Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam
Rate: T
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Lanjut terooos part11 wkwk udah bosen belum? makasih review dan kritik&sarannya yaa, author jadi makin semangat nyiksa Jackson wkwk *digoreng hidup hidup* selamat membaca :)
.
.
.
.
"SERIUS BAM!?" Mingyu dan Jungkook, keduanya berteriak bersamaan tepat di depan wajah Bambam, hingga mengeluarkan hujan lokal tiba-tiba.
"Aish, kalian!" Bambam mengusap wajahnya dengan jijik. "Santai dong kalau terkejut."
"Terkejut mana ada yang santai, Bam! Bayangkan saja tanganmu terjepit pintu secara tiba-tiba, masa kau akan tersenyum?" jawab Mingyu dengan kesal, sangat terlihat dari matanya yang terpicing ke arah Bambam.
"Ya kan aku tidak sedang kejepit pintu!" balas Bambam, ia bernafas sejenak setelah melakukan sedikit argumentasi yang tidak penting itu lalu sedikit-sedikit mulai melukis senyuman di bibirnya. Ia membuat eye-smile dengan matanya yang relatif bulat itu, menandakan kalau dia sedang bahagia. "Hehe," Bambam menyeringai, "iya, aku sudah jadian dengan Mark hyung."
"Ceritakan! Ce. Ri. Ta. Kan!" seru Jungkook dengan gemas, kedua temannya itu-yang tidak lain adalah Mingyu dan Jungkook-menjadi penasaran hebat akan cerita tersendiri Bambam. Dengan tenang dan perlahan, Bambam mulai menceritakan pengalaman luar biasanya itu di hadapan kedua sahabat yang tengah terkagum-kagum melihat Bambam, terkadang Bambam menggunakan tangan dan mimik wajah untuk memperjelas kata-katanya.
Dua orang lain yang berada di antara mereka, Junhoe dan Yugyeom, mereka merasakan kebahagiaan tersendiri untuk Bambam, sambil melihat wajah Bambam yang tidak berhenti berseri-seri itu. Tapi ketika mereka melihat satu sama lain, wajah mereka berubah menjadi muram dan penuh keraguan di atas kebahagiaan sahabatnya, Bambam. Tak ada yang menyadari kekhawatiran mereka, hanya mereka sendiri yang tahu.
- flashback -
"Alasanmu ingin menjadi anggota OSIS?"
"Mmm, aku menyukai organisasi dan kerja sama, kurasa aku juga ahli dalam hal itu."
Di dalam ruang OSIS, Mark dan Junhoe sedang saling berbicara, tepatnya melakukan interview. Seminggu yang lalu, Junhoe tiba-tiba punya niatan lain yang membuatnya bertekad masuk ke tim OSIS. Menurutnya itu adalah hal yang tidak mungkin karena perekrutan tim baru sudah di lakukan sebulan yang lalu, seharusnya Junhoe tidak dipersilahkan untuk masuk ke tim OSIS karena terlambat.
"Bukan karena ada Jinhwan kan?" tanya Mark penasaran.
"Eih, anu.. hyung... tidak-"
"Hehe, bercanda." Mark memecah suasana serius mereka dengan tawaan. "Hmmm," Mark bergumam sambil merapikan beberapa kertas yang Junhoe berikan padanya sore itu sebagai syarat melakukan interview, "tapi terlambat, Goo Junhoe."
"Ne?" Junhoe seketika menaikkan alisnya, padahal dia tahu hal itu akan terjadi.
"Kau terlambat, perekrutannya kan sudah sebulan yang lalu."
"Iya, hyung, aku tahu-"
"Kenapa tidak bergabung sebulan yang lalu?"
"Itu-"
"Yasudah," Mark menginterupsi untuk sekian kalinya, sudah setiap kalimat Junhoe tidak terucap hingga beres. "Akan kubicarakan lagi dengan Jaebum dan para pembimbing, oke? Kau hanya perlu menyiapkan diri saja, sisanya biar aku yang urus."
