SASUHINA

.

.

.

.

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Between Us

.

.

.

.

.

Mentari terlihat mulai memberikan sinarnya kepada para mahluk yang menghuni planet ini. Perlahan-lahan pemandangan yang gelap, kini mulai terlihata terang. Tidak banyak aktivitas yang terjadi di pagi buta begini. Hanya kicauan burung yang terdengar bersahutan dari balik persembunyiannnya.

Karena sudah terbiasa bangun pagi, gadis bersurai indigo yang sekarang tengah berbaring itu. Mulai membuka kedua kelopak matanya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, membiasakan dengan pemandangan asing yang ada di sekitarnya.

Dia sadar bahwa ini bukanlah kamarnya. Bukan hanya kamar yang dihuni gadis itu saja yang terlihat asing. Namun, juga wajah gadis itu sendiri. Terlihat kusut dan sepasang matanya terlihat sedikit membengkak. Mungkin karena kemarin, dia telah menangis dalam waktu yang cukup lama.

Kejadian tadi malam terngiang kembali di pikirannya. Alasan kenapa dia bisa berada di tempat ini.

.

.

.

.

.

.

.

Flashback ON

.

.

"Ada apa, Hina-..." Perkataan orang yang telah ditbrak Hinata itu terpotong, karena tiba-tiba gadis bersurai indigo tersebut menangis keras di depannya. Yang dapat dilakukannya sekarang, hanyalah membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Mencoba memberi ketenangan dengan membelai lembut rambut gadis beriris lavender tersebut.

Meskipun Hinata tahu, sekarang dia tidak boleh menangis di depan orang ini. Tetapi dia sudah tidak kuat lagi menahan tangisan yang siap pecah dari tadi. Hinata berharap dengan memecahkan tangisannya ini, segala sakit hatinya bisa berkurang.

Akibat tangisan Hinata, orang-orang yang sedang berjalan di sekitar tempat tersebut. Mulai melihat ke arah mereka berdua. Meskipun demikian baik Hinata maupun pemuda beriris blue sapphire itu tidak merasa malu.

Beberapa menit kemudian, Hinata mulai menghentikan tangisannya. Melihat itu, pemuda tersebut mulai mengurai pelukannya pada Hinata. Gadis beriris lavender tersebut, masih sedikit terisak dan menghapus air mata yang di wajahnya. Sebenarnya hati pemuda itu terasa sakit saat melihat gadis pujaannya menangis. Namun, dia tetap mengeluarkan senyuman lembutnya, untuk membuat Hinata merasa lebih tenang.

"Hiks... Gomen ne, Namikaze-kun, hiks..." ucap Hinata di sela isak tangisnya.

"Tidak apa-apa, Hinata-chan," sahut Naruto.

Saat ini Hinata merasa malu telah menangis di depan Naruto. Pasti pemuda itu sekarang tengah berpikir macam-macam tentangnya. Tetapi tangisannya tadi sungguh tidak dapat ditahannya. Terlihat semburat tipis di wajah manisnya, ketika Hinata menyadari bahwa sekarang dia memakai baju baby doll. Memang tadi, dia akan tidur setelah meminta tanda tangan dari Fugaku.

Namun, peristiwa pahit terjadi di luar perkiraannya. Parahnya lagi sekarang dia tidak membawa uang selembar pun. Tentunya sekarang dia tidak akan kembalai ke kediaman Uchiha ataupun menghubungi anggota keluarga Uchiha.

'Bagaimana ini?" batin Hinata. Raut cemas nampak jelas di wajahnya.

Naruto menyadari perubahan raut wajah bersurai indigo tersebut. "Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto.

Sebuah ide terlintas dalam pikiran Hinata. "Mm.. Namikaze-kun, bisa minta tolong bantuannya?"

.

.

