"Leeteuk-ssi menyetujui kerja sama yang kita ajukan appa. Ini aneh, tiba-tiba saja setelah beberapa waktu tidak ada kabar. Tapi bagus untuk perusahaan dan bisnis kita. Hansan group perusahaan besar. Kita mendapat rekanan kelas atas kali ini."

Appa mengangguk membenarkan perkataan putra sulungnya. "Tapi kudengar perusahaan itu mengalami sedikit masalah sejak tuan Park fokus untuk perusahaan luar negeri dan Leeteuk-ssi yang bertanggung jawab. Kita harus waspada."

"Aku akan perhatikan itu appa. Anggap saja kita memberi kesempatan bagi mereka."

"Lalu kapan pengesahan kontrak itu?"

"Mereka akan mengirimkan kabar lagi pada kita nanti."

Jeun Hee tidak berniat masuk dalam pembicaraan appa dan hyungnya. Meski sedikit telinganya terasa gatal mendengar nama Leeteuk disebut.

"Berhentilah membicarakan masalah perusahaan di meja makan." tegur sang eomma yang memperhatikan Jeun Hee sejak tadi. "Jangan menyebut Leeteuk atau Hansan group lagi. Jeun Hee tambah dagingnya lagi ne?"

Eomma menyumpit daging dan menaruhnya di mangkuk Jeun Hee. Jeun Hee tersenyum kecil.

"Mian Jeun,"

Jeun Hee buru-buru menggeleng mendengar kakaknya meminta maaf. "Anniyo. Aku tahu hyung sangat bersemangat untuk proyek ini. Ini awal eksistensimu. Berjuanglah!"

Jonghyun mengacak surai coklat adiknya. Dia tahu Jeun Hee tidak baik-baik saja mendengar tentang Leeteuk dan Hansan group, tapi dia mencoba ceria. Lagipula dia dan appa sengaja. Setelah kejadian di rumah sakit, Jonghyun menghubungi kembali psikiater yang dulu merawat Jeun hee. Usia menyarankan untuk membiasakan Jeun hee dengan kehidupan barunya, sudah waktunya juga untuk menghadapinya secara langsung. Dengan membiasakan kehidupannya yang pasti berhubungan dengan masa lalunya, itu jauh lebih baik. Secara perlahan, Jeun hee seperti harus bersosialisasi kembali. Meskipun khawatir, dia tidak punya pilihan lain. Adiknya harus sembuh dan menerima masa lalunya bukan sebagai sebuah rasa sakit. Dengan ini dia berharap Jeun hee akan lebih kuat nanti.

Selesai makan malam Jeun Hee masuk ke kamarnya. Merebahkan diri di ranjang dengan posisi sembarangan. Pikirannya tidak tenang sejak mendengar percakapan appa dan hyungnya di meja makan. Leeteuk dan Hansan Group. Tidak disangka pindah ke Seoul membuatnya terasa sulit. Tapi dia tidak bisa mengeluh pada appa dan eomma apalagi hyungnya. Dia tidak mau membuat mereka juga menanggung kesulitannya dan mengalah pindah kembali ke Busan. Dia yakin keluarganya pasti akan memutuskan itu begitu mendengar keluhannya. Jadi dia mencoba bertahan.

Di acara pentas seni sekolah menjadi sangat ramai. Pihak sekolah mengundang wali murid dan para donatur untuk menghadiri acara tersebut. Panggung seni didirikan di aula tengah yang luas dan mampu menampung semua orang. Acara akan berlangsung hingga sore dengan serentetan acara yang padat. Ada nyanyian, tarian klasik maupun modern, drama, band, pameran lukisan hingga bazar makanan. Bisa diperkirakan akan semeriah apa acara tersebut. Panitia telah menyiapkannya sebulan lebih dan berharap acara akan memuaskan dan terkenang bagi mereka yang melihat.

"Kyuhyun."

Jeun hee mendengus kesal. Akhir-akhir ini dia sering mendengar nama itu disebut. Siapa lagi kalau bukan si Kibum. Heran, padahal dia yakin julukan si Kibum itu adalah si datar. Tapi didepannya jadi sangat cerewet menurutnya.

"Ada apa?" tanya Jeun hee datar.

"Anni. Hanya ingin melihatmu sebelum kau tampil."