"Ah," wajah Junhoe kembali cerah lagi, "gomawo hyung." Ia menunduk beberapa kali sebagai rasa hormat dan terima kasihnya untuk Mark. Tujuannya untuk menjadi anggota OSIS hanya tinggal beberapa langkah di tangan Mark, berhubung Junhoe adalah teman baik dari orang yang di sayangi, dari Bambam, makanya Mark akan berusaha melakukan apapun untuk membantu Junhoe.
Ketika Junhoe akan segera berdiri dan pergi, Mark membuka suara hingga menahan kaki Junhoe.
"Goo Junhoe."
"Ne?"
"Terima kasih."
"Terima kasih? Untuk apa?"
"Karena kau telah membantuku menjaga Bambam."
Mendengar perkataannya, Junhoe terheran-heran hingga ia kembali terduduk lagi sambil memikirkan apa yang membuat Mark berterima kasih akan hal yang tidak seharusnya itu, karena pada kenyataannya Mark juga selalu dekat setiap hari dengan Bambam.
"Eh, hyung," ucap Junhoe gugup, "aku kan sahabatnya, tentu aku menjaga sahabat-sahabatku."
"Aku sadar aku sudah menyakitinya selama ini, bahkan dalam jarak terdekat kita." Mark menghindari kontak mata dengan Junhoe, perasaannya malu untuk membicarakan hal itu yang sekiranya akan menyakiti hati Junhoe. Untungnya, Junhoe adalah orang yang pengertian dan mudah mengerti akan keadaan. "Hatiku sakit setiap kali dia bertanya hubungan apa yang tengah kita jalani."
Junhoe menelan ludah, "hyung masih belum pacaran dengannya?"
"Belum," Mark menggelengkan kepalanya, "belum, sebelum aku berteman lagi dengan Jackson. Kau mengerti kan?"
"Ne." jawab Junhoe. "Lalu hyung akan bermaafan dengan Jackson?"
"Kalau Jackson memaafkanku." kata Mark, suaranya terdengar sangat lemah dengan banyaknya pikiran yang berlalu-lalang di kepalanya.
"Yugyeom sering bercerita padaku tentang Jackson."
"Lalu?" Mark mengangkat alisnya.
"Yugyeom bilang kalau Jackson selalu menolak untuk membicarakanmu atau Bambam, dia memilih untuk tidak mengenal kalian lagi dan membiarkan semuanya terjadi. Dia ingin kejadian di masa lalu tetap berada di masa lalu, dia hanya ingin mengamankan hatinya sendiri."
Nyawa Mark berasa seperti sudah sampai di ujung tekak. Ia sadar, itu berarti pertemanannya dengan Jackson tidak akan berjalan mulus seperti yang mereka jalani semenjak setahun yang lalu. Tidak ada kata lain yang dapat menjelaskan keadaannya saat itu kecuali bimbang tak berujung.
"Aku harus tetap berbaikan dengan Jackson sebelum benar-benar bisa mendapatkan Bambam, dan aku tidak ingin mengulurnya lagi, aku tidak mungkin menggantung Bambam selama itu." jawab Mark tergesa-gesa, kesabaran akan dirinya sendiri sudah mulai meluap habis.
"Aku tahu, Yugyeom dan aku sering membicarakan tentang hal itu." Junhoe berusaha mengeluarkan senyumannya yang paling kalem. "Yugyeom sekarang sedang berada di bawah pohon rindang dengan Jackson, sekarang Bambam dan yang lainnya juga sedang sibuk di kelas tambahan, mungkin ini bisa jadi kesempatanmu."
Seperti ada lampu yang mengambang dan menyala terang di atas kepala Mark, ia langsung berteguh yakin pada dirinya sendiri. "Bisa kau bantu aku menemui Jackson?"
"Ten-tentu." Junhoe terlihat yakin walau dengan suaranya yang terbata-bata itu.
