Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.
And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)
Pairings: Draco Malfoy/OC
Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)
The Two-Tale Heart
XI
SERENA
Serena merasa jari-jarinya tidak akan pernah mengering lagi. Sudah lebih dari tiga jam Snape membuatnya mengeluarkan dua tong besar isi perut ikan fugu yang beracun.
"Kau harus melakukannya dengan benar, Miss van der Woodsen! Atau, jika setetes saja racunnya tertinggal, kau bisa membunuh orang yang meminum ramuannya…"
Ancaman ini membuat Serena amat takut sehingga dia berulang kali merendam ikan-tanpa-isi-perut itu dalam air.
Ikan ini akan dikeringkan untuk dijadikan bubuk, Snape mungkin tidak akan marah kalau bentuknya jadi hancur. Maka Serena mencuri waktu untuk mengasihani tangannya yang keriput, mirip sekali dengan kernyitan tebal di dahinya.
Siang tadi berjalan amat buruk bagi Serena. Pelajaran terbang mereka yang pertama tidak semenyenangkan yang diharapkan.
Pertama karena Draco Malfoy kini terang-terangan menganggap Serena seperti anak-anak Gryffindor lainnya. Semenjak ancamannya kepada Serena saat akhir pekan kemarin, Serena selalu merasa gundah dan sebal. Teman-temannya benar. Kemungkinan anak Gryffindor dan anak Slytherin berteman sama sulitnya dengan menjinakkan singa dan ular pada satu kandang. Dan Draco Malfoy hanyalah anak bangsawan yang sok, manja, dan tukang ancam.
Draco belum mengancam Serena apapun sejak saat itu. Bahkan cenderung menghindarinya seperti biasa. Tapi saat si cewek yang selalu membuntuti Draco menyodok rusuk Serena dengan gagang sapu, tahulah Serena bahwa mungkin Draco menyuruh cewek bertampang jahat yang mirip bulldog ini untuk menindasnya.
Serena begitu kesal sampai-sampai dia berhasil membuat sapu terbangnya naik ke tangannya saat Madam Hooch, si guru terbang, memerintahkan mereka untuk sama-sama berteriak, "NAIK!"
Hal terbaik adalah saat sapu terbang Hermione sama sekali tidak naik ke tangannya. Wajah kesal Hermione bernilai beberapa galleon.
Sayangnya, Neville terbang bahkan sebelum satu orang pun terbang. Sapunya membawanya terbang diluar kendali, menabrak tembok batu kastil. Neville tergelincir dari sapu dan jatuh dari ketinggian hampir enam meter.
Dalam pelukan Madam Hooch, Neville menatap Serena sambil mengaduh-aduh sehingga Serena amat sangat rikuh. Disisi lain, Serena tidak tega untuk tidak menolong Neville. Tetapi dia amat bosan mengantar Neville ke rumah sakit dan belum terbang satu kalipun…
Pertemananlah yang menang. Akhirnya, bersama Madam Hooch, Serena mengapit lengan Neville yang satu lagi, mengantarnya ke Madam Pomfrey.
Kelas sudah dibubarkan saat Serena kembali ke lapangan. Serena mendengar dari Seamus dan Dean bahwa Harry dan Draco berebutan Rememball Neville, bola-ingat-semua kiriman neneknya tadi pagi, di udara dengan sapu.
Harry ditegur Profesor McGonagall dan dibawa pergi entah kemana. Kelas pun jadi bubar.
Serena sekarang begitu sebal sehingga ajakan dari Angelina Johnson untuk ikut latihan tim cadangan hari Sabtu depan hanya dibalasnya dengan anggukan masam.
Malamnya, dia pergi ke kelas bawah tanah untuk detensinya dengan Snape.
Sekarang waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi Snape belum datang untuk menyuruhnya kembali ke ruang rekreasi. Serena terlalu takut untuk kabur karena khawatir Snape akan mendetensinya setiap hari. Maka dia memutuskan menunggu.
