Tangan ramping Ginger meremas pinggir meja makannya. Dia menatap gelas berisi jus apel dengan tajam. Dengan marah dia menggambil gelas itu dan membantingnya ke lantai.
Baik koran, majalah, tabloid, dan media lainnya, tak henti-hentinya mengikuti perkembangan hubungan Kyousuke-Sakura. Padahal sudah nyaris sebulan mereka mengakui hubungan asmara yang menjijikkan itu.
Ginger menggeram, lagi dan lagi.
Ia berlari ke kamarnya, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Ke sini sekarang!" perintahnya tegas.
Lima belas menit kemudian, seorang perempuan berambut hitam panjang tersenyum ramah ketika Ginger membukakan pintu apartemennya. Orang itu langsung melompat ke atas sofa krem di ruang tamu Ginger.
"Kau tahu, kau bisa menjeratnya di London," kata Misaki penuh arti.
"Maksudmu?"
"Mikoto kembali ke tempat di mana dia memulai karirnya. Yah, seperti yang kau tahu, London, tepatnya London Fashion Week. Kyousuke dan Sakura akan ikut bersamanya. Bukankah itu terdengar seperti menghadapi musuh di kandangmu sendiri," jelas Misaki, kemudian menyeringai.
"Bagus," ujar Ginger sambil tersenyum miring.
Yoshio Misaki. Pendatang baru di dunia modeling. Dua minggu lalu, Ginger menawarkan sebuah perjanjian menguntungkan dengannya. Wanita London itu membayarnya untuk mendekati Haruno Sakura. Karena mereka sama-sama pendatang baru, dia tidak kesulitan mengakrabkan diri dengan Sakura.
Tugasnya mencari tahu kebenaran. Wanita London itu berulang kali mengatakan dia tidak percaya dengan hubungan itu. Ginger yakin betul hubungan asmara Kyousuke adalah setting-an.
Berita menyebutkan Kyousuke mengaku jatuh cinta ketika Sakura menciumnya di Konoha Fashion Festival.
"Omong kosong apa itu?! Usai si jalang itu mengecup bibirnya, Kyousuke terlihat seperti dia ingin menghancurkan seluruh dunia," kata Ginger setiap kali dia mendengar berita itu.
Kalimat kasar dan kotor sering ia lontarkan ketika wartawan menanyainya tentang patah hati. Dia bahkan dengan lantang mengatakan pada semua orang bahwa hubungan Kyousuke palsu. Entah untuk alasan apa.
"Oh, ya," ujar Ginger, "kau harus lebih dekat lagi. Kalau bisa sampai kau bisa memegang ponselnya."
"Tentu. Tetapi, selama di London dia milikmu."
Lagi-lagi Ginger tersenyum miring. "Dia tidak akan lepas dari pengawasanku."
Chapter 11
©Rosetta Halim
Tubuh Hinata hanya dibungkus kaos Sasuke. Wanita itu bahkan tak mengenakan celana dalam. Rambut dan wajahnya masih basah oleh keringat. Kipas menyala mengarah padanya dan Sasuke. Musim panas terasa semakin panas sehabis melakukan aktivitas panas.
Nyaris sama dengannya, Sasuke tidak mengenakan apapun kecuali celana dalam. Sasuke menyandarkan punggungnya pada kusen pintu yang terbuka lebar dan melebarkan kedua kakinya yang tertekuk agar Hinata bisa duduk di depannya. Kepala Hinata menempel pada dada telanjangnya.
Kebun sayur Hinata beberapa minggu lagi siap panen. Perempuan itu sibuk bergumam menghitung perkiraan keberhasilan panen pertamanya. Sementara Sasuke sibuk mengikat rambut Hinata supaya dia bisa melihat leher putih Hinata yang sudah dipenuhi tanda merah sambil bertanya-tanya tentang sesuatu.
"Kau diet lagi?" tanya Sasuke akhirnya. Dia tidak tahu kenapa sedari tadi dia kesulitan menanyakan hal itu.
Hinata menggeleng singkat. "Makanku biasa saja. Cuma aku jauh lebih sibuk dibanding SMA dulu. Apalagi selama ujian. Kau tahu?!" Hinata menjauh dari Sasuke agar dia bisa berbalik dan menatap Sasuke dengan pandangan berbinar-binar. "Aku turun empat kilo," kata Hinata bahagia, pipinya merona terang. "Aku bahkan tak perlu mengurangi makanku. Aku akan sibuk lebih banyak supaya turunnya banyak juga."
"Kau senang dengan kesibukanmu?" tanya Sasuke bernada cemas.
"Iya. Kau tahu aku berambisi tentang restoranku. Untuk mencapainya aku harus punya ciri khas," jawab Hinata. Matanya tampak seolah sedang menatap masa depan.
Sasuke mendesah lega. "Aku suka gagasan itu. Berarti berat badanmu turun karena terlalu senang."
Itu benar. Sasuke tidak peduli Hinata berubah seperti apapun. Selama perubahan itu terjadi karena Hinata senang, tidak masalah baginya.
Minggu pertama bulan Agustus dan hari pertama mereka libur kuliah, Hinata masih berada di Shimane. Ino dan Sai kemarin pulang bersama ke Konoha. Naruto tidak bisa pulang karena harus mengikuti kelas musim panas untuk memperbaiki nilainya yang kacau. Hinata sendiri belum pulang karena Sasuke tidak mau diajak pulang.
