Daniel dan Jihoon berjalan menuju meja tempat awal Daniel duduk.

"Tunggu dulu Daniel, ada yang tidur di meja itu." Jihoon menghentikan langkahnya.

"tidak apa-apa, dia temanku.." Jawab Daniel.

Jihoon melihat ke arah Daniel, setelah yakin ia berjalan lagi menuju meja itu. Daniel dan Jihoon kemudian duduk bersebelahan. Daniel mengetuk-ngetuk meja, tujuannya adalah membangunkan Hyeongseop.

Cukup keras Daniel mengetuk meja itu, hingga akhirnya Hyeongseop membuka matanya kaget. "yaa, Kang Daniel.. kau.." Hyeongseop menghentikan ucapannya kemudian melihat ada orang lain yang duduk di samping Daniel.

"Oh, Halo.." Hyeongseop tiba-tiba ramah, menundukkan kepalanya.

Hyeongseop melihat Jihoon, mencoba mengenalinya.

"Kau Jihoon itu kan ? Wink boy saat ospek?" Tanya Hyeongseop.

"hehe, iya benar.. halo." Jihoon kemudian berjabat tangan dengan Hyeongseop.

"Kalian kan satu tim ya dulu saat penampilan ospek, aku tak menyangka kita bertemu lagi.." Lanjut Hyeongseop. Jihoon tersenyum.

"Hapus dulu air liurmu.." Sela Daniel tiba-tiba.

Hyeongseop kaget kemudian menatap marah ke arah Daniel.

Jihoon dan Daniel tertawa. Hyeongseop tampak malu, kemudian ikut tertawa.

"oh iya Jihoon, aku baru kali melihatmu di perpustakaan.." Kata Daniel kemudian.

"haha, iya sih. aku sebenarnya jarang kesini, tapi karena ada tugas yang harus aku kerjakan jadi aku mencoba mencari referensi disini." Jelas Jihoon.

"Kalian sering kesini ya?" Jihoon melihat Daniel dan Hyeongseop.

"Aku sih jarang, tuh si Daniel yang sering. Sering menjadikan perpustakaan sebagai ruang tidurnya." ejek Hyeongseop.

"yaa, diam kau.. tidak tau diri, siapa yang tidur siapa yang dituduh.." Daniel kesal.

Mereka kembali tertawa.

Cukup lama mereka berbincang di perpustakaan itu, hingga Hyeongseop memberi tahu Daniel bahwa kelasnya akan segera dimulai. "Daniel, kau tidak mau kan kalo dosen yang satu ini mengurangi nilai kita.."

Daniel melihat jam, "ah, benar juga dosen itu.. Jihoon, lain kali kita berbicang lagi ya." ucap Daniel kemudian.

Jihoon sebenarnya kecewa karena mereka harus berpisah, namun ia sebisa mungkin menyembunyikan ekspresinya. Jihoon hanya mengangguk. Membiarkan Daniel dan temannya pergi. Ia melihat bahu lebar Daniel sampai menghilang di pintu keluar.

Jihoon kini sendiri, ia pun memutuskan untuk pergi dari perpustakaan. 'Sudah tidak ada alasan lagi aku ada disini..' batinnya.

Jihoon pun melangkah keluar, namun perasaannya sedikit was-was, Jihoon merasa seperti ada yang sedang memperhatikan dirinya. Dengan cepat ia memandang ke belakang, ia benar. Jihoon melihat seseorang pria tinggi tiba-tiba ikut berbalik kemudian menghilang ke rak buku.

'ahh, orang itu lagi. siapa sih dia..' Batin Jihoon, sepertinya ia tau siapa yang mengikutinya.

-0-

Seongwoo sampai di kelasnya, mengambil tempat duduk di belakang, saat hendak mengambil earphone dari tasnya, tiba-tiba bahunya di pegang oleh seseorang. Seongwoo menoleh.

"hey, Hwang.." Seongwoo tersenyum.

"haish, berhenti memanggil dengan nama margaku Seongwoo.." balas pria itu.

