Princess Destiny

.

.

.

.

.

Chapter XI

.

.

.

.

.

Jarum jam berjalan kian larut, menimbulkan detak berirama teratur. Tangisan langit menjadi semakin lebat, petir sesekali menyambar, menjadi musik pengiring gelap malam. Istana mulai gelap, tiap ruangan kembali pada peraduannya, istirahat malam.

"Oh, tuhan."

Tapi tidak untuk Pavilion Putra Mahkota. Dibalik remangnya cahaya, Baekhyun menggeliat penuh hasrat. Tubuh telanjangnya dipenuhi peluh, menjadi friksi pembangkit gairah Pria diatasnya, yang kini sibuk menciumi pucuk dadanya.

"C-Chan..."

"Hm?"

Lidah Chanyeol bergerak sensual, menikmati tiap lekuk indah wanitanya. Kecupan kembali dialurkannya pada garis pinggul Baekhyun. Gadis itu menggeliat, otomatis membuka kaki indahnya, menyambut mata Chanyeol dengan surga dunianya.

"Oh, Baekhyun."

Putra Mahkota itu menggeram. Ia mencengkram kedua kaki Baekhyun dan melebarkannya, memberi akses pada kepalanya. Lidah terampilnya kembali bekerja, menjilat klitoris dan belahan surga gadisnya.

"Oh! Oh! Chanyeol!"

Baekhyun kembali menggeliat. Tubuhnya benar-benar diambang kenikmatan. Chanyeol luar biasa hebat dengan lidahnya. Pria itu tidak memberi kesempatan bernafas bagi Baekhyun. Gadis itu dibuatnya hanya mendesah.

"U-uh..Ngh..."

Jemari lentik Baekhyun menjambak pelan rambut Chanyeol, menyalurkan getaran nikmat yang diperolehnya. Dibawah sana, Chanyeol semakin bersemangat dengan lidah dan mulutnya. Kewanitaan Baekhyun yang mulai basah membuat nafsunya kian berkibar.

"Angkat kepalamu. Ngh..Oh, Aku—Ah, Chanyeol!"

Kepala Baekhyun terlempar ke belakang bantalnya. Nafas gadis itu memburu, menikmati puncak pertamanya. Ini gila, Ia bahkan orgasme hanya dengan lidah Chanyeol.

"Buka matamu, Princess."

Keping mata serupa anak anjing terbuka menatap Chanyeol. Pria itu kini sudah kembali menindih Baekhyun, menahan bobotnya dengan kedua sikut di sisi kanan dan kiri. Kedua mata itu saling bertatap hangat.

"Dengar." Chanyeol berbisik. "Kita bisa hentikan sampai disini. Aku tidak mau membuatmu menyesal. Fikirkan sekali lagi dan katakan padaku pilihanmu. Aku tak apa-apa."

Itu bohong. Chanyeol tidak baik-baik saja. Hasratnya sudah diujung ubun-ubun. Baekhyun membuat kejantanannya menegang, bersiap menggagahi surga milik Baekhyun.

"Kau tidak apa-apa." ulang Baekhyun.

Chanyeol mengangguk. "Ya. Aku baik-baik saja."

Baekhyun menatap mata bulat sang Putra Mahkota. Gadis itu tahu, Chanyeol tengah menahan hasrat kelelakiannya. Dengan tatapan sayu, Baekhyun bergerak lebih dulu. Kedua tungkai kakinya Ia lilitkan di pinggang kokoh Chanyeol. Kaki langsing itu mengayun, memaksa pinggul miliknya bergerak maju mundur, menggesek surganya dengan kejantanan Chanyeol.

"Baekhyun." Chanyeol menggeram. "Apa yang—"

"Ini jawabanku." Kini tangan Baekhyun mengalung pada leher Chanyeol. Hasratnya kembali naik. "Tidakkah kau ingin segera memasukinya?"