Pria itu malam nanti terbang ke London. Baru kembali dua minggu lagi, ketika libur musim panas usai. Hinata justru harus ikut summer camp sewaktu Sasuke kembali nanti, selama seminggu, untuk uji kemampuannya sebagai koki di berbagai jenis lapangan sekaligus penyambutan angkatan baru. Genaplah tiga minggu mereka tak akan bertemu. Jadi, mana mungkin Sasuke melepaskan kesempatannya untuk berduaan dengan Hinata.
Sasuke memasukkan kopernya dan tas Hinata ke bagasi mobilnya. Saat dia masuk dan duduk di balik stirnya, jari-jari Hinata menari-nari di atas ponsel.
"Hanabi?" kata Sasuke, namun tak ditanggapi Hinata. Sasuke mencondongkan badannya ke kanan, kemudian berpura-pura memeriksa sabuk pengaman Hinata. Dia menengok sekilas untuk tahu dengan siapa Hinata berkirim pesan. "Haruno?"
"Eh?" Hinata tampak terkejut. "Sasuke-kun sudah selesai?"
"Hn."
Hinata menengok ke belakang, menatap lurus ke teras rumahnya. "Tidak ada yang tertinggal, 'kan?"
Sebagai jawabannya, Sasuke menyalakan mesin mobil. Kemudian dia melajukan mobil sampai melewati gerbang. Dia tidak langsung turun untuk menutup gerbang.
"Haruno itu bilang apa?" tanya Sasuke penasaran. Mungkin mereka berdua merencanakan hal konyol untuk dirinya, seperti yang mereka lakukan dua hari lalu.
"Dia minta dibuatkan bronis, onigiri, spaghetti, lasagna dan tunggu dulu …" Hinata melihat ponselnya, lalu melanjutkan, "… mi goreng."
"Apa-apaan Haruno itu. Kau tidak akan melakukannya," larang Sasuke. Dia turun dari mobil dengan kesal. Kemudian mengunci gerbang rumahnya dan kembali lagi ke mobil. "Perempuan itu mulai suka memerintahmu. Dia mencari-cari alasan untuk memperbudakmu. Mana bisa dia menghabiskan semuanya."
"Sasuke-kun itu bukan untuknya sendiri, tapi untukmu …" Hinata memalingkan wajahnya "… dan juga ibumu."
"Oh, aku tahu apa rencana Nona Haruno itu." Pantas saja nyaris semua menu makanan itu adalah kesukaan kaa-san, pikir Sasuke.
Kedua tangan Sakura penuh dengan barang bawaan. Tangan kanan menyeret koper, sementara tangan kiri menenteng tas plastik yang berisi bekal makan malam sebelum penerbangan. Tas selempang yang awalnya berada di bahu sekarang hampir mencekik lehernya.
Orang-orang di Bandara Internasional Uzumaki mulai memandanginya dengan tatapan kagum dan ada yang terang-terangan menunjukkan simpati. Kabar mengenai hubungan palsunya sudah menyebar ke mana-mana dan dipercayai sebagian besar orang begitu saja. Yang dilakukan pria Uchiha yang berjalan di sebelahnya itu memang keterlaluan.
Lihatlah pria angkuh itu, dia membayar seorang pesuruh untuk membawakan barang-barangnya. Sehingga dia tak perlu membawa apapun. Tangannya kosong, begitu bebas berjalan ala catwalk.
Setiap perempuan yang berpapasan dengannya langsung berdecak kagum. Padahal Kyousuke hanya mengenakan celana pendek berwarna donker biasa yang juga sering dipakai pria biasa dan kaos biasa yang sering Sakura lihat dikenakan Sasuke. Walau sedikit, Sakura bisa mencium aroma Hinata melekat di kaos abu-abu itu. Dalam hati, Sakura mengasihani Uchiha itu. Tingkahnya seolah Hinata sudah dikebumikan saja.
"Suke-kun no baka!" geram Sakura jengkel. "Tunjukkan sedikit rasa pedulimu."
Mata Sasuke menajam, "Kau tak berhak memanggilku bodoh," balas Kyousuke dingin.
"Kau memang bodoh. Bantulah aku, supaya orang yakin kau begitu jatuh cinta padaku," kata Sakura berbisik.
Lantas Kyousuke menyapukan pandangannya ke sekeliling. Semua orang tengah memandangi mereka. Dia sampai lupa dia di mana. Terlalu banyak berkhayal. Belum lagi terbang, dia justru membayangkan Hinata batal ikut summer camp dan menyambut kepulangannya dengan ciuman sayang.
"Berikan padaku," ujar Sasuke acuh tak acuh. "Bukan kopermu," geram Kyousuke saat Sakura menyodorkan kopernya. "Titipan Hinata."
Astaga! Otaknya sudah penuh dengan Hinata.
Dengan wajah cemberut Sakura memberikan tas plastiknya. Tetapi, matanya tak hanya cemberut, lebih dari itu, menunjukkan sakit di dadanya. Dia tahu Kyousuke tidak peduli tentang itu. Yang dipedulikan pria itu hanya Hinata, Hinata dan Hinata.
Cukup lama Mikoto menanti putra dan calon menantunya di Sabaku Coffee yang ada di bandara. Alih-alih kesal, dia senyum-senyum sambil membaca berita sepasang kekasih itu di ponselnya. Dia berpikir Kyousuke dan Sakura itu tengah berbunga-bunga, jadi lupa waktu adalah masalah biasa.
