Summary: Kembali ke Seoul! Sebulan setelah Summer Camp, pertemuan demi pertemuan tak terelakkan, dan bunga cinta mulai bermekaran. Para yeoja yang kini telah merubah kebiasaan buruk mereka dalam menghamburkan uang, dan para namja yang mulai menjalankan 'strategi' mereka. /GS/EXO official couple inside!/

That Scout Namja

Rate: T

Genre: Romance, Drama.

Cast: EXO member, Other.

Disclaimer: They're nor mine, all cast belong to GOD~ But this fic actually MINE. I hate PLAGIARISM so much. So, DON'T copy-paste my fanfiction juseyo! :)

Warning: Typo bertebaran, EYD tidak terpenuhi, cerita nyaris pasaran(?), GENDERSWITCH.

.

.

.

Let's start the story!

.

.

.

.∷ That Scout Namja ∷.

.

.

.

Kyungsoo berjalan tak tentu arah di area perkemahan. Tak jarang, ia menyenggol atau menabrak benda di sekitarnya. Pikirannya terfokus pada sang namja berkulit tan, namja yang telah membuatnya merasakan hal aneh, dan juga namja yang secara tidak langsung menyakiti hatinya.

Helaan nafas terhembus pelan dari bibirnya. Yeoja itu tak habis pikir, mengapa ia harus mulai 'jatuh' pada namja itu? Bahkan di dunia ini namja tidak hanya satu. Ya, walaupun pada kenyataannya populasi yeoja yang pastinya lebih mendominasi di bumi.

Perlahan, Kyungsoo duduk di tepi sungai dan memeluk lututnya. Semilir angin musim panas dan teriknya matahari seakan tak mengganggu yeoja itu sedikit pun.

"Soo? Apa yang kau lakukan disini?" Panggil seseorang. Kyungsoo membalikkan badannya, dan mendapati seseorang yang telah ia kenal selama seminggu ini di camp.

"Aku hanya sedang ingin sendiri, Oppa…" Jawab Kyungsoo pelan.

Orang itu, Suho, ikut mendudukkan dirinya disamping sang pujaan hati. "Kau sedang ada masalah, Kyungsoo-ah?"

"Aniya, tidak ada…" Ujar yeoja pemilik doe eyes itu.

"Jinjja-yo?"

"Ne, Oppa. Jinjja…"

Hening. Keduanya tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kyungsoo memejamkan matanya guna merasakan semilir angin yang menerpa lembut wajah dan tiap helai rambutnya. Suho yang melihat itu hanya tersenyum, matanya terus memandang wajah Kyungsoo. Mata yang besar namun bersinar, pipi yang sedikit chubby dan hampir selalu menampakkan semburat kemerahan, bibir kissable yang terlihat menggoda, dan yang terakhir, rambut sebahu berwarna hitam kelam yang turut membingkai wajahnya hingga menampilkan kesan manis dan cantik yang alami.

"Oppa…" Gumam Kyungsoo.

Suho tersentak saat Kyungsoo memanggilnya. Sungguh, ia akan merasa sangat sangat malu jika Kyungsoo mendapati pipinya kini tengah memerah.

"Suho oppa…" Gumam Kyungsoo sekali lagi, seraya menolehkan kepalanya ke arah Suho.

"A-ah, ne, Kyungsoo-ah?" Tanya Suho gugup.

"Eum… aku ingin… bertanya…"

Namja angelic itu menatap Kyungsoo, "Kau ingin bertanya apa?"

"Tapi jangan mentertawakan pertanyaanku, ne?"

"Ne, aku tidak akan mentertawakan, apapun pertanyaanmu,"

Kyungsoo menundukkan wajahnya, "Apa… jika aku tidak suka seorang namja dekat dengan yeoja lain selain aku… itu artinya aku menyukai namja itu?" Tanya Kyungsoo.

"Ne, Kyungsoo-ah…" Jawab Suho, "Apa kau sedang menyukai seseorang?" Tanya Suho. Namja itu bahkan berani bersumpah bahwa kini semburat merah mulai menjalar pada pipi Kyungsoo!

"Mo-molla… tapi ku pikir, ya. Aku sedang menyukai seseorang… atau mungkin aku jatuh cinta pada namja itu?" Mata Kyungsoo terlihat berbinar senang, kentara sekali jika ia sedang membayangkan namja yang di sukainya.

'Kyungsoo jatuh cinta? Tapi… pada siapa?' Batin Suho.

"Oppa tahu? Dia namja yang baik hati, menurutku. Tapi ia sangat mudah untuk dekat dengan orang lain… dan kupikir, ia tak mungkin menyukai yeoja pendiam sepertiku…" Kyungsoo tertawa miris.

