Summary: Dengan santai Asseylum malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Slaine, berjinjit sedikit agar tinggi wajahnya sejajar dengan Slaine
Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama
Genre: Romance, YAOI ALLERT
Rate: T
Pairing: Inaho x Slaine
Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan
Balasan Review:
-Tugas Akhir-
Chi-chan: kyaaa kangen yah? Kangen yah? Pede /dibuang/ hahaha fic ini dibuatnya pas lagi antara hidup dan mati sebelum sidang XD phuahahaha
Yuan: waktu itu belum tau tanggal pasti sidangnya kapan, jadinya ilang awal bulan september baru balik lagi.. ehh taunya sidangnya lebih cepat dari dugaan jadinya yah bisa balik lebih cepat. Hooh beneran gak mandi 3 atu 4 hari yah gitu? Karna gak ada tidur, kata dokter mandi disaat habis begadang itu gak baik :3
Jeng Ririn: yupsss percakapannya yang di scene revisi itu kisah nyata . phuahahaha
-Masih Seperti Dulu (chap 10)
Jeng Ririn: always yah ba..baka itu… udah itu udah jadi kata fave phuahahaha.. udah aahh takut malah bagian ini jadi ajang curcolan *ehh
Yuan: penyakit Slaine bakal terjawab di chap ini :3.. selamat enikmati hahahai
DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~
MASIH SEPERTI DULU
(chap 11)
"Anything For You"
"Bat, kau di rumah?" teriaknya mencoba santai. Itukah alasan Slaine?
"Ya…" suara Slaine sedikit bergetar dari arah dapur
"Kau sudah makan?" Tanya Inaho sambil bersandar di pintu kamar mandi
"i..iya.. kau sendiri?" di dalam kamar mandi Slaine juga bersandar di daun pintu, posisinya kemudian merosot, kakinya seketika lemah membuatnya duduk bersandar di pintu. Berharap dalam hati Inaho tidak membaca kertas tadi.
"Belum. Aku tidak berselera jika tidak melihatmu saat aku makan!" Inaho menutup matanya dengan tangan, sebelah tangannya mengepal. Haruskah dirinya berpura-pura tidak tau seperti ini? "Bat, maafkan aku yang sudah menamparmu tadi"
"ah.. ha ha ha.. aku akan melakukan hal itu jika jadi kau Orenji"
….
Mereka berdua sama-sama diam, tidak ada dari mereka yang berbicara, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mereka berdua sama-sama menangis dalam diam..
Jam di meja samping tempat tidur menunjuk pukul 5 20 pagi. Mereka berdua tampak tidur saling memunggungi tidak seperti biasa. Tapi tak ada satupun dari mereka berdua yang benar-benar tertidur. Mereka sibuk tenggelam dalam fikirannya masing-masing. Sejak semalam mereka berdua tidak banyak saling berbicara. Slaine sibuk menangis dalam diamnya, air matanya sudah sangat kering untuk keluar. Inaho lebih parah lagi, 2 kata yang dia baca di tumpukan kertas saat pulang tadi terus berputar di kepalanya. Membayangkan jika dirinya harus berpisah lagi dengan Slaine membuatnya juga ingi ikut meninggalkan dunia. Membayangkan jika orang yang sangat dicintainya itu kesakitan tetapi berpura-pura sehat membuatnya merasa jauh lebih sakit. Slaine berlari kecil menuju kamar mandi, menutup hidungnya yang sekali lagi mengeluarkan aliran darah segar.
"Bat?" Inaho yang merasakan tempat tidur mereka bergerak akibat Slaine seketika membalik badannya, mendapati Slaine tengah memegang pintu kamar mandi.
"Panggilan alam Orenji"
"Naruhodo" Inaho kembali berbaring, melipat tangannya di kepala dan menjadikannya bantal, pandangannya lurus ke arah langit-langit kamar mereka. Inaho kembali melihat ke sampingnya, tempat yang beberapa menit lalu ditempati Slaine, sebuah corak aneh tertangkap oleh penglihatan tajam Inaho. mata Inaho menyipit saat menyentuhnya, cairan kental hangat berwarna merah. 'panggilan alam?' gumamnya pada dirinya sendiri.
