SWEET DREAMS KIM JAEJOONG

Chapter Ten

For Yunho & Jaejoong

Main cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Summary :

Jung Yunho seorang pengusaha berlian yang sangat terobsesi mencari pembunuh kedua orangtuanya. Jung Yunho tidak sengaja bertemu dengan Kim Jaejoong yang pingsan di depan gerbang rumahnya. Jung Yunho membawa Kim Jaejoong ke dalam rumahnya. Setelah mendengarkan cerita Kim Jaejoong, Jung Yunho memutuskan untuk memberi tempat tinggal bagi Kim Jaejoong yang artinya Jung Yunho dan Kim Jaejoong tinggal bersama. Jung Yunho mulai membuka diri terhadap Kim Jaejoong yang ia anggap seorang namja cantik yang polos. Jung Yunho masih melanjutkan pencariannya terhadap pembunuh kedua orangtuanya dibantu dengan sahabat kecilnya Park Yoochun dan Kim Junsu, tapi bagaimana bila suatu hari Jung Yunho mengetahui pembunuh kedua orangtuanya adalah seseorang disekitarnya ?

.

.

.

Setelah mengobrol cukup lama bersama Shim changmin yang tadi sempat dipanggilnya 'Minnie' namun sayangmya namja bermata onyx itu tidak menyadari perubahan tersebut, Jaejoong pulang ke rumah Jung tentunya diantar Changmin tapi tidak sampai halaman luas rumah Jung.

"Aku pulang !" serunya bersemangat.

"Selamat datang, Jaejoong-ah. Kenapa baru pulang ?"

"Tadi pelanggan di restaurant cukup ramai." kata-katanya sedikit berbohong.

"Oh, pasti kamu lelah sekali Jaejoong-ah. Apa ingin makan malam dulu ?" tanya Kwon Ahjumma lagi.

"Ani, aku sudah makan. Aku ingin beristirahat saja." Lalu ia berjalan menuju kamar tamu yang biasa ia tempati.

"Tu..tunggu Jaejoong-ah !"

"Hm ? Ada apa Ahjumma ?" Jaejoong membalikkan badannya.

"Mianhe, kamarmu Ahjumma pindahkan di dekat perpustakaan."

"Mwo ? Ada apa ?"

"Itu..." Kwon Ahjumma mendadak menjadi gugup, sebenarnya ia merasa tidak enak untuk mengatakannya. Tapi semua sudah terlanjur, jadi intinya ia harus mengatakannya, walaupun tidak serinci mungkin. "Karena seorang sahabat Yunho dari Los Angeles sedang menginap disini, Jaejoong-ah. Dia biasa memakai kamar tersebut."

"Oh, tidak apa-apa. Ahjumma tidak perlu segugup itu. Aku kan hanya menumpang saja di rumah ini."

Oh, andaikan Jaejoong tahu alasan sebenarnya kenapa Kwon Ahjumma mendadak gugup. "I...iya, selamat beristirahat Jaejoong-ah. Apa kamu tahu letak kamarnya ?"

"Ne, Yunho hyung pernah mengenalkan kepadaku ruangan di rumah Jung ini. Oh ya Ahjumma, dimana Yunho hyung ?"

Belum juga Kwon Ahjumma menormalkan pernapasannya yang terasa tersendat tadi, kini ia kembali gugup. "Itu...Ah ! Dia sedang mengajak jalan sahabatnya itu, iya benar."

"Oh, baiklah. Selamat malam Kwon Ahjumma."

Jaejoong langsung menuju kamar tamunya yang baru, merendamkan tubuhnya di bath-up sepertinya tidak terlalu buruk.

"Ah...hangatnya..."

Jaejoong merasakan hangatnya air yang menyelimuti tubuhnya, matanya terpejam mencium aroma terapi.

"Hyung harus berjanji kepadaku. Jangan pernah meninggalkanku lagi."

"Ne, hyung sangat menyayangimu, Jaejoong-ah."

Jaejoong membuka matanya, bibirnya tersenyum meremehkan. "Dasar pembohong !"

Mood-nya rusak dengan cepat, segera ia keluar dari bath-up. Mengambil asal pakaian di lemari yang ternyata hanya sebuah kaus tanpa lengan dan celana diatas dengkul. Memakainya diudara sedingin ini, bahkan bulir-bulir air hujan sudah menempel di jendela.

