VENUS

(Novel Remake by Phoebe)

HUN-HAN

Genderswicth

Happy Reading :) :)


"Haruskah aku pergi sekarang?"

"Kau tetap harus kembali ke Seoul karena masa bertugasmu sudah habis. Kenapa kau kelihatannya sedih Oh Sehun?

Bukankah naik jabatan dan kembali ke Seoul adalah keinginanmu yang selalu kau impikan?

Sekarang kau mendapatkannya lalu kenapa wajahmu seperti itu?"

Sehun menghela nafas. Naik jabatan dan hidup di Seoul adalah impiannya? Benar. Tapi bila itu semua harus membuatnya jauh dari Luhan, Sehun merasa impiannya akan kehilangan arti. Sekarang apa yang harus di lakukannya? Sehun memandangi kedua telapak tangannya dengan khidmat. Tangan ini yang menyentuh Luhan di lift waktu itu dan tangan itu juga yang merasakan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang sedang Luhan sembunyikan darinya. Sehun seharusnya curiga, tapi mengapa ia tidak bisa?. Tubuh Luhan tidak sama dengan tubuhnya yang biasa, Sehun memegangi kepalanya. Ia menekan tuts ponselnya dan itu sudah berkali-kali dilakukannya hari ini. Mencoba menelpon Luhan adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukannya sekarang karena Luhan sudah menghilang sama sekali dari pandangannya. Baekhyun juga selalu menghindar setiap kali ia bertanya. Dan Kris, sepupunya itu bahkan tidak lagi menyapanya karena kemarahan yang tidak dimengerti. Pintu ruangan kerja Sehun terbuka sehingga mata Sehun membesar saat melihat asistennya masuk ke ruangan tanpa permisi.

"Maaf mengganggu anda!"Katanya pelan. "Saya sudah berusaha mengetuk pintu tapi anda tidak mendengarkannya. Seseorang menitipkan ini dan dia bilang ini adalah sesuatu yang penting yang harus sampai di tangan anda saat ini juga!" Laki-laki itu kemudian meletakkan sebuah kotak berwarna merah hati dihadapan Sehun.

Sehun menghela nafas berat lalu membuka kotak itu dengan lesu. Sebuah ponsel dan cincin bermata ruby dalam sebuah kotak beludru berwarna merah. Semua ini hanya membuat ingatannya tertuju pada satu orang.

"Luhan?" Desisnya. Semangatnya tiba-tiba saja muncul, Oh Sehun menegakkan kepalanya dan menatap pegawainya dengan serius.

"Yang mengantarkannya wanita? Kapan dia datang?"

"Ya, Wanita itu baru saja pergi setelah memberikan benda itu!"

Tidak ada satupun yang bisa menghalangi kehendaknya sekarang. Yang Ingin Sehun lakukan adalah datang kepada Luhan secepatnya. Ia berlari sekuat tenaga berharap bisa menyusul Luhan dan tidak kehilangannya lagi. Sehun bahkan tidak bisa menunggu lift dan memilih untuk menuruni tangga darurat dengan terburu-buru. Kepalanya berkeliling mencari-cari, kakinya bergerak kesana kemari. Luhan menghilang dan ia benar-benar terlambat. Sehun berhenti bergerak dan merasa sangat bodoh karena sudah menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya selama ini. Sekarang apa yang harus dilakukannya?

"Kau mencariku?"

Sebuah suara datang dari arah belakang, Sehun berbalik dan memandangi seorang gadis yang sangat dikenalnya meskipun bukan seseorang yang sedang di harapkannya. Baekhyun.

"Kau?" Sehun terkejut. "Kau yang mengantarkan barang-barang itu kepadaku?"

"Kau berharap orang lain? Luhan?"

"Tentu saja. Kau sendiri tau aku hampir gila karena wanita itu menghilang begitu saja. Selama ini meskipun dia selalu bersikap dingin, setidaknya setiap hari aku bisa melihat wajahnya. Sekarang dia dimana? Kau masih menolak untuk memberi tahuku?"

"Oppa.." Baekhyun berdesis. "Kau sudah membuatku mengingkari janjiku kepadanya. Aku bertaruh dengan diriku sendiri, bila kau turun dan mengejarku aku akan mengatakan dimana dia sekarang. Tapi kau membuatku hampir putus asa karena aku harus menunggu lama disini!"

"Baiklah aku minta maaf, sekarang Luhan dimana?"

"Apa kau tidak ingin mendengar ceritaku dulu?"

"Nanti aku akan mendatangimu untuk itu. Aku harus segera pindah ke Seoul akhir minggu ini dan aku harus menemukannya sebelum waktu kepergianku tiba."

"Oppa...apakah kau benar-benar mengharapkannya untuk berada di sisimu? Kau mengharapkannya dengan hatimu atau…"

"Aku bahkan siap memberikan darahku kalau dia menginginkan itu!"

