Wind Portal


-Love Forever-


©BocahLanang

.

.

.


Ӝ-Forest Viridian-Ӝ


...

Setelah beberapa belokan yang menurut Jongin sempit, lelaki tan itu sadar bahwa ia digiring oleh penjaga khusus itu melalui jalur pintas rahasia. Mka semakin merasa janggal lah ia saat ini.

Kalaulah memang nyawanya diujung tanduk, semoga saat dia mati nanti maka ia akan terbangun di masa depan dengan Sehun disampingnya.

Sibuk berfikir, Jongin tanpa sadar menabrak bahu kokoh seorang penjaga yang sedari tadi berjalan didepan memandunya. Usianya kira-kira 30 tahunan.

"Maafkan saya" Jongin langsung membungkuk dalam. Ia takut dijagal disini.

"Tidak apa kasim Jong, lagipula kau lebih tinggi tingkatannya dariku. Kau kan pelayan utama pangeran." Lelaki itu tersenyum ramah pada Jongin membuat Jongin menjadi kikuk. Ternyata dibalik wajah tegasnya, lelaki itu memiliki senyum yang menenangkan.

"Apa.. aku boleh tahu namamu?" Jongin bertanya ragu. Ia hanya ingin punya sahabat bicara selain si ungu kelam pangeran cahaya yang beberapa hari ini selalu mengusili dirinya. Mengingat seringainya saja sudah sangat membuat jengkel.

"... Bulan" jemari kokoh lelaki itu menunjuk ke langit yang cerah siang bolong ini. Tidak ada bulan.. wajah Jongin terlihat idiot ketika mencari cari bulan di langit biru muda.

Penjaga itu terkekeh geli, membuat Jongin sadar dan memandang sengit seolah ia barusaja dibodohi. Gemerisik pakaian besi terdengar ketika penjaga itu membungkuk hormat. "Anda berjalanlah lurus, tekan batu berwarna lebih gelap di dinding kanan, lalu masuklah. Disana ada aula luas. Masuklah ke pintu berwarna hijau giok."

"Batu seperti ap-"


Belum selesai Jongin bertanya, sosok penjaga gagah itu telah menghilang dari pandangannya. Benar-benar menghilang cepat layaknya pendekar di film-film colosal cina.

"Harusnya aku mengingat rute perjalanan kesini. Setidaknya aku bisa keluar dari istana dan mencari portal apalah itu yang penting aku tidak terkekang bersama sang pangeran jahat itu." Jongin menggerutu sembari berjalan lurus sesuai perintah penjaga tadi. Dan ia kembali merasa campur aduk ketika jalan didepannya ternyata buntu. Sungguh ia lupa jalan kembali yang berbelok-belok sempit dengan pintu-pintu cabang.

"Batu berbeda warna?" disamping kanannya itu terlihat samar. Hampir sama dengan yang lainnya, namun ia masih bisa melihat perbedaannya. Jemarinya dengan halus mencoba menekan batu itu.

GRAAKK..

Benar saja, beberapa batu terbuka memperlihatkan celah sempit yang ia yakin lelaki bertubuh kekar seperti binaragawan tidak mampu masuk melewatinya. Untunglah Sehun tidak pernah memperbolehkannya mengambil jadwal fitness khusus memperbesar otot bahu.

Oh sial, karena seminggu ini ia hanya bermalas-malasan dan menjelang ujian tidak bisa bermain di gym, lengannya yang mulai berotot kini sudah menyusut kecil lagi. Tidak! Ia tidak mau menjadi beruang berlemak lagi!

Segera kaki jenjangnya melangkah menyamping, karena celah ini memang sangat sempit, dan setelah ia masuk batu-batu itu menutup kembali hingga berdentum keras. Wah.. tidak ia pikirkan bagaimana bila ia belum selesai keluar dari lorong sempit itu dan batu sudah menutup kembali. Ia yakin tubuhnya hancur berkeping-keping dengan dentuman seperti itu.

"Ah.. hampir saja kelupaan! Pintu warna hijau-oh astaga.."

