Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.


Dia berlayar di atas perahu, menuju ke pulau kecil di tengah danau hitam dan gelap. Cahaya kehijauan samar masih terlihat dari sana.

"Tak mungkin bocah itu sudah mengambil yang ini... Tak mungkin dia bisa menemukan tempat ini dan mendapatkan kalung itu tanpa mengorbankan nyawanya... Tak mungkin!" geram Voldemort.

Begitu perahu merapat ke pantai, dia langsung melayang keluar dari perahu. Dia menatap basin berisi ramuan yang berpendar tersebut, dia tahu tidak ada seorangpun yang akan bisa mendapatkan kalung tersebut tanpa meminum ramuan ini. Dia sudah memastikannya sendiri, bahkan dia pun tak bisa melakukannya.

Kecuali seseorang itu memiliki penawar racunnya... Yang mana tak mungkin bisa. Hanya dia seorang diri yang mengetahui penawar racunnya, bahkan air mata Phoenix tidak akan bisa menawarkan racun ini dengan begitu saja...

Voldemort mengeluarkan satu botol kristal kecil dari dalam saku jubahnya, dan menuangkan isinya, ramuan berwarna keperakan, sepenuhnya ke dalam ramuan di basin tersebut. Dia menunggu, hingga air di basin tersebut mendidih, dan menguap sepenuhnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama.

Betapa kagetnya dia melihat dasar basin tersebut sudah kosong, tak berisi. Kalungnya sudah tidak ada.

Meraung murka, dia menghancurkan basin tersebut dengan mantra luar biasa kuat. Seluruh inferi di danau bangun, namun mereka tidak menyerang. Mereka semua buru-buru sembunyi, ngeri akan pameran kekuatan Voldemort.

Dia melampiaskan frustasinya pada inferi-inferi tersebut, namun tetap saja dia tak bisa menghilangkannya sepenuhnya. Amarahnya sudah sangat tinggi, dia naik ke atas perahu dan kembali ke luar gua. Dia harus segera mengecek lokasi-lokasi lainnya.

Gubuk Gaunt... Sudah. Gua Karang... Sudah. Nagini sudah tiada, dan Buku Harian sudah musnah. Berarti... Tinggal dua benda lagi...

Dan keduanya sudah dimiliki Potter.

Atau belum?

Bagaimanapun, yang ada di Hogwarts, di ruangan tersebut, hanya dia yang mengetahui bagaimana masuk ke dalamnya. Potter bisa mengetahui lokasinya, namun Potter tak mungkin sudah mengetahui bagaimana masuk ke dalamnya. Harusnya masih aman...

Dia menggeram. Dia harus segera pergi ke Hogwarts.

Dia memejamkan matanya, menghubungi Snape melalui jaringan sihir yang terdapat di segel Pelahap Maut...

-XXXXXXXXXX-

Harry berdiri diam, di depan sebuah Pensieve. Snape berdiri di sebelahnya ekspresinya tak terbaca. Cairan ingatan di dalam Pensieve itu masih bergoyang pelan, seolah mengejek dirinya yang baru saja menyaksikan kenyataan di dalam sana. Kebenaran, yang selalu disembunyikan oleh Dumbledore. Kebenaran mutlak..

Fakta bahwa dirinya adalah Horcrux, sesuatu yang menjelaskan segalanya. Dari kenapa dia selalu memiliki hubungan pikiran dengan Voldemort, mengenai kemampuan Parselmouth nya, dan banyak lagi.

"Aku sudah memberitahumu semuanya," kata Snape pelan. Suaranya absen dari nada sinis yang biasanya ada.

Harry mengangguk pelan, dan Snape menoleh memandangnya. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata, "Aku menyesal ini harus menjadi seperti ini, Potter. Dan aku merasa kasihan padamu-"

"Anda tak perlu mengasihani saya," kata Harry. Dia menoleh perlahan, nyaris bergetar saking pelannya, ke arah lukisan di belakang kursi kepala sekolah, lukisan yang sedang menatapnya dengan pancaran kesedihan dan penyesalan. Dia menggeleng lagi. "Begitu juga dengan Anda, Dumbledore."

Lukisan Dumbledore membuka mulutnya, dan berkata pelan, "Harry... Aku... Maafkan aku tak pernah memberitahu ini padamu..."

"Mungkin aku bisa mengerti sekarang," kata Harry, memotong kalimat Dumbledore. Dia melihat telapak tangannya, yang sudah pernah dibasahi oleh puluhan nyawa, darah, dan api. Tangan yang sama mungkin tak akan bergerak lagi malam ini.

Harry menghela napas, dan melanjutkan, "Aku selalu mendapat firasat bahwa aku memang harus menjalankan semua tugas darimu seorang diri. Aku selalu mendapat firasat bahwa di akhir, aku tak akan bertahan hidup. Aku tak pernah melihat masa depanku... Masa depan yang sangat kuinginkan: Hidup normal, hidup tenang. Sampai kapanpun, Voldemort akan selalu berdiri merintangi jalanku menuju masa depan.

"Dan kupikir itu tidak apa-apa..." gumam Harry, menutup kalimatnya.

Snape menatapnya, masih dengan ekspresi tak terbaca. Dia baru mau membuka mulutnya, ketika mendadak lambang pelahap maut di lengannya membara. Dia meringis, dan menoleh ke lambang tersebut.

Harry, yang menyadari reaksi Snape, juga menoleh. Dia mengangkat sebelah alisnya, namun Snape sudah berjalan ke salah satu bola kristal yang ada di atas meja, dan mengangkatnya. Bola kristal tersebut dalam sekejap berubah warna menjadi hijau pekat, dan suara mengerikan terdengar dari dalamnya.

"Snape... Aku akan segera ke Hogwarts. Bocah Potter itu ada di sana! Apakah kamu tidak sadar?" geram suara tersebut.