Chanyeol tidak lagi bisa bertahan. Dibungkamnya bibir tipis Baekhyun dengan cepat, sarat akan nafsu. Kedua insan itu berciuman panas, menimbulkan kecipak selagi pinggul mereka bergerak saling memuaskan.

"Hmmhh.."

Baekhyun tidak lagi bisa menahan desahannya. Ciuman itu terlepas, kini Chanyeol kembali menikmati dada sang gadis. Mata Baekhyun terpejam. Chanyeol benar-benar membuatnya gila. Gesekan dibawah sana terhenti.

"Chan, kenapa—AH!"

Mata Baekhyun terbuka lebar. Rasa perih dibagian bawahnya membuat kepalanya berdenyut. Chanyeol menggeram. Setengah kejantanannya telah masuk kedalam goa hangat Baekhyun.

"Baek, Tahan."

Pria itu mencengkram paha Baekhyun dan memasukkan kejantanannya dalam sekali tarikan nafas. Setitik darah menetes, mewarnai seprai putih ranjang Chanyeol. Sang Putra Mahkota melotot.

"Baekhyun—"

"Tidak bisakah kau lanjutkan saja, Yang Mulia Putra Mahkota?"

Wajah Chanyeol menghangat. Pria itu merunduk dan mencium lembut bibir Baekhyun. Pagutan itu terlepas, meninggalkan saliva diantara keduanya.

"Terima kasih." bisik Chanyeol

Baekhyun tersenyum. Gadis itu menggoyangkan pinggulnya, membuat kejantanan Chanyeol serasa dipijat.

"Baek .."

"Hmmh?"

Dan, Chanyeol mulai menggerakkan pinggulnya, naik turun dalam friksi teratur. Dahi Baekhyun berkerut. Milik Chanyeol begitu besar, membuat lubangnya kerap mengetat, memijat kejantanan si Pria.

"Uh..Ah.."

"Ngh..Ah..Oh Chan.."

Gerakan keduanya makin cepat. Kini, Baekhyun ikut menggerakan pinggulnya berlawan arah, mencari nikmat.

"Ah! Uh lagi...disana ssh.."

Chanyeol menyeringai. Ia mencengkram pinggul Baekhyun, menahannya agar miliknya terbenam sempurna, menghajar titik manis surga Baekhyun.

"Oh astaga! Ah! Ah!"

"Baek—" Chanyeol memejamkan matanya, merasakan kewanitaan Baekhyun yang memijat miliknya. "Ketat sekali, sayang."

Derit ranjang dan hujan menjadi musik malam ini. Peluh kedua insan itu membanjir, menikmati kegiatan intim pertama mereka. Baekhyun dan Chanyeol saling memburu nafas.

"Oh, Aku..."

"Bersama, Sayang."

Kejantanan Chanyeol yang membengkak membuat surga Baekhyun kembali basah, mengeluarkan cairan orgasme. Putra Mahkota menggeram, Ia menaikkan pinggulnya, bersiap mengeluarkan maninya di perut Baekhyun.

"Tidak. Keluarkan di dalam."

Perintah Baekhyun diamini hormon Chanyeol. Mani Pria itu membanjir di rahim Baekhyun, mengalir melalui sela lubang surganya. Kedua insan itu menghela nafas.

"Chanyeol..."

"Hm?"

"Terima kasih."

Senyum hangat Chanyeol terlihat begitu lebar. Pria itu kembali mencium wanitanya, meleburkan rasa yang membuncah dari dalam hatinya. Hujan kini tinggal gerimis, musik Pavilion Putra Mahkota berakhir manis.

.

.

.

Mobil Sehun berhenti tepat di depan restoran Orangtua Luhan yang sudah tutup. Kedua mata elangnya menoleh menatap Luhan yang tertidur dengan posisi tak enak.

"Ckck." Sehun tersenyum. "Bagaimana bisa kau tidur dengan leher seperti ini?"

Tangan Sehun bergerak melepas sabuk pengamannya sendiri. Tubuh kurus itu pun maju sedikit, membuatnya berhadapan dengan Luhan yang tertidur. Sabuk pengaman Luhan dilepasnya, menimbulkan bunyi klik yang keras. Gadis berambut karamel itu terusik, matanya terbuka lebar, membuat Sehun ikut kaget setengah mati.