"Baiklah." Baekhyun menghela Nafas lega. "Aku tidak tau apa yang akan Luhan lakukan. Yang aku tau dia sekarang tinggal di sebuah apartement mewah di selatan. Dia pernah mengatakan kepadaku kalau ia akan berangkat ke Dallas dalam waktu dekat, tapi Luhan tidak pernah memberi tahuku kapan rencana kepindahannya. Seharusnya dia sudah pindah beberapa hari lalu bersama keluarga itu, tapi aku tidak mengerti kenapa dia membatalkannya."

"Apartement itu punya siapa?"

"Punya keluarga Dokter Mark. Tapi keluarga itu sudah pergi ke Dallas lebih dulu dan Luhan menempatinya beberapa hari belakangan ini."

"Baiklah terimakasih!"

Lagi-lagi Sehun harus melakukan hal bodoh ini. Ia datang ke apartement dan menaiki lift yang sama dengan lift yang menjadi tempatnya melepas kerinduan bersama Luhan beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang bukan saatnya untuk mengenang apa-apa, dengan gelisah kaki-kaki Sehun mengetuk lantai lift dengan irama yang tidak teratur sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam lift bersamanya memandanginya berkali-kali. Ini hal yang bodoh tapi Sehun tidak akan perduli. Beberapa hari ini Luhan berada di apartemen ini? Lantai delapan. Ya, Saat itu Luhan keluar di lantai delapan karena ingin menemui seseorang. Apakah itu hari kepindaannya ke tempat ini? Sehun tidak yakin, ia bahkan masih bisa melihat Luhan yang membuang wajahnya saat mereka bertemu pandang setelah Sehun pulang kerja hari itu, Tapi pada pagi hari ia sadar kalau Luhan sudah menghilang sama sekali. Bunyi dentingan halus membuat Sehun melangkahkan kaki selebar mungkin keluar dari lift dan berusaha mendekati pintu yang Baekhyun katakan kepadanya. Tapi tidak ada seorangpun yang menjawab. Sangat hening.

.

.

.

.

Sehun benar-benar linglung. Ia bahkan tidak semangat dengan kepindahannya yang tinggal dua hari lagi. Luhan tidak ditemukannya, Baekhyun pun sudah membantunya dengan segala cara untuk menghubungi keluarga dokter itu dan mereka mengatakan kalau Luhan tidak datang ke Dallas, ia membatalkan rencananya. Sekarang bukan hanya dirinya yang mencari, tapi juga Baekhyun dan keluarganya. Apa yang harus Sehun lakukan? Dia selalu bertanya seperti itu kepada dirinya sendiri dan dia sama sekali tidak menemukan jawaban lain selain mencari. Tapi kemana lagi ia harus mencari? Sehun tersadar dari lamunannya saat kepalanya menabrak sesuatu. Pintu flat Kris. Ia bahkan tidak berencana untuk datang kemari tapi langkah-langkah kakinya bertindak sendiri. Apakah Kris tau sesuatu? Dengan lemah Sehun menekan bel dan beberapa saat kemudian Kris keluar dari flatnya. Wajahnya terlihat sangat lelah seperti biasanya. Ia memandang Sehun dengan tak bersemangat.

"Kau masih marah padaku?" Tanya Sehun.

Kris menghela nafas. "Aku tidak marah!"

"Lalu kenapa kau tidak menjawab telponku, tidak membalas sapaanku, bahkan tidak mau memandangku!"

"Masuklah dulu!" Kris membuka pintu flatnya lebar-lebar lalu meninggalkan Sehun untuk masuk kedalam.

Sehun mengikuti saran Kris. Ia mengikuti Kris dan duduk di ruang tengah dimana semua pekerjaanya menumpuk. Sudah sangat lama Sehun tidak melihat ini, semenjak ia pindah ke flatnya yang sekarang.

"Untuk apa kemari?" Suara Kris kembali terdengar meskipun ia terlihat sangat sibuk dengan kertas-kertas yang berada di atas meja. Kris bahkan duduk di lantai dan tidak menyentuh sofa.

"Aku kehilangan Venus!"

"Lalu kau ingin bertanya padaku? Kami tidak pernah bertemu lagi semenjak ia mengundurkan diri dari kantor. Bodohnya aku tidak tau kalau hari itu dia sudah mengundurkan diri dan masih menunggu kedatangannya setiap hari. Aku juga sangat kehilangan!"

Kening Sehun berkerut. "Jangan-jangan kau marah kepadaku karena…"

"Karena Xi Luhan menghilang? Yang benar saja!" Potong Kent. "Aku sudah bilang kalau aku tidak marah. Suasana hatiku hanya sedang buruk. Kau sudah mencarinya kemana?"

"Ke semua tempat, kerumah Ibunya, kakak-kakaknya, Baekhyun juga mengatakan tempat persembunyiannya tapi begitu aku sampai disana dia sama sekali tidak ada. Resepsionis bilang Luhan sudah keluar sehari sebelumnya. Aku terlambat!"

Sebuah senyum sinis tersungging di sudut bibir Kris.

