Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

.

.

.

Pairing: Naruto x Koneko

Genre: romance/adventure/fantasy

Rating: T

Setting: AU (zaman samurai. Desa-desa ninja dijadikan desa biasa.)

Jumat, 22 Januari 2016

.

.

.

Fic request dari Bima Ootsutsuki

.

.

.

THE WANDERERS

By Hikasya

.

.

.

Chapter 11. Latihan sekaligus kencan

.

.

.

"UZUMAKI KONEKO, BERSIAPLAH UNTUK MELAWANKU BESOK DI AULA ISTANA INI!" Shion tetap menunjuk Koneko dengan suaranya yang lantang. Wajahnya sangat serius. Kedua matanya menajam.

Koneko langsung menganggukkan kepalanya. Menyetujui tantangan dari Shion.

"Baik, aku menerima tantanganmu. Aku akan siap melawanmu besok di aula istana ini."

Shion tersenyum sinis dan menurunkan tangannya. Ia merasa senang karena Koneko menerima tantangannya yang begitu tiba-tiba.

"Aku tunggu besok pagi. Kau akan kukalahkan. Lalu kau harus merelakan suamimu untuk menjadi milikku. Ceraikan dia. Itulah keinginanku."

Naruto pun ternganga habis sambil memandang dua gadis itu secara bergantian. Koneko berwajah serius sekali.

"Itu tidak akan terjadi. Aku yang akan mengalahkanmu. Jika aku menang, kau harus merelakan Naruto dan jangan pernah mengharapkan Naruto lagi. Kau harus melupakan niatmu yang ingin menikahi Naruto. Apakah kau setuju dengan hal ini?"

Pandangan Shion melekat erat pada Koneko. Sedetik kemudian, dia menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Setuju."

Lantas Koneko tersenyum simpul. Naruto sendiri pun menjadi bingung dengan arahan pembicaraan ini. Mengapa pembicaraan ini malah berujung pada pertarungan yang menjadikan dirinya sebagai obyek taruhan? Memangnya dia adalah sebuah barang yang seenaknya menjadi rebutan? Beginilah jadinya. Koneko dan Shion harus saling bertarung demi mendapatkan Naruto.

Kedua gadis itu saling tersenyum sinis. Di depan sang kaisar, mereka terpaku dalam jalan yang disepakati bersama. Penentuan akhir masalah akan terjawab keesokan harinya. Semoga inilah jalan terbaiknya.

.

.

.

Tempat yang dipenuhi semak-semak, pohon-pohon besar dan rindang, lapangan rumput hijau yang begitu luas, banyak tanaman obat-obatan liar tumbuh subur serta tanaman bunga-bunga beranekaragam jenis warnanya, menghiasi pemandangan di kaki bukit itu. Di tebing bukit, tampak tanaman bunga eldeweiss tumbuh mekar. Bunga keabadian. Semua bentuk bunga bermekaran di tempat yang disinggahi oleh Naruto dan Koneko.

Di sinilah mereka berada sekarang, usai berbicara dengan Shion di istana kerajaan Hana. Naruto segera membawa Koneko ke sini, sesuai janjinya untuk membawa Koneko kencan. Kencan di suasana sepi, indah dan berangin seperti ini. Inilah tempat di mana Naruto dan Koneko bertarung dalam rangka mengasah kemampuan Koneko, waktu kemarin itu. Mereka sekarang duduk di bawah pohon yang rindang, sejuk dan teduh. Angin semilir menemani kebersamaan mereka.

Naruto duduk bersila sambil menyandarkan punggungnya di batang pohon rindang tersebut. Kedua tangannya dilipat di dadanya. Ia memandang ke arah tebing bukit, yang tak jauh darinya. Sementara Koneko duduk di sampingnya, dengan posisi menekukkan kedua kakinya. Ia menatap suaminya yang marah padanya. Wajah Koneko sangat kusut karena Naruto tidak setuju dengan tantangan duel yang diusulkan Shion begitu tiba-tiba.

"Naruto-kun, maafkan aku," kata Koneko dengan nada pelan."Aku tahu kalau aku salah karena mau saja menerima tantangan duel Shion itu. Semua itu kulakukan demi dirimu. Jika aku menang, Shion tidak akan mengejarmu lagi dan ..."

"Aku tidak suka dengan caramu ini. Ini akan mendekatkanmu pada mimpi burukku itu. Kamu akan terbunuh, Koneko-chan. Aku ... Aku tidak setuju jika kamu bertarung melawan Shion hanya ingin memperebutkan aku. Aku tidak ingin ada kekerasan. Tapi ..." Naruto tetap tidak mau menatap wajah Koneko."Kamu sudah membuatmu kecewa. Kamu membuatku semakin takut saja. Aku tidak mau berbicara padamu untuk sekarang ini. Aku pergi dulu."