Jongin berjengit kaget melihat betapa besar aula didepannya. Dengan gelaran kain sulaman karpet indah emas dibawah pijakannya. Kolam renang besar dengan air panas yang memancar dari bawah seperti air mancur keatas. Suasana mencekam dengan ribuan lilin menyala diatas. 'aku tidak suka pemandangan goblin ini.. huh! Apa ini tempat goblin? Apa banyak ajushi mesum disini?' Jongin bermonolog sembari menyusuri aula itu. Ada lima pintu.


Pintu ungu tua yang mengingatkannya pada kursi dan pavilium mewah Prince Baekhyun, pintu merah maroon, pintu kuning emas, pintu hijau giok. Keempatnya di kanan kiri sisi aula..

Lalu di hadapan Jongin saat ini.. pintu hitam pekat yang mengkilap..

Dengan lambang naga mengerikan mengular di permukaannya. Pintu paling megah.. dengan tulisan cina yang sangat indah. 'Prince Wu Dragon'.

Pangeran naga? Mengingatkannya pada Kris.. sunbaenya yang memiliki tato naga di lengan kirinya. Sunbae tampan yang ia kagumi selama ini. Entah mengapa, setiap mendengar dragon.. ia selalu teringat pangeran naga itu.

"Apakah ada Kris hyung didalam?" rasa penasaran dengan ragu mulai memegang handle pintu hitam termegah dengan dua daun pintu besar tersebut namun ia urungkan ketika melihat pintu hijau disisi kanan aula sedikit berpendar. Mengingatkannya pada tujuan awal mengapa ia berada disini sekarang.

Dihembuskan nafasnya berat, entah, ia merasa kecewa dan berat hati meninggalkan pintu hitam megah itu untuk menuju pintu hijau. Langkahnya pelan dan lesu. Ketika sampai di depan pintu, Jongin segera mengangkat tangan kanannya. Hendak mengetuk pelan sebelum sebuah tangan lentik mencengkram pergelangan tangannya posesif.


GREP!

Jongin terkejut karena itu sangat cepat. Dan aroma lavender yang seketika menguar disekitarnya. Wangi yang semerbak itu ia hafal betul sejak beberapa hari ini. Aroma pangeran pemberi nyawa..

Pangeran Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan disini? Tugasmu adalah berada disisiku." Kedua mata Baekhyun menajam memandangnya dengan maniknya yang berpendar terang keunguan. Indah sekali.

"A.." bahkan Jongin tak mampu berkata-kata.

Terlebih dengan Baekhyun yang semakin berjalan maju kearahnya. Maka semakin mundurlah ia. Hingga punggung Jongin membentur dinding di pojok aula itu. Ia tidak mengapa.. tapi Baekhyun terlihat tidak suka. Remasan jemari Baekhyun pada pergelangan tangannya semakin kuat. Dan udara yang tiba-tiba menjadi dingin disekelilingnya.

Ia tahu bahwa keluarga kerajaan pasti memiliki kekuatan dewa, contohnya saja pangeran ungu didepannya yang bisa memberikan umurnya untuk menjadi nyawa menghidupkan orang yang sudah mati. Tapi ia tidak ingin dihadapkan pada kemurkaan manusia setengah dewa seperti saat ini. Sangat mengerikan.

"Kalau memang sudah tidak suka, buat aku saja." Sebuah suara husky halus seperti bisikan tiba-tiba terdengar diantara kedua pasangan yang saling memojok seperti sedang berpacaran mesum di aula sepi itu.


Kedatangan sosok itu membuat Jongin kaget dan lantas memeluk leher Baekhyun didepannya. Beda dengan Baekhyun yang kaget karena dipeluk Jongin tiba-tiba. Sungguh seumur hidupnya tidak ada yang boleh menyentuhnya tanpa sekehendak dirinya sendiri. Tidak ada yang pernah memeluknya. Sekalipun ibunya.

Kerajaan lebih mengagungkan pangeran pangerannya ketimbang selir selir yang melahirkan penerus.

Tanpa sengaja bibir penuh Jongin menempel pada leher putih Baekhyun. Membuat pangeran tampan sombong itu memerah hingga ke telinganya.

