HONOR FOR FAMILY

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Yuuki Kiraina

Pair: Itachi dan Sakura

Warning: AU, OOC, Typo

Chapter 10 Bertarung melawan Itachi

Itachi membatalkan rencananya hari ini dan mengirim Obito untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. Sebagai wanita di dunia mafia, Kau dengan cepat belajar untuk tidak akan mengajukan terlalu banyak pertanyaan karena jawabannya kurang bagus untuk di dengar.

Saat aku masuk ke dapur dengan memakai jubah mandi, dia menatap kulkas dengan cemberut di wajahnya. "Apakah kamu bisa memasak?"

Aku mendengus. "Jangan bilang kau tidak pernah membuat sarapan untuk dirimu sendiri?"

"Aku biasanya sarapan di luar ketika berangkat bekerja, kecuali pada hari-hari ketika Chiyo ada di sini dan mempersiapkan sarapan untukku." Matanya mengamati tubuh ku. Aku memakai celana pendek, tanktop dan sandal karena udara benar-benar panas hari ini. "Aku suka kakimu." Katanya mengakat senyuman.

Aku menggelengkan kepala, lalu berjalan ke arahnya untuk mengintip kulkas. Dia tidak mundur dan tanganku didielus olehnya. Kali ini aku tidak tersentak atas perlakuannya. Sentuhannya membuatku nyaman dan dia tidak mengejutkanku, aku benar-benar bisa membayangkan dan menikmati sentuhannya. Kulkas yang baik, penuh dengan bahan makanan. Masalahnya aku juga tidak pernah memasak, tapi aku tidak akan bilang pada Itachi. Aku meraih telur dan paprika merah, dan meletakkannya di meja dapur. Tidak mungkin sulit menyiapkan telur dadar. Aku pernah melihat juru masak kami beberapa kali di dulu.

Itachi bersandar ke dinding dapur dan menyilangkan tangannya saat aku meraih Wajan dari lemari dan menyalakan kompor. Aku melirik ke bahuku. "Maukah kau membantuku? Kau bisa memotong paprika.Aku tahu kau ahli menggunakan pisau dari apa yang aku dengar. Seharusnya memotong sayuran lebih mudah daripada memotong jari manis manusia" Aku ingat dulu dialah yang memotong jari manis Konohamaru.

Itu membuat sudut bibirnya berkedut tapi dia mengeluarkan pisau dari blok dan melangkah ke sisi tubuhku. Ujung kepalaku hanya sampai di dadanya dengan sandal flatku. Aku harus mengakui bahwa aku menyukainya. Aku menyerahkan paprika itu dan menunjuk ke papan kayu karena aku merasa Itachi sudah mulai memotong tepat di atas meja granit hitam yang mahal. Kami bekerja dalam diam tapi Itachi terus melirikku. Aku memasukkan sedikit mentega ke dalam wajan, lalu mengocok telur. Aku tidak yakin apakah aku perlu menambahkan susu atau krim atau keju, tapi aku memutuskan untuk tidak menambahkannya. Aku menuangkan telur ke dalam wajan mendesis karena panas.

Itachi mengarahkan pisaunya ke paprika cincang. "Lalu untuk apa paprika ini?"

"Sialan," bisikku. Paprika seharusnya sudah masuk lebih dulu.

"Apakah kau pernah memasak?"

Aku mengabaikannya dan melemparkan paprika ke dalam Wajan dengan telurnya. Aku menyalakan kompor hingga panas maksimum dan segera bau api yang menyala sampai ke hidungku. Dengan cepat aku meraih spatula dan mencoba membalik telur dadar itu, tapi menempel di Wajan. Itachi memperhatikanku dengan seringai.

"Kenapa kamu tidak membuat kopi untuk kita?" Bentakku saat aku mencoba membalikan telur di dalam wajan.

Ketika aku pikir telurnya aman untuk dimakan, aku menyendoknya ke dua piring. Telurnya sangat berantakan, tidak terlihat lezat. Alis Itachi terangkat saat aku meletakkan piring di depannya. Dia duduk di kursi dan aku duduk ke satu kursi di sampingnya. Aku mengawasinya saat dia mengambil garpu dan menorehkan selembar telur, lalu membawanya ke mulutnya. Dia menelan ludah, tapi jelas dia tidak terlalu terkesan. Aku memakannya juga dan hampir meludahkannya kembali. Telurnya terlalu gosong dan terlalu asin. Aku menjatuhkan garpu dan menelan separuh kopiku, bahkan tidak peduli bahwa itu masih panas. "Ya Tuhan, itu menjijikkan."

