Author Note : Mohon maaf sebesar-besarnya bagi para pembaca. Semua pasti berpikir saya lagi writer's block. Salah. Sangat salah. Bukan itu penyebab saya lama update. Tepatnya saya lagi bertapa alias meditasi tentang diri pembaca terhadap diri saya. Apakah saya melakukan kesalahan sampai mereka tidak mau review?
Karena setelah saya membukan akun fanfic saya, ternyata tiga jam setelah rilis bloody agent, kisah kasih di sekolah bahkan girls are better than boys ini, yang mengunjungi sudah 300 orang lebih dan yang melihat nyaris 400 orang untuk setiap fanfic. Tapi yang mereview hanya pembaca setia saja. Bisa dikatakan hanya sebagian kecil dari banyak readers.
Makanya saya heran, apa susahnya memberi review, ya? Karena itulah saya terpaksa tunda dulu sambil menunggu jadwal update yang tepat. Sejujurnya saya bukan author gila review. Kalau fanfic saya memang jarang dikunjungi dan jelek, wajar tidak ada yang mau review. Tapi kalau sebanyak itu dikunjungi, berarti fanfic ini bukan standar jelek. Saya jadi sedih, pembaca. Padahal jika mereka mau memberi kesan ataupun saran, itu 'kan bisa jadi pemacu semangat, HUWEEEEEEE!
Ah, sudahlah. Ini jawaban review kalian! cekidot!
.
Akrisna Rengga D
Terima kasih atas dukungannya. Dan tentu saja perkelahian dengan Shichibukai tidak akan berhenti sampai Hancock resmi lepas dari genggaman Doflamingo. Soal peran KouVi dan UsoKa, di chapter ini ada kok. Lihat aja nanti.
Vira D Ace
Dimana ada Kuina, Sabo dan Ace, maka akan ada kenistaan yang terjadi. Sampai kerikil pun ikut terlibat, hahaha! Di chapter ini, sesuai judulnya, mungkin lebih kental di romance kali, ya? Yah, tentukan saja sendiri, heheh.
Guest
Aduuuh, terima kasih banget atas pujiannya. Ayo segera baca chapter ini agar rasa penasarannya hilang.
Rara-chan
Doffy memang pengecut. Beraninya berkelahi keroyokan tapi saat monster Rayleigh datang, dia malah kabur, hahaha! Terima kasih juga atas dukungannya, ya.
Memang bener! Rayleigh itu kerjanya cuma mengganggu saja *Nunjuk Rayleigh yang sibuk baca koran*! Tapi di chapter ini Rayleigh tidak akan menganggu, heheh.
MUN
Luffy 'kan polos soal cinta. Mana dia tahu perasaan Hancock. Terkadang saya kasihan juga memasangkan kerja Hancock dengan si idiot itu, haha!
Ryuu
Chapter diperpanjang lagi? Pingsan saya! Coba baca chapter 11 ini. Tentukan saja sendiri apa lebih panjang atau mungkin malah lebih pendek. Terima kasih atas reviewnya.
Aizen
Alvida memang cocok jadi rival cinta Hancock, 'kan? BUAHAHAHA! Yosh, silakan baca bagian kesebelas ini. Maaf kalau bagian kesebelas agak jelek.
Gilank
YOSHAA! SEMANGAT 45 KEMERDEKAAN! Terima kasih atas pujiannya!
Shona Namikaze
Aduhh, maaf ya lama update. Sudah saya buat alasannya diatas. Harap maklum, deh. Untuk menghilangkan rasa gregetnya, ini sudah update kok.
Ryo
Sekali membuat fanfic, selama apapun harus diakhiri. Itu prinsip saya. Cerita ini akan terus berlanjut sampai tamat.
.
Selesai. Bagi yang berakun, sudah dibalas lewat PM. Sekarang, langsung scrool down dan read.
.
Disclaimer : Oda Eiichiro
GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!
Chapter Eleven : Jealous
By Josephine La Rose99
.
.
Note :
Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.
OOC, miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!
Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.
Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.
Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.
Happy reading!
.
.
.
.
.
.
GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!
CHAPTER ELEVEN
JEALOUS
By Josephine La Rose99
.
.
.
"Dimana lokasinya?" tanya Kaya sekali lagi untuk memastikan. Karena jujur saja, dia tidak berniat untuk tersesat malam ini.
Vivi melirik sebentar ke layar ponsel, "Jalan Nobunaga 2 blok 4…"
"…Berarti tidak jauh dari Shibuya, huh?" gumam Kaya pelan. Jalan Nobunaga ternyata bisa dikategorikan tetangga dekat dari pusat perbelanjaan terkenal itu.
"Tapi, aku bingung. Kenapa Hancock menyuruh kita kesana malam-malam begini?"
Bingung dengan percakapan diatas? Penulis saja mungkin bingung jika tidak dijelaskan. Percakapan diatas adalah percakapan antara Vivi dan Kaya dimana mereka berdua sedang menuju café Canataria, tempat dimana ketiga sahabat mereka sedang kerja sambilan sedari pagi.
Sesuatu membingungkan terjadi ketika Vivi mendapat kiriman e-mail dari Hancock. Cewek itu memintanya untuk menjemputnya pulang. Tapi kalau Vivi tidak salah, tadi pagi Hancock, Nami dan Robin pergi dengan mobil pribadi Nami. Kenapa harus dijemput segala? Apa terjadi sesuatu? Ini sudah jam 9 malam! Apa mereka lupa kalau besok gladiresik festival?
