"Seharusnya aku ada di sampingmu selama ini, maafkan aku."

Brothers;

CHAPTER X


"Jaemin kelelahan. Anemia juga."

Itu adalah vonis dari tetangga Keluarga Seo yang berprofesi sebagai dokter terhadap Jaemin. Dokter Jung, Kepala Keluarga Jung yang terhormat, Jung Jaehyun. Iya, suami dari Taeyong dan ayah dari Mark, Jeno, dan Jisung itu sebenarnya adalah seorang dokter umum di sebuah rumah sakit ternama.

Setelah jatuh pingsan, Jaemin langsung dibopong oleh Johnny ke kamar bersama milik Haechan dan Jaemin, sementara Ten bergegas ke rumah tetangga mereka untuk mencari Jaehyun dan meminta pertolongannya sebagai seorang dokter. Dokter Jung tentu saja bersedia menolong, sekalipun ia dan istrinya baru saja hendak memulai kegiatan mesra di malam hari.

Mendengar obrolan panik Ten dengan ayah mereka, Mark, Jeno, dan Jisung pun tidak mau ketinggalan mengikuti sang ayah ke rumah sebelah untuk mengetahui keadaan Si Manis. Begitu pula dengan Taeyong yang bergegas mengunci pintu lalu mengikuti jejak suami dan anak-anaknya.

Di kamar itu ada Jaehyun, Johnny, dan Ten. Sementara Taeyong dan anak-anak menunggu dengan resah di luar.

Di antara para penunggu itu, yang paling gelisah tentu saja Haechan.

"Adikmu pasti baik-baik saja. Tenang ya Sayang," hibur Taeyong. Haechan mengangguk kecil dengan pasrah.

Mark merangkul bahu Haechan yang sedang murung itu dengan hangat. Ia tahu, Haechan sungguhan khawatir dengan keadaan Jaemin. Akhir-akhir ini, Haechan sering curhat kepadanya soal hubungannya dengan Jaemin yang sudah membaik, bahkan menurut Haechan, sifat Jaemin sudah berubah. Katanya, Jaemin sudah tidak sensitif dan pemarah lagi, tapi lebih manja dan senang menempelinya kemana-mana.

Haechan pasti sayang sekali dengan Jaemin sampai rela untuk keluar dari kegiatan tahunan sekolah yang sangat disukainya. Padahal, saat persiapan kemarin, Haechanlah yang paling bersemangat.

"Tenang, Jaemin pasti tidak apa-apa. Appa kan dokter yang hebat," bisik Mark ke telinga Haechan.

"Tapi bukannya waktu itu pasien Appa ada yang sakitnya makin parah karena salah obat?"

Perkataan Jisung barusan sontak mengundang pelototan dari Mark dan Jeno. Taeyong juga menjewer pelan telinga putra bungsunya itu karena perkataannya yang kurang menghibur.

"Itu bukan salah Appa, itu salah apotekernya!" sanggah Mark. Ia berpaling kepada Haechan. "Benar, bukan salah Appa."

Haechan mengangguk saja. Padahal, sebenarnya ia tidak peduli sama sekali. Ia terlalu sibuk memikirkan Jaemin sampai tidak terlalu memperhatikan keadaan di sekitarnya.


"Sudah selesai," umum Johnny kepada rombongan penunggu di depan kamar Jaemin dan Haechan

Haechan buru-buru ingin masuk, begitu pula yang lain, ingin melihat keadaan Jaemin sekarang. Tapi, raut wajah Johnny membuat mereka tertahan di depan pintu, karena sepertinya ada sesuatu yang membuat Johnny ragu memperbolehkan mereka untuk masuk.

"Kenapa Dad?" Haechan bertanya.

Bersamaan dengan itu, Jaehyun melangkah keluar dari dalam kamar. Ia menjelaskan keadaan Jaemin yang masih belum sadar dan butuh istirahat banyak, membuatnya mungkin harus terhindar dari segala gangguan sekecil apapun.