Ada sedikit hiburan di wajah Itachi. Ungkapan yang lebih santai membuatnya tampak jauh lebih mudah didekati. "Mungkin kita harus pergi keluar untuk sarapan pagi." Kataku menyerah untuk memakan masakan yang gagal kusajikan. Telur dadar yang dimasak olehku sungguh menjijikan.

Melihat kopiku yang masih panas sudah tandas setengahnya, dia pun menarik bibirnya tersenyum jenaka. "Seberapa sulitkah membuat telur dadar?"

Itachi menahan tawa. Lalu matanya tertuju pada ke kaki telanjangku, dan hampir menyentuhnya. Dia meletakkan tangannya di atas lututku dan aku membeku dengan cangkir di bibirku. Aku tidak melakukan apa-apa, dengan mudah dia menelusuri ibu jarinya dari kulitku. "Apa yang akan kamu lakukan hari ini?"

Aku merenungkan itu, bahkan jika tangannya sangat mengganggu. Aku kebingungan antara ingin menyingkirkan tangannya dari lututku dan memintanya untuk terus membelai lututku. "Pagi setelah malam pernikahan kita, Kau bertanya kepadaku apakah aku tahu bagaimana cara berkelahi, jadi mungkin kau bisa mengajariku cara menggunakan pisau atau pistol, dan mungkin beberapa teknik belaan diri."

Wajah Itachi telihat terkejut. "Berpikir untuk menggunakan pisau atau pistol untuk membunuhku?"

Aku melotot tak percaya akan apa yang dia utarakan. "Kekuatan kita tidak seimbang, sebelum aku menembakmu atau menusukmu mungkin aku yang lebih dahulu mati. Itu tidak adil untukku, kau telalu kuat"

"Aku tidak pernah bertarung secara adil selama ini, lawanku lemah dan terbukti sampai detik ini tidak ada yang bisa membunuhku."

Tentu saja tidak ada, kau kan monter. "Jadi, maukah kau mengajariku?"

"Aku ingin mengajarimu banyak hal, terutama permainan di tempat tidur. Tapi tidak untuk berkelahi, aku masih bisa melindungimu" Jari-jarinya menegang di lututku, lalu dia mengecup pipiku singkat.

"Itachi," kataku pelan. "Aku serius. Aku tahu kau bisa menjagaku dengan baik, bahkan Deidara kau tugaskan khusus untuk menjagaku, tapi aku ingin bisa membela diri jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Kau mengatakannya sendiri, si Hebi sialan itu tidak akan peduli lawannya wanita, mereka tidak pandang bulu untuk menghabisi lawannya."

Itu berhasil meyakinkannya. Dia mengangguk. "Baik. Akatsuki memiliki gym dimana kita berolahraga dan melakukan latihan bela diri. Kita bisa ke sana untuk berlatih."

Aku tersenyum, bersemangat untuk keluar dari penthouse dan melakukan sesuatu yang berguna. "Aku akan mengambil pakaian latihanku." Aku melompat dari bangku dan berlari ke atas menuju kamar kami.

-000-

Tiga puluh menit kemudian mobil kami terparkir di depan sebuah bangunan lusuh. Aku sangat gembira, dan aku senang memiliki suatu kegiatan untuk mengalihkan perhatianku dari apa yang telah terjadi kemarin. Itachi dan aku keluar dari mobil dan dia membawa tas kami saat kami melewati pintu baja berkarat. Kamera keamanan ada dimana-mana dan seorang pria setengah baya duduk di sebuah sudut sebuah meja dan kursi serta sebuah TV. Dua senjata ada diholster pinggangnya. Dia membungkuk saat melihat Itachi, lalu dia melihatku dan matanya terbelalak.

"Istriku," kata Itachi dengan sedikit peringatan dan tatapan pria itu tersentak jauh dariku. Itachi meletakkan tangannya di punggungku yang kecil dan membimbingku melewati pintu lain yang menuju ke aula besar. Ada alat tinju, semua jenis mesin latihan, boneka untuk latihan pertarungan dan pisau, dan lingkaran matras tempat beberapa orang berlatih bela diri. Aku satu-satunya wanita.

Itachi meringis. "Kamar ganti kami hanya untuk pria. Kami biasanya tidak memiliki pengunjung wanita."