"Entahlah. Pasti terjadi sesuatu yang buruk disana sampai dia menyuruh kita menjemput mereka," tebak Kaya malam berasumsi terlalu jauh. Lagipula alasan logis apalagi selain itu yang cocok dengan kondisi Hancock sekarang? "Hei, Vivi, ke kanan atau lurus saja?" tanya Kaya begitu melihat percabangan jalan.
"Lurus," jawab Vivi singkat.
Kaya pun segera mempercepat laju mobil. Tetapi kemudian sudut matanya menangkap keberadaan mobil putih dibelakang mereka dan mencoba untuk mendahului. Kecepatan mobil itu terlalu kencang untuk berkendara di jalan tol yang sepi. Apalagi mobil putih sial itu sampai membunyikan klakson beberapa kali segala. Seperti terburu-buru.
Bukan hanya Kaya, Vivi juga ikut kesal. Spontan cewek rambut biru itu membuka jendela mobil lalu melongok ke belakang. Dia berteriak, "HEI, APA-APAAN KAU!? KAU TIDAK LIHAT PAPAN PERINGATAN TADI!? KECEPATAN MAKSIMAL HANYA 45 KM/JAM, SIALAN!"
Teriakan Vivi barusan membuat Kaya menyengir. Diliriknya speed meter mobil dan panah merah tepat menunjuk angka 60.
Vivi bodoh. Sebelum dia berteriak begitu, seharusnya dia menyadari dulu berapa kecepatan mereka.
Lupakan rutukan Kaya. karena sekarang Vivi baru menyadari sesuatu ketika terus memerhatikan siapa yang dia teriaki. Bukan soal kecepatan mobil, tapi nomor plat mobil putih tersebut. Serius, nomor plat itu tidak asing. Dia pernah melihatnya di suatu tempat mungkin?
Sebelum dia memikirkan kepemilikian mobil tersebut, mobil itu justru menambah kecepatan sehingga sekarang mereka berada pada posisi sejajar. Kurang dari lima detik, jendela depan mobil itu terbuka dan akhirnya memperlihatkan siapa yang mengemudi. Cowok berkacamata hitam, huh? Berkaca mata dalam keadaan gelap? Dia pasti sudah gila atau tipe cowok yang suka menarik perhatian.
"Yo!" teriak cowok itu, memamerkan gigi.
Kaya dan Vivi terkejut. Itu Kouza! Kenapa dia bisa—
"Kouza?" gumam Kaya tidak percaya. Dia langsung membuka jendela mobil samping pengemudi agar suara dia terdengar, "Hei, apa yang kau lakukan disini!?"
Dengan santai Kouza membalas, "Seharusnya aku yang mengatakan begitu! Kenapa para gadis berada di jalan tol di malam tenang, huh?"
"Itu bukan urusan—" seruan Kaya berhenti seketika melihat penampakan seseorang yang duduk disebelah Kouza. Hei, tunggu! Laki-laki itu, 'kan—"USOPP-SAN!? KAU JUGA!?"
Cowok itu cuma melambai tidak jelas pada Kaya sementara Kouza melanjutkan pembicaraan, "Kau tahu, tidak etis untuk bicara di jalan tol! Lihat ponsel kalian dan kalian akan menemukan e-mail dariku! Baca saja!" setelah berkata seperti ini, Kouza segera menutup jendela mobil kembali. Lalu dia pun melaju kencang meninggalkan para panitia cewek festival kota.
Kriinggg Kriinggg! Bunyi tanda masuk e-mail berasal dari ponsel Vivi. Tanpa membuang waktu, cewek itu tahu ini pasti dari Kouza. Jadi dia langsung membacanya agar Kaya yang sedang menyetir juga mendengarnya.
"Aku diminta Sanji untuk menjemput mereka di café Rayleigh-sensei. Kalau tidak, mana mau aku repot-repot keluar malam begini, 'kan? Lalu bagaimana dengan kalian?" begitulah isi e-mail dari Kouza.
Kerutan pada dahi Kaya terlihat jelas, dia tampak berpikir. Kouza mengatakan Sanji memintanya dan Usopp untuk menjemput mereka di café Rayleigh. Café Rayleigh katanya? Sebentar, kalau tidak salah ketiga sahabat mereka kerja sambilan dengan ketiga cowok sialan itu di café Canataria. Berarti café itu milik Rayleigh!?
Cih, baru sadar dia. Sekedar info, Kaya dan Vivi memang belum diberitahu soal itu. Karena seharian ini mereka tidak mendapat e-mail dari Hancock kecuali sms sial yang baru masuk 20 menit lalu. Itupun isinya cukup menyebalkan.
HEI, JEMPUT AKU DAN YANG LAIN DI CAFÉ BRENGSEK INI SEKARANG JUGA! JIKA DALAM WAKTU SETENGAH JAM KALIAN TIDAK DATANG, KUPASTIKAN AKAN KUKIRIM BOM KE RUMAH KALIAN!
Ck ck ck, kalian lihat sendiri, 'kan? E-mail macam apa itu? Dia minta tolong tapi malah pakai mengancam segala. Sampai membawa soal bom lagi. Vivi yang pertama kali mendapat pesan kematian tersebut, reaksi pertamanya adalah shock. Shock antara terkejut melihat pesan Hancock yang tumben semua dicapslock, atau karena takut temannya berganti status menjadi teroris. Karena itulah dia segera menghubungi Kaya untuk ikut serta menemaninya.