Snape mengerling ke Harry. Harry menoleh ke arah jendela ruang kepala sekolah, menatap tanah bersalju yang terbentang di luar sana. Dia mengangguk pelan.

Dengan perlahan, Snape mengalihkan fokusnya kembali kepada si bola kristal, dan menjawab, "Saya... Tidak sadar, Tuan. Maafkan saya."

"Bodoh!" desis Voldemort. "Aku akan mencapai gerbang Hogwarts dalam waktu beberapa menit! Jemput aku!"

Snape mengernyit, dan menggeleng pelan. Dia baru mau membuka mulutnya untuk menjawab, ketika mendadak Harry berkata pelan, "Katakan padanya bahwa Anda akan menjemputnya di gerbang Hogwarts... Profesor."

Mengerjap kaget, Snape menoleh ke Harry, yang sudah kembali mengalihkan pandangannya ke tanah di luar kastil. Dia mau mengajukan pertanyaan, namun Voldemort sudah mendesis lagi,"Snape?"

Dengan segera, Snape menoleh ke bola kristal itu. Dia menenangkan dirinya, dan berkata, "Baik, Tuan. Akan saya jemput Anda segera."

"Bagus..."

Dan dengan itu, bola kristal tersebut berubah warna lagi. Hijaunya memudar, digantikan kembali oleh warna putih berkabut. Snape meletakkan bola kristal tersebut dengan hati-hati di atas meja, sebelum kembali menatap Harry.

Harry akhirnya menoleh dan memandang mata hitam legam Snape. Mata yang sama yang telah menembus ke dalam pikirannya berkali-kali di tahun kelimanya dahulu kala. Dia masih merasakan setitik kebencian di dalam dirinya, namun kini kebencian tersebut lebih terasa seperti suara gelombang air di kejauhan, mudah diblokir dan mudah dihilangkan dengan ditiupnya angin dari laut. Dia menghela napas lagi.

"Kumpulkan semua staf. Anda memiliki kemampuan duel yang hebat, begitu juga dengan McGonagall, dan Flitwick. Aku dengar beliau juara duel, kan? Kalian bertiga mungkin bisa mengalahkan Voldemort. Dia cuma seorang diri datang ke sini... Aku bisa merasakannya," kata Harry.

Harry mengancingkan jubahnya kembali, dan memasukkan tongkat sihirnya ke dalam saku jubahnya. Dia berbalik badan, dan Snape berkata, "Kamu benar-benar akan memenuhi kata-kata Dumbledore, Potter?"

Menolehkan kepalanya dengan perlahan, Harry berkata, "Aku adalah Horcrux terakhir. Aku harus mati. Setelah aku mati, Voldemort sama fananya dengan murid kelas satu. Anda dan para staf pasti bisa mengalahkannya."

Snape membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun Harry menyelanya dengan berkata, "Terima kasih sudah menyayangi ibuku hingga saat ini, Profesor. Akan kusampaikan salammu kepadanya jika aku bertemu dengannya nanti."

Mengerjap kaget, Snape hanya bisa terpaku memandangi Harry yang terus berjalan ke arah pintu keluar. Bagai gerakan lamban, Harry membuka pintu tersebut, dan menutupnya di belakangnya. Dia berjalan menuruni tangga spiral yang bergerak pelan bagai eskalator ke lantai bawah, dan berjalan lagi.

Angin dari jendela-jendela membuat jubahnya melambai-lambai. Sangat mudah baginya untuk terus berjalan sendirian seperti ini, tanpa kehadiran dan pengetahuan Ron, Hermione, Luna, Ginny, atau siapapun juga kecuali Snape, menuju ke luar kastil. Dia berpikir bahwa mungkin ini juga sudah didesain Dumbledore. Mungkin semuanya memang sudah disusun rapi untuknya, agar dia bisa menyusuri jalan ini dengan tenang...

Satu-satunya penyesalan yang dirasakannya hanyalah bahwa dia tak sempat bertemu lagi dengan Ginny sebelum dia pergi. Dia ingin menyampaikan permintaan maafnya, karena tak bisa menjadi orang yang setia, tak bisa menjadi orang yang memenuhi harapannya.

Dia bukanlah pahlawan, dan dia bukanlah orang yang tak bisa hidup tenang jika tak mengalahkan orang-orang jahat. Dia hanyalah orang biasa, tumbal biasa, yang menapaki jalan yang sudah dicor dan didesain khusus untuknya, seluruhnya.

Dan dia ingin meminta maaf, karena tak menyayanginya sebagaimana mestinya .

.

.

Dia berhenti di gerbang masuk Hogwarts, yang membuka dari dalam untuknya. Sepertinya Hogwarts juga akhirnya melepas kepergiannya dengan puas. Harry terus berjalan, hingga mencapai jalan setapak yang mengarah ke Hogsmeade. Dia bisa merasakannya datang, koneksi di antara dirinya dan Voldemort terasa seperti diperbesar. Horcrux di dalam kepalanya seolah gelisah, karena tahu ajalnya sudah dekat.

Tak berapa lama kemudian, dia benar-benar sedang menatap sepasang mata berwarna merah, yang muncul begitu saja di tengah-tengah jalan setapak tersebut. Diikuti oleh wajah yang seperti ular, hidung yang hanya berupa celah, dan jubah hitam yang berkibar-kibar.

Dia sedang menatap Voldemort.

"Harry... Potter..." desah Voldemort, membelalak. Efeknya komikal, namun Harry tak memiliki tenaga yang tersisa untuk tertawa. Seluruh tubuhnya mati rasa, dia hanya tetap menatap mata berwarna merah tersebut dalam diam. Voldemort mengeluarkan tongkat sihirnya, dan mengacungkannya, dengan hati-hati dan seolah penuh kasih, ke arah Harry.

