This Story Based On
Fatal Frame – True Ending
Fatal Frame II: Crimson Butterfly - Promise Ending
Fatal Frame III: The Tormented - Alternate Ending
Fatal Frame IV: Mask of The Lunar Eclipse - Second Ending
Fatal Frame V: The Raven-Haired Shrine Maiden - Good Ending
Disclaimer
Fatal Frame © TECMO-KOEI
All of Out Character / our OC (Original Charecter) © Para Author KepoNeko
Summary
Entah ini hanya permainan takdir atau hanya kebetulan belaka, Rikka Rahmadhati dan kedua temannya Andra Septiawan dan Nizar Alamsyah mendapatkan kesempatan studi ke Jepang. Dengan di bawah bimbingan langsung dari mentor mereka, Ren Houjou, Kei Amakura, dan Rei Kurosawa mereka melakukan penelitian budaya di gunung Seinaru (Seinaruyama). Tapi, rupanya ada misteri besar di balik tempat itu yang menyebabkan mereka semua terlibat oleh kutukan penuh dengan dendam dan penyesalan.
Genre
Humor, Horror (?), Supernatural, Mystery, Fantasy (?)
Rating
( R-13 ? / R-15 ? )
Warning
Gaje, Horror nggak jelas, Humor maksa nan garing, bahasa amberegul, typo(?), kemungkinan adanya kadungan OOC dari karakter lainnya (yang bukan OC kami)
Don't Like, Don't Read. Plese don't Flame
Hope you like it,
Fatal Frame ~ Burning of Sin
~ Chapter 11 ~ Amakura's Twins
"O-oi... Mayu-san...! Matte...! (Tunggu..! Mayu..!)" seru Andra yang mengikuti Mayu yang seenaknya pergi duluan untuk mengejar kupu-kupu mereka.
Seperti kembali ke masa lalu, hal ini terjadi lagi. Mayu lagi-lagi membiarkan dirinya diajak kemana pun oleh kupu-kupu merah bersinar di depannya. Namun, kali ini gadis itu yakin, bukan ajal yang akan menantinya di ujung gua.
"Ini... Di mana..?" gumam Andra yang otomatis juga menyadarkan Mayu untuk berhenti melangkah lebih jauh lagi.
Tanpa disadari mereka telah keluar dari gua dan berakhir di sebuah lorong kayu, bahkan lantai yang sebelumnya batu telah berganti menjadi kayu.
"Mayu-san... sebelum itu... Boleh aku tanya sesuatu kepadamu?"
"Ya? Ada apa Andra-san?"
"Saat kita masuk ke ruangan cermin tadi... Apa kau lihat sesuatu sebelumnya?"
"!?" Gadis bersurai cokelat itu agak tertunduk, ia agak bingung harus bagaimana untuk menjawab pertanyaan Andra, sedangkan Andra hanya melihat ke arah Mayu, menunggu jawaban.
".......Sae...'
"Sae...?"
"Iya. Sae..." balas Mayu meyakinkan. Mayu pikir mungkin tidak ada salahnya kalau ia menceritakan soal Sae kepada Andra, apalagi ia sudah terseret cukup jauh soal hal ini. Mayu pun menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai menceritakan sediki tentang masa lalunya saat terjatuh di jurang dulu dan 'petualangannya' di Desa Minakami.
"Yang ironisnya lagi, ternyata sebagian roh Sae masih terjebak di dalam tubuhku," Mayu tersenyum getir, "Dan Mio… karena kecelakaan di jurang itu dan semua hal yang terjadi di desa Minakami, mentalnya menjadi sedikit tidak stabil. Dia bahkan sempat di bawa ke psikiater selama beberapa bulan."
"O-ooh... sou desune..." balas Andra, entah kenapa rasanya ia jadi agak enggan, "T-tapi... Sae itu... apa selama di dalam tubuhmu pernah mencoba menyakitimu dan Mio-san?" lanjutnya.
"Untungnya selama ini ia selalu diam," jawab Mayu, "tapi... aku agak takut kalau suatu hari ia akan mengambil Mio dariku..."