"Aku tahu kau akan memastikan tidak ada yang melihatku telanjang."

"Kau benar, pria yang melihatmu telanjang akan ku pastikan kehilangan penglihatannya"

Aku tertawa, dan beberapa wajah menoleh ke arah kami. Dengan cepat mereka kembali pada kegiatan yang mereka lakukan sebelumnya saat Itachi menuntunku ke sebuah pintu di samping, tapi mereka terus melirik dengan sembunyi-sembunyi. Beberapa pria yang lebih tua mengucap salam kepada Itachi. Dia membuka pintu, lalu berhenti. "Aku akan memeriksa terlebih dahilu apakah seseorang ada di sana." Aku mengangguk, lalu bersandarr di dinding saat Itachi menghilang di dalam ruang ganti. Begitu dia pergi, aku bisa merasakan mata penuh perhatian priayang ada di sekelilingku. Aku mencoba untuk membiarkan mereka dan betapa gugupnya aku, tatapan mereka membuatku lupa bernafas. saat Itachi kembali keluar itu membuatku berbapad lega, Itachi keluar dengan diikuti oleh beberapa pria yang berpura-pura tidak memperhatikanku. Aku bertanya-tanya apa yang telah dibicarakan Itachi pada mereka.

"Ayo." Dia membuka pintu untukku dan kami berjalan ke sebuah ruangan yang dipenuhi kelembaban dan bau tubuh laki-laki. Aku menutup hidungku. Itachi tertawa. "Kami tidak melayani hidung wanita yang sensitif."

Aku meraih tasku dari tangannya dan berjalan menuju loker. Itachi mengikuti dan meletakkan tasnya sendiri di atas bangku kayu.

"Apakah kau tidak akan keluar dari ruangan ini? Aku ingin berganti pakaian" Tanyaku, ketika tanganku di ujung bajuku.

Itachi mengangkat satu alisnya ke arahku sebelum melepaskan holsternya dan kemudian menarik bajunya sendiri di atas kepalanya, memperlihatkan tubuhnya yang berotot. Dia menjatuhkan bajunya di bangku, lalu meraih kaos khusus berlatih, dia masih menatap menantang matanya.

Dengan menggertakkan gigiku, aku membelakanginya dan mengangkat tanktopku ke atas kepalaku. Aku mengulurkan tangan untuk membuka gesper bra, tapi tangan Itachi ada di sana dan melakukannya untukku dengan ahli. Tentu saja, dia bisa membuka bra dengan satu jari. Aku meraih bra jogging-ku dan memakainya, mencoba untuk tidak memikirkan Itachi yang tidak diragukan lagi mengawasi setiap gerakanku. Aku menanggalkan celana pendekku. Aku menariknya ke bawah juga, dan mendengar Itachi menghela nafasnya saat aku membungkuk sedikit ke depan. Pipiku meledak dengan panas, menyadari pemandangan seperti apa yang baru saja kuberikan padanya. Aku menyambar salah satu celana dalam hitam polos yang selalu aku kenakan saat jogging, lalu aku memakai celana joggingku. Dia mengenakan celana olahraga hitam dan kaos putih ketat yang menunjukkan tubuhnya yang spektakuler. Ada tonjolan di celananya. Apakah itu karena pantatku?

"Itu yang kau pakai untuk belajar bela diri disini?"

Aku menunduk menatap diriku sendiri. "Aku tidak punya yang lain. Inilah yang aku kenakan saat aku joging." Celana pendek yang kencang dan terlalu pendek di pahaku, tapi aku tidak suka celana panjang ketika aku berlari.

"Kau tahu aku harus menendang pantat setiap orang yang melihat kau dengan cara yang salah, pandangan penuh nafsu. Kau tahu bukan? Dan kau terlihat dengan penampilan seperti itu, orang-orangku akan mengalami kesulitan untuk tidak memandangmu dengan penuh nafsu."

Aku mengangkat bahu. "Bukan tugasku untuk membuat mereka mengendalikan diri. Hanya karena aku memakai pakaian yang terbuka bukan berarti aku mengundang mereka untuk melihat tubuhku. Jika mereka tidak bisa menjaga pandangannya, itu masalah mereka. Itu jelas bukan salahku"

Itachi menuntunku keluar dari ruang ganti dan menuju matras untuk berlatih beladiri. Orang-orang di sana segera mundur dan mereka tidak menatapku tajam. Aku mengikuti Itachi untuk melihat pisau. Matanya memindai orang-orang disekeliling kami. Lalu dia memilih pisau kecil dan menyerahkannya padaku. Dia tidak mengambil pisau untuk dirinya sendiri.