"Kami mengerti. Kuharap Jaemin cepat sembuh dan sehat ya, Johnny. Ayo anak-anak, kita pulang dan biarkan Jaemin istirahat. Nanti kalau Jaemin sudah lebih sehat, baru kita jenguk bersama ya," Taeyong berkata lalu mengajak anak-anaknya untuk pulang.

"Terima kasih Yong," balas Johnny tulus.

"Kalian pulang duluan ya," ujar Jaehyun sambil merangkul istrinya dan mengasak pelan rambut Jisung. "Ada yang ingin kubicarakan dulu dengan Johnny," ujarnya kepada Taeyong.

Setelah Taeyong dan anak-anaknya pulang, Haechan bergegas memasuki kamarnya, di mana sudah ada Ten yang tidak berhenti menunggui Jaemin sedari awal di sana. Ten duduk di sebuah kursi yang diambil dari meja belajar Haechan, di samping tempat tidur miliknya dan Jaemin. Ia terlihat sedang mengelus kening Jaemin dengan penuh perhatian. Sementara, belum terlihat tanda-tanda Jaemin sudah siuman.

"Mom?" Haechan memanggil pelan.

"Haechan-ie. Kemari, Sayang," Ten menoleh dan memanggil Haechan mendekat. Haechan menurut, ia kemudian menaiki ranjang dan duduk di sebelah Jaemin yang berbaring.

"Nana kenapa, Mom?" tanya Haechan.

Ten melemparkan senyum sedih.

"Anemia, dan kelelahan. Kamu tahu kan bagaimana kondisi Nana? Bukan sekedar sakit fisik saja. Belakangan ini Nana tidak mau makan dan susah tidur juga," jawab Ten. "Tapi, tadi sore mau ya tidur kalau sama Haechan. Padahal susah lho, bujuk Nana supaya tidur. Haechan belum sekamar lagi dengan Nana sih ya semenjak Nana sakit."

"Kalau begitu, mulai malam ini tidur di sini saja," saran Haechan.

"Jaemin kadang bangun tengah malam, takutnya mengganggu Haechan. Besok masih sekolah kan," kata Ten.

"Tidak apa-apa kok. Aku tidak keberatan."

"Terima kasih ya, Haechan," ujar Ten tulus. "Jaemin beruntung punya saudara seperti kamu."

Pipi Haechan bersemu mendengar perkataan Ten. "A— ah, biasa saja kok," gumamnya malu.

Ten tertawa kecil. "Haechan sudah makan malam?" tanyanya.

"Umm.. Belum, sih.." jawab Haechan. "Tapi tidak lapar kok. Aku khawatir sama Nana sampai lupa rasa lapar."

"Wah, jangan begitu, Sayang. Jangan lupa makan, makan dulu ya sekarang?"

Haechan menggeleng. "Tidak apa-apa. Jaemin saja belum makan. Aku tidak akan makan kalau Jaemin tidak makan juga."

"Sayang.." ujar Ten sedih. "Terima kasih banyak, lho, sudah sesayang ini sama adik kamu."

Haechan mengangguk malu. Ia belum terlalu terbiasa dengan perlakuan Ten yang selembut ini kepadanya. Masih malu. Karena ia sudah lama tidak berbicara dengan ibu kandungnya. Dulu, ibunya juga seperti ini kepada Haechan. Tapi, lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat Haechan kembali terbiasa dengan interaksi seperti ini.

Haechan teringan kejadian di dapur sebelumnya, dan ia memutuskan untuk menanyakannya kepada Ten.

"Uhm.. Tadi, kenapa Jaemin bisa sampai melempar sendoknya? Lalu pingsan?"

"Ah, Haechan lihat ya," desah Ten. "Tadi, sepertinya Nana panik lagi. Jaemin takut untuk makan karena ia akan merasa mual, dan mungkin ia takut dimarahi. Penghentian konsumsi obat-obatan itu memang memiliki berbagai efek, salah satunya mual dan tidak nafsu makan. Ditambah lagi, ternyata Nana banyak tertekan, lalu kebetulan anemia juga," jelas Ten. "Mungkin karena tubuhnya sudah tidak tahan, akhirnya Nana pingsan."