Tak perlu menunggu lagi, Junhoe bersedia mengantarkan Mark ke tempat tujuannya di mana Yugyeom dan Jackson tengah berduaan menikmati hari mereka, tepatnya di bawah pohon rindang, tempat favorit semua orang. Banyak sekali perasaan yang tercampur aduk di dalam hati Mark selama perjalanannya menghampiri Jackson, yang ia takutkan hanyalah perasaan sedih dan kecewa yang bisa muncul kapan saja, baginya itu adalah sebuah mimpi buruk.
Sampailah mereka di dekat pohon rindang, orang yang pertama kali menyadari keberadaan mereka di sana adalah Yugyeom, seri dan tawa langsung sirna dari wajahnya. Ketika Jackson menatap mereka berdua, yang ada di kepala Mark saat itu hanyalah bagaimana caranya untuk tidak mengakhiri pertemuan mereka dengan tangisan.
Junhoe POV -
Melihat wajah Mark hyung yang diciptakan oleh berbagai perasaan itu membuat hatiku tercabik juga. Aku tahu seberapa besar cintanya kepada Bambam, begitu juga dengan yang Bambam punya untuk Mark hyung. Tadinya aku akan membiarkan Mark hyung maju duluan dan menggiring Jackson ke suatu tempat, tapi aku tahu apa yang akan terjadi kalau Mark hyung mengajak Jackson hyung duluan, makanya aku cepat-cepat memberikan Yugyeom sebuah isyarat. Walaupun agak lelet, dia akhirnya mengerti juga.
"Hyung! Kami ke kelas dulu ya!" kataku saat Yugyeom sudah memberikan tempat tersendiri untuk Mark hyung.
"Ne, hubungi aku jika kau sudah bulat dengan keputusanmu." jawab Mark hyung, aku tidak percaya dia masih bisa berlagak se-cool itu padahal pikirannya dikacaukan oleh berbagai macam hal. Setelah memberi hormat, kami pergi dan membiarkan mereka memiliki waktunya. Pergi ke kelas itu hanya wacana saja, Yugyeom dan aku memutuskan untuk berdiam di sekitar sana-tepatnya di balik pohon yang lain-sambil menyaksikan apa yang terjadi, syukurlah mereka tidak bisa menyadari keberadaan kami walaupun kami dapat mendengar perbincangan mereka dengan jelas.
"Sumpah! Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melelehkan hati Jackson hyung, tapi dia sangat keras kepala tidak ingin mengenal Mark dan Bam." Yugyeom berbisik sambil marah-marah sendiri.
"Ssstt! Sudah, dengarkan!" aku membuatnya tutup mulut agar kami dapat mendengar perbincangan mereka dengan lebih jelas.
"Kau sayang padanya, kan? Tidakkah kau akan melakukan hal ini untuknya?"
"Rasa sayangku sudah terlanjur dikecewakan dan aku sudah tidak sayang padanya lagi."
Kata-kata mereka penuh dengan perasaan, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kulakukan seandainya aku berada di posisi Jackson hyung.
Sekian lama kami menguping pembicaraan mereka, tiba-tiba ada hal yang membuat kami berdua tercengang; saat kami mendengar isakan tangis. Tadinya kami kira itu adalah makhluk halus yang berada di sekitar kami, tapi saat kami memfokuskan pandangan kami lagi, Mark hyung sudah terlihat menjatuhkan kepalanya sambil berusaha menghentikan tangisan yang ia buat itu. Sedikit-sedikit kami dapat melihat wajahnya yang merah dan basah, dia sungguh terlihat putus asa. Aku benar-benar kasihan padanya, bagaimana kalau Bambam yang melihat hal ini?
"Berhenti menggantung Bambam seperti ini dan jadilah kekasih yang baik untuknya. Aku ikut bahagia."
