Desclaimer: Masashi Kishimoto
Judul: Innocent Liar
Rate: M(untuk bahasanya)
Warning: OOC, crack pair, semi-canon, Gaje, Typo(s) de-el-el.
Summary: Tim 7 generasi ini sungguh berwarna. Yui si misterius Raven, Hatake Irie yang dewasa sebelum waktunya dan Natsu Uzumaki pembuat onar wahid. Kiba rasa ini akan menarik terlebih lagi mengetahui sebuah genjutsu rahasia Yui.
Hari ketika Sasuke dan pasukannya di kediaman Hyuuga...
"Aku benci urusan orang dewasa"
"Halo semua!!"
Hinata memandang rindu kedua anaknya yang sekarang sudah berada di depannya.
"Sekarang aku beserta kedua anakku akan merebut Hinata" ucap Sasuke yakin.
Yui memutar bola matanya malas. Gadis kecil itu duduk di sebuah kursi di dekat dinding.
"Aku akan jadi penonton saja" kata Yui yang langsung membuat Sasuke menepuk jidat.
Hiashi dan Hanabi sedikit kagum melihat tingkah kedua anak Hinata yang ajaib.
'Aku tidak menyangka ini, tapi mereka berdua adalah cucuku'
Ada perasaan menghangat saat melihat keduanya. Bagaimana Yuki protes pada Yui dan sifat Yui yang Hyuuga sekali. Walau fisik Yuki mirip Uchiha kebanyakan, tapi sifatnya seperti Hanabi.
"Tenang tou-san, aku berada di pihakmu"
Sasuke hanya tersenyum tipis. Dan Hinata tertegun mendengar kata 'ayah' keluar dari mulut Yuki. Ia merasa bersalah telah menyembunyikan keduanya.
Setelah beberapa saat dalam keadaan terkejut dan emosi meluap lainnya, Hiashi buka suara.
"Keputusanku sudah bulat, Uchiha. Aku tidak mengizinkan kau menikahi Hinata"
'Keras kepala!' teriak Sasuke dalam hati.
Hanabi dalam kondisi bimbang saat ini. Tiga minggu lagi ia akan menikah dengan Konohamaru karna perjodohan. Ditambah lagi Hinata yang sudah kembali membuat perjodohannya semakin kuat. Kalau ia memberi Sasuke kesempatan, maka Hinata akan pergi, ia akan jadi heiress dan perjodohannya dengan Konohamaru bisa batal.
Yang ia lakukan hanya berdoa bahwa Konohamaru kawin lari dengan Moegi atau siapapun agar ia bebas.
"Ehh?!!" Yuki memekik kaget.
"Biar aku bicara! Ekhem... pertama-tama aku hanya ingin bilang bahwa aku juga ingin kaa-san dan tou-san menikah! Dan asal kakek tau, aku sangat ingin melihat mereka bersama. Kudengar kakek dulu sempat membuang kaa-san dan menganggapnya produk gagal kan? Sekarang melepasnya bukan hal yang sulit kan?" Yuki berucap dengan memandang langsung ke arah mata Hiashi.
"Lebih baik kau diam saja! Kau tidak mengerti, jadi lebih baik diam!" walau mengucapkannya dengan nada dingin, ada sinar hangat dari pandangan Hiashi pada Yuki.
"Aku sudah gagal menjadi seorang ayah, jadi aku akan menebusnya sekarang! Aku tidak memperlakukan Hinata dengan baik. Semenjak aku menyerahkan Hinata pada Kurenai sampai perang besar dunia shinobi, Hinata lebih sering bersama Neji daripada bersamaku. Sampai-sampai aku tidak sadar bahwa putri sulungku telah remaja"
Hinata memandang Hiashi dengan haru. Ayahnya memang tidak pandai dalam menyatakan perasaan secara langsung dan itu membuat Hiashi menyebalkan.
