Her's POV
"Hey, menjauh dari anakku!"
Sebenarnya, apa salahku?"
"Okaa-san jangan begitu. Dia 'kan hanya ingin bermain..."
"Kau boleh bermain dengan yang lain, nak. Asalkan bukan dia."
Aku hanya ingin ditemani.
"Hey, dia anak pembunuh itu 'kan?"
"Iya. Tapi tetap saja, kita harus menjauh dari anak itu."
Namaku Ai—Miyuzuki Aika.
"Kau pembunuh! Menjauh dari anakku!"
Hanya karena ayahku di penjara, semua orang menjauhiku.
"Ck, sayang sekali. Tapi ayah dan anak sama saja."
"Ya. Mereka sama-sama seorang pembunuh 'kan?"
Aku dibenci oleh mereka.
"Apa-apaan kau!? Pergi, pergi dari keluargaku, pembunuh!"
Aku dihina.
"Kau dengar berita itu? Ayahnya membunuh seorang pebisnis kota lho."
"Apa? Benar-benar mengerikan."
Aku disumpahi.
"Mati! Lebih baik kau mati saja, anak pembawa sial!"
Kalau aku ada salah, aku minta maaf.
"Kau pembunuh! Pembunuh! Pembunuh!
Tapi, apa salahku hingga kalian sangat membenciku?
Aku tidak mengerti.
Aku hanyalah seorang anak kecil yang tak tahu apa arti dari kata itu.
Tapi, aku tahu...
bahwa aku memang pembawa sial.
Ayahku pembunuh. Aku pun dianggap seperti itu.
Ya, benar. Ayahku memang seorang pembunuh.
Namun—
"Jangan menangis."
Kau menolongku.
"Aku disini."
Kau membisikkan kata itu.
"Tidak apa. Jangan lepaskan pelukanku—"
Ketika itu, kau yang membuatku menangis.
"—karena kau tidak sendirian."
Untuk pertama kalinya... ada seseorang yang mengatakan itu padaku.
.
.
.
UNDERWORLDS II
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
World by stillewolfie
Underworlds by stillewolfie
Rated T
[Akashi Seijuurou & Miyuzuki Aika]
Romance/Drama
AU, OOC, typo(s), etc.
.
.
When everything has been returned...
.
.
CHAPTER XI. A Meeting
.
.
Author's POV
Perlahan, kau mulai membuka mata. Sinar pagi yang menyerbak masuk ke dalam kamar membuatmu tersadar. Hari sudah meranjak pagi, tapi kau rasa dirimu masih malas sekali. Namun perlahan, kau mulai merenggangkan tubuh dan beranjak bangun. Berjalan membuka jendela dan membereskan tempat tidurmu.
Suara 'ting' yang berasal dari pemanas roti membuatmu tersadar. Segera kau siapkan sarapan dengan keadaan yang tidak memungkinkan. Kau melirik jam dan menghela nafas. Waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi, membuatmu tahu bahwa kau harus pergi satu jam lagi.
Dalam keheningan, kau mencuci piring dan membereskan apartemenmu sebentar. Lalu membersihkan diri dan bersiap untuk pergi. Hari ini, kau ada pertemuan pagi di fakultasmu. Kau harus bersiap bila tidak mau dibunuh oleh dosen pertama yang masuk pada kelasmu nanti.
"Ittekimasu!"
Kau berteriak, namun tak ada yang menjawab.
Blam.
Pintu tertutup.
Hening.
Tidak ada yang menjawab, karena kau tinggal sendirian.
Ya, kau memang selalu sendirian.
.
.
~ underworlds ~
.
.
Normal POV
"Sei-chan, Sei-chan~"
"Hentikan, Reo. Kau menjijikkan."
Akashi menghela nafas. Ia hanya terdiam dengan wajah kesal yang tertahan ketika mendengar bahwa Mebuchi terus saja memanggilnya dengan nama menyebalkan. Pria yang kini telah mengendarai mobilnya itu bersenandung pelan sambil melirik genit ke arah Akashi yang terdiam. Namun, tanpa rasa takut pun Mebuchi hanya terkekeh pelan. Ia sangat menyukai momen dimana dirinya menggoda Akashi tanpa pamrih.
