Natsu duduk diruang tunggu rumah sakit dengan gelisah. Ia sudah menghubungi teman-temannya untuk menyusulnya kerumah sakit. Natsu terus memegangi ponselnya. Ia berusaha menghubungi Sting, tapi Sting tidak menjawabnya. Baju Natsu pun sudah berlumuran darah milik Lucy. Ia benar-benar tidak peduli dengan penampilannya sekarang, ia sangat khawatir dengan keadaan Lucy.
'Kenapa ini terjadi lagi..' batin Natsu
Natsu menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya. Ia berpikir kalau ia selalu membawa kesialan bagi Lucy. Ini adalah kedua kalinya ia membuat Lucy terbaring lemah dirumah sakit.
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Three Heart for One Love
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
"Natsu!" Natsu mendengar suara Gray yang memanggilnya, ia segera menoleh ke sumber suara itu. Ia melihat teman-temannya sudah datang. Levy, Erza, Gajeel, Jellal, Lisanna, Juvia dan juga Gray.
"Bagaimana keadaan Lucy?" tanya Gray
Natsu tidak menjawabnya.
"Iya, bagaimana keadaannya?" tambah Levy. Airmatanya sudah mengalir kedua pipinya. Gajeel menenangkannya.
"Ia sedang berada diruang operasi, ia sudah ditangani oleh dokter" jawab Natsu
Semua terlihat sedih setelah mendengar jawaban Natsu. Erza berjalan menghampiri Natsu dan duduk disebelahnya. Erza tahu kalau Natsu sedang dalam keadaan kalut. Terbaca dari wajahnya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Natsu?" tanya Erza
Natsu menundukkan kepalanya. "Ini semua salahku, Lucy..Lucy menyelamatkanku. Sebenarnya aku yang harusnya tertabrak, bukan dia" terang Natsu. Natsu kembali menutup wajahnya. Gray yang mendengarnya segera menoleh dan berjalan menghampiri Natsu. Gray berdiri dihadapan Natsu yang masih menutup wajahnya.
"Sebaiknya, kau menceritakannya, Natsu. tentang masa lalumu" ucap Gray. Ucapan Gray tersebut membuat bingung yang lainnya.
"Apa maksudmu Gray? Masa lalu? Ada apa memangnya?" tanya Jellal
"Tanya pada Natsu. Ayo Natsu" ucap Gray
Natsu membuka tangannya dan memandang keteman-temannya.
"Ada apa?" tanya Lisanna
"Begini.." Natsu mulai menceritakan masa lalunya bersama Lucy dan juga Sting. Teman-temannya sangat terkejut akan cerita itu. Gray hanya bisa menyimak cerita yang diceritakan Natsu, karena ia sudah tahu lebih dulu dibanding yang lainnya.
"Jadi hanya Gray yang tahu?" tanya Levy sambil menoleh kearah Gray. Natsu mengangguk.
"Gomen, aku baru memberitahu kalian" ucap Natsu dengan penuh rasa penyesalan.
"Jadi Lucy melindungimu sebanyak dua kali? Kejadian ini sama dengan kejadian saat kalian masih kecil, begitu?" tanya Jellal. Natsu mengangguk.
"Lalu, apa Natsu-san sudah menghubungi Sting-san?" tanya Juvia
"Aku sudah menghubunginya, tapi ia tidak mengangkat teleponnya" jawab Natsu
Natsu teringat dengan kecelakaan tadi, dimana saat Lucy masih sadar, Lucy membisikkan kata-kata yang penuh dengan arti.
"Karena aku mencintaimu.."
Kata-kata itu terus-menerus terngiang ditelinga Natsu.
"Aku yang akan menghubungi Sting" ucap Jellal. Jellal pun berjalan menjauhi yang lainnya dan mengambil ponselnya dari sakunya.
Beberapa menit kemudian, Jellal kembali.
"Ia akan datang, terdengar dari suaranya ia begitu panik saat aku bilang Lucy dirumah sakit" jelas Jellal.
"Apa kau bilang-" ucapan Natsu terpotong karena Jellal sudah menggeleng.
"Aku tidak bilang alasannya" tambah Jellal. Natsu menghela nafas.
"Ini semua salahku, benar kata Sting, kalau aku tidak dapat membuatnya bahagia, aku selalu saja membuatnya celaka.." gumam Natsu.
"Hah, seharusnya kau tidak mengoceh seperti itu, Salamander. Bagaimana pun Bunny-girl sudah meregang nyawa untukmu. Kau harus berterimakasih dan menebus perbuatannya" ucap Gajeel. Levy memandang kekasihnya dan mengangguk.
"Iya, jangan salahkan dirimu, Flame-Head" timpal Gray
"Walaupun Lucy tidak mengingat dirimu, hati kecilnya, didalam lubuk hatinya, kau selalu masih jadi seseorang yang istimewa untuknya, Natsu" ucap Lisanna
"Iya, terbukti ia telah menyelamatkanmu" tambah Erza
Natsu memandang pintu ruang operasi dengan tatapan sedih.
