Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Sword Art Online: Reki Kawahara

.

.

.

Jumat, 25 Agustus 2017

.

.

.

DIGITAL RIDER AND MIRROR WORLD

By Hikasya

.

.

.

Chapter 11. Perpisahan

.

.

.

"Jadi, yang menemuimu di duniamu itu adalah kakekku?" tanya Naruto saat berbicara dengan Menma.

"Iya. Entah dia masih hidup atau tidak. Tapi, saat dia menemuiku waktu itu, tubuhnya tembus pandang begitu. Wajahnya juga pucat. Berarti...," Menma memasang wajah horror-nya.

"Berarti itu arwah kakekku yang menemuimu."

"Hiii... Benar juga~"

"Hahaha..."

Naruto tertawa ngakak saat melihat tampang Menma yang begitu horror. Mereka sedang duduk santai di bangku kayu, persisnya di taman sekolah, Konoha High School tersebut.

Di sekitar mereka, tampak beberapa orang yang berkumpul - para Digital Rider itu - baru datang untuk menemui mereka.

"Ternyata kalian berdua di sini...," kata Asuna yang berjalan duluan mendekati mereka dan diikuti oleh teman-temannya dari belakang.

"Ah... Asuna... Kalian semuanya juga jadi datang ke sini," sahut Naruto yang sudah mulai akrab dengan Asuna dan teman-teman sesama Digital Rider itu selama seminggu ini."Menma akan pulang ke dunianya hari ini."

"Eh? Cepat sekali! Padahal aku mau mengajakmu jalan-jalan keliling kota sekarang, Menma!" celetuk Suguha yang memasang wajah manyun.

"Maaf, Sugu-chan. Aku harus pulang sekarang. Karena waktuku di dunia ini sudah habis...," Menma tersenyum simpul.

"Yaaah... Tidak apa-apa sih...," Suguha menghelakan napasnya.

"Sayang sekali... Kita harus berpisah sekarang, Menma," ucap Neji yang sedikit kecewa.

"Ya. Padahal kita baru saja berteman."

"Aku akan merindukanmu, Menma...," Yuuki memasang wajah sedihnya.

"Huhuhu... Aku juga akan merindukanmu, Menma," Lee menangis konyol.

"Hati-hati di jalan," ujar Kazuto disertai anggukan Shino dan Eugeo.

"Apakah kita bisa bertemu lagi, Menma?" Gaara yang bertanya.

"Aku rasa kita tidak akan bisa bertemu lagi, Gaara."

"Begitu ya? Sayang sekali...," Sasuke yang menjawab.

"Tapi... Aku punya foto kenangan bersama kalian di sini...," Menma menunjukkan foto dirinya bersama para Digital Rider itu, yang berada di layar ponselnya pada semua orang di tempat itu."Aku akan menyimpannya sebagai tanda kenangan bahwa aku pernah ke sini dan sudah berhasil menyelamatkan dunia ini. Aku senang sekali karena punya teman-teman seperti kalian."

Semuanya tersenyum senang mendengar perkataan Menma itu. Menma juga tersenyum.

"Terima kasih atas semuanya, Menma...," Naruto mengulurkan tangan kanannya."Aku tidak akan pernah melupakanmu, sahabat terbaikku."

Menma terpaku lalu mengangguk. Membalas uluran tangan Naruto itu.

"Ya. Sama-sama. Aku juga tidak akan pernah melupakanmu, sahabat terbaikku."

"Jaga dirimu baik-baik."

"Kau juga."

"Ya."

Naruto dan Menma sama-sama menyengir lebar. Semua orang turut senang melihat mereka.

Setelah itu, Menma sudah berdiri di ujung jalan setapak sana. Dia melihat Naruto dan semuanya berdiri tak jauh darinya. Melepas kepergiannya dengan hati yang ikhlas.

"Selamat jalan, Menma!" Asuna berteriak sambil menangis.

"Huhuhu... Aku tidak tahan lagi. Menyedihkan sekali...," Lee menangis konyol sambil menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.

"Menma... Aku tidak akan melupakanmu!" Suguha melambaikan tangan kanannya.

"Kami juga!" seru semuanya sambil melambaikan tangan masing-masing kecuali Neji, Sasuke, dan Gaara.