"Apa yang harus kulakukan ?" gumamnya.

"Aku terlanjur jatuh kepadanya, itu melewati batasku sendiri. Hyung, kenapa kamu membiarkanku sejauh ini eoh ?" gumamnya lagi.

Perlahan matanya terpejam, mencari kehangatan dari selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.

.

.

.

Yunho dan Seul Gi baru saja kembali ke rumah Jung ketika pukul 02.00 pagi. Yunho sudah tidak dapat menutupi wajahnya yang terlihat lelah dan mengantuk, berbeda dengan Seul Gi yang masih cerah.

"Terima kasih, Oppa."

"Hm, istirahatlah."

Yunho menepuk-nepuk kepala Seul Gi.

"Kiss me, oppa."

"Mwo ?"

"I said kiss me !"

Seul Gi menggembungkan pipinya ketika melihat Yunho yang diam saja. Apa member sebuah ciuman begitu susahnya. Seul Gi menaruh tangannya dikedua pipi Yunho, bibirnya menyentuh si bibir hati.

Yunho reflek mendorong pundak Seul Gi sedikit kasar membuat yeoja tersebut termundur.

"Oppa, kenapa !" serunya.

"Ma…maafkan aku Seul Gi-ah, sebaiknya kamu istirahatlah." katanya setengah kaget terhadap perbuatannya sendiri kepada Seul Gi.

Tanpa menjawab lagi, Seul Gi berlari menuju kamar tamu tempatnya beristirahat, berlari sambil menahan nangis. Baru kali ini Yunho bersikap sedemikian rupa terhadapnya, Yunho yang dikaguminya, yang selalu membuatnya terpesona.

Yunho tahu jika Seul Gi menangis, Yunho dapat melihat matanya sudah berkaca-kaca tadi saat membentaknya. Hanya saja Yunho memilih membiarkan Seul Gi seorang diri tanpa berniat untuk mengejarnya.

Karena yang ada dipikirannya sedari tadi adalah Jaejoongnya, hanya Jaejoongnya seorang. Dia merasa bersalah kepada Jaejoong.

Yunho menuju kamar Jaejoong, ah Yunho juga merasa bersalah karena kamar Jaejoong yang dipindahkan.

Pelan-pelan Yunho membuka handle pintunya, berjalan dengan pelan. Hatinya kembali merasa nyaman ketika melihat wajah tidur Jaejoong, Yunho langsung merebahkan dirinya disamping Jaejoong perlahan. Memeluknya dengan erat, sesekali mencium pipi Jaejoong.

"Ungh..." Jaejoong merasakan geli ketika rambut Yunho mengenai wajahnya, ia membuka matanya dan melihat mata musang itu.

"Yunnie..."

"Oh, mianhe. Apa aku menganggumu, Joongie ?" tanya Yunho. Ia memundurkan wajahnya.

Jaejoong menggeleng, tersenyum kepada Yunho. Ia merasa senang Yunho berada bersamanya saat ini. Jaejoong menaruh kedua tangannya dileher Yunho. "Aku merindukanmu, Yunnie."

Yunho mencondongkan kepalanya dan mencium lembut Jaejoong. Bibirnya mendesak bibir Jaejoong, tangannya bergerak dari dagu Jaejoong dan memegang sisi kepala Jaejoong. Napasnya semakin cepat, Yunho memperdalam ciuman sambil bersandar ke dalam Jaejoong.

Yunho memindahkan ciumannya, memindahkan bibirnya di kening Jaejoong. "Aku tahu." ucapnya.

Yunho menundukkan kepala ingin mencium Jaejoong lagi, tapi berhenti sebentar sebelum menyentuh bibir Jaejoong, matanya langsung melihat mata Jaejoong, seolah minta izin.

Jaejoong langsung menempelkan bibirnya ke bibir Yunho, dan Yunho langsung menciumnya, tangannya mengenggam tengkuk Jaejoong saat dia memperdalam ciumannya. Mulut Jaejoong terbuka dan lidah Yunho membelainya. Tangan satunya meluncur ke punggung Jaejoong dan menempel dasar tulang belakang Jaejoong sambil mendorong ke tubuhnya. "Aku sangat mencintaimu, Joongie." Yunho mengambil napas diantara ciumannya.