SREK!

Naruto bangkit berdiri dari duduknya. Koneko terperanjat. Dia panik dan takut karena telah membuat Naruto menjadi kesal padanya.

"NARUTO-KUN! TUNGGU DULU!"

"AKU TIDAK MAU MENDENGAR PENJELASANMU LAGI! KAMU SUDAH MENGECEWAKAN AKU!"

"NARUTO-KUN!"

Terlambat, Naruto sudah menghilang dari hadapannya. Koneko tidak jadi mengejar Naruto. Naruto tiba-tiba menghilang begitu saja seperti hantu. Koneko merasa sedih sekarang. Menyesal dengan penuh perasaan yang terpukul. Ia pun menundukkan kepalanya sambil bersimpuh di atas rerumputan hijau yang bergoyang-goyang karena ditiup angin. Kedua tangannya dikepalkan dan diletakkan di atas dua pahanya. Kedua mata kuningnya meredup. Raut mukanya berubah menjadi kusut.

"Naruto-kun ... Maafkan aku ... Maafkan aku. Aku memang salah. Sehingga membuatmu marah dan kecewa padaku. Pasti saat ini kamu membenciku dan tidak mau berbicara padaku lagi. Kamu benar, aku akan mendekati mimpi buruk itu. Aku tidak mengerti dengan perasaanmu. Itu memang benar."

Hati Koneko berguncang hebat. Tanpa sadar, air bening mengalir dari dua matanya yang meredup. Dengan cepat, Koneko menyeka air bening yang berjatuhan itu dengan tangannya.

"Aku tidak boleh cengeng seperti ini. Ini akan membuatku kelihatan lemah. Aku akan membuktikan pada Naruto-kun kalau caraku itu memang benar. Mungkin saat ini, aku harus berlatih lagi untuk menghadapi duel besok pagi."

Kedua tangan Koneko mengepal kuat. Ia tersenyum dan berusaha menghentikan tangisannya. Bangkit berdiri dan langsung menyabet pedang kusanagi yang terpasang di punggungnya.

BETS!

Koneko berjalan pelan menjauhi pohon rindang itu. Ia memegang gagang pedang kusanagi dengan erat dan menghentikan langkahnya tepat di tengah hamparan rumput hijau yang lumayan luas. Ia berdiri dengan penuh keyakinan penuh dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia mengacungkan pedangnya searah pinggang kanannya karena ia memegang pedang dengan tangan kanannya. Bersikap santai dan rileks. Menatap lawan dengan pandangan yang terfokuskan. Konsentrasi penuh dengan gerakan, senjata dan kekuatan lawan yang hendak dihadapi. Membayangkan lawan sedang berdiri di depan matanya sekarang.

Itulah teknik dasar sikap awal ingin mengambil ancang-ancang untuk memulai pertarungan. Hal inilah yang diajarkan Naruto padanya. Kamu harus bersikap santai, rileks dan tetap terfokus pada lawan. Jangan terpengaruh dengan keadaan sekitar. Di dalam pikiran dan sasaranmu tetap pusatkan pada lawan. Itulah perkataan yang telah diberitahukan Naruto padanya. Sampai sekarang Koneko masih mengingatnya dengan baik.

Kedua mata Koneko menutup seiring angin berhembus. Membuat rambut dan pakaiannya berkibar-kibar dimainkan angin. Ia merasakan dan membayangkan dalam fatamorgana kegelapan di alam bawah sadarnya. Sosok Shion muncul di depannya. Shion mengacungkan pedangnya dan langsung menyerang Koneko dari arah samping tubuhnya.

SREK!

Kaki kiri Koneko bergeser ke arah kiri untuk menghindari serangan pedang Shion itu. Ia langsung menghunus pedang ke depan dengan gerakan lurus seperti gerakan memanah.

HIAAAAT!

Dalam keadaan mata tertutup, Koneko berlatih sendiri dengan menggunakan pedang. Ia menghayal jika sedang bertarung melawan Shion. Berbagai gerakan dan teknik pedang yang telah diajarkan Naruto, dipraktekkannya dengan baik. Koneko berlatih dengan bersungguh-sungguh. Ia tidak ingin mengecewakan Naruto. Dia harus menang dan ingin memberikan pengertian yang dalam buat Shion bahwa Naruto adalah miliknya sekarang.

HIAAAAT!

DHUAAAAASH! DHUAAAR! DHUAAAAR!

Pohon-pohon di sekitar tempat itu, menjadi korban latihan Koneko saat Koneko mencoba mentransferkan kekuatan Matatabi ke pedang kusanagi. Perasaannya yang sedih, takut, dan marah pada dirinya sendiri karena telah membuat Naruto kecewa padanya. Semua perasaan yang bercampur aduk diluapkannya lewat latihan menggunakan pedang itu. Koneko benar-benar akan membuktikan bahwa jalannya ini adalah yang terbaik. Naruto pasti mengerti. Itulah yang diharapkannya.