Suasana yang tiba-tiba menjadi ramai membuatnya mengerti bahwa putranya telah tiba. Dia mengangkat pandangannya dari ponsel dan langsung menemukan Kyousuke dan Sakura berjalan ke mejanya.
"Kau duduklah di meja lain," perintah Kyou pada pesuruhnya. Dia mengeluarkan kotak bekal titipan dari Hinata dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Mikoto. "Dari Sakura," kata Sasuke pada Mikoto seraya duduk.
Mikoto tersenyum lebar. "Terimakasih, Sayang!" katanya pada Sakura yang duduk di depannya. "Pantas kau melarang Bibi makan. Apa ini buatanmu?" tanya Mikoto tak sabaran. Dia membuka semua kotak bekal. "Astaga, ini semua kesukaan Bibi. Kau memang calon menantu yang baik. Bibi harus ekstra olahraga setelah ini."
"Bi, bukan buatanku. Aku membeli semuanya. Tapi, bronisnya Suke-kun yang membelinya." Itu semua calon menantumu yang masak, Bi. Tapi, calon menantu yang Bibi maksud berbeda dengan calon menantu yang kumaksud, Sakura menambahkan dalam hati.
"Ah, masa?" Mikoto memeriksa kotak bekal itu. Tidak ada merknya. Dan terlihat sama seperti kotak bekal rumahan.
"Aku memesannya dari seorang teman, dia baru merintis bisnisnya. Kotak bekal itu dari dapur rumahku," jelas Sakura.
Mikoto mengambil satu nasi kepal. Dia menggigitnya dan langsung sadar ada acar mangga yang segar di tengahnya. "Enak!" seru Mikoto. Dia mencicipi menu yang lain, dan berseru demikian berulang kali.
Sakura pun tak mau kalah, dia ikut menikmati semuanya. "Wah, isi nasi kepalnya berbeda-beda. Aku paling suka yang isinya irisan ayam bakar madu."
"Bronis ini," gumam Mikoto. Rasanya hampir seperti buatan sahabatnya. Walau berat, dia akui yang ini sedikit lebih enak. Mikoto mengambil sepotong lagi, kemudian mengunyahnya. Tanpa sadar ia menitikan airmata. Bronis itu membuatnya teringat sahabat lama.
Hizashi yang malang. Sahabatnya yang paling berharga. Pria itu mati dalam sebuah kecelakaan enam belas tahun lalu. Lantaran melindungi anak haram pewaris Hyuuga Souke dan istrinya yang tidak tahu diri itu. Dan dia harus tetap sabar serta melindungi anak pembawa sial itu demi memenuhi permintaan Hizashi.
Sebenarnya dia merasa bersalah atas kematian Hizashi. Tidak seharusnya dia mengikuti Fugaku ke Kumo waktu itu. Meninggalkan Hizashi sendiri yang sedang dalam masalah karena anak haram istrinya. Tapi, mau bagaimana lagi, dia begitu memuja suaminya itu.
"Bibi baik-baik saja?" tanya Sakura cemas.
Mikoto menyeka sebutir airmata di pipinya. "Tidak. Bukan apa-apa," jawabnya. "Oh, ya, Kyou-kun, di mana kau membeli bronis ini?"
"Di Shimane."
"Tidak ada merknya. Beli dari siapa? Kau tahu siapa yang membuatnya?" Setahu Mikoto anak itu kuliah di sana juga. Kalau sampai terjadi kebetulan semacam itu, dia tidak akan mau memakan bronis itu.
"Sepupu teman sekelasku. Itu tugas untuk kelas musim panasnya," jawab Kyousuke.
Mikoto mendesah lega. Kemudian dia memakan sisa bronisnya sampai habis.
Melihat betapa lahapnya Mikoto, senyum Sakura mengembang. Dia mengetik beberapa pesan untuk dikirimkan ke grup khusus Line yang di dalamnya ada Ino, Sakura, Hinata, Naruto, Sai dan Sasuke.
Sakura: Hinata
Sekarang aku benar-benar percaya kalau Bibi Mikoto dulu pernah gendut. Hinata-chan, dia makan banyak sekali. Padahal tidak pernah seperti itu walau kami sering singgah di restoran mahal.
Oh, ya, minta Sasuke memperlakukanku dengan benar. Dia keterlaluan.
Sasuke: Haruno
Jangan coba mengotori pikirannya.
Sakura: Sasuke
Selama ini kau yang membuatnya kotor. Kau tidak tahu itu? Malang sekali.
Sasuke: Haruno
Tapi, Hinata selalu menyukai caraku mengotorinya.
Satu kalimat terakhir itu membuat Sakura berhenti. Dia tahu apa maksudnya itu. Dia membahas tentang mengotori pikiran dan Sasuke membahas tentang mengotori sesuatu yang lain. Lagi-lagi dia harus menelan kecemburuannya.
Saat itu terjadi dia akan selalu menggali nasihat Ino dalam kepalanya. Sebelum mengajukan kesepakatan berbeda, Sakura awalnya ingin memanfaatkan Hinata untuk mendapatkan Kyousuke. Memang kejam, dia pun sempat dalam dilema untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya dia menemui Ino dan menanyakan pendapat Ino.
"Lalu apa? Kalau kau mendapatkan tubuhnya, apa itu berarti kau mendapatkan hatinya? Tidak kan? Kalau kau ingin melakukan hal kotor semacam itu, terlebih pada Hinata, kau bukan sedang mencintai, tetapi terobsesi.