"Astaga aku iri.." suara itu kini terdengar dibuat-buat.

"Kau yang menyuruhnya kesini?" suara Baekhyun terdengar tidak suka. Tapi Jongin sudah biasa dengan watak keras dan kaku Baekhyun. Ia sendiri bingung pada rakyat-rakyat yang mengirimi Baekhyun upeti banyak dengan alasan kebaikan dan sikap dermawannya. Dermawan mananya? Pangeran yang dipeluknya kini sangatlah angkuh, sombong, dan penuh kejelekan hati.

Eh? Dipeluknya? Jongin melebarkan kedua matanya menyadari posisinya saat ini.

"Baek-"

GREP! Kedua tangan Baekhyun segera memeluk erat pinggang ramping Jongin. Mencegah Jongin beranjak menjauh darinya. Posisi mereka semakin intim. Begitu pula dengan pipi Jongin yang memanas.


"Kau lebih aman dalam pelukanku. Lelaki didepanmu ini berbahaya." Baekhyun mendesis.

"Hei, aku hanya ingin memberikan penghargaan pada Kasim Jong.. telah membuka hati Prince Light yang sekian lama tidak menginginkan adanya kasim pribadi" bibir tipis lelaki tinggi itu tersenyum simpul. Kedua matanya memicing dengn kilatan berbahaya. Cahaya kehijauan yang indah.

"Dia disini saja, tidak perlu sampai masuk keruanganmu" aura Baekhyun menguar mengintimidasi dengan semerbak wangi lavender. Andai saja pangeran ungu ini berhati baik, sudah pasti dialah tokoh utama pemikat hati. Sayang sekali tidak. Dia sombong dan tidak peduli sama sekali. Kecuali untuk Jongin mungkin lelaki tan itu tanpa sengaja menjadi prioritasnya.

"Wah.. sebegitu berharganya sampai kau pangeran yang sombong dan tak pernah mau mengikuti jamuan anak raja tiba-tiba dengan sukarela datang hanya.. untuk mengawasi anak ini?" mata tajam kelam itu menatap Jongin dengan sepersekian detik kemudian pedang tajam sangat panjang sudah dipegangnya, mengarah pada pertengahan kedua mata Baekhyun.

"Ah!" Jongin terlonjak kaget. Sedangkan Baekhyun masih diam saja memeluknya. Seolah pedang yang hendak menghunus ke otaknya itu tidak ada sama sekali.

"Kuulangi, dia kupanggil kemari karena aku sudah tahu kebenaran tentangnya" mata pedang itu bergeser menunjuk pipi Jongin yang terlihat halus tan manis. Apalagi dengan ekspresi terkejut Jongin mendengar pernyataan lelaki berbaju pendekar berwarna hijau itu. Terlihat gagah dan tegap. Meski Baekhyun juga tegap, tapi Jongin percaya pasti jika perut lelaki didepannya itu memiliki roti sobek yang tan lezat dengan remang-remang bulu buas.

Ah, memikirkannya saja darah tubuh Jongin mengalir lebih deras dari biasanya ke daerah intimnya.

"Tidak, kupikir tidak." Baekhyun melepas pelukannya pada tubuh Jongin.


"Kau boleh masuk keruanganku juga kalau begitu" ia mempersilakan Jongin dan Pangeran Light masuk keruangannya tanpa meninggalkan smirk yang menggoda dari lelaki dengan baju perang hijau itu dan Jongin diseret paksa oleh Baekhyun memasuki pintu hijau berdaun satu. Meninggalkan aula besar pertemuan para pangeran.

Sebentar Jongin mencuri-curi pandang pada pintu besar megah nan mewah milik pangeran dragon. Ia merasa memiliki ikatan yang kuat. Sangat kuat pada pemiliknya.

Diluar dugaan, pintu hijau yang terkesan mencekam tersebut berbanding terbali dengan keadaan didalamnya yang merupakan ruangan sangat sunyi dan terasa segar. Luas sekali sebesar setengah lapangan stadion sepak bola. Lalu kedepannya lagi merupakan alam yang luas. Banyak sekali tumbuh-tumbuhan obat dan air dingin yang mengalir jernih.. apakah ini sebuah pintu kemanasaja milik doraemon yang di cat hijau?

