Disclaimer :Naruto itu karyanya Masashi Kishimoto-sensei ^^ X3 saya sebagai fansnya cuma iseng bikin cerita tentang karakter yang beliau buat.
Warn : OOC, AU, maaf ya kalau ada yang typo
I can , You can , We can!
Chapter : 11
"Minato…"
Kakashi-sensei teringat sesuatu dan ia keluar dari ruang guru menuju ke atap sekolah, saat menaiki tangga ia berpapasan dengan Iruka. "Mau kemana kau Kakashi? Sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai."
"Aku mau ke atap, seperti biasa." Jawab Kakashi. Kakashi yang sudah sampai di atap sekolah, langsung disambut oleh makhluk kecil yang sedang bertebangan. Kakashi-sensei tersenyum sambil melihat peri berambut kuning jabrik yang sedang mengelilingi di sekitar kepalanya.
"Ya, ya, aku sudah mengikuti perintahmu, ah! Maksudku membantumu. Aku baru tau kalau di dunia ini, manusia mempunya peri yang mendampinginya. Apakah aku juga mempunyai peri yang mendampingiku? Seperti kau yang mendampingi bocah Uchiha tersebut?" Tanya Kakashi-sensei yang menunjukkan jarinya ke Minato.
Saat ini mereka sedang berada di atap sekolah, setelah Kakashi-sensei meyakini Itachi dengan pemaksaan untuk mengikuti turnamen, Minato langsung mengajak Kakashi-sensei ke atap atas sekolah.
"Orang licik sepertimu tidak mempunyai peri." Tanggap Minato dengan dingin.
"Ah, Ah. Aku takuut~ aku adalah orang licik?" Kakashi-sensei menunjuk dirinya sendiri dengan muka yang kebingungan, "Haha, sepengetahuanku, bukankah setiap orang mempunyai peri ya?" tanya Kakashi-sensei yang lansgung mengubah ekspresi bingungnya dengan menatap serius Minato.
Minato pun tertegun, ia heran kenapa Kakashi bisa mengetahui hal itu. "Darimana kau mengetahui itu?" tanya Minato, yang pikirannya sudah dipenuhi dengan kecurigaan kepada wali kelas dari orang yang ia lindungi.
"Aku tahu itu dari bocah gadis Haruno itu."
"Haruno... Sakura?" Tanya Minato.
"Yap, murid kesayanganku." Senyum Kakashi-sensei , senyumnya sangat mirip dengan senyum licik yang biasa digunakan para karakter jahat di TV atau film.
"Tak mungkin itu terjadi, setauku, Sakura pandai menjaga rahasia." Pikir Minato. Seakan-akan Kakashi mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Minato, ia langsung berkata,
"Tidak, ia tidak memberitahuku. Aku mengetahuinya karena aku tidak sengaja mendengarkan Sakura sedang berbicara kepada perinya saat ia dihukum waktu pertama kali aku masuk sebagai wali kelas. Kebetulan saat itu aku sedang berdiri di depan pintu sehingga aku mendengarnya. Aku mengapresiasi bocah Haruno, karena dia tetap berusaha belajar dan memahami pelajaran yang aku ajarkan tanpa meminta bantuan kepada perinya."
"Apakah kau tahu nama perinya Sakura?"
"Aku tidak tahu, tapi mungkin aku pernah mendengar Haruno memanggilnya."
"Apakah kau bisa menyebutnya?" Minato sengja berkat seperti itu, untuk memancing pengetahuan Kakashi seberapa tahu dirinya tentang peri.
"Ku.."
"Shi.."
"Ti...?"
"Hahaha! Kushiti? Haha, syukurlah kau tidak tahu namanya." Tawa Minato dengan lepas sambil memukul-mukul perutnya.
"Kushiti itu panggilan kesukaanku, karena namanya itu mengingatkanku pada mbak cantik yang jadi pelayan restoran di pinggir sekolah ini, yang namanya Kumako Shiti. Kalo nama asli perinya bocah Haruno itu Kushina'kan?" Shock, Minato selalu dibuat terkejut dan kaget oleh Kakashi, hal ini sama sekali tidak terduga olehnya. Seorang guru biasa yang mempunyai akal licik ini bisa mengetahui nama peri Haruno Sakura. Ditengah kebingungan yang sedang mendera Minato , Kakashi kembali berbicara.