'Lucy..bertahanlah..' batin Natsu
XXX
Sting sudah sampai dirumah sakit, ia segera berlari mencari keberadaan Lucy. Dari kejauhan Sting melihat teman-teman Lucy sudah berkumpul didepan ruang ICU. Sting segera menghampiri.
"Minna.." panggil Sting. Raut wajahnya begitu kalut, ia terlihat begitu panik. Sepertinya ia belum melihat Natsu yang sedang duduk.
"Sting, kau sudah datang" ucap Jellal. Sting mengangguk.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sting dengan nada penuh kekhawatiran.
"Dia sedang diruang operasi" jawab Erza
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sting sambil mengedarkan pandangannya. Ia berhenti saat melihat Natsu yang duduk tertunduk. Ia melihat pakaian yang dikenakan Natsu berlumuran darah. Sting membelalakkan matanya dan dengan segera menghampiri Natsu.
"Ini ulahmu lagi, bukan?" tanya Sting dengan geram. Natsu menoleh keatas dan bangkit berdiri.
"Begini-" tanpa ba-bi-bu, Sting melayangkan tinju kewajah Natsu. Natsu pun terjatuh. Teman-temannya membantu Natsu berdiri.
"Sting! Apa-apaan kau ini! Kita sedang berada di rumah sakit!" seru Erza yang berusaha melerai.
Sting berjalan menghampiri Natsu, ia menarik kerah baju yang dipakai oleh Natsu membuat tubuh Natsu tertarik keatas. Sting memelototinya, matanya berkilat penuh dengan kemarahan.
"Lagi-lagi kau yang menyebabkan Lucy celaka, kau tidak pernah puas ya, Natsu!" ujar Sting. Lagi-lagi Sting memukul wajah Natsu. Natsu kembali terlempar. Gray dan Gajeel berdiri melindungi Natsu, tapi Natsu memanggil mereka dan meminta mereka tidak ikut campur.
"Sting! Cukup!" ujar Erza. Jellal berusaha menahan tubuh Sting.
"Ini bukan salah Natsu-san, Sting-san" ucap Juvia.
"Jadi? Kalian membela dia? Jelas-jelas yang membuat Lucy terbaring disana!" ujar Sting dengan penuh amarahnya. Ia benar-benar sudah dikuasai rasa amarahnya yang meledak-ledak.
"Kau marah-marah begini juga tidak akan mengubah keadaan, Baka!" geram Gray.
"Seharusnya kau tahu itu, Bocah pirang" tambah Gajeel
Sting mengepalkan tangannya. "Kalian tidak akan pernah tahu, tidak. Tidak akan pernah" gumam Sting. Terlihat sorot mata yang memancarkan kesedihan. Airmatanya keluar dari mata birunya. Semua tercengang melihatnya.
"Kalian tidak tahu bagaimana aku berusaha untuk membuat Lucy menyayangiku, mencintaiku. Aku berusaha keras sejak kami masih kecil, sejak Lucy kehilangan ingatannya. Aku berusaha agar Lucy dapat memperlakukanku sama seperti yang ia lakukan pada Natsu bahkan lebih dari itu" terang Sting. Ia pun menghapus airmatanya dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Aku selalu menemaninya, selalu. Aku selalu berada disampingnya. Sampai pada Natsu kembali lagi menampakkan wajahnya. Lagi-lagi, lagi-lagi Lucy lebih memperhatikan Natsu. aku benar-benar muak!" tambah Sting.
Natsu yang mendengar pengakuan Sting hanya bisa tertunduk.
"Dia lebih memilih menemuimu saat ia jalan bersamaku. Tubuhnya ada bersamaku, berjalan denganku, tapi pikiran Lucy selalu menerawang. Ia bilang ia sayang padaku, ia bilang cinta padaku, tapi apa? dia tidak sungguh-sungguh.." Sting menutup wajahnya dengan salah satu tangannya. Ia benar-benar terlihat frustasi.
Semua terdiam mendengar pengakuan Sting. Mereka benar-benar merasa kasihan pada Sting. Terlihat jelas, kalau ia benar-benar tulus menyayangi Lucy. tapi rasa sayang dan cinta yang dimiliki Lucy pada Natsu tidak bisa menghilang begitu saja seperti sebuah memori atau ingatan. Rasa itu masih melekat erat jauh dilubuk hati Lucy.
Natsu bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Sting.
"Aku tidak punya hak untuk mengatakan ini, tetapi sebelum Lucy hilang ingatan, ia selalu memperhatikanmu walaupun ia sedang bersamaku. Ia benar-benar ingin bersamamu, seperti ia bermain bersamaku" ungkap Natsu.
Sting memandang Natsu.
"Ia tidak membencimu saat ia dijahili olehmu. Ia benar-benar ingin bersahabat denganmu, Sting. Ia tulus menyayangimu, dulu dan sampai sekarang.." ucap Natsu
Sting tercengang mendengar pengakuan Natsu. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
XXX
Akhinya dokter dan beberapa suster pun keluar dari ruang operasi. Natsu dan yang lainnya menghampirinya.