HIAAAAT!

DHUAAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAAR!

Satu persatu serangan dilancarkan ke beberapa pohon. Beberapa pohon pun meledak hebat saat pedang kusanagi mengobarkan api biru Matatabi. Koneko seperti mengamuk dan ingin menghancurkan apa saja di sekitarnya. Dia menguarkan semua energi kekuatannya ke semua pohon sebagai target musuhnya. Dia sudah di ambang puncak emosi yang meningkat. Menebas beberapa pohon dengan semburan api biru yang mengobar di pedang kusanagi. Tanpa berhenti sama sekali. Berputar-putar sambil melayangkan pedang berapi biru.

DHUAAAAR! DHUAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAAR!

DHUAAAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAR! DHUAAAAAR! DHUAAAAAR!

Terjadi ledakan-ledakan besar yang menghanguskan beberapa pohon. Meninggalkan jejak dan bekas berupa asap putih yang membubung ke udara. Koneko berhenti sejenak dengan posisi memegang pedang ke arah bawah.

Dia tampak kelelahan. Keringat dingin mengucur. Napasnya tersengal-sengal. Wajah Koneko sedikit memucat. Tubuhnya condong ke depan. Kedua bahunya naik-turun. Pedang kusanagi yang dipegangnya tidak menguarkan api biru lagi. Tapi, dia ingin melakukan serangan selanjutnya.

SREK!

Pedang diarahkan ke bahunya. Koneko mengambil sikap seakan-akan ingin memanggul pedang di bahunya. Bersiap untuk mentransferkan energi api biru di tangan kanannya yang memegang pedang kusanagi.

HYUUUNG!

Tanpa disangka, Koneko pun tumbang ke belakang. Pedang terlepas dari tangannya. Lalu pedang itu tergeletak saja di tanah. Merasakan pandangannya mulai berkunang-kunang dan tubuhnya terasa lemas seketika.

GREP!

Seseorang menahan tubuh Koneko agar tidak jatuh ke belakang. Pinggang Koneko dibelit oleh sebuah tangan yang kekar. Koneko tertarik dalam pelukan hangat seseorang. Ia menyadari siapa yang memeluknya sekarang.

"Eh?" Koneko mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah seseorang yang sedang memeluknya."Na-Naruto-kun?"

Seseorang yang tak lain, memang adalah Naruto. Kedua tangan Naruto pun memegang pundak Koneko. Naruto berwajah sangat serius. Kedua matanya menajam.

"Jangan paksakan dirimu. Cukup di sini. Sudahi latihannya, Koneko-chan."

"Ta-Tapi, Naruto-kun ..."

"Sssst, jangan membantah suamimu ini."

Naruto menempelkan telunjuknya di bibir Koneko. Sebagai gantinya, wajah Naruto berubah sangat kusut. Kedua matanya menyipit sayu.

Koneko pun terdiam saat telunjuk Naruto dijauhkan dari bibirnya. Ia memperhatikan wajah Naruto yang begitu kusut.

"Maafkan aku ...," kata Naruto kemudian."Aku tidak bermaksud memarahimu seperti ini. Aku hanya mengetesmu saja agar kamu bisa lebih berani, tidak lemah dan lebih percaya pada dirimu sendiri. Aku ingin kamu bisa menghadapi Shion dengan perasaan yang kuat dan yakin. Karena aku tahu kalau kamu tidak tega melukai musuhmu. Jauhilah perasaan lemah dan ibamu, Koneko-chan. Aku ingin kamu bertarung dengan percaya diri dan bisa mengontrol kekuatanmu sendiri. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Aku sudah mengajari semuanya padamu. Jadi, tinggal bagaimana kamu mengolahnya dan mempraktekkannya saat menghadapi Shion besok. Aku percaya kamu bisa mengalahkan Shion nantinya. Menangkan tantangan ini. Jangan sampai Shion memenangkan tantangan ini. Jika itu sampai terjadi, aku akan pergi meninggalkanmu. Kamu tidak mau itu sampai terjadi, kan?"

Gadis berambut putih itu menggelengkan kepalanya. Ia bermuka kusut.

"Tidak. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi. Aku akan memenangkan tantangan ini. Aku tidak mau kamu meninggalkan aku sendirian. Aku akan berusaha keras dan tidak mengecewakanmu, Naruto-kun."

Tangan Naruto memegang puncak rambut Koneko. Dielusnya rambut Koneko.

"Aku percaya itu. Kamu pasti memenangkannya."

"Jadi ... Kamu tidak marah padaku?"

