KH_11
FROZEN
Setelah berpelukan cukup lama , Terra melepaskan pelukannya dan mengangkat tubuhnya yg menindih Aqua, Terra takut kalau Aqua susah bernafas karena tertimpa dirinya yg besar itu. Tangan kanan Terra mengelus-elus rambut Aqua dengan lembut, tetapi selagi tangan Terra mengelus, Aqua tiba-tiba menangkap tangan kanannya dan menggerakkannya ke depan bibirnya. Satu-persatu, Aqua memasukkan jari Terra ke mulutnya dan menghisapnya. Terra awalnya terkejut, tetapi akhirnya ia tersenyum, meski Aqua bertingkah laku seperti anak kecil yg baru tumbuh gigi.
"Sedang apa kau?", tanya Terra sambil tersenyum.
"...", Aqua mengeluarkan jari Terra dari mulutnya, "tidak"
"Lalu untuk apa kau menghisap jariku?"
"Aku cuma ingin bersikap manja denganmu...", kata Aqua yg setelah itu kembali memasukkan jari Terra ke mulutnya.
"...", Terra tertawa kecil, "padahal biasanya kau paling dewasa diantara kita bertiga"
"Mmh..."
"Yah, aku tidak keberatan kok... kurasa tanganku juga cukup bersih"
"...", Aqua kembali mengeluarkan jari Terra, "kotor juga tidak apa-apa"
Terra kembali tertawa kecil, dan setelah itu ia membiarkan Aqua kembali menghisap-hisap jarinya. Hisapan Aqua terasa sangat lembut, Terra juga suka melihat ekspresi Aqua saat menghisap-hisap jarinya, terutama gerakan matanya yg kadang terbuka kadang tertutup. Setelah itu, Terra mendekatkan wajahnya ke Aqua, dan bibirnya mencium keningnya yg putih mulus itu. Dan dari kening, ciuman Terra turun ke hidungnya, dan dari hidung, bibirnya turun lagi ke... leher.
"...", Aqua sedikit bereaksi ketika Terra mencium lehernya.
Terra mengecup leher Aqua sambil berusaha untuk menciumnya dengan lembut, dari satu titik ke titik lain, terkadang ia juga mengeluarkan lidahnya untuk menjilatinya, seperti saat menjilat eskrim. Terra menjilatnya dengan perlahan dan menghisap bagian yg tadi ia jilat. Lama kelamaan, Aqua tidak bisa menahannya lagi, dan dari mulutnya ia mengeluarkan sebuah erangan, tetapi tidak keras.
"Ah! Ma... maaf, aku terlalu kasar ya?"
"Ngh... bukan... itu"
"Bu... kan?"
"Itu...", Aqua memegangi lehernya, "geli"
Mata Terra melebar sesaat, dan lagi-lagi ia tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Hahaha... maaf. Kukira kau tidak suka"
"Selama kau yg melakukannya, aku tak keberatan...", kata Aqua sambil memegang wajah Terra, "aku mencintaimu..."
"Aqua..."
Ketika Terra hendak mencium bibir Aqua, tiba-tiba saja sebuah angin kencang muncul dan menerpa mereka berdua. Angin itu benar-benar kencang, sampai bisa mencabut beberapa helai bunga Lavender yg ada di sekeliling mereka. Aqua dan Terra langsung bangun dan bangkit berdiri, dan tiba-tiba saja dari arah angin itu berasal, muncul sebuah cahaya yg berwarna hitam, hitam yg bercampur dengan ungu tua dan disertai dengan aura-aura berwarna serupa. Mereka berdua tahu dan sadar, kalau ini bukanlah pertanda yg baik, respons saja mereka mengeluarkan Keyblade mereka sambil memperhatikan apa yg keluar dari cahaya itu. Terra dan Aqua menyipitkan mata mereka ketika melihat dua buah bola berwarna ungu tua muncul dari cahaya itu, dan bola itu berubah menjadi sosok dua manusia. Sosok yg muncul terlebih dahulu adalah seorang remaja yg sepertinya seumuran dengan Ventus, ia memiliki rambut spiky berwarna hitam dan biru tua, dan bola matanya berwarna emas. Sementara yg satunya lagi...
"Master Xehanort?"
Terra dan Aqua benar-benar terkejut ketika melihat sosok seorang yg satu lagi, Master Xehanort? Mau apa dia kesini?
"Halo Terra... Aqua", sapa Xehanort dengan senyum liciknya, yg memang sering muncul.
"Anda... kenapa tiba-tiba anda datang kemari?"
"Oh... apakah aku tidak boleh datang, Aqua?"
"Anu, bukan itu maksudku, hanya saja... kami kira ada bahaya"
"Hm...", Xehanort mengalihkan pandangannya ke Terra, membuat Terra sedikit kaget dan... curiga.
"Master Xehanort, apa perlu kupanggilkan Master Eraqus?"
"Tidak... Aqua", kata Xehanort sambil mengangkat tangannya, "aku ada perlu dengan Terra"
Terra dan Aqua bertatapan, mereka berdua heran dengan maksud dari Xehanort. Mau apa dia dengan Terra? Dan lagi, untuk apa? Dia juga belum menjelaskan siapa anak laki-laki itu, meski itu juga tidak terlalu penting sekarang.