Flashback OFF

.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya tadi malam, Hinata diantar Naruto ke kedai ramen Hiashi. Hinata menyadari keterkejutan pemuda bermarga Namikaze itu, saat dia minta diantarkan ke kedai ini. Tetapi untuk saat ini, walaupun Naruto bertanya pada Hinata tentang hal itu. Pasti dia tidak akan menjelaskan apapun. Karena ini memang masalah intern dalam hidupnya. Untung saja pemuda itu tidak bertanya apapun kepada Hinata.

Hinata beranjak bangun dari futon-nya. Dia tidak mau dianggap sebagai anak yang malas oleh Ayah kandungnya, karena bangun kesiangan. Setelah melipat futon serta menaruh ke tempatnya dan merapikan penampilannya, Hinata keluar dari kamar tersebut. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk membersihkan wajahnya. Ketika akan pergi ke kamar mandi, dia melewati dapur. Di dalamnya terdapat Hiashi yang tengah menyiapkan sarapan. Saat itu juga Hiashi menoleh dan mendapati Hinata juga tengah menatapnya.

"Basuhlah wajahmu terlebih dahulu. Setelah itu, kita sarapan bersama," kata Hiashi.

"Hm," sahut Hinata.

Hinata dan Hiashi sarapan dalam diam. Tidak ada yang berniat membuka percakapan. Sepertinya mereka berdua mempunyai etika makan yang sama, yaitu tidak berbicara saat acara makan berlangsung. Setelah sarapan selesai, Hinata berniat mencuci peralatan makan. Namun, dia dicegah oleh Hiashi.

"Biar aku saja," cegah Hiashi.

"Tapi-..."

"Kau duduk saja," potong Hiashi.

Hinata tidak mampu menolak keinginan Hiashi itu. Akhirnya dia hanya bisa melihat punggung Hiashi yang sekarang tengah mencuci peralatan makan sembari menikmati segelas susu yang ada di hadapannya. Setelah selesai mencucui piring, Hiashi duduk di depan Hinata.

"Apa keluarga Uchiha tahu kau ada di sini sekarang, Hinata?" tanya Hiashi sambil menatap lurus ke arah putri kandungnya tersebut.

Pertanyaan Hiashi itu terjawab oleh gelengan kepala Hinata. Pria Hyuuga itu menghela nafas melihat perilaku Hinata yang tidak seperti biasanya. "Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Hiashi.

Mendengar itu, Hinata mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. "Ayah, bisakah untuk sementara ini aku tinggal di sini?" tanya Hinata.

Sontak saja, Hiashi terkejut dengan permintaan putri kandungnya itu. Tentu saja, dia akan setuju dengan permintaan Hinata, bahagia malah. Namun, bagaimana dengan keluarga Uchiha? Tentunya mereka akan merasa khawatir dengan keberadaan Hinata saat ini.

"Hn, terserah kau saja," jawab Hiashi setelah melihat keadaan Hinata yang nampak tidak baik.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu di kediaman Uchiha, semua orang nampak cemas mengetahui Hinata pergi tanpa kabar sedikit pun. Bahkan semua anggota keluarga Uchiha sampai absendari pekerjaan sehari-harinya. Semenjak mengetahui Hinata pergi dari rumah secara misterius, Fugaku langsung menyuruh beberapa pengawal keluarga Uchiha untuk mencari keberadaan gadis beriris lavnder tersebut.

Mereka berempat tengah berkumpul di ruang kerja Fugaku, menanti kabar terbaru tentang keberadaan Hinata. Untuk sementara ini, Sasuke tidak memberitahukan kecurigaannya tentang sebab-sebab kepergian Hinata kepada keluarganya. Dia tidak mau membuat keluarganya lebih khawatir lagi lebih dari ini. Beberapa menit kemudian, telephone di ruang kerja Fugaku berdering. Kepala keluarga Uchiha itu langsung mengangkatnya.

Selama menerima telefon, ekspresi wajah Fugaku berubah-ubah. Dari yang semula tampak lega, kemudian berubah menjadi sedikit menegang. Beberapa detik kemudian, ekspresi wajah Fugaku kembali datar seperti biasanya. Pembicaraan antar via telephone terlihat berakhir, ketika Fugaku meletakkan gagang telpon ke tempatnya.

