Sudah seminggu ini Taeyong mengurung dirinya di dalam kamar miliknya. Iya, miliknya. Kamar yang berada di rumah Keluarga Lee, bukan kamar yang ada di apartemen Yuta. Meskipun Taeyong tetap keluar untuk berkuliah dan terkadang berjalan-jalan untuk mengurangi rasa stressnya, tapi itu tak sering Taeyong lakukan.

Menghempaskan tubuhnya di ranjang king size miliknya, Taeyong menatap langit-langit kamarnya tanpa minat. Ini sudah seminggu Taeyong tak bertemu Yuta, seharusnya Taeyong senang, tapi, kenapa hati Taeyong malah merasa sedih? Kenapa Taeyong merasa jika ia merindukan pemuda Jepang itu? Kenapa?!

Taeyong meraih ponsel pintarnya yang berdering di atas meja. Melihat ID caller, Taeyong berdecak pelan. Itu Nayeon, kekasihnya yang baru dua hari lalu Taeyong putuskan. Bukan apa-apa, ini semua tak ada sangkut pautnya dengan Yuta, sungguh tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemuda cantik itu. Itu semua murni kesalahan Nayeon, salah Nayeon yang bermesraan di sembarang tempat yang sialnya -atau untungnya- Taeyong juga mengunjungi tempat itu, bisa dibilang, tempat itu adalah club malam. Dan Taeyong yang memang dalam suasana hati yang tidak baik, akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.

Taeyong memilih untuk mencabut baterai ponselnya dan menaruhnya sembarang. Tak peduli jika orang-orang akan menghubunginya, ia butuh ketenangan saat ini. Namun, ketenangan itu harus terusik tak lama setelah Taeyong menutup matanya. Penyebabnya adalah suara ketukan atau bisa dibilang gedoran yang berasal dari luar pintu kamarnya itu.

Menggeram rendah, Taeyong bangkit dari acara tidurnya dan bergerak menuju pintu. Membuka pintu kamarnya, Taeyong berdecak begitu melihat orang yang berdiri di depan pintunya sambil bersidekap itu.

"Ada apa?"

Bukannya menjawab, lelaki sepantar usianya itu malah dengan seenak jidatnya melangkah memasuki kamarnya dan melewatinya begitu saja.

"Berantakan sekali. Ku kira Lee Taeyong yang ku kenal tak suka jika kamarnya berantakan." Komentar orang itu sembari membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Taeyong mendengus kesal, dibantingnya pintu kamarnya sebelum menyusul orang tadi naik ke atas kasur.

"Jelaskan alasanmu datang ke sini, Johnny Seo." Ucap Taeyong berbahaya.

Johnny melirik sekilas, matanya masih fokus pada ponsel di tangannya.

"Aku merindukan sahabatku, salah jika aku datang ke sini?"

"Terserahmu sajalah."

Taeyong kembali menutup matanya, mengabaikan Johnny yang berganti posisi menjadi duduk.

"Aku dengar Hansol hyung dan Yuta berpacaran loh Tae." Goda Johnny sembari menyunggingkan seringai tipisnya.

Taeyong diam, Johnny tahu jika Taeyong belum tidur. Johnny yakin, pasti Taeyong kaget mendengar berita yang diucapkannya barusan.

"Lalu, apa urusannya denganku?" Suara Taeyong terdengar setelah sekian menit hanya deru nafasnya saja yang terdengar.

Johnny berdeham, matanya menatap langit-langit kamar Taeyong. "Aku tahu Tae, jauh di dalam hatimu, kau sudah mencintai Yuta. Meskipun kau tak mengatakan apa-apa padaku, tapi aku tahu dan yakin akan hal itu. Kau hanya berusaha mengelak dari ini semua, berusaha meyakinkan dirimu sendiri jika kau masih dan akan selalu straight. Namun nyatanya tidak Tae, hatimu sudah berhasil direbut oleh Yuta."

Taeyong mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya yang tiba-tiba saja naik. Taeyong tidak menyalahkan Johnny atas analisanya yang memang benar-benar tepat, Taeyong hanya menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa jujur akan perasaannya sendiri. Taeyong marah akan dirinya sendiri. Itu yang Taeyong yakini sekarang.

"Taeyong, fikirkanlah lagi. Sekarang belum terlambat untuk merebut Yuta dari Hansol hyung. Aku akan membantumu, pasti!" Ujar Johnny semangat yang akhirnya mendapat lemparan bantal dari Taeyong.

"Berisik!" Kata Taeyong dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia butuh tidur sekarang, sehingga ketika bangun nanti ia dapat berfikir tentang apa yang harus dilakukannya untuk merebut Yuta dari Hansol. Eh?!

.

.