"Kau tidak perlu khawatir Mayu-san... itu tidak akan pernah terjadi... Apalagi selama masih ada pria tampan ini," ucap Andra dengan kelewatan percaya dirinya seraya menoleh ke arah Mayu sambil menyisir rambutnya ke belakang.
Yang jelas tindakan dan perkataannya yang kelewatan sok keren itu pasti sudah diludahi mentah-mentah oleh kedua temannya kalau mereka ada di sana.
Namun, baiknya ekspresi Mayu yang tadinya penuh dengan kecemasan sekarang berubah menjadi geli, kemudian ia tertawa pelan. Andra agak kecewa dengan reaksi gadis itu, apa lagi ia sempat mendengar dengusan darinya. Padahal pemuda itu ingin Mayu terpesona oleh perkataannya tadi, bukannya tertawa. Tapi Andra juga bersyukur bisa melihat Mayu tertawa dalam situasi seperti ini.
"Kalau benar begitu... Kau siap menjemput adikmu?"
"Ha'i!"
Mereka pun mulai berjalan perlahan-lahan menuju ke arah unjung lorong itu. Di sebelah kanan mereka, terdapat sekat-sekat kayu yang bercela, dari cela itu mereka bisa melihat sekumpulan pendeta sedang berdiri menghadap kepada satu orang yang tengah berdiri di atas barisan kayu yang membentuk sebuah panggung dengan lubang persegi besar yang berada di depannya. Di sekitar lubang itu terdapat batu-batu cukup besar dengan tiang kayu pendek pada setiap sudut lubang.
Dari dalam lubang itu keluar kobaran api kebiruan yang cukup besar.
"Mayu-san... apa jangan-jangan ini ritual it―"
"MIO!"
Perkataan Andra terpotong oleh teriakan Mayu. Gadis itu segera berlari tanpa memperdulikan pemuda di belakangnya.
"O-oi! Mayu-san kau mau ke manaー!?" seru Andra yang baru saja ingin mengejar Mayu, sebelum akhirnya menyadari apa yang baru saja diteriaki oleh Mayu tadi, "eh? Tadi... 'Mio'?― Hah? Mio-san?!"
Pemuda itu spontan berseru saat akhirnya ia menyadari ternyata orang yang tengah berdiri di panggung altar itu adalah orang yang mereka cari selama ini, Mio Amakura.
Tanpa basa-basi lagi, Andra pun langsung berlari menelusuri lorong sekaligus mengejar Mayu. Matanya tidak pernah lepas dari cela pada sekatan renggang yang berurutan terseling dengan sekatan kayu yang rapat. Andra menyadari kalau Mio memakai kimono putih dengan kerah yang terbalik seperti pria dalam memori 'Kokuhaku no Heya'.
'Itu... arah kimononya buat mayat yang di upacara kematian kan?' pikir Andra sambil belari mengitari setengah tempat ritual itu.
*Note : Kimono pada umumnya, bagian kanan itu di bawah dan bagian kiri di atas. Bila arahnya terbalik itu biasanya untuk jenazah.
Sedangkan sang adik hanya berdiri diam dan hanya menatap kosong kobaran api besar, ia sama sekali tidak menyadari kedatangan kakaknya dan juga Andra. Pikiran Mio sekarang sudah benar-benar mengambang.
Di sebelah kanan Mio ada seorang pendeta, kannushi (pakaian formal pendeta) yang dikenakan pendeta itu agak berbeda dengan pendeta yang lainnya. Ia memakai kannushi berwarna hitam dan sashinuki berwarna putih. Ada sebuah logo berwarna kuning keemasan yang meggambarkan seperti sebuah kobaran api di depan dan belakang bagian bawah bajunya, dibagian punggunnya pun juga ada logo yang sama namun lebih kecil. Hal itu seperti menandakan bahwa ia adalah kepala pendeta.
*Note : Kannushi adalah pakaian pendeta kuil shinto, di Kannushi juga setiap pakaian atau aksesoris memiliki nama-nama lainnya (salah satunya sashinuki yang merupakam celana / hakama). Silahkan cari di internet untuk lebih lanjut (kalian bisa juga bayangkan pakaian dewa tenjin dari anime si 'dewa miskin' yang suka uang receh 5 yen itu loh *winks*).