Sungguh, apa yang baru saja kulihat? Ini benar-benar menyabik perasaanku berkali-kali lipat dari sebelumnya. Mungkin Jackson hyung memaafkan Mark setulus hatinya, namun tetap aku bisa melihat bagaimana caranya ia pergi meninggalkan Mark hyung dengan ekspresi wajah yang penuh dengan beban itu.
"Yugyeom, bisa kau kejar Jackson hyung? Pura-pura kaget saja saat kau menemuinya." perintahku.
"Iya." Yugyeom mengangguk dan lekas mengikuti Jackson.
Aku membiarkan sejenak Mark hyung menghabiskan air matanya, tapi itu tak kunjung berakhir juga. Maka dengan keberanian aku menghampirinya perlahan, mencoba untuk tidak menyela setetes pun air matanya. Kurasa ia menangis begitu dalam hingga tak menyadariku keberadaanku di sampingnya. Aku berjongkok tepat di sampingnya, kurangkul perlahan bahunya dan kuusapkan sedikit tanganku, mencoba membuatnya lebih hangat.
"I failed, Junhoe-ya, I failed." ia menyebut namaku di sela-sela tangisannya. Sudah cukup melihat Bambam menangis, kini akan menjadi lebihh buruk untuk melihat orang yang disayangi Bambam menangis juga.
"Aniyo, hyung," aku menjawabnya lembut, "kau mendapatkan Bambam, hanya dengan cara yang tak terduga."
"Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang." ia sebisa mungkin menyudahi tangisannya. "Aku buntu."
"Lakukan apa yang Jackson hyung katakan!" kataku. "Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja, kami akan membantu kalian."
Ia tidak terbalut isakan tangis lagi, tapi matanya masih basah dan memerah sementara nafasnya masih tersendat-sendat. Mark hyung mengangkat kepalanya lalu menjabat kepalaku, aku tahu senyuman di wajahnya bukanlah senyuman yang seharusnya ia buat. "Thanks, Junhoe, aku bisa saja membutuhkanmu lagi."
"Maka mintalah pertolonganku."
- flashback end -
Author POV -
"Junhoe! Kau kok tidak mengucapkan selamat untuk Bambam?" lamunan Junhoe terpecahkan oleh bentakan Mingyu.
"Ne?"
"Beri selamat kepada Bambam!" bentak Mingyu lagi.
"Oh, ne," Junhoe merubah wajahnya secepat kilat menjadi ekspresi orang yang paling menyenangkan sedunia, "omooo~~ Bamieee, kau sudah besar rupanya! Chukkae, jangan lupakan kami mentang-mentang kau sudah jadian dengan hyungmu yang mesum itu." Junhoe memeluk Bambam erat-erat sambil mengacak rambut berapi-api Bambam.
"Aniyoo, bagaimana aku akan melupakan kalian? Aku pacaran dengan Mark hyung juga hanya sesekali saja." Bambam menyeringai sambil mencubit pipi Junhoe gemas.
"Yaah, sekarang mari kita lihat apa yang akan terjadi dengan ketiga sobat kita yang ini." Jungkook memicingkan mata ke arah ketiga temannya yang lain; Junhoe, Mingyu dan Yugyeom, seakan-akan menunggu sesuatu terjadi di antara mereka bertiga.
.
.
.
.
Beberapa hari yang lalu adalah hari penyambutan Mansae High School, berbagai pertandingan, kejuaraan, kemenangan dan kesenangan telah mereka lalui bersama. Namun, kebersamaan mereka belum lah berlalu sampai dua minggu. Para siswa dari Mansae akan terus belajar di North High School, bergabung mencampurkan diri bersama mereka hingga waktu mereka untuk menjadi 'siswa sementara' North berakhir.
Banyak yang senang, banyak juga yang tidak suka dengan keadaan itu karena merasakan persaingan yang berat di antara mereka. Mingyu, selama siswa Mansae menetap di North, Mingyu tidak pernah sedikitpun melakukan hal yang ramah terhadap siswa Mansae, membuat ekspresi yang menyenangkan pun rasanya tidak. Dia terbayang-bayang akan mantan kakak kelasnya yang menyebalkan itu setiap hari.
