Hi, everyone!

Sebenarnya ini sudah mau post kemarin malam, eh ternyata ANne nggak bisa. Nenek Anne meninggal sorenya jadi sampai malam Anne nggak ada waktu untuk lanjut nulis. Jadinya baru sekarang.
Mohon doanya ya buat nenek Anne dari readers semua! :")

Kali ini, Anne siap buat lanjut chapter baru yang nggak begitu panjang, soalnya kalau Anne lanjutkan malah kepanjangan. Pengennya chapter selanjutnya nanti biar bisa satu chapter full bahas konflik yang lebih berpusat. So, maaf kalau kependekan.

Anne balas review dulu, ya!

Ulilil Olala : yeee baver.. baver! Baper deg hehehe.. di chapter sembilan akhir kan sudah aku kasih tahu kalau aku udah ikut seleksi Ilvermorny dan masuk Wampus. Kita beda, ya! :)

BlaZe Velvet : hehehe pendek, ya, maaf :)

ninismsafitri : baru nonton the choice ya.. bagus ya, filmnya juga bikin baper, ya, hehehe.. :)

Jelena malfoy : wow,, langsung borongan, ya? Hahaha.. aduh thanks dan sorry udah bikin baper, hehehe.. thanks, ya! :0

AMAZING : Hem.. aku aja kecewa sama Harry :(

alicia keynes : aduhhh.. nggak bisa komen lah, *lirik Lily* :)

NrHikmah20 : baverrrr! :P

Happy reading!


Pada intinya, kehidupan sehari-hari Harry kini berubah 180 derajat setelah Lily tiba-tiba mengalami kebutaan. Setiap pagi, Harry harus membawa Lily ikut serta ke perpustakaan karena tak ada tempat penitipan anak yang mau menampung kondisi seperti Lily. Ditambah lagi, ada perubahan emosi pada diri Lily sejak semua yang ia lihat hanya gelap.

"Daddy jangan pergi!" Lily semakin tak ingin lepas dari ayahnya. Lily selalu takut.

Seperti pagi ini, Harry terus memantau Lily di salah satu bangku baca perpustakaan sementara ia mengerjakan pekerjaannya mengumpulkan buku-buku bacaan dan menyusunnya kembali di rak-rak sesuai kategori. Troli ditangan terus didorong sambil terus melirik singkat ke sang putri. Sampai akhirnya konsentrasi Harry terpecah dan tak sengaja menabrakkan trolinya.

"Aaaghh!"

Suara jeritan pelan dari seorang anak lelaki begitu mengejutkan Harry. Bocah laki-laki berambut hitam tebal tersungkur ke atas lantai perpustakan sambil mengerang memegang lutut kaki kanannya. Dengan ketakutan Harry bergegas menghampiri anak laki-laki itu untuk menolongnya berdiri.

Lutut kaki anak itu mengeluarkan darah. Sobek di kulitnya kecil, tapi darah entah mengapa terus merembes keluar hingga membasahi betisnya. "Mummy—" erangnya sambil menangis kesakitan. Harry semakin merasa bersalah. Tanpa pikir panjang, ia segera menggendong anak laki-laki itu menepi dan mendudukkan di dekat rak paling ujung.

"Sebentar, ya. Tenang," bisik Harry. Ia kembali memeriksa luka di kaki si anak. Memang tidak lebar luka yang tampak dari luar tapi cukup dalam. "Mungkin aku bisa manipulasi ingatannya setelah ini," bisiknya. Beruntung tidak banyak orang di dekat Harry sehingga ia dapat segera mengobati dengan cara sihirnya. Harry tak menggunakan tongkatnya, ia cukup mendekatkan kedua telapak tangannya ke dekat luka dan merapalkan mantra pelan. Mantera pengobatan sederhana itu ia pelajari dulu dari Ginny untuk menghentikan darah yang keluar di luka-luka kecil.

Hanya beberapa detik saja, luka itu tertutup dan rasa nyeri berangsur menghilang. Anak laki-laki di hadapan Harry menghentikan isakannya. Ia lantas menatap Harry sambil berkata, "seperti yang di lakukan Mummy."

"Mummy? Mummymu juga penyih— kau—"

Tenggorokan Harry tercekat. Ia baru menyadari anak laki-laki yang baru ia sembuhkan tidak lain tidak bukan adalah anak laki-laki yang sama ketika ia melihatnya di rumahnya waktu itu. Ketika anak laki-laki berlari ke arah Ginny sambil memanggil Mummy dan menganggap Harry sebagai ayahnya. Seluruh tubuh Harry meremang tatkala sepasang mata hijau lain membalas sorot matanya. Anak laki-laki itu pun turut terpaku dengan seseorang yang mirip dengannya meskipun jauh lebih besar.