"Tidak ... Tidak sayangku," Naruto tersenyum lembut."Aku pura-pura marah agar mengetes reaksimu bagaimana. Ternyata kamu merasa bersalah dan melakukan latihan sampai berlebihan seperti ini agar kamu tidak kelihatan lemah. Tapi, kamu sudah berhasil berlatih dengan baik tanpa arahan dariku. Jadi, maafkan aku, Koneko-chan. Maafkan aku."

Rambut Koneko terus dielus lembut oleh tangan Naruto. Lalu Koneko menganggukkan kepalanya lagi.

"Tidak apa-apa, Naruto-kun. Jangan meminta maaf seperti itu."

"Kenapa begitu?"

"Kamu tidak salah."

Mendengar hal itu, Naruto tersenyum simpul dengan semburat merah di pipinya. Ia langsung mempererat pelukannya. Koneko membalas pelukan Naruto dengan cara memeluk pinggang Naruto.

Mereka berpelukan selama dua menit. Angin masih saja bertiup dan menerpa tempat itu.

Setelah itu, mereka melepaskan pelukan masing-masing. Mereka saling tersenyum sambil menempelkan dahi mereka.

SREK!

Tiba-tiba Naruto menggendong Koneko dengan posisi ala bridal style. Koneko pun kaget setengah mati.

"Eh, Naruto-kun?"

"Aku akan menunjukkan sesuatu yang bagus padamu."

"Se-Sesuatu?"

"Iya."

Penasaran. Apa yang akan Naruto tunjukkan pada Koneko? Membuat Koneko bertanya-tanya di dalam hatinya. Bersamaan Naruto berjalan cepat ke arah pohon rindang. Wajah Naruto yang sangat serius ditatap erat oleh Koneko. Koneko sedikit tersenyum.

TAP! TAP! TAP!

Begitu dekat di bawah pohon rindang di mana mereka duduk tadi, Naruto menurunkan Koneko. Koneko pun terduduk dan menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Kedua kakinya sedikit menekuk ke samping kanan. Di samping kirinya, Naruto berlutut dengan pose ala pangeran kerajaan. Ia heran melihat Naruto yang tersenyum.

"Jadi, sesuatu apa yang ingin kamu tunjukkan padaku, Naruto-kun?" tanya Koneko yang sangat penasaran.

"Tunggu sebentar," Naruto memasukkan tangannya ke dalam jubah jingga yang dikenakannya. Koneko memperhatikannya dengan bingung.

Kemudian tangan Naruto keluar dari dalam jubah jingganya, lalu ia menyodorkan sesuatu pada Koneko. Koneko terpaku dengan sesuatu yang disodorkan oleh Naruto.

Sesuatu itu adalah bunga berwarna kuning yang cantik. Bunga yang hidup dan bertahan di setiap musim apapun. Bunga yang kuat. Bunga itu adalah ...

"E-Eldeweiss?"

"Ya, bunga eldeweiss. Aku memetiknya barusan di tebing bukit. Beberapa tangkai saja. Entah berapa jumlahnya. Belum aku hitung sih. Hehehe ..."

Tertawa menyengir, rona merah tipis muncul di dua pipi Naruto. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Merasa malu karena ingin memberikan kejutan manis untuk istrinya di acara kencan pertama. Kejutan manis yang sederhana dan alami.

Terdiam tanpa kata-kata, Koneko menerima bunga-bunga eldeweiss yang diikat dengan kain hitam seukuran lidi. Memang hadiah yang aneh, pikir Koneko.

Namun, ia merasa senang, bahagia dan terhibur dengan hadiah bunga eldeweiss ini. Hadiah yang murah dan sulit didapat karena tumbuhnya di tebing bukit yang curam. Tapi, bagaimana bisa Naruto mengambil bunga itu dari tebing bukit itu? Justru sangat sulit. Mengingat nyawa taruhannya.

Hati Koneko bergetar saat menggenggam bunga itu di tangan kanannya. Memandang penuh bunga itu dengan perasaan yang tidak menentu. Giliran Naruto yang heran.

"Koneko-chan, kenapa?"

Pandangan Koneko tertancap pada wajah Naruto. Wajah Naruto tampak kusut begitu seperti mengkhawatirkan diri Koneko yang mendadak diam membisu. Koneko memandang Naruto dengan lama sampai akhirnya membuka suaranya.

"Bunga eldeweiss ini cantik sekali, Naruto-kun. Aku suka. Tapi, apa arti bunga ini sehingga kamu memberikannya padaku?"

Naruto tersenyum. Ia memegang puncak kepala Koneko.

"Arti bunga ini adalah abadi, kuat dan kokoh. Bunga yang kuat dan mampu terus hidup di lingkungan yang terekstrim sekalipun. Bunga keabadian. Cinta yang abadi. Bunga yang indah dan melambangkan cinta yang abadi. Bunga ini adalah ungkapan rasa cintaku padamu. Aku ingin memberikan cinta sejati dan abadi untukmu. Aku mencintaimu untuk selamanya, Koneko-chan. Aku akan tetap setia padamu, walaupun apapun yang terjadi. Begitulah artinya dari bunga ini."