"Ya. Terima kasih semuanya...," Menma juga melambaikan tangan kanannya."Aku pergi! Selamat tinggal!"

Dengan menggunakan sabuknya yang muncul tiba-tiba di pinggangnya, Menma bisa memunculkan portal dimensi untuk menuju ke dunianya. Dia harus kembali ke dunianya untuk menyelesaikan kekacauan yang masih terjadi di sana.

Dunia Digital Rider telah terselamatkan berkat bantuan Kamen Rider Decade itu. Keberadaan Kamen Rider Decade telah menjadi sejarah penting di dunia ini. Juga menjadi kenangan yang berharga di hati setiap orang yang sudah mengenalnya.

Kehangatan persahabatan menemani perjalanan Menma ke dunia asalnya. Bersamaan masuknya Menma ke portal dimensi itu, bersamaan pula portal dimensi itu menutup. Membawa Menma menjauh dari dunia Digital Rider itu.

SIIING!

Kini kesunyian yang hinggap di taman sekolah itu. Semua orang saling terpaku.

"Menma sudah pergi...," tukas Naruto.

"Apa kita bisa bertemu dengannya lagi?" Asuna bertanya dan melirik Naruto.

"Aku rasa... Kita tidak akan bisa bertemu dengannya lagi."

"Hmmm... Begitu ya... Kamen Rider Decade... Dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk kita. Aku tidak akan pernah melupakannya..."

"Aku juga..."

Naruto mengangguk. Asuna tersenyum lalu memandang ke arah langit. Dimana langit sangat cerah dengan hiasan awan-awan putih yang beranekabentuk. Menjadi saksi atas perpisahan ini.

Sesudah itu, bel tanda masuk pun berbunyi.

TANG! TONG! TANG! TONG!

Semuanya menyadarinya.

"Ah, bel sudah berbunyi," Suguha melihat ke arah gedung sekolah.

"Ayo, kita kembali ke kelas!" ajak Neji yang mendapatkan anggukan dari semuanya kecuali Naruto dan Asuna.

"Huhuhu... Menma...," Lee masih saja menangis konyol.

"Sudahlah... Lee... Kau memalukan, tahu!" timpal Yuuki yang menarik kerah baju seragam Lee.

"Aaaah... Rasanya aku malas masuk kelas sekarang," keluh Suguha.

"Aku juga, Suguha...," Eugeo berjalan dengan lesu.

Semuanya mengikuti Neji dengan perasaan yang berbeda-beda. Tinggallah Naruto dan Asuna, yang masih berdiri di tempat masing-masing. Sama-sama menyaksikan kepergian teman-teman mereka sampai hilang dari pandangan.

Lalu Naruto dan Asuna saling memandang.

"Kau tidak masuk kelas, Asuna?"

"Tidak. Kalau kau?"

"Aku juga tidak mau masuk kelas sekarang."

"Hmmm... Bagaimana kalau kita cabut saja?"

"Ah, cabut!? Yang benar saja!? Masa ketua OSIS malah cabut dari sekolah sih!?"

"Sssst... Nanti ada yang dengar, payah!"

Tiba-tiba, Asuna menempelkan telunjuknya ke bibir Naruto. Naruto sedikit membelalakkan kedua matanya plus kedua pipinya yang memerah karena wajah Asuna sangat berdekatan dengan wajahnya.

"Eh?" Naruto ternganga.

"Aku minta kita cabut sekarang juga sebelum kepergok sama guru," Asuna melepaskan telunjuknya dari bibir Naruto agar Naruto bisa berbicara.

"Bagaimana caranya? Kau tahu pintu pagar sekarang dikunci."

"Kita pergi lewat air mancur yang ada di taman sekolah ini."

"Maksudmu... Pergi ke dunia cermin?"

"Ya."

"Tapi... Dunia cermin sedang dalam proses upgrade. Kita hanya bisa bermain sampai jam 5 sore saja."

"Itulah yang kumau. Sambil bermain dan memburu monster, aku juga ingin berkencan denganmu, Naruto-kun."

"Eh? Kau memanggilku... Naruto-kun?"

"Apa kau lupa semalam itu kau menembakku lewat ponsel?"

