.
Our Destiny
Suho : Girl (GS) | Kris : Boy | Yixing : Girl (GS) | Kai | Chanyeol | lead+
Warning : Typo's , Absurd , No Feel
Rated : T+ - M
...
BunnyJoon's Present
...
.
.
.
Di Follow dan di Fav tanpa di review itu berasa di PHPin loh, Kkkk~
Di mohon masukannya ^^
Oh ya .. Baca sampe abiiisss ya ^^
...
Lama wanita itu terisak, sibuk mengurai perih dalam dirinya. Kehadiran Suho kecil, kemunculan Kris, pernderitaan Yixing serta kematian wanita itu. Semuanya terlalu berlebihan ..
Kim Junmyeon menarik nafasnya dalam, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis oleh tangisnya, mencari sedikit saja kekuatan untuk berucap mengenai satu pertanyaan yang terus menghantuinya "Lalu, Bagaimana Zhang Yixing melakukan ini semua ?" Suho menatap Kris dalam "Bagaimana Zhang Yixing membuat Suho mengenal siapa diriku ?"
.
.
.
"Aku tidak tahu bagaimana jelasnya semua itu terjadi" Kris menghela nafasnye pelan "Hanya saja, semenjak Ia sadar setelah komanya selama seminggu, aku pikir semuanya di mulai dari sana" Kris memandang Suho sendu, sementara Suho menatap dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Jika biasanya seorang ibu membacakan sebuah dongeng untuk anak mereka, tapi tidak dengan Yixing, bukan dongeng yang dia ceritakan kepada Suho, tapi dirimu"
"Yixing selalu bercerita tentang siapa dirimu, bagaimana sosokmu, segala kebaikan dan kemurahan hatimu, ketangguhanmu, kekuatanmu, kelembutanmu hingga besarnya ketulusanmu hingga mampu memberi kesempatan untuk Yixing memiliki Suho sebagai malaikat hidupnya"
"Tentang wanita lain yang berkorban lebih besar dari dirinya, tentang Ibu lain yang harus Suho cintai dalam hidupnya. Tentang kemiripan kalian, tentang segala kesamaan kalian, hingga pada satu titik Suho merasa memiliki kalian berdua sebagai Ibunya"
Suho benar-benar sudah tak mampu menahan linangan airmatanya, dia tak sanggup menerima semuanya saat ini, ini terasa terlalu sulit, indah dan berlebihan dalam waktu bersamaan, Suho kehilangan amarahnya, terbuai oleh segala mulut manis Kris yang melulu berucap lirih dan perlahan mengetuk pintu iba hatinya.
Tapi ..
Tapi, mengapa semuanya masih terasa salah ? Ada yang salah! Ada yang mengganjal dalam hatinya, bukan sebuah kebencian tapi rasa yang lain yang tak bisa Ia jelaskan. Ini tak benar, ada sesuatu yang aneh di sini dan Suho tak tahu apa!
"Aku pernah meminta Yixing untuk menghentikan semuanya" Kris berhenti sejenak, Suho sontak menatapnya tak mengerti.
"Karena menurutku ini tak akan berarti apapun, tak akan merubah apapun" Suho masih tak mengerti maksud Kris, tapi entah kenapa dia tiba-tiba merasa terluka karena seolah Kris menolak dirinya, Demi Tuhan jangan permainkan rasa yang mulai bangkit dalam benaknya.
"Tidak, jangan salah paham" Kris mengerti arti tatapan Suho "Aku hanya tak ingin kembali melukaimu" bicara Kris berubah linglung, hanya tak ingin ada lagi kesalahpahaman apapun.
"Aku tak ingin menambah beban dan rasa sakitmu Junmyeon, sudah cukup semua penderitaan dimasa lalu yang Aku berikan padamu, Aku tak ingin menambah deritamu karena jejak kesalahan masa lalu yang tak akan pernah hilang" Kris berucap tak sabaran.
