini sudah berhasil membuat jantung Chanyeol berdegup kencang. Perasaan hangat menjalar hingga sampai ke dadanya dan itu sangat menyenangkan. Memiliki Baekhyun adalah suatu hal yang sangat tidak disangka-sangka. Maka, ia pasti akan mempertahankan Baekhyun apapun yang terjadi.
"Aku juga sangat mencintaimu, Baekhyunie. Kau segalanya"
Nyut
"Aw. Itu sakit sayang" Chanyeol mengeratkan pelukannya dengan gemas saat Baekhyun justru terkikik geli setelah mencubit pinggang telanjangnya didalam air. "Ayo berlatih lagi" Chanyeol hendak melepas pelukannya namun Baekhyun seolah tidak ingin dilepaskan dan malah semakin menautkan kedua tangannya di belakang tubuh Chanyeol.
"Tidak mau. Sebentar lagi saja Yeol. Ini sangat nyaman dan hangat." rengekan Baekhyun selalu berhasil membuat Chanyeol luluh. Dan akhirnya ia membiarkan mereka untuk berpelukan beberapa saat lagi sampai Baekhyun-nya merasa puas meski pada kenyataannya Baekhyun tidak akan pernah merasa puas memeluk Chanyeol, yang ia inginkan adalah terus memeluk Chanyeol selamanya, tanpa melepasnya. Tentu saja itu tidak mungkin karena mereka butuh untuk makan, mandi, tidur, dan sebagainya.
Di atas tangga menuju ke kolam berenang, berdiri Donghae sejak beberapa saat yang lalu. Ia mematung disana saat melihat kedua anak remaja itu tengah berada ditengah kolam berenang dengan Chanyeol yang terus menuntun Baekhyun dengan sabar untuk berenang. Ia berdiri disana sejak tadi memang. Dan entah kenapa ia tak tega untuk memisahkan keduanya seperti biasanya. Mereka sangat serasi dan Baekhyun terlihat sangat nyaman berada didekat Chanyeol apalagi saat matanya melihat Baekhyun yang memeluk Chanyeol begitu erat. Tidak ada rasa marah dalam dirinya, justru ia terharu karena merasa bahwa Baekhyun-nya yang manja sudah mulai tumbuh dewasa dan sudah mulai menjalin asmara dengan seseorang. Ia lega karena Baekhyun setidaknya telah menemukan seseorang yang bisa melindunginya dan begitu menyayanginya.
Maka dengan itu, Donghae pun berbalik kembali masuk kedalam rumah untuk memberikan ruang dan waktu bagi kedua anak SMA yang sedang saling jatuh cinta itu.
.
.
.
"Yeolie kau mau pulang sekarang? Kenapa tidak menginap saja?" Tanya Baekhyun seraya bergelayut manja dilengan Chanyeol yang sudah berdiri di samping mobilnya.
"Aku ada urusan, baby" Chanyeol berusaha membuat Baekhyun mengerti namun percayalah bahwa Baekhyun yang seperti ini sangatlah keras kepala dan kekanakan.
"Urusan apa? Berkelahi eo? Atau balapan liar?" Nada suara Baekhyun meninggi. Kentara sekali ia tidak suka. Lagipula siapa sih yang setuju saat kekasihnya membahayakan diri dengan berkelahi atau balapan liar? Yang pasti Baekhyun juga tidak setuju.
"Sesuatu yang harus ku urus pokoknya" Chanyeol menjawil hidung mancung Baekhyun lalu mengecup puncak kepala kekasihnya itu lama.
"Chanyeolie selalu saja begitu." Baekhyun merengut dan melepaskan tangan Chanyeol dari pelukannya. Ia berdiri didepan Chanyeol dengan wajah ditekuk serta pandangan yang ia buang asal, tidak menatap Chanyeol.
"Besok aku jemput ya?" Chanyeol memegang kedua bahu Baekhyun erat sambil sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Baekhyun.
"Tidak perlu! Aku akan pergi dengan kak Minho!" Baekhyun menghempaskan kedua tangan Chanyeol yang bertengger di bahunya lalu menaiki tangga untuk masuk kembali kedalam rumahnya dengan kaki menghentak-hentak dan tanpa menoleh lagi pada Chanyeol.
Sementara itu Chanyeol hanya dapat menghela nafasnya pasrah. Baekhyun itu kekanakan. Seperti anak kecil. Biasanya Chanyeol benci tipikal kekasih seperti itu. Tapi entah kenapa saat Baekhyun yang melakukannya, ia justru malah tersenyum seperti orang idiot. Ia menyukai segala hal yang ada pada Baekhyun meski Baekhyun kelewat manja. Ia tak akan bisa berbalik hanya untuk meninggalkan kekasih cantiknya itu. Tak akan bisa. Dan tak akan pernah.