"Bagaimana dok?" tanya Natsu dan Sting bersamaan. Tahu mereka mengucapkan kalimat yang sama, mereka saling memandang.
"Operasinya berjalan dengan lancar. Tapi sayangnya, sekarang Lucy-san berada dalam keadaan koma" ungkap sang dokter.
Natsu dan yang lainnya yang mendengarnya terkejut.
"Apa? ko-koma?" Sting merasa kakinya lemas. Ia segera duduk setelah mendengar ucapan dokter.
"Keadaannya begitu kritis, sampai sekarang pun keadaanya belum bisa dinyatakan stabil. Ia belum benar-benar melewati masa kritisnya" tambah sang dokter.
Natsu terdiam dan ia menoleh kearah dokter. Tanpa sadar Natsu memegang lengan dokter.
"Dok, kapan? Kapan Lucy sadar? Lucy akan sadar kan dok? Ia akan sembuh kan? Ya kan?" Natsu bertanya pada dokter dengan suara yang bergetar. Levy sudah dipeluk oleh Gajeel dan menangis dipelukan kekasihnya. Jellal merangkul Erza begitu juga dengan Gray. Gray merangkul Juvia yang menangis. Lisanna berusaha menenangkan Natsu.
"Natsu sudah.." ucap Lisanna
"Kalian harus selalu memberikan Lucy-san semangat, agar ia cepat sadar" terang dokter. Natsu melepaskan pegangannya.
"Kami bisa menjenguknya sekarang?" tanya Lisanna yang sedang merangkul Natsu. Natsu terlihat putus asa.
"Bisa. Tapi jangan terlalu ramai ya" jawab dokter diiringi anggukan oleh semuanya.
Dokter pun berjalan meninggalkan yang lainnya. Sting pun masuk kedalam ruangan dimana Lucy berada tanpa mengatakan apapun. Yang lainnya hanya memperhatikan.
XXX
Sting sudah berada didalam ruangan tempat Lucy berbaring disana, melihat keadaan Lucy. Lucy terbaring lemah disana dengan dibantu oksigen dan juga alat pendeteksi jantung yang melekat ditubuhnya. Sting melangkahkan kakinya mendekat kearah Lucy.
"Lu..cy.." lirih Sting
Sting menggenggam tangan Lucy, ia menangis melihat keadaan Lucy.
"Kenapa..Kenapa kau merelakan untuk menyelamatkannya? Kenapa?" gumam Sting
Sting terus menggenggam tangan Lucy. Teringat kenangan-kenangan yang ia buat bersama dengan Lucy. Bagaimana Lucy tertawa, bagaimana Lucy perhatian dengannya, bagaimana ekspresi Lucy sedang malu-malu, bagaimana cara Lucy memarahinya..semuanya terkenang dalam ingatan Sting.
"Apa kau bahagia telah menyelamatkan dirinya?" Sting pun mencium punggung tangan Lucy.
"Apa tidak cukupkah kebahagiaan dariku, Lucy?" tambah Sting
Sting masih menggenggam erat tangan Lucy. "Apa dia begitu berarti bagimu, Lucy? lebih berarti dibanding diriku?" Suara Sting terdengar bergetar.
Sting bangkit berdiri, membelai rambut Lucy yang tergerai. Lucy masih menutup matanya. Menutup kedua bola mata indahnya. Sting mendekatkan wajahnya dan mencium dahi Lucy dengan lembut. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Lucy.
"Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu, Lucy.." bisik Sting dengan lirih.
XXX
Sting keluar dari ruangan, membuat teman-temannya memandangnya. Begitupun juga Natsu.
"Aku sudah selesai menjenguknya. Kalian masuklah" ucap Sting sambil duduk di tempat duduk didepan ruangan itu. Natsu hanya memandangnya. Sting sadar kalau Natsu memperhatikannya dan menoleh kearahnya.
"Kau jenguk dia, mungkin saat dengar suaramu, dia akan cepat sadar" tambah Sting
Mendengar pernyataan Sting, Natsu tercengang. Apakah itu adalah izin dari Sting untuk menjenguk Lucy? Natsu memandang kearah teman-temannya. Teman-temannya mengangguk.
"Kau masuklah duluan, Natsu" ucap Erza. Natsu mengangguk. Natsu pun akhirnya bangkit berdiri dan berjalan masuk kedalam ruangan dimana Lucy dirawat.
Natsu berjalan dengan perlahan mendekati Lucy. Natsu memandangnya dengan tatapan yang begitu menyiratkan kesedihan. Lagi-lagi Lucy terbaring dirumah sakit dengan kejadian yang sama dan dengan alasan yang sama. Saat sampai didepan Lucy, Natsu menggenggam erat tangan Lucy. Natsu tidak dapat membendung kesedihannya lagi, ia pun menangis dalam diam.
"Maaf..Maafkan aku, Luce.." gumamnya didalam tangisnya
Tidak ada jawaban dari Lucy. Yang terdengar hanya suara dari alat pendeteksi jantung.