"Hei, jangan berpikir seperti itu, Kyungsoo-ah. Namja itu—" Tenggorokan Suho seakan tercekat untuk beberapa saat, "—pasti juga menyukaimu," Lanjutnya.

"Ne. Oppa benar…"

"Jika aku boleh tahu, siapa namja yang kau sukai?"

Kyungsoo menatap Suho dan tersenyum manis, "That's a secret, Oppa… yang pasti, ia namja yang tampan."

Suho terpana menatap senyum Kyungsoo, 'apakah… namja yang kau maksud adalah aku?' Batin Suho berharap.

"Oh ya, ini hari terakhir camp, bukan? Apa acara kita untuk hari ini, Oppa?" Tanya Kyungsoo guna mengganti topik.

"Eo? Mungkin Kris hanya akan melakukan evaluasi untuk membahas perkembangan kalian disini. Dan juga kita akan melakukan acara api unggun untuk menutup kegiatan perkemahan," Terang Suho. Sebersit rasa sakit menyelusup di relung hatinya, mengingat kemungkinan mereka untuk bertemu seusai camp ini hanya sedikit.

"Acara api unggun?" Kyungsoo memiringkan kepalanya.

Suho tersenyum tipis, "Ne, kita akan membuat api unggun, membakar marshmallow, bernyanyi, atau mungkin, Chen akan melakukan Confess Night," namja itu sedikit terkekeh mengingat rencana yang di buat oleh saeng-nya.

"Confess Night?"

"Confess Night adalah rencana Chen. Sebenarnya, setiap kali kami mengadakan camp, Confess Night menjadi puncak acara," Kyungsoo menyimak penjelasan Suho dengan bersemangat.

"Woah… Daebak!" Seru Kyungsoo bersemangat.

"Tapi pada saat Confess Night, tidak semuanya berjalan manis," Suho menghela nafas. "Akan terasa manis jika pernyataanmu diterima, dan akan menjadi kenangan camp paling menyakitkan saat pernyataanmu ditolak. Kau tentu tahu Key, Jinki, Minho, Taemin, dan Jonghyun, bukan? Mereka adalah pasangan yang berhasil bersatu pada saat Summer Camp tahun lalu."

"Eoh? Jonghyun oppa salah satu diantaranya?" Terang saja Kyungsoo sangsi apabila Jonghyun mempunyai kekasih. Jika Key dan Jinki terlihat bersama, Taemin dan Minho tak jarang bergandengan. Hanya Jonghyun yang tampak sendirian.

"Kekasih Jonghyun bernama Jino. Yeoja itu tidak mengikuti camp tahun ini, Kyungsoo-ah."

Kyungsoo mengangguk pelan mendengar penjelasan Suho.

"Kajja, Soo. Kita kembali ke perkemahan dan membantu yang lainnya mempersiapkan acara nanti malam," ajak Suho.

Keduanya berjalan berdampingan ke area perkemahan. Tak ada seorangpun yang menyadari dua pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

...

"Psst, Kris-ge!" Bisik Tao kepada namja bertubuh tinggi di dekatnya.

"Waeyo, Tao?"

"Itu, lihat ke arah jam 9!" Tao menunjuk ke arah Suho dan Kyungsoo yang berjalan bersama sambil berbincang-bincang.

Kris menaikkan sebelah alisnya dan menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Tao, "Lalu?"

"Ish! Coba kau perhatikan Junma-ge dan Kyungsoo-jie!" Tao mencubit Kris untuk menyalurkan rasa kesalnya.

"Namanya Joonmyeon, bukan Junma! Dan jangan mencubit lenganku, panda pabo!"

"Terserah aku ingin memanggil Junma-ge apa," cubitan itu semakin kuat, "Aku bukan panda, namsan tower!" Desis Tao pelan.

Kris menepis tangan Tao yang mencubit lengannya. Oh lihat, bahkan kini lengan berwarna putih itu telah berganti warna menjadi ke unguan! "Kau harus bertanggung jawab untuk ini!"

Tao tersenyum tipis, "Eo, jinjja? Kemarikan tangan Gege. Akan aku beri obat," Tangannya menarik lengan Kris dan memukulnya dengan kuat.

"YA! HUANG ZI TAO!" Bentakkan yang terbilang keras itu membuat seluruh pasang mata menatap keduanya.

Sementara oknum yang dibentak, Tao, terbahak melihat ekspresi marah Kris, "He-he, mian ne, Kris-ge~ kajja, aku akan mengkompres lenganmu."

"Tidak! Kau pasti akan memukulku seperti tadi," Sungut Kris sebal.

"Aniya Gege~ aku janji kali ini aku benar-benar mengobati lenganmu. Ikut aku ne? Kajja, Gege~" Ujar Tao dengan puppy eye dan nada membujuk yang menggemaskan.

