THE SWEETEST TROUBLEMAKER
•
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And OCs
•
ChanBaek (GS)
Romance (lil bit humor)
•
DON'T LIKE DON'T READ!
Happy Reading!
•
•
Sosok mungil itu masih mengamati refleksi dirinya di depan cermin dengan wajah ragu.
Bathrobe merah muda melekat, menutupi tubuh polos yang sesaat lalu berdiri di bawah guyuran shower. Rambutnya setengah mengering, jika bukan karena libur panjang dan terbebas dari segala aktifitas perkuliahan, Baekhyun akan berpikir dua kali untuk membiarkan rambutnya basah dan memilih menggunakan hair dryer untuk mempersingkat waktu. Namun pagi ini, ia bisa lebih bersantai karena bahkan dirinya masih belum memiliki jadwal aktifitas untuk mengisi hari libur.
Dering telepon di atas nakas nyaring terdengar.
Segurat senyum terulas lantas menggeser tombol hijau dengan semangat, "Jika menghubungiku hanya kurang dari satu menit lebih baik jangan."
"Kurasa disana masih terlalu pagi untuk kau gunakan marah-marah." Suara baritone yang mana pemiliknya sudah genap meninggalkan Korea selama beberapa hari itu menyahut tenang di seberang sana.
Baekhyun mencibir. Lantas hening selama beberapa saat.
"I miss you/ I miss you."
Mereka menemukan kembali suaranya lalu menyerukan sebuah kalimat yang sama.
Terdengar kekehan kecil di seberang sana. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Park Chanyeol dan suara hangat bernada lembut adalah favorit Byun Baekhyun. Maka senyumnya terulas penuh arti saat ini. "Berdiri di depan cermin. Aku baru selesai mandi, belum berpakaian dan masih mengenakan bathrobe."
"Oh, nice info."
Baekhyun tahu, Chanyeol tengah mengejeknya di seberang sana. "Aku belum berpakaian, tuan."
"Hn."
"Hn? Mau kuperlihatkan?" Goda si mungil dengan suara polos yang dibuat-buat.
"Jangan aneh-aneh, sekarang pakai bajumu. Hindari pakaian gelandangan dan pilih yang lebih tertutup, cuaca sedang tidak bagus dan pastikan kau tetap hangat."
Baekhyun tidak menyahut, ia justru tenggelam dalam pikiran.
"B? You still there?" Tanya Chanyeol terdengar keheranan karena kekasihnya tidak kunjung menyahut.
"Aku mau kau yang mengahangatkanku!" Seru si mungil seraya merengek kecil.
Astaga, Park Chanyeol dengan segala kalimat mutlak namun penuh perhatian adalah kelemahannya. Hal yang membuat rasa rindu itu kian menumpuk dan Baekhyun frustasi karenanya.
Chanyeol menghela pelan. Suara manja penuh rengekan kekasihnya memang kerap membuatnya termangu. "Sudah kubilang jangan aneh-aneh. Oh ya, kututup dulu teleponnya, nanti kukabari lagi."
Belum lagi Baekhyun menyahut namun panggilan teleponnya susah terputus secara sepihak. Gadis itu menatap layar ponsel dengan mata membulat, sementara rahangnya nyaris menyentuh tanah.
Bukankah Park Chanyeol keterlaluan?
Maksud Baekhyun, ia bahkan bisa menghitung lamanya durasi sambungan telepon selama tiga hari semenjak kekasihnya itu menetap di Amerika.
Chanyeol memang tidak pernah lupa memberinya kabar, namun tidak lebih dari satu menit dan lelaki itu akan bertingkah seolah dia manusia paling sibuk lantas mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Jika itu kemarin, Baekhyun masih bisa memaklumi dan menahan kesabarannya, namun kali ini kekesalan gadis itu tidak dapat lagi dibendungnya.
"Kau memang cari masalah denganku, Park Chanyeol!" Geram gadis itu seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa. Masih menggenggam ponsel, ia membuka akun media sosial lantas memposting salah satu video yang ia yakini mampu memancing kemarahan kekasihnya tersebut.
Beberapa menit setelah videonya terposting, senyum miring tercetak tatkala melihat nama pengguna kekasihnya muncul di kolom komentar.
"Itulah akibatnya jika membuat Byun Baekhyun kesal!" Gumamnya masih dengan ekspresi geram karena kini ia terlibat perdebatan dengan Chanyeol di media sosial.
"Kau tidak boleh mengabaikan kekasihmu sendiri, sayang." Tukasnya lagi, sedang jemarinya masih sibuk menari di atas layar ponsel, membalas komentar Chanyeol dengan cukup sengit.
Baekhyun berniat mengetik beberapa kalimat lagi ketika layar ponselnya berubah menjadi mode panggilan.
Park Chanyeol kembali meneleponnya.
Terlanjur dongkol dan marah dengan kekasihnya tersebut, Baekhyun memilih menggeser tombol merah dan kembali mencurahkan kekesalannya pada postingan di media sosial.
Baekhyun kerap berpikir bahwa tujuan Park Chanyeol dilahirkan ke dunia adalah untuk membuat kesehatan jantung setiap kaum hawa terancam.
Bagaimana tidak?
Bahkan hanya dengan satu kalimat rindu yang lelaki itu lontarkan di kolom komentar kepadanya mampu membuat sesuatu di balik tulang rusuk gadis itu menderu tanpa bisa dicegah.
Baekhyun terlalu sibuk mengatur detak jantungnya yang menggila hingga tanpa sadar kemarahannya menguap entah kemana.
Lantas, ia dengan mudah luluh dan memaafkan sikap menyebalkan kekasihnya akhir-akhir ini.
Layar ponselnya kembali menampilkan nama Chanyeol dalam mode panggilan, dan tanpa pikir panjang, Baekhyun menggeser tombol hijau. "Hn." Gumamnya berpura-pura ketus.
"Kau tahu aku tidak mungkin berselingkuh."
Baekhyun sedikit tercengang mendengar suara tegas Chanyeol di seberang sana. "Siapa yang tahu? Kau-"
"Baekhyun dengar, yang harus kau percaya bahwa setiap waktu aku selalu menumbuhkan perasaanku kepadamu."
Baekhyun merengut seolah Chanyeol dapat melihatnya. "Aku tidak akan seperti ini jika kau bisa adil membagi waktu, aku kesepian, aku.. aku merindukanmu."