Pagi itu, Akashi ditawari tumpangan oleh Mebuchi untuk berangkat bersama. Awalnya, pria berambut merah itu terlihat segan dan ogah. Namun karena si penawar terus merengek dan tak mau pergi dari pintu apartemennya, membuat sang emperor pun mendesah pasrah dan ikut dengan rencana si banci tampan.
Benar-benar menggelikan.
Sebenarnya, Akashi heran kenapa dia bisa akrab dengan orang macam Mebuchi Reo. Pria itu terlihat aneh dengan gayanya yang 'sangat' keperempuanan, membuat orang-orang kadang tak sudi mendekatinya. Tapi pada saat pertemuan mereka di Universitas Rakuzan, mau tak mau Akashi mengakui kepribadian Mebuchi yang hampir sama dengan Kise.
Ya, mereka sama-sama orang yang bersahabat. Tak melihat status dan sikap dari lawan bicaranya.
Akashi mendengus pelan.
Suasana di Kyoto hari itu terlihat baik. Akashi memperhatikan seluk-beluk penduduk yang melewati trotoar. Pemuda itu menopang dagu, terlihat sedang melamun.
Namun, sekelebat cokelat yang melintas di penglihatannya membuatnya terkejut.
Ketika lampu merah menyala, otomatis mobil yang ditumpangi oleh dua pemuda tampan itu berhenti sejenak. Di depan mereka terlihat beberapa orang telah berjalan terburu-buru untuk menyeberang jalan. Saat itulah, Akashi memfokuskan diri pada sosok yang menyembul dari kerumunan orang dewasa itu.
Rambut berwarna cokelat panjang itu melambai perlahan ketika dirinya berjalan cepat melintasi jalan. Iris tosca yang begitu Akashi kenal sangat begitu terlihat. Gadis itu memakai pakaian sederhana dan membawa beberapa buku yang ada di tangannya. Pada saat itulah, Akashi menyadarinya—
—gadis itu adalah orang yang terakhir ditemuinya di perpustakaan.
.
.
~ underworlds ~
.
.
Namanya Miyuzuki Aika.
Gadis tingkat dua di Universitas Rakuzan. Fakultas Sastra Bahasa dan sangat menyukai membaca. Berumur dua puluh tahun dan termasuk jajaran orang pintar seangkatan universitas. Gadis itu memiliki rambut cokelat yang diikat setengah yang didominasi oleh manik tosca yang menawan. Ia merupakan gadis penyindiri dan tak suka keramaian. Lebih sering berkutat di perpustakaan kota ataupun di kafe dekat fakultasnya.
Ia tidak suka berbaur.
Karena menurutnya, itu sangat merepotkan.
Manusia di dunia itu bodoh. Mereka akan mendekatimu bila ada sesuatu yang diinginkan olehmu. Karena prestasi Aika yang begitu gemilang, banyak wanita-wanita seusia dirinya sering menggodanya untuk berkenalan. Tipikal gadis zaman sekarang—lebih suka bermain diluar daripada belajar. Dan fakta itu dibuang jauh-jauh oleh Aika di dalam kehidupannya.
Intinya, jalan kehidupan yang ia pegang begitu membosankan.
Selama dirinya menduduki bangku SMA di Kyoto, ia tak pernah merasakan masa-masa indah macam kencan, cinta pertama, double date, ciuman di tempat romantis, dan pengalaman-pengalaman menggelikan lainnya. Yang Aika lakukan hanyalah ke perpustakan, belajar, perpustakaan, belajar, mengerjakan tugas, dan kembali lagi ke perpustakaan. Gadis itu tak pernah terlalu dekat dengan seseorang. Selain karena alasan tidak mau ketularan, Aika juga tidak butuh sandaran kasih sayang dari seorang teman.
Di matanya, semua manusia di dunia ini adalah munafik.
Menjijikkan.
Menggelikan.
Dan mengesalkan.