Kris hanya mengangguk pasrah. Ia tahu, sebagaimana pun ia mencoba melepaskan diri, ia tidak akan pernah bias menolak jika Tao sudah menggunakan puppy eye andalannya. Namja itu mengikuti Tao —atau lebih tepatnya Tao menyeret Kris secara paksa— menuju tenda yeoja itu. Tao masuk ke tendanya selama beberapa menit dan keluar dengan gel khusus memar di tangannya.

"Duduk di sini, Gege," Tao menepuk tanah berumput di sebelahnya.

Kris menurut. Perlahan, jemari Tao membuka tutup gel tersebut dan mengoleskannya pada lengan Kris yang membiru akibat cubitannya yang terlampau kuat.

"Aku heran, mengapa yeoja sepertimu seakan memiliki tenaga ekstra saat mencubitku?" Tanya Kris. Sesekali, ia meringis saat gel yang dingin itu menyentuh memarnya.

"Tentu saja. Aku tidak bisa di katakan seorang atlet wushu jika tidak memiliki tenaga seperti itu," Jawab Tao tenang. Yeoja itu mengusapkan gel pada seluruh permukaan memar di lengan Kris.

"Kau atlet wushu?" Kris membelalak tidak percaya.

Tao mengangguk, "Ne, gege. Aku tidak terlihat seperti seorang atlet, bukan begitu?"

Kris membungkam bibirnya. Memang, ia tak menyangka yeoja manja dan cengeng seperti Tao adalah atlet dari olah raga yang cukup keras seperti martial arts. Tentu saja, martial arts memerlukan fisik yang kuat dan setidaknya memiliki lengan yang berbentuk walaupun itu yeoja. Namun tidak untuk seorang Tao. Yeoja itu tetap tampak seperti yeoja biasa dengan tubuh porposional bak model, dan jika tidak mengenalnya dengan baik, orang-orang akan menilai bahwa ia hanyalah yeoja lemah yang shop-a-holic.

Namja berwajah stoic itu bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jika Tao menggunakan alat-alat martial arts seperti tongkat kayu, pedang, double-stick, dan terkadang ada yang menggunakan kipas untuk menunjukkan kelihaian dalam bidang wushu.

"Gege meragukanku, ne?" Tanya Tao dengan nada getir.

"Yeah, just a little bit," Jawab Kris.

Matanya menerawang ke langit terbuka yang menampakkan warna jingga kemerahan, "I knew it. People always judge me because of my looks. They always said that I'm not suitable with martial art," Liquid tanpa warna berkumpul pada kedua pelupuk matanya.

"Why did you choose Martial Art rather than, uhm, do something easy?"

"I couldn't do something easy! Aku benci saat mereka menganggapku yeoja lemah. Dan aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku tidak selemah yang mereka pikirkan. I'll prove it. I'll be the winner of Martial Art Championship," Tatapan Tao seketika berubah. Kris dapat dengan jelas menangkap sorot penuh kesungguhan pada sepasang mata itu.

"Just do it, and prove it. You can do it, Panda." Kris mengusap surai platina milik Tao dengan lembut.

Yeoja bermata panda itu dapat merasakan pipinya memanas. "Um. Thanks, Gege." Jawabnya dengan senyum sumringah.

...

Sore telah berlalu menjadi malam. Lunar dengan bangganya duduk di singasana menggantikan sang surya yang beristirahat di belahan bumi yang lain. Tampak sekelompok namja dan yeoja duduk melingkar mengelilingi dian yang tengah membakar tumpukan gelonggong kayu api. Acara api unggun dibuka dengan Kris yang membacakan hasil evaluasi perkemahan.

"Well, kulihat perkembangan pada saat perkemahan kali ini cukup bagus. Tidak ada masalah yang cukup serius selain kejadian menghilangnya Lay pada hari kedua," Ucap Kris santai, sementara Lay yang namanya disebut hanya menundukkan kepalanya menahan malu.

"Ish… harusnya kan tidak perlu diingatkan lagi, Tiang Wu!" Gumam Lay pelan, namun tetap bisa di dengar oleh Kris karena tempat duduk mereka yang cukup dekat.

"Aku mendengarmu, Zhang." Lay meringis saat Kris menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam.

Kris membacakan satu persatu evaluasi untuk masing-masing perserta. Tak jarang ada yang mendapat kritikan tajam atau 'sedikit' pujian ala Kris Wu. Usai evaluasi, para namja dan yeoja menusuk marshmallow pada tongkat yang telah di sediakan sebelumnya dan beramai-ramai membakar marshmallow aneka warna tersebut. Terkadang, Chen dan Chanyeol melontarkan lelucon yang disambut dengan tawa oleh peserta lainnya.