"Sebagaimanapun Yixing melalui derita ini, bagaimanapun aku terpuruk dan seberapa dalampun cinta Suho pada dirimu, Aku tahu ini salah. Ini tak akan mudah, kami semua hanyalah pendosa bagi hidupmu" lanjut Kris pelan hingga hanya terdengar seperti gumaman yang justru menambah deras laju airmata Suho.
"Miyane .."
Suho memandang Kris melalui ujung matanya yang basah, tak mengerti maksud permintaan maaf lirih Kris yang baru saja Pria itu gumamkan padanya
"Untuk ?"
"Membuatmu kembali menangis"
Jawaban Kris justru membuat duka yang menyelimuti Suho semakin besar, air mata yang menderas seiring derasnya hujan di luar sana tak lagi dapat Suho simpan, isakan yang mati-matian Ia tahan nyatanya hanya menambah sesak yang menggumul dahsyat dalam dadanya.
"Ada hal lain yang sebenarnya menjadi tujuan utamaku membawamu ke sini, tapi-" Kris terlihat menimbang-nimbang apa yang akan dia katakan, ragu mengukung hatinya "tapi- akan lebih baik aku menyelesaikan semuanya sekarang" Suho yang tak mengerti maksud Kris, kembali memandang pria itu penuh tanya.
Sementara Kris coba mengumpul segala keyakinan dalam dirinya, mengambil langkahnya kedepan, mendekati guci tempat abu Zhang Yixing berada. Lalu dengan sedikit tenaga Kris membuka kotak beludru berwarna biru tua yang terletak di sana, mengambil sesuatu.
"Yixing memintaku untuk menyerahkan ini kepadamu"
Sebuah surat.
Jutaan tanya masih menggurati wajah cantik itu, Suho dengan ragu menerima lembaran surat terlipat itu dari tangan Kris. Kembali menatap Pria itu tak mengerti.
"Bacalah .." ujar Kris pelan pada Suho yang masih memandangnya dengan mata basah, Kris tahu Suho tak mengerti situasi ini. Dalam diam wanita itu membuka lipatan kertas berwarna cream tsb, kemudian Kris berjalan menjauhi Suho, memberikan wanita itu waktu sendiri untuk membaca pesan terakhir yang sangat ingin Yixing sampaikan.
.
Seoul, 22 September
Pertama kali, izinkan aku mengucapkan maaf atas kelancanganku melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan seperti ini, maafkan aku Junmyeon-ssi.
Sejujurnya .. Aku bahkan tak tahu kata apa yang harus kuucapkan, darimana Aku harus memulai semuanya, hanya saja setelah semua yang terjadi ada satu hal yang begitu aku inginkan, pengampunanmu.
Pertemuan terakhir kita, Aku memanggilmu dengan begitu sopan "Sammoniem" tapi kali ini biarkan Aku sedikit lancang untuk memanggilmu "Oenni", meski Aku yakin Kau tak pernah menginginkan adik sepertiku tapi Aku telah menganggapmu seperti Kakakku sendiri, sosok Malaikat tanpa sayap yang telah Tuhan kirimkan dan menjelma menjadi Kakak bagiku ..
Wanita yang paling tulus yang pernah Aku temui di Dunia ini ..
Oenni ..
Ku mohon ..
Maafkan aku ..
Dosa besar yang pernah Aku lakukan seumur hidupku adalah menyakiti hati wanita sepertimu, dan dosa besar itu telah menghantarkanku ke dalam kungkungan gelap sebuah lubang penyesalan seumur hidupku.
Aku tahu Kau pasti membenciku, Aku yakin Kau sangat membenciku. Tak ada penyesalan terhebat yang pernah ku rasakan hingga ajal datang menjemputku selain satu-satunya hal hina yang telah aku lakukan padamu, Demi Tuhan Aku tak akan pernah tenang bila kau belum menerima maafku.
Sekali lagi ku mohon, maafkanlah Aku, Oennie maafkan semua kesalahan dan dosaku.
Namun atas semua dosaku padamu, atas semua maafku padamu, Aku juga ingin mengatakan satu hal, Terima Kasih.