"Berarti bukan hanya kita saja yang bernasib sial, eh?" ucap Vivi memijat pelan keningnya. Sakit kepala memikirkan ini lama-lama.
Kaya sendiri cuma mendengus, "Aku tak percaya aku bisa bergabung dengan kelompok yang diketuai cewek aneh macam dia,"
Berani menjamin Hancock disana bersin seketika.
.
.
"AKKKHHHHHH! BRENGSEK, KENAPA AKU HARUS BERMALAM DISINI BERSAMA COWOK SIAL SEPERTIMU, MULUT KARET!?" Hancock berteriak kencang sambil menunjuk Luffy yang sedang berjongkok disampingnya.
Tepat sekali. Saat Luffy mengatakan yang sebenarnya terjadi di café tadi sore, Rayleigh tidak percaya. Malah pria itu menghukum mereka semua untuk berjaga malam. Mendengar hukuman tersebut, mereka berenam melongo dengan mulut menganga lebar. Ekspresi yang sangat tidak elit.
Tapi karena entah kenapa malam ini terasa sangat dingin. Padahal mereka bisa saja masuk ke kamar untuk tidur kemudian terbang ke dunia mimpi. Sayangnya, Luffy merengek pada Hancock untuk menemaninya diluar. Awalnya cewek itu menolak keras kalau Luffy tidak mengancamnya dengan memberi tahu teman-teman mereka soal 'foto spektakuler'.
Jelas Hancock melongo tidak percaya! Si mulut karet bodoh ini! Bisa-bisanya dia berkhianat dan malah berpihak pada ketiga senior kurang ajar itu! Rasanya Hancock ingin menonjok wajahnya sekarang. Hanya saja Luffy sudah lebih dulu menyeretnya ke café luar. Sementara yang lain bingung sendiri. Bingung ada gerangan apa diantara mereka berdua. Huh, belum tahu saja mereka, benar 'kan, pembaca?
Kembali ke situasi.
Luffy cuek saja mendengar rutukan Hancock. Dia lebih memilih mengupil daripada mendengar ocehan cewek yang tiba-tiba menggila. Ayolah, bermalam sehari apa susahnya? Lagipula mereka juga disediakan kamar didalam café. Bukan berarti mereka harus tidur diluar, 'kan?
Memang dasar otak pentium satu si mulut karet. Terang saja Hancock tidak mau tidur karena mereka berenam ditempatkan di satu kamar! Memang tempat tidurnya terpisah, tapi tetap saja Hancock tidak mau. Heleh, padahal begitu-begitu dia malah pernah tidur satu ranjang dengan Luffy. Lebih parah, saudara-saudara.
"Hancock, sudahlah. Percuma saja kau merutuk begitu. Kau lupa Rayleigh-san tidak mau mendengar penjelasan kita?" celetuk Nami. Benar-benar menyakitkan telinga mendengar gerutuan Hancock sepanjang malam. Ingin sekali dia menjejalkan sepatunya pada mulut sial ketuanya. Tapi adanya malah dia pula yang bisa-bisa berakhir tragis malam ini.
Sang ketua akhirnya menyerah kalah, kembali duduk di kursi café. Ekspresi kesalnya masih belum hilang dari wajahnya. Malas melihatnya terlalu lama, Nami kemudian melirik Robin. Cewek itu sedang duduk sambil membaca buku ditemani secangkir kopi beserta Zoro setia disampingnya. Yah, malam-malam begini mereka berpikir lebih baik berada di café bagian luar sambil melihat pemandangan langit mala—
Eit eit eit eit, tunggu dulu. Coba ulangi lagi. Zoro? Zoro setia disampingnya? 'Nya' ini maksudnya Robin? Ya, pasti dia! Tidak mungkin menemani penulis. What the-?! Kenapa dia melakukan itu!? Ck, daripada penasaran, mending kita dengarkan percakapan pribadi ZoRobin untuk sementara.
"Zoro, aku sudah katakan padamu tidak ada apa-apa diantara aku dan Law," Robin meletakkan cangkirnya sambil tersenyum kecil pada Zoro. Soalnya cowok ini selalu protes tentang apa yang terjadi saat mereka bekerja. Pertama, momen pelanggan pria bertampang kriminal penguasa dunia. Kedua, insiden datangnya Law. Lalu ketiga, dia berjanji akan kembali bekerja setelah lima menit mengobrol dengannya, tapi ternyata malah keasyikan sampai lupa waktu.
"Oh ya, lalu kenapa kalian mesra sekali tadi siang?" Zoro masih belum percaya, saudara-saudara. Sekarang suasana mereka berdua layaknya polisi sedang menginterogasi penjahat kelas kakap.
"Mesra?" Robin mengulang omongan Zoro sebelumnya. Dia terkekeh pelan, tidak menyangka pemikiran bodoh itu bisa mampir di kepala si lumut, "Mesra dari sudut mana?"
"Mesra dari segala sudut," jawaban spontan dari Zoro ini berhasil membuat Robin tertawa terbahak-bahak.
Astaga, ternyata Zoro kalau cemburu manis juga! Begitulah pikir Robin.
Karena mendengar tawa Robin inilah, akhirnya keempat orang tersisa jadi tertarik untuk menguping lebih jauh. Terutama Sanji. Melihat rona tipis di pipi Robin dan rona hebat di pipi Zoro sukses buat dia panas dingin. Penasaran saja dia apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ke-kenapa kau tertawa?" Zoro sangat malu! Dia tak percaya dia baru saja mengakui bahwa dirinya cemburu! Yah, walaupun tidak langsung. Kyaaa, andaikan Kuina ada disini sekarang, pasti JAUH lebih seru!
