Disclaimer: I'm not, in anyway, taking profits from this story. Naruto belongs to Masashi Kishimoto as always.

.

.

.

Tiga pasang kaki berhenti di depan kediaman keluarga Haruno; salah satu dari antara mereka bertiga maju mendekati pagar dan membuka gembok yang terpasang. Pintu gerbang didorong hingga terbuka sedikit, kemudian pemilik sepasang kaki itu berbalik badan dan memandang dua orang lainnya.

"Mmm," ia mencoba membuka suara, kepalanya ditundukkan selama beberapa detik sebelum ia mendongak memandang dua orang lainnya, "maaf bikin kalian berdua repot-repot mengantarku."

Kedua orang itu berpandangan, lalu salah satu dari mereka yang berbadan besar maju selangkah dengan senyum terkembang di wajahnya. "Santai, Sakura-chan. Bukannya sudah merupakan tugas dari teman untuk saling menolong?" Bahu Sakura ditepuk-tepuk. "Sana masuk, istirahat. Kau pasti capek sekali. Besok masih ada pelajaran tambahan, kan?"

Gadis itu mengangguk-angguk, rambut merah mudanya melambai-lambai mengikuti pergerakannya.

"Daaah!" Chouji melambaikan tangannya, sekelebat kemudian merangkul Shikamaru berjalan menjauh dari kediaman keluarga Haruno. Pemuda yang rambutnya dikuncir itu justru sebaliknya, sama sekali tidak mengatakan apa-apa walau ekor matanya mengawasi pintu gerbang rumah Sakura hingga tertutup rapat.

.

.

.

Último Ano du Melodioso
mysticahime

2014

.

.

Season 1: Primo
Chapter 10

.

.

Lama sesudahnya, keduanya sudah kembali ke pertigaan jalan di mana biasanya mereka berpisah dengan Haruno Sakura. Chouji menoleh ke belakang sebelum menatap sahabatnya.

"Jadi, kau sudah menduga siapa kira-kira yang memasukkan paku payung ke sepatu Sakura?"

Pembicaraan itu dimulai dengan pertanyaan dari pemuda Akimichi. Nada bicaranya serius, tidak seperti Chouji yang biasanya penuh tawa dan senda gurau. Tidak ada mata yang menyipit saking terlalu banyak terdesak pipi. Tidak ada kantung keripik yang biasanya menimbulkan bunyi kriuk selama bicara.

Nara Shikamaru memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, menarik napas dalam-dalam sebelum mulai angkat bicara.

"Bukan Karin-senpai." Hanya dua patah kata, namun ia seolah sudah memikirkan segalanya sebelum berkata-kata. Manik hitamnya kembali pada Chouji yang terlihat setuju dengannya. Bertahun-tahun berteman dengan Chouji membuatnya tak perlu banyak berargumen untuk menyatakan sebuah pendapat. Dengan mudah Chouji akan mengerti apa yang ia maksudkan dan begitu pula sebaliknya.

Yang tadi berusaha melukai Sakura dengan memasukkan paku payung bukanlah Akagami Karin seperti yang diduga Sakura, Shikamaru berani jamin seribu persen akan hal itu. Kelihatannya Chouji juga meragukan prakiraan teman perempuannya itu, karena pemuda berbadan gempal itu tidak langsung mengiyakan kata-kata Sakura tadi. Makanya, mereka berdua mencari cara untuk berbicara secepat mungkin tanpa melibatkan Sakura.

"Soalnya," pandangan keduanya berada dalam satu garis lurus.

"Karin cuma tukang gertak!"

Cengiran muncul di wajah keduanya, lalu mereka melakukan high five tanpa menghentikan langkah kaki mereka.

"Memang dia bermulut besar, tapi dia bukan orang yang suka turun tangan untuk langsung menjahati orang." Karena suasana sudah kembali melunak, Chouji berani mengambil keripik cumi keringnya dari tas dan mulai mengunyah. Kriiuk.

"Hinata juga pernah bilang kalau Karin-senpai hanya berani menyindir kalau ada yang berbuat aneh-aneh." Shikamaru membeberkan fakta yang diketahuinya dari anak kelas sebelah. Langkah kakinya terayun pelan menembus keramaian yang mulai memadat. Orang-orang sudah selesai bekerja dan berada dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing, makanya jalanan jadi penuh begini.

