Douzo
.
.
.
Gaara memutuskan untuk menghubungi Kankuro setelah rasa curiganya tak tertahankan. Tentunya, pemuda dengan make up aneh itu yang datang menemui Gaara di kediamannya sekaligus bermaksud silaturahmi. Hinata berada di halaman belakang bersama Maki saat itu. Entah melakukan apa, Gaara tak perduli.
Kakaknya yang berdarah dingin itu sebenarnya tidak terlalu menyeramkan. Ia berada di pihak netral antara kedua keluarga—Gaara dan Rei—yang saling menjerumuskan satu sama lain. Apabila diminta, Kankuro dengan senang hati menjelaskan informasi yang di inginkan Gaara. Tentu saja, jika hal itu tidak mengancam nyawanya. Seperti apa yang Gaara minta saat itu; mengapa markas besar tidak melakukan pergerakan setelah Hinata menghilang. Kankuro menjawab dengan santai, "aku tidak tau mengapa ayah tutup mulut kepadamu mengenai hal ini namun, pak tua itu tidak jadi dengan rencana awalnya yang menurutku kekanakan. Entah kenapa, tapi dia dengan mudahnya menerima tawaran Toneri yang bertujuan untuk menculik Hinata seorang diri. Pria ubanan itu bahkan tidak ingin diberi tau informasi apapun mengenai si Hyuuga. Ia keras kepala hendak menangkap sendiri buruannya tanpa tau dimana gadis itu berada. Dan tentunya, Toneri meminta mata yang baru saja di ambil susah payah oleh Kabuto.
Ayah menyetujuinya lagi. Kami tidak diberi tau mengapa. Kupikir si Toneri sialan itu menggunakan cara licik tertentu untuk mencapai tujuannya. Tapi kalau dilihat dari siapa yang dia lawan, kukira tidak akan semudah itu. Ayah adalah orang paling keras dari yang pernah ada bukan?"
Gaara setuju dengan kalimat terakhir yang Kankuro utarakan. Kalimat yang sejujurnya menimbulkan rahasia baru jika disetujui. Namun begitulah faktanya. Sabaku Rei memang tidak mudah terpengaruh oleh sesuatu dan sekarang? Kabar bahwa Toneri berhasil merebut benda incaran pemimpin Sabaku dengan cara jujur amatlah ganjil. Dan pekerjaan Gaara bertambah karenanya. Ia harus membuat praduga sementara sehingga dapat melemparkan Hinata ke titik yang tepat agar gadis itu aman. Ngomong-ngomong ia juga harus berbicara dengan Hinata.
"Nanti malam ikut aku, Hinata." Gaara langsung menghampiri Hinata di halaman depan ketika dirinya teringat tentang obrolannya bersama Kankuro sehari yang lalu. Pemuda itu mendapati Hinata sedang berjalan pelan sembari meraba beberapa tanaman. Gadis itu menoleh ke sumber suara, "kemana?"
"Kita akan menyelamatkan diri ... Atau kau."
Demi mendapati kalimat Gaara yang kurang signifikan, Hinata tertegun sejenak, "aku tidak mengerti."
"Begini," Gaara menarik nafas, "kemarin aku meminta informasi pada Kankuro tentang mengapa keluargaku tidak lagi bertindak setelah kau kembali kesini. Dan tebak apa yang kudapat, Sabaku Rei telah menyerahkan hidupmu pada Ootsutsuki Toneri yang misterius. Aku tidak tau mengapa Rei mudah sekali menyerahkan apa yang menjadi incarannya selama ini dan bocah Ootsutsuki itu mudah sekali memintanya. Semua ini masih menjadi teka-teki memang. Namun, aku tidak cukup percaya diri dapat menolongmu dengan segala keterbatasan. Karena itu, memberikan kesempatan pada Shimura Sai untuk melindungimu sekali lagi kurasa bukan pilihan buruk."
Hinata bergeming dalam beberapa menit. Gaara tidak mengerti tentang apa yang dipikirkan olehnya. Gadis itu hanya menunjukkan garis bibir lurus. Tidak terbaca apakah dirinya sedang sedih, senang atau apa.
"Jadi, Sai baik-baik saja?"
Gaara memasukkan tangan ke dalam saku, "sekarang pasti sudah sembuh."
"Syukurlah."
Keheningan terjadi setelahnya. Keduanya tidak berniat buka mulut atau bahkan bergerak. Hinata malah terlihat seperti tidak bernafas. Gaara sibuk menerka tentang apa yang dirasakan Hinata. Kemudian, perban yang basah menjawab pertanyaannya. Gaara melangkah mendekati Hinata, "Hinata ... Kau ... Baik?"
Tangan mungil milik gadis itu mencengkeram lengan baju Gaara, "apa aku ... tidak akan bertemu denganmu lagi?"
Mendengar apa yang diutarakan gadis itu bersamaan dengan ekspresi sendunya, jantung Gaara mendadak memompa darah lebih semangat, "a-apa yang kau maksud?"
"Apa kita berpisah disini? Setelah kau meminta Sai melindungiku?"