"Hei, hei!" Seru Kai seraya melambaikan tangan, dan mendapat tatapan bertanya dari seluruh pasang mata di tempat itu.

"Waeyo, Kai?" Tanya Suho.

"Kali ini ada yang ingin mempersembahkan lagu untuk acara terakhir kita!" Ucap Kai bersemangat.

"Mwo?"

"Nuguya?" Setidaknya, begitulah pertanyaan yang terlontar dari bibir mereka.

Kai terkekeh, "Berikan tepuk tangan untuk Lay dan Luhan noona!"

Luhan dan Lay berjalan maju dengan diiringi tepuk tangan. Luhan berdiri sementara Lay duduk di atas batu yang cukup besar. Jemari lentik Lay memetik gitar milik Chanyeol yang berada di atas pangkuannya, intro mengalun lembut hingga Luhan membuka suaranya.

Na li you cai hong gao shu wo
Neng bu neng ba wo de yuan wang huan gei wo
Wei shen me tian zhe me an jing
Suo you de yun dou pao dao wo zhe li

(Tell me where there are rainbows
Can you give me back my wish?
Why is the sky so tranquil?
All the clouds have come to where I am
)

Suara bak malaikat itu mengalun menyelesaikan verse pertama, dan Lay melanjutkan bait ke dua lagu tersebut,

You mei you kou cao yi ge gei wo?
Shi huai shuo le tai duo jiu cheng zhen bu liao
Ye xu shi jian shi yi zhong jie yao
Ye shi wo xian zai zhen fu xia de du yao

(Have you got a mouth mask you can give me?
I let go and said too much, then those things can't be realised
Perhaps time is a kind of cure
It is also the poison I am taking right now
)

Kai terdiam mendengar lirik yang dilantunkan oleh Lay. Walaupun ia payah dalam bahasa mandarin, tapi ia pernah mendengar lagu ini dan mengetahui artinya. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap sesosok yeoja bermata besar yang duduk di dekat pohon pinus.

Kan bu jian ni de xiao wo zen me shui de zhao
Ni de sheng ying zhe me jing wo que bao bu dao
Mei you di qiu tai yang hai shi hui rao
Mei you li you wo ye neng zi ji zhou

(If I can't see your smile, how can I get to sleep
Your voice is so near yet I can't hold you
The sun will still spin without the earth
I can still walk by myself without a reason
)

Terpana. Itulah yang terjadi pada Sehun saat ini. Suara emas Luhan seakan menghipnotisnya hingga ia tidak dapat mengalihkan pandangan barang sedetikpun. Sehun tiada henti menatap ekspresi Luhan saat membawakan lagu tersebut. Mendalami, dan menampilkan bagaimana jalannya roman yang terdapat pada lagu itu. Bahkan ia dapat melihat Luhan berekspresi sangat sedih pada saat menyanyikan bagiannya.

"Noona… neomu yeppeuda.." Gumam Sehun pelan.

Ni yao li kai wo zhi dao hen jian dan
Ni shuo yi lai shi wo men de zhu ai
Jiu shuan fang kai dan neng bu neng bie mo shou wo de ai
Dang zuo wo zui hou cai ming bai

(You need to leave, I know it's very simple
You said that reliance
was our obstacle
Even if you let go
, but can you not confiscate my love?
Just pretend that I only understood at the end
)

Tak hanya Sehun. Hal serupa dialami oleh Suho terhadap Lay. Yeoja yang tengah bernyanyi seraya memetik gitar dengan lembut. Entahlah, tapi ia merasa Lay sekilas menatap dirinya saat menyanyikan bagian 'Jiu shuan fang kai dan neng bu neng bie mo shou wo de ai'. Tatapan yang dilemparkan Lay pada dirinya nyaris tidak terbaca. Namun satu yang Suho ketahui, tatapan itu sedih dan munjukkan rasa sakit.

Luhan kembali menyanyikan partnya, bergantian dengan Lay. Lirik demi lirik terlantun dengan indah dan teratur. Nada-nada yang tercipta seakan menjadi sihir sehingga membuat hati yang mendengarnya terenyuh membayangkan kisah yang dikarang oleh sang penulis lagu.

You mei you kou cao yi ge gei wo?
Shi huai shuo le tai duo jiu cheng zhen bu liao
Ye xu shi jian shi yi zhong jie yao
Ye shi wo xian zai zhen fu xia de du yao

(Have you got a mouth mask you can give me?
I let go and said too much, then those things can't be realised
Perhaps time is a kind of cure
It is also the poison I am taking right now
)

Kai tersenyum pedih. Ya, ia ingin bertanya, apakah seseorang memiliki masker agar ia dapat menutup mulutnya? Agar ia dapat menahan kata demi kata yang dapat menyakiti yeoja mungilnya? Seharusnya ia sadar dari awal, bahwa ia telah menyakiti yeoja itu dengan membicarakan perihal yeoja lain.