Chouji mengangguk-angguk sambil terus makan, memikirkan percakapannya dengan Shikamaru dari tadi. "Benar juga. Selama ini Karin tidak pernah masuk catatan pelanggaran—err, ya aku pernah iseng mengintip catatan pidana Konoha High waktu ketahuan makan di kelas untuk sekian kalinya."

"Nikujin," cemooh Shikamaru sambil lalu. "Hinata juga bilang kalau kata kakaknya, Karin-senpai hanya banyak omong untuk menyudutkan. Kalau kalah, dia diam saja sambil terus berusaha untuk mencari celah menjatuhkan, tapi lagi-lagi lewat kata-kata."

"Hmmmm..."

Keduanya merasa menemukan titik terang, namun masih berada di titik buta. Mereka berdua yakin—dengan beberapa fakta yang mereka dengar—bahwa pelakunya bukan Akagami Karin. Hanya saja, siapa yang kemungkinan menjadi tersangka?

Itu yang masih membuat mereka bingung.

Perjalanan keduanya tiba di persimpangan yang selalu menjadi akhir kebersamaan Shikamaru dan Chouji. Nara akan melanjutkan perjalanan ke belokan kanan, sedangkan Chouji akan mengambil jalan lurus dan beberapa persimpangan lagi sebelum tiba di rumahnya.

"Daahh." Chouji melambaikan tangannya yang penuh dengan serpihan keripik dan perisa cemilan yang sedang dimakannya. Shikamaru hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Baru saja ia akan melangkah waktu Chouji bilang, "Tak kusangka kau dekat dengan Hinata. Kau suka dia, ya?"

Pemuda berambut kuncir itu nyaris terbatuk mendengarnya. Ia memutar bola mata dan menggeleng-geleng.

"Kata siapa."

Ternyata, selama ini Chouji hobi bergosip.

.

.

Sebagaimana musim panas, hari-harinya selalu cerah dan dipenuhi terik matahari walaupun sore hari mulai menjelang. Jam tiga sore tepat, pelajaran tambahan dibubarkan oleh Tsunade-sensei dan menyisakan sekitar empat puluh anak dengan wajah lesu setelah otak mereka digembleng sedemikan parahnya oleh guru mereka. Hari ini, lima belas lembar menjadi santapan siang disusul tugas tambahan sepuluh lembar untuk masing-masing anak yang harus dikumpulkan besok saat pelajaran tambahan dimulai.

Haruno Sakura melipat-lipat pekerjaan rumahnya hingga menjadi kecil sekali sebelum dimasukkan ke dalam tasnya. Gadis itu mengerucutkan bibir seraya membereskan peralatan tulisnya dan menjejalkan tempat pensil kelincinya ke tas berikut dengan lima belas lembar yang barusan dikerjakannya selama pelajaran tambahan. Penat rasanya dua hari penuh belajar kimia di saat teman-teman terdekatnya enak-enakan di rumah. Kalau saja tidak ingat setelah pelajaran tambahan diadakan latihan drama, tentunya ia tidak akan bertahan.

"Siap?" Yamanaka Ino tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya dengan tas terselempang rapi di bahunya. Wajahnya berseri-seri karena penyiksaan hari itu sudah selesai. Sama seperti Sakura, Ino juga merasa terbebani ikut pelajaran tambahan. Makanya ia senang sekali karena setelah pelajaran tambahan masih ada latihan drama musikal untuk Summer Music Festival—seperti pelarian dari kerja rodi.

Senyum terkembang di bibir Sakura.

"Kapan sih, aku tidak siap?"

Keduanya berjalan beriringan menuju auditorium, bercakap-cakap soal latihan kemarin sore yang berakhir dengan tidak menyenangkan. Sakura, sebagai pihak yang diserang secara frontal kemarin, hanya diam mengerucutkan bibir selama mendengar komentar Ino soal Karin yang menyudutkannya dengan seenaknya.

"Padahal dia sendiri juga pernah ikut pelajaran tambahan dulu," celoteh gadis pirang itu dengan kening berkerut, lalu cepat-cepat menambahkan saat Sakura memandanginya, "banyak yang bilang begitu, masa kau tidak pernah dengar?"