"Dengar, meski aku baru kuliah, aku cukup sadar situasimu sekarang. Dan jelas kan, sebulan lalu aku menyarankanmu untuk memeriksa ulang hatimu. Terlebih, setelah beberapa kali bertemu, dia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan.
"Daripada kau, Jidat, apa kau tidak berpikir Hinata jutaan kali lebih mencintai Sasuke, bahkan dalam penampilan terburuk pria itu. Lalu kau? Demi Tuhan, carilah seseorang yang membuatmu tergila-gila karena kau sendiri tidak tahu kenapa kau tergila-gila."
Seseorang, ya? Sakura tidak tahu. Dunianya selama ini hanya dipenuhi Kyousuke. Atau ada orang lain yang lebih dulu memenuhi dunianya, tetapi ia tidak sadar.
Naruto: Sasuke
Oi, Uchiha Brandal, perlakukan Sakura-chan dengan baik. Atau aku akan membalasmu nanti.
Entah itu pertanda atau apa, tetapi pesan itu masuk tepat ketika Sakura memikirkan seseorang yang mesti membuatnya tergila-gila tanpa alasan khusus. Kemudian Ino dan Sai ikut ambil bagian dalam obrolan grup itu.
"Kalian tak perlu malu-malu," kata Mikoto tiba-tiba. Pasalnya sedari tadi dia hanya melihat Kyousuke dan Sakura asyik dengan ponsel masing-masing. "Sebentar lagi kita terbang, lho. Ponsel harus mode terbang." Dia berpikir keduanya mengobrol lewat messenger karena malu berbicara di depannya.
Kyousuke sebenarnya sedang bertengkar dengan Hinata di obrolan pribadi mereka. Itu semua gegara pengaduan Sakura. Dia harus menerima omelan Hinata. Sementara Sakura berbalas pesan di grup dengan Ino, Naruto dan Sai.
Sakura memaksa dirinya tersenyum menanggapi perkataan Mikoto. "Ah!" pekiknya membuat Mikoto kaget. "Kita harus siap-siap. Ini hampir waktunya," kata Sakura berusaha mengakhiri obrolan mereka.
Pagi-pagi sekali Kyousuke telah meninggalkan kamar inapnya, selagi Sakura dan Ginger, yang entah kenapa memesan kamar di sebelah kamar ibunya, belum bangun dari mimpi. Dia bosan terjebak dalam pertengkaran keduanya.
Walau masih tujuh hari berlalu di London, rasanya seperti bertahun-tahun.
Pagi-pagi begini, tentu waktu Jepang, Hinata pasti sudah siap dengan hasil eksperimennya. Wanita itu selalu bereksperimen dan Sasuke adalah kelinci percobaan. Saat dia masih tidur, Hinata datang ke kamar, membawakan sarapan, dia mencicipi sesendok, lalu berkomentar. Setelah itu Hinata kembali ke dapur untuk mengulang dari awal. Berikutnya kembali lagi ke kamar, membangunkannya dan memintanya mencicipi. Begitu terus sampai dia bilang sempurna.
Wajar berat badannya turun, pikir Kyousuke.
Kyousuke menghirup udara dalam-dalam ketika ia berhasil sampai di Hyde Park. Pelan-pelan sambil menikmati udara pagi, Kyousuke berjalan di antara pepohonan dan bunga-bunga. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel untuk menelepon Hinata.
"Pukul delapan waktu setempat aku akan bertemu dengan kakak ipar," kata Kyousuke memulai percakapan yang sesungguhnya setelah puas berbasa-basi.
"Na-nani? Apa yang …"
"Wawancara," potong Kyou cepat. "Kakakmu penulis lepas. Maksudku, ya, dia mengerjakan apa saja yang bisa dia kerjakan di sini. Kau sendiri tahu, 'kan?"
"Iya, sih. Hanya saja, aku tidak menyangka dia akan melakukan itu."
Kau akan lebih tidak menyangka lagi kalau kuberitahu malam hari kakakmu itu menjadi bartender, balas Kyou dalam hati. "Aku ingin bertanya padamu. Kakakmu itu menyukai orang yang seperti apa?"
"Sasuke-kun, dia akan tahu kalau kau sedang berpura-pura. Jadi, bersikap apa adanya saja."
Kyou berhenti berjalan untuk berpikir sejenak. Dia tidak ingin menuruti Hinata. Pertama kali bertemu Neji di bar waktu itu kesan yang dia tinggalkan sangat buruk. Dia tidak peduli jika Neji bukan kakak Hinata. Tapi, sekarang lain, bagaimana pun dia harus berupaya meyakinkan Neji bahwa Kyousuke yang sekarang tidak lagi sama dengan Kyousuke yang waktu itu berciuman mesra dengan Ginger di depan Neji usai menghabiskan sebotol whisky. Neji pasti tahu peristiwa itu berlanjut ke ranjang.
"Kalau Neji tahu aku mengencani adiknya, dia pasti membunuhku," ujar Kyou setengah berbisik, tapi cukup terdengar oleh Hinata. Dengusan gadis itu terdengar jelas di telinga Kyou.
"Itu kan ulahmu sendiri. Catatan kriminal dan …" Hinata berhenti sejenak untuk merutuki masa lalu Sasuke "… wanita di masa lalumu terlalu banyak. Dia akan semakin membencimu kalau kau sok-sok baik."
"Sayang, aku sudah bertobat, 'kan?" Nada bicara Kyou tiba-tiba terdengar sangat manis, ekspresi wajahnya terlihat memelas. "Neji juga harus tahu itu."