"Kau masih belum terlambat sama sekali. Kau hanya tidak beruntung. Sedangkan aku…" Kris berhenti berbicara juga mengehentikan gerakan tangannya lalu menghempas bolpoint yang tadi dipegangnya. "Katakan kepadaku, kau tidak sedang main-main kan? Kau masih berfikir untuk mempermainkannya?"

Sehun menatap Kris heran. Omongan Kris hari ini sangat tidak menentu. Tidak seperti Kris yang biasa, Kris yang dikenalnya. Sehun seperti sedang berbicara dengan orang lain yang sama sekali asing baginya.

"Aku akan merampasnya darimu kalau kau masih berfikir untuk mempermainkannya!" Lanjut Kris.

"Merampas? Apa yang sedang kau katakan ini? Tunggu dulu! Jangan bilang kalau kau…"

Kris mengangguk. "Seharusnya aku yang datang ke perjodohan itu. Tapi aku tidak melakukannya karena ku fikir perasaanku ini hanya sementara. Aku tidak mungkin menikah dengan wanita seperti Xi Luhan yang kaku dan membosankan. Tapi demi Tuhan aku sangat menyesal terlebih saat aku tau kalau kau sudah menyebabkan banyak masalah untuknya dan dia menerimanya dengan bahagia. Aku tidak tau kalau dia bisa sebodoh itu karenamu!"

Sehun lagi-lagi mendengar Kris mendesah. "Sebaiknya kau memang tidak datang ke perjodohan saat itu karena kalau itu sampai terjadi, kau akan menyesali kehidupan rumah tangga yang sangat membosankan! Hanya aku yang bisa membuat kekakuan gadis itu mencair. Hanya aku yang bisa melakukan hal-hal yang membuatnya kehilangan kekejamannya. Kau tidak akan mampu menakhlukannya seperti aku menaklukkannya!"

Kris memandang Sehun lama. Menaklukkannya? Dengan berbagai macam teror seksual itu? Ya, hanya Sehun yang bisa melakukannya, karena jika Kris melakukan itu kepada Luhan, gadis itu pasti sudah membunuhnya. Hanya Sehun yang tidak bisa ditolak, kenapa hanya Sehun? Kris tersenyum pahit.

"Luhan pernah mengatakan kepadaku kalau dia sedang mencari tempat yang bisa menghilangkan stress, Botany Bay atau Costwold. Mungkin dia disana sekarang."

.

.

.

.

"Aku tidak menyangka kalau kau bisa seperti ini. Sekarang kau jadi korban Oh Sehun sepertiku padahal selama ini kau berusaha untuk terus memeranginya!" Irene menggoda Luhan sambil menahan tawa dari udara.

Entah mengapa Luhan sangat ingin menelpon Irene dan menceritakan semua ini. Dan sekarang Irene sedang mentertawakannya? Luhan jadi ingin segera menutup telponnya segera.

"Sekarang bagaimana kandungan mu?" Irene melanjutkan ucapannya. "Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama sepertiku?"

"Mengugurkannya? Kau fikir aku tidak pernah berusaha untuk itu?" Luhan mengehela Nafas. "Aku tidak mampu. Aku tidak bisa melakukannya kepada darah dagingku!"

"Meskipun dia adalah anak dari orang yang kau benci?"

Benci? Aku sangat mencintainya! Luhan membatin.

"Lalu kau? Bukankah dulu kau sangat mencintainya? Kenapa kau bisa melakukan itu padahal saat itu dia bilang akan bertanggung jawab kan?"

"Aku hanya tidak ingin kehilangan masa bahagia ku karena kehadiran seorang anak dan harus menikah di usia muda!"

Sekarang Luhan yang hampir tertawa. Saat itu Irene dan Sehun menjalani tahun terakhir mereka di kampus, Irene pada saat itu hanya lebih muda beberapa tahun dari usia Luhan sekarang. Kehilangan usia muda karena anak dan pernikahan? Luhan bahkan tidak pernah berfikir akan kehilangan semuanya meskipun pada kenyataannya sekarang ia sudah kehilangan semuanya, pekerjaan, keluarga, teman, bahkan juga Sehun. Ia hanya befikir kalau anak yang dikandungnya akan menderita bila terus hidup karena itu Luhan ingin menyingkirkannya.

Ternyata cintamu tidak sebesar cintaku padanya!

"Luhan, kau masih disana?"

Luhan mengerjapkan matanya. Ia kembali ke rumah yang disewanya setidaknya untuk setahun kedepan. Ia sudah meninggalkan dunia khayalnya dan kembali ke dunia nyata.

"Ya, Aku masih mendengarmu. Bisa kita akhiri pembicaraan hari ini sekarang? Aku sangat lelah dan harus beristirahat."

"Baiklah, sampai jumpa kalau begitu!"

"Ya, kita akan berjumpa kalau aku menyusulmu ke Korea!"