"Bagaimana? Apa Hinata-chan sudah ditemukan?" tanya Mikoto yang terlihat tidak sabar menunggu suaminya menjelaskan semuanya.

"Tenanglah," ucap Fugaku sambil menuntun istrinya untuk duduk kembali di sofa. "Keberadaan Hinata sudah ditemukan. Sekarang dia ada di kedai ramen Hiashi," jelas Fugaku.

Tiga pasang mata yang ada di tempat itu sedikit membesar ketika mendengar penjelasan Fugaku. "Kenapa Hinata-chan ada di situ tanpa mengabari kita? Jangan-jangan-..."

"Jangan berpikir macam-macam. Yang kau pikirkan sekarang belum tentu benar. Hinata tidak akan berbuat apapun tanpa memberitahu kita terlebih dahulu," kata Fugaku menenangkan Mikoto yang terlihat sangat khawatir. "Ingatlah, dia adalah anak kita," lanjut Fugaku.

"Hm," sahut Mikoto yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

Fugaku memberi isyarat kepada kedua putranya untuk keluar dari ruang kerjanya. Dia membutuhkan ruang privasi bagi dirinya dan juga istrinya. Mengerti akan hal itu, Sasuke dan Itachi beranjak dari duduknya. Kemudian berjalan keluar dari ruang kerja Ayahnya.

Setelah kepergian kedua putranya, Fugaku membawa Mikoto ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan istrinya yang tengah gundah gulana. "Tenang saja. Semua akan baik-baik saja," kata Fugaku sambil membelai rambut indah istrinya. Mikoto terlihat mengangguk dalam dekapan Fugaku. Beberapa kata dari suaminya ini, memang mampu membuatnya lebih tenang dari sebelumnya.

Sekarang Sasuke dan Itachi berada di beranda depan kediaman Uchiha. "Kita harus bergegas ke sana, menjemput Hinata-chan," kata Itachi.

"Tidak," sahut Sasuke.

Itachi menatap Sasuke dengan pandangan yang penuh dengan tanda tanya. "Apa maksudmu, Sasuke?" tanya Itachi.

"Bukan kita, tapi aku yang akan ke sana," jawab Sasuke. " Bukankah hari ini seharusnya Aniki memberikan ulangan harian kepada siswa kelas 2?" ingat Sasuke.

"Iya, tapi-..."

"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Hinata," potong Sasuke dengan menatap lurus ke arah Itachi.

Itachi membalas tatapan Sasuke terhadapnya dengan intens. Seolah-oleh membaca pikiran Sasuke melalui tatapannya tersebut. "Baiklah. Tapi kau harus membawa Hinata-chan kembali ke rumah ini," kata Itachi.

"Hn," sahut Sasuke.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah sarapan, Hinata mengurung diri di dalam kamar. Sebenarnya Hiashi khawatir dengan keadaan putri kandungnya itu. Namun, apa boleh buat? Gadis itu tidak memberitahukan masalah yang dialaminya pada Hiashi. Jadi, pria Hyuuga tersebut tidak tahu masalah apa yang sedang dialami putrinya itu. Yang dapat dia lakukan saat ini, hanyalah memberi ruang bebas untuk Hinata menenangkan diri.

Ketika akan membuka kedainya, Hiashi nampak terhenyak. Melihat seorang pemuda berambut reaven tengah berdiri di depan kedai ramennya. Pemuda itu memberi hormat dengan sedikit menundukkan kepala kepadanya. "Ohayou, Ji-san," ucap Sasuke.

"Hn," sahut Hiashi.

"Apa sekarang Hinata ada di dalam?" tanya Sasuke to the point.

Hiashi menatap lurus pada sepasang onyx yang sekarang ada di hadapannya. "Apa yang sebenarnya telah terjadi?" selidik Hiashi.