Terima kasih Oenni ..
Terima kasih ..
Terima kasih banyak karena kau telah memberiku kesempatan untuk memiliki semua hal yang wanita impikan dalam hidupnya. Kau telah membiarkanku hidup dalam kebahagian di akhir sisa hidupku, kebahagian yang ku jalani di atas deritamu.
Terima kasih telah membiarkanku memiliki malaikat kecil penguat hidupku, Wu Suho, juga Kris ..
Dia memperlakukanku dengan sangat baik, dia menjagaku dan memperlakukanku layaknya Aku adalah satu-satunya Permaisuri yang dia cintai, dia selalu menjaga perasaanku dan membuatku bahagia.
Tapi lebih dari itu, Aku tahu .. Jika dihatinya hanya ada satu nama yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun, hanya ada satu wanita yang selalu menghuni pikirannya dan hatinya, dan itu adalah dirimu.
Di beberapa kesempatan aku sering melihatnya termanggu dalam diam, termenung berjam-jam seorang diri dan menghela nafas begitu berat saat mengakhirinya. Dia memang selalu menatapku, tapi yang dia lihat bukan diriku, melainkan bayangan dirimu.
Hampir setiap malam aku melihatnya termenung sambil memandangi fotomu di ruang kerjanya, di bawah lampu temaram itu tak jarang aku menemukan dia tengah menangis tergugu tanpa suara. Saat itu aku benar-benar ingin merengkuhnya, tapi aku tau, yang dia butuhkan bukanlah diriku tapi dirimu.
Dia selalu berceloteh betapa bahagianya dia memiliku dan Putri kami, tapi aku sebenarnya paham jika itu adalah kalimat hiburan yang tengah dia dengungkan pada dirinya sendiri. Dia berusaha keras untuk bahagia saat bersamaku meski dia sendiri tahu bahwa dialah yang paling terluka.
Aku tak mampu meraihnya, Aku tak memiliki kuasa untuk itu. Benar dia membuatku bahagia, tapi kenyataannya aku tak pernah mampu membahagiakannya, karena sesungguhnya bukan akulah sumber kebahagiaanya, kebahagiaannya hanya ada padamu.
Aku tak tahan terus melihatnya seperti itu. Maafkan aku, Oennie.
Untuk itu, aku ingin mengembalikannya, sumber kebahagiaanku pada pemilik sesungguhnya. Tak akan ada yang bisa mengubah takdir. Sejak awal, Kris adalah milikmu dan akan tetap selalu menjadi milikmu, selamanya ..
Dia adalah takdirmu. Walaupun tubuh dan raganya ada disampingku, walaupun sejauh apa jarak telah memisahkan raga kalian, sejauh apapun Oennie pergi dan tak lagi hidup dalam jangkauannya, tapi hati dan pikirannya senantiasa terpaku padamu, selamanya hanya milikmu.
Jika yang pertama kali adalah kata Maaf, lalu sebuah ucapan Terima kasih. Maka kali ini, dengan seluruh hidupku, aku ingin memohon satu hal padamu ..
Ku mohon Eonnie, kembalilah pada Kris. Meski dari sini, meski tak melihatnya langsung, Aku ingin melihatnya kembali bahagia, dan satu-satunya bahagia dalam hidup Kris adalah dirimu, hidup bersama wanita yang dia cintai, bersama wanita yang aku yakin juga masih sangat mencintainya hingga detik ini.
Aku yang telah merusaknya, dan akulah yang memiliki tanggung jawab memperbaikinya. Aku tahu ini adalah sebuah kelancangan dan begitu kurang ajar, tapi Oennie .. Ku mohon .. Kembalilah padanya .. kalian pantas untuk bahagia bersama selamanya.
Yang terakhir dan mungkin hal yang akan kau kutuk selamanya atas diriku, maukah kau juga menjaga sumber kebahagiaanku yang lain ? Aku tahu dia adalah jejak masa lalu kelam yang bahkan tak ingin kau ketahui keberadaannya, tapi Aku tahu wanita berhati mulia sepertimu tak akan pernah mampu membencinya.