.
.
.
"Baek kau sedang apa?" Suara Chanyeol terdengar rendah dan merdu di ujung telepon sana, membuat Baekhyun berdebar dan merona tidak jelas. Padahal Chanyeol tidak berada dihadapannya saat ini. Tapi ia dapat membayangkan seberapa tampan kekasihnya itu saat ini. Ia merasa selalu jatuh dan jatuh lagi setiap saat pada pesona Chanyeol.
"Aku sedang diam. Rasanya membosankan Yeol" keluh Baekhyun sembari berguling-guling di kasurnya.
"Ganti bajumu, Baek"
"Hah?"
"Ganti bajumu"
"Aku sudah pakai piyama kok"
"Aigoo. Baekhyun-ku yang cantik. Maksudku, kita keluar malam ini"
Baekhyun langsung merona, "kau mengajakku berkencan?"
"Menurutmu?"
Lalu Baekhyun mematikan sambungan dengan sengaja secara sepihak. Wajahnya sudah merah padam dan ia langsung menenggelamkan wajahnya kedalam bantal. Ia lalu mengirim pesan pada Chanyeol agar pria nya itu tak salah paham.
'Aku akan bersiap-siap'
.
.
.
Chanyeol sudah bersandar di kap mobil kesayangannya ketika Changmin baru saja sampai dirumah dan keluar dari mobilnya dengan tampilan formal serta wajah lelahnya.
"Sedang apa kau?" Tanya Changmin dengan kening berkerut sedemikian rupa. Kaki-kaki panjangnya bergerak ke arah Chanyeol dan berdiri di hadapan Chanyeol yang juga ikut berdiri tegak demi menjaga kesopanan.
"Aku menjemput Baekhyu, hyung" mata Chanyeol menatap kebawah, tak menatap langsung mata Changmin. Bukan karena ia takut, tapi tentu saja karena ia menghormati Changmin sebagai calon kakak iparnya. Ia tak boleh membuat imej nya semakin buruk di hadapan Changmin.
Changmin sempat mengernyit mendengar jawaban Chanyeol, namun sesaat kemudian ekspresinya kembali biasa.
"Jangan pulang terlalu malam"
Itulah yang Changmin katakan ketika ia melangkahkan kakinya pergi menaiki tangga untuk masuk kedalam rumah, meninggalkan Chanyeol yang tertegun. Apa ia baru saja mendapatkan lampu hijau dari Changmin? Entahlah. Apakah sekarang ia harus berteriak sambil mengelilingi kompleks rumah Baekhyun?
Tidak, terimakasih. Ia masih waras untuk itu.
Tak lama setelah Changmin masuk, Baekhyun pun keluar dengan wajah malu-malunya, berjalan menghampiri Chanyeol dan menunduk dalam setelah ia berada di hadapan kekasih jangkungnya itu.
"Kau cantik, seperti biasanya" puji Chanyeol yang terdengar sangat sexy di telinga Baekhyun. Lantas jari-jari mungil itupun mencubit gemas perut Chanyeol yang keras dan berotot.
"Aw, sakit baby." Chanyeol merajuk sambil memegangi perutnya dan pura-pura berekspresi kesakitan.
"Tck. Pendusta" Baekhyun mengangkat wajahnya lalu menjulurkan lidah untuk mengejek Chanyeol dan itu berhasil menuai kekehan geli dari Chanyeol. Kekasih mungilnya ini begitu manis, pikirnya.
"Hehehe. Ayo pergi" setelah menunjukkan kekehannya yang jarang ia tunjukkan di hadapan orang lain, Chanyeol pun menarik Baekhyun dengan lembut untuk masuk kedalam mobil. Satu tangannya membukakan pintu mobil untuk Baekhyun sedangkan tangannya yang lain berada di tepi atas mobil untuk menjaga agar kepala Baekhyun tak terantuk. Setelahnya, ia menutup pintu mobilnya dengan lembut sedangkan ia berjalan memutar memasuki kursi kemudi.
"Kita pergi kemana Yeol?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan polosnya dan dibalas sebuah senyum tampan dari Chanyeol.
"Kau mau kemana?"
"Kedai ice cream"
"Sudah makan?"
Baekhyun menggeleng dan Chanyeol mendengus. Tangannya terulur untuk mengacak surai Baekhyun dengan lembut.