"Aku tahu ini sulit, keadaan kita cukup sulit karena terhalang jarak. Tapi bisakah kau berdamai dengan egomu dan mencoba untuk memahami kesulitan kita? Memahami aku?! Kita baru saja memulainya!"
"Kau membentakku?" Mata Baekhyun berkaca-kaca tanpa dikomando.
"Tidak, sayang.. hei, aku hanya tidak ingin kita terus berdebat apalagi di depan banyak orang seperti di media sosial. Itu terlalu kekanakkan, bukankah kau sudah dewasa, hum?" Suara Chanyeol terdengar lebih lembut kali ini.
"Hn."
"Jadi berhenti berpikir yang tidak-tidak. Berhenti melampiaskan kekesalanmu di media sosial, dan pakai baju yang layak! Harus berapa kali aku memberitahumu?" Kembali nada geram itu terdengar di seberang sana.
Baekhyun meringis takut, Chanyeol memang selalu mempermasalahkan gaya berpakaian Baekhyun dengan protes keras. "Baik, tuan. Maafkan hamba." Cicitnya dengan nada memohon pengampunan.
Gadis itu menggigit bibir mendengar helaan napas berat Chanyeol di seberang sana. "Istirahatlah, aku tahu kau baru pulang dan lelah."
Setelah berdamai dengan Chanyeol dan memutus sambungan telepon dari kekasihnya tersebut, kini Baekhyun bangkit dari sofa dan kembali berdiri di depan cermin.
Disibaknya dengan pelan bathrobe yang sedari tadi melekat di tubuhnya. Lantas setelah tubuh polosnya terpampang jelas di cermin, Baekhyun mendekat hanya untuk mengamati pinggang dan lehernya yang sedikit ternoda oleh bercak memar dan sedikit lecet.
Helaan napas pelan lolos dari mulutnya, lega.
Ya, setidaknya noda luka memar itu semakin samar dan tidak separah tiga hari yang lalu.
Baekhyun kembali menggigit bibir bawahnya, air mukanya bahkan terlihat resah ketika ia diingatkan kembali pada malam terakhirnya bersama Chanyeol.
Oh, Baekhyun tidak akan bersikap memalukan dengan meminta Chanyeol untuk berhenti jika saja cumbuan itu tidak melahirkan rasa sakit yang cukup membuatnya ngilu.
Baekhyun tidak tahu, entah Park Chanyeol sadar atau tidak telah mencengkram pinggangnya cukup keras dan bahkan menggesekkan giginya di sekitar leher Baekhyun hingga melahirkan sedikit luka lecet di area tersebut.
Hingga saat ini gadis itu bungkam tentang kejadian tersebut, tentang bagaimana sorot asing Park Chanyeol sesaat sebelum mencumbunya, tentang luka memar di sekitar pinggang dan luka lecet di area leher, Baekhyun tidak memberitahu siapapun dan hanya menyimpan perasaan resah dan anehnya seorang diri.
Sebenarnya ada apa dengan Park Chanyeol?
Baekhyun menggeleng pelan, bukan hal itu yang harus ia cemaskan. Di Amerika sana kekasihnya mungkin telah menjadi sasaran empuk para wanita mengingat lelaki itu mempunyai pesona Alpha yang begitu kuat. Baekhyun tidak akan diam begitu saja, meski ia yakin Chanyeol tidak akan melirik wanita lain namun keyakinannya itu harus diperkuat.
•
•
The Sweetest Troublemaker
•
•
Untuk ke sekian kalinya Sehun mendengus, terdengar lebih resah. Sedang atensinya masih menatap lekat layar ponsel, mengamati postingan terbaru Baekhyun di akun media sosialnya.
Gelagat aneh Sehun itu pun tak luput dari pengamatan Johnny. Selain merasa geram karena Sehun tak henti-hentinya mengedus seperti anak gadis, rasa penasaran pun menjadi salah satu alasan kernyitan di dahi Johnny semakin kentara. "Okay, sekarang bilang padaku apa yang membuatmu terlihat begitu resah, Oh Sehun?" Pada akhirnya ia bertanya.
Sehun sempat melirik kearah Johnny sebelum kemudian kembali menatap layar ponselnya.
Semakin geram, Johnny terpaksa merebut ponsel Sehun untuk mencari tahu apa penyebab dari sikap menjengkelkan si putih pucat itu. "Wow! Jadi kau resah karena melihat video ini?" Tanyanya setelah melihat sebuah video yang Baekhyun posting. "Apa kau tegang?" Tanyanya lagi yang sukses mendapat pukulan keras di belakang kepalanya.
Mengaduh diselingi makian, Johnny menyerahkan kembali ponsel kepada Sehun.
"Lalu apa yang membuatmu terlihat begitu cemas, albino?!"
"B Noona tidak seharusnya memposting hal-hal seperti itu."
"Karena Chanyeol yang alim tidak menyukai jika Baekhyun memamerkan tubuh seksinya di media sosial? Oh ayolah, itu urusan mereka. Jangan memperumit dirimu sendiri." Tukas Johnny dengan cuek.
"Bukan itu masalahnya." Gumam Sehun nyaris berbisik.
"Lantas?"
"Apa kalian benar-benar berpikir kalau Chanyeol adalah si idiot kaku yang sangat alim?"
Johnny meraih gelas ice tea yang embunnya telah membasahi meja cafe tersebut sebelum kemudian meneguknya pelan. "Baiklah Sehun, berhenti berbelit-belit dan jelaskan apa maksudmu?"
Si putih pucat menerawang jauh ke depan, kedua bola matanya tampak dipenuhi oleh berbagai hal yang mengganggu. "Namanya Kim Hyejin." Tukasnya mulai bercerita.
"And she is...?"
"His ex-"
Johnny nyaris menyemburkan minumannya karena terkejut. Raut wajahnya seperti berkata 'Apa kau bercanda?'
Bagaimana tidak?
Setahunya Park Chanyeol tidak mempunyai mantan kekasih.
Ya. Yang Johnny atau bahkan semua orang tahu Chanyeol itu pangeran eskimo yang kaku itu tidak pernah berpacaran sebelumnya.
"Wajar kalau kau terkejut karena hal itu sudah berlangsung sangat lama, saat aku dan Chanyeol memasuki tahun ketiga junior high school."