Wu Suho, dia adalah malaikat kecil yang dulu kau ijinkan keberadaannya dengan segala bentuk pengorbananmu, kini dia sudah menjelma menjadi sosok anak perempuan cantik yang lincah dan menggemaskan. Dia adalah anak yang cerdas, percayalah dia tak akan banyak menyusahkanmu.
Kau tahu, ketika Aku menceritakan semua tentangmu binaran matanya dan senyum di bibir mungilnya begitu terpancar sebuah kebahagiaan, Dia begitu mencintaimu, sangat mencintaimu, dia begitu mencintai Ibunya.
Maaf atas kelancanganku, tak ada niatan lain ketika aku memutuskan untuk memberinya nama sama sepertimu, Aku hanya ingin ada jejak dirimu dalam hidup kami, Aku tak ingin namamu hilang diterpa ombak, seumur hidup aku ingin merasa kau tetap ada diantara kami.
Tolong jaga dia Eonnie, tolong jaga dia untukku. Tak ada orang lain yang aku mampu percaya selain dirimu. Ku mohon terima kehadirannya, terima semua kasih sayang dan rasa cinta yang dia limpahkan hanya untukmu. Ku mohon, cintai dia.
Dan sekali lagi untuk yang terakhir kali ..
Maafkan Aku Oenni ..
Juga terima kasih banyak ..
Zhang Yixing.
.
Tangan wanita itu terhempas tak bertenaga, meremat pelan surat terakhir dari Zhang Yixing untuknya. Hatinya tak karuan, perasaanya sesak tak menentu, pikirannya kacau. Hanya ada airmata yang menderas mengaliri wajahnya sejadi-jadinya. Tak ada kata, hanya lenguhan-lenguhan pedih yang terdengar pilu. Suho menutup mulutnya rapat-rapat berusaha dengan kuat menyembunyikan isakkan yang semakin sulit ia tahan.
Semuanya begitu sulit Ia terima, semuanya yang terjadi benar-benat tak bisa Ia pikul saat ini, perlahan Suho merasa mulai kehilangan kekuatannya hanya untuk menahan bobot tubuhnya sendiri.
Dengan tatapan kosong berkabut air mata, tanpa sadar tubuhnya terhempas begitu saja merasakan dinginnya marmer yang kali ini lebih menusuk sekujur tubuhnya. Ia bawa kedua telapak tangannya untuk membekap mulutnya sendiri, menahan lolosnya isakan yang seolah meronta minta di raungkan sepuas hati.
Tubuhnya bergetar hebat, surat tulisan tangan terakhir Yixing telah pudar .. ternoda oleh air matanya sendiri. Sekuat apapun Ia coba tahan semua isakan itu, justru semakin terasa perih bak tikaman belati yang menusuk tepat di ulu hati.
Suho tak tau apa yang harus dia lakukan, Suho tak mengerti. Kenapa semuanya berakhir seperti ini, kenapa semuanya menjadi sangat memilukan. Suho merasa tak mampu menanggungnya, ini terlalu sulit, ini terlalu berat, ini terlalu berlebihan.
Tujuan awalnya datang ke Seoul hanya untuk menghadiri pernikahan adiknya, Kim Jongin. Tak ada niatan bahkan hanya untuk sekedar mengenang masa lalu apalagi kembali berhubungan dengan luka masa lalu yang jelas Ia hindari selama ini.
"Ini, apa kau sudah membacanya?" tanya Suho serak sambil mengontrol emosinya.
"Sudah" jawab Kris mencoba tetap tenang.
"Kenapa kau tak langsung mencariku setelahnya ?"