Tetapi Snape belum muncul juga. Saat Serena memberanikan diri melongok ke lorong di luar, tidak ada tanda-tanda keberadaan Snape di ruangannya di seberang kelas Ramuan.
Serena melirik jam tangannya. Setengah dua belas dan dia sudah merasa luar biasa lelah. Dia menatap meja persiapan yang telah bersih, lalu ikan-ikan fugu yang semoga-sudah-tanpa-racun, terjejer rapi.
Serena memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan menutup ruangan. Lalu menguncinya agar Mrs Norris tidak bisa masuk dan memakan ikannya.
Dia mengetuk kunci dan menggumamkan mantra yang diteriakkan Mr Filch saat mencoba mengunci pintu lemari sapu. Mantra Filch tidak bekerja. Alih-alih terkunci, pintu lemari menjeblak terbuka, menjatuhinya dengan sapu-sapu.
Serena merasa perutnya amat sangat sakit karena menahan tawa terlalu kuat, saat dia menolong Flich yang mengumpat dari bawah tumpukan sapu.
Serena mendorong pintu kelas Ramuan. Mantra itu bekerja di tangannya. Pintu itu terkunci…
"Keberuntungan pemula?"
Serena menggumam saat mengangkat bahu. Hal yang sama terjadi padanya sewaktu dia membuat remasan kertasnya melayang di kompartemen Hogwarts Express. Pertama kalinya dia bertemu Draco Malfoy…
Sekarang pikiran tentang hal itu membuatnya tambah sebal.
Dalam perjalanannya kembali ke ruang rekreasi Gryffindor, Serena harus menutup mulutnya agar dia tidak berteriak. Kastil sunyi sepi mengingatkannya kepada film-film hantu yang pernah ditontonnya. Walaupun tahu bahwa hantu-hantu Hogwarts tidak bisa melukai atau menakutinya, Serena tetap merasa seram berjalan sendiri. Dan saat ini, ada empat orang yang menabraknya di tikungan koridor. Satu orang paling depan mengacungkan tongkat, hampir menyodok mata Serena.
"Serena?" bisik orang itu kaget.
"Harry?" Serena mengenali suara tersebut. "Ap…"
"Kau belum kembali ke kamar padahal sudah waktunya tidur?"
Ternyata orang yang satu lagi adalah Hermione, memakai gaun tidurnya, dan amat sangat kedengaran menghakimi walaupun dia hanya mendesis.
Serena membuka mulut, tapi anak satu lagi yang tinggi, yang kini dapat Serena lihat adalah Ron, menarik lengannya.
"Tidak ada waktu! Diam dan ikuti kami!"
Dalam kebingungan, Serena melihat Neville yang tangannya tampak sudah baik. Lupa akan kekesalannya pada Neville tadi siang, mata Serena membelalak padanya, meminta penjelasan. Tetapi Neville hanya memegang tangan Serena yang sebelah lagi dan menggeleng kuat seolah dia tidak akan membuka mulut sampai mereka tiba ke tujuan. Entah kemanapun itu.
Serena merasa kakinya gemetar saat menaiki tangga menuju ke lantai tiga. Harry memimpin untuk memasuki suatu ruangan.
"Lantai tiga…" desis Serena mendekati Ron. "Kan Dumbledore bilang kita tidak boleh…"
"Tenang… Kami hanya akan ke ruang piala…" Ron balik mendesis.
"Ruang piala…" Serena mengulang dengan kosong, merasa hal ini tidak masuk akal.
"Harry akan berduel dengan Malfoy, yang sangat bodoh dan…" Hermione membuka mulut.
"Diam!" desis Harry di depan.