"Setelah Hinata pergi aku sadar bahwa akulah produk gagal sebagai ayah baginya. Dan sekarang kau ingin merebutnya? Tentu saja aku tidak mau!!" Hiashi kekeuh dengan keputusannya.
Sasuke dan Yuki saling pandang memberi isyarat apa yang akan dilakukan selanjutnya. Baru saja Yuki ingin membuka suara, Yui sudah menyela.
"Kau bilang kau sudah gagal menjadi ayah bagi kaa-san kan? Apa kau juga ingin gagal menjadi seorang kakek?" Yui mengatakan itu dengan suara tajam dengan menatap Hiashi langsung.
"Orang dewasa memang penuh perhitungan, ya" ucap Yui lagi.
Gadis kecil itu turun dari kursinya dan berdiri dengan tangan dilipat di depan dada.
"Begini saja. Kaa-san ingin menikah apa tidak?"
Dan semua mata tertuju pada Hinata. Yang ditatap hanya menunduk.
Setelah beberapa saat dalam keadaan diam, akhirnya Hinata mengangguk kecil.
Yuki dan Sasuke saling pandang dengan tatapan yang berarti sama. Yuki tersenyum girang sementara Sasuke tersenyum menang.
"Lihat?!" kata Yui pada Hiashi.
"Kalau keduanya mau, kenapa tidak menikah saja?" kali ini Yuki yang berbicara.
Hiashi memijat pelipisnya. Ia sudah terpojok. Tapi ia tidak ingin melepas Hinata.
"Aku tetap pada pendirianku" setelah mengatakan itu, Hiashi langsung pergi dari ruangan itu.
"Hei!! Kakek!!" teriak Yuki mencegah Hiashi pergi. Sayangnya tidak mempan.
"Hah... bagaimana ini tou-san?" Yuki malah terlihat lebih frustasi daripada Sasuke.
"Yuki-kun, kau tidak mengerti juga ya?" kata Yui kesal. Sedaritadi Yuki berteriak dan membuat telinga Yui yang terbiasa dengan ketenangan menjadi sakit.
"Apa?"
Yui menghela nafas, ia menatap Sasuke dan memberi isyarat untuk membicarakan hal pentig nanti. Sasuke mengangguk.
Hening beberapa saat, Sasuke baru saja ingin membawa pasukannya pulang kalau Hinata tidak memanggil Yuki.
"Yuki-kun"
Yuki menoleh saat merasa ia dipanggil oleh ibunya. Yuki langsung berhambur ke arah Hinata.
"Kaa-san, aku merindukanmu!" ucapnya.
"Kaa-san juga" Hinata tersenyum sambil mengelus rambut panjang Yuki.
Hanabi hanya bisa menonton adegan itu dengan perasaan bimbang. Tidak tega tapi harus tega. Ia sangat ingin melihat kedua keponakannya bersama dengan Hinata. Tapi Hanabi harus merahasiakan ini dari semua orang. Gadis yang akan menikah beberapa minggu lagi itu menatap keponakan perempuannya.
"Apa lihat-lihat?" tanya Yui judes saat melihat Hanabi yang menatapnya.
"Ckckck... benar-benar mirip si Ichiha itu" gunamnya. Hancur sudah khayalannya tentang keponakan perempuan yang manis.
.
.
.
"Aku punya rencana" kata Yui.
"Rencana?" tanya Sasuke.
Saat ini keduanya sedang berada di kedai ramen Ichiraku yang sudah berubah lebih luas. Kedai ramen ini juga menyediakan beberapa makanan selain ramen yang dimasak oleh Ayame.
"Aku rasa sebaiknya tidak terburu-buru untuk membawa kaa-san" ucapnya.
Alis Sasuke naik sebelah. Ia bukan terburu-buru. Buktinya hal ini ia lakukan setelah sembilan tahun.
"Kau baru bertemu denganku selama sembilan tahun kan?"
Sasuke mengangguk.
"Sebelumnya kau merasa kehilangan kaa-san kan?"