Kris menarik nafasnya dalam, mencoba menemukan sisa harapannya "Yixing memandang semuanya terlalu mudah, aku tak ingin kembali menyakitimu. Mencarimu lagi, dan kemudian memintamu kembali tanpa memikirkan bagaimana luka yang dulu pernah aku torehkan, itu adalah tindakan paling egois yang tak akan mampu aku lakukan"
"Lalu kenapa sekarang kau memberikan surat ini padaku ?" isakkan Suho pecah, dia berbicara dengan nada histeris yang sudah tak mampu dia tahan, melupakan fakta jika mereka sedang berbicara di tempat umum walaupun tak ada siapapun. Sementara Kris ? Sang pengecut yang hanya kembali diam, tak memiliki sebuah katapun untuk Ia ucapkan.
.
Bertemu Wu Suho yang ternyata anak dari Kris –mantan suaminya bersama Yixing. Lalu derita yang di susul kematian wanita itu, terlebih Suho kecil yang terus saja menyebutnya Ibu. Semua terlalu pahit, kenyataan yang terjadi terlalu pedih.
Kenapa takdir seolah-olah selalu menjebaknya dalam permainan keji tanpa ampun. Suho membuka lembar-lembar dosanya di masa lalu, menebak-nebak dosa kejam mana yang telah Ia lakukan hingga mendapat balasan begitu berat seperti ini.
Kris, pernikahan mereka hingga anaknya bersama Kris, -anaknya ..
Suho meraih kesadaran dengan meraup udara sebanyak-banyaknya. Membunuh sesak dalam dadanya dalam satu tarikan nafas panjang, kemudian membawa pandangannya menuju Kris. Pria yang tengah menunduk dalam bersimbah air mata dalam diamnya.
"K-kris .." panggilnya serak, sang pemilik nama buru-buru menyeka air matanya.
Wanita itu bangkit, mengumpulkan sisa-sisa tenaga miliknya. Lalu berjalan terseok, menghampiri sebuah ruang dalam lemari yang di tutupi kaca bening. Membelai kaca itu sendu, seolah kembali menarik luka paling parah yang pernah Ia terima seumur hidup.
Kris membisu, hanya tak mengerti apa yang coba Suho sampaikan secara tersirat padanya.
Bersama tetesan deras air mata miliknya yang kembali mengalir, Suho membuka pelan pintu kaca tsb. Sederhana, sebuah guci berukiran tinta emas tergeletak di sana, tanpa sebuah figura atau barang-barang berharga seperti biasanya, begitu kosong bahkan tanpa sebuah nama.
Hingga letak guci itu Suho geser pelan dari posisinya, menampakkan sebuah kotak cincin beludru berwarna merah berbentuk hati dan Kris tak bodoh untuk tahu benda apa itu. Ukiran sampingnya bertinta hitam tertulis nama mereka "Kim Junmyeon dan Wu Yi Fan" , hadiah pernikahan juga pengikat penikahan mereka bertahun-tahun silam.
Hanya saja, Kris yang bodoh itu masih tak mengerti .. Mengapa ada cincin pernikahan mereka –yang kembali Suho pungut di bawah tangga pengadilan tahun-tahun lalu- berada di sana. Sampai Suho meraihnya, menggenggamnya erat lalu meletakkan benda itu di atas telapak tangan besar Kris.
Tanpa sebuah kata ..
Hanya air mata ..
Dan sebuah tatapan sendu, penuh rasa bersalah juga marah, menyiratkan kekecewaan yang begitu mendalam, mampu membimbing pemikirian liar Kris untuk menemukan jawabannya. Lama Kris menatap Suho dalam diam, mencari-cari jawaban atas teka-teki yang begitu rumit baginya.
"Kim Junmyeon" suara berat itu menggumam penuh prasangka, Suho mengalihkan pandangannya dari Kris, kemana saja asal bukan tatapan nyalang dengan mata merah milik lelaki itu.
"Kim Junmyeon, tatap aku !"
"JELASKAN APA INII!" pekiknya tak segan, tak hanya Suho yang terhenyak, Suho kecil yang semula terlelap dalam gendongan kokok Kris pun sontak tersadar dari alam mimpinya.