Jungwoo menatap bosan pada pasangan di hadapannya yang hanya saling menatap tanpa berbicara apapun. Di depannya ada Yuto dan Wooseok yang sedang duduk berhadapan dengan coffee masing-masing berada di depan meja mereka. Jungwoo sendiri, duduk di kursi di antara mereka berdua. Jungwoo merasa seperti obat nyamuk awalnya, namun sekarang dia merasa seperti orang bodoh yang berada di tengah-tengah orang autis.

"Kalian berdua, sampai kapan mau berdiam diri begini?" Akhirnya, Jungwoo mengutarakan kekesalannya setelah menelan habis Lattenya.

Wooseok melirik, Jungwoo itu mengganggu saja. Dia kan sedang sibuk menatapi wajah Yuto yang tengah tersenyum itu. Jarang kan mereka begini? Ditambah Yuto akan kembali ke Jepang lusa, tuh kan, Wooseok jadi galau lagi.

"Jika kau tak suka, kau bisa pergi dari sini." Wooseok berujar pelan, mengabaikan Jungwoo yang menatapnya tak suka dan kembali fokus pada Yuto yang kini meminum americanonya.

"Jungwoo-ya."

Baru saja Jungwoo akan membalas perkataan Wooseok namun Yuto ke buru menginterupsinya.

"Ada apa Yuto?"

Yuto membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Matanya menatap bergantian antara Wooseok dan Jungwoo.

"Bisa bantu aku?"

Jungwoo mengerjap dan Wooseok melirik tak suka pada Jungwoo. Apa yang sudah dilakukan Jungwoo pada Yuto? Kan selama ini Wooseok yang menyukai Yuto, tapi kenapa Yuto malah meminta bantuan pada Jungwoo?

"Kenapa kau meminta bantuan pada Jungwoo? Kenapa tidak denganku saja?" Wooseok merajuk, itulah yang ada di fikiran Jungwoo dan Yuto.

Jungwoo menyeringai, mengerjai Wooseok sepertinya menyenangkan.

"Itu berarti Yuto meyukaiku Wooseok-ah, terima saja itu."

Wooseok mendengus dan mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang terlihat dari kaca. Yuto memperhatikan sepasang sahabat di depannya itu dan menghela nafasnya.

"Aku meminta bantuan pada Jungwoo karena aku rasa dia yang tepat untuk membantuku karena dekat dengan Yuta-nii. Memangnya kau dekat dengan Yuta-nii, Wooseok-ah? Kenal saja baru."

Perkataan Yuto barusan membuat Wooseok sontak menoleh dan menyengir tak jelas. Jungwoo langsung saja mencibir Wooseok yang hanya ditanggapi tawa garing dari pemuda jangkung itu.

"Apa yang harus aku bantu Yuto-ya?" Jungwoo beralih untuk menatap Yuto yang juga menatapnya. Untuk sementara, abaikan saja Wooseok yang menatap mereka berdua dengan tatapan sedih. Gila! Ini sih namanya peningkungan di depan mata.

"Bantu aku untuk meyakinkan Yuta-nii."

"Meyakinkan hal apa?"

Menghela nafasnya, Yuto kembali menatap pada Jungwoo.

"Yuta-nii terus saja menyuruhku pulang padahal aku ingin tinggal di sini. Tousan dan kaasan saja sudah setuju jika aku kuliah di sini. Tapi Yuta-nii tetap tak setuju. Maka dari itu, bantu aku yakinkan dia ya Jungwoo. Yuta-nii pasti akan setuju jika kau dan Wooseok ikut membujuknya. Karena dia itu sebenarnya hanya khawatir aku tak punya teman."

Yuto menatap melas pada dua orang di depannya. Wooseok yang sedari tadi mendengarkan langsung mengangguk, setuju untuk membantu sang pujaan hati. Jika Yuto tetap di sini, artinya Wooseok tak perlu sedih-sedih karena hubungan jarak jauh kan?

Jungwoo menatap sekali lagi pada Wooseok dan Yuto yang sedang menatap kearahnya.

"Baiklah, aku bantu. Tapi,"

Yuto tersenyum lebar, namun segera memandang Jungwoo dengan bingung yang belum menyelesaikan kalimatnya.

"Tapi apa?"

"Ada satu syarat."

"Apa syaratnya?"

.

.

Yuta merenggangkan tubuhnya yang pegal setelah mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Melirik jam tangannya, Yuta mendesah pelan begitu jam menunjukkan pukul 19.15 KST. Sudah malam. Gumamnya pelan seraya mengemasi barang-barangnya. Yuta berada di perpustakaan kampusnya sekarang, karena memang Yuta bisa lebih fokus mengerjakan tugasnya di perpustakaan dibanding di rumah.