Koneko terpaku mendengarnya. Naruto terus tersenyum. Kepala Koneko tetap dielusnya pelan. Betapa Naruto menyayanginya sepenuh hati. Naruto itu lembut dan penuh kasih sayang. Memperlakukan dirinya dengan penuh cinta. Naruto memang sosok suami yang begitu sempurna.

Senyuman tulus terukir di wajah Koneko. Dia langsung merangkul leher Naruto dengan erat.

GREP!

Naruto tidak kaget saat Koneko memeluknya. Dia pun membalas pelukan Naruto.

Mereka berpelukan dengan lama. Mereka tersenyum dengan perasaan yang haru membiru. Betapa bahagianya tidak terkira.

"Terima kasih atas hadiahnya. Aku suka. Aku suka sekali. Aku sangat mencintaimu."

Naruto menepuk pelan punggung Koneko. Dia tetap tersenyum senang.

"Ya, Koneko-chan. Jaga dengan baik bunga itu ya. Jangan sampai hilang."

"Hm, akan aku jaga dengan baik," Koneko melonggarkan rangkulannya dari leher Naruto dan memandangi wajah Naruto dalam jarak yang cukup dekat."Bunga eldeweiss ini akan aku jadikan sebagai semangatku untuk menghadapi duel besok. Terima kasih. Kamu sudah membuatku semangat dan terhibur, Naruto-kun."

Naruto tersenyum lagi. Saat bersamaan, tangan kiri Koneko memegang pipi kanan Naruto. Koneko juga tersenyum.

Setelah itu, Koneko mencoba untuk mendekati wajah Naruto. Lebih dekat. Senyuman Naruto pun menghilang saat bersamaan wajah Koneko semakin dekat dengan wajahnya.

Inilah yang diinginkannya sejak pagi tadi. Sebuah ciuman dari istrinya.

Koneko mencium pipi Naruto begitu lama. Rangkulannya di leher Naruto semakin kuat. Lalu Koneko menjauhkan wajahnya dari wajah Naruto.

Mereka masih berpelukan sambil memandang dalam jarak yang sangat dekat. Seakan-akan tidak mau melepaskan diri masing-masing.

Naruto tersenyum. Wajahnya sedikit memerah.

"Kamu sudah berani menciumku, Koneko-chan? Biasanya kamu malu menciumku. Tapi, masa ciumannya di pipi saja?"

Wajah Koneko memerah. Naruto menatapnya dengan penuh kelembutan.

"Jangan. Jangan minta lebih dari itu. Aku tidak mau!" Koneko panik dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya.

"Jadi ...?"

"Aku tidak mau menciummu lagi. Lain kali saja!"

BATS!

Koneko menolak Naruto sehingga Naruto jatuh tersungkur ke belakang.

BRAK! GEDUBRAAAAK!

Sweatdrop pun muncul di kepala Koneko. Naruto mengeluh kesakitan pada punggungnya yang menghantam akar pohon yang menonjol keluar di permukaan tanah.

"Aduuuh ... Koneko-chan ... Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menolakku lagi?"

Koneko pun menjadi panik dan langsung menghampiri Naruto yang sudah terkapar di tanah.

"AKH, MAAF. AKU TIDAK SENGAJA MELAKUKANNYA. MAAFKAN AKU, NARUTO-KUN!"

Naruto melirik ke arah Koneko. Wajahnya agak sewot.

"Ya, tidak apa-apa sih. Tapi, lain kali jangan menolakku seperti itu. Akukan suamimu. Jadi, jangan malu-malu seperti itu. Kamu masih saja bersikap seperti orang asing padaku."

"A-Aku tahu kalau aku salah. Kalau begitu, maafkan aku, Naruto-kun."

Wajah Koneko begitu kusut. Ia duduk bersimpuh di samping Naruto. Naruto menatap Koneko begitu lama. Sedetik kemudian, ia tersenyum sambil menarik kedua tangan Koneko sehingga Koneko pun terhempas ke arahnya. Koneko pun kaget setengah mati.

"AAAAAAAAAH!" teriak Koneko sekeras mungkin.

Naruto memeluknya dengan erat. Posisi Koneko berada di atas tubuh Naruto. Naruto berada di bawahnya. Kedua mata Koneko membulat karena kaget akan tindakan Naruto itu. Membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan.

"Dengan begini, kamu tidak bisa menolakku lagi."

"A-Apa yang kamu lakukan, Naruto-kun?"

Naruto terus tersenyum. Sebagai gantinya, ia pun berguling sambil memeluk Koneko. Giliran Koneko yang berada di bawah. Sedangkan Naruto berada di atas Koneko.