Sang kepala pendeta mulai membacakan doa bersamaan dengan pendeta lainnya mulai mengetuk-ngetuk ujung tongkat mereka di tanah untuk menimbulkan bunyi dari besi pada tongkat yang berbenturan.
"Biarkanlah sang Kuasa mendengarkan setiap dosamu dan menyucikan jiwamu kembali menjadi murni dengan membakar semuanya dengan api suci ini. Jadi katakanlah… dosa apa yang telah kau perbuat?" ucap kepala pendeta pada Mio setelah dia menyelesaikan ritual doa.
"Aku… aku adalah penyebab kakakku menderita," kepala Mio tentunduk begitu suara dalam perkataannya semakin mengecil, tertelan dalam keheningan.
"Bukan hanya kakak. Kei oji-san dan Misaki oba-san juga," mata Mio menatap kosong kobaran api yang semakin membesar, "Bahkan Okaa-san, dia juga mati karena diriku."
Langkah Mayu langsung terhenti beberapa meter di belakang sang adik, padahal baru saja ia ingin memanggil nama sang adik, namun perkataan si kembar bungsu itu sudah membuat seluruh tubuhnya membeku.
"Itu semua salahku… Semuanya adalah kesalahanku… Semuanya…! Akulah yang menyebabkan Kaa-san menjadi sakit keras seperti itu, padahal ia sudah terlalu menderita dengan hilangnya Tou-san… Ditambah lagi dengan insiden Mayu… Aku ingin membantunya… Tapi... Aku hanya cuma bisa memperburuk kondisinya… Kaa-san juga pasti membenciku."
'Itu tidak benar!' suara hati Mayu berseru tegas.
"Karena itu juga… Beban Paman Kei harus bertambah hanya untuk menanggung kami, aku hanya bisa membuatnya repot dan kesusahan…"
"Kau salah…!" bisik kembar tertua yang menyangkal ucapan sang adik.
"Kalau saja aku tetap menunggu Mayu saat itu, kalau saja aku tetap memegang tangannya… Kalau saja aku tidak terlalu bodoh saat itu…! Mungkin sekarang Mayu tidak akan…―"
Perkataan Mio terhenti karena isak tangisnya sendiri, matanya tertutup erat dengan air mata yang sudah mengalir.
"A-aku telah menghancurkan hidup kakak ku sendiri…! Aku sudah membuatnya terjatuh di jurang, aku selalu melanggar janji kami, aku selalu gagal melindunginya. Aku selalu meninggalkannya sendiri… membuatnya sedih dan kesepian."
Kerumunan pendeta di depan Mio mulai mengetuk-ngetuk tongkatnya lagi, mengingatkan Mio akan masa lalu saat dirinya menyusul Mayu yang bersiap melompat ke Hellish Abyss. Ironis, karena saat itu Mio yang berperan sebagai penyelamat, tapi sekarang malah dia yang ingin bunuh diri.
"Karena kesalahanku… Mayu menjadi cacat untuk seumur hidupnya. Karena aku… Dia tidak bisa hidup normal lagi. Karena aku masa depannya telah hancur! Karena aku dia sekarang menjadi menderita! Karena aku… Mayu―"
"MIO!"
Mata Mio langsung terbuka lebar bersamaan dengan mulutnya yang spontan menyebutkan kata, "O-..Onee-chan?"
Namun, gadis itu tidak berani untuk melihat ke belakang, dia terlalu takut untuk itu. Takut kalau Mayu malah akan membenarkan seluruh perkataannya tadi, takut akan penolakan dari orang yang paling ia sayangi itu.
"Pernyataan bodoh macam apa itu, huh?!"
Mayu berseru marah, tidak ada lagi kelembutan dalam suaranya. Bahkan Andra yang berada di belakangnya sampai terkejut mendengar kemarahan dalam suara gadis itu.
"Berani-beraninya kau bicara seperti itu!"
'Njirr… bening kayak Mayu-san bisa marah juga… serem lagi…'
Kepala pendeta yang baru menyadari keberadaan Mayu, segera menghadang si kembar tertua ketika dia ingin mendekati Mio.