Ketika dua yang lain, yaitu dua pria tampan bertubuh tegap maskulin sudah duduk pada bantal yang tersedia di lantai, Jongin masih berdiri takjub mengamati interior ruangan yang seperti alam asri itu. Seolah bernostalgia pada kegiatan biologi bersama Kris hyung untuk melakukan ekspedisi meneliti kawasan hutan lindung semester lalu.

Luas dan sejuk sekali hingga Jongin menarik nafasnya penuh-penuh.

"Jong. Duduk disebelahku. Sekarang." Suara memerintah dari pangeran Baekhyun menyadarkannya dari keadaan sekitar.


Oh lihatlah kerumunan harimau barusaja datang dari balik gunung. Hm.. layar televisi yang sangat jernih dan besar sepertinya.

Ia tidak menyangka ada layar selebar diameter lapangan sepak bola dan setinggi tiga lantai. Kerajaan ini benar-benar kaya raya.

Kalau saja tidak ada dua orang lelaki diruangan ini, hanya ada dia seorang, maka sudah dipastikan Jongin akan berlari sembari melepas seragam kasimnya untuk segera meloncat kedalam kolam pemandian air jernih yang terlihat sangat segar disudut sana yang ditutupi oleh rumpun bambu kecil kecil terawat. Sembari menonton tayangan wild life dari layar super raksasa itu.

Loh? Memangnya kenapa dengan dua lelaki itu? Bukannya jika sesama lelaki tidak ada yang perlu di privasikan dari tubuhnya?

Dia hanya.. malu.

"Minumlah, mungkin teh hijau ini bisa menetralkan auraku yang terlalu banyak di ruanganku ini" Lelaki berbaju perang hijau itu menyodorkan segelas teh pada Jongin, tidak untuk Baekhyun maupun pemilik ruangan itu. Baekhyun sedang berpuasa. Pangeran ungu itu pantang makan dan minum yang memiliki rasa. Jadi hanya Jongin yang minum di ruangan itu.

"Ah, ne. Terimakasih" namja tan itu menunduk hormat dan mulai meminum tehnya. Enak. Ia baru tahu tangan kekar lelaki bisa meracik minuman yang segar dan pas seperti ini.

"Kau tahu tentang Jonginku?" tanpa basa-basi Baekhyun menarik bahu Jongin yang sedang menyeruput teh hijaunya sehingga teh tersebut menciprat sebagian besar baju Baekhyun yang terbuat dari sutera mewah berwarna ungu.

Jongin mendesis seakan merasakan panas yang dirasakan Baekhyun. Pasti panas sekali tersiram teh panas. Afeksi yang berlebihan. Padahal Baekhyun tidak merasakan panas sama sekali, ia sudah kebal. Auranya mampu melinfungi dirinya sendiri.

"Dia berbahaya, Baekhyun." Lelaki itu menunjuk tepat pada hidung minimalis Jongin. Jongin melongo, apakah lelaki itu tahu semuanya? Sejauh ini hanya Baekhyun yang mengatainya berbahaya, iblis, setan, manusia abad lain, imigran eropa, anak persilangan, dan sebagainya yang menyebalkan dan membuatnya ingin marah karena tuduhan dan panggilan rasis itu.. meski dengan kondisinya yang hanya seorang kasim kini ia tidak bisa berbuat apa apa untuk mencelakai pangeran songongnya itu.


"Aku yang mengatur semua tentangnya, sampai ia sampai di istana. Disisiku." Cengkraman jemari Baekhyun semakin turun dan berakhir bertengger pada pinggang ramping Jongin. Kencang dan berlekuk halus.

"Tunggu, siapa kau berani-beraninya memanggil Pangeran Light dengan nama aslinya? Kau mau kubunuh!" jemari tan itu melepas dengan mudah rengkuhan Baekhyun, mengayunkan gelasnya untuk diacungkan ke wajah tampan lelaki bermata tajam didepannya namun basah teh yang menggenang dilantai membuatnya terpeleset hingga ia tersungkur kedepan lalu...

oh tidak! Ia hanya ingin mengacungkannya namun karena kaget terpeleset ia secara refleks melepas pegangannya pada cangkir.