Hijau bertemu merah, namun belum ada yang melakukan gerakan sedikitpun. Voldemort masih mengacungkan tongkatnya ke Harry, dia berkata akhirnya, "Kamu menghancurkan seluruh Horcrux-ku, Potter."

Tak berbicara, Harry mengangguk.

Voldemort mendesis, dan berkata garang, "Lalu kenapa, kamu berjalan begitu saja dan menyerahkan dirimu di sini, tanpa perlawanan sedikitpun?"

Harry tak menjawab, dia hanya terus menatap Voldemort. Diamnya Harry membuat Voldemort semakin kesal, dia mendesis garang, "JAWAB AKU!"

"Sudah, bunuh saja aku," kata Harry pelan. "Atau kamu begitu lemahnya hingga tak sanggup membunuhku dalam keadaan aku tak bersenjata, dan aku tak melawan?"

Dengan desisan marah, Voldemort menempelkan tongkat sihir Elder ke dahi Harry, dan menyeringai. Dia mencekik Harry dengan tangannya yang kurus baga tulang, namun memiliki kekuatan yang luar biasa.

Suara desisan terdengar, dua kata. Harry sempat melihat kilatan cahaya hijau, sebelum tersenyum kecil.

Kemudian semuanya gelap.

-XXXXXXXXX-

Saat kesadarannya kembali, hal pertama yang dia sadari adalah bahwa dia tidak lagi berada di atas tanah. Melainkan di atas sebuah sesuatu yang keras.

Harry sudah berkali-kali berbaring tertelungkup di atas permukaan keras, namun tidak ada yang seperti ini. Ini terasa seperti lantai, yang memiliki garis-garis batas dan anehnya tidak dingin... Dia teringat akan lantai di kamar tidur utama Privet Drive lantai empat, yang mana dia pernah berbaring di sana saat kelelahan membersihkannya, namun ini tidak seperti itu juga.

Lantai di bawahnya adalah kayu, kayu ek dari baunya. Harry membuka matanya penuh-penuh dan menemukan dirinya berbaring di sebuah ruang keluarga dalam suatu rumah sederhana, namun rapi, yang dia tidak ingat pernah ada di dalamnya sebelumnya. Sama sekali.

Jubah bepergian, kaos tebal, Sweater, dan celana jins yang dia tadinya kenakan tidak ada, digantikan oleh T-Shirt dan celana panjang serta sepatu kets yang tampak baru.

Mengerjap bingung, Harry berdiri dan melihat sekelilingnya. Sebagian besar furnitur terbuat dari kayu yang diukir dan dipelitur, memberikan kesan tempo doeloe. Dia mengamati lagi sekelilingnya dengan teliti, dan dia menyadari absennya televisi. Hampir seluruh ruang keluarga di Inggris, apalagi yang tampak mapan seperti ini, memiliki televisi. Absennya benda tersebut memberitahunya bahwa rumah tersebut adalah rumah penyihir, atau... Lokasinya ada sangat jauh pojokan negeri hingga sinyal BBC tidak mencapainya.

Kalau ini rumah penyihir...

Harry merasa bingung sekali. Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah dia benar-benar sudah menyaksikan sendiri cahaya hijau tersebut? Bukankah harusnya dia sudah...

Apakah ini akhirat? Kalau ya, rasanya aneh sekali. Karena dia merasa sangat hidup...

Dia berjalan lebih jauh lagi ke dalam rumah tersebut, dan menemukan sebuah ruangan.

Ruangan, atau lebih tepatnya sebuah kamar yang terletak di sebelah dapur, dan terlihat seperti ruangan tambahan, seolah sebelumnya ruangan tersebut tak ada di sana. Ruangan tersebut tampak lebih berbeda dibandingkan ruangan-ruangan sebelumnya yang sudah dia lewati, berisi barang-barang yang mengindikasikan bahwa kamar tersebut adalah kamar bayi. Langit-langitnya dicat, atau ditempeli, sebuah latar belakang langit biru luas dengan burung-burung, penyihir-penyihir terbang, dan sebuah Snitch yang terus beterbangan kesana-kemari. Harry menatap ke depan lagi, dan melihat sebuah keranjang bayi. Dia berjalan ke sana, melihat keranjang bayi tersebut kosong. Hanya ada sebuah boneka singa.

Harry ingat pernah melihat ini sebelumnya. Dia mengeceknya dengan menarik ekor si boneka, dan si boneka singa mengeluarkan auman yang menakjubkan: Sangat realistis, dengan memamerkan gigi-giginya yang besar dan mengancam. Harry menggeleng. Siapapun orangtua si bayi, mereka memiliki selera buruk dalam memilih mainan untuk anak mereka.

Di atas meja berisi boneka-boneka, berdiri pula deretan foto-foto. Foto-foto tersebut menampilkan orang-orang yang rasanya dia kenal sepenuhnya: Empat orang pria berdiri dan nyengir melambai-lambai, mengelilingi seorang perempuan dengan rambut merah dan mata hijau, menggendong buntelan kain yang tampaknya berisi bayi di tangannya.

Sirius menyampirkan tangannya di sekeliling Lily dengan bergaya, berlagak seolah dia ayah si bayi. Ayah sebenarnya, James, memberi jitakan yang cukup impresif pada Sirius, membuat mereka berdua berlarian mengelilingi orang-orang tersebut. Lupin terkekeh, Peter tampak agak bingung, sedangkan Lily memutar bola matanya dan berjalan keluar dari pigura.

Harry mengikuti foto Lily berjalan, sampai berhenti di sebuah foto lain, yang menampilkan sebuah rumah dengan latar belakang hutan dan pedesaan. Pastilah itu rumah tempatnya berada, jika difoto dari luar. Harry memandanginya, sementara Lily mengangkat tangan si bayi dan membuatnya melambai pada Harry. Bayi-Harry membuka matanya dengan bingung, menatap Harry dengan matanya yang hijau cemerlang besar-besar. Lily tertawa, dan melambai juga kepada Harry.