"Eh?" Naruto baru ingat bahwa dia menyatakan cintanya pada Asuna lewat ponsel karena didesak oleh Menma."Oh iya, aku baru ingat."

"Dasar, pelupa!"

"Maaf."

Naruto menyengir lebar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Asuna sedikit melototi Naruto lalu dia tersenyum.

"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang, kita bisa pergi berdua ke dunia cermin. Kita berparty sekalian berkencan ya?"

"Ya."

"Terima kasih, Naruto-kun."

Asuna mencium pipi kanan Naruto. Naruto membeku usai dicium oleh Asuna. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

Kemudian Asuna langsung menarik tangan Naruto. Naruto pun terseret oleh langkah Asuna. Dia tersenyum senang.

TAP! TAP! TAP!

Sembari sama-sama berjalan, mereka berdua pun berseru.

"RIDER GEAR, ACTIVATE!"

SET! SET!

Dua Rider Gear yang berbeda bentuk, muncul tiba-tiba di tangan kiri Naruto dan Asuna. Mereka saling memandang.

"Sudah siap untuk pergi ke dunia cermin lagi, Naruto-kun?" Asuna menunjukkan wajahnya yang berseri-seri.

"Dengan senang hati, Asuna," Naruto mengangkat tangan kanannya."KURAMA CARD, ACTIVATE!"

SET!

Muncul kartu bergambarkan musang berekor sembilan di genggaman tangan kanan Naruto. Asuna juga memanggil kartu kekuatannya.

"CHOMEI CARD, ACTIVATE!"

SET!

Kartu bergambarkan kumbang berekor tujuh muncul di genggaman tangan kanan Asuna. Asuna dan Naruto sama-sama mengangguk dengan wajah yang serius.

"TRANSFORMATION! ACTIVATE!"

Mereka berdua memasukkan kartu bersama-sama ke slot Rider Gear masing-masing. Dalam sedetik saja, mereka berubah wujud menjadi Digital Rider.

Dua Digital Rider yang berbeda, saling memandang lagi.

"Ayo, kita berlomba masuk ke dunia cermin! Siapa yang menang, itu yang akan menjadi ketua party ini," usul Naruto yang tiba-tiba.

"Siapa takut? Akulah yang akan menang," Asuna tersenyum.

"Baik. Kita lihat saja nanti!"

WHUUUSH!

Tanpa dikomando, Naruto langsung berlari secepat kilat. Asuna terperanjat dan berteriak keras.

"CURAAAANG! NARUTO-KUN, TUNGGU!"

Dengan cepat, Asuna berlari mengejar Naruto yang sudah tiba di ujung jalan setapak sana. Tujuan mereka adalah air mancur yang ada di taman sekolah ini agar bisa masuk ke dunia cermin.

Dunia cermin masih ada sampai sekarang dan dikelola secara penuh oleh Itachi. Di-upgrade secara besar-besaran mulai dari akar-akarnya. Settingnya tetap sama dengan setting di dunia nyata. Tapi, semuanya terbalik.

Semua karakter monster diperbarui dan ditambah adanya NPC (Non Player Character) yang menjaga di setiap tempat umum seperti restoran, stasiun dan lain-lain. Mengisi di berbagai sudut tempat yang ada di dunia cermin.

Intinya, dunia cermin adalah dunia yang penuh pertarungan dan memburu monster. Tujuan permainan ini adalah hiburan dan kesenangan bagi para Digital Rider. Bukan lagi bertujuan ingin menjadi yang Terkuat dan saling membunuh antara satu sama lainnya.

Sejak insiden itu, tepatnya seminggu yang lalu, orang-orang mengetahui keberadaan dunia cermin ini. Pihak pemerintah sempat mencekal perusahaan Uchiha Groups tersebut, namun perusahaan Uchiha Groups sudah meminta maaf atas insiden ini. Juga bertanggung jawab dengan cara mengganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh para monster digital dan membayar semua biaya pengobatan bagi para warga yang terluka. Hal ini dilakukan agar pihak kepolisian tidak menjebloskan orang-orang kepercayaan Madara ke penjara, dan dibebaskan atas jaminan keluarga Uchiha.