Cangkir itu melayang tepat akan menghantam sisi wajah lelaki berpakaian hijau didepannya itu.

PPYYAAARRR..

Jongin terbelalak tanpa sempat berteriak, gelas keramik berlukis bunga plum yang indah itu pecah bahkan sebelum mengenai wajah tampan lelaki berbaju perang itu.

Grep!

Baekhyun memegangi kedua sisi pinggulnya dan dengan mudah menarik tubuhnya untuk duduk di pangkuan pangeran ungunya.

"Kau benar-benar menyusahkan. Diam disini." Baekhyun mengultimatum dengan tatapan melotot pada Jongin memberikan peringatan mematikan. Diam atau ku usir dari kerajaan jadi gelandangan diluar sana.


"Ah maaf.. aku belum memperkenalkan diri ya? Haha" lelaki itu tertawa santai seolah kejadian tadi bukanlah sesuatu yang hebat. Tapi demi Tuhan! Itu akan kalian anggap kejadian supranatural jika kau melihat gelas menjadi ratusan keping ketika sekilan jaraknya sudah pecah sebelum membentur apapun, tidak pula serpihannya mengenai wajah tampan itu.

Jongin yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi hanya bisa diam dipangkuan dan diapit kedua lengan kokoh Baekhyun yang mendekapnya erat. Namun pandangan mata sayunya masih menatap penasaran pada lelaki dihadapannya.

"Perkenalkan.. aku putra ke dua raja, pangeran kerajaan.. dari Ratu Yoona atas keputusan setelah pertapaannya di lembah cina.. Prince Forest-Viridian, Wu Zitao" lelaki itu tersenyum tipis dengan kedua mata yang menyorot tak pernah lepas dari Jongin yang dipeluk Baekhyun.

"Ah! Maaf! Maafkan saya pangeran! Saya sungguh lancang!" Jongin berulang kali ingin beranjak untuk bersujud menunduk atas kesalahannya pada pangeran hijau itu, namun Baekhyun memeganginya dan setiap ia menyentak tangan yang menghalanginya itu, pangeran yang memangkunya kembali menahannya. Sampai Jongin lelah dan pasrah atas kelakuan pangeran soknya ini.

"Kalian seperti kekasih saja." Tao berujar asal. Namun hasilnya berbahaya bagi jantung kedua lelaki yang sedang berpose lumayan intim dihadapannya itu. Hanya berjarakkan meja bundar hitam yang mengkilap.

Jongin ingin meneriakkan tidak dengan jelas namun lelaki yang memangkunya membekap bibirnya.

"Kalimat adalah doa" Baekhyun berujar dengan mata tajam. Dia mengatakan kalimat yang biasanya dijadikan ejekan namun dalam situasi ini konteksnya berubah menjadi harapan. Terlihat jelas dengan bibir tipis Baekhyun yang biasanya menukik turun itu kini tersenyum samar-samar.


"Apa yang kau tahu tentang lelaki tan berambut pirang ini?" Baekhyun dengan tidak sopannya menarik topi kasim yang dikenakan Jongin. Sebuah gelung kecil terlihat disana.

"Hei apa yang kau lakuka-ukh.." Jongin yang hendak protes menjadi bungkam. Tatapan Baekhyun benar-benar mengintimidasi.

Sraatt..

Tusuk gelung kecil sepanjang sepuluh senti dari logam pipih itu ditarik oleh Baekhyun. Dan rambut pirang Jongin yang kuning lembut dengan sangat indah jatuh begitusaja menghambur ke pundak hingga punggungnya.

"Lavender.." Tao bergumam lirih. Ia mencebik kesal melihat senyum Baekhyun yang melebar.

"Apa? Dia milikku, jadi dia berhak mendapatkan auraku, bukan?" jemari lentiknya mengusap menyisir perlahan rambut pirang Jongin. Eksotis sekali.. kulit tan madu dengan rambut pirang. Mata sayu dan bibir penuh yang merah. Geisha kelas tinggi dengan perawatan utama. Memikirkan itu penis Baekhyun sedikit bangun.