Sasuke mengangguk lagi.
"Kau pasti mengerti perasaan Hiashi-san"
Sasuke berpikir. Benar juga. Setelah memahami situasi, akhirnya Sasuke tau bagaimana perasaan seorang ayah.
"Kalian sama-sama bertemu dengan putri kalian selama sembilan tahun berpisah, lalu tiba-tiba orang asing ingin merebut putrimu, menurutmu apa tindakan yang kau ambil?" tanya Yui.
Sasuke tersenyum kecil.
"Jika hal yang menyangkut Hinata, aku memang cepat kalut tanpa memikirkan strategi. Kau memang seorang Uchiha, Yui-chan"
Perempatan imajiner muncul di dahi Yui. Ia tidak suka dengan suffix -chan.
"Jangan panggil aku dengan nama seperti itu. Yui saja"
"Kenapa?"
"Rahasia"
'Karna aku lebih ingin dipanggil Yui-sama'
Yui tersenyum puas melihat wajah Sasuke yang terlihat kesal.
"Terima kasih atas makanannya. Lain kali traktir aku lagi ya"
Setelah mengatakan itu, Yui pergi dari kedai itu. Sasuke memikirkan lagi perkataan Yui.
"Anak itu"
Sementara itu, Yuki...
"Kau sudah bergabung di ANBU?"
Yuki mengangguk sambil tersenyum bangga. Ia sedang menghabiskan waktu dengan bercerita bersama Hanabi dan Hinata.
Jadi setelah Sasuke dan Yui pergi, Yuki meminta izin untuk bermain di mansion Hyuuga.
"Kau hebat, Yuki-kun!"
Yuki tersenyum lagi. Ia sangat senang bisa bertemu dengan Hinata.
"Kaa-san, kau tidak lupa ulang tahunku sudah dekat kan?" tanya
"Tentu saja aku ingat, bagaimana mungkin aku lupa hari itu"
Mereka bercerita banyak hal lagi.
"Kaa-san bilang Yui sangat sulit untuk keluar, jadi jarak umur kami sekitar sepuluh menit"
"Pasti menyakitkan" komentar Hanabi.
"Kudengar kau akan menikah, bibi. Kau pasti akan merasakannya kok"
Wajah Hanabi memerah. Ia teringat dengan Konohamaru yang mesum itu. Apalagi jurus ero-nya yang diturunkan dari Naruto. Hanabi yakin ia tidak akan selamat jika menikah dengan Konohamaru.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, saat hari ulang tahun Yuki dan Yui, Sasuke memberi mereka hadiah.
Sebuah katana.
"Ini katana khusus yang digunakan oleh para Uchiha. Aku sudah memesannya beberapa hari yang lalu"
"Wah... terima kasih, tou-san. Tapi aku sudah punya dua katana di punggungku"
Yuki menunjuk kedua katananya yang berada di punggungnya.
"Kau bisa menggantinya kan?" desak Sasuke.
Yuki mengangguk dan melihat-lihat katana hadiah ayahnya.
"Aku tidak pandai menggunakan katana" kata Yui sambil mengangkat katananya dengan kedua tangannya.
"Kau bisa belajar, Yui. Aku akan mengajarimu!" kali ini Sasuke memaksa.
"Aku tidak mau" Yui masih kekeuh dengan keputusannya.
"Yui!"
Yui mendelik mendengar Sasuke membentaknya. Gadis manis itu menjatuhkan katananya sampai menimbulkan bunyi keras.
"Itu berat tau!"
Ya. Yui memang tidak pandai menggunakan katana atau pedang. Baginya tanto, jarum beracun, kunai dan shuriken sudah cukup. Menurutnya katana itu panjang dan berat.
Sasuke menepuk jidatnya.
'Apa aku memilih hadiah yang tepat?' batin Sasuke.
.
.
.