"Hmm." Harus Sakura akui, dia bukan tipe yang banyak berinteraksi dengan orang-orang. Lingkaran pertemanannya hanya berkisar pada Shikamaru dan Chouji, sekarang ditambah anak-anak yang mengikuti SMF—termasuk Ino dan Sasuke sendiri, kalau mereka menganggapnya teman. "Sama sekali tidak tahu. Kukira Karin-senpai itu semacam jenius makanya bisa—"

"Omong kosong." Ino mengibas-ibaskan tangannya seolah mengusir bau menyengat. "Jelas-jelas terlihat kalau dia besar mulut begitu."

Sakura diam saja mendengarkan Ino. Pikirannya kembali pada kejadian kemarin sore, soal sepatunya yang dipenuhi paku payung dan dugaan kuatnya soal Karin yang melakukannya. Kalau kata-kata Ino benar—Karin hanya besar mulut—apakah dia mungkin melakukan hal sekeji itu padanya? Menghinanya dan berusaha mencelakainya termasuk kategori bullying, kan?

Tapi masalahnya, kalau bukan Karin, siapa yang melakukannya?

Perjalanan keduanya berlanjut menuju auditorium dalam keheningan. Sakura masih mempertimbangkan siapa saja yang patut dicurigai atas kejadian kemarin, sama sekali tidak menyadari kalau sedari tadi ada yang mengawasinya.

.

.

Pintu auditorium terjeblak membuka pukul 15.47, lewat sekitar seperempat jam dari waktu ditutupnya pintu tersebut. Uzumaki Naruto nyengir saat memasuki ruangan sambil menenteng bola basketnya. Ia berkeringat, tanda bahwa sebelum datang ke sini ia sedang sibuk main basket hingga lupa waktu dan lari-lari ke tempat latihan drama. Di belakangnya, Sasuke mengekor dengan wajah datar seperti biasa.

Kakashi—dari tempat duduknya—melirik ke jam yang melingkari pergelangan tangannya, "Aku tidak minta kalian datang setelah pintu ditutup."

Naruto melebarkan cengirannya dengan rasa bersalah. "Umm, maaf Sensei, aku tak tahu lapangan basketnya sejauh itu kemari." Alasan yang sangat dibuat-buat sehingga membuat sebagian besar orang menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat sebelah alis gurunya terangkat, Naruto buru-buru bicara lagi, "Yang penting scene yang jadi jatahku belum mulai, kan?"

Tak ada komentar lagi, Kakashi malas mendebat pemuda yang seenaknya menerabas masuk ke dalam latihan tanpa bilang permisi. Lagipula, seperti yang dikatakan Naruto, masih belum jatah pemuda pirang itu untuk latihan. Dia muncul di babak ketiga, sementara latihannya bahkan baru dimulai dengan pemanasan.

Kini Kakashi menatap Sasuke yang juga datang terlambat—kalau menghitung detik, sebenarnya si Uchiha itu lebih lambat enam detik daripada Naruto—yang dibalas dengan sepasang onyx yang sama sekali tak beremosi.

"Mau bilang sesuatu juga, Uchiha?" tanyanya dengan dagu terangkat.

Sasuke menggeleng dan tanpa banyak bicara segera menuju ke tempat pemanasan dimulai.

Berbeda dengan kebanyakan latihan drama lainnya, drama-drama yang dibimbing oleh Kakashi selalu dimulai dengan stretching ringan untuk melemaskan otot. Katanya sih, biar tarian mereka tidak kaku saat berakting. Musikal memang berbeda dari drama kebanyakan; didominasi oleh tarian dan nyanyian. Saat ini mereka sedang melakukan peregangan otot betis yang sering keram apabila terlalu lama berdiri dengan posisi tertentu.

Sasuke mengambil tempat di sebelah Sakura.

"Tumben terlambat," gadis itu berkomentar sambil melakukan split secara perlahan-lahan. Bukan hal yang sulit bagi Sakura untuk melakukan beraneka gerakan yang bisa meregangkan otot-ototnya mengingat dia seorang dancer. "Macet?"

Mengingat apa yang barusan menyebabkannya terlambat, Sasuke mendengus pelan. "Macet di lapangan basket," ujarnya dengan datar seolah-olah alasannya hanyalah terlambat bangun. Jawaban itu jelas membuat sepasang alis terangkat.

"Macet di lapangan basket...?"