Sesaat Sasuke terlihat sedikit tersentak mendengar pertanyaan Hiashi. Kemudian dia kembali memasang wajah tenangnya. "Ada sedikit kesalahpahaman yang terjadi. Aku harus menjelaskannya," jawab Sasuke.

"Hn. Bicara-lah baik-baik dengannya," kata Hiashi.

"Arigatou, Ji-san," ucap Sasuke.

Kemudian Sasuke langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Hinata, yang telah ditunjukkan sebelumnya oleh Hiashi. Beberapa saat kemudian, Sasuke telah sampai di depan pintu kamar Hinata. Setelah menghela nafas, Sasuke mengeluarkan suaranya.

"Hinata, ini aku... Sasuke," ucap Sasuke dengan sedikit menggantungkan kalimatnya.

Mendengar itu sepasang lavender yang sebelumnya nampak bersedih, sekarang terlihat membesar. Hinata tidak menyangka kalau Sasuke akan secepat ini datang menemuinya.

"Aku tahu sekarang kau tidak ingin berbicara atau bahkan melihat wajahku," kata Sasuke. "Walaupun demikian, sekarang aku harus menjelaskan semua ini kepadamu," lanjut Sasuke.

Hinata diam dan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Semua yang dikatakan Sasuke itu benar, tetapi untuk saat ini dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan pemuda tersebut. Alhasil, Hinata hanya bisa diam, mendengarkan semua hal yang akan dikatakan oleh Sasuke.

"Kau pasti telah mendengar sebagian hal yang aku bicarakan dengan Tou-san. Itu memang benar, tentang kematian Neji," jelas Sasuke. Nampak raut kesedihan di wajah tampan pemuda beriris onyx tersebut.

Hati Hinata terasa terhantam benda tumpul saat mendengar kalimat akhir yang Sasuke ucapkan. Kedua tangan gadis itu terlihat sedikit bergetar.

"Pada saat itu aku, Neji dan teman-teman tengah bermain bola. Tanpa sengaja bola yang aku tendang melesat keluar lapangan dan menggelinding ke jalan raya. Aku berinisiatif untuk mengambilnya. Karena terlalu bersemangat mengambil bola, aku tidak menoleh ke kanan kiri saat mengambil bola tersebut. Akibatnya aku tidak tahu saat ada sebuah mobil yang melesat cepat ke arahku." Sasuke menghela nafas. "Tepat saat mobil itu hampir menabrakku, tiba-tiba ada yang mendorongku ke tepi jalan. Saat aku tersadar, Neji sudah terkulai tak berdaya di tengah jalan," lanjut Sasuke.

Hinata menangis tersedu-sedu mendengar penjelasan Sasuke. Dia bahkan sampai menutup erat-erat mulutnya dengan kedua tangan agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Sasuke.

"Kami tidak memberitahukan hal ini kepadamu, karena pada saat itu kau masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan pahit ini. Kami tidak mau kau terpuruk terlalu dalam setelah mengetahui hal ini." Sasuke menatap sendu pada pintu yang ada di depannya. "Oleh karena itu, kami menyembunyikan hal ini kepadamu hingga saat kau sudah cukup dewasa untuk mengetahuinya," lanjut Sasuke.

Untuk kesekian kalinya, Hinata menangis mengeluarkan seluruh air matanya tanpa bisa dia cegah. Memang benar, ini adalah kenyataan pahit yang harus dia terima. Rasa bersalah muncul di dalam hatinya. Entah kenapa Hinata merasa bersalah kepada Neji, karena telah mencintai seseorang yang telah membuat kakaknya mengalami kecelakaan.

"Pulanglah, Hinata," ucap Sasuke. "Kaa-san, Tou-san, dan Aniki sangat mengkhawatirkanmu," jelas Sasuke.

Jujur, Hinata sebenarnya ingin pulang dan bertemu dengan anggota keluarganya. Namun, apabila dia pulang, nanti pasti akan bertemu dengan Sasuke. Untuk saat ini, gadis bersurai indigo itu belum mempunyai keberanian untuk bertatap muka dengan Sasuke. Dia merasa takut apabila menatap Sasuke, rasa amarah akan timbul dalam dirinya karena teringat dengan kematian kakaknya.