"Thank you—Uncle—"

"Albus!"

Tak sadar pertemuan itu lagi. Mata Harry tak henti-hentinya memandang wajah Albus untuk kedua kalinya. Namun kali ini berbeda, dengan tangan gemetar Harry akhirnya menyentuh tubuh putranya sendiri yang tak pernah ia kenal. "Al—"

"Darimana Uncle tahu namaku?"

Gugup, Harry menyesal dengan ucapannya yang terlalu terburu-buru. Ia lantas berusaha mencari sesuatu untuk dijadikan alasan. Sampai sebuah nama berajut benang tercetak jelas di balik syal yang dikenakannya. "Itu," tunjuk Harry. "Ada di syalmu. Tidak ada syal rajutan yang memiliki merek Albus, kan?"

Harry menggoda Albus sampai keduanya tertawa pelan. Albus mengangguk sambil menutup mulutnya menahan tawa. "Benar sekali. Nana Molly yang membuatkannya untukku. Nana Molly sangat pandai membuat syal dan baju hangat." kata Albus turut memamerkan syal di lehernya.

"Iya, dia sangat pandai merajut," kata Harry, "ah, maksudnya terlihat sekali syalnya bagus, tandanya Nanamu sangat pandai merajut," koreksi Harry kembali tak menyadari ucapannya.

Darah di lutut Albus tak lagi keluar. Hanya tersisa darah yang mengering di sekitar lutut hingga betisnya saja. Harry menghapus darah itu dengan sapu tangan dari dalam sakunya perlahan hingga sebagian darah mengilang di kaki putih Albus. Penuh ketelatenan, Harry membantu Albus membersihkan kakinya hanya berdua di salah satu toliet. Harry membawanya di sana.

"Thank you, Uncle, sudah mengobatiku."

"Sama-sama, Al. Uncle juga—" lidah Harry terasa ngilu, ia menyebut dirinya sendiri untuk putranya dengan sebutan Uncle, bukan Daddy, "Uncle minta maaf, ya. Membuatmu terjatuh."

Albus menunjukkan senyumannya. Meskipun Albus memiliki kemiripan dengan Harry, senyuman Albus ternyata didapatkan dari diri Ginny. Harry sangat mengenal senyuman itu di wajah Albus. Indah dan mempesona.

"Tidak apa-apa, aku juga tadi salah tidak melihat jalan. Jadi aku juga harus minta maaf. Maafkan aku juga ya, Uncle!"

Tiba-tiba saja, Albus dengan ringan membuka rentangan tangannya untuk meraih tubuh Harry. anak laki-laki itu memeluk tubuh Harry dengan erat. Kepalanya bersandar nyaman di dadanya sambil terus berbisik kata maaf. Seluruh persendian tubuh Harry seolah mendapatkan reaksi sihir. Aliran darahnya seolah bekerja lima kali lebih cepat. Jantungnya berdetak tak tahu tempo. Kepala Harry pusing seolah-olah ikut membawa tubuhnya lemas. Kalah hanya karena pelukan seorang anak kecil.

"Albus—" dikecupnya puncak kepala Albus lama. Jemari Harry mengusap surai-surai halus rambut Albus dengan penuh kebahagiaan. Menikmati aroma tubuh Albus yang tak pernah ia tahu. Menyesal, Harry menyesal telah mensia-siakan darah dagingnya sendiri dengan tak mengenalnya.

Harry benar-benar menikmati menit-menit indah itu bersama Albus. Meskipun ia harus rela tak dikenal sebagai sosok ayah.

"Daddymu pasti bangga memilikimu, Albus." Ujar Harry memberikan kata-kata terakhirnya.

"Oh, ya? Tapi.. aku tak punya Daddy, Uncle. Kata Mummy, Daddyku meninggal, tapi kata Jamie Daddy masih hidup. Dia selalu berbohong jadi aku tak percaya dengannya."

Dada Harry sesak. Albus lebih percaya jika ayahnya telah meninggal. "Aku tak pernah melihat Daddy. Aku sebenarnya sedih, tapi kata Mummy itu tidak apa-apa. Karena Mummy selalu ada untukku."

"Kau ingin bertemu dengan Daddy?" Harry tak tahu harus berkata apa. Ia berusaha untuk tidak menangis saat ini.

Albus diam. Ia terlihat bingung menjawab pertanyaan Harry. "Hem," Albus mengangguk, "hanya saja, aku takut, Uncle."

"Loh, kenapa?"

"Aku takut. Aku tak tahu apakah Daddy itu baik atau jahat. Aku tak pernah bertemu dengannya, Uncle. Aku takut Daddy tak suka padaku."