Sasuke tidak menjawab. Pemuda itu malah meregangkan otot bahunya dengan cuek, mengabaikan pertanyaan Sakura yang menurutnya tidak penting. Mana mungkin bisa macet di lapangan basket, itu semua kan salah Naruto yang ngotot ingin latihan menembak tiga angka sampai benar-benar masuk. Usai membuat otot-otot bahunya panas, ia beralih pada otot paha.

"Nanti pulang bareng deh," Sakura yang masih penasaran menawarkan usul, "sekalian, hmm, ajari kimia." Ragu, yang terakhir itu ditambahkannya sambil menggigit bibir. Agak malu rasanya mengakui pada seorang Uchiha Sasuke kalau ia mengikuti kelas tambahan—walau sebenarnya rasa malu itu tak berdasar. Memangnya kenapa kalau dia ikut kelas tambahan? Kan tidak ada hubungannya dengan Sasuke.

Sakura menunduk supaya Sasuke tidak bisa melihat ekspresinya, kemudian fokus berusaha menyentuhkan ujung jemari tangan kanannya ke jempol kaki kiri. Pasti karena Sasuke dari kelas A makanya aku malu, begitu pikirnya, mengusir semua bayangan yang sempat mampir ke kepalanya.

Apa yang akan Sasuke jawab? —sedikit banyak ia bertanya-tanya.

Diintipnya sedikit melalui ekor mata, pemuda itu sedang menahan kakinya yang ditekuk hingga nyaris menyentuh dada. Tidak dijawab. Mungkin Sasuke menganggap perkataannya barusan sebagai hal remeh yang tak perlu ditanggapi. Fiuuuhh. Tapi entah kenapa, jantungnya serasa agak mencelos karenanya.

Aku kenapa, sih? Gadis itu mengisap bagian bawah pipinya dan menarik ujung kakinya supaya otot betisnya tertarik sekaligus.

"Hn."

Jawaban pelan itu berhasil menghentikan usaha Sakura. Ia menoleh ke arah Sasuke—terlalu cepat menoleh untuk ukuran orang yang semula sedang fokus pemanasan—menemukan pemuda itu tetap menampilkan sebentuk raut muka yang sama. Apa barusan ia salah dengar?

"Iya, kuajari." Pemuda itu seolah mengerti apa yang ada di pikiran Sakura, kali ini disertai tatapan sekilas ke arahnya walau kemudian kembali dialihkan.

Sebentuk lengkung senyum melekat di wajah si gadis; senang karena akan ada yang mengajarinya kimia seselesainya mereka latihan nanti.

.

.

"Baiklah, latihan hari ini selesai. Terima kasih atas kerja samanya."

Satu kali tepuk tangan dari Kakashi menghentikan semua aktivitas yang dilakukan semua orang di ruangan itu. Hari ini semuanya berjalan dengan lancar, adegan satu dan dua dapat berjalan dengan baik tanpa menggunakan skenario walau beberapa figuran masih miss pada beberapa nada di awal. Bisa dibilang kemajuan bila dibandingkan dengan latihan terakhir yang kacau-balau.

"Tetap berlatih, Anak-anak. Koreografi yang barusan sudah mendingan jangan sampai kacau lagi."

"Yaaaa."

Empat puluh orang segera memecah lingkaran yang semula terpusat pada atas panggung, menyebar ke kursi-kursi di mana tas mereka diletakkan. Sebagian yang ingin cepat pulang dan makan malam langsung keluar setelah berpamitan, sementara beberapa yang tidak terburu-buru membereskan barang-barang mereka dengan perlahan sambil bercakap-cakap satu sama lain.

"Teme, aku duluan, ya!" Naruto melambai-lambaikan tangannya sambil menenteng bola basket yang dari tadi dibawa-bawanya. Tidak ada yang dibawanya selain bola itu, seolah-olah kedatangannya ke sini diprioritaskan pada permainan tim itu.

"Hn." Sasuke mengangguk sekali dan menarik risleting tasnya hingga menutup. Dicangklongkannya tas ke punggung dan ia berbalik, menemukan Sakura sudah berdiri di tengah lorong yang mengarah ke pintu sambil memandangi Naruto yang sudah menghilang di balik pintu. "Ada apa?"

Rambut merah muda Sakura berayun saat gadis itu menoleh, mata hijaunya melebar sedikit. "Oh, bukan apa-apa. Tumben sekali Naruto pulang langsung seperti itu." Biasanya, si pirang jabrik akan mengekori Sasuke supaya ditemani ke restoran ramen atau semacamnya, tapi hari ini tumben-tumbennya tidak begitu. Padahal, Sakura sudah mempersiapkan beberapa alasan supaya Naruto tidak ikut pulang dengannya dan Sasuke nanti.