Johnny membeo sebelum kemudian mengangguk paham mengingat pertemanannya dengan Chanyeol baru terjalin ketika memasuki tahun kedua senior high school. "Lalu apa yang terjadi?"
"Insiden yang cukup menggemparkan terjadi, saat itu Chanyeol dipanggil ke ruang kepala sekolah. Dia dituduh melakukan pelecehan seksual dan bahkan kekerasan fisik pada Hyejin di sebuah kelas tak terpakai."
"Persetan, Sehun. Apa ada yang lebih konyol dari semua omong kosong—"
"—Chanyeol mengakuinya."
"What?!" Johnny menaikkan volume suara, tidak peduli oleh beberapa pasang mata yang langsung meliriknya dengan tatapan aneh, lelaki itu hanya berharap telinganya salah mencerna ucapan Sehun.
"Chanyeol mengakui perbuatannya." Sehun kembali mengulang perkataannya dengan lesu.
"I don't get it!" Johnny mengangkat kedua tangan layaknya tersangka.
Sehun menegakkan posisi duduk. Lalu membawa kedua tangannya yang terjalin keatas meja. "Oh, aku tidak percaya akan mengatakannya lagi setelah sekian lama." Ia kembali memberi jeda untuk menetralkan emosinya. "Sexual sadism disorder." Lanjutnya dengan suara pelan.
Kernyitan di dahi Johnny semakin kentara, sedang keterkejutannya kian bertambah seiring dengan informasi yang Sehun beberkan.
"Chanyeol diduga menderita penyimpangan seksual tersebut. Kabarnya, dia bahkan tidak sekali dua kali mencoba melakukan kekerasan terhadap Hyejin saat mereka berkencan."
Kini saliva Johnny tertelan dengan susah payah.
"Dan setelah asumsi itu muncul ke permukaan, Chanyeol dan keluarganya pindah ke Seoul. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak saat itu, hingga keluargaku pindah ke Seoul, aku bertemu lagi dengan Chanyeol di senior high school. Kau tahu? Dia sedikit banyak telah berubah."
"Seperti apa?"
"Seperti yang kita kenal sekarang kecuali sifat pendiam dan kakunya. Memang untuk penyimpangan seksual yang aku katakan tidak membuat si penderita terlihat menonjol dan berbeda dari yang lain. Namun setelah kuamati sampai sekarang, Chanyeol tidak menunjukkan gejala-gejala itu lagi. Ya, setidaknya sikap protective nya terjadap Baekhyun Noona membuatku berpikir bahwa mungkin Chanyeol memang sudah benar-benar sembuh dan tidak akan membahayakannya. Terlebih seperti yang kita tahu, Chanyeol sangat menghormati perempuan."
"Apa seberbahaya itu?" Johnny bertanya dengan nada rendah, lantas menatap Sehun dengan serius. "Apa yang terjadi pada Hyejin dulu?"
Sehun tampak berpikir, seolah berat untuk memberitahu. "Oh, gadis itu bahkan berjalan dengan bantuan tongkat. Aku tidak tahu apa yang telah Chanyeol lakukan, tapi kabarnya Hyejin mengalami trauma yang cukup hebat."
"Lantas... apa hubungannya ini semua dengan postingan video seksi Baekhyun?"
"Itu yang aku risaukan sedari tadi, terkadang aku berpikir bahwa alasan Chanyeol tidak pernah ikut berbaur ketika kita membicarakan sesuatu berbau porno itu bukan karena dia tidak berminat atau bahkan tidak normal seperti yang kerap Jongin katakan, melainkan karena Chanyeol mencoba membatasi diri. Coba kau pikir, pemuda normal mana yang membiarkan folder komputernya bersih dari konten-konten laknat? Hanya Park Chanyeol! Bukankah itu jauh lebih aneh?"
"Jadi yang kau maksud, Chanyeol hanya menahan dirinya sendiri?"
"Bingo! Chanyeol hanya berusaha menghindari sesuatu yang mungkin akan membuatnya terprovokasi, dan masalahnya sekarang teman kita itu berpacaran dengan gadis se-seksi B Noona! Siapa yang tidak akan menelan ludah melihat video ini?!" Tukas Sehun seraya memperlihatkan lagi postingan Baekhyun. "Jika B Noona terus menerus memprovokasi Chanyeol, yang aku takutkan sisi berbahaya teman kita itu akan muncul kembali."
"Eiyy tidak mungkin, bukankah kau bilang Chanyeol sudah sembuh? Dia tidak akan semudah itu terprovokasi."
"Benarkah?"
Johnny menggaruk tengkuk, sejujurnya ia sendiri ragu mengingat lelaki mana pun akan dibuat kalang kabut jika melihat gaya berpakaian seorang Byun Baekhyun.
Benarkah Park Chanyeol sudah sembuh?
•
•
The Sweetest Troublemaker
•
•
Baekhyun duduk bersimpuh, kedua tangannya berada dalam pangkuan, anggun dan terlihat sopan.
Setelah sekian lama, gadis itu akhirnya datang kembali ke kediaman madam Zhang. Meski sebenarnya ia kurang suka dengan suasana temaram di ruang konsultasi sang cenayang, itu mengingatkannya pada salah satu adegan film horor.
Dan Baekhyun benci genre film yang satu itu.
Kali ini Baekhyun sengaja datang seorang diri, karena jika ia mengajak Luhan dan Kyungsoo, sudah dipastikan kedua temannya itu akan mencibirnya berlebihan.
"Jadi kau belum berhasil mematahkan kutukan itu?" Tanya madam Zhang dengan mata terpejam, caranya duduk bersila benar-benar meyakinkan.
Oh belum lagi ikat kepala yang bertengger.
"Ya, madam. Tapi aku sudah berhasil mencuri hatinya, aku sudah berkencan dengannya."
"Hatimu pun sudah tercuri olehnya."
Rona merah mendadak hadir membubuhi kedua pipi Baekhyun. "Masalahnya kutukan itu tidak penting lagi bagiku, aku datang kesini untuk meminta bantuanmu yang lain."
"Apa yang kau mau?"
"Biar ku ceritakan terlebih dahulu kisah cintaku yang benar-benar tragis." Baekhyun mulai bercerita dengan dramatis. "Aku baru berkencan dengannya dua hari, tapi nasib buruk memang bisa menimpa siapapun, termasuk kepada gadis secantik aku. Bukan begitu?" Lanjutnya dengan nada meratap.