Yuta melangkah pelan menuju pintu perpustakaan, perpustakaan sudah sepi. Hanya tinggal beberapa mahasiswa yang berada di sana. Membuka pintunya, Yuta terkejut begitu mendapati Ten yang berdiri menghadangnya.

"Lama sekali." Gerutunya pelan sembari menarik tangan Yuta. Yuta menghela nafas dan menyamakan langkahnya dengan Ten dan mereka berdua berjalan berdampingan.

"Kau tahu sendiri, tugasku amat banyak Tennie. Harusnya sebagai sahabat yang baik, kau itu membantuku."

"Masih untung aku mau menungguimu."

Yuta terkekeh mendengar jawaban Ten yang terdengar seperti merajuk. Keduanya sampai di parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil milik Ten.

Di perjalanan keduanya sesekali bercanda dan terkadang ikut bernyanyi ketika radio yang memang Ten nyalakan memutar lagu yang mereka tahu dan hafal.

"Bagaimana hubunganmu dengan Hansol hyung?" Ten melirik Yuta yang kembali sibuk dengan buku bacaan miliknya.

"Kami baik." Jawab Yuta singkat tak mempedulikan Ten yang menghela nafasnya lelah.

"Kalau dengan Taeyong?"

Ten menyeringai begitu melihat Yuta yang terpaku. Matanya memang mengarah pada buku, tapi fikirannya melayang entah kemana.

"Yuta."

Ten menyenggol lengan Yuta untuk menyadarkan pemuda Jepang itu.

"Uhh! Y-ya?"

"Aku bertanya, bagaimana hubunganmu dengan Taeyong."

Yuta menelan ludahnya kasar. Menghela nafasnya pelan, Yuta memandang Ten yang masih fokus pada jalanan di hadapannya.

"Kenapa kau bertanya tentangnya?"

"Salah? Aku hanya ingin tahu Yuta. Akhir-akhir ini kau sering melamun. Bahkan mengabaikan aku, Hansol hyung, sampai Yuto yang notabenenya tinggal seatap denganmu."

Ten memakirkan mobilnya di tepi jalan yang lumayan sepi. Ten sengaja tidak melewati jalan utama agar bisa berbicara pada Yuta seperti ini. Ten membalas pandangan Yuta dengan tatapan dalam.

"Kita ini sahabat Yuta, tapi kenapa kau selalu menyembunyikan segala hal dariku? Apa hanya aku yang menganggap hubungan kita ini sebagai sahabat? Bisa saja kan kau hanya menganggapku teman biasa."

"Jangan bicara sembarangan Ten! Tentu saja kau sahabatku."

Yuta menatap nyalang Ten yang memberinya senyuman lebar.

"Kalau begitu ceritalah Yuta. Aku akan membantumu selagi aku bisa." Ten meraih Yuta yang bebas. Menggenggamnya erat seolah memberi kekuatan pada sang sahabat.

Yuta membuang nafasnya kasar, mencoba menguatkan hatinya. "Aku tak tahu harus bicara apa padamu Ten. Seperti yang kau tahu, aku mencintai Taeyong namun aku malah menerima tawaran Hansol hyung untuk menjadi kekasihnya. Aku takut Ten, takut melukai hati Hansol hyung yang begitu tulus padaku. Aku takut tidak bisa melupakan Taeyong, a-ku, aku takut Ten."

Yuta menunduk, mencoba menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Ten iba, Ten merasa kasihan pada sahabat terbaiknya itu. Yuta adalah orang baik, orang yang ramah dan selalu optimis dalam segala hal. Tapi kenapa seorang Taeyong bisa membuat sang sahabat menjadi berubah hanya dalam hitungan hari? Apa yang dilakukan lelaki bermarga Lee itu pada sahabat terbaiknya ini?

"Kau tidak perlu memikirkan hal ini begitu keras Yuta. Yang harus kau lakukan, percaya pada Hansol hyung dan jalani hidupmu seperti semula. Abaikan perkataan Taeyong yang sudah ia katakan, meskipun aku tak tahu apa yang sudah ia katakan, tapi jika itu buruk, maka lupakanlah. Itu berarti sekarang waktunya kau melupakan dan melepaskan cintamu pada Taeyong."

Yuta menatap Ten yang tersenyum lembut. Tangannya mengusap pipi Yuta yang basah.

"Sekarang, ayo kita pulang. Hansol hyung sudah menunggumu di apartmu."

Yuta hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.

.

.

Yuto membaca brosur di tangannya dengan seksama. Matanya menelusuri tulisan dan gambar yang ada di brosur itu satu persatu.

"Jadi, mana yang kau pilih? White University atau Blue University?"