Gaara melepas cengkraman Hinata. Kemudian, kedua tangannya terulur, memegang pundak gadis di depannya. "Jujur saja, aku senang kau bersedih tentang perpisahan kita. Namun, tebakanmu salah. Melindungimu tetaplah menjadi tugasku. Aku tetap akan melaksanakannya sekalipun telah meminta bantuan Sai serta. Lagi pula aku yang tau betul tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan kau alami. Jadi, jangan khawatir. Aku tetap masih bersamamu. Shimura hanyalah bantuan."
Hinata tersenyum, "begitu ya."
Tidak ada percakapan yang terjadi setelah topik pertama usai dibahas. Gaara tidak pandai berbasa-basi. Hinata nampak masih memikirkan apapun itu yang Gaara tidak mengerti. Pemuda itu penasaran, namun enggan bertanya. Ia akhirnya menyerah setelah keterdiaman berhasil menumbuhkan rasa jengah di dalam dirinya.
"Apa yang membebani pikiranmu, Hinata?"
Hinata terkejut oleh pertanyaan Gaara. Nampaknya, dunia semu telah membawanya terlalu jauh ke dalam khayal kekhawatiran yang membuat gadis itu jatuh pada kondisi buta. Lebih buta dari keadaannya sekarang. Membuatnya sedikit blank tentang siapa yang bertanya saat ini, "e-eh? Siapa?"
"Aku."
"Ah, Sabaku, ya."
"Gaara."
"Ha?"
"Gaara. Panggil aku Gaara."
Benar juga. Hinata mengingat bahwa beberapa menit yang lalu, pemuda yang ia duga sedang berada dihadapannya saat ini sudah memanggil namanya dengan nama belakang. Mungkin ia harus berlaku sama? "Ah, oke, Gaara."
Gaara berekspresi masam demi melihat keterlambatan Hinata dalam menangkap informasi. Apa semenjak awal memang hanya raga kosong yang ia ajak bicara?
"Jadi apa yang mengganggumu?"
Dengan alasan yang tidak Hinata yakini, gadis itu mendadak menundukkan wajah, tiba-tiba sedih begitu saja. Gaara bingung setengah mati walau ekspresinya tidak terbaca. Gadis lavender itu sedikit aneh menurut pendapatnya. Sedetik lembut, sedetik hiperaktif, sedetiknya lagi sedih. Gaara sama sekali tidak paham.
"Aku tidak tau." Ujar Hinata.
"Aneh."
"Aku punya perasaan buruk tentang pelarian kita."
Gaara sedikit terganggu dengan kata 'pelarian' namun, ia berusaha abai, "perasaan apa?"
"Aku tidak tau." Hinata mengambil posisi jongkok setelah segala usahanya menekan perasaan aneh yang begitu pekat. Di dalam dirinya seolah bergema suara-suara bising tentang Gaara. Mereka seperti sedang mencoba memberi peringatan tentang hal buruk yang akan menimpa pemuda yang semula musuhnya itu. Hinata tidak mengerti mengapa. Mengapa dirinya merasakan tekanan sesak dalam dada? Mengapa dirinya merasa berat menghadapi waktu yang semakin berlalu? Mengapa bisikan itu terasa nyata?
"Hinata?"
Suara Gaara jelas menggema melewati lorong telinganya. Namun Hinata tetap bergeming. Kepalanya terasa penuh oleh sebab perasaan merajalela yang mulai menginvasi seluruh tubuh. Jika saja hal itu berbentuk cair, Hinata pasti akan bersyukur, karena air yang memenuhi dirinya dapat dikeluarkan paksa dengan memuntahkannya. Tapi apa yang sedang berselancar di dalam dirinya saat ini adalah perasaan lain yang tidak berbentuk namun terasa menusuk.
"Hinata?!"
Gadis lavender itu merasakan bahunya yang dicengkeram Gaara. Dengan kekosongan akan pandangan, ia coba mendongak, memberi tanda bahwa dirinya mendengarkan. Merespon kekhawatiran Sabaku Gaara.
"Ada apa denganmu?! Tiba-tiba termenung di hadapanku seperti itu! Kau benar-benar membuatku takut!"
Takut? Gaara takut tentangnya?
"Sabaku," gadis itu kembali lupa bahwa beberapa detik yang lalu ia bersama pemuda bersangkutan telah menentukan nama panggilan yang lebih baik untuk Sabaku Gaara. "Tolong ... "
Hinata menjerat kalimatnya beberapa menit. Gaara amat jengkel. Dan ia sedang berusaha mengeluarkan kalimat terbaik yang dapat ia utarakan saat sedang dalam keadaan dongkol. "Ya?"
Walaupun hanya itu yang berhasil terucap.
"Tolong berjanjilah bahwa kau akan baik-baik saja."
Pemuda bungsu tiga bersaudara Sabaku yang dikenal paling cerdas telah dibuat bodoh oleh sikap Sulung Hyuuga.
Gadis itu ... Apa yang sebenarnya ia rasakan?
.
.
.
Owari