Keberadaan dunia cermin ditutup sementara waktu dalam proses upgrade. Hanya beberapa orang yang boleh masuk ke sana, tapi dengan menggunakan kode kalimat perintah suara yang baru. Rencananya dunia cermin akan masuk dalam daftar game VRMMORG yang baru, dan akan diperkenalkan ke publik jika selesai di-upgrade nantinya.

Dunia cermin akan menjadi game yang aman digunakan. Pemain bisa melepaskan Rider Gear dengan bebas. Rider Gear bisa dipanggil kapan saja jika pemain membutuhkannya. Tidak menyulitkan pemain lagi, bahkan tidak membahayakan nyawa pemain lagi.

Dengan hati yang senang, Naruto terjun dan masuk ke dunia cermin lewat air mancur. Bersama Asuna yang mengejarnya, dan masih berteriak marah padanya.

"NARUTO-KUN! TUNGGU! KAU CURANG!"

"HAHAHA... AKULAH YANG MENANG, ASUNA!"

"TIDAK!"

Asuna juga terjun dan masuk ke air mancur. Tiba di dunia cermin, tepatnya di taman sekolah yang sama. Tapi, semuanya terbalik.

Naruto menunggu Asuna di dekat air mancur itu. Dia tersenyum di balik helmetnya, dan melihat Asuna datang mendekatinya.

"Maaf. Tapi, aku yang menang."

"Huh... Ya sudah. Kau yang menjadi ketuanya sekarang."

"Hehehe... Terima kasih, Asuna sayang. Aku sangat mencintaimu."

GREP!

Naruto memeluk Asuna. Wajah Asuna memerah lalu membalas pelukan Naruto.

"Aku juga mencintaimu, Naruto-kun."

Asuna tersenyum. Naruto juga tersenyum. Mereka saling berpelukan di antara angin yang berdesir pelan. Menemani kebersamaan mereka di taman sekolah yang terbalik itu.

Berakhirlah kisah Digital Rider dan dunia cermin ini. Menjadi kenangan yang berharga di hati Naruto dan Asuna. Juga semua orang yang termasuk Digital Rider, mendapatkan pelajaran tentang arti hidup ini.

Hidup adalah perjuangan dan penuh rintangan, tapi pada akhirnya akan mendapatkan kebahagiaan. Itulah pesan tersembunyi dari penciptaan dunia cermin ini.

.

.

.

PENUTUP

.

.

.

Asada Shino, seorang gadis berambut hitam pendek dan bermata hitam. Berkacamata. Berjalan bersama Kazuto saat menuju ke kelasnya, tepatnya di lorong.

"Hei, apakah kau akan bermain di dunia cermin setelah pulang sekolah ini, Kirito?" tanya Shino yang biasa dipanggil dengan nama Shinon.

"Hmmm... Aku rasa iya...," jawab Kazuto sambil mengangguk."Tapi, jam bermain di dunia cermin dimulai dari pukul 8 pagi sampai jam 5 sore saja. Kan, dalam proses upgrade."

"Sayang sekali... Kita masih sekolah sekarang. Pulang sekolah saja selalu jam 2 siang. Waktu bermain jadi sekitar 3 jam. Aaah... Rasanya tidak seru..."

"Tenang saja. Akukan ada. Kita bisa berparty untuk memburu monster. Jadinya lebih seru. Bagaimana?"

"Boleh juga."

"Oke. Sepulang sekolah, kita bermain di dunia cermin. Aku tunggu kau di halte di dekat rumahku ya."

"Ya."

Shino tersenyum. Kazuto juga tersenyum. Mereka sudah menjadi teman yang akrab sejak insiden seminggu yang lalu.

Kazuto yang biasa dipanggil Kirito, masih menjadi Digital Rider G-Dragon. Shino juga masih menjadi Digital Rider Nibi. Awalnya bermusuhan, pada akhirnya menjadi teman. Teman yang akan selalu bersama untuk selamanya.

TAP! TAP! TAP!

Langkah mereka menggema di lorong sekolah tersebut. Menyatu dengan langkah kaki orang-orang yang juga ada di lorong itu. Bersama-sama menuju ke kelas masing-masing. Menyongsong hari ini dengan semangat penuh dan siap menerima pelajaran dengan hati yang terbuka.