"Kalau kau tidak mau pulang hanya karena tidak ingin bertemu denganku. Tenang saja ketika kau pulang, aku pastikan kau tidak akan melihatku," tutur Sasuke.

Hinata sedikit terhenyak mendengar penuturan Sasuke tersebut. Pemuda itu pasti akan melakukan sesuatu di luar dugaannya.

Sasuke terlihat menghela nafasnya. "Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik, Hinata," kata Sasuke.

Mendengar itu, Hinata tetap tidak bergeming sedikit pun. Dia tetap meringkuk, memeluk kedua kakinya.

"Maaf," ucap Sasuke.

Kata maaf yang terluncur dari mulut Sasuke, sukses membuat Hinata terhenyak dan menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang kian lama kian menghilang dari pendengarannya. Itu pasti langkah kaki Sasuke. Hinata menghela nafasnya dan menatap ke luar jendela dengan tatapan hampa.

.

.

.

.

.

.

.

Pada malam harinya, Hinata memutuskan untuk pulang ke kediaman Uchiha. Ketika dia sampai di beranda depan, Hinata langsung disambut oleh Mikoto. Di belakangnya tampak Fugaku dan Itachi.

"Yokatta. Akhirnya kau pulang juga, Hinata-chan," kata Mikoto sembari membawa Hinata ke dalam pelukannya.

"Iya, Kaa-san," ucap Hinata seraya membalas pelukan Mikoto.

Fugaku dan Itachi tersenyum lega melihat Hinata kembali dengan keadaan baik-baik saja. Mikoto langsung membimbing Hinata masuk ke dalam, dia tidak mau putrinya terkena angin malam lebih lama lagi. "Kaa-san sempat khawatir saat Sasuke pulang tanpa membawamu. Tapi sekarang Kaa-san lega, karena kau pulang tepat sesuai dengan perkataan Sasuke," kata Mikoto sembari berjalan masuk ke dalam kediamannya.

Hati Hinata bergetar ketika nama Sasuke disebut-sebut oleh Mikoto. Namun sebelum pulang tadi, dia sudah mengumpulkan segala keberaniannya ketika nanti akan bertemu dengan Sasuke. Tetapi sejauh ini Hinata tidak dapat merasakan kehadiran Sasuke di rumah ini.

"Apa kau lapar, Hinata-chan? Kaa-san akan memasakkan sesuatu untukmu," kata Mikoto.

"Tidak usah, Kaa-san. Aku tidak lapar," tolak Hinata.

"Lalu sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Mikoto.

"Aku hanya ingin beristirahat di kamar, Kaa-san," jawab Hinata.

"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan," sahut Mikoto sembari mengantar Hinata ke dalam kamarnya.

Hinata sedikit melirik ke samping kanan, saat dia dan Mikoto melewati kamar Sasuke. Hatinya kembali bergetar, teringat dengan yang dikatakan Sasuke di kediaman Hiashi tadi pagi.

Sesampainya di kamar Hinata, mereka berdua masuk ke dalam. Mikoto kembali menatap putri kesayangannya itu. "Kalau kau butuh sesuatu, panggil saja Kaa-san," kata Mikoto.

"Hm. Arigatou, Kaa-san," ucap Hinata.

"Semoga tidurmu nyenyak, Hinata-chan," ucap Mikoto sembari mencium kening Hinata.

Hinata tersenyum, dalam hatinya dia merasa bahagia. Karena ternyata Mikoto memang benar-benar menyayanginya. Setelah itu, Mikoto keluar dan meninggalkan Hinata sendirian di dalam kamarnya.

Malam itu, Hinata mencoba mengenyahkan semua peristiwa yang terjadi hari ini dari pikirannya. Dia mencoba untuk mengistirahakan hati, pikiran dan tubuhnya. Gadis itu tidak mau terlalu larut dalam kesedihannya. Hinata tidak mau membuat orang yang ada di sekitarnya khawatir karena dirinya. Dengan memejamkan sepasang lavender-nya, lama-kelamaan dia masuk ke alam mimpinya.