"Kau tidak diperbolehkan untuk mengganggu ritual penyucian ini," kata kepala pendeta seraya menatap tajam Mayu, namun…
"Minggir."
Bukannya berhasil membuat gadis di depannya takut, kepala pendeta itu malah ditatap balik oleh sepasang iris berwarna hitam pekat, sebelum akhirnya sang pendeta terhempas jauh akibat tersabet oleh kabut berwarna merah. Hal tersebut otomatis memicu keributan di kerumunan pendeta lainnya.
"Jangan menghalangi jalanku, dasar makhluk rendahan."
Keringat dingin mengalir dari pelipis Andra begitu mendengar ucapan bernada rendah dari Mayu, dia tidak menyangka Mayu bisa seperti ini. Namun, ada satu hal yang membuat Andra merasa agak janggal, sekilas ia seperti melihat sosok lain menggantikan sosok Mayu. Sosok gadis berambut hitam sebahu terbalut dalam kimono putih dengan sebuah tali merah terputus terikat di pinggangnya.
'Apa itu… yang namanya Sae ya?'
Kabut merah yang tadinya ada di sekitar tubuh Mayu pun mulai menghilang, kepala gadis itu sedang tertunduk dengan mata yang tertutup, seperti sedang menenangkan diri.
Gadis itu kembali mengangkat kepalanya dan menatap lurus Mio yang kini telah membalikkan badan menghadapnya, mata Mayu yang sebelumnya berwarna hitam juga sudah kembali seperti semula, hal yang tentunya membuat Mio bisa sedikit tenang.
"Mio."
Sang kakak melangkah maju namun si adik malah otomatis mengambil langkah mundur, entah apa yang ada di dalam pikiran Mio sampai-sampai dia menolak Mayu mendekat.
"Kenapa kau menatapku takut begitu?" tanya Mayu mengerutkan keningnya sebelum melanjutkan dengan senyum tipis, "Ayo pulang, paman dan yang lain sudah menunggu kita."
Mio menggeleng cepat, "Tidak! Aku sudah tidak bisa pulang lagi! Lagipula tidak ada yang menginginkanku pulang, kakak juga begitu," lalu sebuah bisikan pedih keluar dari mulutnya.
"Karena aku hanyalah bencana di keluarga kita…"
"Katakan itu lagi dan aku akan menamparmu dengan sangat keras," balas Mayu sambil menghela napas saat melihat wajah Mio yang mulai memucat, dia tidak bisa menahan diri untuk mengatakan itu saking emosinya.
Mayu melangkah maju lagi bersamaan dengan Mio yang kembali melangkah mundur.
"Lalu kau mau apa disini? Membersihkan jiwamu dengan membakar diri? Jangan bercanda! Memangnya ada yang seperti itu?"
Mio hanya menundukkan kepala dan berwajah masam menanggapi kata-kata Mayu, dia sendiri juga pada dasarnya bukanlah orang yang percaya dengan hal-hal seperti itu.
"Kau bukan bencana dalam keluarga kita, ya… kecuali kalau di dapur," ucap Mayu mendengus geli saat kenangan dapur yang hancur melintas dalam pikirannya.
"Okaa-san pernah bilang kalau kita adalah hadiah Tuhan yang paling berharga untuknya… dia sangat menyayangi kita."
"Senakal atau secengeng apapun kalian, Kaa-san akan tetap menyayangi kalian. Kalian tau kenapa? Karena kalian berdua adalah hadiah Tuhan yang paling berharga untuk Kaa-san," ucap Shizu Amakura seraya memeluk kedua anaknya dengan erat.
"Dan Kaa-san bukan mati karenamu, dia juga tidak membencimu, bahkan tidak pernah sekalipun."
Mayu kembali melangkah maju, namun kali ini Mio hanya berdiam diri saja, dia terlalu terfokus dengan ucapan Mayu yang entah bagaimana bisa menenangkan mentalnya.
"Oji-san juga begitu, Misaki oba-san juga," Mayu terus melangkah sampai akhirnya dia berada di depan Mio, "Aku pun juga begitu."