"Tidak usah mencoba untuk mengesankannya. Tapi, kalau kau mau, lakukan saja sendiri."
Kyousuke kembali mendapati dirinya dimarahi. Hinata langsung memutus sambungan setelah itu. "Seharusnya aku tidak memancing amarahnya," gumam Kyou.
Neji datang lebih cepat dari waktu perjanjian agar bisa sarapan. Sayangnya, orang yang harus ditemuinya seperti memiliki pemikiran yang sama.
Kali ini dia dipekerjakan oleh seorang perancang busana bertubuh pria berjiwa wanita untuk mewawancarai Hatake Kyousuke secara eksklusif. Kyousuke itu menguasai bahasa Inggris. Dia dibayar untuk pekerjaan ini karena dia orang Jepang. Padahal dia tidak suka berurusan dengan kaum-bergaya-sok. Apalagi sejenis Hatake Kyousuke.
Hatake Kyousuke duduk di salah satu meja di salah satu café London yang terkenal sambil menikmati roti isi dan koran pagi di atas meja. Berita kematian seorang model internasional asal Inggris memenuhi satu halaman terdepan koran. Kebetulan dia kenal perempuan itu.
Pria itu mengenakan kaos merah marun v-neck berlengan panjang dan celana jins biru tua yang terlihat usang. Neji mengangkat sebelah alisnya curiga. Dia kemudian mengedikkan bahu.
Kyou menengok jam tangannya. "Hai, Nii-san!" sapa Kyou ramah. Dia memaksa kedua sudut bibirnya tertarik. "Kau datang lebih awal."
"Cih, senyum itu terlihat seperti senyum psikopat," ujar Neji menyindir. Dia duduk di depan Kyou, meletakkan alat perekam dan kamera di atas meja.
"Benarkah? Padahal ada seseorang yang bilang senyumku adalah hal terindah yang pernah diciptakan Tuhan." Kyou berbicara bak anak polos. Kemudian memasukkan roti isi yang terakhir ke mulutnya.
"Sepertinya kau sudah selesai," balas Neji datar. "Bisa kita mulai sekarang?" Sarapan yang direncanakan Neji dalam kepalanya hancur berantakan.
"Jangan begitu, Nii-san. Sarapan lah dulu."
Keruta-kerutan kesal tercetak di kening Neji. Dadannya naik turun, bernapas susah payah karena usahanya menahan kekesalan. Bibir Neji melengkung dengan mata yang melotot. "Aku sudah sarapan," katanya datar.
"Baik kalau begitu," kata Kyou sopan.
Neji menyalakan perekamnya dan meletakkannya kembali di atas meja. "Ini pertama kalinya kau berpartisipasi di London Fashion Week. Jadi, bagaimana perasaanmu tentang itu?" Neji berujar datar dan berekspresi datar.
"Perasaanku baik. Aku sudah dua tahun menjauh dari kehidupan malam yang liar. Konsumsi rokok hanya sekali dua kali dalam seminggu. Minuman yang sering kuminum cuma red wine dan bir. Sejak itu, apapun yang kulakukan terasa menyenangkan."
Kerutan-kerutan jengkel kembali menyambangi kening Neji. Dia menangkap maksud Kyousuke. Pria itu tampak seperti orang yang sedang berusaha meninggalkan kesan baik, membangun imej di depannya.
"Kau satu-satunya model Asia yang menarik perhatian Louis Edwards, kau tahu, salah satu dari sepuluh perancang paling ternama di seluruh dunia." Neji terdengar sangat muak dengan tulisan yang dia baca dari buku titipan Louis Edwards. "Bagaimana pendapatmu mengenai hal itu?"
"Itu terdengar bagus. Aku kurang peduli bagaimana aku melihat orang lain," jawab Kyousuke tak berminat. Karena semua orang tampak sama di mataku. "Tapi, mungkin aku peduli bagaimana orang lain melihatku. Hm, nanti aku akan tanyakan pada Sir Louis apa yang membuatnya tertarik padaku. Dan, em, bagaimana kalau kau katakan seperti apa pandanganmu terhadapku."
"Maaf," jawab Neji cuek. "Aku sama sepertimu."
"Ah, berarti kau menyukaiku? Karena kau pasti menyukai dirimu sendiri, 'kan?"
Neji memandang Kyou malas. Neji tidak mau tahu apa yang dipikirkan pria itu, dia hanya tidak mau membuang waktu di sini, sebentar lagi ada kuliah. "Anggap saja semua yang kaupikirkan benar adanya. Jadi, mari kita lanjutkan."
Kelanjutan dari percakapan itu terdengar timpang sebelah. Kyousuke tampak begitu tertarik pada Neji sampai pelayan yang beberapa kali lewat di sebelah meja mereka, mengira Kyousuke adalah salah satu pria dengan orientasi seksual menyalahi ketentuan alam. Sementara Neji menanggapi semua perkataan Kyou dengan malas, terkesan bosan/muak dan yang paling parah terlihat ingin lenyap.
Seusai makan siang, Kyousuke menghilang. Tak seorang pun tahu di mana dia. Sakura tak mau mengakuinya, jadi dia berpura-pura tahu. Padahal pesannya pun tidak dibalas.
Setelah London Fashion Week, mereka istirahat sehari, baru selanjutnya bekerja lagi untuk pemotretan rancangan terbaru Mikoto. Walau Sakura tidak tahu di mana tepatnya, tetapi dia yakin Kyousuke berpergian untuk mengambil beberapa foto.