Sambil menahan tawa dengan tangan lentiknya, Robin menjawab, "Fufufu, tidak, tidak ada. Aku hanya baru menyadari kamu itu sangat manis kalau sedang cemburu,"
BLUSH.
"A-aku tidak cemburu!" huh, mengelak lagi dia, eh? Sudahlah, akui saja, nak Zoro. Kau beruntung malam ini ketiga detektif kurang kerjaan itu tidak di café malam ini karena ditendang keluar oleh Rayleigh. Kalau tidak, wajah tomatmu ini pasti sudah diabadikan dalam bentuk foto.
Penulis berani meyakinkan pembaca kalau sekarang Robin makin tertarik pada Zoro karena dia mudah dipancing emosinya, "Akui, kenshi-san. Kau cemburu, 'kan?"
"Sudah kubilang aku tidak cemburu! La-lagipula kenapa aku harus cemburu pada cowok sialan itu karena mendekatimu!?" Zoro tidak berani melihat wajah Robin. Dia menoleh kearah lain agar cewek itu tidak bisa melihat wajah tomat busuknya.
"Hee~~, benarkah~?" goda Robin lagi.
"Berani kau mengatakannya sekali lagi, kau akan—"
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa mengungkit Law?" celetuk Sanji.
Pembicaraan terputus. Disisi lain Zoro harus bersyukur si alis pelintir menyela pembicaraan sehingga dia bisa lepas dari penekanan godaan Robin.
"Kau tahu Law?" tanya Robin.
"Mudah saja, 'kan? Law adalah teman Kakak Luffy sejak SMP. Makanya kami berlima cukup dekat dengannya," jawab Sanji santai dan apa adanya, "Tapi kenapa kau bisa mengenalnya?"
Robin tersenyum tipis, "Law adalah teman masa kecilku. Kalau kalian bilang hubungan kalian cukup dekat, maka hubunganku dengannya sangat dekat,"
Sangat dekat. Uh-huh, dua kata itu digaris bawahi oleh Zoro. Sepertinya dia mulai waspada akan hal yang tidak mungkin sekali dia waspadai.
"Oh, begitu. Pantas saja kau terlihat akrab dengannya," gumam Sanji kilas balik. Karena sebenarnya dia juga melihat Robin mengobrol dengan Law sebentar sore tadi. Dia pun juga bingung kenapa Robin asyik bercengkerama sementara Zoro menghilang entah kemana. Tapi dia gak terlalu peduli soal itu. Mau dimana dan mau apa kepala lumut sialan itu, kepeduliannya hanya untuk Nami seorang, gyahahaha!
Tepuk tangan pembaca sekali sebagai pertanda pergantian suasana. Karena dua belas pasang mata melihat dua mobil mewah membunyikan klakson dari arah gerbang masuk. Otomatis kedatangan kedua mobil itu membuat Sanji bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu masuk ruangan manajer. Didekat pintu tersebut ada dua tombol bewarna hijau, lalu yang satu lagi bewarna merah. Segera Sanji menekan tombol hijau kemudian taraaa! Pintu gerbang terbuka! Teknologi memang semakin berkembang, eh?
Seketika halaman café yang hanya diterangi lampu taman menjadi lebih terang karena sorot lampu mobil. Sementara itu Luffy keheranan sambil melirik Sanji yang dengan santainya bergabung bersama keempat orang lainnya menyambut pemilik mobil tersebut. Semudah itu membuka gerbang tanpa tahu siapa? Kalau Rayleigh disini, mereka bisa dihukum jaga malam selama seminggu.
Klap… Blam! Bola mata Luffy nyaris keluar dari tempatnya saat mengetahui yang keluar adalah teman-temannya sendiri. Hei, kenapa dia tidak diberitahu soal ini? Malah dengan santainya keempat orang itu bergabung bersama Sanji dan yang lain.
"Yo!" sapa Usopp sumringah.
"Hahaha, maaf, Usopp. Merepotkan kalian berdua di malam larut begini," kata Sanji kikuk sambil mengusap tengkuk.
"Ya, tidak masalah. Lagipula siapa sangka kedua Shichibukai itu sampai mengacau disaat kalian kerja sambilan?" balas Kouza.
"Tunggu dulu, tunggu dulu!" sela Luffy membentuk silang dengan tangannya. Spontan mereka semua menoleh pada sang ketua OSIS Tokyo Galaxy, "Siapa yang menyuruh kalian kemari?"
Tidak butuh waktu lama bagi KouSopp menunjuk Sanji dan ViYa menunjuk Hancock.
Luffy sweatdrop. Berarti anggotanya seenaknya memanggil 'bala bantuan' tanpa izin darinya? Ceh, lagipula kalau dipikir-pikir, siapa juga yang butuh izin dari ketua bodoh sepertinya, hah!?
"Dan untuk apa kalian dipanggil kemari?"
"Menjemput kalian, 'kan? Apa lagi?" balas Vivi mengangkat bahu sedikit.
"Menjemput?" gumam Luffy sambil beberapa kali mengedipkan mata. Empat detik setelahnya, barulah si idiot itu sadar, "Hei, tapi kami bisa disini karena Rayleigh-sensei yang menyuruh! Kalau kita pergi dari sini, siapa yang menjaga cafénya?"