"Aku tidak pernah berpikir membenci ataupun menyalahkanmu atas apa yang terjadi dulu, di jurang, desa Minakami, atau yang lainnya."
Kedua tangan Mayu lalu terangkat dan memegang wajah Mio, kulit adiknya terasa cukup dingin, padahal Mio berdiri di depan kobaran api yang besar sejak tadi.
Secara perlahan kembar tertua itu mengangkat wajah Mio agar bertatapan dengannya, dengan hati-hati ibu jari Mayu menghapus air mata Mio yang entah sejak kapan mengalir.
"Memang menyakitkan bahwa aku tidak bisa hidup normal," Mayu terus berucap tanpa memperdulikan ekspresi Mio yang kembali masam, "Tapi, karena ada kau yang selalu menemaniku, kurasa hidupku sudah sempurna."
"B-benarkah?"
"Iya."
Mio menatap lekat-lekat wajah Mayu, mencari tau kakaknya berbohong atau tidak. Namun pada akhirnya, si adik hanya bisa menangis terisak. Tangannya gemetar memegang erat sweater yang dikenakan oleh Mayu.
"Gomen ne... Gomen ne... Onee-chan..."
Isak tangis Mio pun semakin membesar, dirinya sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya yang sudah lama ia pendam begitu lama. Perasaan merasa bersalah kepada Mayu dan juga perasaan lega bercampur menjadi satu. Sebagai tanggapan, Mayu pun hanya tersenyum dan mulai memeluk Mio dengan lembut dan penuh dengan kehangatan, ia pun mengusap kepala Mio
"Kau tidak salah apa-apa, Mio. Ayo... kita pulang."
"Iya..!" balas sang adik dengan ulasan senyuman di wajahnya.
"*sniff* Haah… syukur deh, semuanya udah selesai *sniff*, moga-maga aja itu anak kagak kabur ke tempat aneh-aneh lagi," celetuk Andra saat melihat kembar Amakura berpelukan, ia pun mulai berjalan untuk mendekati di kembar Amakura itu sambil mengusap kedua matanya yang agak berkaca-kaca, "Duh... siapa yang naro bawang sih...?"
Yah... walaupun begitu hati Andra cukup mudah tersentuh dengan hal-hal seperti itu.. benar-benar selembut kapas. Mungkin..
Si kembar pun mulai menuruni panggung altar tersebut dan menghampiri Andra yang sudah menunggu di tangga panggung altar itu.
"Maaf Andra-san... Sudah membuatmu menunggu."
"Ou.. Nggak apa-apa kok Mayu-san."
"Loh..? Andra-san...? Apa kau habis menangis..? Matamu sembab," tanya Mayu.
"A-Ahh! Nggak kok... Ini bukan nangis.. Ini cuma karena kelilipan kok! Tadi'kan debunya banyak," jawab Andra agak panik, gensi dong kalau ketahuan hampir nangis gegara tadi, "A-ayo... lebih baik kita cepat-cepat pergi dari sini."
"Iya. Kau benar."
Baru saja mereka melangkah turun dari panggung altar, tiba-tiba terasa getaran yang cukup besar. Andra hampir saja kehilangan keseimbangan, sementara Mayu terjatuh ke belakang dengan Mio yang menumpu seluruh berat badannya ke gadis pincang itu.
"A-apa ini? gempa bumi-―huh?" Mayu sontak menoleh ketika merasakan berat tubuh Mio bergeser darinya dan jatuh disisi kanannya, "Mio? Mio, kau kenapa?!"
Mayu terkejut begitu melihat ekspresi kesakitan terpampang di wajah adiknya, mata Mio tertutup erat dengan tangan kanan mengepal erat kerah kimononya.
"K-kita harus lari, Mayu..―ugh, mereka datang…!"
"Mereka siapa-!?"
Perkataan Mayu terpotong begitu terdengar suara ledakan yang cukup besar berasal dari lubang di belakang mereka. Dari lubang itu keluarlah kobaran api berwarna merah darah agak kehitaman yang cukup besar.