Irene tertawa dan membiarkan Luhan menutup telponnya. Luhan berdiri dari tempat duduknya dengan hati-hati sambil memegaingi perutnya. Beberapa hari lagi kandungannya akan berusia tiga bulan dan ia harus berhati-hati karena walau bagaimanapun menjalani hidup sendirian dengan kandungan yang semakin membesar bukanlah hal yang mudah. Tapi ia harus melakukannya sebaik mungkin karena ia tidak bisa merepotkan siapa-siapa. Ia bahkan membatalkan rencananya ke Dallas karena Luhan tidak ingin membebani banyak orang.

Luhan mengambil botol susu sapi segar dari dalam kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelas, ia membawa gelas itu ke kamarnya dan duduk di ranjang dengan hati-hati. Sebelah tangannya meraih buku tabungan yang ada di dekatnya dan memperhatikannya sambil meneguk susunya beberapa kali. Ia sudah menghabiskan seperempat tabungannya untuk sewa rumah dan membeli beberapa keperluan pribadi. Dan untuk kehidupannya setahun kedepan di tambah biaya melahirkan, Luhan akan kehilangan banyak dari uang yang disimpannya dengan cermat. Uang itu sebenarnya sudah dikumpulkannya untuk melanjutkan kuliah ke Belanda dan sekarang ia harus merelakannya, Luhan bahkan sudah tidak bisa mengingat Belanda lagi, yang bisa diingatnya hanya bagaimana agar kandungannya bisa tetap sehat dan dia tetap punya uang yang cukup sampai anaknya lahir dan ia cukup kuat untuk mencari pekerjaan lagi.

Musim semi mungkin sudah menumbuhkan banyak tunas baru, Luhan menghabiskan susu di dalam gelasnya dan kembali berdiri dari ranjang. Ia mengambil sebuah cardigan putih untuk melengkapi gaun bunga-bunga berwarna baby pink yang di kenakannya. Sore ini Luhan akan keluar rumah lagi, ia akan berjalan-jalan untuk menghirup udara segar dan mudah-mudahan ia bisa berkenalan dengan beberapa penduduk Costwold yang menjadi tetangganya. Sepatu ballet berwarna putih dengan hak datar menjadi pilihannya untuk membungkus kakinya menyusuri jalanan nanti. Dengan semangat Luhan membuka pintu rumanya, menguncinya rapat lalu berjalan perlahan. Langkah demi langkah dilakukannya dengan sangat hati-hati dan beberapa kali ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dari mulut. Udara musim semi benar-benar sangat menyenangkan, dan ia sangat suka pada musim semi.

Seekor kupu-kupu berwarna kuning dengan garis-garis hitam mengelilingi Luhan dengan ceria, gadis itu mengulurkan tangannya dan kupu-kupu itu hinggap disana. Sebuah senyum mengembang di wajah Luhan, tapi tidak lama. Senyum itu segera berganti dengan ekspresi terkejut saat ia menyadari kalau seseorang sudah menarik tangannya. Oh Sehun memandang Luhan dengan ekspresi yang tidak bisa dimengerti.

"Sedang apa kau disini?" Tanya Luhan.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Sedang apa kau disini? Pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa, menitipkan cincin pertunangan pada Baekhyun dan akan pergi ke Dallas?" Sebelah alis Sehun terangkat. "Kau mau memutuskan pertunangan secara sepihak? Aku tidak akan menerimanya!"

"Apa kau datang kemari untuk mengganggu liburan ku?"

"Liburan?" Suara Sehun terdengar lebih Intents. "Kau sedang melarikan diri sayang! Dan karena aksi bodohmu ini aku harus mencarimu seperti orang gila, mengelilingi Botany Bay dan Costwold tanpa arah. Dan untungnya hari ini kau keluar dari rumah dan aku bisa menemukanmu setelah berkeliling di tempat ini berkali-kali. Aku bahkan menunda kepindahanku ke Seoul!"

Luhan mematung. Sehun akan pindah ke Seoul? Entah mengapa ia merasa sangat sedih, sangat sedih dan Luhan hampir kehilangan kendali untuk menahan air matanya jika saja Sehun tidak kembali menarik tangannya.

"Ikut aku!"

Luhan berusaha berontak dan melepaskan tangannya dari genggaman Sehun, tapi Sehun menolak. Ia bahkan melakukan hal yang lebih untuk menunjukkan betapa berkuasanya dia atas diri Luhan. Sehun memanggul tubuh Luhan seperti yang pernah dilakukannya dulu, memaksa Luhan masuk ke mobil dengan cara yang sama dan pergi meninggalkan tempat itu. Luhan memakinya bekali-kali tapi Sehun tidak mengatakan apa-apa sampai akhirnya cacian Luhan berhenti saat ia melihat sebuah menara gereja menjulang tinggi dihadapan mereka. Sehun membukakan pintu mobil dan menjulurkan tangannya, Luhan menyambutnya dengan keadaan bingung.

"Untuk apa kita kesini?" Desis Luhan.

"Sekarang juga, Kau tidak boleh menolak. Karena kalau kau menolak aku akan membunuhmu lalu bunuh diri." Sehun menggenggam tangan Luhan semakin erat.

"Nona Xi Luhan, Menikahlah denganku atau kau akan mati!"