Pintu ruangan piala terbuka dan mereka berempat masuk ke dalamnya. Bayangan anak-anak tampak membesar secara aneh dalam kilau logam piala besar atau plakat besi. Tidak ada yang menyalakan tongkat sehingga suasana amat menyeramkan. Serena menyiapkan tongkatnya entah untuk apa. Dia belum belajar mantra duel apapun. Dan menyerang Malfoy secara bersama-sama tampaknya tidak begitu adil…
Keadilan melayang dari pikiran Serena ketika menit demi menit berlalu dan dia mulai mengantuk setengah mati. Lalu terlonjak ketika mendengar seseorang bicara.
"Enduslah, kucing manis, mereka mungkin sembunyi di sudut."
Itu suara Filch kepada Mrs Norris. Serena segera mengikuti Harry yang melambai panik menuju pintu lain. Mereka merayap menyusuri galeri baju zirah, menjauhi Filch.
Neville, yang tampaknya tidak akan bisa masuk ke dalam toko barang pecah-belah manapun, tersandung sehingga menabrak Ron. Keduanya menjatuhi seperangkat baju zirah.
Bunyi gedubrakan dan kelontangan membuat Serena lupa untuk merayap pelan-pelan melainkan refleks berlari.
Harry meneriaki yang lain ketika mereka mencoba berlari secepat mungkin menyusuri lorong gelap dan permadani gantung lalu tiba di lorong tersembunyi. Berlari sepanjang lorong dan keluar dekat ruang kelas Mantra, mereka berhenti untuk mengatur nafas.
Hermione, hebatnya, masih bisa berbicara.
"Kau sadar sekarang? Malfoy menjebakmu! Pasti Malfoy yang memberitahu Filch akan ada anak yang berada dalam ruang piala…"
Serena tidak berkomentar apapun karena dia sama sekali tidak tahu apa masalahnya. Dia mengikuti Harry dan yang lain yang melangkah pergi. Tetapi kesialan belum habis untuk mereka. Mereka menemui apa yang paling membuat siapapun gundah di Hogwarts. Peeves si hantu jahil.
Dia tertawa kesenangan melihat mereka.
"Jalan-jalan tengah malam, nih, anak-anak kelas satu? Tsk, tsk, tsk. Badung, badung, badung, kalian akan ditelikung."
Anak-anak berusaha membujuk Peeves untuk diam. Serena tidak membuang-buang nafasnya, dia tahu itu tidak akan berhasil. Ron mulai mengancamnya.
"MURID KELUAR KAMAR!" Peeves berteriak keras.
Tanpa menunggu, mereka berlari melewati Peeves untuk masuk ke suatu pintu. Sialnya lagi, pintu itu terkunci.
Tampaknya Serena akan mendapat detensi kedua dari Profesor McGonagall untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukannya kalau saja Hermione tidak mengeluarkan tongkat sihirnya dan berbisik, "Alohomora!"
Pintu itu terbuka menjeblak dan Serena langsung menjejalkan Neville ke dalam.
Telinga Serena menempel pada daun pintu sementara nafasnya memburu. Dia mendengar Filch dan Peeves saling memaki.
"Dia mengira pintu ini terkunci," bisik Harry. "Kurasa kita selamat – ada apa sih, Neville!"
Serena menoleh ke belakang saat dia mendengar nafas tertahan dari semua teman-temannya.
Mereka bukan berada dalam sebuah ruangan, melainkan sebuah koridor. Koridor terlarang lantai tiga.
Sekarang Serena tahu mengapa koridor itu terlarang. Kemungkinan besar itu adalah jalan ke neraka…
Serena amat yakin apa yang dilihatnya adalah Cerberus, anjing berkepala tiga dalam mitologi Yunani yang menjaga gerbang neraka. Serena tidak pernah tahu itu akan ada di dunia sihir. Tiga pasang mata menatap mereka sementara tiga hidungnya mengendus-endus. Rahangnya bergetar keras, yang akan membuat singa manapun lari. Setertarik apapun Serena dengan binatang gaib, sekarang dia sedang tidak ingin untuk bertemu yang satu ini.