Madam Zhang mengangguk wibawa sementara jemarinya telah lebih dulu mengelus dagu.
"Dia mendapatkan pekerjaan di Amerika dan sekarang hubungan kami terhalang jarak dan itu membuatku selalu merasa resah. Kekasihku itu sangatlah tampan, aku bahkan tidak bisa mendeskrispkannya seperti apa. Maka dari itu aku selalu takut dia akan berpaling dan tergoda oleh wanita lain di sana, meskipun aku selalu disamakan dengan ikon kecantikan yang tak memiliki kekurangan sedikit pun, tapi tetap saja aku takut dia berselingkuh."
Madam Zhang nyaris membenturkan kepalanya mendengar celotehan Baekhyun yang mana membuatnya berpikir bahwa kepercayaan diri gadis itu sudah melewati batas.
"Jadi, bisakah madam membantuku menghindarkan kekasihku dari segala macam godaan berbahaya di Amerika sana?"
Berdeham penuh wibawa, sang cenayang mengangguk paham. "Itu hal yang mudah, bahkan dengan sekali mantra maka jimat tak kasat mata yang kupunya akan dengan sendirinya mengudara, membelah lautan, mengarungi samudera sebelum kemudian sampai di tempat tujuan, yakni tempat di mana kekasihmu berada. Maka sudah dipastikan jimat itu akan melindunginya dari apapun yang membuatmu cemas." Tukasnya dengan bualan profesional.
"Whoa!" Baekhyun tak bisa menahan diri untuk tidak bertepuk tangan saat menyakikan madam Zhang berbicara seraya memetakan diri layaknya seorang master pantomim.
Madam Zhang mengangkat sebelah tangan, meminta Baekhyun untuk tidak memujinya berlebihan. "Kau tidak perlu cemas, tinggalkan saja syarat ritual yang sepadan maka semuanya akan beres."
Baekhyun mengangguk paham sebelum, ia mengerti syarat yang madam Zhang katakan adalah segepok Won yang sudah ia siapkan. Gadis itu merogoh tas hanya untuk mengambil sebuah amplop sebelum kemudian meletakkan di atas meja sang cenayang. "Kalau begitu aku percayakan semuanya kepadamu madam." Finalnya sebelum kemudian bangkit dari posisinya setelah mendapati anggukan dari madam Zhang.
"Apa dia tahu?"
Langkah Baekhyun terhenti ketika bahkan ia sudah nyaris menyentuh knop pintu keluar. Lantas ia kembali berbalik hanya untuk mendapati ekspresi wajah serius madam Zhang.
Si gadis mengerjap pelan. Sungguh ia tidak mengerti pertanyaan sang cenayang.
Madam Zhang menunjuk dengan pada area sekitar perut Baekhyun. "Luka memarmu. Apa dia sadar telah melukaimu?"
Baekhyun masih mencerna pertanyaan sang cenayang sebelum kemudian ia sadar akan sesuatu. Gadis itu berlari tergesa dan kembali duduk di hapadan sang cenayang. "Da-darimana madam tahu?" Tanyanya dengan berbisik seolah takut didengar oleh orang lain. Sedang ekspresi wajahnya terlihat begitu syok. "To-tolong katakan padaku!" Lanjutnya dengan memohon, karena sejujurnya ia masih diliputi rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
"Aku bisa saja keliru, tapi seumur hidupku hal itu tidak pernah terjadi. Jadi, jika ku tanya apa kau lebih memilih terancam dengan jaminan terus bersamanya atau memilih aman tapi harus berpisah dengannya, mana yang akan kau pilih?"
Baekhyun tidak sedangkal itu, ia mengerti apa maksud dari pertanyaan madam Zhang meski ia masih belum menemukan titik terang tentang hubungan pertanyaan itu dengan kekasihnya, Park Chanyeol. "Aku menyukainya, ini pertama kalinya aku merasa begitu jatuh cinta terhadap seseorang. Jadi, kalaupun aku harus terancam dalam sesuatu yang tidak baik, bukankah ada dia yang akan melindungiku? Dia begitu protective terhadapku."
Madam Zhang berdecak remeh. "Masalahnya dia tidak hanya berperan sebagai seseorang yang melindungimu. Dia juga ancaman terbesar yang berpotensi menempatkanmu dalam bahaya."
Baekhyun membeo, lantas menggeleng pelan ketika mengingat luka memar dan lecet yang didapatinya tempo hari. Pikirannya seolah terhubung pada beberapa kilas kejadian lalu.
"Kau tidak akan mampu menyangkalnya." Madam Zhang menunggu Baekhyun untuk kembali bersuara, namun nihil. Gadis itu tampak terlihat begitu syok. "Namun tentu saja, tidak ada masalah tanpa adanya solusi. Meski sebenarnya jalan terbaik adalah menghindari bahaya tersebut. Tapi jika kau bersikukuh ingin tetap bersamanya maka keadaan akan berbalik, bukan dia yang kau butuhkan sebagai obat, tapi kau yang akan berperan sebagai penyembuh itu."
"A-ku? Apa yang harus kulakukan? Sebenarnya ada apa dengan kekasihku? Apa dia bermasalah?"
Jika itu benar, maka sulit dipercaya mengingat Park Chanyeol adalah definisi nyata dari sebuah kata 'Sempurna'.
"Satu pengorbanan akan membuat semuanya perlahan membaik. Jika kau tulus dan menyerahkan apa yang kau anggap berharga kepadanya, maka awal yang baik akan di mulai, karena itu sepadan. Mungkin kau akan merasa takut dan putus asa pada awalnya, namun ingat satu hal. Penderitaanmu tidak sebanding dengan penderitaannya. Dia telah merasakan itu sejak lama, dan dia sudah terlalu lelah memendam perasaan bersalah itu seorang diri."
Setelah berlalu dari kediaman madam Zhang, Baekhyun terduduk lesu di dalam kendaraannya tanpa berniat menyalakan mesin mobil yang ia parkirkan di tepian jalan raya.
Dari segala kalimat yang keluar dari mulut madam Zhang perihal kekasihnya, hanya satu yang membuat gadis itu resah.