Saat ini, ia terus melangkah. Melewati teman seangkatan yang terlihat sibuk dengan kegiatan mereka. Aika berniat untuk pergi ke tempat kerjanya dan mencari uang untuk saku bulanan. Dan ia akan melakukannya dari sore hingga menjelang malam, dan sisa malam itu ia gunakan untuk pergi ke perpustakaan kota—seperti biasa.
"Hei, kau tahu Akashi Seijuurou?"
"Iya iya! Aku tau! Yang rambutnya merah itu, 'kan?"
"Hihi kau benar, tadi aku berpapasan dengannya—"
"Heee? Benarkah!? Beruntung sekali!"
"—dan kau tahu? Kalau dilihat dari dekat, dia jauh lebih tampan!"
Kemudian tepat mereka berpapasan, dua gadis yang sepertinya dari fakultas lain itu menjerit histeris. Aika pun tampak berjengit mendengar teriakan dua gadis feminin itu. Ia menghela nafas dan menggelengkan kepala pelan, memaklumi tingkah para wanita yang tampak tak dikenalnya itu.
Ketika sampai di perempat jalan, ia memutuskan menyeberang di zebra cross yang ia lewati tiap pagi. Lalu Aika berbelok ke arah barat dan berjalan lurus, mengacuhkan tiap manusia yang berpapasan dengannya. Saat matanya menangkap reklame tulisan nama restoran cepat saji yang begitu tak asing di matanya.
Yoshina Food Court.
Aika mengerjap pelan. Kakinya melangkah ke bagian belakang restoran itu.
Tring.
Lonceng kecil pun berbunyi.
Derap langkah kaki yang berasal dari depan mampu membuat manik hijau gelapnya mengerling. Dengan sigap Aika meletakkan tas-nya di meja sebelah pintu dan tersenyum tipis. Sosok itu tampak terengah dan bahagia ketika mendapati gadis itu telah datang ke tokonya.
"Miyu-chan!"
Segera, pelukan hangat dan tempelan gemas pada pipinya menjadi sapaan. Aika terkekeh pelan dan melepaskan pelukan mereka. Gadis itu tersenyum hangat. "Yoshino-sama, apa kabar—"
"Hiiis kau ini! Jangan memanggilku seperti itu!" Wanita berumur 24 tahun itu cemberut. "Panggil aku Reika saja. Anggap saja kita ini teman, ya?"
Aika terpaku sesaat. Dan tak lama, dirinya mengangguk mengiyakan.
Selagi mempersiapkan segala keadaan, Aika sedang berbicara sebentar dengan atasannya itu, Yoshina Reika. Wanita itu berambut pendek sebahu dengan warna hitam yang cukup seksi. Ia tampak sangat muda di umurnya itu. Bahkan sekilas dirinya bukan seperti seorang ibu. Reika sudah memiliki seorang suami dan dua putra—nikah muda rupanya.
Dengan seragam berkerah berwarna merah serta garisan putih yang ada di bagian lengan pakaian, Aika keluar dari ruang pekerja dan segera berjalan ke arah pelayan lainnya.
"Miyuzuki-san, kau sudah datang rupanya." Wanita itu memang sudah berumur, beberapa kerutan tanda tua mulai tampak di wajahnya. Dengan pelan Aika menerima sebuah catatan pesanan dan wanita itu tersenyum pelan. "Tolong layani meja nomor 25, mereka baru datang dan aku harus mengurusi hal lain." Ia menunjuk dapur restoran yang sepertinya telah dilanda sedikit kepanikan.
Aika mengangguk, dan menerima catatan itu. "Baiklah, obaa-san."
Gadis itu pun menuruti perintah dan menjalankannya. Langkah kakinya yang dilapisi oleh skets cokelat itu tampak meredam di tengah-tengah keramaian restoran itu. Iris tosca-nya menangkap beberapa pria dewasa telah menduduki meja yang dituju. Dan jujur saja, Aika sama sekali tidak peduli.
"Selamat malam," Aika mencoba memamerkan senyum terbaiknya. "Boleh saya catat pesanan Anda?"