.

.

.

.

Luhan menyentuh perutnya dengan senyum tak menyangka. Malam ini, ia dan Oh Sehun berada di ranjang yang sama dan laki-laki itu sedang tertidur pulas karena lelah setelah melampiaskan segala kerinduan yang tak tertahankan. Wajahnya dan wajah Sehun begitu dekat, Sehun terlihat sangat damai dan tentram. Semuanya begitu mendadak, begitu gila dan sangat tidak disangka-sangka. Ada pernikahan sore ini dan itu adalah pernikahannya. Semua orang ada disana, keluarganya, keluarga Sehun, Baekhyun, Dokter Mark dan Elise, Kris, bahkan Kyungsoo dan Jongin, Sena kakak perempuan Sehun juga datang bersama suaminya. Semuanya berkumpul untuknya dan Sehun sudah mempersiapkannya.

Ayahmu ada disini dan kita akan bahagia bersama!

Bisik Luhan sambil memandangi perutnya yang terbungkus selimut. Luhan bangkit dan duduk di ranjangnya sambil memandangi kamar ini, kamar yang selalu di tempatinya seorang diri semenjak ia pindah ke Costwold. Seandainya keluarganya ada disini juga, mungkin kebahagiaannya akan bertambah besar. Luhan tidak puas hanya bertemu dengan mereka dalam waktu yang singkat tapi setelah pernikahan berakhir semuanya kembali ke London dengan kendaraan mereka masing-masing.

"Kau belum tidur?"

Sehun bertanya sambil membelai rambut istrinya yang lembut seperti sutra. Ia juga bangkit lalu duduk memandangi Luhan yang sekarang sudah menjadi miliknya. Sebuah senyum kembali tergurat saat melihat tubuh Luhan yang selama ini sangat dikagumi dan sangat dirindukan. Sehun menarik selimut yang membungkus Luhan agar bisa melihat semuanya dengan lebih jelas.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Luhan sengit. Tapi ia sama sekali tidak berontak atas tindakan Sehun kali ini.

"Memangnya kenapa? Bukannya aku sudah melihatnya berkali-kali, sudah menyentuhnya berkali-kali."

Luhan menekuk kakinya dan memeluk lututnya sehingga payudaranya tersembunyi.

"Kau tidak sedang merayuku untuk melakukannya lagi kan?"

"Lalu untuk apa lagi kau bangun?"

"Aku memikirkan semua orang. Kenapa mereka pulang begitu saja setelah pernikahan selesai?"

"Karena mereka juga punya pesta sendiri di London."

Sehun mendekat kepada Luhan lalu memeluknya erat-erat, gadis itu membalikkan tubuhnya menerima pelukan suaminya dengan tangan terbuka, ia membiarkan kepalanya berbaring di dada Sehun dan mulai mendesah saat Sehun kembali menyentuh tubuhnya.

"Kapan kau akan mengatakan kepadaku?" Tanya Sehun.

Luhan menengadah menatap wajah Sehun heran. "Mengatakan tentang apa?"

"Tentang kehamilanmu!"

"Kau…" Mata Luhan terbelalak lalu mengendorkan pelukannya.

"Kau tau darimana? Baekhyun memberitaumu?"

"Baekhyun tidak pernah memberi tau ku apa-apa. Tidak ada seorangpun yang memberi tau tentang itu kepadaku!"

"Lalu dari mana kau tau?"

"Kau ingat saat kita bermesraan di dalam lift? Tubuhmu yang memberitauku. Kau sendiri tau betapa aku sangat memuja setiap jengkal tubuhmu jadi aku tau kalau dia berubah. Semula ku kira kau hamil dengan orang lain. Tapi mana mungkin, aku selalu mengawasimu dan kau tidak pernah berlama-lama dengan laki-laki manapun!"

Luhan mengerutkan keningnya. "Kau mengawasiku?"

"Tentu saja. Kau bersikap acuh terhadapku. Apalagi yang bisa kulakukan selain mengawasimu? Kau ke rumah sakit, waktu itu. Ingat? Saat itu aku mengikutimu dan aku bertanya-tanya kenapa kau datang ke dokter kandungan. Kau sedang hamil? Tapi kau bilang padaku kalau tidak terjadi apa-apa setelah kita menghabiskan malam bersama saat itu. Waktu di rumah sakit kau mengatakan kalau kau baru saja mengantarkan barang untuk Baekhyun, maka kecurigaanku terhadap kehamilanmu hilang. Tapi di lift waktu itu kecurigaan itu timbul lagi dan malam ini aku kembali memastikannya. Kenapa kau menyembunyikannya?"

"Karena kau tidak menginginkanku karena hatimu menginginkanku, kau menginginkanku karena tubuhmu yang…"

Sisa ucapan Luhan dirampas oleh Sehun lewat sebuah ciuman mesra. Meskipun hanya sebentar, ciuman itu cukup untuk membuat Luhan terkejut karena ia merasakan sesuatu yang berbeda disana.