"hahaha, baiklah, halo Minhyun.. cepat sekali kau datang ke kampus.." canda Seongwoo.

Pria itu bernama Minhyun, Hwang Minhyun. Ia adalah salah satu sahabat Seongwoo di kampus. Seongwoo dan Minhyun dekat karena perteman yang mereka jalin sejak masih SMA dulu, kemudian memutuskan untuk masuk kampus dan fakultas yang sama.

"sial, kau kira aku tidak pernah datang pagi ya.." Minhyun duduk disamping Seongwoo.

Seongwoo hanya tersenyum.

Minhyun memperhatikan tingkat sahabatnya itu, kemudian mengangguk. "Suasana hatimu pasti lagi tidak baik. Apa masih gara-garah lelaki berambut pink itu?"

Mendengar sosok Daniel disebut, Seongwoo langsung menutup mulut Minhyun dengan tangannya. "Keras sekali suaramu, aku tidak ingin ada gosip mengenai itu. dasar." Seongwoo setengah berbisik.

Minhyun menjauhkan tangan Seongwoo dari mulutnya, ia hanya tertawa. Minhyun tau bahwa Seongwoo tertarik dengan junior di kampusnya yang bernama Kang Daniel. Minhyun pun mengetahui tanpa sengaja saat selesai opsek di kampus, kebetulan mereka berdua adalah panitia. Seongwoo mengajak Minhyun untuk minum soju, saat itulah ia tau rahasia Seongwoo.

Seongwoo yang kala itu mabuk menceritakan awal mula ia tertarik dengan Daniel dan bagaimana seorang Seongwoo yang selama ini tidak peduli dengan cinta akhirnya mulai tertarik dan merasakan cinta.

Mengingat hal itu, Minhyun hanya tertawa. ia tidak tahan dengan ekspresi Seongwoo yang mabuk sambil menceritakan Daniel.

"hahaha, maaf maaf.. tapi apa benar gara-gara dia?" tanya Minhyun menurunkan suara bicaranya.

Seongwoo nampak enggan, tapi akhirnya ia curahkan apa yang ia rasakan dan ia pendam, semua ia ceritakan di hadapan Minhyun. Minhyun menjadi pendengar setia untuk Seongwoo, ia membiarkan Seongwoo bercerita hingga tuntas sebelum memberikan respon.

"Menurutku, kau jangan terlalu berlebihan Seongwoo.. aku tau rasa tertarik mu pasti akan semakin bertambah, tapi jangan jadikan itu sebagai hal yang membuatmu tidak semangat." Minhyun mencoba memberi pendapat.

"Mungkin saja tidak ada apa-apa antara Daniel dan si wink boy itu. Apa kau pernah melihat tatapan Daniel ke wink boy? " tanya Minhyun, disusul oleh gelengan lemah dari Seongwoo.

"Nah, makanya kau jangan langsung berpikir bahwa mereka memiliki hubungan lebih dari seorang teman. Aku heran, kau sangat cemburu sampai hampir gila, tapi sampai sekarang caramu mendekati Daniel tidak ada perkembangan sama sekali? Apa kau perlu bantuanku, sang ahli dalam hal seperti ini.." Goda Minhyun.

Seongwoo tertawa, membuat Minhyun lega melihat suasana hati Seongwoo yang membaik.

"Ingat Seongwoo, jika kau berfikir ingin menyerah tanpa adanya kemajuan dalam mendekati dia. Maaf, aku harus bilang kau orang yang bodoh. Kenapa? bayangkan sejak lama kamu ingin dekat dengan dia, tapi begitu kau lihat dia dengan orang lain yang belum tentu pasangannya, kau akan menyerah? begitu saja? ckckck" Minhyun menggeleng.

Seongwoo yang mendengar itu hanya mengangguk, ia mendegar nasihat sahabatnya itu dengan baik sambil menimbang apa yang salah dari dirinya.

"yaa, Minhyun sejak kapan kau jadi sangat bijak seperti itu.." Canda Seongwoo, senyumnya kembali.