Sanji mendecak kesal. Bisa-bisanya ketuanya itu memikirkan nasib café terkenal jika ditinggal pergi. Café ini dilengkapi alarm anti pencuri termutakhir. Dilengkapi gerbang yang hanya bisa dibuka dengan kendali jarak jauh. Bahkan pagar besi disekeliling café juga cukup tinggi sehingga sulit dipanjat. Apa yang perlu dikhawatirkan?
"Oi, Luffy. Pria tua itu tidak ada disini sekarang. Lebih baik kita segera pergi," ucap Zoro menarik lengan Luffy menuju mobil. Tapi Luffy memberontak kemudian melepas tangan Zoro dari lengannya.
Zoro tentu saja tidak habis pikir dengan apa yang di kepala Luffy. Si bodoh ini masih kukuh soal hukumannya, "Pokoknya aku tidak mau! Aku akan tetap tinggal! Kalau kalian mau pergi, pergi saja!"
"Baiklah kalau itu maumu. Berjagalah sambil ditemani nyamuk malam," sahut Hancock tidak peduli dan memilih membuka pintu mobil Kaya. Sekarang dia harus memikirkan jalan keluar dari sini untuk kembali ke rumah, masuk ke kamar, lalu tidur.
Mana mau dia menghabiskan malamnya di tempat asing begini! Itu sangat bukan Boa Hancock sekali!
"Luffy, jangan keras kepala. Ayo, pulang," Robin berusaha membujuk, tapi digubris.
"Sudah kubilang aku tidak mau! Lagipula aku bisa meminta Alvida untuk menemaniku disini!"
ZLEBBB! Suara imajiner panah menusuk telak di dada menghampiri Hancock. Apa katanya tadi? Alvida? Bukankah itu cewek sialan yang memaksa Luffy agar tidak bekerja? Kenapa si mulut karet mengungkit-ungkit namanya? Yup, itulah isi pikiran Hancock sampai-sampai keluar aura membunuh dari seluruh tubuhnya. Sukses buat Vivi menjauh saking takutnya dan berpikir 'Kenapa dia berubah jadi mode setan begini?'.
"Alvida?" Hancock mendengar Zoro juga bingung, "Kenapa dengan cewek sok cantik itu?"
"Dia bilang kalau aku kesepian, aku bisa memintanya datang bersama Buggy dan yang lain. Jadi walau kalian pergi, aku tetap ada teman untuk berjaga," jawab Luffy santai. Tidak sadar dia Hancock sudah menyeramkan begitu, ck ck ck.
"Heeee, begitu, huh? Yah, kalau itu maumu, apa boleh—" tampaknya Kaya harus berhenti bicara karena aura-aura busuk menghampiri luar café. Mengerikan sekali! Seluruh bulu kuduk merinding seperti dipelototi sadako. Dari mana aura busuk ini berasal?
Setelah diusut, diteliti dan diterawang(?), ternyata eh ternyata aura-aura busuk itu berasal dari Hancock. Mode setannya benar-benar mengambil alih. Mata merah menyala, dua tanduk tiba-tiba muncul dalam imajiner masing-masing, dan yang paling berlebihan adalah api yang entah bagaimana bisa menyelimuti dirinya. Ini bahkan jauh lebih seram daripada mode setan Hancock yang biasanya. Hei, ada apa dengan ketua OSIS HAS ini?
Sementara teman-teman Hancock sedang saling berpelukan untuk SETIDAKNYA menghilangkan rasa takut yang tidak berkurang juga, dia sendiri malah menghela napas seperti orang tua renta. Tangannya yang awalnya masih pada kenop pintu mobil ditarik kembali lalu dengan santainya dia berbalik, menatap mereka semua.
Wajah malasnya muncul, "Aku tetap tinggal,"
"Eh?" gumam kesembilan orang itu serempak.
Apa kata Hancock tadi? Tetap tinggal? Langsung saja wajah Vivi dan Kaya mendadak horor. Perempuan sialan ini! Dia mengirim e-mail ancaman pengiriman bom seenaknya dan sekarang membatalkan seenaknya! Padahal susah payah mereka berdua datang kemari di larut malam begini! Cih, sudah cukup. Jangan hanya karena perempuan Boa ini ketua, Vivi tidak akan protes.
"Apa katamu, Hancock?! Jadi kedatanganku dan Kaya kemari sia-sia, begitu!?" seru Vivi emosi sambil menunjuknya.
"Berisik," balas Hancock singkat.
"Bukannya tadi kau bilang kau tidak tahan bermalam disini?" tanya Nami bingung melihat perubahan suasana Hancock yang tiba-tiba. Tadi mau pulang, sekarang tidak.
"Aku mengubah pikiranku. Kurasa si mulut karet benar. Kita dihukum dan harus menerima hukuman kita dengan baik," oh-hooo, alasan bagus, nak Hancock. Kau cukup pandai juga mengelak.
Hancock kemudian berjalan santai kembali ke kursi café luar dan duduk disana sambil sok memandang langit malam, "Lagipula, pemandangan malam disini cukup bagus. Tidak ada salahnya aku menginap semalam,"
OMONG KOSONG! Jangan kau kira mereka polos, Hancock. Robin sudah tahu apa alasanmu untuk tetap tinggal. Dengan analisis jeniusnya bak detektif, sang kutu buku sudah tahu apa penyebab sang ketua berubah pikiran. Pasti karena omongan Luffy barusan.
Membawa Alvida dan kawan-kawan kemari sama saja akan terjadi hal yang sama saat mereka bekerja tadi pagi. Alvida merangkul lengan Luffy lalu bercanda mesra (yah, setidaknya ini bagi Hancock), kemudian Luffy yang memberi cengiran khas polosnya itu. Pasangan cocok untuk membuat ketuanya cemburu berat.