Namja itu mengacak rambutnya kasar. Ia menyesal. Dan ia harus menebus rasa bersalahnya pada yeoja mungilnya.

Kan bu jian ni de xiao wo zen me shui de zhao
Ni de sheng ying zhe me jing wo que bao bu dao
Mei you di qiu tai yang hai shi hui rao
Mei you li you wo ye neng zi ji zhou

(If I can't see your smile
How can I get to sleep
Your voice is so near yet I can't hold you
The sun will still spin without the earth
I can still walk by myself without a reason
)

Tao bertukar pandang dengan Kris. Walaupun ia masih belum yakin pernah bertemu dengan Kris sebelum perkemahan ini, tapi hatinya berkata lain. Ia takut akan berpisah jauh dari Kris setelah semua ini usai. Bahkan saat ia mengakhiri hubungannya dengan Chanyeol, ia tidak pernah merasa seperti ini.

Sementara itu, Kris tersenyum membalas tatapan Tao. 'Aku akan menjagamu selalu, Baby Panda. Jika matahari bisa tetap berputar tanpa bumi, maka aku akan menjadi bulan untukmu. Yang selalu berputar mengelilingimu, dan tak pernah meninggalkanmu.'

Ni yao li kai wo zhi dao hen jian dan
Ni shuo yi lai shi wo men de zhu ai
Jiu shuan fang kai dan neng bu neng bie mo shou wo de ai
Dang zuo wo zui hou cai ming bai

(You need to leave, I know it's very simple
You said that reliance
was our obstacle
Even if you let go
, but can you not confiscate my love?
Just pretend that I only understood at the end
)

Chanyeol menatap Tao yang tengah bertukar pandang dengan Kris. Sejujurnya, ia merasa sakit. Sangat sakit karena yeoja yang ia cintai tidak lagi menatap dirinya. Hubungan mereka memang telah usai dan hatinya juga mulai diketuk oleh cinta yang lain, namun terkadang ia masih berharap.

"Yeol-ah? Waeyo?" Tanya Baekhyun pelan.

Namja itu tersenyum, "Aniya, Baekhyun-ah."

"Jinjja?" Raut khawatir tercetak sangat jelas pada wajah yeoja itu.

"Ne," Jawab Chanyeol singkat. "Kau tahu? Sepertinya sebentar lagi aku akan mendapatkan cinta yang baru."

"Mwo?"

Chanyeol tak membalas. Ia hanya tersenyum penuh arti dan memandang Baekhyun.

[Rap]
Kan bu jian ni de xiao yao wo zen me shui de zhao
Ni de sheng zhe me jing wo que bao bu dao
Mei you di qiu tai yang hai shi hui rao hui rao
Mei you li you wo ye neng zi ji zhou diao

Shi wo shuo le tai duo jiu cheng zhen bu liao
Ye xu shi jian shi yi zhong jie yao jie yao
Ye shi wo xian zai zhen fu xia de du yao

(If I can't see your smile
How can I get to sleep
Your voice is so near yet I can't hold you
The sun will still spin without the earth
I can still walk by myself without a reason
I let go and say too much, then those things can't be realised
Perhaps time is a kind of cure
It is also the poison I am taking right no
w)

Lay melantunkan bagian rap dengan apik dan sempurna. Pada saat itu, Suho tak juga mengalihkan pandangannya dari Lay.

Ni yao li kai wo zhi dao hen jian dan
Ni shuo yi lai shi wo men de zhu ai
Jiu shuan fang kai dan neng bu neng bie mo shou wo de ai
Dang zuo wo zui hou cai ming bai

(You need to leave, I know it's very simple
You said that reliance
was our obstacle
Even if you let go
, but can you not confiscate my love?
Just pretend that I only understood at the end
)

[Jay Chou – Rainbow]

Luhan mengakhiri lagu itu bersamaan dengan petikan gitar Lay yang berhenti.

"Whoa! Daebak! Daebak!" Sahut seluruh audience.

"Suara noona sangat indah…" Puji Sehun pada Luhan, hingga membuat pipi yeoja berkebangsaan china itu memerah karena malu.

"Gomawo, Sehun-ah~" Jawab Luhan tersipu.

Tak lama setelah Luhan dan Lay kembali ke tempat duduk mereka, Chen maju ke depan, dan berucap,

"Baiklah, sekarang kita akan memulai acara Confess Night!" Umum Chen bersemangat dan disambut dengan tepuk tangan dari seluruh peserta camp.