"sial, aku memang sudah bijak sejak dulu. dasar!" Minhyun meninju bahu Seongwoo.

"jadi menurutmu? aku harus lebih berusaha lagi?" Tanya Seongwoo kemudian.

Minhyun mengangguk, "Tidak ada salahnya berusaha lebih, urusan bagaimana dia merespon, anggap itu hasil dari usahamu" jelas Minhyun kemudian.

"jika kelas ini tidak ramai, aku akan memelukmu. Kau adalah sahabatku yang paling mengerti." Kata Seongwoo.

Minhyun tertawa, tangannya terbentang lebar, "Sini peluk" candanya.

Mereka pun tertawa.

-0-

Daniel dan Hyeongseop masuk ke kelas, tepat setelah mereka duduk di kursi masing-masing, dosen yang paling ditakuti pun masuk. Pintu langsung di tutup oleh sang dosen.

"Huah, untung saja. Jika tidak tamatlah kita." Hyeongseop lega.

Daniel menganggu.

"Siapkan konsep street fotografi yang kalian sukai, kemudian buatkan dalam 1 halaman kertas A4." ujar dosen singkat. Disusul oleh gerakan sistematis mahasiswa yang mengambil kertas yang dibagikan.

"Yaa, pasti kau akan lancar membuat konsep ya.." Kata Hyeongseop ke Daniel. "Kemarin saat mengantarku, kau sudah cukup banyak mendapat foto pasti." Lanjutnya.

"Hmm. lumayan. Setidaknya ada yang aku tulis." Jawab Daniel.

Daniel pun kemudian sibuk menuliskan apa yang ada dipikirannya, ia cukup lancar menulis konsep foto yang ditugaskan. Berbeda dengan Hyeongseop yang tambak sedikit bingung menentukan konsep. Hyeongseop memajukkan bibirnya, sambil menggaruk-garuk kepalanya.

45 menit berlalu, dosen meminta kertas yang sudah mahasiswa tulis. Satu persatu mereka maju menyerahkan konsep.

"Cukup untuk hari ini, 45 menit waktu yang cukup. Saya ada kegiatan di luar kampus. Sampai bertemu minggu depan, dengan contoh foto sesuai konsep kalian." Dosen itu merapikan kertas-kertas yang terkumpul, lalu berjalan keluar.

"Yaa, Kang Daniel.. coba kau pukul aku, kita tidak sedang bermimpi kan? biasanya pelajarannya terasa sangat lama" Kata Hyeongseop.

Dengan cepat Daniel menampar pipi Hyeongseop. Hyeongseop meringis kesakitan. "sial, Kang Daniel kau.. !" Tangan Hyeongseop dengan cepat ingin membalas perbuatan Daniel, namun ternyata Daniel sudah siaga, ia menangkap tangan Hyeongseop. Daniel menjulurkan lidahnya, mengejek Hyeongseop.

Hyeongseop mengelus-elus pipinya, masih meringis. matanya mencoba sinis menatap Daniel. Namun, Daniel malah tertawa melihat wajah Hyeongseop. Wajah imut Hyeongseop malah terlihat sangat lucu jika menunjukkan ekspresi marah seperti itu.

Daniel memegang kedua pipi Hyeongseop kemudian mengelusnya. "maaf, hanya bercanda" Goda Daniel.

Hyeongseop seakan menjadi penyemangat Daniel, suasana hatinya sedikit berubah menjadi lebih baik. Walau masih ada yang menganjal di hatinya.

Daniel mengiyakan ajakan Hyeongseop untuk menonton hari ini, pelajaran hari ini sudah selesai, ditampah pelajaran terakhir yang hanya sebentar membuat sisa waktu untuk jam puang masih lama.

Setelah melihat film apa saja yang tayang hari ini melalui aplikasi di hp Daniel, mereka berjalan keluar kelas. Menuju parkiran tempat mobil Hyeongseop.

Daniel dan Hyeongseop berjalan menuju mobil hitam milik Hyeongseop yang terparkir di dekat pilar bertuliskan G-4, Hyeongseop mengambil kunci dari dalam tasnya kemudian memecet tombolnya. Ia dan Daniel masuk ke dalam mobil.