Lain hal dengan si bodoh Luffy. Cowok idiot itu malah kesenangan karena Hancock mau tetap bermalam. Spontan dia langsung menggenggam tangan Hancock sambil tertawa, "Hahaha, terima kasih, Hancock!"
Sudah Robin duga. Wajah tomat ketuanya itu adalah jawaban dari pertanyaan spekulasi otaknya. Kalau begitu, sekarang saatnya Robin menganalisis fakta yang terjadi pada Hancock seharian ini.
Fakta 1 : Hancock terlihat cuek mendengar dia dipasangkan kerja dengan Luffy. Tapi saat mulai bekerja, dia malah senyum-senyum tidak jelas.
Fakta 2 : Saat kedatangan Buggy, dia terlihat marah melihat Alvida menggoda Luffy.
Fakta 3 : Pergi sambil menghentakkan kakinya karena Luffy memilih mengobrol dengan Alvida daripada bekerja.
Fakta 4 : Setiap kali mengantar pesanan pelanggan yang kebetulan dekat dengan posisi Buggy dan kawan-kawan, dia pasti sesekali menatap tajam Luffy dan Alvida yang menurutnya sok romantis tapi sangat menjijikkan.
Fakta 5 : Tiba-tiba menolak pulang setelah Luffy menyebutkan Alvida akan menemaninya malam ini.
Kesimpulannya apa? Kesimpulannya adalah HANCOCK MENYUKAI LUFFY! Hahaha, Robin otomatis terkikik karena menurutnya itu lucu! Jelas-jelas dia tahu kedua orang itu selalu bertengkar, mengejek satu sama lain. Dan sekarang justru salah satu dari mereka sedang jatuh cinta pada satu lainnya. Memang momen terbaik.
"Kalau Hancock disini, maka aku juga," sahut Robin malah ikutan.
"APA!?" ini teriakan tidak rela kedua supir dadakan Hancock.
"Baiklah, kalau begitu aku juga," sambung Nami mengangkat tangan layaknya sedang diabsen.
"Nami-san disini maka aku juga disini untuk menjaganya," tebak siapa.
"Bagaimana denganmu, Zoro?" tanya Kouza.
Zoro mendesah napas pasrah. Tidak ada jalan lain selain mengikuti permintaan ketuanya, "Hn, aku tetap tinggal,"
"Hei, hei, tunggu dulu! Apa-apaan kalian!? Jadi apa gunanya kami kemari!? Tahu begini, lebih baik aku tidur di rumah!" Vivi masih betah dengan aksi mengomel.
"Ck, kalau begitu kenapa kalian tidak ikut bermalam juga disini bersama kami?" celetuk Hancock tanpa merasa bersalah sama sekali. Otomatis celetukannya tadi membuat kedua cewek itu sukses mematung.
.
.
Beri tepuk tangan pembaca pada keputusan TERPAKSA Vivi dan Kaya untuk mendudukkan bokong mereka di salah satu kursi café. Bertopang dagu malas dan ekspresi datar sambil melihat ketiga pasangan kerja bodoh yang malah duduk terpisah. LuHan duduk di lantai café sambil bersandar pada kursi. ZoRobin duduk di sisi kanan café luar sedangkan SaNami di sisi kiri. Tidak ingin momen diganggu orang lain, eh?
Dan bicara soal pasangan, sebenarnya Kouza dan Usopp juga sedang duduk bersama mereka. Perbedaan yang paling mendasar adalah setidaknya mereka tidak memecah belah begitu. Kedua cowok itu setia menemani mereka sambil mengobrol atau tepatnya menebak-nebak apa yang terjadi selama waktu kerja sambilan.
"Hei, menurut kalian Hancock bertingkah aneh, tidak?" tanya Vivi penasaran mendengar pendapat orang lain.
Usopp mengangguk-angguk kecil, "Sangat aneh menurutku. Kau, Kouza?"
"Dia memang aneh dari dulu, 'kan?" jawaban asalnya ini langsung ditanggap dengan tabokan dari Vivi.
"Bodoh! Maksudku itu apa kalian menyadari perubahan suasana Hancock setelah Luffy menyebut nama seorang cewek?" lanjut Vivi lagi gemas, "Siapa namanya tadi? Alrida? Maltilda? Apa?"
"Maksudmu Alvida?" balas Usopp. Vivi segera menjetikkan jarinya tanda 'Aha! Itu dia!'.
Kouza mendengus kasar. Membiarkan dirinya bersandar santai pada kursi sambil sesekali menjengitkannya. Tampak kerutan mampir di dahi sekaligus wajah sok berpikir keras. Ekspresi itu sangat tidak cocok untuk Kouza yang paling malas memikirkan apapun yang menurutnya tidak penting, "Alvida, huh? Cewek itu memang penggemar berat Luffy dari dulu. Saking sukanya pada Luffy, cewek itu rela mengejarnya sampai SMA. Padahal ujian masuk Tokyo Galaxy 'kan sulit,"
Bibir Kaya langsung membulat dan wajahnya merona. Mendengar pengejaran cinta sejati sampai rela mengalahkan semua rintangan sangat mirip dengan drama komedi cinta kesukaanya. Ternyata cinta itu memang ada di dunia ini. Dan satu lagi, dia juga baru tahu kalau Luffy sepopuler itu mengingat wajahnya abstrak begitu. Tepuk kaki untuk anak Dragon, prok prok prok.