Dan di saat itulah obrolan mereka terputus. Mereka tampak terpana sekaligus terkejut ketika mendapati seorang gadis pelayan telah menghampiri meja mereka. Dan Aika hanya mengerling datar ketika di salah satu di antara mereka memukul meja dengan kasar, dan tubuhnya langsung berdiri dramatis seakan baru melihat setan.
"K-Kau—Miyuzuki Aika!?"
Hayama Kotarou, pemuda aneh berambut pirang emas dengan mata sehijau rerumputan, menatap gadis mungil di hadapannya dengan pandangan tak percaya. Ia tercengang sok dramatis dan menunjuk Aika dengan tidak sopan, membuat sang objek pun tampak menyipitkan mata—kurang suka dengan jawaban pelanggannya.
"Iss Kotarou-kun, hentikan! Kau membuatku malu!" Mebuchi Reo tampak terganggu dengan tingkah teman sesama SMP-nya itu. Merasa kalau pandangan orang-orang telah berpusat pada mereka, membuat Mebuchi mendesah panik. "Aaah, kalau begini terus aku bisa gila—"
"Hentikan Reo. Dan Kotarou, turunkan tanganmu."
Satu perintah, satu kemutlakan. Kotarou pun menurunkan tangannya dan duduk di kursinya. Jujur saja, pria ceria itu tampak semakin bodoh bila memasang senyum tolol seperti itu.
"Kau Miyuzuki Aika yang pintar itu, 'kan?" Aika masih terdiam. "Dan kau murid kesayangan para dosen itu, 'kan?" Aika tampak masih bisa menahan kesabaran. "Dan kau yang suka menulis novel mistis yang terkenal itu 'kan—"
Tek.
"Aku tidak mengulanginya lagi, Kotarou." Saat gunting diletakkan di atas meja, Kotarou langsung bungkam. Ia tampak cemberut dan melirikkan mata pada pria berambut merah darah yang duduk di sisi lainnya. "Mou! Akashi nggak seru—"
"Boleh saya catat pesanan Anda, tuan?" Sudah lebih dari lima menit Aika berdiri disini, dan waktu itu digunakan hanya untuk mendengar rengekan Kotarou yang menjijikkan itu. "Apa Anda sudah memutuskannya?"
Tiga pria disana sempat terdiam, sebelum tawa Kotarou segera mencairkan suasana. Segera mereka memutuskan pesanan mereka, seiring dengan tangan Aika yang lihai mencatat. Lalu setelah itu, Aika menunduk hormat dan berniat beranjak pergi. Tapi sebelum itu—
Aika tak sengaja menatap Akashi.
Iris heteromatika yang begitu unik langsung menarik perhatian gadis itu. Tapi ia tak menunjukkannya, Aika hanya diam saja dan mengerling sebentar pada wajah pria berambut merah itu. Akashi menyadarinya, dan ia tahu mengapa Aika memandanginya.
Aika bukanlah tipikal seorang gadis yang langsung memuji ketampanan seorang pria. Tapi yang menarik dirinya untuk memperhatikan Akashi adalah warna rambut serta matanya. Ia merasa kalau mereka pernah bertemu di suatu tempat, tapi entahlah dimana.
Gadis itu menghela nafas lelah. Tanpa memikirkannya lebih lanjut, Aika segera berjalanan ke arah dapur dan memberikan pesanan pada sang koki yang ada di dalam.
Aku tidak peduli.
Tapi seiring dengan langkahnya menuju dapur, Aika tahu—
—perhatian Akashi Seijuurou tak berhenti sampai disitu.
.
.
~ underworlds ~
.
.
Akashi sama sekali tidak mengerti.
Ya, dia benar-benar tidak mengerti.
Ketika Mebuchi ribut untuk mengajaknya makan malam bersama di kota, Akashi sama sekali tidak berniat untuk menyetujuinya. Pria itu berniat untuk pulang ke rumah dan beristirahat ketika masa perkuliahan hari itu telah selesai. Hanya saja, karena Kotarou ikut-ikutan teriak tak jelas dan aura mengerikan dari Mayuzumi Chihiro—senpai-nya di semester tiga—mau tak mau membuat si absolut mengangguk tak sudi.