Dia tersenyum, dan melambai juga kepada foto tersebut. Matanya tidak terasa panas. Aneh. Padahal dalam kondisi normal harusnya dia sudah menangis.

Harry memandangi foto tersebut lama sekali, kemudian mengerling ke arah foto ayahnya dan tiga teman-temannya. Mereka kini tampaknya sedang bergumul bersama, dengan Sirius di paling bawah dan Peter berusaha melepaskan diri dari cengkeraman James, melambai-lambaikan tangannya dengan gerakan menyerah. Harry memutar bola matanya, di alam manapun mereka selalu kekanakan.

Dia merasa bisa melihat ibunya memutar bola matanya juga dari sudut matanya, dan dia mendengus.

Meletakkan tangannya pada pegangan pintu, dia memutarnya dan berjalan keluar.

.

Dia menutup pintu depan, dan berjalan ke udara segar di luar.

Udara sejuk, namun tidak dingin. Salju tidak turun, dan langit cerah meskipun ada awan. Daun-daun gugur, menandakan musim apa dia berada sekarang.

Musim gugur.

Halloween, jika melihat dari labu-labu yang dipasang di sekeliling rumah yang baru saja ditinggalkannya.

Rumahnya...

Dia berada di Godric's Hollow.

Tapi bagaimana-

"Harry..."

Harry menoleh dengan cepat ke jalanan di sebelah kanannya. Sekejap, dia mengayunkan tangannya ke lokasi dimana biasanya saku jubahnya berada, lokasi dimana dia biasa meletakkan tongkat sihirnya, namun lokasi tersebut tidak ada bersamanya sekarang. Dengan cepat dia menurunkan kembali tangannya, dan menoleh memandang sumber suara tersebut. Dia baru mau berseru, menyuruh orang tersebut untuk jangan bergerak, ketika Harry melihat siapa yang berbicara barusan.

Seorang perempuan.

Seorang perempuan, atau... Wanita. Dia berdiri dengan tenang di tengah jalanan desa Godric's Hollow, mengenakan pakaian sederhana yang terdiri dari rok berwarna putih dan blus berwarna hijau. Kakinya mengenakan sepasang sepatu selop sederhana, tanpa hak, dan rambut merahnya yang sedikit berombak menggantung hingga ke bahunya, membingkai sebuah wajah cantik dan tanpa cela dengan sepasang mata hijau cemerlang.

Bahkan dengan jarak yang memisahkan mereka berdua, Harry tak mungkin salah mengenalinya.

Perempuan tersebut lumayan tinggi, bahkan mungkin nyaris sama tingginya dengannya. Tidak mengherankan, mungkin memang gen tinggi badan yang terdapat pada dirinya sudah turun temurun. Harry mengingat Bibi Petunia yang tinggi dan jangkung.

Angin bertiup, membawa dedaunan dari pohon-pohon di sebelah mereka berjatuhan, gugur ke tanah. Lily Evans Potter menahan rambutnya agar tidak menutupi wajahnya saat tertiup angin, sementara dia berjalan mendekat ke Harry. Matahari di atas menyinari mereka berdua, dan Harry bisa melihat seolah-olah dia memantulkan cahaya matahari di wajahnya yang muda dan polos, serta aroma dan aura bunga-bungaan liar di lembah-lembah yang pernah Harry lalui.

Bagian otaknya, yang anehnya, ternyata masih bekerja, memberinya informasi bahwa ini tidak mungkin ibunya. Ini pastilah hanya sebuah trik, permainan yang dimainkan oleh Voldemort di dalam kepalanya. Ibunya sudah meninggal, dan dia tak mungkin bertemu dengannya di sini, di Godric's Hollow yang jelas-jelas sudah terbakar dan diruntuhkan oleh Voldemort dan para Pelahap Mautnya.

Namun bagian kecil otaknya, bagian yang sama yang sanggup mendorong efek mantra Imperius terkuat, menyuplainya dengan jawaban masuk akal: Dia sudah mati, makanya dia bisa bertemu dengan ibunya.

Dia sudah mati.

Lily tersenyum begitu dia sudah dekat dengannya. Angin berhenti bertiup, dan dia menyingkirkan sisa-sisa rambut merahnya dari wajahnya, agar dia bisa menatap Harry dengan lebih jelas. Harry berpikir pastilah dia berekspresi sangat bodoh dan menggelikan, karena mendadak ibunya mendengus dan nyengir.

"Oh, aku sangat merindukanmu, Harry," kata Lily.

Kalimat Lily tersebut membawa Harry kembali kepada fokus. Dia mengerjap, dan menatap Lily dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ibunya, yang berdiri di hadapannya saat ini, benar-benar nyata.

Dia mengulurkan tangannya yang agak bergetar, dan menyentuhkannya di rambut merah Lily yang menggantung ke bahunya. Dia merasakan sentuhan padat, dan dia tercekat sedikit.

Dia benar-benar sedang menyentuh ibunya...

Lily tampaknya menyadari ada yang mengganggu pikiran Harry. Dia dari tadi diam saja sementara Harry mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambutnya, namun begitu Harry tercekat, dia tersenyum lembut, dan menggenggam tangan Harry yang baru saja menyentuhnya dengan tangannya sendiri. Harry tidak berjengit akan sentuhan tersebut, dia menatap Lily kembali. Hijau bertemu hijau, sepasang mata yang sama, senyum Harry merekah perlahan.

"Mum..." bisiknya.

Lily mengangkat bahunya, dan berkata dengan nada humor, "Yah, karena aku tidak menua selama di sana, aku masih berumur 22 tahun. Dan kamu sudah 17 tahun. Dengan beda umur lima tahun, aku tak tahu apakah kamu bisa mendapatkan hak untuk memanggilku itu."