"Cepatlah sadar, Lucy.. Aku berjanji, aku akan bersikap lebih baik lagi padamu..aku berjanji, Luce.." ucap Natsu dengan suara yang bergetar.
"Aku berjanji.."
"Aku berjanji"
Natsu terus-menerus mengulang kalimat itu dengan suaranya yang bergetar. Tangannya juga masih menggenggam erat tangan Lucy. Terkadang Natsu membawa tangan Lucy ke pipinya dan mata onyxnya menatap lekat pada wajah Lucy yang masih tertidur. Salah satu tangan Natsu yang bebas pun membelai wajah Lucy dengan lembutnya. Natsu menyingkirkan rambut-rambut halus yang mengganggu.
"Saat seperti ini pun kau masih terlihat cantik, Lucy.." puji Natsu
Natsu tertawa pelan. "Kalau kau dengar pujianku, mungkin wajahmu sudah memerah ya..aku benar-benar ingin melihat wajah itu lagi, Luce.."
"Bukan hanya itu, aku ingin melihatmu tersenyum, aku ingin mendengar suaramu yang menyapaku saat pagi hari disekolah seperti biasanya, melihatmu begitu ceria..itu yang aku mau Luce.."
"Kau juga belum mendengar jawabanku bukan atas pernyataanmu?" celoteh Natsu
"Maka dari itu, bukalah matamu Luce.. aku ingin melihat kembali sinar kebahagiaan dari bola mata karamel milikmu.."
Gray, Gajeel, Levy, Lisanna, Erza, Juvia, dan Jellal sudah membesuk Lucy secara bergantian, karena hari sudah menjelang malam, mereka pun pamit untuk pulang kerumahnya masing-masing. Dan tinggalah Natsu dan Sting dirumah sakit. Mereka duduk dalam diam. Tidak ada percakapan. Benar-benar suasana yang canggung.
Sting pun akhirnya berdeham untuk memecahkan keheningan yang mereka buat. Natsu masih duduk tertunduk dalam diam.
"Kau tidak mengganti bajumu?" pertanyaan Sting membuat Natsu menoleh kearahnya.
Natsu menggeleng pelan. "Aku tidak bisa meninggalkan Lucy disini sendirian. Aku harus bertanggung jawab, bukan?"
Sting menghela nafas dan bangkit berdiri.
"Aku akan keluar sebentar" pamit Sting. Natsu hanya memandangnya dengan bingung. Entah kenapa, Natsu melihat Sting yang sekarang tidak ada lagi pandangan kebencian terhadap diri Natsu.
XXX
Natsu mengambil kaleng kopi yang ia beli dari mesin minuman dirumah sakit. Ia membukanya dan meminumnya. Beberapa suster melihatnya dengan tatapan heran. Mungkin karena pakaian yang dipakai oleh Natsu. Pakaian Natsu masih berlumuran darah. Natsu menanggapinya dengan santai. Setelah selesai membeli minuman, Natsu kembali ketempat duduk didepan ruang rawat Lucy dan duduk dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, Natsu telah terlelap. Ia tidak sadar kalau Sting sudah berdiri didepannya. Sting pun berdeham dan membangunkan Natsu. Natsu terkaget melihat Sting menyodorkan sebuah paper bag.
"Nih" ucap Sting sambil menyodorkan paper bag yang ia pegang. Natsu mengangkat sebelah alisnya, menatap bingung Sting. Sting menghela nafas.
"Ini pakaianku, aku bawakan agar kau dapat ganti, apa kau tidak tahu, kau menjadi pusat perhatian satu rumah sakit ini karena pakaianmu itu?" ucap Sting.
Natsu tersenyum dan menerima paper bag tersebut. "Arigatou"
Sting tidak menyahut dan duduk diseberang Natsu. Sting mengotak-atik ponselnya, ia tidak sadar kalau Natsu memperhatikannya.
'Ia peduli denganku' batin Natsu
"Aku ganti baju sebentar" pamit Natsu
"Hmm" sahut Sting
Saat Sting melihat Natsu sudah menjauh, Sting memandang punggung Natsu yang sudah menjauh. Ia pun tersenyum.
XXX
Sudah beberapa bulan dilewati, Lucy belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya. Teman-teman sekolahnya pun sudah menjenguknya begitupun juga guru-guru dan staff sekolah. Mereka begitu khawatir dan prihatin atas apa yang terjadi. Natsu dan Sting pun dengan rutin bergantian untuk menjaga Lucy. Sting pun sudah mengabari tante Lucy yang berada di Crocus. Dan tantenya pun sudah menjenguknya beberapa kali. Hubungan Natsu dan Sting pun membaik walaupun mereka masih sering bertengkar dikarenakan hal-hal sepele.
Natsu pun sudah menghubungi kedua orang tuanya dan menceritakan semuanya yang terjadi pada Lucy. dan pada akhirnya biaya rawat Lucy ditanggung oleh keluarga Natsu.