Harry menyadarkan keterkejutan mereka dengan membuka kembali pintu, membuat mereka semua ambruk keluar. Serena menyeret Neville yang tampaknya mau pingsan pada kerah jubahnya. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka berlari ke ruang rekreasi Gryffindor.
.
.
.
"Masalahnya, aku tidak punya waktu untuk memikirkan mengapa ada Cerberus di Hogwarts. Mungkin itu pengamanan standar mereka? Dan aku tidak peduli mereka menjaga apapun seperti yang dikatakan Hermione. Satu permainan satu waktu, Nev. Dan aku tidak akan dekat-dekat anjing neraka, kalau bisa memilih. Wingardium Leviosa-ku belum bisa mengangkat nampan-nampan ramuan sialan itu. Dan Snape memperpanjang detensiku menjadi tiga kali seminggu, hanya karena aku berani pulang sebelum dia memerintahkan. Dan sekarang Angelina minta aku terbang untuk tes anggota cadangan di hadapan kapten Quidditch Gryffindor. Aku bahkan lupa untuk beli sapuku sendiri!"
Beberapa hari terakhir tidak begitu baik untuk Serena. Harapannya menemukan sekolah tanpa anak-anak penindas ternyata sulit. Kini satu-dua anak terang-terangan mengejek aksen Amerikanya. Beberapa menggodanya dengan Neville. Beberapa menyuruh Serena jauh-jauh dari pacar mereka. Yang terakhir ini sama sekali tidak dia mengerti.
Hubungannya dengan penghuni asrama lain juga tidak begitu baik. Awalnya Serena berharap dia akan baik-baik saja dengan Catelyn Tully dari Ravenclaw. Bibi Char terus mengiriminya surat agar Serena bisa meminjam catatan Catelyn saat dia kelas satu dulu, untuk pelajarannya agar dia tidak ketinggalan. Serena mencoba menghampiri meja makan Ravenclaw suatu hari, hanya untuk mendapati beberapa anak laki-laki tersenyum-senyum manis. Lalu Catelyn tidak mengiyakan maupun menolak permintaan Serena karena salah satu temannya mengatakan, "Kami Ravenclaw beranggapan bahwa berusaha sendiri adalah salah satu bentuk kebijaksanaan…"
Saking sebalnya Serena balik beranggapan, "Kukira Ravenclaw akan lebih bijaksana kalau dia tidak pelit?"
Serena berjalan pergi begitu saja setelah melihat wajah kaget mereka.
Masalahnya, Serena terlalu malu untuk membicarakan ini dengan siapapun. Dia merasa seperti kembali lagi ke New York, saat kehidupan sosialnya pun payah. Dan harapannya untuk mendapat perlindungan dari teman-teman seasramanya hanya harapan kosong.
Berita tentang Snape yang mendetensi Serena sudah menyebar. Dan semua menganggapnya anak bandel. Lebih menyakitkannya, beberapa anak bahkan menyebutnya berotak kosong, karena itulah mendapat detensi. Hermione jelas menganggapnya seperti itu. Dan, sejak kejadian pada malam Halloween saat ada Troll gunung yang entah bagaimana masuk ke toilet yang sedang ada Hermione-nya, dia bersahabat dengan Harry dan Ron. Serena berharap Hermione akan jadi lebih ramah karena Harry dan Ron baik terhadap Serena. Tetapi harapannya pudar saat Hermione menuduhnya ikut-ikutan Harry karena mau masuk tim Quidditch juga.
Sekarang, semua anak beranggapan sama.
Serena terus mengomel sementara jelatang-jelatang itu membuat tangannya berbilur merah. Bagian dari detensinya. Mencabuti jelatang kering sejam sebelum ujiannya menjadi Chaser cadangan Gryffindor.
Terdengar suara gedebuk jatuh di belakangnya. Neville, yang mencoba membantu Serena, menarik akar umbi yang kuat alih-alih jelatang, terjengkang jatuh dalam usahanya.
