Hmmm, beberapa hari terakhir setelah ceritaku sebelumnya, aku tidak bertemu Yukiko lagi. Aku menunggunya setiap pulang sekolah, tapi lalu dia tidak pernah datang. Aku mencoba bertanya saat di tengah pelajaran, dia tidak menjawab dengan jujur. Mengapa dia menghindariku? Tidak tahukah dia, aku sangat kangen pada muka meronanya?
Minggu berganti. Yukiko masih menghindariku. Seperti hari ini. Jadi, aku memutuskan untuk menulis pesan padanya:
Aku akan selalu ada. Tidak peduli berapa lama, aku tidak akan menyerah.
Aku menaruh pesan itu di kotak sepatunya. Minggu berganti lagi. Sore ini, aku tidak ada kerjaan. Yukiko entah ke mana. Aku mau berjalan-jalan ke tempat favoritku, pohon rindang di bagian selatan hutan samping sekolah yang menghadap ke kota. Pemandangan di sana sangat indah, dan pohonnya teduh. Aku menyalakan ipod sambil berjalan.
Jalannya agak menanjak. Seperti naik tangga, kira-kira tinggi jarak aku sekarang dengan dasar pohon favoritku itu 3 lantai. Aku menatap ke atas. Ah? Ada cewek. Aku hampir kembali turun ketika menyadari sesuatu. Yu... Yuki.. ko? YUKIKO! Dia sedang... EH? TUNGGU? Me.. nangis?
Hatiku serasa di tusuk jarum. Lalu darahku masuk ke perut. Dan keracunan. Kalau saja bisa begitu. Aku membeku. Dan seketika berjalan cepat mendekatinya. Aku sampai di belakangnya. Dia memunggungiku, tidak sadar aku di sini. Aku tidak mendengar isakan. Yang mungkin Yukiko tahan. Sepertinya begitu, Yukiko mendekap wajahnya dengan sapu tangan.
Alamak, hatiku teramat sakit melihatnya. Aku mendekatinya, "Yukiko?" Panggilku seakan tidak tahu apa-apa. Dia terkejut, dan mengetahui siapa aku. Dia menoleh perlahan, dan memandangku seakan aku... Aku orang pertama yang mesti tidak melihatnya sekarang. Dia menggigit bibir menahan tumpahan emosi. Tak sanggup aku melihatnya begitu saja.
Aku memeluknya sebelum dia melakukan apapun. Dan... Tangis Yukiko meledak. Tidak besar. Dia hanya terisak. "Lepaskan semuanya." Kataku sambil tetap memeluknya. Yukiko menurut. Dia terisak-isak. Tentu saja dia tidak balas memelukku, jika penasaran. Kami dalam posisi itu cukup lama, mungkin 10 menit. Yukiko mulai tenang. Aku melepaskannya.
Yukiko menunduk. Walaupun wajahnya kebas habis menangis, dia masih imut. Aku menggenggam tangan kirinya, tanpa berbicara. Dia membalas genggamanku. Aku tahu, dia pasti ingin mendinginkan fikirannya sekarang. Jadi, aku duduk di bawah pohon rindang favoritku. Kami hanya duduk dan berpegangan tangan. Sudah dua puluh menit berjalan. Kami sama sekali belum bersuara. "Aku... Mau pulang." Ucap Yukiko lemah. Dia pasti capai menangis 10 menit nonstop. Apa gerangan yang terjadi?
Kami bangun. Dan aku mengantarnya pulang, genggaman kami tidak terlepaskan. Selama perjalanan pulangpun, kami tidak berbicara. Sesudah sampai di depan rumah/penginapannya, kami berhenti. "Maukah kau temani aku sebentar? Hanya sebentar." Yukiko memintaku. Tidak mungkin aku berkata tidak. Kami masuk, di sambut oleh resepsionis yang sedikit tercengang melihat aku dan Yukiko bergenggaman. Wajah Yukiko tidak terlihat sehabis menangis lagi, tapi jika kamu melihatnya sungguh-sungguh, akan ada bekas air mata di wajahnya yang letih. Dia tidak menghiraukan sang resepsionis.
Aku di gandeng menuju kamarnya. Selama jalan singkat kami menuju lantai 3, beberapa pelayan (yang sepertinya dekat dengan Yukiko) dan pelanggan melihat kami bergandengan dengan syok. Tapi Yukiko terus berjalan. Di kamar, Yukiko melepas genggamanku. Lalu dia duduk memeluk lututnya di pojokan kamar. Tempat kemarin-kemarin aku bernyanyi untuknya.
Aku duduk di sampingnya. Mengelus rambutnya, "Maukah kau berbagi ceritamu?" Tanyaku perlahan. Dia tampak memikirkannya. Lalu, "Tidak hari ini." Jawab Yukiko. Aku mencoba mengerti posisinya. Terluka, letih, dan pasti bingung. Jika aku jadi dia, aku ingin tidur untuk membasmi adrenalin aneh itu. "Mau tidur? Biar kusiapkan. Kasur atau futon?" Tanyaku, karena Yukiko punya kasur dan futon.