"Di bioskop itu lagi kan?" Tanya Hyeongseop memastikan.

"Iya, filmnya mulai sekitar 45 menit lagi. Bisa sampai?" Daniel melihat jam.

"Tenang saja." Hyeongseop mengacungkan jempolnya, kemudian ia sibuk mengoperasikan mobilnya.

Daniel dan Hyeongseop pergi dari kampus menuju bioskop.

-0-

Tidak terlalu banyak orang di bioskop, hanya aterlihat beberapa pasangan dan kelompok orang yang ingin menonton.

"Sepi sekali ya.." Hyeongseop melihat sekeliling.

"Wajarlah, ini kan sebenarnya masih jam sibuk.." Jawab Daniel.

"Yasudah kau tunggu disini saja, biar aku yang memesan." Hyeongseop berjalan menuju tiket box. Ia memesan dua tiket kemudian tak lupa popcorn dan minuman untuk berdua.

"Nih.." Hyeongseop memberikan popcorn dan minuman ke Daniel.

"Thanks." Jawab Daniel singkat.

Mereka duduk di tempat duduk yang telah disiapkan di lorong depan ruangan yang akan mereka masuki nantinya.

Sekitar 10 menit kemudian, terdengar pengumuman bahwa film yang akan Daniel dan Hyeongseop tonton akan segera dimulai. Daniel dan Hyeongseop pun masuk ke dalam ruangan yang tertera pada tiket.

Daniel melihat orang-orang yang masuk menonton film yang sama dengannya, tidak terlalu banyak. Hanya ada sekitar belasan orang saja yang menonton. Daniel dan Hyeongseop tidak berbicara selama menonton, mata mereka terpaku pada layar menyaksikan filmnya.

Setelah sekitar 2 jam, akhirnya film yang mereka tonton selesai. Hyeongseop mengajak Daniel untuk makan siang. Daniel hanya mengangguk setuju. Mereka pun sepakat memilih tempat makan steak yang berada tidak jauh dari bioskop.

-0-

Hyeongseop mengantar Daniel pulang pukul 4 sore. Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan lobi gedung apartemen Daniel.

"Terima kasih ya" Kata Daniel kemudian membuka pintu mobil.

"Oke" Jawab Hyeongseop singkat. "Sampai ketemu besok" lanjutnya.

Daniel mengangguk, kemudian berdiri keluar dari mobil, Daniel melambaikan tangannya melihat mobil yang perlahan berjalan meninggalkan lobi.

Ia melangkah masuk ke dalam gedung apartemennya.

Daniel mendengar bunyi di hp nya. Ada telpon. Ia mengambil hp dari dalam kantong celananya.

Tertulis nama Jihoon di layar. Daniel mengangkat telpon dari Jihoon.

"hallo"

"Daniel, kau dimana?" terdengar suara Jihoon.

'Aku baru sampai rumah. ada apa?" tanya Daniel.

"yah, padahal aku ingin pulang bareng.." jawab Jihoon.

"Hahaha, maaf. tadi aku sebenarnya sudah pulang sebelum jam makan siang."

"Oh, darimana saja kau jam segini baru sampai?" Jihoon penasaran.

"tadi aku pergi dengan Hyeongseop." Jelas Daniel.

"oh, baiklah.. aku pulang sendiri saja."jawab Jihoon kemudian.

Daniel hanya mengiyakan dan meminta maaf, kemudian menutup telponnya.

Daniel kembali berjalan menuju lift, belum sempat tangannya memencet tombol. Hp nya kembali berbunyi, tapi kali ini nada yang menandakan bahwa ada sms masuk.

Daniel melihat tidak ada nama pengirim, hanya nomor pengirimnya. Daniel penasaran, membuka sms itu kemudian.

Hai, apakah benar ini nomor Kang Daniel ? - ONG

'Ong? Ong Seongwoo?' Daniel terlihat senang.

- to be continued