Tidak seperti perkiraan peramal Jimin, ia mengatakan rambut Jongin akan panjang dalam waktu seminggu setelah menggunakan ramuan pemanjang rambut yang ia berikan.

Tapi tadi malam Baekhyun telah memberikan sihirnya sehingga cairan ramuan itu berwarna lavender dan memiliki khasiat ganda, sehingga dalam semalam saja rambut Jongin sudah sangat panjang hingga ke pinggang.

Dan Jongin yang berada dipangkuan dan rengkuhannya tidak mungkin tidak menyadari kalimat Baekhyun. Ia hanya.. diam dengan wajah yang memerah padam.

"Apa dia sakit? Wajahnya merah" lelaki bermata tajam itu mengamati Jongin dengan detail rupanya.

"Tidak. Dia hanya-"


Kruyuuukk~

Oh sial! Bunyi perutnya memang tidak bisa diganggu gugat. Perut yang jujur.

"Aha, kau lapar? Kenapa tidak bilang?" lelaki itu mengacungkan telunjuknya mengarah pada serpihan gelas dibawah. Ajaibnya, serpihan itu bergerak sesuai arahannya. Menuju kotak tempat sampah. Jongin jadi semakin penasaran.. ini adalah dunia doraemen heripoter remix menurutnya. Terserah pengejaannya harry-heri-hery atau apa, yang pasti Jongin tidak begitu suka gugahan novel tersebut karena Sehun selalu menakut-nakutinya dengan makhluk hitam yang melayang disekitar sekolah sihir itu dan setan yang menghuni tiap lukisannya. Jadi Jongin tidur setiap Sehun mengajaknya nonton DVD itu di malam hari.

"Kau tadi belum sempat makan di rumah utama kasim?" Baekhyun bertanya sembari mengusapkan jemarinya pada perut Jongin.

"A-ah.. iya.. ss-" Jongin menahan erangannya. Lelaki yang memeluknya ini benar-benar mesum rupanya.

"Baiklah aku akan menyuruh dayang untuk membawa makanan kesini." Dengan kalimat yang tanpa bisa dibantah, Tao melenggang pergi keluar pintu.

"Baek, apa pintu ruangan pangeran hanya ada satu di setiap kamarnya?" Jongin bertanya sembari dengan agak susah melepas tangan Baekhyun yang meremas-remas pinggulnya yang melekuk lebar bak gitar.

"Tidak, jika kau lihat kesana.." jari Baekhyun yang lentik itu mengarah ke pemandangan didepan sana. Asri dengan gunung dan lembah serta sungai besar dan air terjun. Jongin mengamatinya tadi dengan melongo saat masuk ke ruangan ini.

"Itu semua asli. Kau akan butuh waktu satu bulan berjalan kaki sampai gunung yang terdekat."

"APAAAA?! JADI ITU BUKAN LAYAR ULTRA HD?! OH TUHAN! AKU DIRUANGAN SEMI TERBUKA YANG MENGHADAP HUTAAAANNN!" Jongin berteriak histeris langsung beringsut memegang kedua lengan Baekhyun dan mengarahkannya untuk memeluk tubuhnya.

Ia tidak menyangka.. karena sedari tadi ia antusias pada kerumunan harimau yang berjumlah lebih dari sepuluh saling bermain santai di jarak 10 meter dari mereka berbicara. Ia kira itu semua hanya video. Sial ia lupa kalau ia kembali ke jaman lampau, bukan ke rumah keluarga chaebol kaya raya yang fanatik kerajaan dan memiliki TV ekstra besar melebihi besarnya bioskop.


Ruangan ini sebesar setengah stadion dengan beberapa sekat bambu. Tentusaja diluar lantai dan interior kamar ini bagian dinding pintu, samping kanan, dan samping kiri yang normal. Tapi depannya benar benar bolong hanya tertutup tirai bambu mempertontonkan alam liar yang luasnya lebih dari bergunung gunung jaraknya.

