disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warning. shoujo-ai, drabble, pace lambat-cepat
Krista Lenz kembali ke perpustakaan kecil Ymir seraya bertanya kepada dirinya sendiri, sesekali ia menatap langit-langit yang cukup usang—karena debu yang melekat—atau menghentakkan kakinya mengusir debu yang menyapa.
Ia sudah melihat semua kertas, kliping—segalanya tentang Ymir yang terangkum di dekat meja yang biasa si penulis gunakan untuk berkarya.
Sang penulis juga adalah seorang pembunuh—
—begitulah Ymir menggambarkan dirinya sendiri.
Sang bisu mengerjapkan matanya, menghela nafas dalam-dalam seraya memproyeksikan pandang ke bentang langit-lagit angan.
.
.
.
(Kenapa ia di sini?
Kenapa ia berbagi?
Kenapa ia bertukar dengan sepi?
Kenapa ia bernyanyi tanpa isi?
Kenapa ia—
hidup lagi mati?)
‹11/17›
—menari bersama mentari hingga lupa diri.
.
{XI. Duri pikat}
Kantor itu kini dihuni oleh sang pengacara seorang diri, menghadapi sang jurnalis yang pergi entah menuju ke awal hari, atau sang rekan satu profesi yang menepi di pematang sunyi; bukan berarti Marco Bodt tidak peduli, hanya ia tidak punya kuasa diri untuk membiarkan mereka berhenti.
Marco menatap ruangan kecil di mana semua bermula dan semua harus berakhir seperti ini, tipis angan tergambar di kepalanya akan suasana kantor yang sesak dipenuhi senda, gurau, canda dan tawa. Namun masa-masa itu telah lekang, makin merapat ke minimnya keberadaan.
Pintu kantor terbuka, menampilkan seorang wanita dengan pakaian hitam senada.
Inspektur Kepolisian Prefektur Ackerman.
"Selamat siang, Inspektur, ada yang bisa kubantu?"
Pertama kali mereka semua bertemu adalah dikala mereka menjadi anak-anak mahasiswa yang polos di sebuah kafe kecil di persimpangan dunia kecil mereka. Kini, semua berubah dengan mereka telah melalui jalan yang berbeda dan tidak sesuai keinginan masing-masing hati.
Marco Bodt merasa dirinya hanya pengamat, memerhatikan sinema hitam-putih detik demi detik hingga akhirnya klisenya rusak dan tergerus oleh waktu. Mereka bukan lagi anak-anak polos yang punya mimpi—mereka adalah orang dewasa yang harus mengambil harga mati.
"—Aku sedang bebas tugas," wanita itu mendesah pelan. "Panggil saja aku selayaknya biasa, pengacara Bodt."
"Baik, Mikasa-san?"
Di tangannya terdapat sebuah amplop coklat tebal yang tersegel rapi, namun bukan di posisi Marco untuk menebak apa isinya—bisa jadi itu paket penting, atau mungkin sang Inspektur sengaja menyambangi kantor untuk melayangkan dokumen itu seraya bicara dengan sang penerima.
"Ini untuk Reiner. Rekam data kasus yang ia minta."
"Omong-omong untuk apa berkas ini?"
"Ah ... hanya sedikit Plan B dari rencana orang-orang di kafe itu; bila akhirnya kasus ini masuk ke pengadilan—"
Dengan lembut Mikasa menghempaskan dokumen ke hadapan Marco, kemudian meninggalkan jari-jarinya untuk menaikkan syal merah kesayangannya yang tidak memenuhi kaidah simetri.
Mikasa memberikan seutas senyumnya seperti biasa; pendek, lugas dan hampa.
"Umm, Mikasa-san ...?"
"Ada apa?"
"Bagaimana hubunganmu sekarang dengan..." Marco terputus sejenak. "... Nyx?"
Mikasa mengeluarkan senyum lagi, tetapi sang pengacara tahu itu bukan senyum yang sama—senyum itu benar-benar baru pertama kali pria dengan wajah penuh bintik-bintik jerawat itu melihat senyum dari wajah sang Inspektur.
"Marco, itu sudah setahun yang lalu." Mikasa menjawab. "Lagipula ..."
(Senyum itu pahit—)
"Memangnya dia—masih ingat aku?"
(—dan miris.)
.
(tbc.)