Dengusan keluar dari Uchiha bungsu yang sedang menyibakkan rambutnya ke belakang. "Hari ini ada pertandingan NBA di televisi."

Tentu saja sebagai maniak basket, Naruto tak akan melewatkan aksi tim kesayangannya, Boston Celtics, melawan Detroit Pistons. Sejak pertama kali mengenal basket, Naruto tak pernah absen menonton Boston Celtics—tidak dengan alasan apa pun! Bahkan walau besoknya ada tes pun, ia tetap memilih duduk manis di depan televisi dengan semangkuk pop corn dibanding membuka-buka buku untuk mengulang pelajaran yang akan diuji besok.

"Pantas..." gumam gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin Naruto sama sepertinya, menyukai sesuatu sampai-sampai rela menghabiskan banyak waktu—dan mungkin uang—untuk tetap mengikuti hal tersebut. "Jadi," bibirnya digigit seolah ragu akan perkataan yang akan dilanjutkannya, "...pulang sekarang?" Kedengarannya agak ambigu. Cepat-cepat ia menambahkan ketika melihat Sasuke tak bereaksi sedikit pun. "Kimia, ingat? Kau tadi janji mau mengajariku."

Tentu saja Sasuke ingat, karena alasan itulah yang digunakannya untuk menolak ajakan Naruto nonton bareng sambil taruhan. Naruto menjagokan Boston Celtics atas apa pun, namun tidak mengizinkan Sasuke untuk mendukung tim yang sama. Padahal Sasuke juga ingin bergabung dengan tim itu—itu salah satu impiannya—sambil kuliah di Juilliard, Amerika. Pemuda Uchiha menghapus pikirannya dalam satu kerjapan mata, mengingat Boston dan New York masih berjarak cukup jauh walau bersebelahan.

"Hn." Angguk. Kakinya dilangkahkan dari posisi semula untuk mendekati Sakura. "Kalau begitu, a—"

"Uchiha, aku perlu bicara denganmu." Suara Hatake Kakashi tiba-tiba saja menyeruak, berseru dari bawah sana—di depan panggung—dengan kode di tangannya. Sasuke memandang Sakura dan mengedikkan bahu, tahu bahwa kata-kata seorang Hatake tak dapat ditolak dengan alasan apa pun juga.

"Kutunggu," kata Sakura sambil tersenyum. Ia maklum dengan posisi Sasuke saat ini. Bisa ditebaknya, Sasuke dipanggil karena Kakashi ingin mengomentari penampilannya di bagian pertama tadi atau semacamkan. Sejak peristiwa pernyataan kembalinya si pemuda ke dalam kompi drama musikal mereka, Uchiha bungsu selalu menjadi pusat perhatian Kakashi.

Onyx memandanginya seolah mempertanyakan ulang kata-kata Sakura.

Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya seolah lalu. "Iya, aku ke toilet dulu. Kurasa pembicaraan kalian tidak akan berlangsung lama, kan? Nanti kita ketemu di pintu depan saja." Matanya melirik ke arah Kakashi yang terlihat menanti dengan tidak sabar. "Sudah, sana. Sensei terlihat mau menerkammu tuh—AUM!" guraunya sambil berkelakar dengan membuka mulutnya lebar-lebar dan memamerkan sederetan gigi yang putih.

Merasa tak ada pilihan lain, Sasuke mengedikkan bahu dan melewati Sakura untuk mencapai tempat Iblis Jantan berada. Sementara itu, Sakura berbalik dan keluar dari pintu auditorium.

.

.

Warna jingga bercampur ungu muda memancar di langit. Lembayung—tanda matahari nyaris tenggelam dalam peraduannya. Sakura mendengus sewaktu mendapati toilet yang berada di dekat auditorium sudah dikunci. Sudah sore sih, pikirnya sambil mendesah pelan. Kalau toilet perempuan di sini tidak bisa dipakai, berarti dia harus pergi ke gedung barat di mana toilet-toilet yang ada di dekat kelas lebih memungkinkan untuk dipakai. Ia benar-benar mengutuk siapa pun yang sudah mengunci toilet saat masih ada sekian persen penghuni sekolah yang masih menggunakan fasilitas sekolah walau hari sudah sore.