"Sudah cukup menggambarkan perasaanku, tidak?" Sehun memberikan senyum menggodanya. "Aku menginginkanmu bukan hanya dengan tubuh. Tapi juga dengan hati, setiap sendi, bahkan setiap tetes darahku, semuanya memohon untuk selalu bersamamu. Aku mencintaimu dengan cara yang berbeda, dengan gairah. Tapi aku bersumpah kalau itu bukanlah gairah yang sama dengan yang selalu kurasakan dengan wanita manapun sebelumnya. Cinta dengan gairah itu normal, kan?"

"Kau sudah membuatku menjadi tak normal karena gairahmu itu!"

"Aku juga sama. Aku bahkan tidak bisa memandang wanita lain semenjak kau membalas ciumanku malam itu. Gairahku mati dan hanya menyala untukmu! Sekarang diamlah, kau hanya boleh bersuara bila kau mendesah!"

Luhan menelan ludah, Sehun memandangnya dengan sangat dalam, lalu kembali menciumnya. Ia merasakan sensasi yang luar biasa saat Sehun menciumi sekujur tubuhnya dari kepala sampai kaki tanpa terlewatkan sedikitpun. Dan malam itu benar-benar tidak ada suara lain yang keluar dari mulutnya kecuali desahan dan erangan. Kehamilannya bahkan membuat tubuhnya lebih sensitif sehingga dalam waktu singkat keduanya sudah mencapai klimaks yang membanggakan. Tapi Sehun tidak berhenti begitu saja, tangannya masih terus menjelajahi tubuh Venus-nya dan menelusup ke bagian sensitif Luhan yang basah dan panas. Luhan benar-benar merasa hampir gila karena dengan jari Sehun ia berhasil mencapai orgasme berkali-kali. Nafasnya nyaris melayang terbang saat mereka kembali menyatu. Ia benar-benar tersengal-sengal untuk semuanya.

"Kau sudah lelah?" Tanya Sehun saat semuanya sudah berhasil membuat tubuhnya di basahi keringat. Luhan berbaring membelakanginya dan ia memeluknya.

"Kau tidak sedang berencana memberiku obat perangsang lagi kan?"

Sehun tertawa. "Tidak, tentu saja aku tidak akan menghabisimu malam ini juga seperti yang kulakukan waktu itu. Lagi pula kita masih punya banyak waktu. Aku akan tinggal disini bersamamu sampai sewa rumah ini habis!"

"Lalu pekerjaanmu?"

"Aku menolak pekerjaan di Seoul. Aku akan tetap disini bersamamu!"

Luhan berbalik menghadap Sehun. "Kau berhenti jadi Diplomat? Kalau begitu sekarang kau pengangguran? Aku menyesal menikah denganmu!"

Lagi-lagi Sehun tertawa. "Tentu saja tidak. Aku tidak akan menghancurkan masa depanku hanya karena seorang wanita. Kau akan ikut denganku ke Seoul tapi seminggu ini, aku mau beristirahat disini. Seharusnya tempat ini bisa menghilangkan stress."

Luhan berdesis. "Sudah ku duga. Lalu aku akan hidup sebagai Ibu rumah tangga disana? Aku kehilangan reputasiku sebagai pengacara muda yang hebat karena dirimu."

"Kau mendapatkan reputasi sebagai pengacara muda yang hebat juga karena aku! Jadi jangan sombong!" Sehun berkata dalam nada sinis yang di buat-buat. "Kita akan mulai kehidupan yang baru di Seoul, aku tidak akan membiarkanmu di serang wanita-wanita yang tergila-gila padaku karena sudah membuatku menolak mereka mentah-mentah bila kita masih tinggal di London. Aku tidak menyangka akan datang hari yang seperti ini dalam hidupku, hari dimana aku merasa tertarik hanya pada satu orang dan orang itu akan segera berubah jadi gemuk karena sedang mengandung anakku!"

Kali ini Luhan yang tertawa. Ia kembali menyentuh perutnya dan Sehun juga melakukan hal yang sama. Janin itu seolah-olah bergerak karena merasakan kegembiraan yang sama. Luhan tau itu tidak mungkin, tapi ia bersumpah kalau dirinya sering merasakannya. Janinnnya bergerak bahkan di saat pertama kali Luhan menyentuh perutnya, saat Luhan mengetahui kehamilannya yang kini menjadi kebanggaannya.

.

.

.

.

.

.

Epilog

Cruel Girl in the Past

Universitas ini sangat luas, Luhan meragukan kalau dirinya akan menemukan Oh Sehun disini. Baru turun dari sepeda motor Henry saja, ia harus shock melihat mahasiswa Korea yang beragam rupa. Matanya memandang berkeliling mencari Oh Sehun. Laki-laki yang mengaduk-aduk hati Luhan selama satu bulan terakhir. Sejak pertama kali Luhan melihatnya mengantar Irene yang merupakan tetangga seberang rumah, dia sudah menarik. Oh Sehun dan semua tentangnya pun perlahan-lahan merasuki hari-hari Luhan tanpa disadarinya. Di mulai sejak Luhan bertanya kepada Irene siapa yang mengantarnya pulang hari itu, Luhan sudah menjadi secret admired Oh Sehun dan hanya bisa memandanginya lewat tirai kamarnya setiap kali laki-laki itu datang menjemput dan mengantar Irene pulang.