Sting sedang berada didalam ruang rawat Lucy. Ia duduk disebelah Lucy yang masih berbaring.
"Oh ayolah, Lucy. Sudah beberapa bulan kau tidur. Kau merasa dirimu seperti Sleeping Beauty ya?" gerutu Sting.
Sting tertawa pelan, "Bangunlah! kau ini bukan Sleeping Beuaty, melainkan kerbau yang malas membuka matanya. Ugh" tambah Sting. Sting menggenggam tangan Lucy.
"Sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kau tidak mau ikut?" tambah Sting
"Kau sudah ditunggu teman-teman disekolah, loh. Mereka sungguh rindu padamu. Termasuk aku" ujar Sting
"Aku rindu saat kau tersenyum padaku, aku rindu omelanmu, aku rindu segalanya tentangmu, Lucy.. Kau benar-benar pintar menyiksaku" Sting memandang wajah Lucy yang terlihat damai.
"Kau sedang bermimpi apa sih? Kau bermimpi sangat indah ya? Makanya tidak bangun-bangun?" Sting terus menerus mengajak bicara Lucy.
Natsu pun masuk kedalam ruangan, Sting menoleh.
"Ngapain kau masuk-masuk? Ini kan masih waktuku" gerutu Sting
Natsu berjalan menghampiri Sting dan Lucy. "Gantian! aku juga mau mengobrol dengan Lucy. Sana keluar" Natsu berusaha mengusir Sting. Sting pun berdecih.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tantang Sting
"Kalau begitu, kau akan mati disini, Sting" jawab Natsu
Sting dan Natsu saling memandang dan tertawa pelan.
"Baiklah-baiklah, beri aku waktu lima menit, ada yang masih ingin aku bicarakan padanya" ucap Sting sambil menunjuk kearah Lucy. Natsu pun mengangguk dan keluar dari ruangan.
"Kau lihat, Lucy? dia orang yang egois, masa kau masih mengharapkan seseorang seperti dia?" gerutu Sting sambil menaikkan selimut yang dipakai Lucy.
"Kau harus bangun Lucy, dia menunggumu..selalu menunggumu.." gumam Sting sambil membelai rambut dan wajah Lucy.
"Natsu selalu menunggumu..begitupun dengan diriku" tambah Sting, Sting mencium dahi Lucy dan berjalan keluar dari ruangan.
XXX
Natsu duduk ditempat duduknya dengan tenang, ia sedang membaca lembar soal ujian. Ia berusaha untuk fokus dalam mengerjakan ujiannya. Hari ini adalah hari dimana seluruh siswa Fairy Tail High School mengikuti ujian akhir semester atau ujian kenaikan kelas. Semua siswa belajar dengan penuh semangat untuk mendapatkan nilai yang baik untuk ujian akhir ini. itu semua berlaku untuk Natsu dan yang lainnya. Yang berbeda adalah Lucy. Lucy masih terbaring dirumah sakit, belum sadarkan diri dari komanya yang begitu lama.
Mata Natsu menatap tempat duduk Lucy yang berada tepat didepannya. Ia menjadi terbayang Lucy yang duduk disana, melihat dan memperhatikannya dari sana sambil tersenyum padanya. Natsu menatapnya dengan nanar.
'Aku merindukanmu, Lucy' batin Natsu
Natsu kembali mengerjakan soal-soalnya.
Sting yang duduk tidak jauh dari Natsu pun juga menoleh kearah tempat duduk Lucy. Sting menghela nafas dan kembali fokus pada ujiannya.
XXX
Sudah lewat beberapa hari setelah ujian akhir semester dilaksanakan. Para siswa hanya tinggal menunggu hasil ujiannya. Dalam waktu itu, Natsu dan yang lainnya terus menerus menjenguk Lucy. mereka tidak hentinya mengajak ngobrol Lucy, walaupun Lucy tidak menjawabnya, tapi mereka yakin kalau disuatu tempat, Lucy mendengarnya.
"Flame-head, jangan memakan buah milik Lucy, kau ini sangat rakus!" ujar Gray
"Inyi suangat uenak, Guraaay. Kau harus cuobaaa.." Natsu berbicara sambil mengunyah makanan yang masih ada didalam mulutnya. Melihat tingkah Natsu yang konyol seperti itu membuat teman-teman yang lainnya termasuk Sting tertawa pelan.
"Mou, Natsu..Kalau Lucy sadar saat ini, mungkin kau sudah diomeli olehnya" timpal Levy
"Benar.." tambah Gajeel
"Maka dari itu, Lucy. kau harus cepat bangun, kalau tidak makanan-makananmu akan habis dimakan oleh Natsu yang rakus ini" ujar Lisanna dengan penuh keceriaan. Senyum terus merekah diwajah cantiknya.
Natsu menghentikan aksi konyolnya dan menoleh kearah Lucy yang masih terbaring diranjang rumah sakit. Sting pun menoleh kearah Lucy. Sting dan Natsu tersenyum.