"Hey kalian! Lihat!" Jungkook mengguncang tubuh Bambam dan Junhoe yang duduk di sebelahnya, sementara Yugyeom dan Mingyu duduk di kursi yang berseberangan.
"Apa sih, Kookie?" tanya Bambam penasaran.
"Lihat siswa Mansae yang rambutnya keriting itu? Tampan sekali yaaaa~~" Jungkook menggigit jari.
"Omooo," Bambam terbawa oleh suasana, "lihat wajahnya yang bule dan cute itu, imanku goyah." Bambam meleleh dibuat oleh orang yang baru saja ia sebut-sebut penampilannya itu.
"Apakah ini hanya aku, atau Mansae High School memang dipenuhi oleh siswa-siswa tampan seperti mereka? Lihat yang pendek imut itu." Yugyeom mengagumi para siswa Mansae dari jauh.
"Dia terlihat seperti Suga hyung, benar tidak?" Junhoe membuka suara sambil memakan bekalnya. Kali ini mereka duduk bersama di kantin, di satu meja yang sama. Di satu sisi ada Bambam, Jungkook dan Junhoe duduk sejajar bertiga, di sisi sebrangnya ada Mingyu dan Yugyeom duduk berdua.
"Dan orang yang di sebelahnya, dia mirip sekali dengan Kai dari kelas X-A." lanjut Bambam.
"Yak! Yak!" Mingyu menginterupsi mereka semua. "Apa sih yang sebenarnya kalian lihat? Siswa North juga tampan-tampan kok. Kalian juga Bambam dan Jungkook! Kalian kan sudah punya pacar, untuk apa mengagumi siswa yang tidak kalian kenal?!"
"Mmmm," Junhoe melipat bibirnya, "bilang saja kau tidak suka kami memuji mereka karena kau takut kami memuji mantan kakak kelasmu itu kan?"
"Dia juga tampan, tahu!" Jungkook membalas.
Mingyu tak ingin lagi berbicara dengan mereka, nafsu makannya tiba-tiba juga menghilang, tapi sayangnya dia sudah kelaparan sejak jam pelajaran pertama, daripada tertidur di kelas lebih baik memakan bekalnya yang sudah kehilangan cita rasa bagi Mingyu.
Tanpa di sadari, keempat sahabat Mingyu sudah saling melempar tatap begitu mereka menemukan sosok yang menurut mereka istimewa, datangnya dari pintu kantin dan sekarang sedang mengantri untuk makanan di counter. Tak perlu berkata apapun lagi, mereka semua punya tujuan yang sama, terlihat sekali dari betapa jahatnya mata mereka saling memandang.
Satu... Dua... Tiga...
"JEON WONWOOOOO!" teriak Junhoe, Yugyeom, Jungkook dan Bambam bersamaan. Itu menarik perhatian nyaris untuk seluruh kantin sampai mereka kebingungan.
"Yak! Yak! Apa-apaan kalian!?" Mingyu panik.
"Wonwoo hyuuuuungg! Kim Mingyu menunggu kedatanganmu di sini!" teriak Yugyeom sambil menahan Mingyu agar tak berkutik di tempat di mana dia duduk.
"Wonwoo hyuuuung! Kim Mingyu rindu padamu!" Bambam menyambung.
"HYUNG! SEBELAH SINI!" Junhoe berdiri terburu-buru untuk menunjukkan letak tempat duduk mereka dan memastika Wonwoo melihat keberisikan mereka.
"HAISH!" tak tahu apa yang harus dilakukan, Mingyu terpaksa menutup tempat bekalnya dan turun ke bawah meja untuk bersembunyi, berharap Wonwoo belum menangkap wajahnya yang terlihat bodoh. Keempat temannya melihat Wonwoo tersenyum manis sebagai respon ke arah mereka dan itu membuat mereka bangga terhadap apa yang mereka lakukan. Bahkan Mark dan kawan-kawan yang ada di kejauhan ikut tertawa menyaksikan dari meja mereka.