Jeun hee sweetdrop di tempat. Bukankah kelakuan si Kibum itu ajaib? Datang hanya untuk mengucapkan hal itu kemudian pergi. Jeun meletakkan kertas lagunya dengan kesal. 'Andai kau dulu seperti ini Bum hyung, hidupku akan jauh lebih baik. Rasanya sakit saat kaliyan menjauhiku.' Jeun hee menepuk dadanya yang sesak.

"Waeyo, Jeun hee?" Yesung saem menghampirinya. Dia meminta air pada panitia dan memberikannya pada Jeun hee.

"Kau gugup?" tanya Yesung saem setelah Jeun hee minum.

"Tidak." jawab Jeun hee sudah bersikap biasa.

Yesung saem menepuk bahunya. "Baguslah. Aku mengandalkanmu hari ini. Lakukan yang terbaik."

Jeun hee menatap takjub pada gurunya. "Woaaa, Yesung hyung bisa tersenyum juga rupanya!"

Yesung menjitak kepala Jeun hee dengan gemas. "Dasar kau evil kecil! Ah, aku jadi ingat hyung cantikku."

"Mana ada lelaki cantik, saem."

Yesung menatap tidak percaya pada anak didiknya yang sebentar-sebentar memanggilnya saem lalu sebentar kemudian memanggilnya hyung. Seenaknya saja, seperti hyung cantiknya. "Dia cantik dan tampan. Dia keluar dari rumah beberapa tahun lalu karena berbeda pendapat dengan appa. Hyungku orang yang keras, emosian dan tidak mau dibantah. Terkadang dia sangat kejam tapi dia baik."

"Saem merindukannya?"

"Tentu saja! Namanya saudara, tentu saja aku merindukannya. Aku sudah mengiriminya undangan untuk datang, tapi tidak tahu apa dia akan datang."

"Kalau dia menyayangimu, dia pasti datang."

"dia harus datang! Kudengar dia akan menikah, tapi tidak mengatakan apa-apa pada keluarganya. Aku ingin sekali mencincangnya saat bertemu."

Jeun hee meringis. "Kau lebih kejam hyung."

"aku tidak ada apa-apanya dengan hyungku. Lihat saja kalau kau bertemu nanti."

"Terima kasih, semoga tidak bertemu."

Yesung saem pergi saat seorang panitia memanggilnya. Jeun hee terpekur. Dari percakapan singkatnya degan Yesung dia pikir mereka saudara yang akrab. Dia berharap hyungnya Yesung saem bisa datang dan melihatnya bernyanyi. Dia ingin tunjukkan Yesung saem memiliki murid yang bisa dibanggakannya. Lamunanya buyar oleh sebuah pesan masuk. Dari Jonghyun hyung, dia mengabari mereka sudah sampai dan duduk di bangku deretan kedua dari depan.

Kibum diapit para hyungnya. Dia sedikit risih sebenarnya. Tapi ada yang lebih menyita perhatiannya. Dia penasaran bagaimana reaksi mereka saat melihat Jeun hee di atas panggung nanti? Dan itu tidak lama bisa dia lihat. Jeun hee tampil di urutan kelima, lagu solo. Selagi Jeun hee bernyanyi di atas panggung Kibum sibuk melihat ke kanan kirinya melihat reaksi mereka. Hampir semuanya terlihat terkejut jika saja Kibum tidak melihat sedikit ekspresi lain di wajah Leeteuk. Sebelum Kibum bertanya, Leeteuk sudah berbicara lebih dulu.

"Kau tidak mengatakan apapun tentang ini Bummie?"

Semua menoleh. Menunggu jawaban Kibum. Kibum diam, memilih alasan yang tepat untuk menjawab. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa."

"Kau sudah berbicara dengannya?" tanya Leeteuk lagi.

Kibum mengangguk. "Dia bukan Kyuhyun. Dia Jeun hee."

"Jangan bercanda, Bummie. Selain kau, tidak ada kembaran lain. Kaliyan bahkan tidak identik." ini kalimat Hyukjae. "Waktu kujemput hari itu, kau sudah melihatnya?"

Kibum mengangguk lagi. Mereka menghela nafas. "Kenapa kau tidak langsung mengatakannya? Orang yang tiga tahun menghilang ada didepan kita sekarang. Dan kau menyembunyikannya?" Sungmin memandang kecewa pada Kibum.