"Aku juga mencintaimu, Yunnie."

"Tidurlah, ini sudah hampir pagi."

"Kau yang mengangguku, Yunnie." kata Jaejoong mengerucutkan bibirnya.

"Aku hanya ingin tidur bersamamu, apa tidak boleh ?" tanya Yunho dengan nada manja yang dibuat-buat.

"Tentu saja boleh !" jawab Jaejoong semangat, jarinya memutar-mutar dirambut Yunho. "Aku dengar dari Kwon Ahjumma, kamu tadi keluar bersama sahabatmu. Kenapa sampai semalam ini, Yunnie ?"

Yunho menarik tangan Jaejoong, mencium jari-jari yang bermain dirambutnya tadi. "Besok saja, aku sangat ngantuk malam ini."

Yunho menuntun tangan Jaejoong kembali memeluk lehernya, Yunho bergeser sedikit merapatkan tubuh mereka. "Mimpi indah, Joongie."

"Umm..."

Tubuh Jaejoong sempurna digenggam oleh tubuh Yunho, Jaejoong dapat merasakan napas Yunho yang menyentuh keningnya.

Bila ingin jujur, Jaejoong tidak bisa kembali tidur. Sangat susah baginya bila tidur kembali apabila ia sudah terbangun.

Jaejoong merapatkan kepalanya kedada Yunho, melepaskan pelukan pada leher Yunho, tangannya terasa pegal. "Yunnie..."

Jaejoong mencoba memanggil Yunho, namun tidak ada balasan. Berarti Yunnienya sudah tertidur. Ia mulai gelisah karena tidak dapat tidur, hampir jam 04.00 Am. Tubuhnya tidak dapat bergerak, punggungnya sudah terasa ngilu karena posisinya yang dipeluk Yunho.

Jaejoong mencoba mengangkat tangan Yunho yang berada dipinggangnya perlahan, sial ! Yunho semakin mengeratkan pelukannya, membuat Jaejoong menghela napas pasrah. Lalu mencoba menutup matanya, mencium aroma tubuh Yunho, berharap bisa tertidur beberapa jam ke depan.

TOK

TOK

TOK

"Jaejoong-ah." Kwon ahjumma mengetuk pintu kamar Jaejoong. Membangunkannya, takut Jaejoong telat berkerja.

TOK

TOK

TOK

"Jae...Yunho !" Kwon Ahjumma kaget setengah mati karena Yunho membuka pintu kamar Jaejoong.

"Ada apa, Ahjumma ?" tanya Yunho sambil menggosok-gosok matanya.

"Itu...Ahjumma hanya takut Jaejoong telat berkerja, biasanya ia bangun pagi."

"Oh, biar aku saja yang membangunkannya, Ahjumma. Ini salahku semalam."

"Mwo ?" Kwon Ahjumma kembali kaget, salahnya katanya ? Memangnya apa yang mereka lakukan ? Kwon Ahjumma menjadi gelisah.

"Ahjumma pergi saja, terima kasih sudah membangunkanku."

"I...iya Yunho-ah. Cepatlah kamu bersiap-siap, Yunho-ah. Seul Gi sedang membuatkan sarapan untukmu."

"Oh." Tidak tahu kenapa Yunho menjadi malas sekali pagi ini mendengar nama Seul Gi. Sebenarnya hanya malas bila Jaejoong bertemu Seul Gi, namun ia tahu ini akan terjadi.

.

.

.

"Pagi, oppa ! Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kita." Seul Gi tersenyum cerah secerah pagi ini. Yunho bersyukur Seul Gi tidak marah kepadanya.

"Gomawo, Seul Gi-ah."

Seul Gi memberikan sepiring sarapan untuk Yunho, kemudian sepiring sarapan untuknya sendiri.

"Selamat makan, oppa !"

"Engh...Seul Gi-ah, apa kamu tidak memasak lebih ?"

"Mwo ? Apa oppa mau tambah ?" tanyanya.

"Ani, ada seseorang lagi yang akan ikut sarapan dengan kita."

Bersamaan dengan ucapan Yunho, Jaejoong baru saja muncul di ruang makan.

"Ah, itu dia !" Yunho melihat Jaejoong yang berdiri menatap Seul Gi, Seul Gi pun menatapnya.

"Siapa dia, oppa ?" tanya Seul Gi lagi.