Para pendeta yang tadinya menghilang tiba-tiba saja muncul kembali dan mulai meributkan sesuatu seraya meneriakkan "jiwa-jiwa kotor akan memakam kita!".Sebagian dari mereka ada yang berlari keluar dari tempat ini dan sebagian lagi ada yang sedang mencoba 'menenangkan' api dengan matra atau doa-doa.
Mayu tidak begitu mengerti maksud dari teriakkan pendeta-pendeta itu, hanya saja ia mengambilnya sebagai peringatan agar segera lari dari tempat ini. Dia lalu berusaha mengangkat tubuh Mio untuk berdiri sampai suara kayu berderit menarik perhatiannya.
'Huh?'
Dia menoleh ke arah ujung kayu di belakangnya dan melihat sebuah tangan tanpa kulit yang terselimut oleh kobaran api merah darah mencoba untuk menaiki panggung altar tempat ia dan Mio berada. Mata gadis itu begitu terpaku kepada makhluk yang perlahan-lahan memanjat panggung kayu dan mencoba mendekatinya. Wajah dan tubuh makhluk itu diselimuti oleh api berwarna merah darah agak kehitaman, kulitnya mengelupas, Mayu dapat melihat daging merah kehitaman yang disertai dengan darah mengalir keluar lalu terangkat dan terbawa oleh kobaran api. Tangan dan kaki mahluk itu juga lebih panjang dibandingkan dengan manusia pada umumnya.
*Note: silahkan lihat di google 'Wendigo' dari game 'Until Dawn' untuk memperjelas bentuk asli jiwa kotornya seperti apa.
'M-mahluk apa ini? Roh? Tapi wujud yang ada di hadapanku ini terlalu nyata.'
Mendengar sebuah teriakan kesakitan sontak membuat Mayu ngalihkan pandangannya. Dia melihat seorang pendeta yang tidak berdaya sedang 'dimakan' oleh beberapa makhluk yang sama persis seperti yang ada di depannya sekarang. Tubuh pendeta malang itu dicabik-cabik dengan sadisnya hingga tak berbentuk, potongan daging yang terkoyak segera dimakan oleh para makhluk dalam kobaran api.
Mayu yang tak kuasa melihat semua itu langsung menolehkan wajahnya hanya untuk bertemu dengan tatapan menyeramkan makhluk di depannya. Wajah mereka cukup dekat, bahkan kalau Mayu tidak menjauhkan kepalanya sedikit, pasti hidungnya sudah terbakar sekarang.
'P-panas sekali!'
Makhluk itu mendesiskan sesuatu seraya menempatkan satu tangannya di atas tubuh Mio. Mata Mayu melebar sebagai tanggapan sebelum akhirnya menyipit dengan alis yang saling bertaut, hampir menantang makhluk itu.
"Mio bukan makanan kalian!"
Bersamaan dengan terlontarnya perkataan Mayu, makhluk di depannya langsung terhempas jauh dan menabrak dinding batu. Beberapa dari makhluk yang telah keluar dari lubang segera mengalihkan perhatian mereka ke gadis itu, terlihat kabut tipis berwarna merah mengelilingi kembar Amakura.
"A-arghh…!" tangan Mayu refleks memegang dadanya erat saat merasakan sakit yang teramat sangat.
"Apa yang kau lakukan? Mau memakai kekuatanku tanpa seizinku?"
Mayu hanya memejamkan matanya erat menanggapi suara protes dalam kepalanya. Dia lalu merasakan tepukan pelan pada bahu kirinya, Mayu mendongak dan melihat wajah panik Andra, tangan kirinya bergetar hebat sambil memegang camera Obsuca dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Mayu bisa menebak kalau Andra sudah terkena efek samping dari camera Obscura.
"Kita harus segera keluar dari sini, Mayu-san!"
"I-Iya."
Mereka segera turun dari panggung altar melalui sisi kirinya, yang sudah Andra 'bersihkan' dari mahluk terbakar itu dengan camera Obscura. Mayu membantu Mio berjalan dengan membopongnya, sementara Andra bersiap menghadapi segala serangan dari berbagai arah, walau tangan kirinya sudah tidak bisa memegang kamera dengan stabil.