Ia di hutan dengan ruangan seluas setengah stadion, dengan bagian depan sana tidak berdinding. Bagaimana jika ada koloni gajah hutan masuk dan dengan gading mendobrak pintu lalu menghancurkan kerajaan? Iya memang langit-langit ruangan ini sangat tinggi. Terdapat tiga tangga keatas sana. Ada empat lantai.

"Tenang beruang.. kau mengaum seperti hendak kawin." Baekhyun mengecup ujung bibirnya kilas.

"APA?!- ah ehm! maksudku.. apa..?" Jongin memelankan suaranya menjadi lirih tapi malah semaki menggoda. Buttnya merasakan bagian bawah pangeran ungu itu semakin besar. Oh no!

"Kau itu wanita kan?" pertanyaan Baekhyun membuatnya terkejut bukan kepalang.

"Kau melihatnya sendiri saat mandi aku punya itu!" Jongin menunjuk selangkangannya.

"Aku tidak percaya! Itu pasti palsu! Hanya menggantung di selangkanganmu dengan ukuran sangat kecil" Lelaki bermata ungu yang sangat ngotot.

"Tidak ini asli! Kau melihatnya saat lemas! Memangnya seberapa besar punyamu ha?" Jongin malah menantang. Mereka berbicara vulgar mengenai kelamin dengan posisi sangat intim. Berpangkuan dan berpelukan erat.


Punggung Baekhyun semakin menempel pada pinggang Jongin. Merekatkan rengkuhannya. Hidung mancungnya sesekali menyesap aroma lavender rambut pirang Jongin yang dalam semalam sudah sepanjang pinggang dikarenakan ramuan lavendernya.

Mereka cocok sekali. Tinggal gantikan baju Jongin yang kasim sederhana itu menjadi gaun tipis putri yang berwarna pastel indah maka mereka sudah begitu cocok.

"Kenapa harus bertanya? Tinggal buka pakaian dan cawatku. Kau bisa lihat sendiri ukurannya" serak suara Baekhyun dan nafas panasnya pada cuping Jongin membuat lelaki yang direngkuhnya itu meremang. Bibirnya mengatup rapat menahan desahan.

"Kau sangat sensitif. Kalau kau hamil anakku, kau bisa menjadi anggota kerajaan. Hidupmu akan bahagia hingga lebih dari tujuh turunan. Hanya perlu layani aku." bibir tipis itu mulai menyusuri leher jenjang Jongin. Jemari lentiknya membuka satu persatu kancing seragam kasim yang dikenakan Jongin.

"Ah.. Baek.. jangan" meski Jongin berusaha, namun tetap saja Baekhyun lebih kuat darinya. Terlebih aura Baekhyun yang keluar samar-samar melingkupi keduanya membuat seluruh indra lelaki tan itu menjadi mabuk.

"Aku mengendalikan nyawa.. ingat itu baby bear"


-TBC-


Maaf ya kalau lama updatenya, diusahain semaksimal mungkin BocahLanang bikin ni ff, meski gak sesemangat dulu.

Iya, BocahLanang gak konsisten, tapi BocahLanang tu sebenarnya cuma HunKai shipper biasa seperti kalian, yang bikin ff karena suka HunKai, bukan suka bikin FF.

Sekian semoga kalian mengerti, hehew :3

Semangat ya hunkai shipper! Jangan patah semangat! Sbagai hunkai shipper family kita harus solid okkeeeeee! ;)

Thanks for reviews:

cikwang, Kkamjong1417, BOYSLOVEHK, QueenChan15, kaisyaa, kimsehunoona, AceJung, MichiyoPark, vanillablue94, Paysmolpie, Aisyaicha, Jeyjong, desm88, ANISEED ACORN, ParkRinhyunUchiha, 2463, lightdarklord88, sekaipusmeong, ArcanaDictactor, istrikaisoo, ninikai, tiffany205, hana, KimJonginKai, falconidct, joah, jongiebottom, reniajah889

Thanks all! Aku baca semua review kalian, bahkan selalu kenotif di email hp dan itu bikin gue sadar untuk ngelanjutin ff ini sesaat.. tapi khilaf untuk bermalas malasan lagi, hhew


Salam HunKai^^