"Se-Sehun.."

"A-ah." Sehun menjauhkan dirinya, berubah gugup. "Aku tadi melepas sabuk pengamanmu."

Luhan mengangguk malu. "Ah, Aku tertidur ya?"

"Ya." Sehun tersenyum hangat. "Begitulah."

Luhan menegakkan tubuhnya sambil merapikan rambutnya. Hujan diluar sana sudah mulai berhenti, hanya meninggalkan aliran kecil di kaca mobil Sehun. Luhan berdehem.

"Aku..ingin berterima kasih."

Dahi Sehun berkerut. "Terima kasih?"

"Ya." Luhan mengangguk. "Jika bukan karenamu, mungkin Aku tidak akan bisa bertemu Baekhyun."

Sehun tertawa hangat. "Tidak masalah. Putri Mahkota begitu lelah belakangan ini, Aku hanya berusaha membuatnya senang."

"Kau terlihat perhatian dengan Baekhyun." gumam Luhan.

"Tentu saja." Sehun menjawab dengan yakin. Bibir merah muda Luhan mengerucut, membuat Sehun berujung pada satu kesimpulan. "Kau cemburu?"

"Apa?" Mata rusa Luhan melotot, berbanding terbalik dengan pipinya yang memerah. "Tentu saja tidak. Aku hanya senang Baekhyun diperhatikan disana, jadi Aku tidak khawatir."

"Ah." Sehun hanya mengangguk sok paham. Senyuman dalam hatinya mengembang. "Baekhyun bagian dari Istana saat ini. Sudah menjadi tugasku untuk melayaninya."

"Kau benar-benar setia." Luhan tertawa lucu. Kedua insan itu kini larut dalam tawa. Sehun tersenyum, menikmati eskpresi manis Luhan saat mengembang senyum.

"Aku—" Ketika sadar mata Sehun yang tak lepas memperhatikannya, Luhan berubah gugup. "Aku akan turun."

Sehun mengangguk. "Baiklah. Perlu kuantar?"

"Tidak usah." Luhan menggeleng. Gadis itu membuka pintu mobil dan kembali tersenyum pada Sehun. "Terima kasih."

Sehun mengangguk dan tersenyum hangat. Pria itu kembali menyalakan mesin mobil sambil terus menatap Luhan yang—Tunggu. Dahi Sehun kembali berkerut. Luhan berputar balik kearahnya dan mengetuk kaca mobilnya. Sehun membuka pembatas kaca.

"Luhan, apa ada—"

Kejadian itu sangat cepat. Bahkan Sehun sendiri tak menyadarinya. Untuk sepersekian detik, bibir Luhan menempel diatas bibir tipisnya. Sehun berkedip dan Luhan memerah. Gadis itu kini menunduk malu dan berlari kencang memasuki restoran. Wajah Sehun dibakar rasa senang.

"Aku...berciuman?"

.

.

.

Chanyeol mengernyit bingung dengan ekspressi Baekhyun. Gadis itu sudah cantik di pagi hari ini. Gaun pastel simpel telah membungkus tubuhnya, tapi bibir tipisnya masih mengerucut.

"Kau kenapa?"

Diam.

"Baekhyun?"

Diam.

"Oh ayolah."

"Apa kau sama sekali tidak ingin minta maaf?"

"Apa?"

Chanyeol berhenti dari kegiatan menyisir rambut hitamnya. Pria itu kini menatap bingung Baekhyun.

"Minta maaf?" Koneksi otak Chanyeol bergerak lambat. Mata bulatnya menatap Baekhyun aneh."Soal kemarin? Bukankah kau—"

"Lebih dari itu!"

"Baekhyun." Chanyeol menghela nafas. "Bicaralah yang jelas."