"Berarti kesimpulan dari omongan Luffy tadi, Alvida sempat datang kemari saat mereka bekerja?"
"Yah, pasti begitu, 'kan, Usopp-san? Kalau tidak, untuk apa Luffy repot-repot menyebutkan nama cewek?"
"Tapi Kaya, tetap saja itu masih belum menjelaskan apa yang terjadi. Kenapa Hancock mendadak berubah pikiran? Apa dia kenal dengan Alvida sebelumnya?"
Gumaman 'Hmmmmmm….' terpecah diantara mereka berempat. Mengakumulasikan kemungkinan yang ada menjadi fakta yang sebenarnya. Tapi belum diketahui juga. Ck, perempuan memang sulit dimengerti. Atau mereka saja yang terlalu bodoh untuk menyadari?
"Ah, sudahlah! Untuk apa kita pikirkan? Yang terpenting teman-teman kita baik-baik saja saat kedua Shichibukai sialan itu datang," celetuk Kaya.
"Yah, kau benar juga…" gumam Kouza setuju.
"Kalau begitu kita ganti topik," sambung Usopp, "Kaya, besok kau ada waktu?"
Eh? Ada waktu? Apa maksud si pinokio?
"Errr, bukannya besok kita melihat-lihat perlengkapan festival sebelum dimulai lusa nanti?" kali ini Kaya bingung. Apa jangan-jangan teman masa kecilnya ini terkena serangan pikun atau amnesia dadakan? Dia panitia juga, 'kan? Yang benar saja dia bisa lupa.
"Maksudku, setelah menyeleksi perlengkapan selesai, ada waktu tidak?"
Kaya terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak ada. Memangnya kenapa?"
Terlihat Usopp sedikit gugup mengutarakan maksudnya. Dan begitu dia ingin mengatakannya, matanya menangkap perubahan mimik Kouza dan Vivi yang awalnya penasaran jadi senyum mesum. Apa-apaan?
"Ada apa?" Usopp bertanya heran.
"Ah, tidak ada apa-apa. Kalau kau butuh waktu berdua, kami bisa memberikannya," ucap Kouza sambil melirik Vivi, semacam pemberian kode.
"Ya, itu pun jika kau mau…" balas Vivi menaikkan alis genit.
Lain hal dengan Usopp yang mati-matian ingin mendamprat kedua orang ini, Kaya malah memiringkan kepala, pertanda dia tidak mengerti. Waktu berdua? Maksudnya apa? Ck ck ck, masih polos ternyata perempuan ini. Sepertinya dia harus banyak belajar dari Robin.
Sudahlah, daripada terfokus pada obrolan tidak jelas keempat orang diatas, mending sekarang kita turun ke TKP sebenarnya.
.
Sanji-Nami
.
"Jadi, berapa banyak cewek yang berhasil kau cium hari ini?" pertanyaan Nami satu ini sukses menohok jantung Sanji sampai dia nyaris tersedak karena kaget. Kenapa tiba-tiba dia bertanya begitu?
"Ci-cium? Maksud Nami-san?"
Nami mendecak kesal. Dia baru tahu Sanji suka mengulur-ulur pertanyaan, "Tidak usah pura-pura bodoh. Aku tahu banyak pelanggan wanita yang kau goda hari ini,"
Sanji garuk-garuk kepala, merasa kikuk ditodong pertanyaan macam itu. Tapi mendadak dia menyadari sesuatu. Spontan dia langsung tersenyum manis ada Nami, "Kau tak perlu khawatir, sayang. Aku tidak akan berpindah hati darimu,"
"Hah?"
"Kau tahu, cemburu adalah sikap wajar. Tidak apa-apa. Lagipula itu bisa diartikan bahwa kau suka padaku,"
Krik-krik, krik-krik…
"…."
"…Nami-san?"
"…. Teme… kau minta dihajar juga, ya?"
.
Zoro-Robin
.
"Sudah kukatakan, Law itu hanya teman," beda lagi dengan pasangan bodoh satu ini. Dari tadi mereka malah asyik membicarakan Trafalgar Law yang notabene sedang tidur kingkong di rumah.
"Kenapa kau mengungkit dia?" Zoro membalas emosi tingkat tinggi.
"Kamu masih marah, 'kan? Lihat, dari tadi kamu tidak mengeluarkan satu kalimat pun dari mulutmu. Itu artinya kamu masih marah padaku soal tadi,"
Zoro terdiam. Malas dia melayani elakan Robin.
"Aku minta maaf karena aku tidak kembali kerja bersamamu tadi siang. Aku sudah lama tidak mengobrol dengannya," Robin masih terus berusaha membujuk Zoro untuk memaafkannya. Karena jujur saja, ternyata Zoro mengerikan juga kalau marah. Seram saja dia.
Zoro masih stay membisu. Istilah dia sekarang adalah MENGAMBEK. Sangat bukan Roronoa Zoro sekali. Tapi kalau dipikir-pikir dia tidak salah. Coba bayangkan disaat kalian bekerja kelompok, kalian sendiri yang bekerja sementara anggota kalian hilang entah kemana. Pasti kesal, bukan? Penulis paham perasaan Zoro karena penulis sering ditunjuk jadi ketua kelompok, hiks.
"Be-benar tidak ada hubungan apa-apa, 'kan?" gumam Zoro pelan. Saking pelannya, mungkin masih kalah dari suara jangkrik yang bersahutan.
"Eh?"