Penderitaanmu tidak sebanding dengan penderitaannya.
Demi Tuhan, Baekhyun cemas ketika kalimat itu terngiang di benaknya.
Apa kekasihnya semenderita itu?
Anehnya, dibanding dirinya yang berpotensi terserang bahaya seperti yang madam Zhang jelaskan, Baekhyun justru lebih mengkhawatirkan kekasihnya.
Si gadis menggeleng pelan, ia adalah tipikal orang yang tidak akan diam dan ditaklukan oleh perasaan resah. Maka dari itu ia menekan speed dial pada smart monitor kendaraannya, menghubungi Tao.
"Aku akan ke Amerika. Jadwalkan penerbangannya besok pagi. Dan katakan pada kakek tua aku bosan dan hanya ingin menghadiri pagelaran pekan busana di New York." Perintahnya dengan suara mutlak.
Dan jika sudah seperti itu, maka Tao pun tidak berani melayangkan protes.
•
•
The Sweetest Troublemaker
•
•
Baekhyun nyaris membenturkan kepalanya pada sisi kursi pesawat karena rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya pasca melalui belasan jam perjalanan dari Seoul menuju negeri Paman Sam.
Suara pramugari terdengar memenuhi seluruh sudut kabin, mengumumkan bahwa beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di John F. Kennedy International Airport.
Tanda pasang sabuk pengaman sudah dimatikan, lantas Baekhyun berjalan dengan santai seraya menjinjing tasnya menuju gedung bandara.
"Hai, Mike.. I'm sorry for interrupting your routine." Sapa Baekhyun sesaat setelah seseorang keluar dari sedan hitam di depan gedung bandara.
"Tidak apa-apa, nona. Saya senang ketua mempercayakan saya untuk menjemput anda."
"Whoa, bahasa Koreamu sudah begitu fasih ternyata." Tukas Baekhyun diselingi kekehan seraya mengambil langkah sebelum kemudian duduk di kursi penumpang sesaat setelah Mike membukakan pintu.
"Jadi, kemana saya harus mengantar anda, nona?"
"Urmm.. The Peninsula Spa, please. Tubuhku benar-benar lelah dan butuh dimanjakan." Sahut Baekhyun diselingi dengusan lelah.
Mike menurut lantas menjalankan mobilnya meninggalkan area bandara.
•
•
•
Setelah sampai di tempat spa, Baekhyun berterimakasih pada Mike dan membiarkan lelaki itu berlalu dengan alasan Baekhyun bisa mengurus dirinya sendiri selama berada di Amerika, gadis itu mulai melangkah memasuki gedung perawatan kecantikan tubuh di hadapannya.
Ia langsung disambut ramah oleh beberapa staf karyawan yang sejatinya sudah mengenalnya dengan baik, mengingat Baekhyun kerap menyempatkan diri datang ke spa tersebut jika berkunjung ke Amerika.
Terlebih, pusat perawatan kecantikan itu memang sudah menjadi langganan banyak orang-orang asia terutama Korea.
Baekhyun mengekor salah satu karyawan yang menuntunnya pada salah satu kamar spa untuk mendapatkan treatment jika saja ia tidak lebih dulu mendengar suara gaduh dari ruangan lain.
Sedikit terganggu dengan suara ribut yang seharusnya dilarang di sebuah tempat spa, Baekhyun akhirnya memutar langkah menuju pusat kegaduhan. Ia sedikit tercengang melihat salah satu karyawan yang tengah ditampar berkali-kali oleh seorang wanita.
"Berani sekali kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak tahu siapa aku?!" Bentak Nayeon pada salah satu karyawan yang sebelumnya tidak sengaja melakukan sedikit kesalahan dengan menumpahkan rempah-rempah pada tas kesayangannya pada saat ia melakukan treatment pijat.
"Maafkan saya, nona Im. Saya benar-benar tidak sengaja." Si karyawan mengaduh, memohon ampun seraya menggesekkan kedua telapak tangannya di dada.
"Apa kau pikir semudah itu, huh?!" Nayeon kembali membentak, kali ini ia kembali melayangkan tamparan dengan geram. "Bahkan jika kau menjadi budak di tempat ini selama puluhan tahun pun tidak akan cukup untuk mengganti tasku yang sudah kau kotori, sialan!" Raungnya dengan marah. "Lihat saja, aku akan menuntutmu dan membuatmu membusuk di penjara!" Lanjutnya berlebihan.
"Tolong jangan lakukan itu, nona. Saya tulang punggung keluarga, saya mohon." Karyawan itu mulai menangis.
"Maka dari itu, orang miskin sepertimu seharusnya tidak cari masalah denganku! Kau hanya orang rendahan yang membuatku jijik! Kau seharusnya sadar bahwa dirimu tidak ada bedanya dengan anjing kotor di pinggir jalan, menjijikan!" Bentak Nayeon dengan kesal namun sebelum tangannya berhasil melayangkan kembali sebuah tamparan, Baekhyun dengan sigap menahannya.
Nayeon berbalik hanya untuk mendapati sosok asing di depannya.
Baekhyun menghempas tangan Nayeon dengan cukup keras, lantas membuka kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya. Gadis itu berjalan melewati Nayeon lantas meraih tas yang tergelatak. "Kau membuat keributan hanya untuk tas edisi lama ini?" Baekhyun bertanya diselingi kekehan renyah, namun siapapun tidak melewatkan nada remeh yang gadis itu lontarkan.
"Siapa kau? Berani sekali—"
"—Aku? Aku orang yang bahkan bisa membelikanmu puluhan tas murahan ini." Baekhyun menyela dengan cepat, lantas memangku tangan setelah menunjuk dengan dagu pada tas milik Nayeon.
Wajah Nayeon perlahan kian memerah padam, ia tidak mengenal sosok gadis berpenamilan high-end di hadapannya saat ini, namun aura otoriternya benar-benar membuat Nayeon geram.
Baekhyun melirik pada beberapa karyawan yang sejatinya sedari tadi menyaksikan kegaduhan yang Nayeon ciptakan, lantas pandangannya berakhir pada karyawan yang Nayeon maki sebelumnya. "Urmm, namamu Lisa, bukan? Kau ingat dulu pernah melayaniku di sini?"
Lisa mengangguk keras, siapa yang tidak mengingat Byun Baekhyun? kedatangannya kerap membuat setiap orang senang karena gadis itu memang menyenangkan.