Bibir Baekhyun mengerucut sempurna. Keping matanya menatap galak—yang sama sekali tidak terlihat galak—wajah tampan Chanyeol.

"Aku mengijinkanmu untuk tadi malam. Tapi tidak bisakah Kau meminta ijin untuk pagi ini?!"

Semburan Baekhyun membuat Chanyeol tersadar satu hal. Senyuman kikuk terbentuk dari bibirnya. "Baek, tapi kau tertidur."

"Dan Kau meniduriku saat Aku tertidur!" Baekhyun berkacak pinggang sesaat. Gadis itu meraih tas tangannya dan berjalan dengan wajah yang digalak-galakkan. "Aku pergi dengan Luhan. Jangan mencariku hari ini, Pangeran mesum!"

"Ya!"

Teriakan Chanyeol berbalas debuman pintu mahoni kamarnya. Chanyeol menghela nafas lelah.

"Dia seperti nenek. Astaga."

.

.

.

"Sudah berapa kali kukatakan! Dilarang bergosip ketika bekerja!"

Jeonghan mengernyit tak paham. Kaki jenjangnya Ia bawa melangkah ke seberang koridor, tempat para dayang laundry bekerja. Di dalam ruangan yang penuh dengan mesin cuci, Joohyun berdiri berkacak pinggang, dengan para dayang yang menunduk mengitarinya.

"Katakan Kalian mengerti!" Suara Joohyun bergema kembali, membuat Jeonghan bergeming, memegang kusen pintu ruangan. Para dayang itu berkoar paham dan kembali pada pekerjaan masing-masing. Joohyun menghela nafas kesal.

"Joohyun eonni?"

Wajah cantik Joohyun yang semula memerah marah, berubah sumringah saat melihat Jeonghan. Wanita itu tersenyum, memberi kode pada Jeonghan untuk mendekat.

"Ya, Jeonghanie?"

Jeonghan mengerucutkan bibirnya. "Apalagi yang terjadi?"

"Biasa. Para dayang mulai bergosip." decih Joohyun.

Jeonghan tersenyum. "Itu sudah kebiasaan lama, Eonnie. Memangnya ada yang bisa digosipkan?"

Joohyun menatap sedikit Jeonghan dan menarik sekeranjang selimut dalam sebuah ranjang kayu halus. Jeonghan mengernyit.

"Ini apa?"

"Para dayang laundry mengambilnya dari kamar Putra Mahkota pagi ini." Joohyun menghela nafasnya lagi. "Dan, ya, ini bahan gosipnya."

Jeonghan menarik sedikit ujung selimut dengan wajah tak mengerti. Sepersekian detik setelahnya, wajah cantik itu berubah menjadi laksana tomat merah saat mencium bau sperma yang menguar dari sisi lain sprei yang digenggamnya.

.

.

.

Kris duduk menyilang dengan pose anggun di sebuah kafe. Bibirnya menyesap perlahan kopi yang sudah di pesannya. Sesekali mata tajamnya melirik arloji, seakan menunggu kedatangan seseorang.

"Sedikit lagi." gumamnya.

Bunyi lonceng pintu masuk kafe membuat atensinya bangkit. Kris menaruh cangkir kopi di sisi kanan handphonenya. Figur gadis semampai dengan rambut hitam yang terurai sempurna membuat Kris tertawa dalam hati.

Wanita itu—Huang Zi Tao—melangkah penuh percaya diri dan langsung duduk di hadapan Kris. "Apa maumu? Cepat katakan!"

"Ow ow." Kris tertawa mengejek. "Santai saja, Nona. Kita masih punya banyak waktu."

"Tidak." Wajah Tao memerah. "Aku tidak akan meluangkan waktu berhargaku disini. Denganmu."

Kris menatap tajam Tao. "Serahkan memory CCTV yang kau curi. Itu bukan milikmu."

"Lalu itu menjadi milikmu?" Tao tertawa mengejek sambil menaruh handphone di sisi kirinya. Kedua tangannya bersidekap. "Jangan bicara hal gila, Wu Yi Fan."