Haechan menatap Jaemin dengan sedih. Semakin ke sini, Jaemin memang mengalami perubahan fisik yang cukup signifikan. Tubuhnya yang memang sejak awal sudah kurus, sekarang lebih kurus lagi. Dulunya, wajah Jaemin segar walau agak pias, sekarang sudah tidak ada rona lagi di wajahnya. Matanya pun menghitam seperti panda, dan rambutnya terlihat kusam. Padahal, rambut tebal dan berkilau Jaemin adalah salah satu daya tariknya.

Haechan sadar, ia terlalu sibuk dengan sekolah belakangan ini, jadi ia kurang begitu tahu perkembangan kondisi Jaemin semenjak ia sakit. Padahal, Jaemin terlihat bersemangat setiap bersamanya. Mungkin saja Jaemin akan lebih cepat pulih seandainya Haechan menghabiskan lebih banyak waktu untuk adiknya.

"Jaemin masih melanjutkan homeschooling tidak, selama sakit?" tanya Haechan.

"Waktu itu sempat libur, lalu lanjut lagi. Tapi dua hari yang lalu kembali libur karena kondisi Nana kembali menurun," jawab Ten.

Haechan mengangguk paham.

"Sekarang boleh tidak aku tidur di samping Nana?" izin Haechan. "Nanti kalau Jaemin sudah sadar, aku akan membujuknya agar mau makan."

Raut wajah Ten kembali menunjukkan kesedihan. Ia tahu Haechan sangat ingin merawat Jaemin, tapi sayangnya ia mungkin tidak bisa melakukannya sekarang.

"Sayang, dengan senang hati Mom ingin mengizinkan. Tapi.."

"..ayahmu dan Dr. Jung sedang membicarakan soal opname Nana di rumah sakit mulai malam ini."


Jeno tidak pulang, melainkan ia mengkuti ayahnya ke ruang tamu bersama Johnny.

Ia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, disaat ia tahu Jaemin mengalami sesuatu yang lebih dari sekedar sakit biasa. Percakapan yang ia dengar malam itu menunjukkan bahwa Jaemin sedang menghadapi sesuatu yang sulit, tapi ia tidak tahu apa.

Tidak ada salahnya kan, kalau Jeno mengetahui apa yang sedang dialam oleh Jaemin? Jeno juga ingin membantu Jaemin menghadapinya. Ia tidak sanggup membayangkan Jaemin menghadapinya dengan menderita. Jeno yakin, pasti ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menolong Jaemin.

Tapi sebelum itu, ia harus mendapatkan penjelasan mengenai keadaan Jaemin yang sesungguhnya. Ia punya beberapa spekulasi, tapi ia ingin memastikannya terlebih dahulu.

"Jeno? Kenapa tidak pulang?"

"Appa, Paman Johnny, aku tahu Jaemin sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin tahu, apa yang sedang dialaminya? Tolong biarkan aku tahu, karena aku tidak bisa diam saja melihat adik sahabatku menderita."

.

.

.

.

.

END OF CHAPTER X

.

.

.

.

HAPPY BIRTHDAY HAECHAN DONGHYUCKIE!

GILAGILA AKU SAYANG BANGET SAMA ECHAN TT_TT BIASKU DI NCT DREAM ITU DIA BARENG SAMA NANA JUGA.

PARAH AKU SENENG BANGET LIAT VLIVE KEMAREN WAKTU DREAMIES RAYAIN ULTAH ECHAN.

SURATNYA NANA BUAT HYUCK JUGA SO SWEET BANGET UUU GEMAS!

SEMOGA SUKSES TERUS BUAT HYUCKIE SAYANG! ILYSM URI PUDU, FULLSUN, BABY BEAR3