Setelah meminta izin pada ayahnya dan dengan beberapa bujukan, Hinata akhirnya bisa keluar mansion meski harus di dampingi oleh Usagimaru.
"Jika saya boleh tau, anda akan kemana Hinata-sama?" tanya Usagimaru.
Gadis Hyuuga berusia lima belas tahun itu tidak terlalu mengenal Hinata. Maklum, Hinata meninggalkan Konoha semenjak umur Usagimaru menginjak enam tahun.
"Ke sebuah tempat. Tapi kau harus merahasiakan semua yang terjadi di sana pada semua orang. Kau mengerti?"
Gadis remaja itu mengangguk.
Setelah beberapa menit berjalan, kedua Hyuuga itu sampai di tujuan mereka. Hinata menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang. Setelahnya ia mengetuk pintu dengan agak pelan.
Usagimaru yang berada di belakangnya hanya memeluk barang bawaan mereka. Dalam kepalanya terdapat banyak pertanyaan kenapa nona-nya datang kemari.
Pintu dibuka menampilkan seorang bocah laki-laki yang terlihat sumbringan. Hinata membuka kedua tangannya menyambut anak itu.
"Kaa-san"
Usagimaru membelalakkan matanya mendengar itu.
'Jadi ini rahasia keluarga utama itu?'
Dango menundukan kepalanya teringat percakapan dengan Sasuke beberapa hari yang lalu.
Flashback
"Kau berubah, Sasuke-kun"
Dan mengerucutkan bibirnya. Di hadapannya Sasuke masih diam.
"Kau seharusnya tau apa alasanku, Dan"
Dan mendengus kesal. Ya. Dan cukup tau alasan Sasuke berubah selama lima tahun belakangan ini. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah Hinata. Wanita yang ia lihat bersama Sasuke beberapa waktu yang lalu.
"Sejak kau menemukan wanitamu itu, kau benar-benar mengabaikanku! Setidaknya kau masih menganggapku!"
Sasuke menghembuskan nafas panjang. Onyx-nya menatap tajam Dan. Wanita itu sudah berubah seiring Sasuke menghindarinya. Dulu Dan adalah wanita manis yang dengan naifnya mencintai Sasuke meski tau Sasuke mencintai orang lain. Sekarang wanita itu menjadi terobsesi dengan Sasuke seolah Sasuke adalah miliknya. Padahal Sasuke sudah beberapa kali memperingati Dan bahwa Dan hanyalah pengganti.
"Untuk apa mencari sebuah kerikil di saat kau sudah memiliki sebuah berlian?" ucap Sasuke sambil tersenyum miring.
Dan hanya terdiam. Raut wajahnya mengeras.
"Kumohon! Ayo kita lakukan sekali saja, Sasuke-kun! Ini untuk hadiah per-"
Perkataan Dan terputus saat merasa dinginnya pedang Sasuke sudah berada di lehernya.
"Jangan jadikan dirimu sebagai wanita murahan, Dan. Selama ini kaulah yang memintaku untuk menggantikan Hinata. Tapi asal kau tau, Hinatalah yang ada di hatiku. Kau pun tau itu"
"Sasuke-kun!"
"Selamat tinggal! Dan jangan ganggu Hinata dengan jurus murahanmu itu"
Dan meneguk ludah kasar setelah Sasuke pergi.
'Jadi aku sudah ketahuan ya' batinnya.
Ia merenung sejenak dan menangis.
Flashback End
"Mungkin aku akan pergi" gunamnya sedih.
Dan membuka pintu kamar penginapannya.
"Setelah memberikan kenang-kenangan tentunya" seringaian muncul di wajahnya.
.
.
.
"Wah... senangnya kita bisa berkumpul bersama" seru Yuki.
Saat ini Yuki, Yui beserta Sasuke dan Hinata sedang berkumpul di ruang tamu tempat Yui tinggal. Mengabaikan ruang tamu yang berantakan akibat banyaknya bungkus kado.