Yuto mendongak, menatap Wooseok yang juga menatapnya. Tatapan keduanya terhenti ketika Yuto mengalihkan pandangannya.

"Yuta-nii kuliah dimana?"

"Blue University."

"Kalau kau?"

"Aku berniat mendaftarkan diriku di White University. Kenapa?"

Yuto menggeleng pelan sambil memandang brosur yang berada di tangan kanannya. White University, berarti jika ia kuliah disana ia akan sering bertemu dengan Taeyong. Sementara di Blue University, ia akan terus bersama Yuta. Tapi Wooseok akan berkuliah di White University, Yuto bingung harus memilih Yuta atau Wooseok. Loh?

"Sudah selesai berdiskusi?" Hansol menghampiri mereka berdua dan duduk di samping Yuto. Wooseok sendiri, duduk di sofa kecil. Jungwoo? Jangan tanyakan dimana anak satu itu berada jika malam begini.

"Belum hyung. Aku masih bingung mau masuk kemana." Yuto menghela nafasnya pelan.

"Aku pulang." Suara Yuta terdengar dan reflek ketiganya langsung berdiri. Hansol berjalan menghampiri Yuta dan tersenyum lebar menyambut kekasihnya itu.

"Dari mana saja? Aku menunggumu sedari tadi." Hansol mengacak gemas rambut Yuta dan membuat Yuta mendengus pelan.

"Kan aku sudah bilang akan mengerjakan tugasku dulu hyung. Tadi juga sempat berbincang sebentar dengan Ten."

"Berbicara tentang apa?"

"Bukan hal penting. Hanya masalah kuliah saja." Yuta menelan ludahnya gugup begitu Hansol menatapnya penuh intimidasi.

"Baiklah. Ayo kita makan malam. Yuto dan Wooseok pasti kelaparan karena menunggumu sedari tadi."

Hansol menggandeng tangan Yuta menuju meja makan, yang diikuti Yuto dan Wooseok di belakang mereka.

.

Setelah makan malam. Yuta memutuskan untuk mandi dan meninggalkan Hansol di ruang TV. Yuto sendiri keluar untuk mengantar Wooseok pulang.

Keluar dari kamarnya, Yuta langsung menghampiri Hansol dan duduk di samping kekasihnya itu.

"Sudah lebih segar?"

Yuta menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Hansol. Dengan segera, ia menyenderkan kepalanya pada bahu Hansol. Hansol sendiri hanya tersenyum dan turut membelai kepala Yuta yang masih terasa basah.

"Kau yakin membiarkan Yuto pulang ke Jepang?"

Yuta melirik ke arah Hansol yang matanya masih mengarah pada televisi di depannya.

"Yuto mengadu padamu?"

"Iya. Dia juga meminta padaku dan teman-temannya untuk meyakinkanmu agar tidak menyuruhnya kembali ke Jepang."

Yuta mendesah, adik sepupunya itu terlalu merepotkan banyak orang hanya untuk hal kecil seperti ini.

"Aku hanya tidak ingin dia selalu aku abaikan hyung. Aku sedang sibuk-sibuknya kuliah, lebih baik dia kembali ke Jepang kan, bermain dengan teman-temannya dan membantu orangtuanya."

"Tapi Yuto ingin di sini Yuta. Ingin selalu menemanimu dan selalu mendukungmu. Dia juga sudah punya teman di sini, lagipula orangtuanya juga sudah setuju jika ia melanjutkan kuliahnya di sini."

Yuta mendongak dan mendapati Hansol yang menatap dalam ke arahnya. Menangkup pipi Yuta, Hansol memberikan kecupan kecil pada bibir pemuda manis itu.

"Percaya padaku. Yuto akan baik-baik saja berada disini. Ada aku, Wooseok, Jungwoo, dan kau yang akan menjaganya kan?"

Yuta mengangguk, kemudian menenggelamkan tubuhnya pada pelukan Hansol.

"Baiklah. Aku percaya padamu hyung."

Hansol tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Yuta.

Yuto dan Wooseok yang sedari tadi mengintip akhirnya bisa bernafas lega. Mereka bersorak senang dan akhirnya benar-benar keluar dari apartemen milik Yuta.

"Ayo, kita ke kamar Jungwoo sekarang. Anak itu pasti sudah kembali dari tempat Johnny hyung."

Yuto mengangguk dan mengikuti Wooseok yang berjalan di depannya. Keduanya harus berterimakasih pada Jungwoo sekarang.

.

.

.

TBC

.

.

.

Big Thanks To :

Tabifangirl, Doraeyoyuta, wakaTaeYu, guest, kiyo, YutaMochie, Yuta Noona, Unnayus, Pika WarbenJaegerManJensen, ChiminChim, and Yutae zw.