Lagipula, biasanya memang tak pernah dikunci, kok.

Gadis itu menuruni tangga—auditorium berada di lantai lima—menuju deretan kelasnya di lantai dua, lalu mengecek toilet yang paling dekat dengan kelasnya. Sakura mengembuskan napas lega waktu menemukan pintu toilet setengah terbuka. Cepat-cepat ia masuk ke salah satu bilik setelah memastikan pintunya tak akan terkunci waktu dia berada di dalam.

Lima menit kemudian, gadis itu keluar dari salah satu bilik. Wastafel adalah tempat tujuan selanjutnya; sejak kecil Sakura diajari untuk mencuci tangan seusai dari toilet. Gemericik air memenuhi udara diikuti dengan suara berkecipak-kecipuk saat gadis berambut merah muda itu menggosok-gosok kulit tangannya di bawah aliran air. Sesekali matanya memandang ke cermin, melihat apakah wajahnya terlihat kusam atau apa rambutnya terlihat berantakan. Merasa penampilannya baik-baik saja, gadis itu menunduk untuk mematikan keran air, lalu melangkah mendekati kotak plastik besar berisi tisu yang disediakan untuk mengeringkan tangan.

Hanya saja, langkahnya berhenti beberapa saat sebelum tiba di depan kotak tisu.

HARUNO SAKURA MATI SAJA
KONOHA HIGH TIDAK MEMERLUKAN PEMAIN DRAMA MURAHAN SEPERTI KAU!

Tertoreh dengan warna merah pada dinding yang dilapisi porselen berwarna putih, menciptakan kontras yang mencolok mata. Kedua mata Sakura melebar dan menelusuri kata-kata tersebut satu demi satu. Tulisan perempuan, jelas, dan rasa-rasanya familiar. Otaknya berputar berusaha mencari tahu kapan ia menemukan tulisan macam ini.

"Orang iseng," dengusnya sambil membuang tisu yang basah ke tempat sampah yang tersedia dan mengambil yang baru. "Orang-orang seperti ini cuma bikin susah cleaning service sekolah saja."

Dengan tisu, ia menghapus pelan-pelan tulisan yang ada, mendecak ketika mengetahui kalau tulisan itu dibuat dengan lipstik merah darah. Sudah merusak kebersihan, buang-buang uang, pula. Sakura benar-benar tidak mengerti jalan pikiran si Pencoret. Mungkin orang itu sedemikian kayanya sampai-sampai tidak peduli berapa harga lipstik baru yang harus dibelinya nanti.

Ngomong-ngomong, sejak kapan tulisan itu ada di sini? Keningnya berkerut samar saat pikiran itu tiba-tiba melintas dalam benaknya. Tadi sebelum masuk ke bilik toilet, Sakura sudah memastikan bahwa saat itu dia sendirian berada di sana. Lagipula, sebagian besar penghuni sekolah sudah pulang—bahkan para peserta SMF pun sudah berpamitan lebih awal sehingga hanya tinggal sedikit orang yang tersisa di sekolah.

Nah, dari sedikit orang begitu, siapa yang akan membuntutinya ke toilet? Kalau tidak salah, ia tidak berkoar keras-keras kalau setelah ini dia akan pergi ke toilet. Yang diberitahunya cuma Sasuke.

Sakura cepat-cepat menghapus nama Sasuke dari daftar tersangka. Pertama, Sasuke sedang mengobrol dengan Hatake-sensei. Kedua, Sasuke itu laki-laki. Konyol rasanya sengaja masuk ke toilet lawan jenis hanya untuk mencoreti porselen dengan lipstik—sebentar, Sasuke juga tidak punya lipstik...

Kata-kata itu sudah selesai dihapus oleh Sakura, walau menyisakan bekas-bekas berwarna merah pada petak keramik yang ada. Siapa pun yang bertugas membersihkan kamar mandi tidak akan menyukai noda-noda tipis seperti itu karena akan menambah pekerjaan. Gadis Haruno mengambil tisu baru lagi dan membasahinya dengan air sebelum membersihkan lagi noda lipstik yang tersisa.

Kalau begitu, kemungkinan si Pencoret masuk ke dalam toilet selama Sakura berada dalam bilik toilet! Tulisannya barusan dibuat dengan terburu-buru—telunjuknya menelusuri satu bagian yang merupakan bekas coretan membentuk koma dengan kening terlipat—dan si Pencoret harus buru-buru keluar tanpa menimbulkan banyak keributan.