Serena mendesah dan mengusap pipinya. Detik berikutnya dia menyesal karena sekarang wajahnya ikut gatal.
Sembari membantu Neville berdiri, Serena melihat di kejauhan, di atas lapangan Quidditch. Beberapa sapu beterbangan, sapu milik anggota tim Slytherin.
Di tribun paling atas, Serena yakin si kapten Gryffindor Oliver Wood sedang meneriaki mereka untuk segera mengosongi lapangan.
"Kau akan terbang hebat, Ser!" kata Neville terengah.
"Yah, Harry juga terbang bagus sekali, seperti yang selalu diingatkan Hermione padaku…" gerutu Serena.
Beberapa anak ternyata memang menganggap bermain sebagai cadangan sesuatu yang payah. Sama seperti anggapan Draco Malfoy.
Tetapi Serena tidak mau turun saat pertama kalinya dia terbang. Perasaannya, kekesalannya, dan keletihannya seolah terbawa angin. Akhirnya dia bisa menggapai cita-cita setiap muggle yang ada. Bisa terbang…
Dan sesungguhnya, dia ingin bermain dalam suatu tim. Serena van der Woodsen di The Bradley tidak pernah dipilih dalam tim olahraga manapun.
Dengan tergesa, Serena memeluk tumpukan jelatang dan menuju kastil. Peluhnya bercucuran sementara dalam hatinya dia sangat berharap Snape puas dengan pekerjaannya dan tidak lagi mencari alasan yang membuat Serena gagal ikut tes.
Ada sekelebat bayangan jubah hijau menghampirinya. Ternyata itu adalah anak Slytherin yang terbang rendah dengan sapunya. Serena berhenti berjalan untuk melihat anak itu, membuat Neville menabrak punggungnya.
Anak-entah-kelas-berapa yang selalu tersenyum padanya sekarang kembali tersenyum. Rambut hitamnya berantakkan tertiup angin. Mata birunya seolah membeku. Dia menyampirkan sesuatu ke kepala Serena, membuatnya merasakan kesejukkan dari sesuatu yang ternyata adalah handuk yang dibasahi air es.
"Sampai bertemu di lapangan kalau begitu?" katanya dengan suaranya yang berat.
Dia menoleh ke atas dan tersenyum lagi, lalu terbang begitu saja. Oliver Wood mendarat menggantikan tempatnya. Mengambil handuk dingin dari kepala Serena dengan kesal.
"Peraturan nomor satu. Tidak boleh menerima pemberian dari tim lawan!" seru Wood.
"Ap… Tapi aku tidak…" Serena mencoba membantah.
"Dan cobalah terbang dengan baik! Mereka akan mencoba mengganggumu!" potong Wood lagi sambil terbang menjauh.
Serena mengumpat kesal dan terburu-buru masuk kastil dan menuju ruang Ramuan. Untunglah, Snape tampak banyak pekerjaan sehingga tidak mempedulikan Serena.
Serena datang ke lapangan dengan jari-jari bengkak karena gatal. Wajahnya perih campuran guratan jelatang dan angin keras. Sapu terbangnya terlihat amat menyedihkan karena dia memakai kepunyaan sekolah. Serena harus berjinjit ketika Angelina terbang rendah untuk memberi instruksi kepada calon anggota cadangan.
"Tes pertama, terbang mengelilingi lapangan sebanyak lima putaran. Tes kedua, keliling lagi lima kali dengan menghindari Bludger. Tes ketiga, oper Quaffle. Keempat, oper dengan menghindari Bludger. Kelima, masukkan Quaffle ke gawang. Tes keenam, masukkan Quaffle dengan menghindari Bludger."
Serena kesulitan untuk mengingat, jadi dia hanya mengangguk-angguk gugup.
Peluit Wood berbunyi. Serena menaiki sapu dan menjejak tanah. Beberapa anak bersiap juga dan mereka naik sampai sejajar dengan tiga gawang.