Sakura berguling-guling bosan di tempat tidur. Berulang kali memasang game di ponsel pintarnya, tetapi dia tetap merasa bosan. Ino sepertinya sibuk dengan Sai. Dan Naruto, entah kenapa pria itu tak pernah meneleponnya selama ia berada di London. Diabaikan rasanya sangat mengesalkan.
Ketukan pintu tiba-tiba menyapa indra pendengarannya. Sakura langsung berlari ke pintu, walau bukan Kyousuke, Mikoto yang datang pun tak masalah.
"Ginger?" kata Sakura sedikit terkejut. "Mau apa kau?" tanyanya sinis.
"Aku ke sini untuk mengajakmu keluar. Kau pasti hampir mati kebosanan di dalam sini."
Untuk seorang perempuan cerdas seperti Sakura, maksud tersembunyi Ginger terbaca dengan mudah. "Mau kemana?" tanya Sakura
"Kyousuke itu pasti sekarang dalam perjalanan ke bar. Aku kenal dia dengan baik. Tak ada satu malam pun yang dia habiskan tanpa minum. Jadi, mari kita temui dia di sana."
Sakura tersenyum, dia melipat tangan di bawah dada, kemudian menempelkan lengan atasnya ke kusen pintu. Wanita ini sok pintar, tapi bodoh. "Kau tahu banyak tentangnya," kata Sakura pelan seraya memasang wajah sedih. Tapi, sayang kau tidak tahu banyak tentangku. "Kurasa tidak ada salahnya pergi ke sana."
Ginger menepuk bahu Sakura, kemudian berkata, "Berdandanlah yang cantik."
Gaun mini berwarna peach melekat pas pada tubuh Sakura, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus dan indah. Ya, kaki adalah aset Sakura yang paling indah, apalagi saat dipasangi high heels bewarna merah. Namun, lehernya tak kalah seksi, terlihat jelas karena dia mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda.
Saat dia dan Ginger berjalan ke konter beberapa pria memelototi kaki Sakura dengan mulut menganga. Ginger mengajak Sakura bergabung dengan dua orang temannya, laki-laki dan perempuan.
Wah, wajah-wajah orang yang bekerja sama untuk menjalankan rencana kotor Ginger sudah kelihatan.
Sakura menutup mulutnya, agar bibirnya yang tersenyum merendahkan tidak kelihatan.
"Perkenalkan," kata Ginger kepada dua temannya itu, "ini Haruno Sakura, teman dari Jepang."
"Hai, Nona," Si pria mengulurkan tangannya yang langsung disambut Sakura. "Michael Benson." Michael menarik tangan Sakura dan sedikit membungkuk untuk mengecup punggung tangan Sakura. "Senang bertemu denganmu."
Sakura pura-pura tersipu. "Aku merasa spesial," katanya setengah berbisik.
"Dan aku, Mandy Moore."
Rencana kotor Ginger yang terkesan mirip drama pasaran itu dimulai ketika bartender—yang pasti sudah dibayar Ginger—memberikan segelas bir pesanannya. Sakura mengangkat gelas itu dan menempelkan mulut gelas seraya membauinya. Obat perangsang.
Untuk sekadar informasi agar tidak melaksanakan jebakan murahan semacam itu terhadap Haruno Sakura, semua orang perlu tahu bahwa bakat Sakura yang sesungguhnya adalah meracik obat-obatan. Dia hanya tersesat di sini karena Hatake Kyousuke, yang nyatanya sudah menemukan belahan jiwa.
Sakura menurunkan gelasnya. Ginger menyaksikan itu melalui ekor matanya. "Hari ini aku ingin minum langsung dari botol." Sakura melirik sebotol anggur hitam milik ketiga rekannya itu. "Kelihatannya anggur hitam enak juga. Boleh?" tanyanya pada mereka bertiga dengan nada menggoda.
"Aa!" pekik Sakura. "Aku mau buang air kecil."
Ginger merasa itu adalah kesempatannya. Dia melirik Mandy yang langsung mengerti pekerjaannya.
"Biar kutemani," ujar Mandy.
Buang air kecil hanya akal-akalan Sakura. Tadi dia sengaja menyisakan seperempat anggur hitam karena dia ingin mengembalikan jebakan mereka.
Benar saja, ketika dia kembali anggur hitam itu telah tercemar obat perangsang. Sakura tersenyum jahat. Dia mengangkat botol anggur lalu menuangkannya ke gelas tiga orang itu. "Kalian pantas mendapatkannya."
Ketiga orang itu saling melirik. "Apa yang kalian lakukan?" tanya Sakura. "Ayolah, aku tidak mau menghabiskannya sendiri. Atau jangan-jangan kalian menaruh sesuatu di anggur ini?"
Michael, Mandy dan Ginger mendesah. "Tentu tidak," ujar Ginger pelan. Dia meminum anggurnya sampai habis.
Jam delapan malam Neji datang ke bar untuk pekerjaan sampingannya. Dia lewat pintu belakang, khusus untuk pekerja. Ketika dia sampai di balik konter dahinya mengerut. Haruno Sakura ada di sini seorang diri dengan segelas daiquiri. Sakura berulang kali menengok ponselnya.