Baekhyun mengelus bahu Lisa, memberinya kekuatan. Lantas pandangannya kembali tertuju pada Nayeon yang tengah menatapnya tajam. "Jika kau merasa derajatmu lebih tinggi dari Lisa, kau salah. Karena kelakuanmu tidak ada bedanya dengan orang-orang rendahan yang kau cemooh." Baekhyun merogoh tasnya hanya untuk meraih ponsel, lantas menghubungi seseorang.
"Ya, kalau perlu sapu bersih etalase new arrival toko tas tersebut." Baekhyun berbicara pada seseorang di seberang sana seraya menatap Nayeon dari bawah hingga atas dengan tatapan mencemooh. "Sepertinya seseorang harus tahu bahwa tidak ada gunanya membuat keributan demi sebuah tas kumal." Finalnya lantas memutus sambungan telepon.
Nayeon tak berkutik, aura penuh kekuasaan Baekhyun seolah mengalahkannya secara telak.
"Jangan terlalu terkejut jika ada setumpuk kiriman yang datang ke rumahmu hari ini, anggap saja itu ganti rugi atas kesalahan Lisa."
Bahkan ketika Baekhyun berjalan melewatinya, Nayeon tak kuasa melawan. Gadis itu hanya mampu mengepalkan tangannya dengan cukup keras.
Dia tidak pernah dipermalukan seperti itu seumur hidupnya. Dia adalah Im Nayeon, sang ratu berotoritas tinggi.
"Whoa, nona Byun benar-benar keren!"
Baekhyun mengibaskan tangan setelah salah satu karyawan memujinya. "Aku hanya anti pada orang-orang kampungan seperti itu." Tukasnya lalu merebahkan diri dengan posisi telungkup, siap untuk mendapat beberapa pijatan yang akan membuat tubuhnya rileks.
"Tapi, ini bukan pertama kalinya nona Im membuat kegaduhan, dia selalu mempermasalahkan sesuatu bahkan kesalahan sekecil apapun selalu dibesar-besarkan. Dia selalu merasa bahwa dia orang kaya yang mempunyai banyak uang lantas bisa menginjak-injak harga diri siapapun yang dianggapnya rendah." Karyawan wanita itu mulai memijat punggung Baekhyun dengan oelan seraya berceloteh tentang kelakuan buruk Im Nayeon.
"Nah, perbuatan tak mendidik itu tidak pantas untuk ditiru, nak." Sahut Baekhyun dengan candaan sementara matanya terpejam nikmat akan pijatan yang diterima.
Suasana berubah hangat, gelak tawa pun mendominasi pada sesi treatment yang Baekhyun dapatkan.
•
•
•
Setelah melakukan serangkaian spa treatment, Baekhyun bisa bernapas dengan lega karena rasa lelah yang ia dapat setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh seolah terangkat. Selain melakukan pijat seluruh badan, gadis itu juga melakukan beberapa treatment kecantikan lain seperti body scrub, masker pemutih, terapi musik, aromatherapy atau bahkan mandi susu.
Senyum nakal berkembang di wajahnya, semua perawatan kecantikan itu ia lakukan hanya karena ia akan bertemu dengan Park Chanyeol.
Dan mottonya masih tetap sama.
Baekhyun anti terlihat jelek di hadapan pangeran eskimo itu.
Si mungil melirik jam tangan sesaat setelah memasuki taksi, ia mendesah lega karena masih mempunyai waktu satu jam sebelum kekasihnya pulang dari kantor.
Baekhyun bisa menjadi orang yang begitu posesif, maka tak heran jika ia hafal dengan betul alamat tempat tinggal Chanyeol hingga kata sandi apartemen kekasihnya itu.
Si mungil ber-Wah-ria sesaat setelah kakinya menginjak lantai dingin apartemen sang kekasih. "Bagus, kau difasilitasi dengan baik." Gumamya seraya menelusuri berbagai ruangan di apartemen Chanyeol yang terbilang cukup mewah.
"Oh astaga! Sebentar lagi dia pulang!" Baekhyun mulai panik lantas setelah meletakkan barang belanjaan berisi bahan makanan di atas meja pantry, gadis itu berlari menuju kamar Chanyeol, membuka lemari pakaian lantas memilih dengan acak kaos milik kekasihnya tersebut.
Oh, Baekhyun sedang terburu-buru, ia tidak mempunyai cukup waktu untuk melirik pada celana dalam calvin klein di laci kaca yang mana akan terasa sangat cocok dipakai oleh kekasihnya.
Si mungil menggeleng keras ketika pikiran mesumnya mulai berulah, lantas setelah berganti pakaian, kaki telanjangnya kembali berlari menuju pantry, bersiap memasakkan sesuatu sebagai kejutan untuk kekasihnya.
Karena memang Chanyeol tidak tahu-menahu tentang kedatangan Baekhyun ke Amerika.
•
•
•
Helaan napas panjang lolos dari mulut Chanyeol sesaat seelah jam kerjanya berakhir, lelaki itu sedikit merenggangkan tubuhnya berharap rasa pegal dan lelah karena seharian penuh duduk menghadap komputer bisa sedikit menguap.
"Hai, Park. Mau pulang bersama?"
Chanyeol melirik pada wanita berambut pirang yang ia ketahui bermama Ashley. Wanita itu sesama karyawan yang mana tempat duduknya dengan Chanyeol hanya terhalang dua meja.
"Tidak, kau duluan saja."
Ashley berbalik tanpa menyahut, mungkin sudah merasa bosan akan penolakan Chanyeol untuk ke sekian kalinya.
Sementara si lelaki mengangkat bahunya, acuh. Ia tidak cukup berbesar hati untuk merasa bersalah karena kerap bersikap dingin kepada Ashley atau bahkan beberapa karyawan wanita lainnya yang kerap mencoba mendekati dirinya ketika bahkan belum genap seminggu ia bekerja di sana.
Chanyeol bangkit dari kursi lantas meraih tas kerja sebelum kemudian berlalu dari kantornya.
Jarak dari tempat kerja menuju apartemen yang cukup dekat bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki membuat Chanyeol bersyukur karena memang ia ingin segera sampai dan menghubungi kekasihnya, dengan begitu ia tidak harus merasa cemas jika si mungil akan merajuk karena telat memberinya kabar setelah pulang kerja.