Harry terkekeh, dan menggeleng tak percaya. Dia berkata pelan, "Tapi... Tapi... Tapi kamu sudah mati..."

Lily mengangguk, dan Harry merasa perutnya agak anjlok. Air dingin terasa seperti menyirami tubuhnya, namun genggaman tangan Lily mengerat, memberi Harry pegangan dan jangkar... Sesuatu yang membuatnya tetap berdiri. Dia berbisik, "Kalau begitu... Aku sudah mati?"

"Hmm..." gumam Lily, mengangkat sebelah alisnya. "Akan rumit sedikit nih... Bagaimana kalau kita cari tempat duduk?"

Harry mengangguk, dan Lily, masih menggenggam tangannya, menariknya berjalan ke depan, menelusuri jalanan desa. Angin sesekali bertiup, membuat daun-daunan gugur di sekeliling mereka. Harry melihat ke kanan kirinya, rumah-rumah di Godric's Hollow yang diingatnya dahulu. Dia bahkan melihat sebuah rumah di sebelah kirinya yang tampak mirip dengan rumah tempat dia diserang oleh Nagini dan Voldemort, saat dia mengunjungi Godric's Hollow sendirian beberapa bulan lalu. Padahal di dalam mimpinya, dia ingat melihat semua tempat ini sudah terbakar.

"Dimana sebenarnya kita?" tanya Harry.

"Aku tak tahu, Harry," jawab Lily, menggeleng pelan. Dia menoleh sedikit ke Harry, dan melanjutkan, "Ini adalah pestamu. Hanya kamu yang mengetahui tempat apa ini. Menurutmu apa?"

Harry mengerjap. Pestanya? Tapi ini tidak terasa seperti pesta... Dia melihat lagi sekeliling, mencoba memastikan. "Rasanya... Ini seperti Godric's Hollow. Tapi..."

"Benarkah?" tanya Lily, memberi Harry pandangan bingung. "Aku tak menyangka kamu akan memilih Godric's Hollow sebagai tempat perantaramu..."

"Tempat perantara?"

Lily tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum dan terus menariknya hingga mereka mencapai sebuah taman. Ada kolam di tengah-tengah taman tersebut, dan Harry bisa membayangkan anak-anak berlarian di sekelilingnya, mungkin membawa-bawa mainan mereka dahulu kala. Dia melihat kursi-kursi tua, dan dia bisa melihat, seolah-oleh mereka benar-benar ada, orang tua para anak-anak yang memandangi mereka dengan senyum di wajah.

Semuanya terasa begitu hidup... Begitu nyata.

Lily mengajaknya duduk di salah satu bangku taman. Mereka berdua duduk dan menyamankan diri di sana, dengan Harry sengaja duduk lebih dekat ke ibunya. Dia merasakan perasaan khawatir yang asing baginya, seolah jika dia menjauh, ibunya akan menghilang begitu saja.

Bahwa jika dia menjauh, dia akan terbangun dan mendapati semua ini hanyalah mimpi.

Lily menyadari gestur dari Harry tersebut, dan dia melingkarkan sebelah lengannya di sekeliling kepala Harry dalam gestur yang Harry kenal, namun tidak pernah dirasakannya. Dia membiarkan dirinya ditarik ke bahu ibunya, menyandar di sana, menghirup setiap kehangatan yang diberikan olehnya.

Lily mengusap-usap kepala Harry selama beberapa saat, sampai akhirnya dia berkata, "Anakku... Apa saja yang telah mereka lakukan terhadapmu?"

Harry menatapnya, namun mendapati dirinya tak mampu melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepada Luna. Dia tidak bisa mengalami Breakdown di sini, entah apa alasannya. Mungkin hal itu tidak berlaku di tempat ini. Mungkin hal seperti itu tidak berlaku di alam kematian. Dia membuka dan menutup mulutnya, tidak mengerti harus memulai dari mana. Terlalu banyak hal yang ingin dia katakan, terlalu banyak yang ingin dia ungkapkan, terlalu banyak yang ingin dia adukan kepada ibunya, seperti seorang anak mengeluh kesah.

Namun dia tak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk sekedar memulai.

Lily mengangkat sebelah tangannya dan meletakkannya, membingkai wajahku dengannya. Dia menarik wajahku mendekat, dan Harry merasakan sedikit rasa panik melihat wajahnya mendekat. Dia berniat melepaskan diri, namun Lily tersenyum lembut lagi, seolah meyakinkan Harry bahwa apa yang dia khawatirkan bukanlah apa yang akan dilakukan olehnya.

Dan Lily berhenti dalam jarak aman, menatap jauh ke dalam mata hijau cemerlang Harry.

Kemudian mereka berdua ditelan oleh ingatan.

.

Ingatan-ingatan akan kata-kata, kalimat-kalimat penuh kebencian dan penuh amarah yang menyengat dengan sangat buruk, seperti cemeti yang melecut... Dan kacamata retak yang terjatuh dan tergeletak di lantai sementara sentuhan fisik menghantam wajah Harry dengan keras.

Kata-kata yang menusuk, tak terlihat dan tak tersembuhkan, hanya membusuk dan melebar di dalam hati. Ingatan mengenai malam-malam dan hari-hari yang panjang, dihabiskan dengan berkemul di dalam kegelapan, menangis hingga kehabisan air mata, menyalahkan diri sendiri karena dia terlalu muda... Terlalu kecil, terlalu lemah...

Mereka melihat seorang anak yang belajar untuk menyembunyikan semua rasa sakit tersebut dalam waktu bersamaan saat anak-anak lain belajar mengenal alfabet, seorang anak yang mengubur sakitnya di dalam dirinya, dan menunjukkan pada dunia luar apa yang mereka ingin lihat. Dari bersikap lemah dan patuh jika ada tamu datang... Hingga sengaja tidak menjawab satu soalpun dalam pelajaran matematika karena takut nilai-nilainya lebih tinggi daripada sepupunya.