"Memangnya dia akan dibawa pulang?" ini pertanyaan Hyukjae.

"Kenapa tidak? Dia memang harus pulang!" sungmin menyahut.

"Dan kembali seperti dulu?!" balas Hyukjae tidak terima. "Tidak Min hyung! Sebenarnya aku sangat senang saat appa mengatakan dia menghilang. Rasanya seperti kayu berduri yang bisa disingkirkan dari jalan. Aku lega sekali."

"Hyukjae!" tegur Sungmin tidak percaya. Suara kerasnya menimbulkan beberapa orang menoleh pada mereka. Leeteuk segera menarik mereka keluar dari barisan. Mereka meninggalkan aula. Mereka menyelesaikannya di luar. Ada perdebatan kecil antara Sungmin dan Hyukjae. Sungmin tidak suka dengan perkataan Hyukjae yang baginya terlalu kejam. Bagaimanapun Kyuhyun adalah saudara mereka.

"Saudara yang merebut segalanya dari kita maksudmu, hyung? Dia bukan hanya merebut appa, bahkan kesempatan dan hak Leeteuk hyung sebagai yang tertua diantara kita!"

Sungmin diam. Hatinya menyangkal itu, tapi pikirannya membenarkan. Dia menatap Leeteuk hyung. "Sekarang kau sudah memegang perusahaan hyung. Kyuhyun harus kembali."

Leeteuk menggeleng. "Kembali atau tidak bukan ada padaku Sungmin. Kyuhyun sendiri yang memutuskan. Terus terang saja, aku khawatir jika memang dia Kyuhyun dan kembali ke rumah. Semua pasti kembali seperti dulu. Kau dan aku akan kehilangan kesempatan berada di perusahaan lagi. Begitu pula Hyukjae dan Kibum nanti. Appa akan selalu ada dipihaknya."

"Apa ini tentang harta?" tanya Kibum setelah lama mereka terdiam mencerna kalimat Leeteuk.

"Bukan Kibum. Kau jangan salah paham." jawab Leeteuk lembut. "Appa selalu memandang kita tidak mampu dan memilih Kyuhyun sebagai penerusnya. Itu tidak adil. Kita sebagai anaknya juga memiliki hak yang sama dan diberi kesempatan yang sama. Aku sebagai yang tertua berharap keadilan rata untuk kita. Mungkin tidak adil untuk Kyuhyun, tapi aku pikir tidak ada salahnya jika dia tidak kembali. Kulihat dia juga bisa bahagia di luar kita."

"Itu kejam hyung." Sungmin keberatan dengan itu.

"Dia boleh kembali, Sungmin-ah. Aku hanya berencana agar dia mau memberi kita waktu hingga keadaan menjadi lebih adil untuk kita." Leeteuk mencoba memberi pengertian. Dia pun melihat ke Kibum yang terlihat seperti sungmin. Hanya Hyukjae yang sepertinya setuju dengannya.

Tanpa mereka sadari seseorang mendengarkan percakapan mereka. Dia Jeun hee. Saat mereka berjalan meninggalkan aula, tentu semua orang melihatnya apalagi dia yang berada di panggung. Selesai bernyanyi dia segera pergi keluar, menyusul mereka. Dia sedikit khawatir terjadi apa-apa dengan Kibum. Tapi saat mendengar mereka berdiskusi tentangnya dia bersembunyi dan mendengarkan. Hatinya terasa sakit saat Hyukjae mengatakan itu. Tapi hatinya jauh lebih sakit menyadari mereka tidak memikirkan tentangnya. Mereka hanya memikirkan tentang kenyamanan mereka. Mereka bahkan tidak mengatakan rindu padanya atau setidaknya senang melihatnya. Tidak ingin hatinya semakin sakit Jeun hee memutuskan untuk kembali ke dalam. Dia ingin menyapa keluarganya yang datang. Mereka jauh lebih baik menurutnya. Dan dia tidak ingin menukarnya dengan apapun lagi. Dia telah memutuskan untuk tidak kembali.