"Hyung! Aku ingin memberi usul!" Teriak Sehun yang duduk di samping Luhan.

"Ne, Hun-ah?"

"Sejak dulu, hyung sebagai satu-satunya yang merencanakan acara ini tidak pernah melakukan Confess kepada siapapun, bukan? Karena itu, sekarang kami mempersilakan agar hyung yang pertama kali melakukan Confess!" Ucapan Sehun diangguki oleh peserta lainnya.

"Aish! Wae!?" Tanya Chen kesal.

"Ppalliwa, Chen-ssi! Jangan membuat Julietmu menunggu!" Balas Luhan seraya tertawa jahil.

Chen mengangguk kesal, "Tapi, aku minta semua yeoja di sini menutup mata!" Titah Chen seakan tidak menerima penolakan.

"Tapi, Oppa~" Kyungsoo merengek kecil.

"Aish, kalian memintaku agar menjadi orang pertama yang melakukan confess, bukan? Ppalli! Tutup mata kalian," Perintah Chen sekali lagi.

Dengan berat hati, seluruh yeoja di tempat itu menutup mata rapat-rapat. Sementara para namja —selain Chen, tentunya— mendesah pelan. Mereka takut jika yeoja yang mereka sukai sama dengan yeoja yang Chen sukai. Mungkin akan baik-baik saja jika Chen tidak diterima oleh yeoja tersebut. Tapi bagaimana jika diterima? Tentu saja mereka akan patah hati!

Chen menghela nafas guna menenangkan diri, lalu berjalan seraya menyenandungkan bagian reff Love Blossom milik K-Will. Langkah demi langkahnya mulai mendekati seorang yeoja. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap pipi yeoja tersebut, sementara tangan kirinya menggenggam jemari mungil yeoja di hadapannya.

"Min Noona…" Bersamaan dengan Chen menyebutkan nama yeoja tersebut, seluruh mata terbuka dan menatap ke arah keduanya.

"M-mwo? Jongdae hyung menyukai Xiumin noona?" Bisik Kai pelan.

"Molla… aku juga tidak tahu, kkamjong…" Balas Suho.

Kedua bersaudara itu sama sekali tidak menyangka, Chen menyukai yeoja yang mereka kenal sedari kecil.

"Noona… aku tahu, aku tidak romantis. Aku tahu aku tidak tampan seperti Kris Hyung—" Kris mendelik saat namanya disebut oleh Chen.

"—Tapi maukah noona menerimaku? Maukah noona menjadi ibu dari anak-anakku kelak? Menjadi pendamping—"

Chanyeol menjitak kepala Chen gemas, "Yak! Kau ini! Ini bukan acara melamar, pabo!"

"Hehe, mian hyung," Ucap Chen sambil meringis. Namja itu menatap Xiumin dalam-dalam, "Noona, would you be mine?"

Suasana menjadi hening. Mereka menanti jawaban yang akan diucapkan oleh Xiumin. Sementara sang yeoja, Xiumin, mencoba untuk mencari kebohongan di mata Chen dan tidak menemukannya.

"N-ne… Yes I Would…"

Sontak, keheningan berubah menjadi sorakan kebahagiaan. Chen memeluk Xiumin dan mengecup pipi chubby milik gadis itu.

"Gomawo noona. Jeongmal gomawo..."

Next Day, 08.00 a.m

Tampak para peserta camp bersiap pulang ke rumah masing-masing. Tao mendudukkan diri di bawah pohon yang cukup rimbun. Matanya menyusuri sekeliling, menatap teman-temannya yang berlalu-lalang kesana kemari.

"Tao…"

Tao menolehkan wajahnya. Yeoja itu tersenyum kecil, "Ah, duduklah, Gege…" Ucapnya.

Kris mengangguk pelan dan duduk di samping Tao. Tao memperhatikan Kris. Sosok Kris mengingatkannya pada seseorang, entah siapa itu.

"Gege… boleh aku bertanya?"

"Mm? kau ingin bertanya apa?"

"Apa… kita pernah bertemu? Maksudku… bertemu sebelum camp ini?"

Namja itu terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Tao. "Molla. Mungkin pernah."

"Gege, aku serius!" Tao mempoutkan bibirnya imut.

"Aku juga serius, Tao. Mungkin kita pernah bertemu, hanya saja kau tidak mengingatnya," Jawab Kris. Di dalam hatinya, ia merasa sangat sakit. Tampaknya masa lalu hanyalah sekedar masa lalu bagi Tao. Ibarat bayangan, kenangan itu akan hilang jika tidak ada cahaya yang meneranginya. Dan dalam hal ini, Kris ingin menjadi cahaya yang dapat mengingatkan Tao pada masa lalu mereka berdua.