Kedua mata Koneko melebar. Jantungnya memompa dengan cepat. Tubuhnya sudah gemetaran saat memandang Naruto yang berada di atasnya.

"Naruto-kun ... Ka-Kamu ..."

"Kamu tidak akan bisa menolakku lagi. Kamu tidak bisa lari dariku. Dengan begini, kita bisa berduaan. Aku tidak ingin menundanya lagi."

Kini Koneko tahu apa yang dimaksud oleh Naruto. Jantungnya semakin berdebar-debar saja. Ia berusaha menguasai dirinya agar tetap tenang.

Naruto memegang dua pipi Koneko. Koneko menutup matanya saat wajah Naruto semakin dekat ke arah wajahnya. Dekat. Sangat dekat. Lalu ...

Tidak ada jarak lagi di wajah mereka. Begitu lama. Begitu lembut. Begitu mesra. Sehingga membuat mereka tidak mempedulikan keadaan sekitar.

Terjadilah seperti semalam itu. Di atas rerumputan yang bergoyang-goyang, mereka terbaring bersama. Angin menjadi saksi atas cinta yang terjalin di antara Naruto dan Koneko.

.

.

.

HIAAAAAT! SYAAAAAAAT!

Di aula istana kerajaan Hana, tampak Shion sedang berlatih menggunakan pedang katana. Ia melakukan teknik-teknik pedang seperti samurai. Ia berlatih tidak sendirian. Tapi, bersama pengawal kerajaan yaitu Ran.

Ran memperhatikan semua gerakan Shion dengan seksama. Berperan sebagai pengawas saja. Shion sudah mahir berpedang karena diajarkan langsung oleh Ayahnya. Sekarang sang kaisar sedang duduk di singgasananya. Sang kaisar tidak sempat mengawasi latihan sang putri karena sedang bertemu dengan orang-orang penting.

Sudah dua jam lamanya, Shion berlatih dengan keras. Hingga pada akhirnya, Shion menyudahi latihannya. Ia pun membungkukkan badannya sambil menopang pedangnya ke lantai untuk menahan badannya. Napasnya sangat tersengal-sengal. Keringat dingin mengucur. Ia sudah kelelahan.

Ran pun datang menghampiri dan memberikan segelas air putih untuk sang putri. Shion menerima minuman itu dari tangan Ran.

"Terima kasih."

Shion langsung meminum air itu sampai tandas dari dalam gelasnya.

"Anda tidak apa-apa, Shion-hime?" tanya Ran yang tampak khawatir.

Shion melirik ke arah Ran. Gelas sudah dijauhkan dari mulutnya.

"Ya, tidak apa-apa."

"Syukurlah, kalau begitu," Ran sedikit tersenyum."Jangan paksakan diri anda untuk melakukan latihan seberat ini. Aku yakin kalau anda bisa memenangkan duel ini. Uzumaki Naruto pasti akan menjadi milik anda, Shion-hime."

Pandangan Shion menjadi datar. Lalu ia menarik pandangannya ke arah lain.

"Aku tidak akan berhenti berlatih. Aku harus menjadi lebih kuat agar bisa mengalahkan Uzumaki Koneko itu. Aku akan merebut suaminya dari tangannya. Uzumaki Naruto harus menjadi milikku! Aku akan berusaha untuk mendapatkannya!"

Api membara dan berkobar di dua mata ungu Shion sekarang. Kedua tangannya mengepal kuat. Rasa kebencian mulai muncul di hatinya.

Sang gadis berambut aquamarine itu, tertegun mendengarnya. Ia hanya mampu berwajah datar.

"Ini gelasnya dan menjauhlah dari sini. Aku mau latihan lagi," Shion memberikan gelas itu pada Ran lagi. Ran menerimanya.

"Baiklah, Shion-hime!" Ran menganggukkan kepalanya.

Maka Ran pergi meninggalkan Shion. Tanpa melihat kepergian Ran, Shion mulai melanjutkan latihannya. Wajah Shion mengeras. Kedua matanya menajam.

"UZUMAKI KONEKO! AKU AKAN MENGALAHKANMU!"

HIAAAAAAT! BETS!

.

.

.

Masih di dekat kaki bukit yang dipenuhi bunga-bunga indah dan banyak pohon rindangnya. Terdapat lapangan rumput hijau yang luas. Tampak beberapa pohon sudah hangus karena terbakar akibat serangan api dari Koneko. Suasana masih saja berangin. Menemani dua insan yang sedang duduk di bawah pohon yang rindang.

Setelah melakukan sesuatu yang romantis, hanya satu jam saja, Koneko tampak agak malu ketika ditatap terus oleh Naruto. Naruto tidak pernah lepas menatap istrinya. Sekarang mereka sedang makan siang bersama.