"Kita makan dulu. Setelahnya baru kau bisa makan ice cream"
"Benarkah? Yeollie tidak bohong kan?" Tanya Baekhyun dengan mata yang berbinar menggemaskan. Ia menatap Chanyeol dengan polos dan Chanyeol tak tahan untuk tak memberikan sebuah kecupan manis di pipi Baekhyun. "Ih! Yeollie jangan mesum" Baekhyun melotot lalu sedetik kemudian ia langsung memalingkan wajahnya yang sudah merah padam. Sementara itu Chanyeol malah terkikik geli lalu mulai membawa mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Baekhyun.
"Baek? Kenapa kau diam saja?" Tanya Chanyeol saat mobilnya sudah 5 menit melaju dan Baekhyun masih tetap terdiam dengan bibir mengerucut lucu.
"Yeollie mesum" Baekhyun merajuk.
"Tapi kau suka kan?" Tanya Chanyeol penuh godaan sambil menaik-turunkan alisnya pada Baekhyun dan sukses membuat Baekhyun mencubit gemas paha Chanyeol yang dilapisi ripped jeans.
"Dasar menyebalkan" decaknya.
"Kau itu tipe pacar tsundere ya Baekhyunie" ujar Chanyeol dengan senyum lebar yang tak kunjung luntur dari wajah tampannya.
"Kau juga tau!" Balas Baekhyun sambil mencebik imut. Mereka memang cocok, sama-sama tsundere, sebut saja begitu.
"Kau dulu sangat benci padaku"
"Kau juga dulu sangat menyebalkan padaku"
"Tapi sekarang kau imut dan menggemaskan"
"Ih Chanyeol~" Baekhyun malu dan tanpa sadar kembali mencubit gemas paha Chanyeol membuat empunya meringis karena cubitan Baekhyun sangatlah pedas, ia bersumpah. "Kau juga sekarang jadi lebih sering tersenyum" lanjutnya malu-malu. Membayangkan sikap Chanyeol dulu dan sekarang memanglah sangat mengesankan baginya. Bagaimana pria itu bisa berubah hanya karena sudah official dengannya, membuat ia berbangga diri. Chanyeol-nya yang tampan dan hangat.
"Oh ya, Baek. Bagaimana dengan kepindahanmu?" Tanya Chanyeol setelah mereka kembali terdiam. Pertanyaan Chanyeol itu langsung saja membuat Baekhyun menatapnya sayu dan membuat Chanyeol sendiri ragu. Apakah mereka sungguhan harus LDR? Apakah usahanya dulu bicara pada Kangta tidak membuahkan hasil?
"Aku..." Baekhyun menggantung ucapannya membuat Chanyeol semakin penasaran dibuatnya, "aku tidak jadi pindah! Yeay!" Teriak Baekhyun didalam mobil Chanyeol seraya menunjukkan ekspresi bak anak anjing yang menuai senyum manis Chanyeol. Ia padahal sudah tegang tadi.
"Jadi kau mau mengerjaiku, hm?"
"Aniya" Baekhyun menggeleng polos.
"Ah jinjja, kekasihku yang manis ini mau mengerjaiku, eo? Nappeun namja" Chanyeol menjawil gemas hidung Baekhyun dan membuat Baekhyun merengut tidak suka kepadanya.
"Nan nappeun namja anira~" rengek Baekhyun seraya mengusakkan hidungnya di lengan Chanyeol yang memegang stir. Ia lalu mendongak menatap Chanyeol dengan mata puppy nya yang menggemaskan sedangkan Chanyeol memelankan laju mobilnya untuk dapat membalas tatapan Baekhyun yang masih berada di lengannya.
"Aigoo~ lucunya"
Mencari kesempatan dalam kesempitan sepertinya adalah keahilan Chanyeol, karena apa? Karena baru saja pria itu mencuri satu kecupan di bibir ranum Baekhyun membuat empunya kaget sekaligus malu.
"Ihh! Dasar mesum! Mesum! Mesum!" Rajuk Baekhyun sambil menghujani Chanyeol dengan pukulan bertubi-tubi di lengannya.
"Kau yang memberiku kesempatan dalam kemesuman itu, sayang" ujar Chanyeol sambil tertawa.
"Chanyeooooool!"
"Hahaha. Arasseo arasseo. Aku tidak akan menggodamu lagi"
Sementara Chanyeol tertawa, Baekhyun justru malah tertegun melihat tawa Chanyeol yang lepas dan semakin menunjukkan ketampanan pria itu.
"Yeol?"
"Hm?"
"Jangan tertawa dihadapan orang lain ya?"
Chanyeol mengernyit heran, "kenapa?"