Mereka melihat seorang anak yang hidupnya dijungkirbalikkan, dari atas ke bawah. Melihat hidup seorang anak yang luar biasa, namun berusaha untuk hidup normal. Melihatnya berusaha berteman, tertawa-tawa, bercanda, bertukar ejekan, hingga berciuman dan bercinta.

Mereka melihat seorang anak yang ditampilkan kekuatan dan kekuasaan di depannya, kegelapan dan kekejaman yang seolah bagai mimpi terburuk di setiap malamnya, saat teman-temannya memimpikan gadis-gadis. Seorang anak yang berusaha bersikap seolah Quidditch dan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam penting... Saat yang diinginkannya lagi-lagi hanyalah suatu hidup yang bercahaya... Yang menyejukkan...

Mereka menyaksikan seorang remaja yang ditinggalkan teman-temannya, seorang pria yang dibenci dan dianggap pembohong oleh nyaris seluruh kaum yang dibelanya. Seseorang yang berharap di setiap malam, agar semua rasa sakitnya bisa dicabut dan dibawa pergi. Seseorang yang menyaksikan sendiri bagaimana dua sahabatnya berjalan keluar dari rangkulannya, meninggalkannya dalam malam yang berhujan dan dingin.

Semua sensasi, semua sentuhan, semua desahan yang sangat nyata, yang pria tersebut rasakan dalam waktu belum sampai 24 jam lalu. Semua gairah, semua adrenalin tersebut, di atas tempat tidur...

Semuanya.

.

.

Di akhir semua hal itu, Harry mendapati dirinya dan ibunya masih bertatapan. Tatapan hijau cemerlang dari ibunya masih sangat intens, satu-satunya yang membedakan hanyalah... Bahwa tatapannya sekarang dipenuhi akan kesedihan.

Penyesalan.

Kemarahan.

Dan kesedihan lagi...

Kenapa?

"Kenapa..." Lily menggeleng pelan. "Kenapa kamu tetap berjuang untuk mereka semua...?"

Harry menatapnya, dan menjawab, pelan, dan yakin,

"Karena aku masih memiliki alasan untuk berjuang."

"Dan apa itu?" bisik Lily.

Harry memiringkan kepalanya, dan menjawab, "Ron. Hermione. Luna. Semua Profesor, semua orang yang pernah kukenal, termasuk keluarga Weasley, Lupin, Tonks... Mereka semua. Akumenyayangi mereka semua, Mum."

Lily menggeleng perlahan. Dia menggenggam tangan Harry lebih erat lagi, dan berkata, "Kamu hidup selama masa kecilmu tanpa kasih sayang, Harry. Bagaimana mungkin kamu mengenal apa itu kasih sayang?"

"Tidak," bisik Harry. Dia mengangkat tangannya yang digenggam oleh Lily ke depan dadanya, menatap jari-jari mereka yang terpilin. Dia mendongak, dan menatap ibunya lagi.

"Seseorang memberiku kasih sayang," bisik Harry. "Kasih sayang yang sangat besar, yang mengalir di dalam darah-darahku, membuatku tahu."

"Tahu...?"

"Tahu bahwa, separah apapun aku menangis, separah apapun perlakuan mereka semua, separah apapun perlakuan dan nasib yang kualami... Bahwa di ujung jalan itu, bahkan di balik Voldemort, masih terdapat cahaya yang kucari. Bahwa jauh di dalam darahku, di langit yang tinggi, masih ada yang bisa kusayangi. Bahwa semuanya akan baik-baik saja di akhir."

Harry tersenyum, dan menggenggam tangan Lily lebih erat lagi. Dia berkata, "Aku yakin itu bukanlah perasaan palsu, buatan, atau manipulatif. Karena aku merasakannya di sini..." dia menarik tangan mereka berdua hingga menempel di dadanya. Dadanya, yang berdetak memberi kehidupan, memberinya sinyal nyata bahwa dia benar-benar masih ada. Masih nyata.

"Tidak ada sihir yang bisa menciptakan cinta, dan tidak ada yang bisa memanipulasinya, Mum," kata Harry pelan.

Lily menatapnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya tersenyum, dan berkata, "Ayahmu akan bangga sekali padamu, Harry."

"Aku harap kamu juga, Mum."

"Tentu saja aku bangga. Masa sih kamu tidak tahu?" tanya Lily dengan nada tersinggung. Harry mendengus, dan sejenak mereka berdua berbagi tawa pelan bersama.

Angin musim gugur bertiup kembali, dan Harry mendapati dirinya merasa bergetar. Lily menyadarinya juga, dan dia berkata, "Sudah... Waktunya."

"Waktunya?" tanya Harry, bingung.

"Untuk pergi, Harry," kata Lily pelan. Dia menatap ke arah kolam, dan berkata, "Kita harus pergi sekarang."

"Apa, ke..." Harry mengangkat alisnya. Beranikah dia mengatakannya? "Akhirat?"

Lily tertawa pelan. Dia memandang Harry dengan senyum geli, lalu berkata, "Aku jelas ke sana, Harry. Tapi kamu... Kamu bisa kembali ke dunia, Harry."

"Apa?" tanya Harry kaget. "Bukankah aku sudah mati?"

"Jelas tidak, nak. Astaga, jelas kamu kurang mewarisi otakku," kata Lily, menepuk dahinya dengan lagak frustasi dan kecewa. Harry meringis, tapi Lily tidak tampak begitu galak. Dia berkata, "Hei, bukan salahku aku tidak begitu cerdas, Mum."