"Huang Zi Tao." Yifan memajukan tubuhnya, menatap dalam bola mata Tao. "Jika Kau tidak ingin Aku mengganggu Chanyeol dan Baekhyun, bagaimana jika Kau gantikan posisi Baekhyun? Tidur denganku."

Bola mata sewarna jelaga itu membulat lebar, berbarengan dengan wajahnya yang memerah marah. Tao bangkit dari duduknya dan menampar keras pipi Kris. "Brengsek."

Pengunjung kafe serentak menoleh dengan suara tamparan yang menggema. Tao mengambil handphone yang berada di sisi kanannya dan berbalik pergi, meninggalkan Pria tampan yang masih terkejut akan tamparannya.

Yifan menyeringai. "Sial."

.

.

.

Heechul memeluk erat Baekhyun di pintu belakang Restoran suaminya. Baekhyun sudah harus kembali ke Istana, padahal dia belum sampai tiga jam bermain dengan Luhan. Hangeng mengelus pundak istrinya.

"Sudahlah, sayang. Kita bisa bertemu Baekhyun lain kali."

Baekhyun mengangguk mantap dalam pelukan Heechul. Pria cantik itu melepas pelukannya, walau masih menangis sedih.

"Baekhyun sudah seperti Putriku. Lagi pula Sabtu ini Ia akan resmi menjadi Putri Mahkota. Uh, kerajaan mencuri Baekhyun-ku!"

Luhan melotot. "Yak, Jangan bicara sembarangan, bagaimana bisa Mommy menghina kerajaan?"

Heechul merengut. Ia menatap Baekhyun yang tersenyum. "Tolong jangan lupakan kami. Kapanpun Kau butuh, kami selalu ada."

Baekhyun balas tersenyum dan menggenggam kedua tangan Heechul. "Tentu saja, Bibi. Terima kasih untuk penghormatan luar biasa ini."

Hangeng dan Luhan tersenyum. Baekhyun lebih dewasa dari terakhir kali melihat. Luhan bahkan yakin, Ia melihat aura berbeda dari diri Baekhyun. Kerajaan dan Chanyeol mengubah banyak hal.

"Yang Mulia, sudah waktunya."

Suara renyah Taeyeon membuat Baekhyun menoleh. Ia mengangguk sesaat dan kembali menatap keluarga Xi. "Aku kembali dulu. Terima kasih nasi gorengnya, Paman, Bibi, Luhan."

"Tidak usah sungkan, Baekhyun."

Dan mereka pun berpelukan kembali. Baekhyun tersenyum lebar dan melambai tangan sebelum berbalik menuju mobil kerajaan yang menjemputnya. Jeonghan membukakan pintu untuknya. Taeyeon membungkuk hormat pada Keluarga Xi sebelum mengikuti Baekhyun dan berjalan kearah kursi kemudi.

Mobil itu pergi meninggalkan kawasan itu dengan mata Baekhyun yang terus menatap jalan yang berkelebat cepat. Jeonghan yang ada disampingnya diam tanpa suara. Taeyeon menatap junjungannya dari spion depan.

"Yang Mulia, boleh Aku memberi tahu satu hal?"

Baekhyun menoleh dan tersenyum. "Tentu saja, Taeyeon. Apa itu?"

"Ini tentang alasan Anda diminta pulang cepat, dan kemungkinan setelahnya."

Baekhyun terdiam. "Pernikahanku?"

"Iya, Yang Mulia." Taeyeon menatap ke jalan depan sambil tersenyum. "Berbulan yang lalu, saat Putra Mahkota memberi perintah menyelamatkanmu di tengah malam, Aku dan Pasukanku berfikir hal lain."

"Maksudmu?"

"Anda, Yang Mulia. Kami fikir, apa istimewanya Anda? Kami tidak pernah menyukai Kim Yejin, tapi jika Anda disandingkan dengannya saat itu, Anda kalah telak."

Taeyeon melirik Baekhyun sekali lagi dan tersenyum. "Tapi, ternyata kau seribu kali lebih luar biasa, Yang Mulia."