Masalahnya, siapa?

Sakura membereskan pekerjaannya dan segera keluar dari toilet. Ia tak mau lama-lama berada di situ kalau ia masih bisa mengejar orang yang kemungkinan besar menjadi pelaku. Bergerak tanpa menimbulkan suara akan cukup sulit sehingga siapa pun akan bergerak dengan hati-hati. Pasti, orang itu masih berada cukup dekat kalau tidak mau menimbulkan banyak kecurigaan.

Tapi dia sendiri masih belum mendapatkan gambaran akan siapa pelakunya. Dalam benaknya, Sakura masih menempatkan Karin dalam posisi pertama. Tadi yang berada di sekitarnya waktu sedang mengobrol dengan Sasuke adalah Chouji, Temari, Karin, dan—

Sakura tidak melanjutkan pemikirannya ketika ponsel di saku roknya bergetar. Gadis itu mengeluarkan ponsel merah mudanya dan menemukan nama Sasuke di layar. Oh, sudah selesai? Kakinya berhenti di depan anak tangga-anak tangga yang mengarah ke lantai satu. Ia baru saja akan membuka flip ponselnya ketika merasakan sesuatu menabrak punggungnya dengan cepat sehingga keseimbangannya goyah.

"Ah!"

Gravitasi menyeretnya tanpa banyak berkompromi, membuat tubuhnya melayang dan jatuh ke sudut tangga antara lantai satu dan lantai dua. Sakura merasakan tubuhnya teramat sakit; paru-parunya serasa kehilangan seluruh pasokan udara. Samar-samar ia mendengar langkah kaki seseorang menjauh dari sana.

Lalu, semuanya gelap.

.

.

Suasana di pintu gerbang Konoha High terlihat sepi. Jarum jam sudah mengarah ke angka enam, menandakan sebentar lagi warna jingga di atas sana akan tergantikan oleh ungu yang lama-kelamaan menjadi hitam. Sudah sepuluh menit berlalu semenjak Uchiha Sasuke menunggu di sana, dengan sebelah tangan terbenam pada saku celana dan tangan lainnya memegang ponsel. Dua panggilannya tidak dijawab oleh Sakura, bahkan telepon keduanya terputus di nada sambung kelima, setelah itu ponsel gadis Haruno itu mati sama sekali. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu sampai-sampai tidak bisa menjawab telepon.

Jangan-jangan ponselnya tercebur ke dalam toilet? Sasuke mendengus menyingkirkan pikiran konyolnya jauh-jauh. Memangnya ada apa sampai-sampai Sakura bisa menjatuhkan ponselnya ke dalam toilet.

Diputuskannya untuk menunggu beberapa saat lagi—ayolah, seberapa penuh toilet di saat semua orang sudah pulang? Beberapa saat yang lalu, ia melihat Karin dan rombongannya melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Mereka berempat terlihat sibuk mengobrolkan tempat makan malam nanti. Khas cewek; Sasuke sama sekali tidak mau ikut campur.

Tapi, setelah beberapa belas menit berlalu—dan kakinya sudah semakin pegal karena kebanyakan berdiri—akhirnya Uchiha bungsu lelah menunggu. Tidak mungkin Haruno Sakura menghabiskan setengah jam hanya untuk ke toilet saja.

Kakinya bergerak untuk masuk kembali ke dalam sekolah.

Sakura, doko ni iru ka?[1]

.

.

.

to be continued

.

.

[1] Kau di mana?

.

.

Yak, yak, dan yak; sudah mulai masuk ke dalam plot twist. Sesuai dengan buku draft saya, mulai chapter ini, drama-nya bakal mulai keliatan. Drama ala sekolah Jepang, aksi bullying dan semacamnya x)

Jadi, apa ada yang tau siapa yang nyelakain Sakura di akhir chapter ini?

Terima kasih yang udah komentar di chapter lalu, untuk yang pakai akun, sudah saya balas via PM ya :D Jangan lupa kasih komentar, kritik, dan saran buat pengembangan chapter-chapter selanjutnya! PM saya terbuka lebar kok buat yang mau kepo-kepo atau ngasih usul secara japri :D

Lastly, doain senin saya ujian huhuhu :(