"Daebak!" Jungkook menghentakkan kedua kakinya secara bergantian ke lantai dengan cepat dan gemas, perasaannya sangat senang.
"Yak! Mingyu-ya! Berdiri!" Junhoe mencoba menyentuh Mingyu dengan kakinya.
"Tidak mau!"
"Dia tidak ke sini kok."
"Iiiih, dia tadi melihatku tahu!"
"Sudah! Cepat berdiri, dia tidak melihat sama sekali."
Pasrah, Mingyu akhirnya memutuskan untuk keluar dari bawah meja dan melanjutkan memakan bekalnya.
Deg. Keputusannya yang bulat itu seketika menjadi abstrak lagi ketika ada sosok Wonwoo berdiri di hadapannya sambil membawa nampan yang dipenuhi oleh beberapa macam makanan.
"Uhm..." Wonwoo terlihat kikuk. "...boleh aku duduk di sini?"
"SILAKAN!" jawab Bambam, Junhoe, Yugyeom dan Jungkook bersamaan. Mingyu nyaris pingsan karena keberadaan Wonwoo yang tiba-tiba, tapi tidak mungkin ia menolak Wonwoo, makanya ia pasrah membiarkan Wonwoo duduk di sebelahnya walaupun perasaannya kesal setengah mati.
Wonwoo yang seharusnya berbicara banyak dengan Mingyu karena ia mengenal Mingyu dengan baik malah sibuk bercanda-candaan dengan keempat teman Mingyu yang lain. Terkadang mereka menggoda Mingyu untuk berbicara, namun sampai saat ini Mingyu masih belum ingin membuka mulutnya.
Dari arah yang lain, segerombolan anak-anak berjalan dan melewati meja kelompok Bambam sambil membawa nampan kosong mereka masing-masing. Bambam dikejutkan oleh sebuah pelukan dan ciuman mesra di pipinya dari arah belakang, ternyata itu hanyalah Mark.
"Pulang bersamaku hari ini, okay?" bisik Mark.
"Hm." dengan senyuman lebar, Bambam mengangguk mengiyakan, lalu Mark pergi duluan untuk mengembalikan nampan makannya ke counter.
Taehyung yang berjalan di belakang Mark hanya meninggalkan kecupan sekilas di atas kepala Jungkook sebagai sapaan manisnya terhadap sang kekasih. Mereka saling menatap dengan senyum tanpa melakukan obrolan, namun itu sudah cukup untuk mereka, karena sebenarnya hati mereka berkomunikasi satu sama lain.
"Yak! Goo Junhoe! Kau tidak ingin menyapa si pendek, huh!?" bentak Taehyung tiba-tiba, di wajahnya ada senyuman jahil dan matanya memandangi seseorang tepat di belakang Junhoe. Junhoe kebingungan, ia hanya mengikuti arah pandang Taehyung saja untuk mendapatkan jawaban. Ia mendapati Jinhwan sudah berdiri di belakangnya dengan wajah yang kebingungan juga.
Mereka saling tersenyum ketika mata mereka bertemu, senyuman sederhana namun menenangkan. Junhoe hanya melambaikan tangannya untuk si kakak kelas manis itu.
"Nah, begitu, kan enak dilihatnya." komentar Taehyung, lalu pergi.
"Duluan." kata Jinhwan dengan lembut dan pelan lalu pergi mengikuti Mark dan Taehyung yang sudah terlebih dahulu menaruh nampan di counter, di belakangnya lagi Jaebun dan Jinyoung berjalan bersamaan, tapi nampaknya mereka tidak perduli dengan keadaan yang ada.
"Jadi, Wonwoo dan Mingyu kapan jadian?" tanya Yugyeom tiba-tiba dengan sumringah.