Gadis itu adalah juniornya saat SD, murid pindahan yang langsung populer. Sebenarnya dia sempat naksir dengan Sakura karena dia suka perempuan boyish. Sakura seseorang yang pernah menghajarnya dengan berani dan itu membuatnya terkesan. Tetapi, sejak SMA dia menemukan seseorang yang lebih menarik dan sangar. Tampak seperti hutan yang menantang untuk dijelajahi. Hingga sekarang dia belum berhasil menaklukkan gadis itu. Mungkin akan lebih mudah jika saja adiknya bersahabat dengan Tenten.
"Libur musim panas?" tanya Neji.
"Kau?!" Sakura berteriak. Dia memandang Neji tak suka. "Kenapa aku harus bertemu denganmu?"
"Bagaimana lagi, aku bekerja di sini."
"Kau pasti tidak beritahu adikmu, 'kan?"
"Ya. Sepertimu," jawab Neji, kemudian menyeringai.
"Maksudmu?"
"Maksudku, adik kesayanganmu, Uzumaki Naruto itu, pasti kau juga tidak beritahu dia kau mengunjungi tempat seperti ini."
Sakura terkekeh. "Naruto berteman dengan brandalan." Dan adikmu berpacaran dengan brandalan.
"Si Brandalan itu dalam bahaya, dia harus berhati-hati memperlakukan adikmu," balas Neji. "Kau dulu pernah menghajarku karena menampar adikmu yang suka berbuat onar itu."
"Si Brandalan itu menanggung risiko dua kali lipat," ujar Sakura penuh arti.
Meskipun Sakura tidak menyukai Naruto sebagai seorang pria, dia sangat menyukai Naruto untuk dijadikan adik. Mereka sudah bersama-sama sejak SD, bahkan lebih lama dari Ino yang berteman dengannya sejak SMP, masa di mana Naruto memilih sekolah yang berbeda dengannya. Tetapi, saat itu justru dia yang sering menghampiri Naruto di rumahnya.
Tidak peduli siapa itu, sekalipun Hatake Kyousuke, dia tidak akan membiarkan seorang pun memukul Naruto. Itu fakta. Hanya dia yang boleh memukul Naruto dan dia selalu melakukan itu.
Tangan kanan Kyousuke memeluk pinggang Sakura. Lengan yang satunya lagi diletakkan di antara leher dan dada. Gadis itu mengenakan celana panjang berwarna biru tua. Tubuh bagian atas Sakura hanya ditutup bra sewarna celananya. Tatapannya tajam. Dia semakin seksi dengan messy hair-nya. Sakura meletakkan tangan kirinya di atas tangan Kyousuke yang memeluk pinggangnya.
Kyousuke kali ini tampak sangat seksi. Kemeja putih yang ia kenakan kancingnya dilepas semua. Rambut pria itu pun sama acak-acakannya dengan rambut Sakura. Dia sedikit menunduk, mendekatkan bibirnya ke pipi Sakura, tetapi tidak sampai bersentuhan.
Mikoto puas melihat foto yang akan dijadikan sampul katalognya pada musim semi tahun depan.
"Bagaimana?" tanya fotografer yang bekerja di studio yang ia sewa hari ini.
"Aku mau semuanya," jawab Mikoto mantap.
Sakura keluar dari kamar ganti, ekspresi wajahnya letih. Tak lama berselang Kyousuke pun keluar dari kamar ganti pria, tatapan dan wajahnya terlihat datar. Tak ada tanda-tanda lelah di sana. Dia sudah terbiasa.
"Hah, ini malam terakhir kita di London," kata Sakura sembari meregangkan otot-ototnya. "Bagaimana kencan ratusan ribu dollar-mu, Suke-kun?"
"Lancar," jawab Kyousuke singkat.
"Hahahahaha!" Sakura tertawa. "Belikan aku sesuatu dengan itu."
Bibir Mikoto melengkung membentuk senyuman manis, memperjelas kerutan di wajahnya. Dia senang Sakura dan Kyousuke terlihat sangat dekat dan seperti yang diharapkannya, Sakura bukan wanita posesif. Dia benci wanita yang senang mengekang lelaki, terlebih putranya, layaknya Ginger Gerard. Sejak awal dia tidak suka dengan gerak-gerik perempuan itu.
"Bisa kita kembali ke hotel?" tanya Kyousuke kepada kedua wanita yang sekarang mulai bercanda tentang teman kencannya hari ini.
Foto Kyousuke dan Hinata di kedai ramen waktu itu dikirim Hinata melalui Whatsapp dengan caption "Kebetulan bertemu pria tampan di kedai ramen. Aku harap kau tidak cemburu, Sasuke-kun." Fotonya sampai sore tadi waktu London. Kyousuke memandangi foto itu sambil tersenyum geli. Dia berbaring di tempat tidur tanpa mengenakan apa pun, baru selesai mandi.
Sekarang pukul sebelas, di Jepang sudah pagi. Jadi, dia memutuskan untuk melakukan panggilan video. Butuh tiga kali panggilan barulah Hinata menjawab.
Wajah polos Hinata terpampang di ponsel Kyou. "Kau kemana saja?" tanya Kyou kesal.
"Maaf, aku sedang di dapur tadi. Jadi, bagaimana kencan ratusan dollar-mu?"
Kyousuke mendengus bosan. "Dia cuma anak orang kaya yang jatuh hati padaku setelah melihatku di London Fashion Week. Tidak ada yang menarik."
"Tapi, dia lebih cantik dariku, 'kan?"
"Ayolah, Sayang! Kau selalu mengungkit hal tak berguna itu."
"Kau seharusnya mengatakan sesuatu yang membuatku melayang." Kedua alis Kyousuke bertautan. "Kau curang! Kau selalu memaksaku mengatakan bahwa kau pria paling tampan di dunia ini."