"Lain kali banyak-banyak belajar. Ingat, Hermione, sahabatmu itu, sangat pintar kan. Dan cewekmu itu kan Ravenclaw, si Luna-"

"-dia bukan cewekku-"

"-kamu sudah menidurinya!"

"-Yeah. Well, itu hanya satu malam, dan kami dalam kondisi lemah mental-"

"-dasar tak bertanggungjawab!"

"-apa? Dia bahkan tidak hamil-"

"-kamu seperti James-"

"Muuum!" kata Harry, mengangkat tangannya menyerah. Lily tampak sangat geli, dia nyengir lebar, cengiran yang membuat Harry tak bisa tahan untuk tidak tersenyum juga. Dia menggeleng-geleng, dan berkata, "Kutebak di sana jarang sekali untuk bisa mengejek-ejek orang, ya?"

"Ah, tidak juga," kata Lily, nyengir.

"Oke. Oke, Mum. Cukup. Yang mau kutahu, hanyalah.. Jawaban dari pertanyaanmu."

Lily mengangguk, dan berdeham. Harry mendadak teringat akan Hermione yang bersiap masuk ke mode ceramahnya, dan dia meringis dalam hati.

"Kamu belum mati, Harry. Voldemort menggunakan darahmu untuk membangkitkannya, dengan demikian menjadikannya memiliki sebagian dari perlindunganku dan memiliki sebagian darinyawamu yang terikat oleh perlindunganku tersebut," kata Lily. Benar saja, dia sedang dalam mode ceramah ala kutu buku. Namun penjelasan ibunya didengarkan betul-betul oleh Harry, dia akan membutuhkan ini... "Ditambahkan dengan koneksi Horcrux di antara dirinya dan dirimu, Harry, itu menciptakan suatu koneksi yang jauh lebih unik daripada koneksi sihir manapun yang pernah kuketahui."

Harry mengerjap. Dia berkata, "Er... Bisa lebih sederhana?"

"Jadi, karena Voldemort memiliki sebagian nyawamu, berarti dia adalah Horcrux-mu, Harry," kata Lily dengan sabar. Keberadaan Horcrux di dalam dirimu mengikat koneksi Horcrux di antara dirimudan dirinya. Makanya dia tidak bisa membunuhmu sepenuhnya, selama dia masih hidup. Yang dia bunuh hanyalah Horcruxnya yang ada di dalam dirimu."

"Tunggu," kata Harry, mengangkat tangannya. "Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu. Ka-kamu bilang aku memiliki Horcrux?"

Lily mengangguk.

"Di dalam Voldemort?"

Anggukan lagi.

Harry menganga.

"K-kalau begitu... Dia tak akan bisa membunuhku dong!" kata Harry.

"Wah, di situ masalahnya," kata Lily, mengangkat jarinya. "Keberadaan Horcrux-mu di dalam tubuh Voldemort sangat tergantung pada keberadaan Horcrux-nya Voldemort di dalam tubuhmu. Horcrux Voldemort memastikan keberadaan Horcruxmu, Harry. Jadi, bila Horcrux Voldemort hancur, maka begitu juga Horcrux-mu. Kamu sekarang fana lagi, sama fananya dengan Voldemort."

Harry mengangguk, sangat perlahan, membiarkan kata-kata tersebut meresap. Dia berkata, "Kalau begitu... Kalau begitu, saat aku kembali, itu benar-benar... Duel antar-fana, duel hidup-mati, begitu?"

Lily mengangguk lagi. Harry menunduk ragu-ragu. Dia bergerak sedikit, sebelum kemudian berkata, "Kalau aku tidak mau kembali, apa yang akan... Terjadi?"

"Kamu bisa ikut denganku," kata Lily, tersenyum. "Dan... Meninggalkan dunia di belakangmu."

"Dua pilihan," ulang Harry pelan. "Ikut denganmu ke... Akhirat..."

"Kamu bisa berkata begitu."

"Atau kembali ke dunia, dan menghadapi Voldemort, mendapatkan kesempatan untuk bisa mengalahkannya dalam duel..."

"Yap."

Harry mengangkat sebelah alisnya, menoleh ke arah ibunya. "Kamu tidak terdengar khawatir sedikitpun akan prospek aku berduel dengan penyihir hitam terhebat sepanjang masa?"

"Oh, dan dia memiliki tongkat sihir Elder, lho," tambah Lily.

"Ya. Benar. Kamu tidak khawatir?"

"Tentu saja tidak," jawab Lily lembut, maju selangkah. "Aku percaya padamu, Harry."

Aku percaya padamu.

Kamu adalah pahlawan.

Kami ikut denganmu.

Aku menyayangimu...

Semua suara tersebut berputar di dalam kepalanya, membuatnya mengerjap pelan. Dia menatap ibunya, dan berkata, "Kalau begitu, aku memilih kembali."

Lily menatapnya selama beberapa saat, tampak sedih. Kemudian, dia maju selangkah dan memeluk Harry penuh-penuh, dan Harry membiarkan dirinya melebur dalam pelukan ibunya, menyerap semua jejak-jejak terakhir mengenai Lily Evans Potter, jejak nyatanya, yang mungkin tak akan dirasakannya lagi seumur hidupnya.

Setelah beberapa lama, Harry merasakan sensasi aneh.

Dia mendorong ibunya sedikit, dan melihat titik-titik cahaya mulai muncul dari tangan, kaki, dan seluruh tubuhnya, seolah tubuhnya bolong satu per satu dan dari lubang-lubang tersebut cahaya memancar. Dia mendongak menatap Lily, meminta penjelasan.

"Ah, kamu harus pergi sekarang."

"Ya," kata Harry, melepaskan pegangannya di ibunya seluruhnya. Dia merasakan dirinya memudar, dan dia tersenyum terakhir kali pada Lily.

"Sampai jumpa, Mum. Mungkin kita akan bertemu lagi dalam beberapa menit," kata Harry.