Kebetulan Koneko membuat bento berupa nasi kepal dan onigiri yang dibungkus dengan daun lebar agar bisa dibawa kemana-mana. Bento itu disimpan di tas kecil yang selalu terpasang di obi Koneko. Tas kecil yang terbuat dari anyaman bambu.

Untuk minumannya, cukup air putih saja yang dimasukkan ke dalam batang bambu berukuran sekitar 30 cm. Minuman itu dibawa oleh Naruto dari penginapan milik Kanon.

Giginya sedang mengiris nasi kepal yang dimakannya, Koneko melirikkan matanya ke arah Naruto yang duduk sedikit berjauhan darinya.

"Kenapa? Kenapa kamu melihatku seperti itu, Naruto-kun? Bukannya yang tadi sudah kamu lakukan padaku? Apa masih belum cukup?" ujar Koneko sedikit malu. Rona merah tipis hinggap di dua pipinya. Ia berhenti makan sejenak.

Naruto memegang dagunya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya sedang memegang nasi kepal yang baru dimakan setengahnya.

"Masih belum cukup sih. Aku belum puas," Naruto memandang Koneko lagi."Malam nanti, bagaimana? Sesuai apa yang kamu bilang tadi pagi."

BRUUUUSH!

Wajah Koneko memerah rebus. Ia merasa berdebar-debar lagi. Lantas ia memalingkan mukanya dari hadapan Naruto.

"Ukh ... Kamu ini. Memang selalu saja begitu. Baiklah, kita akan bersama lagi nanti malam. Aku akan membuatmu senang."

Naruto tertawa senang mendengarnya. Ia pun bersemangat memakan makanannya lagi.

"Hm ... Senangnya mempunyai istri yang baik, pandai memasak dan pengertian sepertimu. Makanan ini benar-benar enak. Aku tidak sabar ingin mempunyai rumah sendiri dan memiliki keluarga yang lengkap," Naruto mengangkat wajahnya ke arah langit sana."Kalau kita mempunyai seorang anak, pasti keluarga kita ini terasa lengkap. Aku akan dipanggil Touchan dan kamu dipanggil Kaachan. Aku tidak sabar menanti waktu itu datang. Bagaimana, Koneko-chan?"

Koneko menoleh ke arah Naruto. Wajahnya berubah menjadi biasa.

"Heh? Mem-Mempunyai seorang anak?"

Naruto menurunkan pandangannya. Ia menatap Koneko. Menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Iya, anak. Aku ingin mempunyai anak agar keluarga kita ini semakin lengkap. Aku tidak sabar menjadi Ayah untuk anak kita nanti. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi ayah itu. Kamu juga, kan? Kamu juga tidak sabarkan untuk menjadi ibu untuk anak kita nanti. Benarkan, Koneko-chan?"

Koneko tertegun mendengarnya. Sedetik kemudian, dia menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Iya, itu benar. Aku juga ingin mempunyai seorang anak. Tapi ... Apa mungkin Kami-sama akan cepat mengabulkan permintaan kita itu?"

Wajah Koneko sedikit kusut. Ia tersenyum kikuk. Naruto pun terpaku.

Kemudian Naruto tersenyum penuh arti. Ia pun mengangguk dengan cepat.

"Pasti. Permintaan kita itu pasti dikabulkan Kami-sama. Yang penting, kita harus berusaha untuk mendapatkannya. Kamu tahu maksudku, kan?"

Koneko tersentak. Wajahnya memerah padam lagi. Lantas ia memalingkan mukanya lagi.

"Haaaaaah, jangan dibahas lagi. Kita makan dulu. Nanti kita pikirkan lagi."

"Ya, aku mengerti."

Hening.

Mereka pun terdiam sambil melanjutkan acara makan yang tertunda.

Tak beberapa lama, mereka selesai makan. Tampak Koneko membungkus kembali makanan yang tersisa dengan daun lebar dan dimasukkan ke dalam tas kecilnya lagi. Sedangkan Naruto berjalan dengan santai untuk mengambil pedang kusanagi yang tergeletak di rerumputan sejak tadi. Ia memandangi pedang kusanagi di genggaman tangan kanannya dengan seksama.

Lalu Koneko datang menghampiri Naruto. Naruto menyadarinya dan langsung menyodorkan pedang itu pada Koneko.

"Ini pedangmu."

"Ah, iya."

Koneko mengambilnya dan memasukkan pedang itu ke sarungnya yang tergantung di punggungnya. Naruto memperhatikan keadaan sekitar. Di mana angin terus bertiup. Matahari sudah hampir bergerak ke arah barat. Sepertinya sudah lewat tengah hari.

"Setelah ini, kita akan kemana, Koneko-chan?" tanya Naruto tanpa melihat ke arah Koneko.

Koneko memandang ke arah suaminya. Ia mengerutkan keningnya.

"Aku tidak tahu. Itu terserah kamu saja. Tapi, kita masih berkencankan sekarang?"