"Aku tidak ingin mereka terpesona oleh ketampananmu." Setelah mengatakan hal itu, Baekhyun langsung saja menenggelamkan wajahnya di paha Chanyeol dengan malu. Wajahnya sudah merah padam sampai ke telinga dan ia dapat mendengar Chanyeol yang terkekeh setelah mendengar ucapannya.
"Dasar. Baiklah, tawaku hanya untukmu, Baek. Aku hanya milikmu" Chanyeol melepaskan sebelah tangannya dari kemudi, lalu beralih untuk mengusap rambut Baekhyun yang masih menenggelamkan dirinya di paha Chanyeol. Untung Baekhyun bukan menenggelamkan wajahnya di selangkangan Chanyeol /eh?/
.
Mobil hitam metalik Chanyeol baru saja berhenti di sebuah cafe yang cukup ramai, si pengemudi kemudian turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi si penumpang.
Baekhyun lagi-lagi harus merona karena perlakuan manis Chanyeol. Apalagi di tempat parkir ini tidak hanya ada mereka, melainkan ada beberapa pengunjung lain yang entah baru datang atau mau pulang. Yang membuat Baekhyun risih adalah sekumpulan wanita berpakaian modis ala remaja masa kini yang berkumpul tak jauh dari mobil Chanyeol dan menatap Chanyeol penuh pujaan. Baekhyun sangat tidak suka melihat tatapan mereka pada Chanyeol-nya. Chanyeol-nya hanya miliknya dan miliknya tidak boleh dilihat seperti itu oleh orang lain.
Maka dengan api cemburu yang membakarnya, Baekhyun pun menggandeng tangan Chanyeol dengan posesif seolah ingin menunjukkan pada mereka bahwa pria tinggi nan tampan itu datang kesini bersama pasangannya.
Chanyeol yang awalnya tidak mengerti kenapa sikap Baekhyun berubah drastis seperti ini pun mulai paham saat melihat mata Baekhyun yang mendelik pada sekumpulan gadis yang berdiri tak jauh dari mereka. Mengerti akan keinginan kekasih mungilnya ini, Chanyeol pun balik menggandeng Baekhyun. Tangannya yang tak bergandengan dengan Baekhyun terangkat untuk mengusap rambut hitamnya. Lalu Chanyeol mengecupi kepala Baekhyun sampai ke pelipisnya di hadapan para gadis itu membuat mereka merengut karena ternyata si tampan sudah memiliki kekasih.
"Ayo masuk, Yeollie" ajak Baekhyun manja yang ditanggapi anggukan dari Chanyeol.
Mereka pun masuk kedalam cafe, melewati para gadis yang menatap mereka iri, menatap Baekhyun iri lebih tepatnya.
"Kau hanya milikku kan Yeol?" Tanya Baekhyun dengan nada posesif yang sangat menggemaskan.
"Tentu baby." Chanyeol tersenyum manis pada Baekhyun lalu mengecup kening Baekhyun lama. Biasanya ia tidak suka dengan kekasih yang posesif. Bagi Chanyeol, kekasih posesif itu sangat mengesalkan dan menjengkelkan. Namun jika Baekhyun yang melakukan itu, ia tak akan pernah keberatan. Justru ia senang dengan sikap posesif Baekhyun yang itu artinya Baekhyun peduli padanya dan tak ingin kehilangannya.
Setelah memesan makanan dan minuman, mereka memilih tempat makan di pojok cafe yang berada di samping dinding kaca full body yang menghadap langsung ke arah jalanan. Chanyeol duduk di hadapan Baekhyun dan kedua tangan mereka saling bertautan di atas meja.
"Aku tidak suka melihat tatapan mereka tadi, Yeol" adu Baekhyun. Bibirnya maju beberapa cm lalu menatap Chanyeol dengan tatapan puppy andalannya.
Ibu jari Chanyeol mengelus punggung tangan Baekhyun dengan lembut. Tatapannya begitu teduh dan menenangkan. Membuat Baekhyun merasa bahwa Chanyeol tak akan pernah pergi darinya. Ia tenang.
"Mereka tidak apa-apanya dibanding denganmu, Baekie" ujarnya dengan nada suara tenang.
"Aku tahu. Mereka jelek" Baekhyun terkekeh dan Chanyeol pun ikut terkekeh. Baekhyun jelas-jelas berbohong dan menguatkan dirinya sendiri. Yang barusan ia katakan tak lain adalah untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Baekhyun tahu gadis-gadis diluar tadi cantik-cantik dan tubuh mereka proporsional tentunya. Tapi Baekhyun berusaha meyakinkan dirinya bahwa Chanyeol tidak sebrengsek itu.
"Chanyeol!"