Sial. Tidak bisa dielakkan lagi kalau Zoro menggeram kesal sekarang. Dia sendiri juga bingung ADA APA DENGAN DIRINYA INI!?
Melihat Zoro menoleh ke arah lain, Robin tersenyum tipis, "Iya, tidak ada. Jadi sekarang kau tidak cemburu lagi?"
Zoro tersentak kaget, "Sudah kubilang aku tidak cemburu, perempuan sial!"
Robin hanya tertawa.
.
Luffy-Hancock.
.
"Hei, Hancock. Menurutmu bagaimana soal Alvida?"
Ini dia. Pertanyaan yang PALING Hancock tidak dinanti-nanti. KENAPA SI BODOH INI TIBA-TIBA BERTANYA SOAL CEWEK BRENGSEK ITU!? Sudah jelas dirinya rela bermalam demi si cewek brengsek tidak datang kemari. Mana tahan dirinya mendengar kabar polos Luffy yang mungkin saja mengatakan 'Tadi malam, Alvida merangkulku' atau 'Alvida bilang dia rela menemaniku sampai kapanpun' atau yang paling terparah 'Alvida menemaniku tidur seperti kita waktu itu'.
GYAAAAAA! ORANG BODOH MANA YANG TAHAN!?
"Kenapa dengan dia?" tanya Hancock malas. Ogah-ogahan istilahnya.
Luffy menyengir, "Dia orang yang baik, 'kan? Bahkan saat aku makan es krim tadi, dia menyuapiku,"
Rasanya Hancock kedatangan besi 10 ton yang menimpa kepalanya saking kagetnya. Apa katanya tadi? Menyuapi? Menyuapi? MENYUAPI LUFFY!? Oh, tidak bisa dibiarkan! Kalau Hancock bertemu dengan cewek bernama Alvida itu lagi, dipastikan dia akan membunuhnya.
Mari berdo'a untuk keselamatan Alvida, para pembaca.
"Dia menyuapimu!?" seru Hancock tidak terima.
Luffy spontan terjengkang karena reaksi Hancock menurutnya berlebihan, "I-iya, memang kenapa? Apa itu salah?"
"SALAH!" telinga Luffy nyaris tuli sesaat.
"Sudahlah, kami 'kan berteman. Jadi kuanggap menyuapi itu soal wajar,"
"Wajar dari sisi mana, bodoh? Aku yakin dia pasti suka padamu!"
"Oh, jadi menyuapi itu tanda suka, ya?" tanya Luffy polos.
"Jelas, 'kan!?" tahan dulu, Hancock. Belum saatnya menghajar Luffy.
Astaga, dia tidak menyangka cowok ini kelewat polos. Beda sekali dengan kedua Kakaknya yang terlalu berpikiran dewasa. Sejujurnya Hancock ragu Luffy anak Dragon, saudara-saudara.
"Lalu, Hancock, kita yang tidur bersama waktu itu bagaimana?"
"…"
"…"
"… Eh?"
Waktu berhenti di dunia Hancock. Diberi pertanyaan bodoh semacam itu, bagaimana Hancock menjawabnya? Apalagi dilihatnya ekspresi polos penasaran Luffy yang masih menunggu jawabannya. Ayo, ayo, berpikir!
"Errr, kalau yang itu lain soal. Kita hanya tidur karena kau ingin menenangkanku, bukan? Jadi tidak ada hubungannya dengan perasaan Alvida padamu,"
Ya, jawaban bagus, Hancock! Begitu batinnya lega.
"Oh, kalau begitu, besok aku bisa minta Alvida menemaniku tidur, 'kan?"
TING!
"BODOH! JELAS TIDAK BOLEH, 'KAN!?" wah wah wah, emosi Hancock makin tersulut. Sementara Luffy sudah seram sendiri.
"Ta-tapi tadi katamu—"
"Kalau aku tahu cewek brengsek itu didekatmu lagi, aku akan menghajarmu!" ancam Hancock.
"Kenapa begitu?" jiah, Luffy masih belum mengerti juga.
"Ya, karena aku cem—…"
Astaga! Nyaris saja! Nyaris saja seorang Boa Hancock mengakui dirinya CEMBURU! Beruntung dia mengatupkan bibirnya agar tidak kelepasan lagi. Sedangkan Luffy kebingungan. Kenapa perempuan ini mendadak diam begini?
"Cem? Cem apa?" tanya Luffy lagi.
Hancock sangat gugup, saudara-saudara. Bingung ingin menjawab apa, "Cem… Cem…"
"Cem?"
"Cem… Cem… CEMANGAT!"
…
..
Hah?
"Aku akan sangat CEMANGAT melanjutkan festival jika cewek itu ada karena bisa saja dia akan menganggumu. Kau ingat 'kan kalau kita berdua panitia tertinggi festival? Ya, itu alasanku!"
Ck ck ck, berbohong memang nomor satu bagi Hancock. Dan yang lebih parahnya lagi, Luffy malah percaya begitu saja. Bahkan cowok itu dan Hancock sampai saling menggenggam erat tangan masing-masing seperti adu panco sambil berteriak nista.
"YOSHAAA, CEMANGAAAAATTTT!"
Zoro? Robin? Nami? Sanji? Kouza? Vivi? Usopp? Kaya? Mereka berdelapan yang melihat kedua orang itu karena teriakan barusan?
Sweatdrop massal.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author note : Yosshhaa! Chapter besok adalah sehari sebelum festival dimulai! Silahkan tinggalkan kesan dan saran. Karena review adalah penyemangat saya.
THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^