Ah, pertanyaan yang selalu membuat Jaejoong cemas. Apa untuk ketiga kalinya Yunho akan menjawab hal yang sama ?

"Dia adik angkatku." ucap Yunho berbarengan dengan Jaejoong yang mengucapkannya dalam hati.

"Oh, dia sangat manis oppa. Siapa namanya ?"

"Aku pergi dulu !" kata Jaejoong memutus pembicaraan Seul Gi dan Yunho.

Jaejoong menggigit bibirnya dengan kuat, "Aww..." Dia memegang bibirnya, dan ternyata keluar darah dari cherry lips tersebut. "Sial !"

"Oppa ?"

Yunho tidak percaya, terlihat jelas Jaejoong marah. Tentu saja. "Dasar bodoh" gumamnya.

"Oppa ?"

"Ah, Iya. Selamat makan, Seul Gi-ah." Yunho benar-benar menjadi malas sekali pagi ini, ia tahu ia salah bicara. Yunho hanya menunggu saat yang tepat, bukan sekarang.

Yunho menyendokkan makanannya dengan malas dan berhenti saat sendokan ketiga. "Terima kasih untuk sarapannya, Seul Gi-ah."

Yunho langsung berdiri dari duduknya.

"Oppa mau kemana ?"

"Ada yang harus kukerjakan." jawabnya singkat.

Seul Gi menghela napasnya ketika melihat Yunho pergi, Yunho begitu dingin kepadanya. Padahal ia sudah berusaha melupakan kejadian semalam. Berusaha menahan sakit hatinya ketika Yunho menolak untuk diciumnya.

"Yunho tidak menghabiskan sarapannya ? Aneh."

Seul Gi melihat Hwang Ahjumma berbicara sendiri sambil mengangkat piring bekas sarapan Yunho.

"Memangnya kenapa, Ahjumma ? Bukannya Yunho oppa biasa seperti itu ?"

"Tidak, dia sudah menghabiskan sarapannya akhir-akhir ini."

"Aku tidak tahu." Seul Gi mengangkat kedua pundaknya.

Hwang Ahjumma kembali membereskan meja makan tersebut, mengangkat piring Seul Gi juga.

"Tunggu, Ahjumma. Duduklah dulu."

Hwang Ahjumma kaget ketika Seul Gi mengenggam tangannya.

"Ada apa nona ?"

"Ceritakan kepadaku siapa namja berwajah cantik itu."

"Oh, maksudnya Kim Jaejoong ?"

"Ne, cepat ceritakan. Tadi Yunho oppa mengatakan dia itu adik angkat-nya."

Hwang Ahjumma agak tidak suka dengan yang dikatakan oleh Seul Gi tadi, menurutnya Yunho benar-benar tidak gentle. "Ne, Kim Jaejoong itu hilang ingatan, ia ditemukan pingsan di depan gerbang beberapa bulan yang lalu. Kasihan sekali anak manis itu."

"Oh, begitu. Berapa umurnya, Ahjumma ?"

"Sepertinya 20 tahun, mungkin karena usianya yang masih muda itu Yunho mengangkatnya sebagai adik."

"Wah, Yunho oppa memang benar-benar baik. Kalau begitu, aku akan menyayangi Jaejoong selayaknya adikku sendiri."

Seul Gi mengembangkan senyumnya. Sedangkah Hwang Ahjumma memandangnya kikuk. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tidak berani membayangkan bila Seul Gi menyayangi Jaejoong seperti yang dikatakannya tadi.

"Aku permisi dulu, Nona Seul Gi. Masih banyak yang harus Ahjumma kerjakan."

"Hm. Gomawo, Ahjumma."

.

.

.

"Hyung ? Tumben sekali, masuklah !"

Yoochun mempersilahkan Yunho untuk masuk ke rumahnya, suatu keanehan Yunho datang ke rumahnya di pagi hari tanpa disuruh.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Yoochun-ah ?"

"Masih sama, hyung."

"Apa ada perkembangan ?"

"Belum ada, semoga saja ada." ucap Yoochun meyakinkan Yunho.

"Oh, berikan aku red wine-mu."

"Aigo...ini masih pagi, hyung. Hyung hanya akan merusak lambung meminum wine terus-terusan."

"Tidak usah sok menceramahiku, Yoochun-ah. Berikan saja."