"Aa," gumam Kyou akhirnya menangkap maksud Hinata, tetapi dia tetap tidak sanggup mengatakannya. Kyou langsung menggunakan jurus pengalihan topik. "Besok aku kembali, tapi belum sempat pesawat mendarat kau sudah pergi. Aku kangen sekali. Bisakah kau bilang pada panitia kau akan menyusul?"
"Tidak bisa. Summer camp itu penting. Kalau aku tidak ikut atau gagal di sana, aku langsung DO. Dan terlambat datang masuk dalam kategori gagal." Hinata berbicara dengan nada kesal.
Kyousuke menggeram. Ini sungguh menyebalkan. "Kau bisa menyebut nama kakekku di depan kepala jurusan. Dia pasti mengizinkanmu."
"Sasuke-kun bisakah kau berhenti mengandalkan kakekmu?" Hinata bertanya dengan suara yang sedikit ditinggikan dan cukup kasar.
"Hinata, aku cuma kangen." Kyousuke memelas, memohon pengertian Hinata.
"Sabarlah sedikit lagi, ya," kata Hinata lembut, dia terdengar sangat manis. Ah, Kyousuke jadi semakin kangen.
"Ya, sudah. Nanti aku yang akan menyusulmu." Kyousuke tak mau menyerah.
"Dari kampus butuh waktu 8 - 9 jam untuk sampai ke sana. Kuliah dan pekerjaanmu tidak bisa ditinggalkan."
"Kendaraan darat memang begitu. Tapi, aku bisa menggunakan helikopter." Kyousuke sangat ingin mengikuti Hinata. Dia harus memberikan tatapan membunuh kepada seseorang di sana. Agar orang itu menyadari posisinya dan segera mundur.
"Cukup. Kau memang suka kumarahi …."
Dan omelan Hinata menjadi pengantar tidur Kyousuke malam ini.
Pukul enam sore, Hinata duduk di sebelah jendela bus besar milik universitas. Itu kendaraan yang akan membawa mereka ke Chiba. Beberapa saat kemudian senior tampan bermarga Otsutsuki menempelkan bokongnya di tempat duduk sebelahnya.
Sejujurnya Hinata agak risih dengan orang di sebelahnya itu. Otsutsuki Toneri adalah asisten dosen mata kuliah masakan Prancis yang selalu menahannya dengan alasan kegagalan. Tatapan matanya terasa janggal. Rumor yang menyebar di jurusan semakin membuatnya tidak nyaman. Dia kesal setiap kali orang jurusan menggodanya. Seolah-olah dia masih sendiri.
Walau Hinata sudah menunjukkan dia memiliki kekasih dengan cara yang halus. Otsutsuki itu seakan tidak mau menyerah. Banyak sekali kebetulan-kebetulan tidak masuk akal yang membuatnya terjebak bersama seniornya itu. Misalnya saat ini.
Toneri kebetulan menjadi senior yang akan memimpin kelompok mereka. Lucu sekali, 'kan? Salah satu temannya yang pernah melihatnya bersama Sasuke pun malah merendahkan Sasuke dan menyarankannya mempertimbangkan Toneri. "Kau sudah gila," begitulah Hinata berkata pada Tayuya.
"Kau yang lebih tidak masuk akal. Aku bahkan tidak tahu bagaimana Toneri-senpai yang terlihat kejam, tetapi tampan itu bisa naksir padamu. Ada banyak perempuan cantik di universitas ini yang menginginkannya, aku juga. Dan yang lebih tidak masuk akal lagi kau memilih setia."
Hinata setengah berdiri. Dia menengok keseluruhan bus, mungkin ada tempat lain yang bisa ia tempati. Dia ingat pesan Sasuke agar menghindari Toneri.
"Apa kau begitu membenciku?" Toneri tiba-tiba bertanya.
Kelopak mata Hinata terkatup rapat, dia menarik napas dalam-dalam, kemudian mendesah sembari kembali duduk. "Tidak. Sama sekali tidak. Aku cuma tidak mau memberikan harapan," jawab Hinata.
"Kalau begitu kau tak perlu khawatir. Aku tidak mengharapkan apa-apa. Berteman saja kurasa cukup."
Sejak pertama kali mencicipi masakan Hinata pada saat tes masuk, Toneri langsung menyukai bagaimana cara gadis itu memasak. Ambisi dalam masakannya sangat terasa, tetapi bukan ambisi untuk menjadi koki terbaik di antara yang terbaik. Ambisi Hinata penuh akan cinta, keinginan membuat orang lain tersenyum, itulah yang membuatnya menarik.
Sayang sekali gadis itu sudah memiliki kekasih. Kalau belum, dia sangat yakin dia bisa merebut hati gadis itu dengan mudah. Kenyataannya Hinata sudah memiliki kekasih, seorang Uchiha yang tampangnya tidak seperti seorang Uchiha pada umumnya. Tetapi, tidak masalah, walau sedikit sulit dan harus menggunakan cara yang berbeda, dia pasti bisa merebut Hinata.
Toneri memandang Hinata yang masih canggung berbicara dengannya walaupun dia sudah bilang hanya ingin berteman. Kau terlalu berharga untuk orang macam Uchiha Sasuke itu.
Untuk sementara berteman, kemudian nanti berlanjut ke tingkat selanjutnya. Ah, acara puncak summer camp nanti akan sangat menyenangkan untuknya.