"Kenapa kau melakukan ini semua, Minato? Hal ini akan membuatmu dipecat tau." Mendengar perkataan tersebut, Minato langsung mengeluarkan tongkat sihirnya, membaca mantra dan mengarahkan tongkat sihirnya ke Kakashi. Guru berambut perak jabrik tersebut awalnya tidak terlalu menyadari apa yang dilakukan oleh peri tersebut, setelah ia melepaskan kacamata hitam yang telah ia gunakan sedari tadi, ia menydari ada sesuatu, seperti percikan kilat yang keluar dari tongkat peri itu.
"H-he-heii... apa yang kau lakukan, Minato?" tanya Kakashi yang sedikit terkejut dengan apa yang sedang ia lihat. "Menyerangmu." Saat Minato akan mengayunkan tangannya, Kakashi mengangkat kedua tangannya, layaknya seperti orang yang mengaku menyerah.
"Tunggu! Dengarkan aku dulu!" Minato pun menurunkan tangannya, "Apa yang harus aku dengarkan lagi darimu, Kakashi-sensei?"
"Aku hanya bertanya kenapa kau melakukan semua ini? Kukira kau mempercayakan aku saja untuk melakukan perubahan kepada bocah Uchiha itu, kenapa sampai kau juga turun tangan?" Kesal, ia menggertak giginya dan menjawab, "Aku hanya ingin pekerjaanku ini cepat selesai."
"Oooh, lalu kau ingin menikmati waktumu berdua saja dengan peri Haruno itu?" Goda Kakashi yang ditanggapi serius oleh Minato.
"Sebenarnya, siapa kau, Hatake Kakashi?" tanya Minato yang kali ini benar-benar sangat marah,hingga ia memakai suaranya yang tinggi.
"Aku hanya manusia biasa yang berakal licik~"
"Jujur! Siapa kau?!"
"Kepooo~! Pokoknya, sadarilah kesalahanmu itu sendiri. Uchiha Itachi itu hanya butuh sedikit penekanan seperti yang biasa aku lakukan, bukan apa yang kau lakukan. Apa-apaan kau? Mau membuat bocah Uchiha itu berubah sampai harus melukai adiknya?"
Entah siapa dan makhluk apa, yang jelas Kakashi itu bukan manusia normal, hal ini yang sedang dipikirkan oleh Minato.
"Walaupun kau seorang peri, yang jelas aku akan membuat perhitungan padamu! Karena kau telah menyakiti perasaan salah satu muridku, yah walaupun dia adalah murid yang pualing buandel karena susah diatur olehku, namun dia masih menjadi tanggung jawabku sebagai wali kelasnya." Tanggap Kakashi dengan suaranya yang keras.
"Namun, kenapa saat waktu itu kau setuju untuk berniat membantuku dalam merencanakan hal yang menyakitkan kepada Itachi agar ia menjadi baik?!" mendengar hal ini, Kakashi langsung berdiri dan mengeluarkan penanya yang disimpan di saku baju, ia membuka tutup pena dan bergerak, berusaha untuk mengenai penanya ke badan Minato. Kaget dengan apa yang dilakukan oleh Kakashi, dengan sigap, Minato terbang lebih tinggi.
"Kau hanya bilang kalau kita bekerja sama untuk membuat bocah Uchiha itu mengikuti turnamen dan berbuat baik? Tidak ada kata 'menyakitkan'?" Geram Kakashi, ia tidak bisa diam dan terus bergerak untuk memukul atau bahakan menusuk peri berambut kuning jabrik itu dengan penanya, sayangnya lagi-lagi usahanya tidak berhasil. Minato tertawa melihat usaha Kakashi yang sia-sia.
"Jujur saja, kau adalah manusia yang menarik dan sama sekali tidak bisa kutebak."
"Dan kau adalah seorang peri yang licik, bukannya membantu bocah yang kau dampingi itu dari bahaya malah mendekatkannya dengan bahaya. Hanya untuk membantu satu peri itu? Menelantarkan tugas, melanggar aturan dan membahayakan nyawa seseorang. Sungguh kau bodoh sekali." Ucap Kakashi dengan gaya senyumnya yang biasa ia gunakan di depan muridnya.