Yui sibuk dengan syal yang Hinata berikan. Yuki melihat-lihat kado Yui yang diberikan oleh teman-temannya. Sementara Sasuke menatap Hinata intens membuat wanita itu gelisah.
"Aku ingin bicara sebentar" ucap Sasuke.
Hinata mengikuti Sasuke menuju dapur. Setelah jarak mereka dan anak kembar mereka cukup, Sasuke menampilkan senyum miringnya.
"Hinata" panggil Sasuke dengan suaranya yang berat.
"Emm... iya" sahut Hinata kikuk.
'Tolong jangan tatap aku seperti itu, Sasuke' pintanya dalam hati.
Sasuke menahan senyum saat melihat tingkah malu-malu Hinata.
"Ehm... Sasuke, mengenai ayahku, aku minta maaf. Tou-san memang keras kepala" ucap Hinata.
Sasuke mengangguk samar. Ia akui Hiashi memang menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi?
Mereka berdua bertatapan dalam diam selama beberapa saat.
Secara tiba-tiba Sasuke mengaktifkan sharingan-nya dan menjadi geram mengetahui bahwa Hinata terkena jurus Dango.
"Apa belakangan ini kau bermimpi aneh?"
Hinata agak terkejut dengan pertanyaan Sasuke. Ia memang sering bermimpi tentang adegan panas antara Sasuke dan Dango belakangan ini. Kepalanya juga beberapa sakit, bukan sakit seperti yang sering ia rasakan. Rasanya seperti ada sesuatu yang mencakar kepalamu dari dalam.
Wanita Hyuuga itu mengangguk membenarkan Sasuke. Melihatnya itu, Sasuke mengepalkan tangannya. Satu tangannya dibawa ke ubun-ubun Hinata.
"Tahan ya"
"Eh?" Hinata yang tidak tau apa-apa hanya memejamkan matanya.
"Kai!"
Hinata bereriak kesakitan saat merasa kepalanya seperti dibelah dua. Lebih sakit dari dicakar dari dalam. Kedua tangannya tanpa sadar mencoba melepas tangan Sasuke yang berada di ubun-ubunnya.
"Tenang sedikit, sayang"
Setelah beberapa saat Sasuke melepaskan tangannya. Hinata mengambil nafas merasa sesak karena berteriak lama.
Sasuke mengambil air minum dan memberikannya pada Hinata yang langsung disambut oleh wanita itu.
"Oi! Kalian sedang apa sih?"
Yui berdiri dengan wajah garangnya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Kedua onyx-nya tertutupi oleh tangan pucat Yuki.
Sasuke menaikkan alis melihat pose kedua anaknya yang aneh. Terutama Yuki yang tersenyum aneh.
"Oi! Yuki lepaskan tanganmu!"
.
.
.
Sementara itu di sebuah rumah dipinggir sawah yang subur, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Ya setidaknya yang dirasakan sang anak ketika beberapa menit yang lalu. Sebelum ibunya datang dan melatihnya dengan kejam.
"Angkat pedangmu, wahai anak muda!"
Irie dengan wajah penuh debu, tubuh gemetar karna kelelahan hanya mendongak menatap Yuugao yang mengacungkan pedangnya.
'Kaa-san benar-benar mengerikan!' batinnya.
Pedangnya sudah terlempar jauh karna tangannya terluka. Wajahnya sudah tidak terlihat layak, tubuhnya bau keringat. Rambut peraknya menjadi coklat karna debu.
Irie menatap Kakashi yang terlihat santai membaca salah satu novel dewasa yang sedang hits belakangan ini.
"Istirahat, ya kaa-san" pintanya dengan raut wajah memohon.
Bukannya tidak tega, Yuugao malah marah. Kalau saja Irie tidak menghindar, mungkin perutnya sudah tertusuk.
"Kubilang angkat pedangmu!" teriak Yuugao menyeramkan.