'Lihat kan, mereka juga menunggumu Lucy..' batin mereka
XXX
Lucy POV
Aku membuka mataku, dengan samar-samar aku melihat kilatan cahaya didepanku. Aku bangun dan berdiri. Dan aku sadar kalau disekitarku tidak ada apapun. Putih. Hanya itu yang terlihat.
"Apa aku sudah disurga?" ujarku. Mataku menelusuri apa yang ada disekitarku. Tapi tetap aku tidak menemukan apapun.
Aku melihat penampilanku. Rambutku yang digerai, aku memakai gaun panjang berwarna putih dan tidak memakai alas kaki. Aku mulai melangkahkan kakiku tanpa tujuan.
"Dimana ini.." gumamku
Tiba-tiba ada sebuah cahaya yang berkilauan didepan mataku, saking silau cahaya itu, mataku menutupnya. Seiring dengan cahaya yang berkilauan, aku mendengar sebuah suara yang memanggil-manggil namaku. Dan suara itu begitu familiar ditelingaku.
"Lucy…Lucy…" panggil seseorang itu.
Aku pun memberanikan membuka mataku. Aku menyipitkan mataku dan fokus pada cahaya yang masih berkilauan. Aku melihat dua sosok yang berdiri disana.
"Lucy..kemarilah sayang.." panggil seseorang itu lagi.
'Itu kan suara okaa-san..' batinku
Aku pun memberanikan melangkahkan kakiku untuk menghampiri kedua sosok itu. Aku melangkah dengan perlahan. Langkah demi langkah mengantarkanku kehadapan kedua sosok yang aku kenal.
Otou-san dan Okaa-san.
Aku berhambur memeluk mereka berdua. Airmataku tidak bisa lagi dibendung. Aku begitu merindukan kedua sosok yang ada dihadapanku saat ini. mereka pun membalas pelukanku. Pelukan mereka begitu terasa hangat, pelukan yang benar-benar aku rindukan.
"Otou-san, Okaa-san.. aku dimana? Kenapa kalian ada disini? Aku benar-benar rindu kalian.." ucap ku pada mereka. mereka hanya tersenyum, sedangkan ibuku membelai lembut rambutku.
"Kau sudah tumbuh besar. Kau sangat cantik. Kami juga merindukanmu, Lucy" jawab ibuku dengan suaranya yang lembut.
"Kita sedang dimana? Apa ini surga?" tanyaku kembali pada kedua orang tuaku. Ayahku segera menggeleng pelan.
"Ini bukan surga, ini hanya perbatasan antara hidup dan mati, Lucy." jawab ayahnya
Aku mendengar jawaban dari ayahku hanya bisa menatapnya bingung. Apa maksudnya? Jadi aku belum meninggal?
"Ikutlah dengan kami, Lucy. Agar kita bisa hidup seperti dulu lagi.." ajak ibuku. Ibuku memeluk diriku dan masih membelai rambutku.
Kami-sama.. aku benar-benar rindu mereka..
"Iya Lucy, kita bisa berkumpul seperti dulu lagi.." tambah ayahku. Aku menoleh kearah ayahku yang sudah tersenyum padaku. Aku benar-benar rindu pada senyuman itu.
"Kalau aku ikut, apa kita benar-benar bisa berkumpul seperti dulu?" tanyaku untuk memastikannya.
Ayahku mengangguk lalu disusul oleh ibuku. "Itu benar"
Ibuku melepaskan pelukannya, aku pun berdiri menghadap mereka. Aku memikirkan kata-kata mereka, ajakan mereka untuk berkumpul kembali seperti dahulu. Aku melihat ayah dan ibuku sudah mengulurkan tangannya agar aku bisa menyambutnya.
"Ayo" ajak ayah dan ibuku bersamaan. Aku hanya menatap kedua tangan orang tuaku.
Aku pun tersenyum dan menyambut tangan-tangan itu. Dengan kedua tanganku, aku menggenggam erat kedua orang tuaku. Aku berjalan beriringan dengan mereka.
"Kita akan kemana?" tanyaku. Mereka hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaanku.
Tiba-tiba, aku mendengar sebuah suara dari kejauhan. Suara yang begitu familiar bagiku. Aku menghentikan langkahku dan menoleh kebelakang. aku membelalakkan mataku, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat dihadapanku.
"Lucy.."
"Lucy.."
"Lu-chan.."
"Lucy-san.."
"Lucy.."
"Bunny-girl"
"Lucy…"
"Luce…"
Aku menutup mulutku, airmataku mengalir dikedua pipiku.
"Minna.." gumamku disela tangisku. Disana terlihat sosok Gray, Erza, Levy, Juvia, Lisanna, Gajeel, Sting dan...Natsu. Mereka semua tersenyum kearahku.
"Aku mohon jangan pergi, Lucy.." ucap Sting
"Lu-chan, ikut dengan kami yuk.." ajak Levy dengan suaranya yang begitu ceria. Aku bisa melihat senyumannya diwajahnya. Ia berdiri disamping Gajeel. semua orang disana menatap Lucy dengan senyuman diwajahnya.