"Cih! Tahu darimana kau? Kalau aku melakukan ini untuk Kushina." perkataan Kakashi sudah sangat memancing amarah Minato. Saat Minato akan melakukan sihir dengan tongkatnya, "Kau kira aku bodoh~ 'dia dan dia' yang kau maksud adalah peri gadis Haruno itu kan? Wah,wah aku baru tahu kalau sesama peri bisa jatuh cinta~"
"Diam Kau!" Menggunakan seluruh kemampuannya, Minato mengeluarkan serangan yang berasal dari tongkatnya, percikan kilat itu mengahampiri Kakashi. Untuk saat ini, Kakashi melihat kemana arah serangan itu akan menuju, ia langsung menghidar ke arah samping kiri dari pintu atap hingga badannya mengenai pagar pembatas. Kakashi melihat kerusakan yang telah dibuat oleh Minato.
"Aku telah membuat perhitungan yang salah, jika saja aku tidak memulai kerjasama denganmu, maka hal yang kurencanakan pasti berjalan lancar." Ucap Minato.
"Sejak awal, aku hanya mementingkan diriku sendiri. Tidak terpikirkan sama sekali bagiku untuk bekerjasama, apalagi bekerjasama dengan makhluk yang tidak nyata namun ada." Kakashi mengucapkannya sambil tersenyum, sambil mengingat kembali apa yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu, saat ia dan Minato bertemu untuk pertama kalinya.
-Flashback-
Hatake Kakashi, wali kelas 10-2 di SMA Konoha, sedang menghadapi masalah, yaitu tentang partisipasinya seluruh kelas di acara turnamen. Rumor atau bukan, kelas yang memenangi turnamen tersebut akan menjadi sukses. Sebagai orang yang intelek, ia tidak mau mepercayai rumor murahan seperti itu, namun selama ia mengajar di SMA Konoha ini, rumor itu selalu terjadi. Kesuksesan semata, memang hal itu sangat menggoda, tetapi bagi Kakashi, hal itu tidak terlalu berarti karena kesuksesan yang didapatkan oleh kelas yang menang bukan berupa materi yang diinginkan oleh Kakashi.
"Bagaimanapun, seorang manusia membutuhkan uang untuk hidup. Jika ada tawaran seperti kenaikan gaji, tentu saja aku akan bersemangat mengajak anak kelasku untuk mengikuti turnamen sekolah ini."
Perkataan Kakashi inilah yang membuat kepala sekolah SMA Konoha langsung membuat sayembara kepada guru , jika kelasnya memenangkan turnamen ini, maka guru tersebut akan menerima kenaikan gaji. Untuk pertama kalinya dalam turnamen SMA Konoha, kenaikan gaji para guru diikutsertakan. Bagi guru lain, adanya kenaikan gaji atau tidak itu tidak menjadi masalah, dikarenakan gaji yang sudah diterima oleh guru SMA Konoha ini sudah di atas rata-rata gaji normal dan tentunya akan sangat merepotkan untuk mengurus siswa-siswa selain urusan akademik.
Hal ini sangat disambut baik oleh kakashi, tidak ada tanda-tanda antusias dari guru lain untuk mengurus kelasnya agar berpartisipasi dalam turnamen ini merupakan hal yang sangat luar biasa, karena kesempatannya dalam mendapatkan gaji tentu saja lebih besar. Namun, ada satu guru yang menjadi permasalahan besar untuknya, yaitu wali kelas 10-5, Maito Guy.
Maito Guy, seorang guru yang selalu bersemangat dalam hal apapun terutama dalam bidang olahraga. Kelas yang diasuhnya merupakan kelas unggulan, dikarenakan di kelas tersebut terdapat anak-anak yang berprestasi di bidang akademik dan non-akademik sejak masa SD hingga sekarang.
"Nee, Iruka. Apa yang harus aku lakukan untuk mengendorkan semangat si Guy?" Kakashi bertanya kepada Iruka di ruang guru saat jam istirahat. Iruka yang letak mejanya kebetulan berada di sebelah kanan Kakashi langsung menjawab pertanyaan temannya, "Kau tahu sendiri bagaimana semangatnya Guy setiap mengikuti turnamen sekolah'kan? Tak ada yang bisa kau lakukan dalam mengendorkan semangat Guy kecuali doa dan keajaiban tuhan."
"Haaah~" Kakashi menghela nafasnya dan meminum secangkir kopi yang ia letakkan di meja. "Hmm, keajaiban yaa… aku rasa aku pernah melihatnya."