~O~O~O~O~O~O~O~
Slaine memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, kembali membuka salah satu pesan di ponselnya. Pesan dari teman kuliahnya.
From: Asseylum
Title: no title
Subject: Maaf Slaine, aku tidak bisa lagi menjadi dokter pribadimu. Sejujurnya aku berharap kau mati saja!
Slaine masih tidak percaya dengan apa yang dibacanya, sudah berulang kali Slaine membaca pesan singkat itu, berharap tulisan di sana berubah, namun yang diinginkannya tidak terwujud. Mobil sport putihnya terparkir rapih di sebuah halaman rumah bergaya Eropa. Pagar tinggi membatasi rumah itu dengan dunia luar, Slaine menekan bel beberapa kali diikuti pintu pagar yang terbuka secara otomatis. Seorang pelayan wanita dengan rambut berwarna coklat disanggul rapih membukakan pintu, menyambut kedatangan Slaine dengan sopan sambil membungkukkan sedikit badan.
"Asseylum…"
"Nona ada di dalam tuan, silahkan langsung masuk ke ruang baca." Pelayan tadi mempersilahkan Slaine masuk lalu mengantar Slaine tepat di depan ruang baca. Slaine membuka pintu kayu yang penuh ukiran itu perlahan, menampakkan sosok wanita dengan gaun mewah berwarna putih dan rambut yang dibiarkan terurai panjang hingga enutup seluruh bagian belakang tubuhnya
"Asseylum-san, aku datang.."
"Untuk memastikan pesan singkatku? Yah, aku memang menulis hal itu. Aku tidak lagi bisa menjadi doktermu karna aku benar-benar mengharapkan kematianmu. Kau tau? Aku jatuh cinta saat pertama kali melihat tuan Kaizuka Inaho. siapa sangka orang seperti dia bisa jatuh cinta kepadamu? Siapa sangka orang seperti dia bisa kehilangan akal menyukai seorang pria. Tidak heran kau tidak isa melupakan cinta pertamamu itu bahkan dengan aku berada di sisimu saat kita kuliah! Mungkin aku bisa balas dendam kepadamu atas kelakuanmu dulu yang pura-pura menyukaiku, tapi kali ini akan kurebut Inaho darimu! Rasakan bagaimana sakitnya saat orang yang kau benar-benar cintai direbut! Kau harus merasakan apa yang dulu kurasakan Slaine!"
"kau masih membicarakan kejadian saat kita kuliah? Bukannya dari awal jelas kukatakan padamu kalau ada orang lain yang kusukai, kau sendiri yang bilang 'tidak masalah' kan? dan sekarang kau malah mau balas dendam? Asseylum, aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di fikiranmu!" Slaine memegang kedua bahu Asseylum
Dengan santai Asseylum malah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Slaine, berjinjit sedikit agar tinggi wajahnya sejajar dengan Slaine "dari awal yang memintaku untuk berperan menjadi pacarmu dan membuat Inaho membencimu adalah kau bukan? Apa salahnya jika saat kalian putus aku mendapatkan Inaho?" Senyum sinis tersungging di bibir Asseylum, mata mereka saling beradu tatapan menantang satu sama lain.
"Dia sudah punya istri! Istrinya bahkan mengandung anak mereka! Bukannya kau terlalu kejam jika memasukkan dirimu ke dalam keluarga mereka?"
"Lihat siapa yang berbicara.. kata-kata itu bukannya lebih tepat kau tujukan untuk dirimu sendiri? Kau bahkan tidak mungkin berniat melepaskan Inaho jika bukan karna penyakitmu itukan?"