"Oh, tidak. Kamu tidak akan. Hajar mereka, nak," kata Lily, nyengir dan melambai.

Nyengir, Harry mengangguk.

-XXXXXXXXXX-

Dia membuka matanya.

Seperti barusan, dia merasakan sensasi benda keras di bawah tubuhnya. Namun tidak seperti tadi, sensasi yang ini tidaklah dingin dan kaku seperti lantai. Ada rasa empuk, dan ada sensasi serbuk-serbuk di permukaannya yang membeku.

Salju.

Dia mendongak, dan melihat Voldemort juga bergerak lemah, dari posisi tertidur, di seberangnya.

Voldemort tampaknya juga terlempar akibat hantaman kutukan maut tadi, yang menghantam dirinya.

Dia mengerjap, dan ingat kembali sepenuhnya. Apa yang baru saja terjadi, apa yang telah dikatakan oleh Ibunya, semua hal tersebut...

Termasuk alasannya masih berjuang, dan alasannya untuk kembali ke dunia ini, meninggalkan kehangatan ibunya.

Dia berdiri dengan cepat, mengeluarkan tongkat sihirnya. Dalam waktu bersamaan, Voldemort juga berdiri di seberangnya, menatap Harry dengan sepasang mata merah dengan tidak percaya.

"B-bagaimana..." Voldemort menggeleng. Hal yang komikal, dan kali ini Harry tidak membuang-buang tenaganya untuk menyembunyikan dengusnya. "Apa yang lucu!" geram Voldemort.

"Oh, tidak. Wajahmu lucu, Tom," kata Harry.

"KAMU-"

Kilatan cahaya putih menyambar begitu cepatnya dari ujung tongkat Voldemort, sangat cepat hingga Harry tak sempat memikirkan mantra pelindung untuk menangkisnya.

Namun tidak perlu.

Tongkat sihir Holly di tangannya mengeluarkan semburan api keemasan, yang menghantam cahaya putih tersebut dengan telaknya hingga cahaya tersebut memantul dan menubruk pepohonan, yang langsung terbakar menyala-nyala. Voldemort menoleh ke arah pohon tersebut dengan tak percaya, kemudian kembali ke Harry. Tongkat sihir Elder tergenggam di tangannya, yang agak bergetar.

"CRUCIO!"

Semburan api emas kembali meluncur, menangkis kutukan tak-termaafkan dan meluncur lulus menuju tongkat Elder. Tongkat tersebut terhantam oleh cahaya tersebut, dan Voldemort terhuyung mundur ke belakang.

Dia berhasil menyeimbangkan dirinya, dan menatap tangannya yang terluka bakar. Harry mengernyit, dan melihat tongkat sihir Elder tidak hancur ataupun tergores seperti yang dialami oleh tongkat sihir Lucius dulu.

"Tak semudah itu, ternyata," gumam Harry.

"APA ITU?" teriak Voldemort dengan gila. "APA YANG KAMU LAKUKAN, POTTER!"

"Kamu tak menggunakan tongkat aslimu, Tom," ujar Harry, bergerak sedikit ke kanan, memasang posisi duel yang nyaman untuknya. "Tongkatku mencarinya."

"APA-"

"Kita akan akhiri ini semua di sini, sekarang juga," kata Harry, berdiri diam sekarang. Dia tersenyum kecil, dan melanjutkan, "Duel, sampai akhir."

Voldemort mendesis, dan menyeringai. Wajahnya memamerkan kegilaan yang tidak tanggung-tanggung, dia berkata, "Apakah aku tidak keliru? Bocah sepertimu... Benar-benar menantangku duel?"

Harry diam saja, masih mengacungkan tongkatnya. Voldemort melihat keyakinan di mata Harry, dan tertawa terbahak-bahak.

"Kemana dirimu yang kukenal, Potter? Yang harus dilindungi orang lain agar bisa selamat? Yang selalu mengorbankan temannya, agar bisa bertahan hidup? Lebih penting lagi," desis Voldemort menjulurkan ludahnya yang bercabang,

"Kemana dirimu, yang senantiasa lari dariku? Setiap pertemuan kita, kamu selalu lari. Mana dirimu yang itu, Potter?" desis Voldemort dengan penuh racun.

"Well," kata Harry tenang, "Orang berubah. Termasuk aku."

Desisan lagi, dan Voldemort juga bergerak, mencari posisi duel yang nyaman baginya. Dia berkata, "Kamu benar-benar akan menghadapiku di sini? Sendirian, belum lulus Hogwarts, dan sebagainya?"

"Sudah, cukup," desis Harry. "Tutup mulutmu yang menjijikkan itu dan hadapi aku."

Voldemort mendesis, dan menjulurkan kepalanya seperti ular. Mengerikan, sekaligus menjijikkan. Dia berkata dengan kejam, "Mati kamu, Potter..."

Dan kali ini, tidak menunggu tongkatnya bereaksi sendiri, Harry mengacungkannya lebih dahulu.

Bersamaan dengan acungan tongkat Voldemort.

Dua kata terlontar dari mulut Voldemort, kutukan hijau, salah satu kutukan terkuat sepanjang masa, salah satu kutukan paling dahsyat yang pernah ditemukan oleh sejarah penyihir. Cahaya hijau menyambar dari ujung tongkat sihir Elder, lebih kuat dan lebih menggetarkan daripada biasanya.

Satu kata terlontar dari mulut Harry, cahaya merah, mantra yang selama ini tak pernah mengecewakannya setiap digunakan. Mantra yang sudah menyelamatkan nyawanya berkali-kali,Tradermark-nya, yang bahkan dia gunakan melawan penyihir hitam terhebat sepanjang masa dua kali. Cahaya merah tersebut menyambar.

Dan kedua cahaya itu bertemu di tengah udara, memulai duel mereka berdua.

Atau mengakhiri.