Penasaran dengan perkataan guru berambut jabrik perak itu, Iruka bertanya, "Dimana kau pernah melihatnya?"
"Atap Sekolah."
"…" (atap sekolah? Itu kan tempat dimana dia kena kotoran burung.)
"…"
"…" (apa keajaiban yang dimaksud adalah kotoran burung itu?)
"OK! Aku akan pergi ke atap sekolah dan bertemu dengan keajaiban itu~" Kakashi-sensei mengambil plastik yang berisi bekalnya di tasnya dan langsung bergegas menuju ke atap sekolah.
(Ya, ternyata keajaiban Kakashi adalah terkena kotoran burung.)
[(…) kata-kata ini pemikiran iruka.]
"Ya, disinilah tempat aku menyadari sesuatu yang bersinar-sinar yang terdapat pada Haruno." Ucapnya sambil menatap langit yang biru. Saat ini langit sedang terlihat cerah, sinar matahari pun sangat memancarkan sinarnya hingga Kakashi harus menggunakan tangannya sebagai pelindung sinar matahari pada matanya.
Kakashi berusaha untuk fokus memerhatikan sinar matahari,ia berpikir jika ia fokus seperti ini ia dapat melihat sinar yang lain,seperti sinar yang pernah ia lihat pada bocah Haruno.
Beberapa menit pun telah berlalu, ia merasa lelah, usaha yang dilakukannya seperti sia-sia sehingga ia mencari tempat teduh di dekat atap dan memakan bekalnya. Tepat di saat Kakashi membuka mulutnya untuk memakan onigiri yang dibelinya di mini market terdekat, ia melihat sinar yang sama seperti sinar yang ia lihat pada Haruno. Sinar itu pun semakin terang dan menyilaukan sehingga Kakashi langsung memejamkan matanya.
"Kau Kakashi Hatake'kan?"
Mendengar suara yang menyebutkan namanya, Kakashi berusaha untuk membuka matanya secara perlahan dan melihat sesuatu yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. "Apa-apaan ini?"
"Tenang saja, kau tidak sedang bermimpi, ini asli kok." Suara itu keluar dari makhluk yang sangat kecil, mungkin ukurannya hanya segenggam tangan manusia dan mempunyai sayap. "Ini mustahil, tapi seperti cerita dongeng saja." Gurau Kakashi.
"Ini kenyataan kok." Jawab makhluk itu. Kakashi yang awalnya tidak percaya akan hal itu, akhirnya mulai sedikit percaya. "baiklah, aku Kakashi Hatake, guru yang paling kejam di sekolah ini. Aku memang anak yang bandel saat masih kecil, namun sekarang aku sudah besar dan menjadi anak baik, jadi kau terlambat datangnya. Harusnya kau datang saat aku masih kecil, ahaha."
Makhluk itu tidak menghiraukan gurauan Kakashi, ia malah menanyakan tentang Uchiha Itachi, Kakashi menjelaskan bahwa Itachi adalah muridnya yang menyebalkan, lalu makhluk itu menawarkan bantuan kepada Kakashi untuk membuat Itachi menjadi anak penurut. Tawaran yang sangat baik ini tentu saja tidak dipikir ulang kembali oleh Kakashi, namun Kakashi ingin tahu dengan siapa ia bernegoisasi, makhluk itu mengenalkan dirinya.
Namikaze Minato, seorang peri. Peri mempunyai banyak kemampuan, salah satunya dapat member kemampuan untuk membuat manusia bisa melihat kami. Terlalu jelas dan mendetail, begitulah yang dipikirkan Kakashi, karena Minato menjelaskan asal-usul peri hingga keadaannya sekarang yang menjadi peri pendamping Itachi, yang sekarang ia kelelahan karena sifat Itachi yang berubah sejak kejadian itu.
"Kau menyenangkan sekali Minato, mulai sekarang aku mohon bantuannya untuk memberitahuku tentang Uchiha Itachi lebih jelas." Ucap Kakashi, "Aku akan membantumu asalkan syaratnya jangan pernah kau sakiti muridku dalam melakukan hal ini."
"Hahaha, mana mungkin aku melukai pendampingku sendiri."