Dia menempatkan dirinya untukku serang, tampak sangat santai. Dia pasti tahu semua orang memperhatikan kita berdua, tapi dia bersikap seolah tidak peduli. "Serang aku, tapi usahakan jangan sampai melukai dirimu sendiri."

"Apakah kau juga tidak akan menggunakan pisau untuk bertahan?"

Itachi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak membutuhkannya. Aku akan memilikinya sebentar lagi. Aku bisa mengambilnya langsung dari tanganmu sebentar lagi."

Aku menyipitkan mataku dengan nada percaya diri. Mungkin dia benar, tapi aku tidak suka dia mengatakannya. "Jadi, apa yang harus kulakukan?"

"Cobalah untuk mendaratkan pukulan. Jika Kau berhasil melukaiku, Kau menang. Aku ingin melihat bagaimana kecepatan kau bergerak"

Aku menarik nafas dan mencoba melupakan orang-orang yang memperhatikanku. Aku mengencangkan peganganku pada pisau itu, lalu aku berlari maju. Itachi bergerak cepat. Dia menghindari tusukanku, meraih pergelangan tanganku dan membalikkan tubuhku sampai punggungku bertabrakan dengan dadanya.

"Gerakanmu terlalu lambar, aku bisa mengambil pisaumu" Aku tersentak. Jari-jarinya di sekitar pergelangan tanganku mengencang sedikit, digenggamnya kuat tapi tidak menyakitkan. Bibirnya menyentuh telingaku. "Aku harus menyakitimuu untuk mendapatkan pisaumu. Misalnya aku bisa mematahkan pergelangan tanganmu atau hanya membuat tanganmu memar." Dia melepaskanku dan aku tersandung ke depan.

"Sekali lagi," kata Itachi. Aku mencoba beberapa kali, tapi bahkan tidak sampai melukainya, bahkan mendaratkan pukulan di tubunya pun tidak. Untuk usaha selanjutnya, Aku memutuskan untuk sedikit curang. Aku maju padanya, lalu saat dia menarikku, aku menendang di antara kedua kakinya. Orang-orang bersorak, tapi tangan Itachi menangkap kakiku sebelum kakiku mengenainya dan sebelum aku tahu apa yang terjadi, aku mendarat di punggungku dengan bunyi gedebuk yang berat. Nafasku keluar dari tubuhku dan pisau itu terlepas dari tanganku. Aku memejamkan mataku. Itachi menyentuh perutku dan otot-ototku menegang di bawah telapak tangannya yang hangat. "Apakah kau baik-baik saja?" Tanyanya pelan.

Aku membuka mataku. "Ya. Hanya mencoba menarik nafas" Lalu aku mengamati orang banyak disekitarku. "Apakah orang-orangmu ada yang berani melawanku, keliatannya mereka penakut?" tanyaku dengan jenaka.

"Orang-orangku tidak takut pada apapun," kata Itachi keras. Dia mengulurkan tangannya dan membantukku berdiri. Dia berbicara kepada orang-orang di sekeliling kami. "Siapa yang mau menjadi lawan istriku?"

Tentu tidak ada yang melangkah maju. Mereka mungkin khawatir Itachi akan menguliti mereka hidup-hidup jika mereka melukaiku. Beberapa dari mereka menggelengkan kepala, terkekeh.

Bayangan senyum di wajah Itachi. "Sepertinya kau tetap harus melawanku."

Beberapa upaya penyerangan lagi, sampai aku kehabisan nafas dan sedikit frustasi atas ketidakmampuanku untuk melukai Itachi walaupun sekecil mungkin tapi kemudian kesempatan datang sendiri. Dia menahan tubuhku dan lengan atasnya berada di dekat wajahku, jadi aku berbalik dan menggigitnya. Dia sangat terkejut sehingga dia benar-benar membebaskanku dan aku mencoba menusuknya dengan pisau itu, tapi dia mencengkeram pergelangan tanganku. "Apakah kau kehabisan cara sampai kau harus menggigitku?" Tanyanya sambil menatap bekas gigiku di bisepnya.