Setiap kali Irene bercerita tentang Oh Sehun, Luhan merasa bahwa dirinyalah yang mengalaminya, dialah yang makan malam dengan Sehun, pergi ke karaoke, berpelukan di halte, bergandengan tangaan di sepanjang Myeongdong. Meskipun semuanya adalah pengalaman Irene, Luhan merasa kalau kenangan-kenangan itu juga miliknya. Hari demi hari benar-benar membuat Luhan semakin meledak-ledak karena perasaan asing itu masuk pertama kali kedalam hatinya yang masih remaja. Sehun dan ketampanannya yang luar biasa, senyumnya yang menggoda, kulitnya yang putih bersih bersinar bagaikan berlian sudah membuatnya tergila-gila. Tapi kemarin sore Luhan harus di rundung kecewa mendengar kabar tentang Irene yang dilarikan ke rumah sakit karena satu hal yang misterius.

Keluarganya mengatakan Irene terkena radang lambung. Tapi Irene mengatakan kalau dia sedang sangat kecewa karena Sehun sudah mencampakkannya dan pergi dengan wanita lain sedangkan Irene sekarang sedang dalam keadaan hamil. Semuanya membuat Luhan marah, dan kemarahan itu tidak bisa di sembunyikan lagi. Oh Sehun sudah membuatnya sangat kecewa.

Mata Luhan bisa menangkapnya. Oh Sehun ada disana duduk disebuah tangga depan gedung fakultasnya dengan wajah kesal. Luhan hampir luluh dan membatalkan langkahnya, tapi dia harus kuat, ia harus protes dengan semua kelakuan Sehun pada Irene yang sudah seperti kakaknya sendiri.

"Kau jangan lama-lama. Kita berangkat ke London sore ini. Aku menunggumu disini!" Henry membuka helmnya dan meletakkannya dipangkuan.

Luhan hanya mengangguk mengerti. Ia kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Oh Sehun, mendekat sesegera mungkin dan menyatakan perasaannya, perasaan kecewa. Dua orang temannya mendekat dan berbicara dengan Sehun sehingga membuat Luhan terpaku beberapa waktu. Tapi ia tidak boleh begini, Luhan melangkah cepat dan ingin mengeluarkan caci maki untuk Sehun tapi tak satupun kata-kata yang berhasil keluar, yang Luhan tau tangannya melayang begitu saja menampar Sehun dan ia cukup shock dengan kelakukannya sendiri. Sehun bereaksi cepat dengan memandangi Luhan dengan tatapan aneh sehingga membuat Luhan mengepalkan tangannya, ia merasa bersalah.

"Hei Nona! Kau salah orang?" Sehun bertanya kepadanya.

Luhan menelan ludah. Apakah ia ketakutan? Dia tidak akan membiarkan Sehun tau kalau dia ketakutan

"Oh Sehun! Itu kau kan?"

Mata Sehun membesar. Dia pasti merasa heran karena seorang gadis yang tidak di kenalnya menampar wajahnya.

"Mahasiswa Ilmu Politik semester Sembilan. Dua puluh tujuh pacar dalam setengah tahun? Mengencani hampir dua puluh lima perempuan di Yonsei termasuk mahasiswa dan dosen. Kau fikir kau ini siapa?" Lanjut Luhan.

"Apa maksudmu, dan kenapa kau menamparku?"

"Hei tuan! Kau baru saja memutuskan hubungan dengan Bae Irene kemarin sore, dan semalam kau sudah tidur dengan perempuan lain. Dimana tanggung jawabmu? Irene sedang mengandung anakmu dan sekarang dia sekarat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri!"

Sehun tertawa sinis membuat Luhan semakin kesal kepadanya. Dia sangat kecewa, benar-benar kecewa kepada sikap Sehun. Selanjutnya, Luhan tidak mau mendengarkan ucapan Sehun bila ia ingin membela diri. Oh Sehun benar-benar sudah membuatnya kecewa.

"Lalu kau mau aku melakukan apa? Aku harus menemuinya dan mengatakan kalau aku akan bertanggung jawab?"

"Yang perlu kau lakukan adalah pergi ke laut dan tenggelamkan dirimu. Laki-laki sepertimu lebih pantas mati!" Luhan mendengus keras.

Kata-katanya terakhirnya sudah disampaikan dengan nada yang sangat tinggi, suaranya bergetar dan dia segera berbalik agar Sehun tidak melihat tangisannya. Luhan melangkah cepat dan hanya bisa mendengar teriakan Sehun kepadanya.

"Hei Nona! Kau ingin aku mati? Kau yang nantinya akan mati jika tidak bisa bersamaku!"

Luhan berhenti melangkah lalu memandang Sehun dengan pandangan benci.