Slaine terdiam, ingin rasanya dia menampar wanita di hadapannya ini, bukan karna tidak setuju dengan apa yang dikatakan Asseylum. Tapi karna semua yang dikatakan Asseylum benar. Yah, Asseylum benar jika bukan karna penyakitnya Slaine tidak akan meninggalkan Inaho. Slaine hanya tidak ingin Inaho semakin menderita jika mereka tetap bersama dan suatu hari dirinya harus merepotkan Inaho mengurusinya yang sakit parah lalu kemudian mati meninggalkan Inaho seorang diri. Satu-satunya yang paling benar yang terlintas di kepala Slaine saat ini adalah membuat Inaho membencinya dan menyuruhnya kembali bersama Istri dan calon anak mereka.
Asseylum tidak membuang kesempatan, dengan cepat menarik Slaine sehingga membuat Slaine jatuh menimpa dirinya. Senyum licik kembali muncul di wajah cantik Asseylum
"Akan kulaukan apapun yang kau inginkan, sebagai gantinya jangan ganggu Inaho dan keluarganya lagi!" Slaine menatap wanita yang berada tepat di bawahnya
"Kau tau apa yang dari dulu sangat kuinginkan Slaine! Kau tau betul apa itu!"
Tanpa berkata sepatah katapun lagi, Slaine mulai merabah setiap mili kulit putih wanita itu. Tatapannya kosong, sorot mata hijau kebiruaannya yang selama ini terlihat sangat menenangkan seketika berubah kelam. Ruang baca besar itu menjadi saksi bisu hal yang mereka berdua lakukan.
~O~O~O~O~O~O~O~
Inaho menatap layar tv di depannya, adegan-adegan yang bahkan tidak pernah terlintas di fikirannya saat ini melintas tepat di depan matanya. Slaine? Bersama dengan wanita lain dan melakukan hal itu? Ekspresinya masih datar, rasa marahnya seketika mereda saat kembali mengingat kertas yang dia baca beberapa hari lalu. 'Slaine sengaja berbuat ini untuk membuatku jauh darinya!' Inaho berusaha menanamkan itu di fikirannya berulang-ulang kali. Inaho dengan cepat mematikan tv saat mendengar suara pintu terbuka, sesosok pria berambut kuning pucat muncul di sana. wajahnya tampak kusut, pakaiannya terlihat lusuh di beberapa tempat, bau parfum wanita menguar dari tubuhnya.
"Bat? Kau sudah makan malam?" Inaho berusaha menekan emosinya, jika bisa ingin sekali rasanya dia mengguyur Slaine detik itu juga menghilangkan bau wanita lain yang menempel di tubuh pacarnya itu.
"Sudah. Baru saja, bersama Asseylum" Slaine meninggalkan Inaho di ruang nonton menuju ke kamar. Tepat saat kakinya melangkah di anak tangga ketiga, Slaine berbalik ke arah Inaho "Ano Orenji, mulai besok kau tidak usah menungguku untuk makan lagi. Jika sangat ingin makan bersama orang lain, cobalah pulang dan makan bersama Yuki-nee dan Inko-san"
Inaho hanya menatap Slaine diam. Otaknya yang selama ini cukup jenius, tidak tau harus bertindak apa menghadapi ini semua. Sampai detik ini Slaine bahkan belum memeritahukan tentang sakitnya kepada dirinya. Inaho bahkan tidak tau video yang tadi diterimanya adalah video yang dikirim Slaine atau orang lain. Pertama kalinya dalam hidupnya Inaho tidak bisa membuat keputusan yang benar.
~O~O~O~O~O~O~O~
"Selamat pagi nyonya Kaizuka, bagaimana keadaanmu?" Slaine tersenyum, sebenarnya bukan perkara muda memaksakan tersenyum kepada wanita di depannya ini. namun, saat mengingat wanita ini sedang mengandung anak dari pria yang paling dicintainya membuatnya tanpa sadar langsung tersenyum, seakan dia melihat calon anak itu adalah anaknya sendiri meskipun ayah kandung dari anak-anak itu bahkan tidak peduli.