"Denganku?"
"Ya... Terra. Denganmu"
"Memang, ada perlu apa ya?"
"Hal ini berkaitan dengan...", Xehanort tiba-tiba mengeluarkan Keybladenya, "cara membangkitkan kegelapanmu"
Tiba-tiba saja sosok laki-laki yg ada di samping Xehanort menghilang dan muncul di depan Aqua. Sebelum Aqua sempat menebak apa yg akan dia lakukan setelahnya, laki-laki itu langsung meninju perutnya, tetapi Aqua tidak sampai pingsan. Dan dengan gerakan super cepat, ia menggendong Aqua dan membawanya kembali ke sisi Xehanort. Terra yg belum sempat berkata apa-apa hanya bisa melebarkan matanya karena kaget. Entah darimana asal kekuatan laki-laki itu, yg pasti dia bisa mengangkat Aqua dengan sebelah tangannya, yg juga mencengkram kepala Aqua.
"A... Aqua!"
"Berikan dia padaku, Vanitas"
Dengan mudahnya, laki-laki yg ternyata bernama Vanitas itu melempar Aqua ke arah Xehanort. Hebatnya lagi, Xehanort juga bisa menangkapnya dengan sebelah tangan. Aqua terlihat tak berdaya, kelihatannya dia kesakitan karena ditonjok tadi.
"Urg..."
"M... Master Xehanort? Mau kau apakan dia?"
"Kau tahu Terra? Sejak awal aku menginginkan untuk mencari seseorang dengan kekuatan kegelapan yg kuat, sangat kuat. Tetapi sayangnya, sulit sekali untuk menemukan tipe yg seperti itu, karena rata-rata mereka semua memiliki hati yg kuat hingga membuat kegelapan tidak mampu menghuni hati mereka."
Terra berlari ke arah Xehanort untuk menolong Aqua, namun tiba-tiba saja Vanitas menghadangnya dengan black magic 'Thundaga', yg membuat Terra langsung terpental ke posisinya semula.
"Jangan buru-buru, Terra. Dengarkanlah ceritaku dulu...", ucap Xehanort, "Yah, bahkan Vanitas yg kuciptakan ini tidak bisa memenuhi keinginanku, sampai suatu saat aku bertemu dengan salah seorang murid Eraqus, yaitu kau... Terra. Kau memiliki potensi yg besar untuk memiliki kekuatan kegelapan yg hebat. Aku pun yakin, kalau kau pasti akan menjadi sepertiku, dipenuhi kegelapan dan kekuatan yg sangat hebat! Yang kuyakini bisa membuatku menjadi seseorang yg terkuat di dunia ini!"
"Ukh...", Terra mencoba untuk bangun, tetapi Thundaga Vanitas terlalu kuat hingga membuatnya cukup kesakitan.
"Tapi... semenjak kau menjalin hubungan dengan gadis ini, tiba-tiba saja kegelapan di hatimu memudar. Kegelapan yg awalnya sangat kuat dan membuatku kagum, tiba-tiba saja kekuatannya menurun drastis seolah hampir tak tersisa. Awalnya aku heran akan sebabnya, tetapi setelah kuselidiki, ternyata gadis inilah penyebabnya, cinta gadis inilah yg membuatmu menjadi lemah... menjadi lemah!"
"A... apa?", gumam Aqua yg tengah meronta.
"Aqu...a, ukh"
"Karena itulah, gadis ini harus mati!"
"...!", mata Aqua melebar ketika mendengarnya, ia berusaha untuk terus meronta tetapi usahanya percuma.
Dari tangan Xehanort muncul sebuah aura yg berwarna biru muda dan berwarna putih, aura itu perlahan-lahan menyelimuti tubuh Aqua dan mengeluarkan hawa dingin yg sangat luar biasa. Bahkan Terra yg terbaring beberapa meter di depannya pun bisa merasakan dinginnya, entah berapa suhunya, tetapi yg pasti suhunya minus.
"Ja... jangan!", teriak Terra yg berusaha berdiri, "kumohon! Jangan!"
"T... Terra! Tolong!"
"FREEZE!"
KRAKK! Dalam sekejap aura tubuh itu berubah menjadi es dan membungkus seluruh tubuh Aqua, dalam arti lain... Aqua membeku.
"A..."
"Ha ha ha... HA HA HA HA! Kini tidak ada lagi yg bisa menahan kegelapanmu Terra!"
"A... apa?"
"Gadis ini sudah mati Terra! Kau sudah tidak akan bisa menemuinya lagi! Dan tak ada lagi yg bisa menyelamatkanmu Terra!"
"A... AQUAAA!"
Sesuai perkataan Xehanort, dari dalam tubuh Terra muncul aura-aura berwarna hitam yg mulai menyelimuti tubuhnya. Xehanort lagi-lagi tersenyum melihat ini, dan sepertinya ia harus kembali memanas-manasi dia lagi agar dia bisa semakin dikuasai kegelapan sesuai dengan rencana semulanya.
Akhirnya chapter 11 selesai! Maaf kalau apdetnya lama, mohon read n review!