Mereka terus berjalan menuju ke pintu keluar yang berada sangat jauh di depan mereka. Baik Andra dan Mayu sangat berhati-hati dalam setiap langkah yang mereka ambil, karena mereka sekarang sedang berjalan di tangah-tengah para makhluk yang tengah memakan beberapa pendeta yang tidak sempat melarikan diri.
Sayangnya, makhluk yang tadi terlempar akibat kabut merah sempat melihat mereka, bagaikan ingin membalas dendam terhadap Mayu, makhluk itu mengangkat tangannya dan menunjuk mereka lalu mengeluarkan suara lengkingan yang berhasil menarik perhatian para makhluk lainnya.
Sekarang mereka sukses menjadi pusat perhatian makhluk-makhluk di sekitar mereka. Seluruh tubuh Andra dan Mayu menjadi kaku akibat rasa takut, tanpa peringatan tiba-tiba saja beberapa makhluk langsung menerjang ke arah mereka. Andra yang sudah siap dengan kameranya segera menembak dua makhluk yang telah masuk jangkauannya.
"Cepat pergilah, Mayu-san!"
"Tapi kau―'"
"Mayu! Hayaku ike!" perintah Andra lebih keras dengan membuang embel-embel '-san' sebagai formalitas dalam nama Mayu.
Dengan berat hati Mayu langsung berlari dengan susah payah karena harus membopong Mio juga. Di belakangnya terdengar suara teriakan melengking para makhluk yang terus berusaha menangkap mereka.
'Gue harus bisa ngeluarin mereka berdua dari sini! Harus!'
Tekat pemuda itu sambil terus menghadang setiap makhluk yang melompat ke arahnya, tangan kiri Andra pun semakin bergetar hebat beriringan dengan semakin banyaknya tembakan yang dia keluarkan. Mata kanan yang biasa dipakai untuk melihat melalui lubang kamera juga mulai terasa sakit, tapi dia tidak terlalu memperdulikannya.
Karena prioritas utamannya adalah menjadi pengalih perhatian selama Mayu dan Mio berusaha mencapai pintu keluar.
"Hampir sampai…!" gumam Mayu yang melihat pintu keluar sudah tinggal beberapa meter di depannya.
Mayu sempat menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Andra, dan betapa senangnya saat ia menyadari bahwa Andra juga mengikutinya menuju pintu keluar walau terkadang harus berhenti untuk menghempas makhluk-makhluk yang mengejar mereka dengan beberapa tembakan.
'Bertahanlah sebentar lagi, Andra-san.'
Berselang semenit, tiba-tiba saja tangan kiri Andra terasa kebas sampai-sampai dia kehilangan pegangan terhadap kamera. Pemuda itu menggertakkan gigi sambil memegang pergelangan tangan kirinya ketika merasakan sakit yang sangat parah.
"A-argh… t-tangan gue…"
Dilain pihak, Mayu dan Mio terlah berhasil mencapai pintu keluar. Tanpa membuang waktu lagi, Mayu segera menoleh ke belakang untuk memanggil Andra.
"Andra-sa-!"
Teriakan Mayu terhenti bersamaan dengan mata cokelatnya membesar saat melihat bayangan pemuda yang terselimuti oleh kobaran api merah kehitaman berdiri di depan Andra, gadis itu juga sempat melihat Andra yang menoleh padanya sambil tersenyum senang sebelum dua buah daun pintu besar menutup di tengah-tengah mereka. Memutuskan pandangan Mayu dari Andra yang masih terjebak di dalam.
"ANDRA-SAAAN!"
To be continue
From Author :
Minna-san~~ para pembaca sekalian~~ TERIMA KASIH BANYAK ATAS SEMUA DUKUNGANNYA! SEMUA RIVIEW DAN SEGALANYAAA!
Kami benar-benar minta maaf akan super-duper-wuper keterlambatan update atau lanjutan ceritanya. Kami sangat berterima kasih atas review kalian yang bilang menunggu kelanjutan cerita buatan kami ini.
Untuk menjawab beberapa review kalian (rata-rata yang otp itu), jawabannya adalah...tunggu dan baca aja kelanjutannya^ x''D /ditabokim readers/
Terus dukung kami yaaa! X''D
xoxox,
Author Riku & Kepobaka.