Perjalanan mereka di dominasi oleh candaan Mebuchi dan tawa kencang Kotarou di dalam mobil. Sedangkah Akashi dan Mayuzumi yang sama-sama duduk di jok belakang tampak tak terganggu. Mayuzumi sibuk membaca novel barat, sedangkan Akashi sibuk dengan pemandangan orang di luar. Lalu ketika mereka sudah sampai, Akashi benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar dibawa kesini.
Restoran itu tak terlalu besar, dan di matanya, nama restoran itu tampak konyol. Tapi sebelum Akashi berhenti mengejek restoran itu, tangannya sudah ditarik oleh Reo dan mereka pun masuk dengan menduduki meja yang agak menjorok ke belakang. Dan disitulah, percakapan teman sesama SMP itu lanjut kembali. Mengingat Eikichi yang tak bisa ikut karena tugas tambahan dari dosen kuliahnya, membuat suasana disana tampak tak seburuk biasanya.
Bermenit-menit pun berlalu, dan Akashi dapat mendengar lantunan suara dari sang pelayanan yang menanyakan pesanan. Ia tampak tak peduli dengan itu. Matanya hanya sibuk melihat orang-orang yang berjalan sore itu hingga—
"Miyuzuki Aika!?"
—teriakan Kotarou mengubah segalanya.
Akashi benci bila lamunannya diputus oleh orang bodoh macam Kotarou. Karena itulah, ia mengancam pria itu dengan menari-narikan gunting di udara, lalu mengancamnya dengan kalimat mematikan. Saat itulah, pria bodoh itu membungkam mulutnya dan cemberut terhadapnya. Tapi jujur saja, Akashi tidak peduli.
Namun di detik itulah, Akashi menyadarinya.
Rambut cokelat tua yang melambai pelan ketika dirinya menunduk hormat. Serta manik hitam-kehijauan yang gadis itu punya. Satu sosok telah Akashi kenal ketika mendapati orang itu telah berdiri di hadapannya dan memandangnya pula.
Hanya saja, mereka tak sempat menyapa.
Dalam sekali lihat, Akashi tahu sikapnya sekarang telah berbeda.
Jika dulu ada anggukan serta senyuman hangat yang menjadi salam perkenalan, kini hanya balikan punggunglah yang ada.
Tapi, di saat itulah Akashi tahu—
—bahwa perhatian gadis itu tak akan berhenti sampai disitu.
.
.
"Hei. Kumohon, berbaliklah!"
"Lihat aku—"
"—disini, bersamamu..."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Notes!
aaaaaa halo teman-teman! apa kabar? ini udah ada season kedua dari world :"
karena pembukaan, pendek dikit tak apalah ya? ahahahaha #geplaked
.
.
SPECIAL THANKS TO
nurunuzuzoldyck, Yuzu Nishikawa, forbeingaselfish, Yuzu Nishikawa, Mischishige Michiyo, Yamashita Hanami-chan, kurosaki seika, Musume Youki, Aoi Yukari, kuroizayoi, sakazuki123
.
.
Quest's: at World
Entah kenapa kok bisa nebak cerita ini. Bagus deh kalo gitu. Prolog-nya aja dah greget. Thanks. Cepetan ya apdetnya. Ini dah cepet, 'kan? Untung deh ada lanjutan, soalnya ini ngegantung banget. Haha, maaf kalo kurang memuaskan ya. Kenapa ga ada yang ingat Hikari? Karena semuanya telah berputar (?) ke awal lagi. Shiro tetap jahat? Mungkin. Bikin nangis fanfik-nya. Wah, makasih. Ga sabar liat OC barunya. Iya, ini dah muncul.
.
.
Next Chapter
"Akashi, aku akan pulang."
"Kau tidak mengingatku, dan kurasa aku cukup memaklumi hal itu."
"Tolong aku... dan Seijuurou."
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
.
.
Pengen tau wujud asli dari Miyuzuki Aika dan Tachikawa Hikari? Silahkan lihat kover fanfik ini ya!
.
.
Terima kasih sudah membaca! :)
Mind to Review?