"Cukup buruk hanya karna bertemu dengan Anda dokter Saazbaum!" nada suara Inko berubah dingin, sangat jijik dengan dokter dihadapannya
"Maaf? Apa saya sudah berbuat salah?" Slaine bertanya bingung
"Jika Anda fikir merebut suami dari orang yang sedang mengandung bukan hal yang salah, artinya Anda tidak salah apa-apa!"
Mata Slaine membulat, sekujur tubuhnya kemudian gemetar, telapak tangannya tiba-tiba dipenuhi keringat. Inko sudah tau? Dari siapa? Siapa yang memberitau Inko? Inaho? Yuki-nee? atau jangan-jangan Asseylum? Slaine menggeleng, Asseylum sudah berjanji tidak akan mengganggu keluarga Inaho lagi. Lalu dari siapa?
"Dimana hati nurani Anda…." Ucapan Inko terputus saat orang di hadapannya mengelurkan darah dari hidungnya. "Dokter? Anda baik-baik saja?" tanyanya seketika panik
"Hah?" Slaine balik bertanya bingung, tangannya mengikuti gerakan tangan Inko yang sudah memegang bawah hidungnya, seketika kesadaran Slaine menghilang diikuti teriakan panik Inko memanggil pertolongan. Slaine pingsan, tubuhnya terhempas keras membentur lantai ruang pemeriksaan, menyisakan sedikit lebam di pipi kanannya yang langsung bersentuhan dengan lantai.
~O~O~O~O~O~O~O~
Inaho menginjak dalam pedal gas mobilnya, membuat mobil sport berwarna orange itu melaju sangat cepat di jalan, beberapa pengendara lain menekan klakson refleks saat mobil mereka disalip oleh Inaho. Inaho bahkan menerobos beberapa lampu merah, tidak ingin membuang waktu sedetik saja saat mendengar Slaine tiba-tiba pingsan. Meninggalkan rapat yang cukup penting begitu saja. Meninggalkan kendaraannya dalam keadaan menyala setelah sampai di pintu rumah sakit, berlari secepat yang dia bisa ke ruangan tempat perawatan Slaine.
"Kanclain? Apa yang?... Bagaimana keadaan Slaine?"
"kanker darah yang dideritanya memasuki stadium 3, satu-satunya cara menyembuhkannya adalah dengan transplantasi sumsum tulang belakang. Namun tingkat keberhasilan itu hanya 30%. Jika tidak Slaine hanya akan bertahan 6 bulan saja"
"Aku.. ambil saja sumsum tulangku!" Inaho mengguncang tubuh Kanclain
"Jika bisa sekarangpun akan kulakukan itu. Sayangnya transplantasi sumsum tulang belakang tidak semudah itu. Maaf Inaho. kita masih punya waktu 2 bulan untuk mencari sumsum tulang belakang yang cocok dengan Slaine."
"Ijinkan aku…"
"Masuklah, saat ini kaulah orang yang paling dibutuhkan Slaine!"
Inaho mengangguk, lalu masuk ke ruang di mana Slaine msih tidak sadarkan diri. Kulitnya yang memang sudah pucat terlihat semakin pucat. Kelopak matanya yang selalu terbuka menampakkan manik berwarna hijaukebiruan saat ini tertutup. Bibirnya yang selama ini terlihat berwarna kemerahan terlihat memutih. Beberapa alat-alat medis terhubung dengan tubuhnya. Inaho memegang tangan Slaine. Menciumi tangan pucat itu, berharap si empunya tangan segera membuka matanya.
"Jika bisa kutukar, akan kutukar nyawaku untuk menyelamatkanmu!" bisik Inaho lirih di telinga Slaine
Flashback
"hiks.. Orenji.. kau mendengarku? Hiks ini semua aku saja yang terbaring di sini! Bukan kau.. hiks. Nee orenji, cepat buka matamu!" Slaine memeluk Inaho yang masih belum sadar, benturan di kepalanya akibat tertabrak mobil membuatnya harus mengalami operasi bedah karna ternyata ada darah menggumppal di kepalanya akibat pendarahan dalam.