Baru saja dia menginjakkan kaki di kelas saat sahabat jangkungnya menyambar tas cangklong hitam darinya. Jeun Hee kaget tentu saja. Masih mematung didepan pintu kelas dia menatap horor pada apa yang dilakukan sahabatnya. Namja jangkung langsing yang terlihat hiperaktif itu membuka tasnya tanpa permisi dan mengeluarkan sebuah buku, yang dia tahu sebagai buku tugas Matematika. Kemudian dengan cepat dia membukanya di atas meja. Dia menyalin pekerjaannya.

Jeun Hee mendengus kesal. Dia melangkah lebar menuju si jangkung bak tiang listrik. "YAA! Kau cari mati hah?!" bentaknya.

"Anni!" sanggah si tiang listrik menatap Jeun Hee dengan wajah polos. "Aku cari selamat Jeun Hee. Duduklah, aku salin ini dahulu. Nanti kita battle game, ne?"

Jeun Hee melongo sejadi-jadinya melihat temannya itu tidak melihat aura hitamnya dan dengan tenang terkesan buru-buru meneruskan menyalin. Jeun Hee hampir saja meledak lagi lantaran diabaikan. Tapi kemudian dia bisa mengendalikan diri. Mengatur nafasnya, Jeun Hee berjalan memutari meja lalu duduk di sebelah Shim Changmin, alias 'tiang listrik'.

Jeun Hee nampak duduk tenang di sebelah Changmin, hingga temannya selesai menyalin.

"Gomawo ne Jeun Hee. Aku akan selamat di pelajaran pertama Kang songsaenim." Changmin mengembalikan buku Jeun Hee dengan wajah lega dan senyum lebar. Jeun Heepun tidak kalah lebar senyumnya. Bahkan terkesan berlebihan.

"Heum. Sekarang bisa kita battle?" Jeun Hee sudah menggenggam PSP hitam. Mengundang Changmin untuk bermain. Changmin menyambutnya dengan semangat. Dia mengeluarkan PSPnya sendiri dan bersiap hingga terdengar intruksi Jeun Hee. "Cukup satu level, siapa yang bisa menyelesaikannya lebih dulu maka dia pemenangnya. Dan si pemenang berhak menghukum yang kalah. Otte?"

"Deal!" Changmin menyanggupi tanpa curiga. Dia tidak melihat saja seringaian Jeun Hee yang terkesan iblis.

Setelah 2 menit bertanding, wajah Changmin berubah horror. Dia menatap Jeun Hee memohon dan ketakutan. Kalau tidak ingat umur dia mau saja menangis meraung. Dia memang kalah bertanding. Hanya bukan itu jadi masalahnya. Hukuman yang Jeun Hee berikan yang jadi masalah terberat dan terbesarnya.

"Ya, Changmin-ah. Ingat ne, makan siangmu hanya satu porsi." Jeun Hee memperingati dengan senyum yang saaaaangat manis. Changmin menjatuhkan wajahnya dipermukaan meja dan mencakar meja dengan kesepuluh jari tangannya, menimbulkan suara berdecit yang tidak enak. Jeun Hee terbahak melihat reaksinya. Dengan prihatin yang disengaja, Jeun Hee menepuk punggung Changmin dan mengusapnya.

"Kau sengaja mengerjaiku JeunHee…" tuding Changmin merasa teraniaya.

Jeun Hee mengangguk polos. "Aku kesal pagi ini karenamu. Itu hukumanmu. Tapi bukankah adil? Kau kalah bertanding. Sesuai perjanjian, yang menang berhak memberi hukuman bagi yang kalah. Ayo, tegarlah. Kau namja keren, bukan?" Jeun Hee semakin gencar berpura-pura memberi perhatian dengan mengusap punggung Changmin, tidak peduli sudah sekacau apa hati Changmin.

Bagaimana bisa seorang Shim Changmin makan siang dengan satu porsi? Dia biasa menghabiskan empat porsi dalam sekali makan, itu saja dia masih ingin nambah. Itu sebabnya dia dijuluki perut karet. Pantas jika dia menganggap ini hukuman terberat. Dia sudah membayangkan akan kelaparan siang ini. Melewati hari ini tanpa tenaga dan mati kurus kering, kelaparan. Dia berlebihan.

"Jeun Hee berniat membunuhku…." Changmin memelas masih dengan posisi seperti itu. Dan Jeun Hee tertawa bahagia.