"DEMI TUHAN, KIM JUNMYEON CEPAT JAWAB AKU!"
Pandangan Suho bergerak resah, menyapu sekeliling dengan cepat, suara tegas itu menakuti sebagian besar dirinya. Suho tak ingin lari lagi, tapi dia benar-benar tak tahu harus bertindak seperti apa. Jangankan berucap panjang lebar menjelaskan, bernafas saja rasanya begitu sulit.
Dengan terburu dan masih berderai airmata, Suho memutuskan untuk keluar dari ruangan besar yang terasa sangat menyesakkan itu, tak peduli betapa Kris begitu emosial saat ini.
"KIM JUNMYEON!"
Baru beberapa langkah di mulainya Suho langsung menghentikan kakinya begitu mendengar suara berat Kris menyebut namanya -lagi. Dengan kaku Suho membalikkan tubuhnya, sudah Ia katakan jika Ia tak ingin lagi melarikan diri, dengan segala kekalutan dalam dirinya, Ia coba memberanikan diri menatap ke arah Kris dengan penuh air mata, dan Kris mencoba mendekatinya bersama Suho kecil yang sudah tebangun dan berjalan dalam gandengannya.
"Oemmaaa .." Suho kecil berseru sambil berusaha berlari mendekati Suho.
Tanpa di duga, Suho bersama seluruh kekalutan serta kebingungan yang mendera dirinya secara refleks melangkah mundur dengan cepat, tanpa sadar menolak dengan tatapan sulit di artikan, mengejutkan Suho kecil yang langsung menghentikan langkahnya langsung menatap Suho berkaca-kaca. Dan perubahan raut wajah Suho kecil sukses kembali membuat Suho diselimuti perasaan bersalah yang tak jelas muaranya.
Suho kecil berbalik, menatap Ayahnya sedih. Namun tak ada lengan hangat yang terbuka hendak memberinya pelukan, Ayahnya mematung, menatap tajam ke arah sang Ibu dan dirinya masih terlalu naif untuk mengartikan tatapan apa itu.
Gadis kecil itu kebingungan, dulu Yixing Oemma bilang jika Ia menjadi anak baik dan penurut maka Suho Oemma akan datang. Suho Oemma yang mencintainya, tapi kenapa ? Kenapa semua orang kini sibuk diam dalam tangis dan mengabaikannya ?
"Kim Junmyeon, apa dia .. diaa ... "
"Eomma (hiks)" Suho kecil ikut menangis, Ia hendak mengadu dan hanya nama 'Oemma' yang terucap tanpa Ia sadari. Gadis kecil itu benci situasi seperti ini, Ia tak suka dan ikut merasa sedih melihat wanita yang dia anggap sebagai ibu menangis dihadapannya, juga Ayahnya.
Tangisan gadis kecil itu menarik Kim Junmyeon dari seluruh emosi dalam dirinya, menyesali ledakkan emosi yang tak mampu dia tahan "Maaf" lirih Suho pelan.
"Maaf .. Maafkan aku" Suho berucap sambil menggeleng penuh kelirihan, entah maaf untuk apa. Untuknya yang membuat Suho kecil ketakutan, atau justru maaf pada Kris atas semua yang baru saja Pria itu ketahui ?
Tak ada penjelasana setelahnya, wanita itu berbalik kemudian melangkah cepat meninggalkan Kris yang hanya mampu berdiri mematung tanpa daya menatap punggungnya yang mulai menjauh. Kris tak bodoh untuk mengetahui situasi ini, tak ada niatan dalam dirinya untuk mengejar Suho.
Karena guci di sisi kanannya, menariknya lebih kuat untuk tinggal. Tinggal dan meraung sejadi-jadinya.
"Oemma .. Oemmaaaa .." raungan Suho kecil tak lagi terdengar, terbungkam oleh raungan pilu milik Kris "Appa .. Apppaaaa .." gadis kecil itu menarik jemari Kris sekuat tenaga yang Ia miliki, namun Sang Ayah mengacuhkannya dan lebih memilih terisak berurai air mata menatap entah apa, gadis kecil itu tak mengerti, yang Ia tahu .. dirinya merasa terbuang.