"Kasur." Jawabnya perlahan. Aku berdiri dan menyiapkannya. Setelah siap, aku menggenggam tangan Yukiko dan menariknya untuk tidur. Dia bergelung di kasur. Aku menyelimutinya, lalu duduk di samping kasur. "Selamat tidur, Yukiko." Kataku sambil mencium keningnya. Aku menunggunya tidur, lalu pulang ketika matahari sudah turun. Takut Nanako khawatir.
Esoknya, Yukiko pulih. Aku dan dia tahu, dia tidak bisa lari lagi dariku. Karena aku akan meminta penjelasan, saat pulang sekolah. Aku telah menahannya saat pulang, "Atap. Jangan pergi." Kataku cukup pelan untuk hanya Yukiko seorang yang mendengar.
Di atap.
Hanya kami berdua. Dan jika anak-anak di lapangan bawah menoleh ke arah atap ini, kami akan terlihat. "Beritahu aku." Ucapku yang sedang menyender di pagar sambil berpangku tangan saat Yukiko datang. "Ummm.. Kau ingin tahu?" Yukiko menanya balik sambil menyender di dinding seberangku. Aku mengangguk. Yukiko mendesah, "Bisakah tidak hari ini?" Dia menghindar lagi.
Cukup. Aku berjalan mendekatinya. Kemudian menggebrak dan menempelkan tangan pada dinding di samping kanan kepala Yukiko. Yukiko terkejut, ia terpojok, aku menciumnya. Tepat di bibir. Lama. Panjang. Dan berulang-ulang.
Yukiko tidak bergerak. Yukiko bingung. Ia hanya diam menerima setiap ciumanku. Dan mengepalkan tangannya erat, tidak tahan dengan detak jantungnya, sama sepertiku. Aku menyadari itu, dan melepas bibirku sebentar. Hanya untuk menautkan jari kiriku padanya, agar dia mengenggam tanganku sebagai ganti kepalan tangannya. Aku kembali menciumnya. Apakah matahari musim panas ini termasuk saksi ciuman pertamaku?
Setelah beberapa waktu, aku menarik diri, masih dalam jarak tidak sampai 10 cm. Aku memandang Yukiko. Inilah wajah termerah yang pernah ku lihat. Ia bahkan malu untuk menatap wajahku. Aku lalu memeluknya sambil mendesah. "Jangan. Jangan pernah pergi terlalu lama dari sisiku." Ucapku di telinganya.
Setelah aku memeluknya cukup lama. Aku melepaskannya, "Sekarang, kumohon. Beritahu aku." Pintaku sambil menatap wajahnya yang masih merah. "Ba... Baiklah." Yukiko menyerah. Lalu kami duduk bersebelahan, aku genggam tanganya. "Aku.. Kuyakin nama S.S. fans club familier untukmu." Yukiko memulai, rona di wajahnya belum hilang. Aku mengangguk. "Well, mereka melakukan... Beberapa hal." Lanjutnya. "Seperti...?" Tanyaku. "Mmmm, merusak bukuku, menaruh sesuatu yang menyeramkan pada jendela rumahku, dan semacamnya."
Aku terbakar amarah. Brani sekali mereka? Belom tahu jagoan mereka ini sedang jatuh cinta? Pada gadis manis yang mereka jahili? Macam-macam sekali kalian! "Biar aku urus." Kataku sambil berdiri, di hetikan tarikan Yukiko yang juga berdiri. "Jangan! Aku ingin menunjukan pada mereka bahwa aku kuat." Katanya.
Aku bingung. "Kuat? Akan apa?" tanyaku. Dia menarik nafas, memandangku lurus. "Cukup kuat untuk tidak selalu merepotkanmu..." Jawabnya, dengan sedikit malu. Aku terkejut. Ia... Ternyata cukup peduli akan diriku. Aku tersenyum hangat, "Yuki-chan, sudah kubilang. Kau tidak tergantikan." Ucapku sambil memeluknya lagi.
Yukiko sedari tadi tidak berhenti merona sejak ciumanku. "Souji-kun. Kau... Terlalu dekat, hari ini." Kata Yukiko yang merah padam sambil mendorongku pelan. Aku melepaskan pelukanku, tapi tanganku ada di kedua sisi kepalanya. "Jika memang, keputusanmu adalah untuk menghadapi mereka sendiri.. Ketahuilah.. Aku selalu di sini, dan akan selalu di sisimu." Kataku sambil menciumnya sekali lagi. Hanya sekali. Dan lembut. Itu saja membuat Yukiko wajah terbakar.
Lalu, kami memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, aku menggenggam tangan Yukiko yang wajahnya merah padam selalu. Dunia serasa berputar-putar di hatiku.