Hatake junior itu meneguk ludah kasar. Ya ampun! Ia benar-benar tidak tertolong saat ini.
Dalam hati Irie merutuki nasib. Kiba sedang ada misi mendadak dan tidak bisa melatih Irie. Padahal Irie sudah berlatih kuchiyose dihari sebelumnya.
.
.
.
"Cepat jalan!" kata seorang pria dengan rambut panjangnya yang berwarna gelap.
Tangan pria itu memegang tali yang terhubung dengan tubuh seorang gadis berambut pirang.
"Kau mengikatku, bodoh! Bagaimana caranya aku berjalan dengan cepat, un!" gerutu gadis yang menjadi korban itu.
"Belum selesai keterkejutanku dengan perubahanku, kau malah seenaknya menyuruhku ini itu! Ingat! Aku masih dendam padamu!" sungut gadis itu lagi.
"Berisik!" komentar pria yang lain yang juga berambut panjang namun berwarna coklat.
"Kalian menyebalkan! Dasar pria!"
"Mungkin kau lupa dulunya kau adalah pria, Dei" pria yang berambut hitam berkata sambil menahan tawa.
Gadis pirang hanya menggerutu. Di dalam hatinya ia sudah mengumpat pada pria berambut hitam.
"Oi katarak! Berapa lama lagi kita akan berjalan? Kakiku sudah sakit, un!" kata si Gadis Pirang pada pria satunya.
"Siapa yang kau sebut katarak? Mau ku bunuh kau?" geram si pria berambut coklat.
"Tidak takut!" Si Gadis Pirang malah menantang. Bahkan gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek.
"Kalau kau bersikap seperti itu, akan kubuang kantong ini" ancam si pria.
"Deidara! Neji-san! Sebaiknya kita istirahat dulu" pria berambut hitam lalu menyerahkan tali yang dibawanya pada Neji.
"Aku kesana dulu. Kau jaga gadis ini"
Neji mengangguk. Senyum licik muncul di wajahnya.
"Nah! Sekarang aku yang berkuasa di sini" kata Neji menunjukkan tali yang terhubung dengan Deidara dan kantong tanah liatnya.
"Awas ya kau, katarak!" geram si gadis dengan nafas memburu.
"Hentikan gerakanmu itu! Dadamu memantul sedari tadi lho" goda Neji dan langsung membuat Deidara memerah.
"Sialan kau!"
.
.
TBC
Hai semua aku kembali bawa chapter terbaru Innocent Liar
Itu scene terakhirnya sinetron banget ya? Maaf ya, karna itu sebenernya plot untuk konflik di saat Yui udah dewasa. Aku juga suka karakter Itachi, Deidara dan Neji. Sayang aja mereka semua meninggal T_T
Jadi karna ini fanfic, imajinasiku untuk menghidupkan mereka akhirnya terwujud #muehehehe
Thank's buat kalian yang udah review, fav dan follow. Kritik dan saran dari kalian sangat diperlukan
Balasan review:
dhantieee : ini udah lanjut~~
clareon : Makasih ya Sip... sip...
HipHipHuraHura : Berarti aku udah sukses bikin baper dong? Hehehe... Mohon bersabar karna Irie di sini ibarat Jiraiya dan Yui itu Tsunade.
Pengagumlavender26 : Udah kejawab di chap ini kan?
haeri elfishy : Makasih Next chapter aku usahakan update kilat
yulia: Iya. Semoga Hiashi bisa ngerelain Hinata.
Guest: Udah kejawab di chapter ini kan? Sasuke cuma melampiaskan kebutuhan biologinya aja ke Dan.
Heira: Iya kok.
budiii: pastinya~~
Sabaku no Yanie: aku usahain Update kilat deh. Kita seperjuangan ya? Percayalah, aku tau kok penderitaanmu T_T #ikutlebayjuga.
keeta: Siap
Vu-ita chan: Iya, kena jurusnya Dan.
See You Next Chapter~~
Bubye~