Kisah Digital Rider dan dunia cermin sudah usai. Membuka lembaran baru untuk menghadapi masa depan nanti.

.

.

.

Dunia Decade.

Menma sudah tiba di dunianya. Dimana masih ada kekacauan di sana. Dia tiba di sebuah taman dan berjumpa dengan seseorang. Seseorang yang meminta Menma untuk menyelamatkan dunianya.

Di siang hari yang penuh dengan suasana ganjil, seorang kakek tua berambut pirang keputihan dan bermata biru, berdiri berhadapan dengan Menma, tepatnya di jalan setapak taman itu.

"Jiji-san lagi rupanya...," kata Menma yang tersenyum."Aku baru saja pulang dari duniamu."

"Hmmm... Apakah kau sudah menyelesaikan tugasmu, Menma?" kakek tua yang tak lain adalah Namikaze Arashi itu, tersenyum dengan wajah yang sangat pucat.

"Sudah. Dunia Jiji-san sudah terselamatkan."

"Syukurlah... Terima kasih banyak, Menma."

"Ya. Sama-sama."

"Kalau begitu, aku pergi. Selamat tinggal..."

Saat itu juga, Arashi berbalik dan berjalan meninggalkan Menma. Menma melihatnya dengan seksama, tahu-tahu dia menghilang secara tiba-tiba. Hingga mengejutkan Menma.

"Eh? Dia menghilang!? Kemana perginya!?" Menma celingak-celinguk seperti orang bodoh."Jangan-jangan dia memang hantu... Seperti yang dikatakan Naruto..."

Menma menjadi takut. Bulu kuduknya berdiri. Hawa mistis mulai menyerangnya lagi.

BLETAK!

Tiba-tiba saja, ada yang menjitak kepala Menma. Menma kaget setengah mati.

"Eh!? Si-Siapa!?"

Menma menoleh ke arah belakang dengan gerakan yang patah-patah lalu mendapati seorang gadis berambut jingga yang melototinya.

"Eh!? Ka-Kau... Sasame!?" Menma memegang kepalanya yang sudah mengeluarkan benjolan merah sebesar bola kasti.

Yumma Sasame, adik angkat Menma, berkacak pinggang dan menunjukkan wajahnya yang kesal.

"Kau kemana saja sih, Menma-nii!? Sudah seharian ini, kau menghilang entah kemana. Kupikir kau diculik monster dari dunia lain lagi," sembur Sasame.

"Ma-Maaf... Habisnya aku ada urusan penting sih. Makanya aku baru bisa pulang sekarang. Hehehe...," Menma tertawa ngeles.

"Ya sudahlah... Ayo, pulang! Sai sudah menunggu di rumah lho..."

"Oh, baiklah."

Maka tangan Menma ditarik langsung oleh Sasame. Mereka berdua berjalan cepat menuju keluar taman. Segera pulang ke rumah untuk menemui Sai.

Sai, adalah seorang laki-laki yang berambut hitam dan bermata hitam, umur sekitar 20 tahun. Suka memotret pemandangan dengan kamera digital karena dia seorang fotografer. Termasuk Kamen Rider Kuuga.

Ya, Menma dan Sai adalah sahabat karib di dunia Decade ini. Lalu mereka berdua tinggal bersama Sasame. Mereka juga sedang menghadapi konflik yang sangat berat di dunia ini karena adanya kekacauan dimensi yang ditimbulkan oleh organisasi jahat. Sudah menjadi tugas Menma untuk menyelesaikan kekacauan dimensi itu, dengan cara melakukan perjalanan ke dunia-dunia yang mengalami kekacauan dimensi tersebut.

Kini taman kota itu sudah sepi. Tidak ada seorangpun yang terlihat lagi.

.

.

.

TAMAT

.

.

.

A/N:

Digital Rider and Mirror World sudah tamat!

Pada akhirnya saya berhasil menamatkannya sampai 11 chapter. Sesuai target yang saya inginkan.

Tidak ada kelanjutannya lagi.

Oke, terima kasih banyak yang sudah membaca, mereview, men-favourite, dan men-follow fic ini.

Saya, Hikasya, undur diri dulu.

Sekali lagi terima kasih ya.

Sabtu, 26 Agustus 2017