"Aku menunggumu, Luce.." tambah Natsu. Aku bisa melihat Natsu memamerkan grins-nya yang khas padaku. Tangannya masih terulur menunggu aku menyambutnya.
"Kembalilah.." pinta teman-temanku.
Aku menoleh kebelakang dan memandang kedua orangtuaku. Tiba-tiba mereka merangkulku.
"Kau lihat sayang? Mereka menunggumu.." ucap ibuku sambil menunjuk keteman-temanku.
"Kau masih memiliki mereka, sayang. Hiduplah dengan bahagia dengan mereka. Belum waktunya kau berkumpul dengan kami" tambah ayahnya.
Aku tidak bisa membendung tangisanku. Untuk terakhir kalinya, aku memeluk kedua orang tuaku dengan erat. Aku menangis didekapan mereka. mereka hanya bisa menepuk pelan punggungku agar aku tenang dan tidak menangis lagi. Setelah beberapa menit, aku melepaskan pelukannya dan memandang mereka.
"Kami akan melihatmu dari surga, sayang. Pergilah...Pergilah dengan mereka" ucap Ibuku dengan lembut.
Aku mengangguk dan berjalan kearah teman-temanku. Dengan perlahan aku mendekati mereka, tanganku terulur kedepan untuk menyambut tangan Natsu dan saat aku menyambut tangan Natsu, sebuah penglihatanku menjadi putih dan semuanya menghilang..
Lucy POV end.
XXX
Natsu dan yang lainnya panik. Mereka sedang berada diruangan yang sama dengan Lucy. Lucy sedang ditangani oleh para Dokter dan juga perawat. Lucy tiba-tiba collapse. Alat pendeteksi jantungnya mendeteksi detak jantung Lucy melemah. Saat itu Natsu dan yang lainnya sedang menjenguknya.
"Lucy…bertahanlah" ujar Sting. Terlihat raut cemas diwajahnya begitu pula dengan Natsu. Natsu menahan tangisnya agar tidak meledak melihat keadaan Lucy. Lucy sedang dipakaikan alat pacu jantung karena tiba-tiba detak jantungnya menghilang. Para gadis yang berada diruangan itu hanya bisa menangis melihat sahabatnya seperti itu.
"Lu-chan..Lu-chan.." panggil Levy disela tangisnya. Ia sudah berada didekapan kekasihnya yaitu Gajeel. Gajeel menatap Lucy dengan pandangan nanar.
"Lucy-san.."
"Bertahanlah, Luce..ayolah..jangan tinggalkan aku.." ujar Natsu dengan suara yang cukup keras dan bergetar. Natsu berjalan mendekati kerumunan yang sedang menolong Lucy. Dokter masih memainkan alat pacu jantung ke Lucy. Pandangan Natsu sudah kosong. Natsu berusaha meraih Lucy tetapi tubuhnya ditahan oleh Sting.
"Jangan..dia sedang ditolong oleh dokter, Natsu" ucap Sting
Natsu memberontak, tetapi Sting terus menahannya dengan erat. Natsu sekilas melihat airmata turun dari mata Lucy yang tertutup. Ia tercengang.
"Aku menunggumu, Luce..Aku menunggumu disini.." ucap Natsu dengan suara yang cukup keras.
Seakan tahu jalan pikiran Natsu, teman-temannya pun memberi semangat Lucy dengan kata-kata mereka sendiri.
"Kembalilah.." pinta mereka semua.
Tiba-tiba terdengar suara dialat pendeteksi jantung Lucy. Jantung Lucy mulai berdetak kembali. Dokter memeriksanya begitupun juga perawatnya. Natsu jatuh terduduk. Ia begitu lemas karena ia begitu senang karena jantung Lucy berdetak kembali. Sting tersenyum dan masih menatap Lucy. begitupun juga yang lainya.
"Syukurlah.." ucap Erza
Saat Dokter mau memeriksa Lucy, mereka semua diminta untuk keluar dari ruangan dan mereka pun keluar dari ruangan dan menunggu diluar. Natsu dan Sting duduk dengan wajah yang masih menyiratkan kecemasan. Yang lainnya masih khawatir dengan keadaan Lucy.
Tiba-tiba Dokter pun keluar dengan bersama perawat-perawat dari ruangan Lucy. Natsu dan Sting bangkit berdiri dan menghampiri dokter.
"Bagaimana dok?" tanya Natsu dan Sting bersamaan.
Dokter tersenyum. "Ini sebuah keajaiban, jantung Lucy mulai berdetak kembali dan kondisinya mulai membaik. Mungkin karena semangat kalian yang kalian alirkan dalam kata-kata kalian tadi" jelas dokter
Natsu dan Sting saling memandang dan tersenyum. "Syukurlah.."
"Hmm dokter, kira-kira kapan Lucy akan sadar? Dia sudah tidak koma bukan?" tanya Erza
"Aku tidak tahu kapan ia akan sadar, tapi dia telah melewati masa-masa kritisnya. Cepat atau lambat ia akan segera bangun" sahut sang Dokter.