Baekhyun dan Chanyeol menoleh bersamaan saat seseorang memanggil nama Chanyeol dengan keras dari arah jam 9. Lalu seorang gadis cantik dengan rambut pink sepinggangnya berjalan cepat ke arah mereka dan tahu-tahu mengecup pipi Chanyeol tanpa permisi.
Mata Baekhyun melotot kaget, bibirnya sedikit terbuka dan matanya sudah berkaca-kaca. Sedangkan wanita yang berdiri di sebelah Chanyeol kini malah tersenyum manis pada Chanyeol yang diam tak merespon, mungkin ia masih berpikir.
"Apa kabarmu, Chanyeol? Kau terlihat makin tampan saja, kau tahu?" Gadis itu ㅡJoyㅡ memegang bahu Chanyeol dan saat itu Baekhyun langsung melepas genggaman tangan Chanyeol dari tangannya. Ia berdiri dari kursinya dengan kasar hingga menimbulkan suara derit yang keras membuat orang-orang didalam cafe menoleh padanya. Tanpa berkata apapun, Baekhyun langsung berjalan cepat keluar dari cafe dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
Sedangkan Chanyeol yang masih duduk di kursinya menggeram rendah. Ia menatap Joy tajam sebelum ia ikut berdiri dan menyimpan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar makanan yang mereka pesan meski makanannya belum datang.
"Jangan berbuat seenaknya, Joy! Kau menyakiti kekasihku!" Desis Chanyeol tajam. Ia mengusap kasar pipinya yang tadi dicium oleh Joy dihadapan gadis itu seolah menunjukkan bahwa ia jijik terhadap apa yang tadi gadis itu lakukan padanya. Dan dengan langkah kaki lebarnya, ia berjalan keluar dari cafe untuk menyusul Baekhyun yang telah lebih dulu pergi. Ia tahu perasaan kekasih mungilnya itu pasti sangat kacau saat ini.
"Baek! Baekhyun-ah!" Panggil Chanyeol saat Baekhyun berjalan cepat nyaris berlari beberapa meter didepannya. Bahkan kini mereka sudah berjalan cukup jauh dari pelataran parkir cafe tadi.
"Baekhyun! Tunggu"
Karena tak mau Baekhyun terus salah paham, maka Chanyeol pun berlari dengan kaki-kaki panjangnya dan berhasil menggapai lengan kurus Baekhyun. Ia menarik Baekhyun agar menghadap padanya dan cukup terkejut saat melihat air mata yang sudah membasahi wajah Baekhyun. Hatinya remuk redam mendapati Baekhyun yang lagi-lagi menangis karenanya.
"Sayang, dengarkan duluㅡ"
"Tidak! Tak ada yang perlu ku dengarkan! Semuanya sudah jelas!" Jerit Baekhyun ditengah tangisnya sambil berusaha melepaskan cengkeraman Chanyeol.
"Baek, kau salah paham sayang. Dia bukan siapa-siapa"
"Jika dia bukan siapa-siapa kenapa dia menciummu? KENAPA? Kau pria jahat!" Baekhyun memukul-mukul dada Chanyeol sekuat tenaga dengan tangan yang masih berada dalam cengkeraman pria itu.
"Makanya kau harus mendengarkan dulu, Baek"
"ANDWAE! Kau jahat! Pria jahat! Kau playboy! Aku benci kau!" Tangis Baekhyun malah semakin menjadi-jadi saat Chanyeol menariknya kuat untuk masuk kedalam dekapannya hingga Baekhyun dapat mencium aroma khas Chanyeol yang akan selalu ia rindukan. Ia menangis sejadi-jadinya saat berpikir mungkin sesudah ini ia tak akan bisa memeluk Chanyeol seperti ini lagi.
Ia ingin terus memeluk Chanyeol namun ingatan tentang kejadian menyakitkan tadi membuat ia mendorong dada Chanyeol keras hingga pelukan mereka terlepas.
Baekhyun menatap Chanyeol penuh rasa kesakitan dan Chanyeol balas menatapnya dengan rasa bersalah dan kasih sayang, "jika kau suka yang berdada besar, aku mengalah Yeol hiks."
"Apa? Kenapa bicara begitu Baek?"
"Apa susahnya mengatakan bahwa kau mencintainya? Bukan aku! Aku akan mundur Yeol, sungguh"
"Baekhyun dengarㅡ BAEKHYUN!"
.
.
.
To be continue
.
.
.
Gaje ya? Maafkan author yang belakangan ini kehilangan mood buat nulis guys.
Gantung ya? Emang. Sengaja. Hehehe.
Pengen lanjut? Ya review dong..
Kuy ahh ditunggu review nya.