"Slaine-kun, ini ukan salahmu. Slaine juga pasti akan berbuat hal yang sama jika hal itu akan menimpa Inaho. tenanglah Inaho pasti akan sadar tidak akan meniggalkan Slaine seorang diri." Yuki-nee berusaha menenangkan Slaine kecil dengan mengusap rambut surai kuning Slaine.
"Tapi.."
"Slaine percaya pada Inaho kan?"
Slaine mengangguk menjawab pertanyaan Yuki-nee. Slaine lalu berbisik tepat di telinga Inaho "Jika bisa kutukar, akan kutukar nyawaku untuk menyelamatkanmu!"
Jika kalian percaya dengan yang namanya keajaiban, maka itulah yang dialami Inaho. beberapa saat setelah Slaine berbisik, Inaho memberi respon gerakan di beberapa jarinya. Kelopak matanya yang sedari 3 hari lalu tertutup bergerak, terbuka sedikit demi sedikit perlahan tapi pasti. Inaho menggerakkan bibirnya, seperti sedang mengucapkan sesuatu. Tapi alat bantu pernapasan di mulutnya membuat suaranya tak terdengar.
"Bodoh…. Kalau kau… menukar… nyawamu… untukku.. lantas.. apa.. gunanya.. aku .. hidup?"
Slaine kecil refleks memeluk Inaho, membuat Inaho sedikit meringis karna saking eratnya Slaine memeluknya.
~End of flashback~
Inko hanya bisa menutup mlutnya, tidak percaya dengan yang dilihatnya ini. Suaminya datang saat mendengar kabar Slaine. Wajahnya biasanya datar terlihat begitu frustasi. Pertama kalinya Inaho menampakkan ekspresi lain. Sayangnya itu bukan untuk dirinya tapi untuk orang lain. Inko kembali mengelus perutnya, 2 bulan lagi anak-anaknya akan lahir, 2 bulan lagi dia dan Inaho harus berpisah. Namun tidak butuh waktu dua bulan untuk membuatnya sadar jika Inaho tidak menginginkan dirinya.
"Kau pasti Inko?" sebuah suara dari arah belakangnya mengagetkannya.
"Ya.. dan kau?" tanyanya bingung pada wanita berambut pirang panjang yang tadi menegurnya
"Aku Asseylum. Tunangan Slaine, sekaligus mantan dokter pribadi Slaine."
"Ada urusan apa tunangan Slaine denganku?"
"Kau pasti tidak ingin Inaho meninggalkanmu kan?"
"Hanya wanita tidak waras yang bahagia suaminya meninggalkannya" jawab Inko sinis
"Kau tau? Aku sudah memeriksanya sendiri, sumsum tulang belakangmu ternyata cocok dengan Slaine!"
"Apa maksudmu?"
"Aku kesini hanya ingin memberitahukan itu kepadamu. Fikirkan sendiri langkah apa yang akan kau ambil" Asseylum berbalik arah, meninggalkan Inko yang masih terpaku di depan pintu ruang Slaine dirawat. Atanya memandang 2 pria di dalam sana. tangannya masih sibuk mengusap perutnya yang tengah hamil besar. Tidak jauh dari tempat Inko berdiri, Yuki-nee mendapatkan Ide agar perkawinan adiknya dan Inko bisa terselamatkan
~TBC~
OWARI
Errr etooo mau ngomong apa yah? Kyaaaa maaf untuk para fans Asseylum, karna sekali lagi diriku membuat Asseylum menjadi antagonis TwT . ceritanya makin acak kadul yah? Aaahh gomen.. ini udah hampir masuk babak akhir (kayaknya) hahahahai.. see yaaaa next chap chuuuuuuuu