.
.
.
Tungkai tak bertenaga itu berlari semampu yang Ia bisa, menembus derasnya hujan berlari entah kemana. Yang Ia inginkan hanyalah pergi, menjauh dari kenyataan ini. Pergi sejauh mungkin, pergi dan tak ingin kembali.
Ia hanya tak mampu berpikir hal lain selain kabur dari kekejaman takdir ini, melarikan diri bak pengecut, sama seperti yang sudah-sudah. Bersama derasnya hujan yang mengguyur basah tubuhnya, juga menghapus jejak air matanya ..
Tak ada tujuan, bahkan Ia tak tahu arah mana yang telah Ia pilih, sudah ku katakan jika Ia hanya berlari kesetanan seperti orang gila, mencoba kabur dari kungkungan kesakitan yang seolah tak pernah berhenti.
Lelah ..
Hanya saja kata lelah terlalu sederhana untuk menggambarkan kondisi dirinya ..
"Kim Junmyeon"
Hingga sebuah suara berat terdengar samar berlomba sampai ke telinganya bersama air hujan
"Kim Junmyeon"
Suara yang seolah memberinya sebuah harapan, untuk membuang semua mimpi buruk ini
"Kim Junmyeon"
Suho menemukannya, wanita itu berbalik dan di sana .. tak jauh dari tempat Ia berdiri, di bawah derasnya hujan meski tertutup kabut namun sosoknya dapat Suho lihat begitu jelas. Park Chanyeol, tengah tersenyum lebar bak idot sembari terengah lelah, kemudian merentangkan tangannya, menyajikan dekapan hangat yang begitu Ia butuhkan.
.
.
.
-tbc-
.
.
.
Ending dengan tidak elitnya, Wkakakaka :v
Sebenarnya Joon gak nyangka, kalo Yixing di sini di pandang jahat banget :3
Dari awal gak niat bikin Yixing di benci di sini, Joon pikir semua jelas karena di sini Yixing sejujurnya sama sekali gak punya salah. Kalau memang harus ada yang di cap bersalah, itu pasti Kris. Tapi kembali lagi, setiap emosi dari kalimat yang Joon tulis tetep readers yang nilai, dan gimana ? Apa kesalahan Yixing sudah termaafkan ?
Joon sedikit aja mau main-main sama Kris, buat dia menderita dikit meskipun sebenernya dia emang uda menderita sejak awal sih, Cuma yah .. belum sepadan aja apa yang Kris rasain sm yang Junmyeon rasain.
Joon pernah ingetin kalau CY punya peran yang gak main-main kan ? Muehehehe~
Kalau di tanya ini endingnya bakalan Suho-CY atau Suho-Kris, jawabannya ada di readers kok. Maunya gimana ? Kkkkk~
.
.
Last but not least, THANK YOU buat semua yang uda support dan ngetik-ngetik di kolom review. Komentar kalian multivitamin buat lanjut nulis ^^
.
.
.
Happy Reading ^^
...
.
.
"Kau sudah mendoakan Suho Oemma ?"
"Eum.. Tentu saja .." si kecil mengangguk buru-buru
"Eomma, Apa Suho Oemma itu cantik ?"
"Sangat!" jawab Yixing antusias "Suho Eomma adalah wanita paling cantik di dunia ini, sama seperti kau .." Yixing mencubit hidung Suho kecil gemas
"Matanya tipis, melengkung begitu indah ketika tertawa, sama seperti milikmu .."
"Bibirnya selalu menyunggingkan senyum kehangatan, juga sama seperti dirimu .."
"Suaranya yang merdu dan begitu lembut ketika berucap, lagi-lagi sama sepertimu .."
Senyuman cerah terbit menghiasi wajah Suho kecil mendengar cerita sang Ibu, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah bingung, menatap sang Ibu penuh tanya "Kenapa Aku mirip Suho Eomma ? Memangnya aku tidak mirip dengan Oemma ?"