Naruto menarik pandangannya ke arah Koneko.

"Iya, kita masih berkencan."

"Terus mau kemana lagi?"

"Aku juga tidak tahu."

DOOOONG!

Wajah Koneko menggelap. Ia ternganga sedikit. Naruto berwajah polos.

"Haaaah, kalau kamu tidak tahu mau kemana lagi. Ya, kita pulang saja ke penginapan."

Koneko menghelakan napasnya. Naruto tertawa menyengir.

"Ide yang bagus. Kita pulang saja ke penginapan. Lalu kita berduaan di kamar dan ..."

"JANGAN MINTA YANG MACAM-MACAM SEKARANG!"

Secara langsung, Koneko mencubit tangan Naruto. Ia kesal karena Naruto terus saja menggodanya. Naruto hanya tertawa kecil tanpa merasa kesakitan sedikitpun.

"Hahaha, maaf."

"JANGAN MENGGODAKU LAGI!"

"Iya, maaf. Jangan cubit aku lagi."

"Baik, sebagai gantinya, kamu harus menggendong aku sampai ke penginapan. Apa kamu setuju?"

"Iya, aku setuju. Tapi, gendong di depan atau gendong di belakang?"

"Gendong di belakang dan jangan pikir yang aneh-aneh. Apalagi menggodaku. Kalau tidak, aku akan mencekik lehermu. Apa kamu mengerti, Naruto-kun?"

"Iya, aku mengerti."

"Bagus. Ayo, gendong aku sekarang!"

"Baik, istriku yang tercinta!"

Koneko melepaskan cubitannya dari tangan Naruto. Naruto pun berlutut. Menyodorkan dua tangannya ke belakang, mengisyaratkan Koneko segera mendekat ke arahnya.

GYUT!

Kedua tangan Koneko mengalungi leher Naruto. Ia pun terangkat saat Naruto bangkit berdiri sambil memegang dua pahanya agar ia tidak terjatuh saat digendong dari belakang. Koneko tersenyum senang di balik leher Naruto.

"Sudah siap?"

"Sudah Naruto-kun."

"Kita berangkat sekarang. Ayo, kita pulang ke penginapan. Datebayoo!"

"HM, AYOOO!"

Mereka pun berseru keras dengan lantang. Naruto pun berjalan santai sambil menggendong Koneko dari belakang. Mereka tersenyum penuh kebahagiaan karena telah menjalani acara kencan pertama mereka dengan mulus.

Selama menempuh perjalanan, Koneko memperhatikan keadaan sekitar. Ia tidak berhenti tersenyum sambil merangkul leher Naruto dengan erat. Merasa nyaman saat digendong Naruto seperti ini. Ini pertama kalinya, ia merasakan senangnya digendong oleh orang yang dicintainya. Apalagi orang yang dicintainya ini, sudah menjadi suaminya. Walaupun menikah secara kilat, tapi hubungan mereka seperti hubungan kekasih saja. Menikmati hari pertama sebagai suami dan istri sekaligus sebagai pasangan kekasih. Merilekskan jiwa dan pikiran, sebelum menghadapi pertarungan besok untuk memperebutkan cinta Naruto. Cinta Naruto hanya untuknya. Koneko harus memenangkan pertarungan itu.

'Aku akan berusaha. Aku akan mengeluarkan segala kemampuanku. Ini demi dirimu, Naruto-kun. Aku tidak ingin kamu jatuh ke pelukan gadis lain. Kamu adalah suamiku yang berharga. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku begitu mencintaimu. Sangat mencintaimu,' batin Koneko meletakkan kepalanya di pundak Naruto. Kedua matanya menutup perlahan-lahan.

Tak lama berselang itu, Koneko benar-benar tertidur pulas. Ia benar-benar lelah karena latihan dan berkencan dengan Naruto sekaligus. Kini tubuhnya memaksanya untuk beristirahat. Ia terlelap dalam aroma tubuh suaminya yang tercium saat wajahnya menempel di pundak suaminya. Naruto tidak menyadari kalau istrinya sudah tertidur di gendongannya.

Naruto terus berjalan dan berjalan menuju ke penginapan. Dengan hati yang riang dan puas karena sudah membuat Koneko senang di acara kencan ini. Dia juga sudah memberikan dorongan semangat buat Koneko untuk menghadapi pertarungan besok. Inilah saatnya untuk beristirahat mengumpulkan tenaganya keesokan harinya.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Chapter 11 update!

Satu chapter ini full tentang romance Naruto dan Koneko di acara kencannya. Di chapter depan adalah cerita pertarungan Koneko melawan Shion. Mau tahu kelanjutan kisah ini? Tunggu saja di chapter 12.

Please review!

Arigatou.

Tertanda ...

HIKASYA

Minggu, 24 Januari 2016