Hari demi hari, Hinata tidak melihat keberadaan Sasuke di sekitarnya. Di rumah maupun di sekolah, Sasuke sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Para fans Sasuke yang ada di sekolah juga tidak mengetahui apapun perihal ke-absen-an Sasuke di sekolah. Hinata benar-benar bingung dibuatnya.

Ketika pulang sekolah, Hinata memberanikan diri untuk menanyakan tentang keberadaan Sasuke kepada Mikoto.

"Kaa-san, kenapa akhir-akhir ini Sasuke tidak terlihat di rumah?" tanya Hinata.

"Lho! Memangnya Sasuke tidak memberitahumu, Hinata-chan?" tanya balik Mikoto.

Hinata menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Mikoto. Melihat itu, Mikoto sedikit terkejut.

"Masa'? Sekarang 'kan Sasuke pergi ke luar negeri," kata Mikoto.

"A-pa?"

.

.

.

.

.

.

.

^TBC^

.

.

.

.

.

Thanks to read

.

.

.

.

Balasan review untuk chapter 10:

Fishy : Halo. Iya, Naru. Masa'? Drama korea yg mana? Meiru juga penyuka drama2 Korea. Ni dah di-update.

Ryu Matsuda : Keren bagaimana? Ni dah di-update.

Hyou Hyouichiffer : Iya, seperti yang disinggung di chapter 10. Naru. Iya, Sasu dah jelasin ke Hina 'kan.

Suzu Aizawa : Naruto. Kita lihat aja nanti. Apa yang akan terjadi oleh Hina.

Sasuhina-caem : Sepertinya saat ini ga ada rencana deh. Meiru ga bisa buat canon T,T

Haruno Aoi : Bukan Hiashi, tapi Naruto. Iya, Q juga begitu. Ini dah mulai sibuk buat proposal dan makalah sebagai tugas akhir T,T. Ni dah dilanjutin.

Astiamorichan : Yapz betul banget, itu Naruto. Ni dah di-update.

Kertas Biru : Iya, Naruto.

Mamoka : Naruto. Diusahain update tepat waktu.

Lizy94 : Chapter ini sudah Meiru buat lebih panjang dari sebelumnya. Ya, diusahain update secepatnya. Ya, terserah kamu. Mau bilang atau tidak kepadaku.

And thanks to review

.

.

.

Sebelumnya Meiru minta maaf kalau update-nya lebih lama dari chapter sebelumnya

Meiru sedikit kecewa karena yang nge-reviewchapter 10 jauh lebih sedikit T,T

Apa fic ini terlalu abal, gaje, dan ngebosenin ya?

Karena peminatnya jadi semakin berkurang YoY

.

.

Meiru juga sangat berterima kasih karena kalian berkenan menjawab pertanyaan Meiru

Padahal inginnya karakter Sasuke di BU dibuat lebih dingin dari yang di MIO

Eh ternyata jadinya malah lebih dingin daripada di MIO

Sedangkan karakter Hinata, inginnya dibuat lebih ceria di BU

Eh ternyata lagi, menurut kalian karakter Hinata di BU dan MIO sama2 pemalu

Ternyata Meiru gagal membuat karakter yang Meiru inginkan T,T

.

.

Oh iya Meiru ingin bertanya lagi

Menurut kalian, cara penulisan dan bahasa fic diantara fic Moonlight in Onyc dan Between Us bagusan yang mana?

Meiru sangat berharap kalian mau menjawab pertanyaan ini

Jawaban kalian sangat berarti bagi penulisan fic Meiru

Arigatou...o

.

.

Apabila kalian menyukai dan menghargai fic ini

Tolong memberikan komentar di kotak review

Review dari kalian sangat menjadi penyemangat Author dalam meneruskan fic ini

E

V

I

E

W

Arigatou