"Taeyeon.."

"Anda, yang selalu menyapa dayang terendah sekalipun dengan senyuman. Anda, yang selalu tersenyum. Anda, yang selalu berfikir positif. Kumohon, Yang Mulia. Jangan pernah terbesit sedikit pun kata 'tak pantas' menghadiri pikiranmu. Kami selalu khawatir jika melihatmu terdiam lama. Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui, Yang Mulia. Aku dan pasukanku tetap mendukungku. Nona Joohyun, Tuan Sehun, dan Jeonghan. Anda memiliki kami semua. Kuat dan tersenyumlah, biarkan Kami selalu berkorban untuk Anda."

Mata Baekhyun memerah, bersiap menangis. Di sampingnya, Jeonghan membungkuk hormat dalam duduknya. "Itu janji kami, Yang Mulia."

Baekhyun kini mulai menangis. Tubuhnya bergetar haru. Ia merasa dihargai. Bagaimana bisa dia merasa Tuhan tak menyayanginya? Dia di anugerahi banyak orang yang selalu berada di sisinya. Baekhyun menghapus airmatanya.

"Terima kasih. Terima kasih."

.

.

.

Pukul delapan malam di Seoul, Angin berhembus sejuk tanpa hujan. Setiap keluarga kini tengah makan malam, tertawa, bercanda, dan Bahagia.

Angin pelan berhembus pelan menyapa setiap jendela. Semua tenang, sampai sebuah notifikasi thread menjadi viral di kalangan media. Seluruh tim media menjadi kembali sibuk. Atensi masyarakat meningkat, menanggapi pengumuman terbaru dari website Kerajaan.

Pernikahan Kerajaan.

Angin tetap berhembus pelan, namun hal besar akan segera terjadi. Mata seluruh dunia tengah menatap Kerajaan.

Youngmin menaruh tehnya di meja, memandang nyalang antara map merah dan layar laptopnya.

"Permainan dimulai."

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

Holla, Purf is back.

Ini masih abis lebaran kan ya? Wkwkwk /sok gak bersalah/ n_n

Maaf ya baru bisa update sekarang, eh iya Mohon maaf lahir batin juga buat kalian /kecup basah/

Oh iya, itu tadi 18+ nya. Jujur aja saya gak jago bikin kaya gitu-_- kelamaan stuck disitu, serius. Terus kalo ada yang minta dipanjangin, itu juga gak bisa, susah atuhlah. n_n

Dan juga, soal review. Saya dari awal sadar kalo tulisan saya itu gak bagus2 amat, dan disini saya nulis apa yang ada di plot pikiran saya. Dan gak bisa diubah. Saya juga gak pernah maksa untuk review, karena, siapa sih saya sampe maksa review? Makanya, agak kesel kalo tiba-tiba liat review yang intinya mengomentari pair lain yang sepertinya geser porsi pair Chanbaek. Ngeliat reviewnya saya jadi mikir, emang gitu ya? Duh, maaf kalo pada ngerasa gitu ya. Tapi saya emang gini, saya kalau nulis gak bisa bikin karakter mentah. Tiap karakter harus punya porsi dan cerita. Jadi maaf kalau yang ngerasa keberatan ya, saya gak bisa ubah cerita. Hehehe.

Udah, gitu aja. Eh iya ada diantara readers yang mabok sama moment dan kode2an ala Chanbaek abis lebaran ini? Senasib sama saya kalo gitu n_n

At least, selamat membaca kawan! Terima kasih atas feed back review, follow, favorite atau yang sempetin waktu buat baca aja, saya beneran menghargai semuanya. Saya baca semua reviewnya kok /bow/

Oke, Sampai jumpa di Next Chapter!

P.S : Saya baru nonton BL Movie Uncontrolled Love, jalan ceritanya bagus, kalau ada yang mau bikin ff based in that movie plot dengan chara apapun tolong notice saya ya n_n makasih!

Regards,

Purf.