Kegembiraan menyelimuti semua orang. Mereka semua tersenyum medengar penjelasan dokter.
"Terimakasih, Dok" ucap Sting. Dokter mengangguk dan meninggalkan mereka semua.
XXX
Natsu terbangun. Ia membuka matanya. Ternyata ia tertidur saat menjaga Lucy. ia menengadahkan kepalanya dan ia terkejut melihat ranjang Lucy. Lucy tidak ada diranjang itu. Natsu pun menjadi panik. Ia keluar dari ruangan dan bertanya pada perawat. Perawat hanya bisa diam dan tertunduk. Natsu tidak mengerti dengan ekspresi mereka semua.
"Ada apa? ada apa dengan Lucy? Lucy tidak apa-apa,bukan? Dimana dia?" tanya Natsu. tidak ada satupun perawat yang menjawabnya. Natsu menggelengkan kepalanya dan berlari dikoridor rumah sakit. Diujung koridor ia melihat sosok Gray dan Sting. Natsu melihat raut wajah kedua temannya.
'Jangan-jangan..'
"Gray..Sting.." panggilan Natsu membuat Sting dan Gray menoleh kearahnya.
"Ada apa? Dimana Lucy?" tanya Natsu. mereka berdua terdiam. Raut wajah mereka menyiratkan kesedihan. Natsu menggeleng-gelengkan kepalanya dan melangkah mundur.
"Tidak..Tidak mungkin..Lucy tidak mungkin..tidak..TIDAAAAKKKKK!"
Natsu terbangun dari tidurnya. Ia melihat kesekitarnya.
'Itu mimpi..' pikir Natsu
Peluh keringat menetes dari dahinya. Natsu pun melihat kearah ranjang Lucy, ia membelalakkan matanya. Lucy tidak ada diranjang tersebut.
'Tidak. Tidak mungkin!' batin Natsu.
Natsu segera berlari menyusuri koridor rumah sakit, dari kejauhan ia melihat sosok yang ia kenal sedang berdiri diujung koridor. Ia sedang berdiri menatap keluar jendela disana. Natsu memperlambat larinya dan menghampiri sosok itu. Semakin dekat Natsu melihat sosok itu dengan mata yang terbelalak. Natsu sudah berdiri dibelakang sosok tersebut.
"Lu..cy.." panggil Natsu
Sosok yang dipanggil itu menoleh dan tersenyum pada Natsu. "Natsu.." suara lembut itu seperti menyentuh tombol on ditubuh Natsu. Natsu segera memeluk sosok yang ada dihadapannya yang tidak lain adalah Lucy. Lucy membalas pelukannya. Lucy dan Natsu merasakan kehangatan yang menjalari tubuh mereka.
"Tadaima.." ucap Lucy dengan penuh kelembutan. Suara yang begitu di rindukan oleh Natsu. Natsu tersenyum.
"Okaeri, Luce.."
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
Nah chapter 11 kelar deeeh yohoooo XD bagaimana menurut para readersss?
Kira-kira gara-gara kecelakaan ini, Lucy bakalan inget ama Natsu apa gak? hayoo tebaaaak! XD
baiklah, untuk kritik, saran, keluhan atau apapun direview aja deh yaaa XD
Ohiyaaa, kalian udah nonton Fairytail? gregetan banget looh, banyak Natsu dan Lucynya, di openingnya dan jugaaa apalagi di endingnyaaaa... Lucy benar-benar kawaiiiiii ,
Yaudahlah, author bener-bener banyak bacot yeee, yasud lah langsung aja bales review dari chapter kemaren. Cuuuusss XD
osnapitz dragneel : Ini udah lanjut XD hayooo Lucy-nya gak mati loooh, tapi pertanyaan yang kedua hayo ditebaaaak, Lucy inget apa gak ama Natsu? ihihi XD
winha heartfilia : Nah ini udah beraksi niiih XD
LRCN : Kasian kenapa? XD
sena : Makasih, makasih! ini udeh lanjut XD
who : Iyee makasih! Kayanya sih Nalu hihihihi XD
TheZarkMon : Aduuuuh sereeeemnyaaa XC Sting addict banget nih yaa hihihi XD
ameru-chan : Hayooo, gimana chapter ini? kan udah ditunggu-tunggu kan? XD Hahaha bisa-bisaa, nanti disampein deh salamnya XD
Fi-chan nalupi : Prihatin kan? hmm XC Habis sebenernya author mau masukin keluarganya Sting, tapi author bingung sendiri hahaha XD yasudahlah yaaa haha XD
Nah udeh dibales deeeh, jadi kalian semua para reader yang terhormat, tunggu kelanjutannya yaaa. mungkin 2 chapter lagi bakalan tamat nih.. jadi baca terus dan ditunggu aja deeeeeh...
Ohiya author juga buat fanfic baru judulnya Between Us, itu pairingnya Natsu dan Lucy juga loooh.. jadi dibaca juga dan jangan lupa direview hihihi XD
Baiklah, author gila pamit undur diri dulu
Jaa nee XD