"Kau sendiri," balas Mingyu, "kapan jadian dengan Jackson hyung?!"
.
.
.
.
"Hyung,"
"Hm?"
"Bilang dong pada Jinhwan hyung untuk jadian dengan Junhoe, gemas nih."
"Kau lah yang bilang pada Junhoe untuk buru-buru menembak Jinhwan, dia kan lebih manly."
Mark dan Bambam tengah berselonjoran berdua di atas kasur Bambam yang tidak luas itu. Lagi-lagi, orang tua Bambam tidak berada di rumah untuk dinas hingga lewat tengah malam, itu menjadi kesempatan bagi mereka untuk berduaan di rumah yang kosong. Sayangnya, mereka menggunakan kesempatan itu untuk sibuk dengan gadget masing-masing pada mereka walaupun jarak mereka hanya sebatas angin saja. Mark dengan laptop di atas pahanya (lebih jelasnya adalah laptop yang ia pinjam dari Bambam), sementara Bambam sibuk dengan handphone di tangannya.
Hampir tiga puluh menit sudah berlalu, keadaannya masih hening diakibatkan dengan kesibukan mereka masing-masing menatap layar gadget yang menurut mereka lebih menyenangkan daripada berbicara satu sama lain. Lelah dengan laptop, Mark segera melipat layar laptop dan menaruhnya di meja, di samping kasur Bambam, ia lalu melihat Bambam yang masih sibuk dengan handphonenya.
"Sibuk sekali, sayang." goda Mark.
"Tunggu, sedang ramai nih di facebook."
Mark berdecak dan tertawa, buru-buru ia segera merebut handphone dari tangan Bambam dan melemparnya sejauh mungkin agar Bambam tidak dapat meraihnya.
"Hyung, itu-"
Bambam terbungkam oleh ciuman panas dari bibir Mark yang hari demi harinya semakin telaten mencium bibir Bambam. Mark tak dapat menahan diri, ia kini menindih Bambam tanpa melepaskan ciumannya, bahkan tangan Mark hingga masuk-masuk ke dalam baju Bambam untuk merasakan sendiri kulit sang kekasih yang kenyal nan mulus.
"Hyungghh..." rintih Bambam, bukan apa-apa, ia hanya kegelian karena Mark menyentuhnya di area yang sensitif.
Ingin mendengarkan suara yang lebih, Mark memindahkan ciumannya ke leher Bambam, tentu ia dapat mendengar nafas berat Bambam lebih jelas bahkan ketika Bambam harus mengeluarkan suara lain akibat kegelian.
"Mmmhhh... hyungghh..."
Smoch! Smoch! Smoch! Kecupan-kecupan manis mendarat mulus di leher Bambam hingga meninggalkan saliva Mark di sana. Baru saja Mark akan membuka kemejanya, tapi ia merasakan sesuatu yang bergetar-getar di pahanya. Itu membuatnya harus berhenti melakukan kegiatannya di leher Bambam.
Dan itu mengecewakan. Sungguh.
Mark segera mengambil handphone dari dalam saku celananya, begitu melihat homescreen, ia membaca nomor yang tak dikenal tertera di sana.
"Siapa?" tanya Bambam.
"Tidak tahu."
"Jawab dulu, siapa tahu penting."
Mark sedikit menjauh dari Bambam, namun tetap membuat tangannya dapat menyentuh pinggang Bambam.
"Halo?" sapanya dalam telfon.
"..."
"Siapa?"
"..."
"Kau mengenalku?"
"..."
Deg.
"Krystal Jung?"
.
.
.
.
- To be continued -
Yahahahaha chapter sebelas juga akhirnya. Duh mudah-mudahan kalian nggak gondok ya dengan cerita ini, makin lama makin absurd soalnya-_- di review yaa jangan lupa:3 katakan apakah FF ini pantas berlanjut atau tidak. Sampai bertemu di chap selanjutnyaaa *aminnn*