"Kenapa kau menginginkan kerjasama denganku?" Tanya Kakashi yang heran, "Hanya kau saja yang kuanggap jenius, asal kau tau, aku ingin menyelamatkan dia dan dia…"
"…"
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku tidak bisa melakukan hal ini sendiri dan dia juga tidak boleh tahu tentang hal ini, sehingga aku hanya terpikirkan untuk meminta bantuanmu, kebetulan kau adalah orang yang sangat keras pada Itachi, sehingga Itachi malas bertemu denganmu dan kesempatanku untuk berbincang denganmu sangatlah mudah." Ucap Minato yang terlihat sedih. Kakashi yang menyadari sesuatu dari perkataan Minato,berkata
"Jangan-jangan kau sedang suka dengan…." Namun ia tak punya keberanian untuk melanjutkan ucapannya, "Suka dengan apa?" Tanya Minato, "… Kue?" Jawab Kakashi asa3-asalan.
"Haha, peri tidak makan dan minum namun kami punya tenaga yang terbatas juga." Senyum Minato sambil pergi pamit meninggalkan Kakashi.
"Maksudku kau menyukai peri juga ya? Dan sepertinya aku mengetahui sesuatu yang tak kau ketahui kalau aku tahu." Senyum Kakashi dengan licik, sambil mengingat seseorang muridnya yang sering ditemukan ngobrol sendiri.
"Mungkin cahaya yang kulihat di gadis Haruno itu adalah peri, dan dia yang dimaksud Minato ini adalah peri Haruno? Akh~ aku jadi penasaran apakah aku punya peri apa tidak~ haha. Seperti apa yang dikatakan oleh Haruno saat itu."
-End of Flashback-
"Hahaha, mana mungkin aku melukai pendampingku sendiri. Perkataan macam apa itu?! Kenapa berbeda dengan kenyataan ini haaah?!" Kakashi berteriak dengan sekuat tenaga, entah kenapa ia sangat kesal dibuat emosi oleh makhluk yang tak kasat mata dan tak jelas nyata atau tidaknya. Terkejut dengan teriakan Kakashi, Minato mengatakan sesuatu.
"Kau tidak tahu apa yang sedang kualami, aku dalam situasi genting! Aku harus memilih diantara dua pilihan! Dan, yang terpenting ini tugas terakhirku sebagai peri!" teriak Minato sambil melayangkan serangannya kearah Kakashi, Kakashi yang menyadarinya langsung menghindar. Kakashi menengok kea rah serangan Minato, lantai atap sekolah pun rusak.
"Serangannya tidak main-main… aku tidak boleh main-main juga nih." Saat Kakashi sedang berpikir seperti ini, Minato langsung menyerangnya, Kakashi yang tidak siap menghindar kearah kirinya, dimana badannya tak sengaja mengenai tembok dari ruangan penyimpanan barang yang ada di atap sekolah. Saking cepatnya gerakan menghindarnya Kakashi, bahu kirinya terbentur dengan sangat keras hingga ia merasa kesakitan.
Melihat kesempatan bagus ini, Minato langsung melancarkan serangan kilatnya kembali ke arah Kakashi, walaupun ia masih merasa sakit, Kakashi menyempatkan dirinya menghindar serangan Minato dengan cara berguling dan lari menuju pintu keluar atap sekolah. (pintu keluar sama pintu masuk atap sekolah satu pintu ya hehe)
Saat berlari, Kakashi mengeluarkan Hpnya, dan menelpon Iruka, namun Iruka tidak mengangkatnya. "cih, Iruka… giliran dibutuhin gak ngangkat telpon."
Minato yang melihat Kakashi sudah terdesak mulai menggerakkan tongkatnta dan membaca mantra. "Ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan padaku?" tanyanya sambil mulai mengayun-ayun tongkatnya. Kakashi yang melihat Minato bersiap menyerangnya hanya bisa tersenyum pasrah sambil menghela nafas. "Kata-kata terakhirku? Kau memilih pilihan yang salah. Masih ada jalan lain menuju roma, tidak hanya dua pilihan saja."
"Haha, memangnya aku mau ke roma?" ucapnya yang tertawa mendengar ucapan Kakashi. "aku tidak bercanda," kata Kakashi. Ucapan Kakashi membuat Minato naik pitam, ia langsung mengarahkan tongkatnya ke Kakashi.
"Selamat tinggal…"
tunggu chapter berikutnya ya~ ^^ arigatouu