Senyum kecil terulas ketika mengingat kelakuan Baekhyun, caranya untuk mendapatkan perhatian Chanyeol benar-benar unik meskipun sedikit banyak membuat sakit kepala.
Oh, Chanyeol bahkan masih kerap di buat migrain ketika mengingat postingan Baekhyun kemarin.
Meski tak Chanyeol pungkiri bentuk tubuh kekasihnya benar-benar membanggakan.
Bunyi elevator terdengar, lantas Chanyeol bergegas menelusuri lorong sebelum kemudian menekan sandi apartemen dan masuk.
Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka sepatu dan menggantinya dengan sendal ialah mengernyit heran, wajar karena ia mencium bau sesuatu.
Setelah meletakkan tas kerja di atas sofa, Chanyeol kembali melangkah seraya membuka kancing teratas kemejanya. Ia semakin mempercepat langkah menuju dapur hanya untuk mendapati siluet mungil yang tampak sibuk di seberang pantry.
Chanyeol mematung karena terkejut, ia tidak bertanya-tanya tentang siapa sosok mungil yang memakai kaosnya saat ini karena ia mengenalnya dengan baik. Justru pertanyaan lain berputar di benaknya.
Sedang apa Byun Baekhyun di sini?
Sejak kapan dia di sini?
Baekhyun bisa tetap berfokus pada masakannya jika saja ia tidak membutuhkan lebih banyak penyedap rasa, lantas ia berbalik hanya untuk mendapati fakta bahwa tujuan sebelumnya harus terbengkalai.
Matanya molotot namun berbinar saat mendapati sosok jangkung berdiri di ambang pintu. Lantas, ia berjingkrak ria sebelum kemudian berlari kearah Chanyeol dan memeluknya erat. "Park Chanyeol!" Serunya sebelum kemudian mengusakkan hidung pada dada bidang sang kekasih.
"Whoa, slow down." Chanyeol mengangkat tangan lalu terkekeh ringan karena sosok mungil itu layaknya perangko yang menempel kuat.
"Akh! Masakanku!" Seru Baekhyun panik lantas melepas pelukan dan berlari kembali menuju pantry.
Terlambat, karena bahkan Chanyeol pun dapat mencium bau hangus itu.
Si mungil merengut kesal. Lalu menghentakkan kaki dengan keras.
Gelak tawa Chanyeol mengemuka, ia menghampiri Baekhyun lantas meraih pinggang rampingnya dengan sebelah tangan. Melingkar posesif sebelum kemudian ia menunduk dan mendaratkan kecupan singkat di bibir merah kekasihnya.
"Astaga! Tolong katakan jika ini benar-benar dirimu.." Bisik Chanyeol lalu mengubah kecupan itu menjadi sebuah lumatan kecil, lantas dengan sendirinya berubah menjadi ciuman panas sesaat setelah tangan Baekhyun melingkar di lehernya.
Dahi mereka bersatu, mata keduanya terpejam sementara senyum satu sama lain mengembang.
Dalam sunyi, detak jantung keduanya mendominasi. Lantas terjebak dalam satu momen yang dipenuhi oleh rasa rindu.
"Gendong." Si mungil mulai merengek
Chanyeol menggeleng maklum, lantas mengangkat tubuh kekasihnya yang dengan sigap melingkar bak anak koala.
"Biar kulihat wajah tampan kekasihku dulu." Baekhyun menangkup wajah Chanyeol sesaat setelah ia berakhir di pangkuan Chanyeol yang duduk bersandar pada sofa.
Sementara si lelaki memperhatikannya dalam diam.
"Lelah, hum?"
Chanyeol mengangguk lantas memejamkan mata, menikmati belaian tangan Baekhyun di wajahnya.
"Kenapa kau masih terlihat begitu tampan bahkan dengan wajah selelah ini?"
"Kau terdengar protes."
"Tentu saja, aku bahkan tidak yakin masih akan terlihat cantik dengan wajah selelah itu. Tidak adil!"
Chanyeol terkekeh geli, lalu melingkarkan tangannya pada perut Baekhyun dan memeluknya erat. "Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanyanya setengah berbisik, sementara wajahnya sudah lebih dulu terusak pada bahu sempit Baekhyun.
"Aku merindukanmu."
Dan mencemaskanmu.
"Kenapa? Kau tidak suka aku ada di sini?"
Chanyeol menggeleng keras. Sebaliknya ia merasa senang dengan kehadiran Baekhyun. "Aku menyukainya."
Suara parau itu sedikit banyak membuat hati Baekhyun teriris.
Penderitaanmu tidak sebanding dengan penderitaannya.
"Apa yang terjadi, hum?" Setelah merasa aneh dengan tatapan Baekhyun, Chanyeol akhirnya bertanya seraya mengecupi telapak tangan kekasihnya.
Baekhyun menggeleng pelan. "Mau ku siapkan air hangat untuk mandi?"
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Apa kau lapar?"
Chanyeol menggeleng. "Bagaimana denganmu?"
"Tidak juga, melihatmu saja sudah membuatku kenyang."
"Darimana kau belajar kata-kata seperti itu?" Chanyeol mengusakkan hidung keduanya dengan gemas.
Sementara Baekhyun hanya terkekeh geli. "Kalau begitu sekarang kau mandi." Tukasnya sebelum kemudian mengecup dahi Chanyeol lantas bangkit dari pangkuan kekasihnya itu.
Si lelaki menurut, lantas ikut bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar tanpa menyadari bahwa Baekhyun tengah menatap punggungnya tak berkedip.
Gadis itu menghela napas pelan sebelum kemudian berjalan kearah pantry. Pikirnya akan lebih baik jika menunggu Chanyeol selesai mandi dengan membersihkan dapur yang sempat ia gunakan tadi.
Cukup lama Baekhyun berkutat di dapur, membereskan kekacauan yang ia buat hingga tak terasa bulir keringat membasahi tubuhnya. Merasa cukup lengket dan tidak nyaman ia bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian.
Dihatnya Chanyeol masih belum keluar dari kamar mandi, maka dengan cepat ia memilih kaos dan celana panjang milik kekasihnya lantas segera memakainya.
Baekhyun tengah memusatkan atensi pada jam dinding yang mulai menunjuk pada jam malam ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar, lelaki itu sudah berpakaian lengkap dengan stelan santai.