"Sudahlah, Tao. Kau tidak perlu memikirkan itu." Ucap Kris seraya mengusap puncak kepala Tao.

"Ne, Gege… arasseo…"

"Noona!"

Luhan tersentak kaget saat ia merasa pergelangan tangannya di genggam dengan kuat. Hampir saja tas yang ia bawa terjatuh apabila ia tidak cepat tanggap.

"Waeyo, Hun-ah?" Tanya Luhan lembut.

Wajah Sehun memerah. Kepalanya tertunduk, tidak ingin bertatap secara langsung dengan Luhan.

"Hun-ah… waeyo, hm?" Luhan bertanya sekali lagi. Di dalam hati, Luhan tertawa melihat ekspresi Sehun yang jauh dari kata dingin. Bahkan dapat dikatakan imut untuk ukuran namja.

"Noona…" Gumam Sehun pelan, nyaris tak bersuara.

"Ne, Hun-ah?"

Perasaan gugup melingkupi hati Sehun. Jantungnya terasa berpacu dua kali lebih cepat saat ia bertukar pandang dengan Luhan, "Noona… aku tahu ini terlalu cepat. Tapi… maukah noona menjadi 'teman'ku?"

Luhan tertawa, "Tentu saja, Hun-ah. Bukankah kita telah menjadi teman?"

"A-ani, Noona! Maksudku lebih dari teman," Balas Sehun terbata. Bahkan kini namja itu telah menundukkan kepalanya—lagi.

"Maksudmu menjadi sahabat? Arasseo, hehe," Sungguh, Luhan ingin tertawa sekeras-kerasnya. Kini Sehun menatapnya sedih. Sebenarnya, Luhan tahu apa yang Sehun inginkan. Tetapi yeoja bermata rusa itu ingin sedikit mengerjai Sehun.

'Mungkin baginya aku hanya pantas di jadikan teman…' Sehun membatin. Sebersit rasa sesak menyelusup di dadanya.

"Hun-ah… bisa lepaskan tanganku? Aku harus segera pulang…"

"A-ah, ne…" Sehun melepaskan genggamannya dengan berat hati. Perlahan, Luhan melangkah menjauhinya menuju mobil pribadi yang akan mengantarkan yeoja itu kembali ke rumahnya di Seoul. Lima langkah sebelum sampai di pintu mobil, Luhan berbalik menghadap Sehun dan berteriak,

"Aku akan menunggumu di Seoul. Cari aku dan kau akan mendapatkan jawabanku disana, Hunnie," Luhan tersenyum manis dan berjalan memasuki mobilnya. Saat mobil itu berjalan cukup jauh, Sehun terkesiap dan mengejar.

"Noona, aku akan mencarimu! Aku pasti akan menemukan noona dimanapun noona berada!" Usai mengucapkan itu, Sehun tersenyum menatap mobil yang telah menghilang dari pandangan.

August.

"Eonni! Eonni!" Teriak seorang yeoja.

Tampak seorang yeoja lainnya berlari mendekat, "Waeyo, Baekhyun-ah?" Tanya yeoja tersebut.

"Apa eonni bisa membantuku mengerjakan tugas ini?" Baekhyun mengeluarkan jurus puppy eyes-nya.

"Aniya, aku tidak mau! Sudah kukatakan, belajarlah dengan baik, Bekkie!" "Eonni jebaall~ ne?" Bujuk Baekhyun. Tangan mungilnya menarik-narik baju yeoja yang berusia 2 tahun diatasnya.

"Shireo!" Sahut yeoja itu, "dan tolong jangan menarik bajuku, Baekkie! Aku tidak mau baju kesayanganku rusak!"

Baekhyun mempout-kan bibirnya. "Xiuminnie, wae geurae?" Tanya Luhan yang berjalan mendekati mereka. Tampak nampan berisi makan siang dibawa olehnya.

"Baekkie memintaku membantunya lagi, Lu. Aku bosan mengajarinya. Kau tahu? Aku telah mengajarkannya materi ini lebih dari sepuluh kali!"

"Tapi eonni, aku benar-benar tak mengerti…" Ringis Baekhyun.

Xiumin mendengus kesal mendengar penuturan yeodongsaeng-nya, "lalu mengapa saat aku bertanya 'Bekhyun-ah, apa kau bisa' kau selalu menjawab BISA?" Xiumin menekankan kata terakhir yang diucapkannya.

"Umm… saat itu aku lelah, Eonni…"

Luhan buru-buru menyela saat menyadari Xiumin akan mulai memberi 'ceramah singkat' pada Baekhyun.

"Begini saja, Baekkie. Kau bisa minta tolong pada Kyungsoo atau Lay. Tanyakan pada mereka bagian yang tidak kau mengerti, arasseo? Sebentar lagi mereka akan datang," Tangan Luhan bergerak mengusap bahu Baekhyun.