"Kau yang akan mati bila kita bertemu lagi!" Ia mengeluarkan kata-kata itu lagi-lagi tanpa sadar, seharusnya ia pergi melarikan diri setelah mengatakan itu. Tapi Luhan membiarkan tubuhnya menunggu Sehun untuk mendekat dan menatapnya lebih dalam.

"Apa hubunganmu dengan Irene?"

"Kau tidak perlu tau!"

"Lalu kenapa demi Irene kau sampai menamparku, sampai mengeluarkan air mata yang seperti ini? Aku tidak bisa melihat air mata. Aku akan menemui Irene dan bertanggung jawab. Tapi Aku bersumpah semua ini karenamu dan kau harus membayarnya suatu saat nanti!"

Luhan menyeka air matanya sebisa mungkin lalu memandang Sehun dengan tatapan yang menantang.

"Aku menangis bukan demi Irene, tapi demi diriku sendiri karena aku kecewa kepadamu."

"Kenapa kau kecewa kepadaku?"

Karena aku menyukaimu!

Luhan ingin meneriakkan kata-kata itu. Tapi dia tidak akan mengatakan apa-apa sama sekali. Ia membuang muka dan meninggalkan Sehun tanpa menoleh lagi menuju Henry. Luhan tau Henry memandangnya dengan pandangan heran. Adiknya ini mungkin sangat ingin bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi, tapi Henry tidak melakukannya. Ia lebih memilih untuk kembali menggunakan helm dan menjauh dari sana dengan Luhan yang berada diboncengannya.

.

.

Sehun masih gelisah, gadis itu punya tatapan yang sangat berbeda dan sudah membakar hatinya. Sekarang ia berada di rumah sakit dan beberapa langkah lagi Irene akan berada dalam kawasan pandangannya. Sehun menarik nafas dalam-dalam berharap gadis yang menamparnya kemarin pagi ada disana dan melihatnya menepati janji. Tapi sanyangnya tidak ada, Irene benar-benar sendiri dan memandangnya dengan tatapan heran. Tidak ada pilihan lain selain mendekat.

"Kau baik-baik saja?" Sehun mecoba mengeluarkan suaranya senormal mungkin.

"Ya, Kenapa kau bisa ada disini?"

"Seorang gadis muda datang ke kampus dan memberiku sebuah tamparan keras. Dia memintaku untuk pergi ke laut dan bunuh diri karena sudah membuatmu begini!"

Irene tertawa kecil. "Luhan?"

"Dia siapa? Saudaramu? Kau punya saudara orang china?"

"Dia tetanggaku yang tinggal di depan rumah. Kurasa anak itu tertarik kepadamu karena dia adalah orang yang paling antusias mendengar ceritaku tentangmu."

"Termasuk tentang cerita kalau kau sedang mengandung anakku? Haruskah aku bertanggung jawab?"

"Kau menanyakan hal itu? Seharusnya kau mengatakannya tanpa nada tanya!"

Sehun mendengus. "Aku kira kau sangat menderita, tapi masih bisa mengatakan hal-hal seperti ini. Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku lebih dulu? Kenapa anak itu tau lebih dulu kalau kau…"

"Sudahlah!" Irene memotong ucapannya. "aku tidak berharap kau akan bertanggung jawab. Aku juga sudah mengatakan itu kepada Luhan. Tapi dia sama sekali tidak bisa terima."

Sehun mengangkat sebelah alisnya. "Tidak berharap aku bertanggung jawab?"

"Aku sudah mengugurkannya. Jauh hari sebelum kita putus aku sudah menyingkirkan hal itu. Masa depanku masih sangat cemerlang dan aku bukanlah orang yang suka untuk mengorbankan masa depan karena kehamilan. Jadi kau tidak perlu mempertanggung jawabkan apa-apakan? Karena kewajibanmu sudah sirna, Aku sudah menghilangkannya dari sejarah hidupku!"

"Apakah anak itu tau kalau kau sudah menggugurkan kandunganmu?"

Irene menggeleng. "Belum. Aku tidak sempat mengatakannya karena ia segera pergi sebelum ceritaku selesai dia menyangka kalau aku mencoba bunuh diri, tapi semua ini murni karena kecelakaan. Aku ingin mengatakan kepadanya, sungguh! Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang."

"Kalau begitu biar aku yang mengatakannya!" Sehun hendak melangkahkan kakinya tapi Irene memanggilnya.

"Sehun, Kenapa kau perduli pada pendapatnya? Kau tidak mengenalnya kan?"

Sehun mematung, ia tidak bisa menjawab apa-apa tentang itu, tentang kenapa ia perduli dengan pendapat anak itu. Kenapa ia bersimpati saat Luhan menangis sedangkan kepada wanita lain tidak?

"Kau tidak akan menemukannya dimana-mana!" lanjut Irene.

"Kecuali bila kau pergi ke London!"

"London?" Sehun memiringkan kepalanya.

Irene mengangguk, "Ya, Xi Luhan sudah kembali ke London bersama keluarganya!"