Jeun hee berada dibangku penonton melihat pertandingan Changmin, sahabatnya. Pagi tadi dia puas mengerjai Changmin habis-habisan. Tapi sekarang dia mengagumi pemuda jangkung yang sangat keren di lapangan. Mendribel bola oranye dan memainkannya dengan ulet dan lincah. Belum lagi kalau dia menshoot bola ke ring, yang akan berujung dengan teriakan histeris dari para siswi. Menyadari betapa kerennya Changmin dibanding dirinya yang sangat payah dalam olah raga, Jeun Hee jadi kesal. Menekuk wajah dan mencebikkan bibirnya.

"Awas saja kalau dia punya yeojachingeu sebelum aku!" dalam hati Jeun Hee bertekad akan mengganggu Changmin dan kekasihnya jika seandainya si tiang listrik itu memiliki yeojachingeu sebelum dirinya. Dia memang egois. Dia tidak mau satu-satunya sahabatnya akan membagi waktu dengan orang lain. Karenanya dia tidak mengijinkan Changmin berpacaran sebelum dirinya. Changmin protes tapi menurut. Entah hati Changmin terbuat dari apa hingga begitu mudahnya menuruti semua perintah dan keinginan Jeun Hee. Bahkan dikerjai habis-habisan masih saja menganggap Jeun Hee adalah sahabat terbaiknya.

"Dia memang ajaib." Putus Jeun Hee memikirkan sahabatnya itu. "Dan dia selalu tersenyum, anak yang beruntung" yang ini dia ucapkan dengan lirih. Sedikit iri dalam hatinya. Jeun Hee menatap sendu pada Changmin yang kini bernafas ngos-ngosan dan dibanjiri peluh setelah bermain beberapa ronde. Ini latihan dan Changmin selalu serius untuk basket.

"Jeun Hee kita bermain game setelah ini, arra?" Changmin menghampirinya. Dia mengusap peluh dengan handuk putih.

"Memangnya kau tidak lelah?"

Changmin menggeleng cepat. "Untuk game, tenagaku masih ada. Tapi makan dulu, ne?" Changmin tersenyum lebar. Jeun Hee memutar matanya. Dia berdiri.

"Kau yang traktir." kata Jeun Hee berlalu. "Kutunggu di kantin."

"Aku akan cepat! Jangan bosan menungguku, chagiya!"

Jeun Hee melebarkan langkah begitu lebaynya Changmin kumat. Dan tahulah dia para fujoshi segera memasang radarnya. Ini salah satu hal yang tidak menyenangkan dalam berjomblo dan bersahabat dengan jomblo gila seperti Changmin. Dianggap abnormal dan sasaran empuk dari sorotan mata para fujoshi.

"Kyuhyun-ah!"

Langkah Jeun Hee berhenti seketika. Seorang pemuda berada tidak jauh didepannya. Berambut hitam legam, tubuh langsing dan senyum lembut. Jeun Hee hendak berbalik namun pemuda itu buru-buru memanggilnya kembali. Dengan nama yang sama. 'kyuhyun'. Mau tidak mau Jeun Hee mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Kibum-ssi ini bukan pertama kau salah memanggil orang! Aku bukan Kyuhyun!"

"Aku tahu itu kau Kyuhyun-ah."

Jeun Hee mengepalkan tangannya kuat. Mendengar kalimat Kibum entah kenapa dia sangat marah dan tanpa sadar membentak Kibum dengan keras. "KIBUM-SSI!"

Kibum tercekat dengan bentakan itu. Dia gemetar dengan wajah pucat. Melihatnya Jeun Hee jadi menyesal. Dia memalingkan wajah. "Aku tidak suka kau terus-terusan salah memanggil. Aku tidak akan minta maaf untuk hal itu, kau yang salah."

"Kibum-ssi!" seseorang berlari melewati Jeun Hee menyongsong tubuh Kibum yang merosot jatuh. Jeun Hee terkejut melihat itu.

"Jeun Hee apa yang kau lakukan?!" Changmin menatapnya dengan marah. Sedangkan kedua lengannya merengkuh Kibum yang sudah tak sadarkan diri.

Jeun Hee terpaku melihat Changmin membentaknya dengan kemarahan. Tanpa mempedulikannya Changmin mengangkat Kibum dan berlari pergi ke ruang kesehatan.

Tbc-