"Ne… arasseo, Eonni…"

Selang lima menit kemudian, Lay, Kyungsoo dan Tao tampak dari pintu cafeteria universitas dan berjalan mendekati mereka.

"Mianhae, Jie-jie… apa kalian menunggu lama?" Tanya Tao sopan.

"Aniya, Tao-er," Jawab Xiumin seraya menggeleng.

Lay dan Kyungsoo mendudukkan diri di sisi kanan dan kiri Xiumin, sementara Tao mengambil tempat di antara Luhan dan Baekhyun.

"Hei, Kyungie~ aku dengar Baro menyatakan perasaannya padamu, ne?" Tanya Baekhyun.

"Ne, Eonni," Kyungsoo mengangguk. "Tapi aku tidak menerimanya."

Lay menautkan alisnya, "Waeyo, Kyungie?"

"Aku hanya tidak tertarik untuk berpacaran saja," Jawab Kyungsoo sekenanya. "Daripada memikirkan hal itu, bukankah Luhan Eonni juga baru saja menerima pernyataan dari sunbae kita?"

"Kau betul, Kyungie. Aku terkejut saat mendengar bahwa Seunghyun sunbae menyatakan perasaannya pada Luhan-jie," Ucap Lay.

Luhan memutar kedua bola matanya malas, "Ne. Seunghyun sunbae memang menyatakan perasaannya padaku. Tapi seperti halnya Kyungsoo, aku menolak sunbae itu."

"Waeyo, Lulu? Bukankah Seunghyun sunbae cukup tampan?" Xiumin menatap Luhan dengan tatapan menyelidik.

"Tentu saja Luhan-jie menolaknya, Xiu-jie. Luhan-jie kan sekarang sedang menunggu seseorang~" Ledek Tao dengan suara yang dibuat-buat.

"Mwo? Seseorang?" Tanya Baekhyun.

Kyungsoo bertepuk tangan, "Whoa~ ternyata uri eonni jatuh cinta!"

"Siapa orang yang tertimpa sial itu, Lulu?" Tanya Xiumin sambil tertawa.

Twitch.

Perempatan muncul pada dahi Luhan, "Tao, jangan sembarangan bicara! Baekhyun, jangan dengarkan Tao! Kyungsoo, aku tidak jatuh cinta! Oh, Xiuminnie, apa maksudmu menyebut orang yang ku sukai 'sial', eoh? Dan kau Lay—"

Lay berdehem pelan, "Dui bu qi, Jie-jie. Tapi aku tidak berkata apapun."

"Aish, molla‼" Luhan menghentakkan kakinya kesal. "Baekhyunnie, kerjakan tugasmu sekarang! Lay dan Kyungsoo tolong bantu Baekhyunnie. Tao, cepatlah memesan makan siangmu, dan Xiuminnie, lebih baik kau membalas pesan Chen daripada menatapku seperti itu!"

Seketika, yeoja-yeoja itu menuruti perintah Luhan. Xiumin yang awalnya menatap Luhan dengan pandangan mengejek juga mengalihkan perhatiannya.

Tampak seorang namja berlari memasuki mansion beragaya eropa. Langkah kaki namja itu berhenti di depan sebuah pintu dari kayu eboni yang berpelitur mewah. Setelah menatralisir nafasnya yang memburu, ia membuka pintu ruangan tersebut. Ruangan itu cukup luas, di dominasi dengan warna putih dan cokelat yang elegan.

"Hyungdeul…" Ucap namja itu, membuat namja-namja lainnya menoleh kearahnya.

"Target has found," Ucapan namja itu disambut ekspresi beragam dari namja lainnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hyennie's Note:

AAAHHHHH‼ Akhirnya bisa update juga! xD setelah menunggu ffn bisa dibuka lewat chroma :"

Disini Hye mulai sedikit ngerubah cara penulisan Hye. Jadi mian nee kalau agak aneh x_x

Gomawo ne buat yang sudah nunggu chapter ini :D thanks for all support ^^

Pemberitahuan sedikit, berhubung ffn kadang gaje atau berpindah ke surel internetpositif blablabla itu -_- Hye memutuskan untuk memindahkan semua ff Hye ke wattpad mulai minggu depan. Tentunya Hye ga leave dari ffn. Wattpad Hye jadiin tempat back-up(?) kalau-kalau ff Hye disini dihapus admin. Jadi,, Hye double update disini dan di Wattpad.

Kali ini Hye ga kasih A/N panjang. Soalnya bingung juga mau nulis apa/? :') ini sudah 4K+ words lho~ apa sudah cukup panjang? :))

Last,

Mind to RnR? ;)