Yoochun menggeleng-gelengkan kepalanya, dia berpikir sepertinya Yunho sedang ada masalah.

"Sebaiknya perbaiki dulu celanamu, hyung. Kamu bisa membuat pelayan-pelayanku pingsan."

Yunho mengikuti arah telunjuk Yoochun, dan ia cepat-cepat menarik resleting celananya yang terbuka sambil menahan malunya.

"Ini persediaan terakhirku bulan ini, hyung."

Yoochun memberikan sebotol red wine.

"Jangan bertanya, aku sudah menjelaskannya. Umma-ku, hyung." Putus Yoochun dengan cepat ketika melihat pergerakan bibir Yunho. Yoochun tahu bila Yunho pasti mau mengejeknya yang tidak-tidak karena sisa terakhir botol red winen-nya.

"Oh, aku lupa. Aku pikir kamu kehabisan uang untuk membelinya." Yunho masih saja bisa mengejek Yoochun.

"Cih, bisnisku lancar, hyung."

"Baguslah, dimana Umma-mu ?"

"Umma sedang berlibur bersama Appa ke Hawaii."

Yunho meminum red wine tersebut langsung dari botolnya tanpa menuangkannya terlebih dahulu di gelas wine.

"Jadi, apa yang membawamu kemari hyung ?"

"Tidak ada, aku hanya ingin kemari saja."

"Benarkah ? Tapi wajahmu mengatakan bahwa kamu sedang ada masalah, hyung."

"Apa begitu terlihat ?" tanya Yunho dengan wajah meremehkan.

"Tentu saja, kamu itu tidak pintar menyembunyikan sesuatu, hyung."

"Huh, kamu pasti tidak tertarik bila aku menceritakannya."

"Let me see." Yoochun mengangkat kedua pundaknya, lalu menumpukan kakinya dikaki yang lainnya.

"Baiklah bila itu maumu, Yoochun-ah. Saat ini aku bingung, sangat bingung. Seul Gi sedang berada di rumahku. Dan ini adalah hal tergila yang pernah Appa-ku berikan untukku, Appa menyuruhku untuk menikah dengannya."

"Hm, biar aku tebak. Tapi hyung tidak bisa karena telah mencintai Kim Ja-e-jo-ong ? kata Yoochun sambil mengejakan nama Jaejoong.

"Yah, bisa dibilang seperti itu. Apa yang harus kulakukan, Yoochun-ah ?"

"Aku tidak tahu, itu semua terserah hyung. Hyung yang merasakannya, aku tidak ingin ikut campur dalam masalah percintaanmu, Yunho hyung."

"Haaah...bagaimana ini, tadi aku mengatakan kepada Seul Gi kalau Jaejoong itu adik angkatku, dan Jaejoong berlari meninggalkanku begitu saja. Aku tahu aku salah bicara. Aku hanya belum siap saja."

"Ckck...kamu seperti anak sekolahan yang sedang jatuh cinta, hyung. Apa kamu sadar posisimu sulit saat ini, hyung ?"

"Maksudmu, Yoochun-ah ?"

"Kalau aku menjadi kamu, aku akan memilih Seul Gi karena asal usul yeoja itu jelas tidak seperti Kim Jaejoong yang bahkan informasi mengenai dia saja tidak ada. Lalu, apa itu sebuah kebetulan saja atau memang kalung kristal itu miliknya. Bisa saja ia memang..."

"Sst...sudah Yoochun-ah, aku mengerti maksudmu. Aku tahu aku akan melukai perasaan seseorang."

"Pikirkanlah dengan baik, hyung. Ini semua demi kebaikanmu."

Yunho meminum habis red wine-nya. Menaruhnya agak kasar dimeja tersebut. "Aku mengerti !"

To be continued.

Give me some review ~

Thank you for your review ~ I'm really appreciate that .

*Maafkan Ze bila ada yang tidak suka adegan Yunho dan Seul Gi

*Bdw, apa cerita ini menurut readers terlalu lambat atau bagaimana ? XD jawab ya ~ Ze hanya penasaran.

*Untuk semua yang sudah review, terima kasih banyak Maafkan Ze belum me-reply-nya. *sembunyidipunggungJae*

*Terima kasih juga buat yang favorite n follow FF ini :)

Balikpapan, 22 Juli 2013

ZE.