Angin mematikan perih pada wajahnya. Serena memaksa agar jari-jarinya bergerak lentur. Samar-samar di tribun, dia mendengar anak-anak berteriak. Terlalu jauh untuk tahu mereka memberi semangat atau mengejek.
Peluit kedua, mereka terbang secepat mungkin. Ternyata walaupun tua, sapu Serena bagus sekali, karena dia maju paling cepat. Saat menghindari Bludger pun rasanya seperti main game virtual. Fred dan George Weasley, Beater Gryffindor, memukul sekuat tenaga.
Teriakan riuh terdengar dari kejauhan. Serena menganggapnya sebagai tepuk tangan walaupun dia tidak yakin. Kelebatan jubah mereka berwarna hijau.
Tes oper Quaffle mulai menyulitkan. Bayangkan bermain basket di udara. Untunglah, Alicia dan Katie tidak terlalu keras padanya. Sekarang tinggal sisa tiga orang, termasuk Serena.
Serena memusatkan pandangan pada gawang yang dijaga Wood, berpikir untuk mengecohnya agar bolanya masuk, sebelum sesuatu memblokir pandangannya.
Sisi positifnya, itu bukan Bludger yang menabrak wajahnya. Sisi negatifnya, hal itu mencegah dia membuat gol. Sisi negatifnya lagi, Serena kenal aroma ini dalam perjalanan Herbologi.
Itu kotoran naga.
Dan baunya membuat Serena nyaris pingsan.
Serena kehilangan kendali dalam keadaan pusing. Hanya dengan keberuntunganlah kakinya masih mengait di sapu. Rasa penghinaan membuat Serena tersadar. Dia mendarat dengan keras. Lalu mengumpat dengan kata-kata yang hanya dipergunakan preman-preman New York.
"Siapa yang melempar?" terdengar suara Katie menjerit.
"Scourgify!" seru Fred atau George, membuat Serena bisa melihat kembali.
Tetapi bau kotorannya terlanjur menguar ke hidungnya.
"Anak-anak sial itu, tentu saja!" desis Alicia berang, entah menuduh siapa.
"Ini berarti dia tidak bisa menghindari serangan?" tuntut Wood.
"Sudahlah, Wood. Dia cukup bagus untuk ukuran anak kelas satu." kata Alicia lagi.
"Tes ulang kalau begitu?' Serena menatap Wood penuh harap.
Tetapi Wood menatap langit yang mulai gelap, mengancam turunnya hujan. Lalu ke tribun yang Serena sadari sekarang dipenuhi kikik senang.
"Mungkin lain kali. Tes tetap tes. Maaf, Ser. Tapi waktuku sempit. Dan kau sebaiknya tidak menarik perhatian agar anak-anak Slytherin itu tidak mengganggumu. Wiz untuk cadangan pertama, kalau begitu…"
Wood mengerling Angelina dan memutuskan begitu saja sehingga semua anggota timnya juga kaget.
Serena ingin membantah Wood dan berkata ini tidak adil sebelum Fred atau entah George merangkulnya.
"Sudahlah, Ser. Beri Wood waktu. Kita latihan lagi nanti. Dan kau bisa tetap ikut ke lapangan saat pertandingan, kujamin. Oke? Sialan, Slytherin!"
Dia menatap tribun dan mengacungkan jari tengah. Anak-anak di tribun balas menyoraki dan mengacungkan jari.
Serena tadinya akan mengikuti jejak Fred/George. Tetapi dia melihat wajah familiar yang membuatnya sedih alih-alih marah.
Draco Malfoy ada di tengah-tengah kumpulan anak tersebut. Rambut pirang-peraknya menyolok diantara kerumunan. Dan Serena tidak yakin apakah itu hanya bayangannya saja karena jarak tribun ke tanah amat jauh. Tapi dia merasa Draco menyeringai sadis seolah dialah yang melempar kotoran tersebut.
.
.
.