"Hey—" Harry cepat memeluk tubuh Albus lagi, sambil mengusap pelan kepalanya, "semua ayah di dunia ini sangat sayang pada anak-anaknya. Kalau dia pergi, pasti ada alasannya, Al. Dan kau tak bisa untuk menyalahkannya begitu saja. Bagaimana pun juga ayahmu tetaplah ayahmu. Dia sangat sayang dan bangga padamu, Al."

"Benarkah?"

"Ya, dia adalah orang yang paling memikirkanmu tanpa perlu orang lain tahu. Seorang pria yang kuat namun tak jarang ia melakukan kesalahan."

Albus tersenyum kembali, sapu tangan yang kotor terkena darahnya ia kembalikan pada Harry. "Uncle George pernah bilang kalau Daddyku adalah orang hebat. Banyak yang bangga bisa mengenalnya. Tapi aku tidak, Uncle. Aku tak pernah tahu Daddy. Apakah aku harus bangga pada Daddy juga?"

Pipi Albus dingin di telapak tangan Harry. Ia merasa dirinya yang kini tak lagi pantas untuk dibanggakan sebagai seorang ayah. Ia pria rusak, hancur, yang hanya bisa dicela dan diacuhkan. Albus menyadarkannya tentang semua itu. Itulah dirinya kini di depan putra kandung yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. Ia ayah yang gagal.

"Apapun itu, Daddymu tetap bangga dan akan selalu sayang padamu, Al. Sebesar apapun kau membencinya nanti."

"Aku tak pernah membencinya, Uncle. Meskipun aku tak mengenalnya, aku selalu berdoa setiap malam untuknya. Agar Daddy tetap bahagia."

Suara teriakan seorang wanita menghentak Albus dalam lamunannya. Itu suara Ginny. Albus mengenal suara panggilan ibunya di luar toilet. Ia menatap Harry untuk kesekian kalinya sambil berkata, "terima kasih, Uncle. Aku senang dapat bertemu denganmu. Aku harus pulang, Mummy sudha berteriak-teriak!" katanya sambil tertawa.

"Iya, pergilah. Jangan menyusahkan Mummymu, ya. Jadi anak yang baik. Jangan nakal!"

Albus melambaikan tangannya memberikan salam perpisahan namun tiba-tiba Harry memanggilnya kembali, "Al, kemari sebentar—"

Tanpa berpikir panjang Harry memeluk tubuh Albus dengan lembut, diraihnya kedua punggung tangannya lantas ia kecup perlahan. Sebagai penutup, Harry perlahan bangkit dari posisi berlututnya menjadi berdiri sambil membubuhkan salam perpisahan di dahi Albus.

"Pergilah! Temui Mummymu. Uncle masih ingin di sini—"

Albus menghilang di balik pintu toilet yang kembali tertutup. Sempurna, tangis Harry pecah. Ia tak kuasa untuk berdiri di ambang pintu sambil terus meremas saputangan penuh darah Albus. Di sana, ia mendengar percakapan Albus dan seorang wanita yang sangat ia kenal adalah suara Ginny.

"Uncle baik? Tapi kau tak apa-apa, kan? Mummy khawatir, Al." Kata suara Ginny.

"Aku tak apa-apa, Mummy. Uncle ada di dalam toilet, dia masih di sana!"

"Ow," sejenak suara itu menghilang diganti dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah pintu toilet. Harry gugup setengah mati. "Itu toilet laki-laki, Al. Mummyi tidak boleh masuk." Ujar Ginny membuat Harry akhirnya lega.

Ia belum siap untuk merusak momen pertemuan indahnya dengan Albus. Harry berharap Ginny tak menemukannya di sana.

"Mummy sudah dapat bukunya, sekarang kita ke sekolah James baru kita beli es krim. Ini sudah siang, Al. Jamie bilang ia sebentar lagi pulang."

Tak lama kemudian, suara Albus maupun Ginny perlahan menghilang dan tak terdengar lagi langkah kaki mereka. "Albus, maafkan Daddy, nak!" pekik Harry menangisi dirinya di depan cermin. Semuanya telah berlalu, Albus telah berada di tangan yang tepat. Kini yang tersisa hanyalah saputangan kotor yang tergenggam erat di tangan kanannya.

- TBC -


#

Yuhuuu di chapter mendatang akan ada pertemuan lagi, nih, antara Harry dan... hayo siapa? Penasaran..

Tunggunya mungkin setelah lebaran. Sebelum mengakhiri, Anne mau ucapkan dulu..

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, Readers!

Semoga amal ibadah kita di bulan puasa tahun ini berkah dan tahun depan bisa ketemu ramadhan lagi. Amin!

Thanks,

Anne xoxo