"Tidak ada peraturan yang mengatakan tidak boleh menggunakan gigi dalam pertandingan. Apakah gigitanku terlalu menyakitkan? Bahkan tidak ada darah di bekas gigitanku," kataku sedikit mencemoh.

Bahu Itachi berkedut sekali, sekali lagi. Dia menahan tawa. Bukan efek yang kuinginkan saat menggigitnya tapi aku harus mengakui bahwa aku menyukai suara tawa dalamnya yang dalam. "Ya aku akui kau membuat luka di tubuhku, dank au menang dalam pertandingan ini," katanya.

-000-

Aku memakan makanan yang kami beli dalam perjalanan pulang. Aku duduk di sofa rotan di teras yang menghadap ketaman kecil penthouse kami. Dengan segelas anggur di meja.

"Aku terkejut," kataku. Itachi tiba-tiba duduk berdekatan denganku dengan segelas anggur ditanggannya, hampir mencium bahuku dan lengannya diletakkan ke sandaran sofa di belakangku tapi sejauh ini dia bisa menahan diri. "Aku pikir kau akan menyentuhku lebih"

Itachi mendengus "Sudah kubilang aku akan menunggunya. Aku akan menepati janjiku."

"Aku yakin ini sulit bagimu." Aku mempersempit ruang antara aku dengannya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

"Kau tidak tahu. Aku ingin menciummu dan aku sangat menginginkanmu, tapi aku mencoba menahannya" Itachi mengendus ujung kepalaku.

Aku ragu-ragu untuk mencium bibirnya. Namun keraguan itu berakhir dengan aku mendaratkan bibirku dengan bibirnya, terasa nikmat. Itachi meletakkan gelasnya, lalu dia bergerak sedikit lebih dekat dan menyentuh pinggangku. "Katakan padaku kau tidak ingin aku menciummu"

Namun aku membuka bibirku tapi tidak ada yang keluar, aku memberi isyarat untuk menciumku lebih dalam. Mata Itachi menjadi gelap dan dia mencondongkan tubuh ke arahku, menangkap bibirku dengan ciuman dan aku mendapatkan sensasi lebih di lidah dan bibirku. Itachi tidak mendorongnya, tidak pernah menggerakkan tangannya dari pinggangku tapi dia mulai mengelus pinggangku dengan ringan dan tangannya yang satunya memijat kulit kepalaku.

Akhirnya aku berbaring di sofa, Itachi berada di atasku. Aku bisa merasakan diriku basah kuyup. Ciuman Itachi membuatnya lupa diri. Kesemutan antara kedua kakiku menjadi sulit untuk diabaikan dan aku mencoba merilekkan ketegangan dengan menekan dan lelingkarkan kakiku di pinggangnya.

Itachi tersadar apa yang terjadi denganku, dia segera melepas ciumannya. Nafasnya menerpa ke pipiku.

"Aku bisa membuatmu mendapatkan lebih, Sakura" gumamnya, tangannya di pinggangku mengencang. "Kau ingin aku melakukannya sekarang?"

Ya Tuhan, ya aku menginginkannya. Tubuhku menjerit karenanya. Tapi egoku mengalahkan keinginan tubuhku "Aku rasa tidak sekarang"

Itachi tertawa terbahak-bahak. "Kau sangat keras kepala" Dia tidak mengatakannya dengan cara yang jahat. Bibirnya menjelajah di tubuhku dan aku tahu bahwa dia sedang mengerahkan semua usahanya, bertekad untuk mematahkan egoku dan beberapa kali aku terhanyut namun dapat ku kendalikan. Aku berdenyut-denyut di antara kedua kakiku tapi aku tidak mau menyerah, tidak begitu cepat. Aku bisa nebgontrol diriku.

Aku menyudahi aktivitas kami, aku mendorong dada bidangnya dan meninggalkannya. "Aku lelah, aku ingin tidur" Itachi mengekor.

Malam itu aku tertidur dengan lengan Itachi di sekelilingku dan ereksinya ada di sekitar pahaku bagian atas. Mungkin lain waktu kita bisa benar-benar membuat malam yang indah untuk pernikahan ini.

Bersambung...

Note:

Chap 11 mungkin akan telat update dan mungkin akan menjadi chapter panjang. Di usahakan update hari Jum'at, jika hari jum'at belum update juga bisa langsung PM untuk mengingatkan yuuki. Notif PM langsung masuk handphone. Silahkan tulis review untuk chapter ini :)