Chanyeol mengamati penampilan Baekhyun yang cukup lucu dengan kaos dan celana miliknya yang terlihat begitu kebesaran di tubuh mungil itu. Namun diam-diam ia merasa bersyukur karena pikirnya lebih baik gadis itu memakai pakaian yang tertutup terlebih jika sedang bersama dirinya.
"Berhubung aku dan dirimu sama-sama lelah, bagaimana malam ini kita beristirahat saja. Besok baru kita pikirkan akan jalan-jalan kemana."
"Deal!" Baekhyun berseru sebelum kemudian meraih remote televisi dan duduk manis di ujung ranjang, menyaksikan acara di layar plasma di hadapannya.
Chanyeol tersenyum simpul lalu naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya. Dalam diam, ia menatap punggung Baekhyun dengan seksama.
"Membosankan!" Gumam Baekhyun seraya memindahkan saluran tv berkali-kali. Gadis itu berbalik hanya untuk memamerkan rengutan wajahnya pada Chanyeol. Setelahnya ia melempar remot sebelum kemudian merangkak naik, tidak pada ranjang melainkan langsung keatas tubuh kekasihnya.
"Hanya wajahmu yang tidak pernah membosankan." Gumamnya setelah menumpukan kedua tangan di dada Chanyeol dan mengamati wajah kekasihnya itu dari dekat.
"Apa aku setampan itu?" Tanya Chanyeol, jahil. Lantas membelai rambut Baekhyun dengan lembut.
Baekhyun mencibir lalu memainkan telinga Chanyeol. "Jadi, bagaimana pekerjaanmu?"
"Urmm, bagus."
"Hanya itu? Bagaimana dengan karyawan lain? Apa kau sudah mempunyai teman?"
"Ya, ada beberapa yang selalu mengajakku makan siang bersama."
"Siapa saja?"
Chanyeol memasang wajah berpikir, karena jujur saja ia tidak tahu nama orang-orang yang kerap mendekatinya di kantor. "Selain Ashley, aku tidak tahu nama mereka."
Baekhyun mengernyit. "Siapa Ashley?"
"Teman satu kantor." Jawab Chanyeol dengan nada pelan.
"Seperti apa orangnya? Apa dia cantik?"
Chanyeol terkekeh melihat ekspresi wajah Baekhyun serta pertanyaannya yang seolah keluar dari mulut seorang detektif profesional. "Dia cukup cantik." Tukasnya seraya mengusak rambut Baekhyun.
Raut wajah Baekhyun seketika berubah masam. Ia tidak lagi bersuara dan hanya menatap Chanyeol dengan rengutan sempurna.
Chanyeol tersenyum lembut, lantas mengelus pipi Baekhyun dengan ibu jarinya. "Apa arti kecantikannya itu ketika bahkan aku sudah mempunyai dirimu."
"Kata-kata manismu itu tidak mempan sama sekali, tuan!"
Chanyeol mengulum senyum. "Tapi kau merona." Bisiknya, "Dan bahkan aku bisa merasakan detak jantungmu saat ini."
"Park Chanyeol!" Rengek si mungil karena tertangkap basah, disembunyikannya wajah merona itu di dada kekasihnya.
Si lelaki tertawa geli sebelum kemudian melingkarkan tangannya posesif pada punggung Baekhyun. Mengelusnya, lalu mendaratkan kecupan berkali-kali pada puncak kepala gadis itu.
Baekhyun kembali menengadah setelah tawa Chanyeol mereda, ia suka mendengar kekasihnya itu tertawa tanpa beban, tanpa embel-embel penderitaan yang madam Zhang rapalkan.
Sebelah tangannya terulur membelai wajah Chanyeol, lantas menatapnya lekat. Mencoba menyelam lebih jauh dan ketika ia menemukan sedikit titik sendu yang sebelumnya tidak pernah ia sadari ada di kedua iris kelam kekasihnya tersebut, hatinya kembali terusik.
Apa kau baik-baik saja?
Apa kau mau berbagi penderitaanmu?
Aku tidak peduli jika kau benar-benar berbahaya seperti yang dikatakan orang itu.
Tunjukkan padaku.
Percaya padaku.
Aku akan menyembuhkanmu.
Batin Baekhyun melontarkan segala kalimat yang sulit terjabarkan oleh mulutnya.
Lantas sebuah keyakinan tertanam.
Ya. Jika benar, Baekhyun hanya harus menyerahkan apa yang menurutnya berharga kepada Chanyeol. Ia tidak akan mengindahkan konsekuensi terburuk yang madam Zhang katakan.
Ia hanya terlalu mencemaskan kekasihnya.
Meski dirinya sadar, bahwa keputusan itu mungkin akan menghadapkannya pada sesuatu yang tidak ia duga ada dalam diri seorang Park Chanyeol.
•
•
TBC
•
•
AN:
Ciaaa yang biasanya ngebet minta mereka di-ENA-in tapi kali ini pada deg-degan takut B nya kenapa-kenapa ciaaa hahaha :p
Sorry guys, hanya saja tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pun Park Chanyeol, meskipun ini fiksi tapi aku terlalu enggan menciptakan satu karakter yang seolah terlalu sempurna dan gak memiliki cacat sedikit pun.
BIG NO! :P
Dia gak berbahaya tapi bisa jadi sangat berbahaya~~
Maaf kalo pada syok wkwkwk tapi sebenarnya dari awal aku udah pernah kasih semacam clue (ada di adegan terakhir chapter 4) :P
Gimana? Apa Chanyeol yang kelyan elu-elukan di sini yang secara fakta menderita sexual disorder kayak gitu, masih menjadi fav kalian?
Kalau aku sih tetap ya. Of fucking course! He's still my fav! And I don't know why but it feels like he's more than 'Just the hot guy' ugh! (Tunggu aja chapt depan akan kubuat lebih banyak dari sisi pemikiran si penderita sexual disorder!) #SpoilerGemes :D Be patient!
At last, aku agak sedikit keganggu ya sama yang nyama-nyamin sifat Baekhyun sama Nayeon di sini!
Mereka memang menyebalkan tapi kesan yang didapat dari sifat menyebalkan mereka sangat jelas berbeda! -_-
Yaudah deh, See You!
BIG CHU :*