"Tentu saja kau mirip Oemma, tapi menurut Oemma kau jauh lebih mirip dengan Suho Oemma"
"Kenapa bisa begitu ? Kenapa aku lebih mirip Suho Oemma di banding dengan Oemma ?"
Yixing tersenyum, Suho kecilnya memang selalu penuh dengan rasa ingin tahu "Karena Appa sangat mencintai Suho Oemma ?!" gumamnya tulus
Sementara si mungil menautkan alisnya tak mengerti "Memangnya Appa tidak mencintai Oemma ? Apa Appa hanya mencintai Suho Oemma ?" tanyanya sedikit heran meski dirinya sendiri tak begitu mengerti makna cinta dan dicintai.
Yixing terkekeh pelan "Tentu saja Appa mencintai Oemma, Appa juga sangat mencintaimu, Mencintai Suho Oemma, Appa mencintai kita semua" jawab Yixing sembari mengusap sayang surai sang buat hati, Suho kecil mengangguk senang.
Benar, Appanya selalu membisikkan kalimat-kalimat seperti itu setiap pagi ketika mengantarkannya pergi sekolah, dan setiap malam ketika menemaninya tidur. Tentu Kris mencintainya kan ?
.
"Oemma .." panggil si kecil ragu
"Ada apa sayang ?" tanya Yixing lembut, menatap wajah Suho kecil sama lembutnya
"Lalu .. Apa Suho Oemma mencintaiku ?"
Pertanyaan tak terduga Suho kecil menghilangkan senyum di wajah Yixing seketika. Yixing membisu, menghadirkan kesunyian cukup lama di antara mereka membuat Suho kecil mengerucutkan bibirnya sebal, tak suka menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Yixing kembali menemukan senyumannya "Tentu saja Suho Eomma mencintaimu sayang .. Dia pasti sangat mencintaimu. Karena jika dia tidak mencintaimu, dia tak akan membiarkan Eomma untuk memilikimu"
Ada binaran bahagia muncul di kedua manik mata hitam legam itu, Suho kecil tersenyum penuh arti menatap Yixing sumringah.
.
"Kau mau berjanji satu hal pada Oemma ?"
"Berjanji ? Apa ?"
"Jangan pernah menangis ketika kau tak lagi menemukan Oemma di dekatmu"
"Maksud Oemma ?" Suho kecil menatap tak suka, Ia tak suka Oemmanya pergi jauh darinya
"Jika nanti, Oemma pergi dan tak lagi di sampingmu teruslah berjanji untuk menjadi anak baik, jangan nakal dan menyusahkan Appa .." senyum di wajah Suho kecil luntur, memandang Yixing marah
"Sebagai imbalannya, jika kau terus menjadi anak baik dan penurut maka Suho Oemma akan datang"
"Suho Oemma ? Akan datang menemuiku ?" tanya Suho kecil riang khas suara anak-anak, entah menguar kemana semua tatapan tak sukanya barusan
"Oh .." Yixing mengangguk, menyeka buliran air mata yang nyari lolos dari kelopaknya sementara senyum bahagia tak bisa gadis kecil itu hilangkan dengan mudah.
"Aku janji ! Aku akan jadi anak baik, aku tidak akan menangis dan menyusahkan Appa. Aku janji Oemma !" ujar gadis itu semangat, penuh senyuman membanyangkan Suho Oemmanya yang cantik dan baik hati akan datang menemuinya nanti.
"Anak pintar" Yixing mengacak gemas surai kehitaman itu.
"Dan sekarang, anak baik harus segera tidur" Yixing menaikkan selimut sebatas dada Suho kecil "Selama malam malaikat kecil Oemma .." sebuah kecupan hangat mendarat di kening Suho kecil "Selamat malam Yixing Oemma, Selamat Malam Appa, juga .. Selamat Malam Suho Oemma" gumamnya pelan memulai langkahnya memasuki alam mimpi
.
.
.
.
